Entry: Lelaki Berpakaian Hitam Itu Monday, August 28, 2006



Dari menonton 'Walk The Line', aku baru bisa membenarkan pesan utama sebuah film lain, 'Moulin Rouge', bahwa "the greatest thing in the world, is to love and be loved in return".

***
Aku selalu punya daftar--kadang tertulis, kadang tercatat tapi terserak di otak-- tentang hal-hal yang 'seharusnya mulai aku lakukan'. Kayak, aku harus mulai nonton Kurosawa, atau aku harus mulai membaca penulis besar Rusia, atau penulis besar Amerika Selatan, atau mulai mendengar satu per satu lagu Bob Dylan (but I hate his ego, though). Sebuah usaha sadistik untuk memperbaiki diri sendiri sebenarnya. Atau malah sangat Bridget Jones?

Anyway, salah satu hal di daftar itu adalah mencoba mengenal Johnny Cash. Awalnya dari sebuah artikel di majalah Time, dengan Cash sebagai cover. Lalu Rob Gordon di 'High Fidelity' versi buku menyebut buku otobiografi Cash sebagai buku favoritnya.

Mungkin tulisan itu memang dibentuk seperti tulisan orang yang sudah berada di senja hidupnya. Tapi tulisan itu berhubungan dengan keluarnya album Cash yang terbaru saat itu, sekitar tahun 2002/2003, American IV: The Man Comes Around. Yang membuat album itu spesial, Johhny Cash, si pak tua berusia 70 tahun dengan rasa sakit di seluruh tubuhnya akibat ketergantungan masa lalunya pada obat, merekam ulang lagu 'Hurt'-nya Nine Inch Nails.

Di artikel itu ditulis, Trent Reznor, vokalis NIN, ketika melihat final cut-nya video klip 'Hurt' versi Cash jadi bergidik ngeri. Cara Cash menyanyikannya dan video klip yang dibuat oleh Mark Romanek (sutr. One Hour Photo) buat aku juga kerasa haunting. Tapi liriknya juga, well, baca aja yang ini:

I hurt myself today
To see if I still feel
I focus on the pain
The only thing that's real
The needle tears a hole
The old familiar sting
Try to kill it all away
But I remember everything

What have I become
My sweetest friend
Everyone I know goes away
In the end
And you could have it all
My empire of dirt
I will let you down
I will make you hurt


Pas tadi malem nonton 'Walk The Line', ngeliat cara hidupnya Cash dan kehidupannya dia yang nggak jauh-jauh dari rasa sakit dan kesakitan, self-inflicted ataupun disebabkan oleh orang lain, lagu ini jadi punya makna jujur yang baru. Oh, dia tahu apa yang dia nyanyikan. He's been there, done that, and more than just puking on it.

Seperti katanya Snoop Dogg juga di artikel itu: "Man, I listen to Johnny Cash growing up, singing 'I shot a man in Reno, just to watch him die'.Dan kalian ribut-ribut tentang kita nge-rap tentang senjata dan kekerasan?"

***
Semua tentang June & Johnny, itu inti 'Walk The Line'.

Beberapa bulan setelah membaca artikel Time, ada berita bahwa June Carter Cash meninggal. Berita yang sempat membuat aku terhenyak. Sepertinya semua orang sedang menunggu kematian Johnny. Tapi kejutan itu malah datang dari June.

Dan aku sempat melihat sebentar saja rekaman pemakamannya; Johnny tetap dengan pakaian hitam-hitamnya, mengenakan kacamata hitam. Walaupun dari jauh, bibirnya yang miring terlihat jelas, ia berjalan tertatih-tatih dituntun oleh Roseanne.

Saat itu, selain keterhenyakan tadi, aku tidak bisa memberi arti atas hilangnya perempuan itu.

Tapi semuanya jadi jelas setelah melihat 'Walk The Line'.

Siapa dan apa June terjawab lewat cerita cinta yang panjang; tentang kesabaran di kedua belah pihak (Johnny menunggu June mengiyakan lamaran pernikahannya, June menunggu Johnny lepas dari pengaruh obat dan alkohol, dua-duanya dalam ikatan pernikahan dengan orang lain), proses berubahnya hubungan mereka; teman, kekasih, rekan kerja, sahabat, mantan kekasih, kakak-adik, teman duet, creative partner, dan entah apa lagi.

Kata-kata: the greatest thing in the world is to love and be loved in return yang buat aku terasa kosong di Moulin Rouge, jadi punya makna lewat film ini.

***
Satu lagi hal hebat tentang film ini adalah penggambaran adegan 'Folsom Prison Blues'. Kemeriahan, pengelu-eluan Cash oleh para tahanan, setting panggung dan antusiasme penonton, semuanya tepat seperti yang aku bayangkan saat mendengar rekamannya.

Tapi sorakan para tahanan Folsom Prison di rekaman terdengar lebih mengerikan, lebih membuat bulu kuduk merinding daripada di film. Bahkan saat aku hanya mengenal sekilas Cash, aku merasa dia benar-benar berada di rumah saat menyanyi di penjara itu.

***
Mungkin ada sesuatu yang lintas batas dari sosok Cash. Setidaknya aku merasa seperti itu. Musiknya yang selalu amat terasa khas Americana (bukan sekedar country, tapi juga blues, rock n' roll, traditional folk song...aku selalu membayangkannya seperti musikalisasi karya-karya Steinbeck) di tengah politik internasional dalam lima, enam tahun terakhir, tidak membuatku melihat imejnya yang quissential American itu sebagai sosok 'aneh'.

He's just a literary figure, for me.

Suaranya unik; tajam, maskulin, menderu, bergulung-gulung dengan cepat walaupun berat. Semua karakternya muncul di suara itu. Lagu-lagunya, walaupun mudah diterima, buatku hanya sekedar instrumen, alat pembawa suara agung itu.   

   0 comments

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments