Entry: Jane Eyre Monday, September 25, 2006



(Setelah selesai membaca Jane Eyre hari Senin lalu...)

Aku ngerasa bahwa memikirkan kemungkinan aku lebih suka karakter Jane Eyre daripada karakter Elizabeth Bennett adalah sesuatu yang agak blasphemic. Mungkin kesimpulan bahwa 'Lizzie Bennet adalah all-time favorite character in a book' diambil terlalu cepat, karena aku belum begitu banyak membaca tentang heroin-heroin menarik di dunia perbukuan untuk akhirnya bisa memilih Lizzie sebagai favorit, tapi mungkin juga karena Jane Eyre benar-benar mengesankan.

Ada banyak hal yang berbeda di antara keduanya; yang satu tumbuh dalam keluarga inti yang sangat mendukungnya (walaupun dengan orangtua dan adik-adik yang eksentrik), sementara yang lain dengan keluarga angkat yang menolaknya, lalu membentuk keluarga-keluarga sendiri. Yang satu sopan dan mencoba segala cara untuk tidak menjadi anti-sosial, percaya pada aturan dan norma-norma, sementara yang lain lebih penyendiri, lebih nyaman pada perilaku kasar karena tidak pernah mengharapkan keramahan. Walaupun secara ekonomi Lizzie sedikit lebih beruntung karena kelas sosial yang lebih menguntungkan juga, tapi kemampuan finansial mereka sebenarnya sama-sama terbatas.

Yang pasti, dua-duanya sama-sama merasa ada sesuatu yang lebih buat mereka dari sekedar yang 'dikasih' oleh hidup, sama-sama witty, sama-sama berani jujur ama dirinya sendiri, nggak peduli yang dibilangin orang lain, dan sama-sama jatuh cinta ama Mr-Mr yang jutek, dark, sinis, dan therefore...charming. Mr Darcy dan Mr Rochester.

Dan Mr Rochester pun terasa lebih cerdas daripada Mr Darcy. Lebih jutek pas ngajak omong, tapi lebih talkative. Perdebatan mereka tentang suatu topik bisa jauh lebih panjang dari Lizzie-Darcy dan lebih panas. Berbicara tentang 'panas' yang lain, ya, Jane Eyre kerasa banget lebih passionate, dan lebih sering memunculkan kupu-kupu di perut daripada Pride & Prejudice. Ketika P&P masih bermalu-malu mengungkapkan perasaan dari karakter utama lelaki dan perempuannya, Jane Eyre sudah amat berterus terang, tapi tetap nggak kehilangan kelasnya.

Benar-benar romansa dalam skala yang epik deh.

Tapi, ngomong-ngomong, aku jadi penasaran dengan Bronte sisters. Setidaknya dari novelnya Emily dan Charlotte yang udah aku baca (Wuthering Heights dan Jane Eyre); ada apa ya di pendidikan mereka yang membolehkan mereka untuk jujur seperti itu terhadap perasaan? Ada gelombang passion yang sama kuatnya di dua novel itu. Sesuatu yang agak ditahan dalam novel-novel Austen, yang ketika dibandingkan dengan mereka jadi terasa steril, higienis, rasional, dan (ahem, please excuse myself) agak...dangkal.

But, no, no. I don't want to feel like that about Austen. This is Austen, Jane Austen. Aku lagi ngerasa berdosa banget nih berpikir kayak gitu tentang Austen. Well, mungkin sama kayak orang beragama kali ya, nggak terima kalo ada yang bilang bahwa sesuatu yang dia percaya selama ini ternyata...tidak salah sih, cuman ada yang lebih baik. Tapi aku kan nggak percaya dengan lebih baik-lebih jelek, tapi pada adanya 'perbedaan'. Jadi?

Hmm, sepertinya aku dan Austen sedang berada di tahap hubungan yang...'is she the one? Is she not the one? Apakah aku masih bisa belanja-belanja kanan kiri lagi?' dan hopefully, semoga, akhirnya aku bisa kembali lagi Austen, walaupun mungkin dalam fungsi yang berbeda. Mungkin bukan lagi the best, tapi mungkin sebagai penulis yang aku andalkan saat aku pengen detox, merasakan cita rasa yang sederhana, something that can make me happy all the time kali ya?  

   0 comments

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments