Entry: Spinster Thursday, September 28, 2006



Ah, tiba-tiba jadi keinget lagi ama kata itu beberapa waktu lalu, pas nonton 'Gilmore Girls'. Gara-gara Lorelai rencana menghabiskan malamnya dengan duduk di rumah malam demi malam, memesan Chinese food, dan menonton film-film lama.

(What? That's spinster-y? That's what I've been planning to do once I have my own place. Of course, it's important to find the DVD rental with vast selections of 'old movies')

Oke, nggak usah jauh-jauh ngelihat ke masa depan yang belum jelas batasnya, saat aku punya 'tempatku' sendiri. Sekarang aja, saat 'tempatku' sendiri adalah kamar di loteng di rumah orangtuaku, aku sudah bisa membayangkan beberapa tahun ke depan sebagai spinster.

Aku udah punya buku-bukunya, tinggal nyari kucingnya aja kali ya.

Hmm, kekhawatiran ini sih sebenarnya sudah punya bibit sejak...aku lupa tepatnya kapan. Tapi ada percakapan baru-baru ini dengan ibuku yang membuatku kembali merasa khawatir. Walaupun, khawatir mungkin bukan kata yang tepat, karena aku sekarang sebenernya udah di tahap 'menerima' (nasib? Takdir?) sebagai spinster.

Beberapa hari lalu, aku cerita ke ibuku tentang this particularly hilarious quote that my sister said. Jadi, televisi sedang menyala, menayangkan suatu acara infotainment. Ceritanya tentang kehamilan, baju hamil, kebiasaan hamil para selebritis cewek. Salah satunya, Cornelia Agatha. Dia cerita tentang kebiasaannya sekarang, "ya nulis lagu, main piano, ngelukis, etc, etc...(insert art-y activities here)".
Dan adikku, si perempuan muda yang semakin lama semakin cerdas dan sinis dengan kata-kata sampe membuatku terkagum-kagum tanpa henti, tanpa terlihat mikir, sambil ngisi gelasnya di dispenser air mineral, dan dengan nada 'lurus', "Yeah, you're pregnant and you're suddenly multi-talented."

Jenius.

Nah, cerita itu aku ceritain ke ibuku, dan tetep, aku ketawa tanpa henti. So does my mom. She seems really enjoying it. Ketawa tertahan, tapi tetap terkagum-kagum. Dan dia memberikan pujiannya atas kejeniusan kata-kata si adik.

Tapi, tetep sambil ketawa, menambahkan, "Duh, girls. Kalian tuh jangan sinis-sinis lho. Nanti cowok-cowok pada takut, pada males sama kalian."

Kata-kata adikku tuh secerdas itu, sampai aku tetap terhibur dan hanya sedikit kesal dengan kata-kata ibuku.

Haruskah aku memberinya contoh? Jane Eyre? Dia kan dengan segala kekurangannya, tapi dengan kecerdasannya bisa ngedapetin Mr Rochester. Oke, Jane Austen? Itu kan contoh nyata. She's witty and cynical, and a spinster. So it's not that bad being a spinster. Terus, Dorothy Parker? Yang bukan hanya sinis, tapi sampai level yang acidic bitchy-nya. Bukan hanya suami resmi, tapi juga selingkuhan. Terus, Kate Hepburn? "Katharine of Arrogance" itu bisa ngedapetin Howard Hughes juga kok. (Although, on second thoughts, memiliki tulang pipi tinggi dan rambut merah aku rasa juga berperan besar dalam menarik perhatian Howard Hughes...)

Tapi entah kenapa, keragu-raguan ibuku atas aku jadi membuat aku agak terganggu. Dan mungkin karena itu juga aku jadi ngerasa udah menerima nasib (atau takdir? Atau hukuman? Atau berkah? Siapa tau kan...).

Dan, melihat caraku hidup sekarang...yeah, it's spinsterhood, alright.


   0 comments

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments