Entry: Audrey Hepburn Weekend Tuesday, October 10, 2006



I always want to say something like this on how I spend my weekend, "Oh, I went to this Audrey Hepburn retrospective thingy at that cool independent movie-theater."

Dan, karena Sabtu-Minggu lalu di Teater Utan Kayu emang abis ada Audrey Hepburn weekend, aku jadi bisa bilang, "Tau nggak, weekend kemaren di Utan Kayu ada Audrey Hepburn weekend lhooo."

Tiba-tiba, karena weekend kemarin, Jakarta jadi Stars Hollow-ish.

Dari tujuh film yang diputar sejak Jumat malem, aku cuman nonton tiga sih, Funny Face, Roman Holiday, ama The Children's Hour. Dua film lainnya sengaja nggak aku tonton karena udah pernah nonton, My Fair Lady, ama Breakfast at Tiffany's. Tapi terus sekarang jadi menyesal, karena, how can there be watching too much of Breakfast at Tiffany's?

Di Funny Face, itu pertama kalinya aku nonton filmnya Fred Astaire, dan ngeliat dia menari. Aku sekarang jadi ngerti apa yang dimaksud Katharine Hepburn ketika dia bilang, "Ginger gave Fred sex appeal, Fred gave Ginger class." Karena Fred Astaire, dialah perwakilan class itu sendiri. Dari bahasa tubuh, potongan-potongan pakaiannya, jas hujannya, caranya dia menari, wow, kelas dan keanggunan tuh menetes deras dari semua elemen sosoknya.

Audrey memang seorang ballerina terlatih, tapi aku awalnya nggak nyangka dia bakal bisa mengimbangi Astaire. She's a magnificent dancer. Dan ada sex appeal yang muncul pas Audrey menari di kafe bawah tanah di Paris. Cara badannya meliuk, aku nggak pernah nyangka kerangka badan yang boyish dan rapuh itu bisa punya api juga. Benar-benar sebuah bentuk pelepasan.

Ceritanya sih semi-semi transformasi Cinderella-Ugly Duckling. Cerita tentang cewek smart pemilik toko buku dan penyuka filsafat tapi berwajah kurang menarik (halah, Audrey Hepburn gitu lhooo...) ketemu ama fotografer (Astaire) majalah mode terkenal, Vogue-like, tapi namanya Quality. Toko bukunya jadi setting buat pemotretan majalah, tapi si fotografer malah jadi seneng ama si Jo (Hepburn). Fotografer lalu mengusulkan agar si Jo bisa dijadikan Quality-Woman berikutnya. Jo, setelah menolak, akhirnya setuju dengan iming-iming ke Paris, biar dia bisa ketemu ama profesor filsafat kesukaannya.

(Argh, kapan bisa ke Paris lagi yaa?)

Dan, aku baru sadar, I love musical. Setidaknya drama musikal tuh nggak pernah nggak berhasil membuat aku tersenyum. Sama dengan yang ini. Plus, melihat Audrey Hepburn berparade kanan kiri dengan baju-baju rancangan Givenchy? Hah, hah, hah, I'm having a fabulous weekend. Adegan mereka menari di belakang gereja itu benar-benar perfect, wedding dress-nya terutama.

Tapi, aku sebel ama orang yang setelah filmnya selesai ngomong: "duh, lama juga ya, gara-gara nyanyi-nyanyi, nari-nari kayak Bollywood gitu sih."

Helloooooo. Please deh. Kamu udah sadar kalo kamu bakal nonton filmnya Audrey Hepburn ama Fred Astaire. Fred Astaiiirreee! Of course you'll get dancing and singing. First rate dancing, even. Jangan terkejut, mengeluh-ngeluh seakan kamu nggak tahu apa yang akan kamu dapetin deh.

Sebenernya malam itu mo nonton 'The Unforgiven', film western sebenernya, tapi yang nyutradarain John Huston. Tapi keburu diselamatkan dengan ajakan makan di Izzi Pizza.

Minggunya, aku balik lagi ke TUK. Pertama nonton Roman Holiday. Duh, baru sadar, betapa gantengnya Gregory Peck ya. Dan betapa indahnya Roma. Huks, for a few hours, aku ngerasa nggak di Jakarta deh..

Terus abis itu nonton The Children's Hour. Nah, film yang kedua ini menarik nih. Tentang dua guru muda yang mendirikan sekolah khusus anak perempuan. Satunya Audrey Hepburn, satunya Shirley MacLaine.

Ada satu anak yang bitchy banget, sampai akhirnya si anak, cuman gara-gara iseng, nyebarin gosip kalo Hepburn dan MacLaine adalah sepasang kekasih. Semua orang jadi percaya, dan Hepburn-MacLaine kalah dari tuntutan pencemaran nama baik terhadap nenek si anak bitchy itu.

Terus, ada satu adegan, yang Hepburn-MacLaine mau jalan-jalan, tapi pas sampai pintu nggak berani keluar karena ada mobil yang berhenti dan beberapa orang di dalamnya ngeliat-ngeliat ke arah sekolah, membahas dan menunjuk-nunjuk.

Nah, pasangan yang duduk di sebelahku, yang udah datengnya telat, terus ngobrol-ngobrol terus, si ceweknya nanya-nanya terus, pokoknya cukup mengetes kesabaran di saat puasa deh. Pasangan ini, si cowoknya, komentar, "ih, di luar negeri coba masih kayak gitu."

Helloooooooooooooo. Please deh, liat aja itu settingnya tahun berapa. Rock Hudson aja baru coming out of the closet pas dia ketahuan kena AIDS. Liat dong, ini kota kecil. Liat dong, posisi dua perempuan itu sebagai guru untuk anak-anak perempuan. Mungkin di era keterbatasan informasi kayak gitu, pandangan mereka tentang sekolah itu dan Neverland tempat anak-anak kecil berbagi tempat tidur dengan Michael Jackson jadi nggak jauh beda. DAN, tujuannya film ini kan emang mau nunjukin kekuatan sebuah rumor anak kecil bisa menghancurkan reputasi dua guru itu. Please people, use your head and think. Apresiasinya jangan cuma segitu-segitu aja dong.

Ada kutipan yang bagus dari line-nya Hepburn, tapi aku lupa tepatnya. Intinya sih, setelah gosip tersebar dan reputasi mereka hancur, Hepburn bilang, "there is no safe word anymore. Woman, friend, love, unnatural, everything has a new meaning."

Pas jaman-jaman kuliah aku sempet ngeliat acara BBC Talking Movies dan dibahas sebuah film dokumenter tentang para movie addict, mereka-mereka yang janjian kumpul tengah hari di hari kerja hanya buat nonton mattinee-nya Breakfast at Tiffany's. Terus ada potongan shot-nya, yang mereka abis nonton Breakfast at Tiffany's, credit title-nya masih jalan diiringin 'Moon River', terus pelan-pelan lampu di bioskopnya mulai menyala, dan orang-orang itu saling melihat satu sama lain dengan tersenyum, kayak bilang, "wow. Did you see it too, the magic that I just saw?"

Terus, setelah keluar dari bioskop mereka ngomong, "It's still a great movie. Magnificent, etc, etc, etc."

Dan aku inget figur mereka. Karakteristiknya. Slightly overweight, fashionably challenged, wearing outdated thick glasses. Oh my God. I'm one of them.

   0 comments

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments