Entry: Christmas Lunch Wednesday, December 20, 2006



"Isyana hrp ke rumah kebubes inggris skrg jl teuku umar 72 menteng. Wajib"

Pesan itu masuk tadi siang, sekitar jam 12.50 WIB. Lokasi, P6 baruu aja ngelewatin halte Komdak. Plan of action selanjutnya, oke..turun di Farmasi, terus nyebrang, terus naik 213.

Jam 13.15, sampe di Taman Suropati. Jalan dikit ke Teuku Umar, udah nungguin bajaj karena mikir nomor 72 jauh, eh ternyata cuma tiga rumah dari ujung Teuku Umar. Pikiranku sama sekali blank tentang apa yang akan aku hadapi, atau kapan sebenarnya jam pertemuan. Pesan singkat dari redaktur cuman bilang "Perubahn iklim, lingkungan".

Ternyata, sempet di-harass sama satpam-satpam yang bilang, "Acaranya udah dari tadiii. Jam setengah satuuu. Mbak masuk juga acaranya udah selesaiii. Metro emang sering gitu, pas Tony Blair dateng juga gituuu."

Hrgghhh.

"Saya cuman disuruh dateng, paakk. Baru dapet undangannya juga jam satuuu."

"Tapi nama mbak nggak ada di daftar."

(melongok. Ternyata yang ada di daftar nama petinggi-petinggi harian dan majalah berita nasional. Harusnya yang dateng antara Redaktur Internasional atau Deputi Direktur Pemberitaan).

"Acaranya udah dari tadi mbaaaakk. Masuk juga paling udah selesaaiiii."

Hrrghhh. Orang-orang ini.

Oke, akhirnya, setelah ngobrol bentar ama Head of Press and Public Affairs-nya, dibawalah aku masuk ke rumah Dubes yang aku bahkan tak tahu namanya. (Charles Humfrey, sekarang setelah tahu).

Pintu dibuka, ternyata ada meja panjang, 4 orang masing-masing di satu sisi dan masing-masing satu orang di kepala meja. It was almost an all boys' club before I came. Para Pemred dan petinggi dengan kemeja batik, kemeja katun rapi dan dasi. Sementara akuuu....kemeja biru yang lengannya dilipat, bagian perut yang udah semi-semi nggak muat. Pas, hari itu aku lagi pake celana yang cut-nya nggak gitu bagus dan jilbab yang rada fading. Duuhh..lengkap deh melasnya.

Samping kananku, yak, pemred Tempo, depanku pemred The Jakarta Post, kanannya dia, sekarang Wakil Presiden Senior KKG. Oke, kalau misalnya Direktur Pemberitaanku nggak bisa dateng, Deputinya nggak bisa dateng, Redaktur yang diundang nggak bisa dateng, bukankah masih ada Asisten Redaktur Eksekutif atau Redaktur Eksekutif?

Di satu sisi, it was an eye opening experience. Tentang media-media berita Indonesia (Jakarta, tepatnya) yang ternyata kok ya masih all boys club di tingkat pimpinan. So, that might provide a motivation for me. Or something like that.

Tapi di satu sisi, aku nggak habis pikir dengan cara pikir kantor yang menyuruh prajurit lapangan dateng ke pertemuan tingkat tinggi seperti itu. Setidaknya level menteri lah yang dateng. Toh ini juga bukan sesuatu yang bisa diterbitin, cuma diskusi aja, diskusi tingkat tinggi gitu.

Pengalaman yang cukup daunting, cukup merasa agak terintimidasi, tapi berusaha untuk terlihat natural dan sekali mengeluarkan komentar. I hope I'm not making too much fool of myself.

It only lasts for 15 minutes. Tapi makan siang yang cukup menarik. Eh, cuman sempet dapet dessert ding...

   1 comments

puri
December 21, 2006   05:31 PM PST
 
hahahahaha i really loved this story. selamat berjuang ya....

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments