Entry: Wide Sargasso Sea Monday, September 25, 2006



Hurrah! Finished my 40th book this year, last Saturday in fact. 'Wide Sargasso Sea'. Buku yang aku beli pas closing sale-nya QB Plaza Semanggi dan aku beli karena aku punya 'Jane Eyre'.

Jadi, aku baru menemukan satu pola lagi membaca yang (mungkin) bisa meningkatkan efektivitas. Haduh, bahasanya itu lho. Anyway, pola itu sih namanya 'intertekstualitas'. Dan kayaknya, this might be it; pola membaca yang sesuai buat aku dalam men-tackle koleksi buku yang udah semakin mekar dan biar aku nggak asal ngambil juga, dan biar pemaknaannya nggak sekadarnya juga sih. Oke, tentang intertekstualitas sendiri sih maksudnya memilih buku-buku dengan tema yang berhubungan dekat, kayak contohnya 'Jane Eyre' ama 'Wide Sargasso Sea'.

'Wide Sargasso Sea' yang rilis tahun 1966 memposisikan diri sebagai prekuel dari 'Jane Eyre'; bercerita tentang siapa dan asal mula si perempuan gila di loteng. Yang nulis penulis lain tentunya, dan Jean Rhys memiliki alasan yang cukup legit untuk memberi pemaknaan lain atas sosok madwoman in the attic itu. Alasan utamanya sih menurutku karena latar belakang budaya dan asal-usul yang sama dari Antoinette/Bertha Mason dengan Rhys sendiri. Antoinette/Bertha yang besar di Jamaika dan dipindah ke Inggris yang dingin dan steril akan merasa suatu keterasingan, lalu belum lagi status pernikahannya dengan Rochester yang lebih sebagai jual beli dari pada pernikahan. Belum lagi penjelasan atas kegilaan yang degeneratif dan a hint of racism di 'Jane Eyre' tentang penggambaran sosok Bertha Mason.

Buat aku, memang jadi ada suatu sisi cerita lain tentang Bertha. Aku nggak tau apa kata tepatnya untuk memberi suatu penilaian positif untuk adanya cerita tentang Bertha. 'Lebih baik'? Bisa sih. Tapi ceritanya Bertha ternyata tragis. Jadi apakah lebih baik mengetahui cerita yang tragis itu atau tidak? 'Melegakan'? Mungkin juga bisa. Tapi cerita tentang Bertha diceritakan dengan cara yang menyesakkan. Nggak ada sedikit pun nada 'harapan' di buku itu. Berawal dari kesedihan, terus menurun sampai menjadi sesuatu yang tragis. Gimana bisa ada orang se-tidak beruntung Bertha? Benar-benar buku yang membuat depresi. Belum lagi cara tiap karakternya bertutur, 2/3nya dihabiskan dengan cara yang terbata-bata, lalu ada pula tipisnya batas kenyataan-rumor-khayalan; semuanya digabung, kesan yang tercipta jadi menyesakkan.

Bukunya nggak tebel, cuma 123 halaman, tapi nembus bukunya itu susah. It's pretty dense. Struktur, penokohan, kata-kata yang diucapkan sih memang masih jelas banget, cuman, ya itulah...menyesakkannya itu lho yang membuatku susah nembus.

Anyway, dalam menggunakan pola intertekstualitas itu, setelah 'Wide Sargasso Sea' selesai sih maksudnya mau berlanjut ke 'Rebecca'. Ada kesamaan tema dengan 'Jane Eyre', seorang governess yang polos dan naif menikah dengan sosok lelaki yang gelap, murung, misterius, dan menemukan misteri-misteri tentang mantan istrinya yang ada cerita tragis-tragisnya juga, dan setting lokasi yang kuat. Di 'Jane Eyre', settingnya Thornfield, 'Rebecca' di Manderlay.

Tapi, sekarang malah lagi mbaca 'The African Queen'. Gara-garanya, setelah JE, aku mbaca 'Kate Remembered' biar agak rileks sedikit, tapi terus inget...aku punya 'The African Queen' dengan Katharine Hepburn dan Humphrey Bogart di sampulnya. Oh iya, mereka kan pernah main di versi filmnya. Ya sudahlah, since Kate Hepburn is a rarity here, aku cuman bisa membayangkan Hepburn sebagai Rosie Sayer di 'The African Queen'.

Setelah dua peta itu selesai dijalanin, I'm thinking of going the socialite map, jadi..Vanity Fair, novel-novelnya Edith Wharton, Bel-Ami, terus F Scott Fitzgerald kali ya, sebelum akhirnya membuat cabang peta baru ke 1920s writers yang bermuara ke Gertrude Stein--gurunya Hemingway dan Fitzgerald--dengan 'The Autobiography of Alice B Toklas'.

Dan oh, I'm also thinking about 'short story ladies', diawali dari Alice Munro mungkin, terus berlanjut ke Collected Short Storiesnya Katherine Ann Porter yang dibaca back-to-back ama Collected Short Storiesnya Eudora Welty (mereka saling mengagumi ternyata, dan Porter adalah mentornya Welty), sebelum lanjut ke novel-novelnya Welty sampai ke Faulkner yang sama-sama Southern Writers. Hah! Jadi inget, dari situ kan bisa ke Carson McCullers...

(Ough, I'm definitely going to be a spinster...)

   0 comments

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments