Entry: Mencuri Dengar Thursday, October 19, 2006



Sebuah liputan tentang ajang kompetisi film dokumenter dari stasiun televisi adik koran tempatku bekerja membawaku ke kawasan Cikini. Liputannya di Menteng Huis, ngetik dan ngirim beritanya di TIM. Duh, udah lama banget deh nggak ke sana. Lebih karena males menerjang macet menuju ke situ dari kantor. Terus kalo mau dateng pas nggak ada acara kok ya juga kayaknya kurang kerjaan gitu. Walaupun sebenernya emang iya.

Anyway. Pas udah selesai ngetik di tempat yang rame banget ama anak-anak main game (Huh. Aku pengen punya PDA or hp yang bisa buat ngetik dan ngirim berita deh..), aku memutuskan mampir ke toko buku pojokan TIM.

Ngeliat sosok yang muiiiiriiiiippp banget ama Prasma. Kacamatanya, posturnya, caranya nyeklek-nyeklek tangan, caranya berdiri, caranya pakai baju, tinggi dan lebar badan, wuah plek deh. Sampe aku kaget sendiri, curi-curi liat, jangan-jangan Prasma beneran di Jakarta. Tapi langsung menepis anggapan itu, ketika ngeliat...oh orang ini ternyata cowok tho. (Sorry, Pras. But he really really really really really looks like you) Ternyata setelah pura-pura ngeliat lagi, dia kayaknya salah satu anggota band SORE deh.

Nemu DVD-nya "2001: A Space Odyssey", "Ran"-nya Akira Kurosawa, sama sengaja beli "Scarface". Pas mbayar, dengan wajah minta maaf banget, aku ngeluarin duit pecahan 100 ribu, karena aku emang belum mecah duit lagi. Terpaksalah mas-nya nyuruh asistennya menukar duit itu. Sambil nunggu kembalian, duduklah di kursi depan toko, sambil kipas-kipas, karena cuacanya panaaaas banget.

Eh, tiba-tiba datanglah si pemilik toko nan legendaris itu, yang suka ngelatih teaternya anak-anak, dan sering nganter misi teater anak-anak itu ke luar negeri. Dia duduk di depanku, basa-basi sebentar karena dia mau makan sebungkus nasi goreng, dan aku berkomentar tentang suhu udara, sebelum akhirnya dia melihat seorang temannya dan mengajak si teman ini ngobrol. Uang kembalianku akhirnya dateng. Tapi aku masih memutuskan muter-muter di toko itu.

Aku udah mau masuk lagi ke dalam toko sampai teman si pemilik buku ngomong, "Lho itu kan udah dimuat di Media Indonesia." Wait, what was published? Dan aku berjalan pelan-pelan ke lemari buku deket dua orang itu, pura-pura mbalik-mbalik buku 'About The Kinsey Report'.

"Iya. Udah ditulis ama si Chavcay tuh hari Minggu kemarin," kata si teman pemilik toko buku. Oh, oh, oh, oh. Sekarang aku tahu tulisan mana yang dimaksud. Sebuah artikel yang menurutku, haduuhh, awalnya ngawur banget sih nulisnya. Fokus, please, fokus. Kayak nggak ada intinya. Walaupun pas terus dibaca, oke, ada poin-poin yang menurutku bagus tentang penulis Indonesia yang tak lancar berargumentasi tentang karyanya. He has a point. And I agree with him, karena aku sendiri pernah ngerasain apa yang dia tuliskan.

Tapi untuk kemudian si BoyDiva itu menyebut nama secara langsung siapa-siapa saja yang ia nilai tak becus berargumentasi, nah...itu yang membuat aku bilang, "lho, ini kan ukurannya subyektif."

"Terus gimana?" kata si pemilik toko buku.
"Goenawan marah besar tuh."
"Oh ya?"
"Iya, tapi dibela ama Sutardji. Katanya, 'Tenang aja. Kamu masih muda. Kematianmu tidak akan ada di tangan seorang Goenawan Mohammad.' Pasti rame abis ini. Liat nanti Minggu depan."

Selanjutnya, aku nggak merhatiin lagi apa yang dikatakan. Kemungkinan besar mereka udah berganti topik jadi aku nggak merhatiin, atau mungkin karena omongannya udah nggak kedengeran lagi, tapi aku lupa kenapa aku berhenti ngikutin pembicaraan itu. Yang pasti sih bukan rasa malu pada diri sendiri karena udah nguping, heheh.

Nah, ramalan teman si pemilik buku itu ternyata bener. Minggu kemarin, ada tamparan lanjutan. Tapi yang nulis orang luar. Walaupun topiknya tetep sama; hujatan yang ditujukan terhadap sebuah komunitas sastra di Indonesia.

Secara pribadi, aku nggak nyangka dan nggak pernah ngira ada sesuatu 'seserius' itu di dunia tulis-menulis. Atau mungkin aku lebih ngerasa aneh, lha kok penulis jadi ngeributin bagi-bagi kekuasaan di dunia sastra sih? Atau mereka yang terlalu menganggap diri mereka serius?

Walaupun setelah dipikir-pikir lagi, jangan-jangan sosok Ellsworth Toohey itu bener ada di dunia nyata? Dan ada Howard Roark-Howard Roark yang dijungkalkannya, sementara yang disanjung-sanjungnya hanya sebuah mediokritas? Karena melihat tulisan kedua hari Minggu kemarin, si penulis seperti sedang menggambarkan seorang Ellsworth Toohey. Dan tiba-tiba, paranoia mereka jadi masuk akal buatku.

Jadi inget juga ama posting blog yang pernah aku tulis, tentang SCB nggak setuju ama 'Sastrawan yang para sastrawannya self-supporting dalam puji memuji'. Dan SCB di situ juga beberapa kali menyebut-nyebut 'medioker', salah satu pesan yang disampaikan di 'The Fountainhead'. Jangan-jangan yang dia maksud...Oh-oh.

   0 comments

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments