PENARI MUNGIL


(Saya bukan seorang penari. Pun sangat jauh dari mungil. Tapi, tahu kan adegan 'Tiny Dancer' di 'Almost Famous'? Sensasi membahagiakan dari adegan itulah yang saya kejar..)



Hold me closer, tiny dancer

Count the headlights on the highway

Lay me down in sheets of linen

You had a busy day, today


("Tiny Dancer" - Elton John)





"...the quest for transcendence has always been closely linked to the ecstatic release of dancing."
(Resensi RollingStone atas sebuah album pop)

Mr. Darcy: "So what do you recommend, to encourage affection?"
Elizabeth Bennet: "Dancing, even if one's partner is only tolerable."
(Pride & Prejudice, 2005)


perempuan, 1983, lovesick soul, berjalan kaki, belajar menulis, menonton film, ingin keliling dunia, Billie Holliday, Jane Austen, 'Franny and Zooey', cerita pendek F Scott Fitzgerald, lagu-lagu sedih, kecanduan membeli buku second, deretan buku di lemari, berkeliling dengan bis kota, mengepak koper, menari bebas, Vogue, sepatu, bad boys, kopi, kuliner, foto, semua yang vintage, genggaman tangan, pelukan hangat, detil percakapan antara manusia, kegelisahan, kesepian, ruang pencarian, belajar dewasa, museum dan bangunan tua, hari hujan, sinar matahari hangat di hari berangin, airport, stasiun kereta, dan pertanyaan tanpa akhir

YM: isyana_artharini
Email: i.artharini@gmail.com
   

<< September 2007 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Wednesday, October 03, 2007
Oblivion

Aku cemas.

Sepertinya ketakutan terbesarku sudah mulai jadi kenyataan, tenggelam dalam total oblivion (oblivion: n. The condition or quality of being completely forgotten, the state of being completely forgotten or unknown).

Ffiiuhh.

Posted at 04:30 pm by i_artharini
Comment (1)  

Friday, September 28, 2007
Terselip

Ah, akhir-akhir ini jadi terasa terlalu sibuk hidup, tapi tak cukup sering melakukan pencatatan. Padahal ada banyak cerita-cerita yang harusnya bisa muncul di sini, tentang dua kali ke Yogya dalam dua minggu berturutan untuk urusan yang berbeda-beda, sekitar sebulan lalu. Lalu ada juga tentang mimpi-mimpi yang indah, hehe. Dan sedikit curhatan tentang kantor yang mengantagonisasi sejumlah orang, internal maupun eksternal.

Walaupun potensi otak masih jauh lebih besar dari yang biasanya dipakai manusia, tapi otakku serasa mau meledak menyimpan detil-detil itu. Mau dicatat, tidak punya waktu. 'Catat sedikit-sedikit saja, tidak usah terlalu banyak,' tapi otakku tidak bekerja dengan cara itu. Sekali bendungannya dibuka, aduh, bakal terus ngalir sampai kehabisan, sebelum kemudian terisi lagi.

Duh, pusing, kepalanya terasa berat dan penuh. Mau unload, sengaja ditahan-tahan, karena masih ada dua tulisan @ 50 barisan buat Senin midmorning. Ayo, Nari, back to work, ya.

Posted at 10:06 pm by i_artharini
Make a comment  

Monday, September 24, 2007
Orang-orang dari Masa Lalu

Mungkin hari ini tepat dibilang hari Belanda

Mungkin Sabtu kemarin tepat dibilang hari Belanda. Ada beberapa kejadian hari ini yang membuatku teringat sama masa-masa kuliah dulu. Ketemu beberapa orang ceritanya.

Pertama, di Gelar Batik Nusantara, ketemu seorang Gama(lia) yang lagi menggendong anak kecil umur sekitar satu setengah tahunan. Beberapa saat setelah aku sapa, dia langsung menegaskan, “Ini bukan anak gue lho ya.” Hehe, tahu aja kecurigaanku. Nggak curiga-curiga banget sebenarnya, cuma aku agak ketuker-tuker dengan detil teman lain. ‘Oh iya ya, yang sudah nikah kan bukan dia.’

Tuker-tuker kartu nama (wuhuu, kartu namaku sudah terisi lagi stoknya), janji-janji untuk tetap keep in touch, yang belum terbukti dan terjamin ditaati, tapi niat baik itu selalu ada, lalu kami berpisah. Dia kembali ke keluarganya, aku, mencoba memburu keberadaan seorang broker batik.

Kejadian kedua, di depan Bundaran Hotel Indonesia.

Setelah turun dari jembatan penyeberangan karena naik Trans Jakarta (ini, teorinya, satu-satunya kendaraan yang boleh lewat Thamrin kemarin. Tapi ternyata di jalur lambat tetap saja ada kendaraan pribadi yang lewat...) ada seseorang yang seems so familiar, tapi benar nggak ya? Dan akhirnya dikonfirmasi lewat sepatu.

“Hai mbak Clara, lagi ngapain?”

“Ini, lagi sama oom.”

Yeah, Jakarta buat wartawan itu memang terlalu sempit. Tak direncanakan pun akhirnya ketemu sesama wartawan. Walaupun beda pos. Aku sudah mengira bakal ketemu seseorang di Bundaran HI, tapi anak Metropolitan. Eh, ternyata kok ya Clara.

Pas lagi duduk-duduk mengisi waktu di depan Sogo itu, tiba-tiba ada seorang perempuan putih tinggi, berambut bob dengan seorang perempuan ber-ras Kaukasia dan berambut pirang ikal, tingginya tidak jauh beda dengan si perempuan Indonesia.

“Eh, La, itu Laura bukan sih?”

“Elu kok kenal? Dia temen SMP gue.”

Buat anak Jakarta, ternyata kelompok pergaulan tuh itu-itu saja ya? Atau tepatnya, buat anak Jakarta yang sekolah di perguruan Katolik?

Laura ini, sekitar tiga atau empat tahun lalu, ketemu waktu peluncuran tengah malamnya Harry Potter 5: The Order of Phoenix di American Book Center, waktu masih di Kalverstraat. Iseng-iseng lagi jalan ke lantai 3, paling atas, duduk di sofa, dengar orang sebelahku ngomong bahasa Indonesia. Tiba-tiba sama-sama melirik, tersenyum demi kesopanan, say hi, terus kenalan. Laura waktu itu membawa dua temannya, Carla dan Patty, sementara aku lagi jalan sama Baby. Walaupun baru kenal, lepas tengah malam itu aku dan Baby berakhir di kamarnya Laura di kawasan De Pijp terus sedikit.

Besoknya, sebelum brunch di sebuah restoran Indonesia di daerah Waterlooplein (duuuh, aku sudah lupa namanya), mataku sempat didandanin dengan eyeliner perak dan hijau dengan ketebalan yang sangat pas dan hasilnya oh so cool. Sampai sekarang aku enggak bisa mereproduksi tampilan itu.

“Hey, Laura, masih ingat nggak? Isyana.”

Dia masih mengingat aku, anehnya, dengan nama Nari.

Wow, aku cukup kaget. Maksudnya, itu nama yang cukup intim. Hanya orang yang ‘kenal’ cukup lama, setidaknya lebih dari acquaintance semalam yang setelah itu tidak pernah berlanjut, yang memanggil aku dengan nama itu.

Pulang di 213 tadi juga baru tersadar. Aku tidak ingat mantanku yang terakhir pernah memanggilku dengan nama itu tuh. Yang aku ingat, dan aku catat di blog ini juga, dia mencoba keras tidak memanggilku dengan nama itu. What a jerk.

Yeah, oke, pada saat itu aku membahasakannya dengan ‘panggilan kesayangan’ dan mungkin dia sedang berusaha memposisikan aku (kata kunci di sini: berusaha*) sebagai suatu konsep yang bisa disayangi dengan memberinya nama tersendiri, tapi pada akhirnya, ya....titik-titik sebelumnya bisa berarti banyak hal, tapi buat aku, untuk selanjutnya, cari seseorang yang bisa look you in the face and call you your real name.

Oke, kembali ke Laura.

Mengupdate kehidupan masing-masing ala Friendster (location, affiliation, company, who are you friends with), lalu pertukaran kartu nama terjadi lagi. Dan pada saat itu aku tersadar. Kita sama-sama lagi off duty. Well, aku enggak sih, tapi Gama dan Laura aku rasa iya, tapi kita tidak bisa terlepas dari kartu nama. Bahkan saat hari liburku pun, aku bisa membayangkan tidak akan mengeluarkan dompet kartu nama dari tas. Sama seperti ID wartawan, yang atas alasan ‘jangan-jangan diberi tugas mendadak’ selalu aku bawa bahkan pada hari libur, kartu nama pun begitu.

Dua-duanya sudah menjadi bagian dari identitasku, sepertinya. Sama juga dengan tempatku bekerja sekarang. Dan seragam birunya yang membuat bosan matanya Samuel Mulia, kata Sic.

“Wah, Nari. Kamu nggak berubah.”

Masih ada harapan sepertinya. Atau komentar itu berarti sesuatu yang mengkhawatirkan?


(*berusaha= kata ini bisa ditanggapi maknanya secara positif atau negatif sebenarnya. Tergantung mau berpikiran seperti apa. Tapi aku berkesimpulan ada batasnya kan antara berusaha dan berusaha terlalu keras? Sepertinya, pada saat itu, kita berdua sudah melewati batas itu. Thus itulah yang aku maksud dengan 'kata kuncinya' sebagai petunjuk bahwa ini sudah jadi sesuatu yang doom from the start).


Posted at 01:23 pm by i_artharini
Make a comment  

Wednesday, September 12, 2007
Kutip

Kutipan Hari Ini-ku:

"Gue udah capek, udah bosen nge-follow up global warming. Sampai gue udah nggak percaya lagi itu ada."

Mwahahaha.

Posted at 05:18 pm by i_artharini
Comment (1)  

Thursday, August 23, 2007
Sekelumit Sidang

Indra Setiawan (IS): Dia datang ngasih surat dan diam saja, Pol.

Pollycarpus Budihari Priyanto (PBP): Tenang saja, Pak.

IS: Surat penugasan itu apa dia lihat? Kalau sekarang itu ramai dibicarain. Bagaimana kalau ada yang fotokopi?

PBP: Saya sudah ketemu sama Ibu Asmini. Barang-barang itu sudah tidak ada. Bapak kan tahu, saya masuk biar Garuda tidak diembargo. Setelah itu, saya keluar. Lagian tenang saja, Pak. Bagir Manan itu orang kita. Novum baru itu tidak ada, Pak. Ini permainan politis. Saya sudah ketemu Harry Tjan dari CSIS, orangnya Ali Moertopo. Ini permainan, Pak. Masa penahanan bapak itu 60 hari, sedang pengajuan berkas butuh waktu 14 hari kerja. Nah sekarang masanya sudah mau habis. Bapak bisa bebas. Ini bapak ditahan karena ada ambisi tertentu dari polisi. Saya terus dampingi Bapak. Kalau malam, saya terus mengelilingi rumah Bapak.

IS: Di mana kamu?

PBP: Di belakang Mabes. Di situ ada warung. Saya sama istri. Kadang saya ingin ke dalam, tapi waktunya belum pas. Sekarang ini 90 % pejabat negara memihak kita, Pak.

IS: Saya nggak mau kebawa-bawa, Pol. Aku nggak mau, my future, my family.

PBP: Tenang saja, Pak. Ini hanya permainan. Itu si Petruk sudah diganti.

IS: Siapa?

PBP: Abdul Rahman (Saleh). Dia sudah diganti, sedang Bagir Manan itu orang kita. Bapak sabar saja. Di situ kuncinya, kesabaran.

(Media Indonesia, 23 Agustus 2007)

***

Taruhan. Penulis skenario terbaik pun pasti tidak bisa menghasilkan sesuatu yang semengerikan ini.

Mungkin ini bisa jadi salah satu contoh art imitates life atau life imitates art. Tapi, buatku, percakapan ini jadi sesuatu yang mengerikan karena ini benar-benar nyata, bukan sekedar 'art'. Tapi ya, mudah-mudahan hal mengerikan ini dibuka biar bisa mencapai satu tujuan yang diinginkan.

Jadi ingat, kemarin sempat ketemuan sama teman yang berkomentar sinis tapi lucu, "BIN itu ternyata beneran intel ya? Ternyata bisa beneran kerja ya? Lha kok selama ini keamanan bisa bocor terus. Berarti prestasi terbesarnya cuma membunuh Munir?"

Masih ditambah, "Garuda juga. Coba, harga tiket sudah paling mahal, terus-terusan merugi, masih disubsidi pemerintah. Air Asia aja berani jual tiket murah, ya nggak gitu rugi-rugi amat. Jadi Garuda, prestasinya ya itu, bisa membunuh Munir?"

Hari ini juga sempat membaca di harian lain tentang isi kesaksian salah satu saksi utama kasus Munir. Kalau nggak salah Asrini Utami Putri, salah satu penumpang yang sempat melihat Polly, Ongen dan Munir di Coffee Bean Changi. Katanya dia jelas-jelas ingat Munir ngobrol ama Pollycarpus karena kantung matanya Polly lebih gelap dari warna kulit mukanya.

Amazing ya, cara saksi ini mengingat detil. Tapi intinya adalah, kalau punya kantung mata, harus diurus. 

Posted at 04:10 pm by i_artharini
Comment (1)  

Monday, August 20, 2007
The Philadelphia Story

Setiap perempuan muda sepertinya harus memiliki Cary Grant sebagai mantan suami yang berusaha dengan segala cara, turning tricks and everything, untuk memenangkan kembali hati mereka.

Damn, I want Cary Grant as an ex-husband yang menerapkan semua tipu daya in order to win me back. The Philadelphia Story dan His Girl Friday ternyata punya satu elemen itu yang sama. Cary Grant sebagai mantan suami yang berusaha dengan segala cara agar mantan-mantan istri mereka kembali padanya.

Tapi, that man, aduuuhhh. So charming, so handsome, tough dan cuek dan seksi tapi tetep rapi. Oufff.

Oke, oke, Philadelphia Story dulu kali ya.

Aku sempat terkagum-kagum sama Zadie Smith yang mengaku bisa hafal baris per baris dialognya "The Philadelphia Story". Tapi, setelah nonton 1 3/4 kali selama akhir pekan kemarin, ternyata nggak sesusah itu menghafalnya. Maksudnya gini, I wasn't even trying, tapi kalimat-kalimatnya tuh udah penuh ritme dan sederhana gitu.

Yang ada di pucuk kepalaku contohnya, (Katharine) Hepburn dan Jimmy Stewart lagi berbicara tentang buku yang ditulis karakter Stewart.

"Why, they're beautiful. They're almost poetry."
"Don't kid yourself. They are."
"You talk like these (sambil menunjuk ke dada Stewart) and then you write like these (menunjuk ke buku). Which is which?"

Atau, "The time to make up your mind about people is never."

Hmm. Aku susah memulai menceritakan tentang betapa lezatnya film ini. Ini sesuatu yang harusnya ditonton sendiri. Ceritanya sih sebenarnya sederhana. Seorang sosialita yang pernah sekali bercerai dengan karakter Cary Grant, mau menikah lagi, tapi ia diperas oleh seorang editor majalah gosip untuk memberikan hak liputan utama sama seorang penulis dan fotografer. Jimmy Stewart jadi penulisnya.

Saking berkilaunya permainan ketiga aktor utamanya, aku jadi bingung mau berfokus di mana. Hepburn is grand, Grant is dashing, dan Stewart....lucu, aku tidak pernah mengasosiasikan dia sebagai aktor yang flirtatious, tapi di sini, dia bisa menawan dan menggoda dengan cara yang sama sekali berbeda dari Grant. Antara itu atau ya, memang secara umum, aku suka pria-pria tampan. Hehe.

Tapi ini, ada dua baris dialog yang menurutku, setelah melihat keseluruhan filmnya, menjadi esensi dari identitas perempuan selama ini. Oke, oke, aku tidak bermaksud menyempitkan arti film ini sekadar jadi sesuatu buat pesan feminis, tapi salah satu unsurnya lah.

Tunangan Tracy Lord, karakter Katharine, George Kittredge bilang, "A husband expects his wife to behave herself, naturally." Sementara CK Dexter Haven-nya Cary Grant bilang, "To behave herself naturally."

Merasa nggak sih kalau pertentangan antara dua hal itu adalah dilema perempuan dalam mengekspresikan dirinya? Selalu ada kesenjangan antara behaving seperti yang diharapkan dan berlaku seperti dirinya sendiri. Buat aku, yang ideal memang apa yang dikatakan karakter Grant, tapi yang sering kejadian adalah I behave myself seperti yang diharapkan. Atau keberaniannya belum ada untuk behave myself naturally?

Posted at 03:51 pm by i_artharini
Make a comment  

Kartu Identitas

KTP-ku akhirnya ketemu. Secara nggak sengaja. Di dekat mesin faks tempat aku sering mengosongkan isi kantong seragam. Hari Kamis (16/8) pas mau berangkat ke kantor buat kumpul dan menengok Dipi, aku mengambili satu-satu isi kantong yang tersebar.

Kupon makan, STNK-nya Irma yang tadi malam kebawa, uang-uang, dan KTP. Hah, KTP? Kok bisa? Muncul dari mana nih? Oh, mungkin selama ini keselip di bawah mesin faks kali ya? Tapi, hore, jadi bisa ndaftar ke Subtitles.

Timingnya nemu KTP tidak bisa lebih sempurna dari sekarang. Awal akhir minggu yang panjang sebenarnya waktu yang pas untuk melingkar di depan tivi dan nonton berbagai macam film-film klasik. Tapi, gara-gara KTP hilang, jadi nggak bisa ndaftar membership.

Akhirnya, setelah berangkat nengok, tapi nggak ketemu orangnya, mampirlah di Dharmawangsa Square. Aduh, kembali ke tempat yang sangat familiar itu. Turun ke lantai dasar, lewat tempat duduk supir-supir dan dipelototin, dan sampailah di Subtitles.

Ternyata lagi ada antrian di meja 'resepsionisnya'. Ya sudahlah, muter-muter dulu cari film. Menemukan 'Ghost World' yang aku catat di dalam hati, pokoknya harus pinjam. Di depannya ternyata ada sejenis rak pajangan berbentuk agak piramida segi empat, yang dipasang di situ ternyata film-film lama semua. Dan yang paling pertama aku lihat, The Philadelphia Story! Iyaaaa, THAT Philadelphia Story yang ada Katharine Hepburn-nya! Horeee, bakal jadi Katharine Hepburn weekend nih.

Muterin piramidanya, eh ternyata nemu His Girl Friday! Wah, ini sih bakalan jadi Cary Grant Weekend malah.

Balik lagi ke meja resepsionis, ternyata sudah ada satu orang lagi pegawai dan aku langsung bilang, "Mbak, mau daftar membership."

"Sebelumnya pernah jadi anggota?"

"Pernah sih, tapi udah agak lama nggak aku perpanjang lagi."

"Oh, nggak pa-pa. Datanya masih ada kok. Namanya siapa?"

"Isyana."

Nyari, nyari, nyari.

"Isyana Artharini ya mbak?"

"Iya."

"Alamat ama nomor teleponnya masih sama?"

"Masih."

"Ya udah, nyari filmnya aja dulu."

Ooohhh. Ternyata nggak usah pake KTP-KTP-an lagiii.

Nggak pake lama-lama menentukan mau yang iuran bulanannya berapa. Gara-gara udah nemu tiga film untuk disewa, ya sudahlah, mbayar yang buat tiga film.

***

Sekarang, sudah mbalikin dan sudah minjem lagi. Masih memperpanjang Philadelphia Story (yang udah aku tonton 1 3/4 kali), Sabrina (yang ada Audrey Hepburn dan Humphrey Bogart-nya), dan Say Anything (film rom-com-nya John Cusack pas dia masih remaja. Aku penasaran pengen liat adegan endingnya yang katanya dia berdiri dengan boombox di bawah jendelanya si cewek. Duh, John Cusack nggak bisa salah deh sama aku).

Ternyata, ternyata. Selama ini nggak usah pakai KTP.

Posted at 02:22 pm by i_artharini
Comment (1)  

Wednesday, August 15, 2007
Yang Harus Dilakukan

Daftar hal yang bisa (dan harus) dikerjakan selama long weekend instead of going to Karimun Jawa (ikuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuut, empat hari masa nggak bisa sih, girls?):

1. Kerja, ngupdate blog kerjaan. Yang ini wajib kayaknya dan memang udah ketinggalan banyak.

2. Baca HP 7 pinjeman dan beberapa buku self-help, hehe.

3. Oh iya, ada yang menyenangkan. Masih bisa shopping baju, which I desperately need. Really, I do.

4. Immerse self in movies from DVD bajakan.

Cukup ya kayaknya?

Tapi, kayaknya kemarin berpindah-pindah tempat tidur dalam sebulan terakhir jadi membentuk sebuah pola. Jadi addicted jalan-jalan ke luar kota dan ke luar dari Jakarta untuk sesaat. Cepet juga ya kebentuk polanya. Tsk.

Posted at 12:09 am by i_artharini
Make a comment  

Tuesday, August 14, 2007
Pengungkapan

Pas udah keluar nonton.

(detil percakapannya agak fuzzy, tapi ini garis besarnya)

"Udah makan belum? Makan dulu yuk."
"Oke, boleh."
"Tapi sholat dulu yah."

Damn.

I'm prepared for anything basically, liberalis, kapitalis, sosialis, sinis, pluralis, atheis, Pram-is, platonis, apapun lah. Tapi tidak pernah mempersiapkan diri untuk seorang agamis.

Aku menyalahkannya pada kebanyakan liputan di Paramadina dan Freedom Institute sama sesekali main ke Utan Kayu. (Kata Ccr, which I amen-ed, "Kok bisa ya nggak tersesat. Nggak kayak kita yang mempertanyakan terus malah jadi tersesat sendiri...")

Btw, (*sniff, sniff*) kopi Aceh oleh-oleh redaktur bertahi lalat di bibir kok seperti punya bau-bau 'familiar' ya? (Sniff, sniff)

Posted at 10:52 pm by i_artharini
Make a comment  

Bourne Ultimatum

Menonton Bourne dari film pertama sampai ketiga yang terasa adalah kekonsistenannya. Walaupun mungkin buat orang-orang tipe half-empty, yang terasa malah prediktabilitas alur cerita film ini. Buat aku sih, nonton tiga-tiganya, rasanya sama seperti nonton serial Mission Impossible yang vintage.

Kemarin, di StarWorld kalau nggak salah, sempat lihat sekilas pembuatan dan potongan-potongan adegan Bourne Ultimatum. Aku sudah nonton filmnya, jadi pas nonton itu serasa adegan-adegan pentingnya dibuka semua. Tapi, ada adegan yang menggambarkan Nicky (Julia Stiles) dan Bourne lagi duduk berhadap-hadapan di sebuah kedai kopi. "It's difficult at first, for me. With you," kata Nicky singkat dan agak nggak jelas.

Terus Julia Stiles diwawancara, menjelaskan bla-bla-bla, betapa Nicky yang tahu dari awal siapa Bourne sebenarnya, sebelum dia bernama Bourne, melihatnya pada masa pelatihan, dst. Sementara aku bertanya, dalam hati, oh really?

Wawancara berganti ke Matt Damon yang bilang bahwa Nicky dan Bourne di film ketiga itu terus mengalami situasi-situasi yang sama seperti Bourne dan Marie Kreutz di film pertama, tapi jelas cerita mereka tidak akan berakhir sama karena pilihan-pilihan berbeda yang mereka buat. Aku, dalam hati tapi agak keras, ngomong, 'Jangan sampe deh akhir cerita dua pasangan ini sama.'

Tapi mendengar Matt Damon bilang seperti itu, yang muncul di pikiranku langsung adegan Julia Stiles memotong, mengganti warna dan mengeramasi rambutnya di wastafel. Sama seperti Marie di film pertama. Dalam dua film itu pun Bourne ada di pintu. Di film pertama, dia membantu Marie mengeramasi rambutnya, dan di film ketiga Bourne hanya mengetuk pintu kamar mandi ketika Nicky keramas di wastafel. Which to that, I say, thank God.

Maksudnya, adegan Marie dikeramasi rambutnya sama Bourne, itu kan yang meluncurkan fantasi "I wanna shampoo you" yang jadi favoritku selama ini. Ada sizzle, getaran, desisan antara keduanya. Dan Marie is a cool chick, I like her. Tapi Nicky? Can that girl be more of a puppet than she already is?

Dan aku bernafas lega ketika dia naik ke bis dan menghilang dari layar. Sampai di bagian akhir dia muncul lagi and tidak melakukan sesuatu yang signifikan. Aarrgggghhh. Why does she have to be in that movie?

Posted at 08:30 pm by i_artharini
Make a comment  

Next Page