Entry: Selamat Hari Ibu Wednesday, December 20, 2006



Seminggu yang lalu, kurang lebih, aku datang ke acara Komnas Perempuan. Acaranya tentang pertanggungjawaban publik ama perkenalan anggota Komnas Perempuan masa bakti 2007-2009.

I try not to be cengeng atau terlalu sentimental, tapi aku cukup terharu pas anggota-anggota barunya pada dipanggil dan kualifikasi mereka dibacain. Aduh, serasa kecemasan-kecemasanku akan politisasi identitas yang makin merebak (halah!) jadi agak terkurangi.

Tapi, ceritanya ada satu komisioner yang membuat aku paling merinding. And she was soooo pleasant to talk to. Pas kualifikasinya dibacain, ibu ini dapat tepuk tangan paling meriah.

Dia seorang polisi, pangkatnya sudah Kombes. Dia pernah jadi komandan pasukan Garuda ke Bosnia-Herzegovina. Aku sengaja nyari beliau pas mencari 'sampel' komisioner baru untuk diwawancarai.

She was just so warm, so loveable, walaupun tegas. Ramah banget. Dan kerendahan hatinya itu lho. Caranya dia bilang, "ini masih dunia yang baru buat saya." Aku nggak nyangka, willingness to learn itu bisa kedengaran di intonasi.

Terus, "kita masih belum dilihat sebagai bangsa yang beradab kalau belum bisa memperlakukan perempuan dengan baik."

Dan, dia pernah jadi Kabid Humas Polda Bali waktu bom Bali 1 dan 2. But she was so warm dan bisa ngomong seperti 'manusia biasa'. Nggak kayak normatif-normatifnya polisi.

Anyway, pas dua hari lalu datang ke acara Komnas Perempuan lain, ibu ini datang lagi. Aku sempet say hi, dan beliau langsung, "halooo, apa kabar?" sambil menarik buat cipika-cipiki.

Secara body chemistry, tangannya si ibu ini juga hangat menyenangkan gitu. Nggak terlalu panas yang sampe berkeringat. (Atau karena ruangan itu dingin ac-nya nggak kira-kira ya?)

Terus, pas beliau memperkenalkan diri, pas ngomong latar belakangnya polisi, ada sedikit nada "heh" dari audience. Cukup pelan, hampir tak kentara, tapi tetap tak lepas dari pendengaran tajam si ibu. "Kenapa kok 'heh' waktu dengar polisi? Iya memang polisi itu tidak disukai," katanya. Tapi terus dia menjelaskan bahwa dia juga jadi instruktur HAM di sebuah institusi (aku agak lupa apa).

Nah, yang membuat aku teringat-ingat terus dan cheering for her, gara-gara pas mbaca majalah TEMPO terbaru, edisi Hari Ibu, ternyata....jreng, jreng, kok ada wajah yang terlihat familiar. Waaahhh, ternyata si ibu Pengasihan Gaut itu.

Hwalah.

Ternyata, she is all that. And even more.

Selamat buat ibu yang satu ini.

   0 comments

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments