Entry: Breathing Underwater Wednesday, November 01, 2006



Aku lagi jatuh cintaaaa banget sama "How to Breathe Underwater". Review-nya di Amazon emang pas, ceritanya ngalir smooth kayak 'vanilla milkshake but with the complexity of vintage wine'.

Bahasa yang dipakai sederhana, kisah-kisah yang ditulis pun tujuannya 'cuma' mau menceritakan sesuatu. Walaupun isu-isu yang dibahasnya berat, tapi bungkusannya tetap ringan. Jarang-jarang aku bisa go with the flow, biasanya selalu ngerutin dahi, mikirin tentang apa yang aku baca pasti tentang sesuatu.

Tapi ini mbacanya cuman buat the sake of the story itself.

Ada cerita-cerita atau bagian-bagian yang membuat aku nggak tega mbacanya, momen-momen yang membuat aku ngerasa 'patah hati berkali-kali' tentang the pain of being an adolescent. Dan membaca cerita-cerita itu aku jadi sadar, bahwa aku masih di tahap emosi itu; adolescent. Masih transisi dan berevolusi.

Well, duh, semua orang emang iya, masih, nggak ada berhentinya berevolusi. Tapi...gimana ya? Ada banyak momen-momen yang membuat aku bilang, "aku tau rasanya gimana." Ada sesuatu yang membuat aku ngerasa lebih tidak matang dibandingin yang lain seusiaku. Ada rasa malu dan cemas ketika aku kayak dihadapin dengan cerminan diri sendiri.

*menghela nafas*

Yang nyenengin, pas lagi nge-google tentang penulisnya, Julie Orringer, nemu link dari penerbitnya dia yang masukin hasil scan dari buku catatan nulisnya. Jadi keliatan proses-prosesnya dia ngembangin cerita dan tulisan.

Terus ada link lain, wawancaranya dengan seorang Robert Birnbaum. Aku belum sempet nge-google siapa itu Robert Birnbaum, tapi wawancaranya cukup mendalam. Dan lebih ngeliatin lagi proses nulisnya Orringer dan apa yang terjadi dengannya saat di kelas-kelas belajar menulis.

Dan terakhir, insight into someone's process of writing nggak bakal lengkap tanpa daftar-daftar penulis favorit, buku favorit, etc. Itu, adanya di Meet the Author-nya Barnes & Noble.

Kalau ada saat-saat yang membuat aku ingat enaknya membaca, membaca "How to Breathe Underwater" lah salah satu saat itu. Untung waktu itu mbela-mbelain beli pas QB (Jalan Sunda) Book Sale walopun hardcover.

   0 comments

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments