PENARI MUNGIL


(Saya bukan seorang penari. Pun sangat jauh dari mungil. Tapi, tahu kan adegan 'Tiny Dancer' di 'Almost Famous'? Sensasi membahagiakan dari adegan itulah yang saya kejar..)



Hold me closer, tiny dancer

Count the headlights on the highway

Lay me down in sheets of linen

You had a busy day, today


("Tiny Dancer" - Elton John)





"...the quest for transcendence has always been closely linked to the ecstatic release of dancing."
(Resensi RollingStone atas sebuah album pop)

Mr. Darcy: "So what do you recommend, to encourage affection?"
Elizabeth Bennet: "Dancing, even if one's partner is only tolerable."
(Pride & Prejudice, 2005)


perempuan, 1983, lovesick soul, berjalan kaki, belajar menulis, menonton film, ingin keliling dunia, Billie Holliday, Jane Austen, 'Franny and Zooey', cerita pendek F Scott Fitzgerald, lagu-lagu sedih, kecanduan membeli buku second, deretan buku di lemari, berkeliling dengan bis kota, mengepak koper, menari bebas, Vogue, sepatu, bad boys, kopi, kuliner, foto, semua yang vintage, genggaman tangan, pelukan hangat, detil percakapan antara manusia, kegelisahan, kesepian, ruang pencarian, belajar dewasa, museum dan bangunan tua, hari hujan, sinar matahari hangat di hari berangin, airport, stasiun kereta, dan pertanyaan tanpa akhir

YM: isyana_artharini
Email: i.artharini@gmail.com
   

<< June 2017 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03
04 05 06 07 08 09 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Friday, February 13, 2009
Movie Date

Hey, it's Friday the 13th!

Dan besok adalah, buat yang merayakannya, Hari Valentine.

Enggak, enggak. Aku nggak mau membahas panjang lebar soal seberapa pentingnya makna Valentine dst. Cuma kepikiran untuk memilih film apa yang pas buat ditonton dalam momen berjualan tahunan bernama Valentine ini.

Beberapa hari lalu Ccr bilang, "Eh, Sabtu kan Valentine. Emang pada ngapain? Ngapain gitu yuk?"

Aku bilang, "Ah aku mau nonton DVD aja."

"Ih, Nari. Itu kan, agenda tahun lalu. Dan tahun lalu sebelumnya."

Sial.

Tapi repertoar yang bisa dipilih itu cukup sayang untuk ditinggalkan.

Ada, tentu saja, pilihan sederhana untuk menonton ulang Nick & Norah's Infinite Playlist sambil mengingat-ingat cinta remaja yang sempat tumbuh, dan sekarang sudah hilang. It's nice to reminisce. Dan pemandangan lampu-lampu New York yang seperti disorot dari sudut pandang kekasih kota itu juga membuat filmnya tampak indah. Cara yang mudah untuk merasa optimis dan bahagia.

Once is also great. Tapi aku takut terhanyut terlalu jauh dalam atmosfernya. Bisa-bisa nggak keluar dari situ sampai berhari-hari atau berminggu-minggu.

Atau ada juga Dr Zhivago. Julie Christie, Omar Sharif, the mass expanse of Russian snow and the heartbreaking last scene, hiks. Pas buat bersendu-sendu sambil selimutan. Mungkin cocok kalau hari Sabtu nanti hujan deras seharian dan dingin.

Kalau tidak hujan dan dingin, ada Must Love Dogs. Ini jadi pilihan yang tepat karena karakternya John Cusack yang lebih memilih nonton Dr Zhivago daripada berkencan dan bertemu dengan orang baru. Diingatkan lagi pada betapa atraktifnya ide menonton Dr Zhivago bersama John Cusack adalah hal yang paling menyenangkan dari menonton Must Love Dogs.

Apakah aku sedang dalam suasana hati yang membutuhkan humor dan realisme dan romantisme? Kalau iya, ada pilihan klasik Annie Hall. Before Sunrise juga pilihan yang sangat jelas, tapi terakhir kali aku menontonnya, kok ya jadi terlalu romantic overload.

Atau, aaaahhh. High Fidelity aja. Back to back sama Annie Hall. Dua-duanya menunjukkan laporan forensik soal anatomi hubungan dua manusia. Plus sarat elemen budaya pop-nya. Ada Bruce Springsteen juga kan di High Fidelity. Dan, "is this your copy of Catcher in the Rye or is it mine?" Ini di Annie Hall.

Eh, terus Lost in Translation mau ditaruh di mana? Aku lagi pengen menjalani ulang mendengar dialog: "I tried taking pictures. But they were so mediocre. I guess every girl goes through a photography phase. You know, horses, taking pictures of their feet." (Haha!) Yah, sama adegan bisik-bisiknya itu juga.

But okay, I'll always have the choice for total ignorance and make some sort of marathon. Bisa Woody Allen, atau Michael Winterbottom, atau noir atau Wong Kar Wai, atau award season movies?

Argh. Why is there so many films that my eyes and brain can contain? Is there such thing as movie overload?

(I do have a movie date, though. On matinee Monday. Valkyrie. With my dad :D)

Posted at 06:09 pm by i_artharini
Comments (3)  

Thursday, February 12, 2009
Catty

Charlotte: "But Evelyn Waugh was a man."

(Lost in Translation--2003)

Hatiku sepertinya sedang disambangi kegelapan. Ada terlalu banyak kebencian dan kemarahan yang tak jelas sumbernya apa. Suasana hati atau mungkin sekadar emosi, itu yang aku tidak yakin. Sempat ada masa gemuruh itu mereda, tapi sekarang sedang keras-kerasnya.

Dan pada masa-masa seperti itu, aku jadi mindlessly catty.

Beberapa hari lalu, aku, Sha dan Ccr lagi berbincang biasa dari kanan ke kiri. Kemudian mereka berbincang panjang soal seseorang dan aku memilih tidak terlibat di dalamnya. Seingatku, adalah Sha yang meminta konfirmasi lagi soal opiniku yang kontra terhadap topik yang antusias mereka bicarakan itu.

Ccr pun terkejut waktu mendengar pendapatku. "Hah, emang kenapa?" kata dia.

Aku tahu bukan tempatku untuk mengatakan apa-apa, tapi aku memblongkan rem dan bilang, "Mengutip Norah di Nick & Norah yang baru aku tonton semalem, 'what's so special about her? I can floss with that girl'."

Lalu ada kediaman yang canggung. Mata mereka menghindari mataku. Disambung beberapa detik kemudian dengan tawa yang canggung juga.

"Well," kata Ccr, "what's so special about him?"

Dia tidak membutuhkan jawaban. Itu bukan pertanyaan retoris sebenarnya, tapi cara Ccr untuk menendang dengan subtil untuk menyampaikan pesan: kamu tidak punya hak untuk merendahkan si her.

Aku bisa juga membalas dengan pesan bahwa kita semua nggak punya hak untuk bermain dengan hidup orang, tapi bukan itu yang aku maksud dengan kutipan Nick & Norah. I was just being catty.

Satu dan lain hal memecahkan kelompok perbincangan itu. Aku kembali ke komputerku, berputar-putar secara maya, lalu kembali lagi ke meja Sha, sans Ccr. "Sha, Sha," sambil aku colek-colek.

"Kayaknya aku butuh psikiater deh. Aku gelisah dan marah yang nggak jelas sumbernya apa."

"Ih gimana ya kalau kita ngerasa gelisah gitu, tapi nggak tahu sebabnya apa. Lo beneran nggak tau?"

"Ya tau sih."

Singkatnya, itu merujuk pada ketidakmampuan (atau ketidakmauan) untuk bergerak.

"Mungkin kita orang-orang yang kekurangan motivasi ya, Nar," kata dia.

"Nah itu. Aku juga kemarin-kemarin sadar, kan namanya 'motivational letter'. Kenapa aku susah banget berfokus sama itu, apa karena aku kekurangan motivasi? Harusnya kan aku punya motivasi yang meluap-luap sampai bisa ditampung di kertas."

"Jadi itu aja?"

"Dan ada hal-hal lain."

"Si ini?"

"Ah, itu sih makin lama makin jadi remeh. Way down in my priority list."

Kami diam berdua.

"I need a shrink. Then I can say, 'Dokter, I have mean thoughts'."

Lalu, Sha mulai tertawa keras.

"I can't stand people."

Ketawanya malah lebih keras, seperti aku sedang menceritakan kejadian lucu, tapi benar-benar aku nggak tahu apa yang so funny.

"Well, not all of them, just some people I can't stand."

Tergelak-gelak lagi, sampai dia memalingkan wajah, kayak ada adegan lucu di depan dia yang nggak bisa membuat dia berhenti ketawa.

"Kenapa siiiihhhh?"

"Ya ini lucu aja. Hillarious..," dan tanggapan lain yang membuatku more amused karena merasa jadi materi sitkom, than bruised. Sambil berusaha mencari-cari juga sih, 'Is it the way I said it? What?'

Kembali lagi ke komputer.

Di Gmail lalu melihat status F.  "Must not let her tongue slip as Lizzie did."

Jadi aku bilang ke dia, "You too? Aku lagi jadi catty banget. But I already let one slip out today."

"Ugh. Me too."

So, is it a full moon?

Posted at 10:29 am by i_artharini
Make a comment  

Tuesday, February 03, 2009
Emosi

Sebuah gelombang emosi sedang mendapati saya.

 

Awalnya dari keresahan, atau kekesalan, melihat tampilan halaman yang semakin hari jadi semakin datar. Dari yang katanya mengadopsi MI Siang kok sekarang jadi tak ada bedanya dengan sebelum perubahan terjadi.

 

Salah satu yang aku rujuk jadi penyebab adalah pemilihan foto. "Kok tidak terasa ada yang istimewa ya? Kalau centerspread, bisa kan fotonya ada beberapa? Nggak perlu satu foto ngeblok gitu?"

 

Aku menanyakan ini pada beberapa orang di lini tugas yang berbeda. Semuanya menjawab, bisa. Tapi kenapa hasilnya sampai sekarang masih datar-datar saja?

 

Lalu ada beberapa kali kesempatan mendapati bahwa Ccr juga sedang merasakan hal yang sama. "Iya, dulu kan sama Nachtwey Kecil, dia yang mendorong kita untuk ayo dong, milih fotonya yang bagus."

 

Aku sempat membahas hal yang sama dengan Jer, karena Internasional juga punya jatah centerspread setiap Senin. Tapi dia bilang, "Oh, kalau Megapolitan mungkin iya. Tapi kalau Internasional dulu tuh yang milihin foto gue ama Bas. Jadi Nachtwey Kecil nggak terlalu ngaruh."

 

"Kalau Megapolitan, gue akuin, Nar. NK itu bisa ndapetin sudut pandang yang aneh-aneh. Yang dia bisa dapet mbok-mbok di pasar, atau tukang ojek jatuh. Fotografer baru yang sekarang mana dapet sudut pandangnya dia?"

 

"Iya," kataku, "tapi bukan itu maksud gue, Jer. Maksud gue, dari segi desain halaman. Dan pemilihan foto itu, kenapa sekarang jadi datar-datar aja? Lagian kalau masalah sudut pandang, ah fotografer yang datang sesudah NK itu juga udah pada punya sudut pandang kok. Hanya karena mereka nggak punya sudut pandang NK, nggak berarti mereka nggak punya sudut pandang sama sekali."

 

Aku berdamai pada fakta bahwa…sepertinya Jer dan aku akan selalu berangkat dari asumsi dan sudut pandang yang berbeda. Lagian, mbok-mbok di pasar atau tukang ojek jatuh, itu kan masalah menunggu momen.

 

Pada akhirnya, entah yang mana datang pertama. Kekangenan bekerja bersama Nachtwey Kecil atau lebih rasa terganggu setelah melihat halaman yang hampa.

 

Anyway, tadi aku mencari-cari Jer untuk mengungkapkan sesuatu. Karena aku pernah membicarakan soal yang akan aku ungkapkan itu ke dia, dan karena Ccr juga belum ada di kantor.

 

Ternyata dia ada di meja seorang redaktur, lagi membuka-buka tumpukan MI Siang dan bilang, "Nih, Mas. Kenapa coba kita nggak bisa kayak gini lagi? Ini kan dahsyat banget!"

 

(Hah, bukannya itu juga yang sampai sehari sebelumnya masih gue omongin ke elu? Soal centerspread Macan Tamil, dst? Yang…elu masih ngeles gitu?)

 

(Yang mau aku ungkapin ke Jer dan Ccr itu sebenarnya sebuah kelegaan. Beberapa waktu belakangan aku bertanya-tanya, apa ada yang salah dengan yang aku lakukan untuk Eskapisme? Yang katanya nggak pas buat di koran kita dan lebih mending buat jurnal? Jurnal apa? Cahiers du Cinema? Haha, nggak usah becanda deh. Buat Rumahfilm.org aja masih terasa terlalu mentah kok.

 

Dan setelah membaca Kompas Minggu (1/2) soal Slumdog Millionaire yang nggak melulu membahas soal filmnya, tapi pembahasan soal Mumbai dan berbagai permasalahan urbannya. Lalu juga soal The Curious Case of Benjamin Button yang memasukkan kutipan dari buku, aku merasa: Hah, Kompas juga bisa gini kok. Kenapa aku nggak bisa menganggap cerdas pembaca dengan menulis seperti yang aku tulis?

 

Lagian, siapa elu yang bisa menentukan standar penulisan Eskapisme dan standar siapa yang elu pakai? Emang gue harus nulis se-'normal' apa sih?)

 

Oke. *hela nafas*

 

Yang saya lihat bersama Jer kemarin sore adalah setumpuk nostalgia dalam kemasan visual yang inovatif. Yang memang, mengutip kata Jer tadi, dahsyat.

 

Dari segi penataan halaman, pemilihan foto, ukurannya, permainan warna, pilihan topik-topiknya. Pada akhirnya saya tidak bisa mengelak dari kesimpulan bahwa: this is not nothing, lho.

 

Mungkin karena sudah cukup waktu yang terlewat untuk saya bisa melihat kembali dari balik kacamata bersemu merah muda, rose-tinted glasses. Saya tidak akan berusaha mengalihkan keyakinan orang-orang yang masih berteguh menilai proyek itu menghabiskan waktu, tenaga dan uang. Tapi yang sedang saya telusuri setiap kolomnya dan saya pegang di tangan is still a damn great piece of work.

 

Yang paling membuat saya tertegun adalah, lagi-lagi, pilihan fotonya. Betapa sepasang mata seorang Nachtwey Kecil bisa begitu berharga. Dia bisa mengajari kami untuk melihat dan mengenali foto bagus dari sekian banyak pilihan yang ada. Semuanya jitu dan tajam.

 

Dari soal peringatan centennial kesekian Roma atau ritual pernikahan Makedonia sampai pilihan foto buat rubrik 'remeh' seperti Sosok, tidak ada yang monoton. Ada percikan warna dan cerita dan elemen kejutan. Tidak peduli seberapa tidak percayanya aku atau orang lain (seringnya, Ccr) pada subyek yang kami tulis, dia pasti menyediakan foto terbaik yang bisa dia temukan. Itulah yang kami, atau aku, kangeni dari cara dia bekerja.

 

Sampai-sampai, pada pilihan foto-foto yang sudah tercetak itu saya menjatuhkan kepala di atasnya dan sambil setengah tersedu, bilang, "Kenapa kita nggak bisa kayak gini lagi sih foto-fotonya? Damn it, Nachtwey Kecil! Elu sekarang di mana?"

 

"Masa sampe segitunya sih, Nar?" tanya Jer. Dan aku mengacuhkannya.

 

Beberapa hari lalu, lewat sebuah percakapan maya, si Nachtwey Kecil yang legendaris ini sempat memberi kuliah singkat soal Man Ray dan Diane Arbus. Satu hal lain yang belum sempat 'tergali' dari masa kami bekerja bersama.

 

Hari ini, entah bagaimana awalnya, saya jadi membukai halaman-halaman situs Multiply-nya untuk melihat foto-foto dia. Bahwa dia selalu berusaha mencapai kesempurnaan, saya, dan kami yang pernah bekerja dengan dia, sudah mengetahuinya.

 

Tapi untuk melihat bahwa kesempurnaan-kesempurnaan itu sudah beberapa kali dia raih, dan masih banyak lagi yang akan ia capai, itu yang membuat saya menjura.

 

Dari foto sebuah sore di sudut Jakarta, sampai yang 'sekadar' orang-orang berjalan di depan papan iklan, ibu menyusui atau esai soal kue keranjang, tumpukan emosi dan kesan yang saya dapat dari melihat foto-foto itu membuat saya tersadar. Lho kok pelupuk mata saya jadi basah?

 

Itu satu hal lagi yang mampu dia lakukan, bahwa foto-fotonya selalu bisa meletikkan emosi. Foto-foto dia mampu membuat saya merasa. Otomatis saja, tanpa perlu berpikir terlalu dalam apa indahnya. Mengaduk-aduk sesuatu dalam hati. Sampai-sampai bisa menggugah ekspresi yang 'asli'.


Bukannya aku berusaha menutup perdebatan dari segi makna, tapi apa yang ditangkap Nachtwey Kecil dalam foto-fotonya langsung bisa meyakinkan standar estetika 'instingtif' yang melihatnya.

 

(Tapi, resminya, kalau dalam buku-buku teks budaya visual, sesuatu yang kita pikir embedded itu sebenarnya adalah hasil dari kesepakatan-kesepakatan tak kentara soal nilai budaya dalam latar belakang sosial kita kan? Jadi sepertinya ini hanya pembuktian bahwa lingkaran kecil standar estetika saya ada dalam himpunan luas standar estetika dia)

 

Ketika saya bercerita pada Ccr soal foto-foto yang ada di Multiply si Nachtwey Kecil, momen-momen merinding itu masih saya dapati. Hanya dengan membayangkan dan mengingat-ingat lagi akan keindahan yang saya lihat.

 

Hey, buddy. You are so very missed.

 

***

"…Then, suddenly, she rushed, in the dark, over to the night table, banging her knee against the foot of the bed, but too full of purpose to feel pain. She picked up Ramona's glasses and, holding them in both hands, pressed them against her cheek. Tears rolled down her face, wetting the lenses. 'Poor Uncle Wiggily,' she said over and over again. Finally, she put the glasses back on the night table, lenses down.

 

She stooped over, losing her balance, and began to tuck in the blankets of Ramona's bed. Ramona was awake. She was crying and had been crying. Eloise kissed her wetly on the mouth and wiped the hair out of her eyes and then left the room.

 

She went downstairs, staggering now very badly, and wakened Mary Jane.

 

'Wuzzat? Who? Huh?' said Mary Jane, sitting bolt upright on the couch.

 

'Mary Jane. Listen. Please,' Eloise said, sobbing. "You remember our freshman year, and I had that brown-and-yellow dress I bought in Boise, and Miriam Ball told me nobody wore those kind of dresses in New York, and I cried all night?" Eloise shook Mary Jane's arm. 'I was a nice girl,' she pleaded, 'wasn't I?'"

 

(Uncle Wiggily in Connecticut—J.D.Salinger)


Posted at 11:05 am by i_artharini
Comment (1)  

Sunday, February 01, 2009
Catatan Lagi

Sekarang sepertinya jadi terasa lebih mudah untuk sekadar mencatat, apa-apa saja yang sudah kejadian atau terlewat, daripada mengumpulkannya agar jadi sesuatu yang…reflektif?

Kok sepertinya the older I get, peristiwa-peristiwa yang aku lalui sehari-hari itu jadi terasa seperti aktivitas sehari-hari saja. Tanpa rupa, absen makna.

 

Atau mungkin aku sendiri saja yang sudah tidak giat mencari makna seperti sebelumnya?

 

Lucunya sih, karena sebelum-sebelum ini, aku selalu mendamba praktikalitas. Sekarang, ketika pendekatan praktis itu lebih aku akrabi, malah jadi disesali. Mungkin ini yang disebut oleh Maria Elena di Vicky Cristina Barcelona, chronic dissatisfaction, ketidakpuasan kronis.

 

Minggu yang hampir berlalu ini dilewati dengan, salah satunya, menemani Sha ke Sing!—sudah jadi rumah kedua buat dia—Dia sih menghabiskan malam-malamnya di Sing! dengan berandai-andai. Aku dan Ccr? Menyadari bahwa begitu banyak orang di Jakarta kok suaranya bagus-bagus.

 

Kita di sana pada malam kedua open mic night, alias: lomba karaoke.

 

"Jadi, orang-orang bersuara datar kayak gue itu harus dihargai, soalnya udah banyak banget yang suaranya bagus," ini hasil refleksi Ccr, Perempuan Absurd.

 

Refleksiku, emm, apa ya?

 

Oh, ini. Sha sempat tergelak waktu ada kontestan cowok mau nyanyi Saving All My Love For You. "Kok ketawa?" aku tanya.

"Kan lagunya mellow aja gitu. Ini lagu soal perselingkuhan lho."

"Hah, masak?"

"Dengerin aja liriknya."

 

Aku cukup familiar dengan lagu itu, tapi tidak dengan cara yang membuatku merenungkan makna yang terkandung. Saking generiknya, aku sudah merasa lagu itu cukup terwakili dengan mendengar chorus utama yang sama dengan judulnya. Tidak pernah ada kebutuhan untuk menghapal dan karenanya, aku jadi abai pada bagian-bagian lain dari lagu itu.

 

Yang unik, malam itu para cowok-cowok pada menyanyikan lagu cinta yang mellow-mellow. Dari, Yang Kumau, Fallin', sampai ya, tadi itu, Saving All My Love For You. Ccr juga menyesalkan ketiadaan cowok menyanyikan lagu cinta macho. (Btw, lagu cinta macho bukan sebuah konsep yang oksimoron kan?)

 

Ternyata, tema malam itu memang Superwoman.

 

Besok malamnya, Kamis, nah ini yang seru.

 

Rapat pagi, terus pengen cabut dari kantor jam 6 teng. Dan berhasrat banget untuk nonton di bioskop. Ada Pintu Terlarang, ada Red Cliff II, masa belum nonton?

 

Percakapan maya lewat YM membuat saya menemukan beberapa rekan menonton. Pilihannya kalau nggak di Grand Indonesia, ya di Pacific Place. Tapi memilih PP karena relatif lebih mudah dijangkau dari kantor.

 

Nah, sayangnya, sampai jam 6-an belum ada tanda-tanda tulisan yang disunting akan selesai. Masih mengurus foto dan lainnya, sampai jam 6.30. Akhirnya baru benar-benar bisa cabut jam 6.45.

 

Jam filmnya? Yah 19.30 aja.

 

Tapi, oke, oke. Semesta, kata agen asuransiku yang mengutip The Secret-nya Rhonda Byrne, tidak mengenal kata 'tidak'. Jadi dari yang awalnya berharap 'tidak macet' jadi, 'sampai tepat waktu'.

"Aku bakal dapet taksi TARIF BAWAH, terus bakal sampai di PP 19.25, 19.25, 19.25," itu diulang-ulang terus.

 

Hiyah, Kedoya sampai Sudirman berharap 30 menit aja ya. Tapi beneran lho, ketemu Mega Kosti tarif bawah, meluncur di Jalan Panjang yang relatif lancar, pas sampai di depan Hotel Mulia, aku minta si bapak supirnya berputar saja lewat Senayan.

 

Aku turun di halte bis pintu satu, lari, lari, lari, di jembatan penyeberangan. Sampai di bawah, mencari tukang ojek yang ternyata lagi pada heboh banget berkerumun di sekitar dua lelaki muda.

 

"Ojek? Ojek? OJEK!"

 

Ternyata para tukang ojek di bawah jembatan penyeberangan itu lagi terpaku oleh kehadiran dua pria Kaukasia yang berbincang dengan mereka dalam bahasa Indonesia.

 

"Baru tinggal … bulan di Indonesia, sudah bisa bicara lancar?" tanya salah satu tukang ojek.

"Kerena kami rajhin," kata pria Kaukasia yang lebih tinggi.

 

Setelah berjalan menuju PP, aku bertanya sama tukang ojek yang aku sewa, "Dari mana tuh, pak?"

"Dari Amerika."

"Berapa lama tinggal di Jakarta?"

"Baru sebelas bulan. Kerja di gereja katanya."

"Ooh. Kantornya deket-deket Sudirman?"

"Iya, katanya. Rumahnya di Pamulang. Tiap hari udah bolak-balik kayak orang Jakarta aja tuh."

 

Lalu kami sampai.

 

"Bentar, bentar, pak. Ambil duit dulu."

"Janjian, neng? Buru-buru amat."

"Iya. Nih ya, bang."

 

Yang membuat nggak enak kalau telat soalnya si rekan menonton ini sudah minta, "Di GI aja ya, soalnya di PP parkir motor susah."

"Yaaa. Lebih susah kalau dari kantorku. Lagian kalau nggak dapat yang jam 19.15, harus nemenin yang 21.45 lho."

"Duh. Ya udah, PP aja."

Dan saat itu jam menunjukkan 19.31. Hey, 30 menit sampai PP dari Kedoya. Not bad at all. Mission possible.

 

Lift di depan Louis Vuitton sudah hampir menutup, tapi ada sesosok mas-mas yang kulitnya putiih banget, agak chubby, mengenakan celana ¾ kotak-kotak, tas selempang, dan, yang paling mencolok, newsboy cap.

 

Aku masuk di lift tepat saat si mas-mas itu bilang, "Lantai lima, mbak." Dan melihatku, dia bilang, "Hey, Nar."


Si mas-mas itu ternyata…Ms.Know-It-All! Hahaha.

 

"Lho, kamu jadi ikut? Apa kabar?"

"Yeah, could've been better. Ini, kamu, baru sampe?"

"Iya. Naik apa, Pras?"

"Tadi kan ngojek, terus ujan, balik lagi naik taksi deh."

"Kok gayamu ska banget sih?"

 

…dan berbagai macam percakapan lainnya.

 

Kami nonton Pintu Terlarang yang opening creditnya, menurutku, "Vertigo bangeett." Dan adegan ngehancurin pintunya, menurut Ms.Know-It-All sangat, "Hereeee's Joooohnny!"


Pada beberapa adegan aku sempat menutup mata dengan wadah karton berondong jagung, dan sempat, "Wuaaa, Ms.Know-It-All, aku takuuut."

 

(aku ingat pernah cerita sama adikku soal menonton Surprise Movie di INAFF dan ketakutan setengah mati. Dan dia, tanpa mau mendengar soal plot ceritanya sama sekali, bilang, "Yah, Mbak Nari, what were you thinking gitu lho? Kita kan nggak punya gen untuk menonton film seram."

 

Benar saja. Waktu aku cerita soal kisah di Surprise Movie itu, beberapa hari kemudian ibuku bilang, "Mbak, setelah kamu cerita film itu, mama langsung bolak-balik nge-cek di luar shower curtain lho." Walaupun beliau tidak menonton film itu)

 

Sampai di akhir film itu dan merasa, "Hah, aku ketakutan atas premis yang 'salah', yang nggak baru dan sering diulang. Kok jadi…cemen banget ya?" (Filmnya, dan, aku)

D'oh.

 

Dan demi keefektifan bercerita, lebih baik dipotong di sini saja dulu.


Posted at 06:09 pm by i_artharini
Comments (4)  

Saturday, January 24, 2009
Satu Hari

{Prolog}
Ffiuhh. Hari yang panjang dan padat emosi. Atau mungkin itu sekadar estrogen. Entahlah.

 

{Pagi}

Hari ini berawal dari jam enam pagi. Bangun dan tidur-tiduran di depan tivi, berusaha mengulur waktu untuk bersiap-siap karena harus rapat pagi sebelum akhirnya sarapan dim sum Pasar Pagi Blok M.

 

Yang menyenangkan, aku sampai di kantor jam 9.15. Turun dari ojek bersamaan dengan peserta rapat pagi lain yang juga baru turun dari sebuah ojek. 

 

Pas sampai di meja lonjong, hanya ada seorang Asisten Redaktur Eksekutif. Piring gorengan dan jajanan pagi dan teko teh hangat dan kopi hitam di depannya belum ada yang mengonsumsi sama sekali. Yay! Nggak tepat-tepat waktu banget, tapi lega karena sudah sampai.

 

Dapat giliran pertama waktu proyeksi, membaca, membahas, terus selesai.

 

Selagi menunggu yang lain membacakan proyeksi, aku baca-baca email lewat hape. Hmm, ada sesuatu di kotak pesan yang membuatku terhenyak, sedikit melayang dari tubuh, lalu kembali lagi, tapi menjadi orang yang agak berbeda. Atau setidaknya jadi punya sudut pandang yang berbeda. Kepala saya jadi sedikit terguncang-guncang. Proyeksi dari desk fotografer yang sedang dibacakan seorang redaktur juga tiba-tiba kedengaran tidak relevan.

 

Selesai rapat, aku langsung membawa Ford Prefect ke ‘dokter’ di bawah.

 

Ford Prefect? Itu nama yang aku kasih buat laptopku. Kenapa nama itu? Karena sama seperti karakter Ford Prefect di Hitchhiker’s Guide to Galaxy yang dibekali dengan kamus antarplanet bukan keluaran terbaru, laptopku punya spec yang medioker saja. Tapi cukup berguna buat menjalankan tugas-tugas dan menghindari bahaya selama ini, sama seperti petualangan Ford Prefect dan Arthur Dent dan kamus yang dia miliki.

 

Ford sedang terserang sebuah virus dan aku sudah berada di ujung akal mencoba menyembuhkan dia. Not that I did such a great job of it anyway. Or, even good.

 

Selesai membawa Ford ke dokter, aku kembali ke meja. Bertepatan dengan seorang wartawati senior berjalan masuk ke ruang redaksi dan memanggil, “Iiiss. Kamu lagi sibuk nggak?”

 

At this very minute? Aku bertanya dalam hati. “Emm, sekarang sih enggak, bu.”

 

“Ikut aku, yuk. Makan ama Kedubes Jepang.”

 

“Sampai jam berapa ya? Aku soalnya rapat siang, bu. Belum nelpon bujet juga.”

 

“Ya paling bentar sih. Tapi kayaknya balik baru jam 1 lewat. Ya udah deh. Ada siapa lagi yaa?”

 

“Ya kapan-kapan deh, bu. Ajak lagi ya.”

 

Dalam bayanganku, darn it. Itu kan pasti sushi. Memang bukan rejeki.

 

{Siang}

Orang-orang pada shalat Jumat, aku makan siang, terus rapat. Selesai rapat, langsung mengunjungi Ford karena katanya sudah bisa dilihat.


Lalu, sambil menunggui si dokter laptop bekerja, aku jadi berpikir, “Eh seharusnya aku ngasih tip nggak sih? Ini kan di luar fasilitas kantor. Punya pribadi gitu. Etis nggak sih? Atau nggak etis kalau nggak ngasih? Kalau ngasih, jumlahnya berapa?”

 

Mungkin karena terlalu lama menunggu, pikiranku jadi lari ke mana-mana. Dan melihat si dokter itu mengurusi laptop saya, membersihkan virus-virusnya, bolak-balik menyesuaikan sesuatu, aku baru sadar akan betapa aku menyayangi Ford Prefect. Dulu-dulunya hubunganku dengan Ford hanya fungsional semata. Tapi sekarang, aku ternyata bisa merasa khawatir dengan kondisi kesehatannya dia.

 

Selesai.

Virusnya sudah hilang, tapi fungsi belum sepenuhnya normal. Suaranya masih belum kembali. Jadi tidak ada last.fm hari ini.

 

Selanjutnya cek-cek berita apa saja yang sudah masuk. Eh ada judul yang menangkap mata. “Nge-blog karena Patah Hati,” tulisannya. Aku klik. Ternyata itu soal pemenang Microsoft Bloggership Award yang membuatku berseru, “OH SHIT.”

 

Damn it, damn it, damn it. Kenapa bisa kelewatan? Kelupaan? Uuugh, ceroboh banget sih, Nar.

 

Mbak Wey datang beramah-tamah ke meja. Jer juga. Dua-duanya sama-sama menanyakan, “Lagi ngapain?”

 

“Lagi merasa bodoh,” aku jawab.

 

“Oooh. Udah makan?” Jer men-deadpan.

 

“Udah, sebelum Jumatan tadi.”

 

Nah, sepertinya Ccr juga lagi banyak cerita. Atau persoalan untuk dicurhatkan. Jadi dia bolak-balik datang ke mejaku, kebalikan daripada biasanya. Dari soal adiknya dan masalah pekerjaan yang dia hadapi, masalah pekerjaan yang kami hadapi, berita soal pencuri celana dalam yang tidak dia rinci di mana lokasinya dan aku terlalu linglung untuk mengklarifikasi.

 

“Di akhir berita,” kata dia, “ditulis gini, ‘tidak diketahui apakah pelaku belum menikah atau mengalami kelainan seksual.’ Jadi nggak mungkin orang udah nikah bisa ngelakuin itu,” kata dia sambil tergelak-gelak.

 

Ini anak memang sering absurd, baik cerita-cerita yang ia temui atau kejadian yang ia alami sendiri. Se-absurd skit komedi-nya Saturday Night Live, lah. Lalu dia merujuk pada keberadaan seorang rekan lebih muda di Facebook.

 

“Oh ya, dia udah nge-add aku kok,” kataku. “Tahu nggak, dua hari lalu kalau nggak salah, si xx ini lagi liputan di xy kan. Statusnya masak nyebut-nyebut soal SMSbuddy (variasi dari fuckbuddy atau kissingbuddy) lo itu yang lagi ngomong di sebuah forum.”

 

“Hahaha.”

 

“Gila ya tuh orang,” aku bilang, “siklusnya tinggal berulang terus aja.”

 

“Yaaa, harimau kan akan selalu lapar, Nar,” kata dia kalem.

 

Asosiasi yang sangat tepat.  


{Sore}

Percakapan kami melebar ke mana-mana, tapi ada satu topik yang membuatku terhenyak lagi, “Hah, masa aku telat juga buat yang itu?”

 

Duh, Nari, kapan kamu akan mulai menata hidup? Memberi tenggat waktu pada apa-apa yang harus kamu lakukan, seperti yang ada di kehidupan profesionalmu?

 

Mungkin ini juga yang membuatku suka pada pekerjaan ini. Bahwa ada tenggat waktu yang tegas kapan sesuatu harus dikejar dan kapan itu tak lagi jadi relevan. Sedangkan di kehidupan ‘nyata’, kita sendiri yang harus memberi tenggat dan tidak ada yang marah soal tenggat yang terlewati. Kecuali mungkin perasaan membenci diri sendiri.

 

Sifat alamiah pekerjaan ini adalah mengkompartementalisasi (deuh) topik dan bahasan dan fungsi. Walaupun di posisi sekarang aku masih bingung menemukan apa kesimpulanku sendiri atas ‘fungsi’ yang dibebankan.

 

[Kalau kata Ccr, “Bukannya justru dengan kita diberi tanggungjawab ini di usia sekarang, kita jadi bisa cepat tahu apa yang bisa diharapkan?” Hmm, masuk akal sih. Jadi kita bisa cepat berpindah ketika fungsi ini hanya menawarkan sampai ‘segitu’ saja]

 

Dan percakapan ini juga yang membuatku tahu apa yang paling aku kangeni dari liputan. Soal bertemu orang, bertanya, mencatat, dan menemukan kutipan-kutipan yang memberi makan otak. Atau hati. Kutipan yang bisa disimpan di hati untuk dirasai, di kepala untuk dicerna, atau dibagi ke orang lain. Lisan atau lewat blog ini. Itu yang hilang sekarang sepertinya.

 

Kata-kata yang saya gunakan di sini jadi tidak kaya. Temanya pun cinta melulu, suka mendayu-dayu. Saya jadi tidak cukup mendengar banyak varian kata atau kalimat atau susunan pemikiran. Grusa-grusu saya sekarang hanya soal rapat atau ada berita apa hari ini atau sms bujet yang tidak dibalas.

 

Dan di tengah-tengah itu ada sebuah surat elektronik seorang teman. Dari yang awalnya membahas Swirl’s tiba-tiba jadi twister-nya Burger King. Lalu dia bilang, “But I am sure, kalian gak akan kangen untuk satu hal ini. Belanda semingguan ini hujan terus, mana dingin lagi hujannya...“

Hah? Nggak akan kangen?

 

Darn it, I miss everything about that place. Even my frozen reddish fingers. And the sharp sensation in my nose every time I breathe in cold air.

 

Gila, aku sampai mimpi bolak-balik kembali ke sana. Dari soal belanja toetje di Albertheijn, naik trem seharga 1 euro, ke daerah-daerah trem 13, ada casino baru di Leidseplein, dari yang khayal sampai hal nyata yang terakhir kali aku ingat atau lihat. Dan patah hati yang aku rasakan ketika terbangun dan sadar bahwa aku masih berada di sini, di kamar ini? Ah, priceless.  

 

{Malam}

Lampu sempat bolak-balik mati di kantor saat aku sudah selesai mengedit feature. Sayangnya, atasanku belum selesai. Cabut jam 7.30an, melambai “bye-bye” pada Ccr yang sedang di kumpulan kubikel kosong para fotografer. Sebelum cabut, sempat mendengar Obama berbicara soal Menteng Below (a very possible candidate of “catchphrase of the week”).

 

Tujuan berikutnya adalah Subtitles untuk mengembalikan lalu meminjam lagi. Sampai di tempat menunggu bis, pas bisnya lagi lewat. Kalau kata Jer, “Udah deket banget Nar, kalau mau ke Blok M. Bahkan lo bisa sampai Lebak Bulus.” Ternyata lho, di kanan kok sudah ada Aquarius? Kenapa bisa sampai di perempatan PI Mal?

 

[Keesokannya, Ccr dan Bas bilang, “Jer mana tahu angkot? Orang dia aja nggak tahu ongkos angkot berapa.” D’oh. Ternyata insting awalku soal naik apa ke sana malah lebih tepat]

 

Balik lagi pakai angkot sampai ke terminal, tapi ada antrean amat panjang dari kendaraan umum yang mau masuk terminal. Akhirnya aku turun dan berjalan terus sampai perempatan Blok M Plaza.

 

Di perempatan, saat menunggu menyeberang ada bunyi yang terdengar agak janggal di kuping. Ingat bunyi tetabuhan “Turkiye, Turkiye,” kalau tim nasional sepakbola Turki akan bertanding di Piala Dunia atau Piala Eropa? Nah coba tetabuhan itu dijadikan mars, lalu liriknya adalah, “Palestina merdeka, Palestina merdeka, Palestina harus merdeka.”

 

Beneran. Nggak bohong.

 

Lagu itu diputar di sebuah toko voucher ponsel di perempatan Melawai-Fatmawati-Blok M Plaza. Ada spanduk kecil tulisannya, “Silahkan ambil voucher gratis untuk Palestina merdeka.”

 

Nah ini satu lagi yang aku kangeni dari liputan. Bisa menemukan situasi atau lokasi yang ‘absurd’ di Jakarta. Dan Jakarta punya banyak sudut absurd itu. Setidaknya bakal cukup menarik untuk ditulis di sini.

 

Sampai di Subtitles, selain mas penunggu konter, hanya ada sepasang manusia yang sedang memilih-milih DVD. Karena terlalu lama memilih bakal membuatku bingung, jadi aku menggunakan insting pertama. Aku pilih The Maltese Falcon, The Apartment, dan terakhir, hah, ada Manhattan.

 

Aku kasih tiga-tiganya ke si mas penjaga. Iseng-iseng aku isi kertas movie wishlist. Di dalamnya sudah ada beberapa kertas lain. Yang bisa aku baca, seorang anggota meminta Pushing Daisies season 1 & 2 sama ada satu kertas lain minta Can’t Hardly Wait.

 

Hmm, aku jadi can’t hardly wait. Lalu aku menulis setiap judul film yang memasangkan Katharine Hepburn dan Spencer Tracy. Adam’s Rib, Woman of the Year, Pat and Mike dan Guess Who’s Coming to Dinner. Dan La Dolce Vita. [Tidak berhubungan dengan Katharine Hepburn, lebih dengan How to Lose Friends and Alienate People. Subtitles katanya sempat punya, tapi lalu rusak]

 

Ternyata, “Mbak, maaf, Manhattan-nya keluar.”

“Oh, oke, aku cari lain.”

 

Mas-mas penjaga itu lupa memindahkan kotak pembungkus cakram padat itu ke lemari Rented Out soalnya. Setelah mencari, eh ada The Breakfast Club. Dibawa lagi ke konter peminjaman/pengembalian/pendaftaran anggota.

 

Masnya bilang lagi, “Maaf, mbak. Ini keluar juga. Tadi barusan ada yang minjem, saya nyari kotaknya, nggak ketemu.”

 

Aku sudah menduga kok too good to be true, Manhattan dan Breakfast Club tidak dipinjam pada akhir pekan seperti ini. Biasanya malah sampai harus pesan.

 

Sempat mau mengambil New York Stories [another Woody Allen], sampai akhirnya melihat…Pretty in Pink! [another John Hughes]

 

Dalam perjalanan pulang di 45 yang terang benderang dan kursinya pas menopang postur punggung, aku memilih Frou Frou buat jadi santapan telinga biar tambah nyaman. Saat mendengar Only Got One, aku kok jadi merasa kangen bekerja bersama Nachtwey Kecil ya?

 

Biasanya, waktu masih di MI Siang, lagu ini diputar kalau fajar sudah menjelang. Saat aku sudah merasa lega, tugas malam itu selesai dan hari yang baru akan berawal. Emosi dari momen itu adalah sebuah kesenduan yang manis. Dan untuk sementara aku berada di situ.  

 

Sampai di daerah Halim, aku malah jadi teringat salah satu cerita yang disampaikan Ccr. Lanjutannya adalah berondongan pertanyaan dari diri sendiri. Benarkah memang seperti itu? Kok bisa ya? Bukankah si subyek pernah melakukan hal ini sebelumnya? Atau malah (terlalu) sering?

 

Ah, ternyata saya tidak se-ikhlas itu membuat lapang hati dari sebentuk kekesalan.

 

Hari yang panjang.


Posted at 12:48 am by i_artharini
Comments (3)  

Monday, January 19, 2009
August Rush

Ada masa-masanya aku berpikir ketinggalan sesuatu kalau kelewatan menonton hal-hal yang berbau general. Walaupun, lebih seringnya, seperti kata Belle & Sebastian, "I don't do crowds."

 

Nah, itu juga yang terjadi waktu aku belum menonton August Rush. Beberapa tanggapan yang sudah aku dengar, dari mulai "bagus bangeeet" sampai "aku sampai nangis berkali-kali lhoo." Bukannya membuatku jadi tambah ingin menonton, yang terbentuk malah sejenis antibodi yang membuat kebal.

 

Aku sempat terpikir, apa cari pinjeman DVD-nya ya. Untungnya, Sabtu malam lalu diputar di stasiun tivi tetangga sebelah.

 

Sebelumnya, Mbak Sha bilang, "Lo harus nonton, Nar. Pasti lo bakal suka cerita cintanya. Dan lo bakal suka cowoknya."

 

But, it's Jonathan Rhys-Meyers (!)(bukan dalam intonasi positif)

 

Ok, ok, aku suka Jonathan Rhys-Meyers waktu dia jadi pelatih sepakbola di Bend it Like Beckham. Tidak begitu di Match Point, tidak juga di Vanity Fair, dan lebih tidak lagi di The Tudors. Apa jangan-jangan karena karakternya di tiga-tiga itu antagonis?

 

Dan setelah menonton August Rush, aku yakin. Nope, bahkan dengan memerankan seorang yang mencari diri masa lalu-nya, Rhys-Meyers terlalu cuek untuk bisa menumbuhkan simpati. Masih terasa terlalu flirtatious untuk orang yang terus-terusan setia sama Lyla (Keri Russell).

 

(Baru ingat, jadi alkisah dalam dunia paralel, dua agen rahasia itu punya secret lovechild? What say you, Ethan Hunt?)

 

Beberapa menit setelah August Rush mulai, aku mulai merasa ada yang 'salah'. Ceritanya lompat terlalu cepat ke dramatis romantis yang serius. Saking cepatnya, aku sampai bilang keras-keras, "oh, please," waktu karakter Rhys-Meyers bilang, "I'm looking at you," atas pertanyaan, "What are you looking at?" dari Lyla.

 

Susunan kata-kata menjadi, "I'm looking at you", bisa sukses kok dengan pacing yang tepat. Before Sunrise/Sunset, anyone?

 

Dari cara Rhys-Meyers melontarkan dialognya sebagai Louis soal saat kecil dia berbicara pada bulan, nggak ada satu pun yang aku percaya. Gombal sepenuh hatilah.

 

Terus anak cerita soal hubungan Lyla dan ayahnya.

 

Itu kan formulaic kisah cinta dramatis banget. Sang puteri dan ayah yang terlalu melindungi.

 

Pas akhirnya Lyla kecelakaan dan anaknya lahir hidup tanpa dia ketahui, dan sang ayah membohonginya, aku sudah membayangkan, pasti nanti akan ada elemen wasiat terakhir di ranjang kematian deh.

 

Dan proses si Rhys-Meyers bisa saking marahnya sampai cabut dari panggung, musik, dan beralih jadi eksekutif muda yang haus uang, terlalu cepat dan terlalu klise. Terutama soal eksekutif muda haus uang untuk menggambarkan betapa dia jadi kebalikan total dari dirinya sebelumnya.

 

Selanjutnya, bagian Evan/August bertemu dengan kelompok anak-anak berbakatnya Wizard (Robin Williams). Hmm, ini setting yang amat sangat familiar. Well, of course. How fast can you sing, "the sun'll come out, tomorrow, bet your bottom dollar that tomorrow…"?

 

Karakter Wizard juga diinterpretasikan secara berlebihan oleh Robin Williams. Campuran antara Fagin-nya Oliver Twist dan kelanjutan dari karakter guru 'liberal' John Keating di Dead Poets Society kalau dia 'dibuang' ke jalanan ("the music is not in the papers, it's out there on the streets"). Padahal Dead Poets Society juga penuh dramatisasi berlebih.

 

Saat emosi penonton dibawa turun lagi, dengan Wizard mengambil Evan/August dari Juilliard, lagi-lagi Annie. Pada bagian akhir, ketika keluarga muda ini bersatu kembali di depan panggung konser, the movie has a cheese factor as thick as a Gouda.

 

So yeah, I don't miss much.

 

Tapi kalau nggak nonton juga nggak bisa nulis review ini kan ya? Yang aku nikmati menulisnya, hehehe. Dan, oh, nggak bisa lihat Terrence Howard dong.


Posted at 10:53 pm by i_artharini
Comments (2)  

Saturday, January 17, 2009
Dickens

Tiap orang kan punya jatah rejekinya masing-masing ya?

 

Aku mulai berpikir bahwa, jangan-jangan, jatah rejekiku itu menemukan buku-buku bagus dengan harga miring. Jadi ceritanya begini, pada suatu sore di hari kerja yang bisa aku rebut kembali (dengan paksa), aku berada di toko buku pojokan TIM.

 

Sudah lebih dari lama aku nggak ke sana atas sebab satu atau lainnya. Salah satunya sih karena sejak di edisi Siang, sore dan malamku sudah bukan milik pibadi lagi. Dan setelah selesai di situ, sore atau menjelang malam juga malah jam sibuk-sibuknya kerja yang tidak bisa diganggu gugat. Jadi TIM dan sekitarnya sudah lama tidak ada dalam agenda mingguan.

 

Hiks.

 

Anyway. Pada jam makan malam, Rabu (14/1) lalu, aku sudah berada di luar kantor. YAY!

 

Acara yang rencananya aku ikuti, dan karena itu cepat-cepat ke luar kantor, sudah selesai, dan bertanya, bisa ngapain ya, jam segini udah di luar kantor? Dan aku sih merasa pengen cepet-cepet pulang dan nonton DVD, hehe.

 

Nah, terus menyempatkan mampir di toko buku lah, walaupun aku sebenarnya tidak punya keinginan untuk belanja atau terjebak dalam emosi-emosi rumit seperti: “hmm, aku pengen ini, tapi duitnya nggak cukup, tapi kalau nggak, nggak bakal ketemu lagi, etc, etc.”

 

Lihat, lihat dan kesan yang pertama muncul, bau debu ya? Dilanjutkan dengan, “duh, tangannya jadi panas karena kotor nih.”


“Pengen cuci tangan pakai sabun deh.”

“Nggak ada yang menarik gini.”

 

Tapi terus menemukan sesuatu oleh Kafka, yang aku taruh lagi (teringat dengan kutipan di Annie Hall, “having sex with you is a Kafka-esque experience”). Selanjutnya ada DH Lawrence yang Sons and Lovers. Aku bertanya dalam hati, “Apakah aku ingin membaca satu lagi dari penulis Lady Chatterley’s Lover? What is Lady Chatterley actually about, anyway?”

 

Sempat tergoda sih. Kemudian ada Howard’s End-nya E.M.Forster.

 

Melihat harga, oh, oke, masih murah. Itu sudah aku tenteng-tenteng. Pas mau mbayar eh teringat pernah menemukan catatan perjalanannya Dickens selama dia di Amerika. Masih ada nggak ya?

 

Lihat di bagian luar, lho buku bahasa Indonesia semua?

 

Lalu beranjak ke bagian kanan toko, gelap dan isinya nyamuk semua. Tapi tumpukan buku-buku bekas bahasa Inggrisnya ada di situ. Aku mungkin cuma bisa bertahan lima menit di sana karena nggak bisa ngelihat apa-apa. Tanpa penerangan dan alat bantu melihat, mataku jadi serasa disiksa habis-habisan.

 

Akhirnya aku tanya, “Mas, punya senter nggak?”

 

Yah, namanya juga penasaran ya.

 

“Wah, enggak, mbak. Ini hape saya juga baterenya abis,” kata si penjaga toko.

 

“Ini lho, mas. Dulu saya pernah nemu buku perjalanannya Dickens waktu di Amerika. Masih ada nggak ya?”

 

“Oh coba lihat yang di sebelah kiri, mbak. Di situ ada lampunya,” kata dia.

 

Aku menemukan sih beberapa buku menarik (profilnya Branwell Bronte yang ditulis oleh…siapa itu ya yang nulis Rebecca? *Googling* oh, Daphne du Maurier, Dead Soul-nya Gogol, dua lagi DH Lawrence, satu buku esai-esainya Isaac Asimov), tapi no Dickens in America for me.

 

Aku bahkan sudah lupa judulnya.

 

Hari ini meng-Google dan dari hasilnya, aku nggak yakin mana-mana saja yang pernah aku lihat itu. Itu buku bekas yang waktu itu aku acuhkan saja. Kalau di Amazon.com ada: On America and Americans atau Boz on America, Being the Observations and Comment of Charles Dickens, Esq. On His Visit to the United States in 1842. Dua-duanya, sayangnya, habis cetakannya. (Sekarang aku agak merasa itu yang kedua..)

 

Padahal, sekarang, setelah dipikir-pikir kenapa juga buku itu harus diacuhkan?

 

Yang membuatku tiba-tiba teringat soal Dickens di Amerika waktu membaca The Secret History-nya Donna Tartt. Ada dua karakternya yang menginap di sebuah hotel, lalu salah satu dari mereka bilang, “Kau tahu, itu tempat favorit Dickens menginap saat dia Amerika lho.”

 

Dan kutipan itu sekarang terus membayang-bayang di kepalaku. Aku pengen tahu lebih dari sekadar hotel tempat dia menginap, tapi juga catatan soal impresi-impresinya terhadap Amerika yang seingatku, di buku itu ditulis, ia nikmati.

 

Sebagai penulis, Dickens adalah soal kekuatan deskripsi; tempat, suasana, dan karakter. Dan ini catatan perjalanan yang pastinya bakal menonjolkan semua kekuatan itu. Kenapaaaaa aku melewatkannya?

 

Buku itu masih ada atau sudah dibeli ya? Kalau ada yang beli, siapa? I’m pretty sure no one wants it. Uggh, jadi penasaran mau kembali ke sana pada siang hari deh.

 

Dan, uggh, jadi terjebak dalam emosi-emosi rumit soal buku kayak gini.  


Posted at 05:14 pm by i_artharini
Make a comment  

Thursday, January 15, 2009
Hadiah

I've never seen such relentlessly blind encouragement. No wonder you're a sexually frightened know it all.

 

(Jack Donaghy, 30 Rock S02.09 "Ludachristmas")

 

Seorang teman mengirimkan email yang isinya tentang "what could I tell to my younger self". Dan salah satunya adalah tidak mengisi catatan harian dengan dokumentasi soal lelaki-lelaki, tapi isilah dengan momen-momen kecil yang berharga bersama keluarga atau teman. Jadi sepertinya, sekarang, aku sedang melakukan itu.

 

Biasanya, (well, baru mulai tahun lalu sih) aku mendapat pencerahan atau pengungkapan terhadap hal-hal yang agak abstrak pada hari ulang tahun. Tahun lalu, aku baru memahami makna usia, tentang menerima usiaku yang sebenarnya.

 

Tidak ingin lebih tua atau lebih muda.

 

Padahal, sebelum usia itu, aku selalu menghadapi ulang tahun dengan rasa yaa…agak-agak sedih. "Huks, tambah tua nih." Tapi pada ulang tahun 25 yang lalu, semuanya, secara ajaib, terasa sudah pada tempatnya yang pas.

 

Usia dan pemikiran dan sikap, semuanya seperti terasa nggak berlebih atau malah kurang. Aku bahagia dengan hal-hal yang aku ketahui selama ini, dengan hal-hal yang masih ingin aku capai, dengan usia yang sudah aku capai.

 

Sampai aku bisa merasa, hmm, why do I want to be younger? Ini perasaan yang cukup membahagiakan dan melegakan karena aku nggak merasa bakal sampai pada kesimpulan itu. Bahwa aku cukup puas dengan usia dan kematanganku sekarang.

 

Anyway, aku jadi mikir-mikir, apa ya The Big Gift of Life yang bakal aku terima pada usia 26?

 

Pada tahap ini, dengan cukup sombongnya, aku sudah menjadikan The Big Gift of Life itu sebagai sesuatu yang given aja. Bukan sekadar keberuntungan satu tahun semata, hehe. Makanya aku jadi menunggu-nunggu apa ya yang bakal aku dapat tahun ini.

 

Dan, seperti sudah diketahui, sesuatu memang terjadi. Aku nggak tahu sih bagaimana itu bisa masuk dalam sebuah rencana besar kosmis tentang pemaknaan hidup atau mistisisme semacam itulah.

 

Lalu ada percakapan ini nih.

 

Aku, adikku dan ibuku sedang ada di seputaran meja makan. Aku lagi bertanya-tanya soal tes IELTS yang pernah diambil adikku. Formatnya gimana? Berapa lama sih? Ngapain aja? Terus kamu dapet berapa?

 

"6,5," kata dia.

 

"HAH? Kamu bisa dapet 6,5? Tapi les dulu ya?"

 

"Iya sih."

 

"Kamu bisa dapet 6,5? Berarti, aku juga bisa dapet 6,5 dong. Atau 7?"

 

Terus dia bilang, "BODOH. Kalau aku aja dapet 6,5, ya kamu dapetnya 7,5 lah!"

 

Selanjutnya di kantor, hari Minggu (11/1) lalu, mbak Sha sedang membahas soal rencana studinya secara singkat. Ccr nanya, "Emang lo mau ngambil apa?"

 

"Ada yang editing and publishing sihhh. Abis kalau bahasa Inggris gue gitu-gitu aja, masak mau ngambil yang literature?"

 

Dan aku langsung membalas dengan, "NAAAHHH. Pas banget deh sama yang dibilangin bokap gue hari ini."

 

Soalnya, siangnya, waktu masih di rumah, ayahku yang sedang membaca Koran Tempo Minggu tiba-tiba bilang keras-keras…oh, waktu itu dia sedang membaca profilnya Mouly Surya, sutradara terbaik FFI 2008.

 

Posisi berdiriku lagi membelakangi beliau, dan kita terpisah cukup jauh walaupun sedang sama-sama di belakang. Tiba-tiba dia bilang, "Nih, mbak. Mouly Surya S1-nya di Australia Media and Literature, S2-nya Film and Television. Nih, mbak."

 

Ayahku bukan orang yang verbal. Bahkan seringnya aku merasa akan sulit buatku untuk menceritakan banyak hal ke beliau. Dan sepertinya susah juga buat beliau bercerita pada orang-orang di sekitarnya. Tapi, selama ini, beliaulah yang paling sering membacai apa-apa saja yang sudah aku tulis. Dan beliau punya kebiasaan untuk membahas, dari mana aku bisa tahu soal ini, itu, yang aku jawab dengan seadanya saja.

 

Yang belum pernah aku 'perhitungkan' adalah bahwa ia bisa menyerap lebih banyak dari yang aku kira sebelumnya. Bahkan sampai hal-hal yang aku inginkan dalam hidup, saat aku sendiri belum pasti apa sebenarnya yang aku inginkan. Baru-baru ini saja aku tersadar aku pengen belajar lebih banyak soal yang beliau sebutkan tadi. "Nih, mbak," buat dia adalah sebuah penegasan yang bisa ditulis dengan huruf tebal dan garis bawah.

 

Dari dua kejadian itu mataku jadi terbuka. Aku nggak yakin soal relentlessly blind encouragement, tapi aku dikelilingi oleh orang-orang yang lebih percaya akan jangkauan hal-hal yang mampu aku lakukan dalam hidup, melebihi kepercayaanku pada diri sendiri. And it's not just my immediate family. Ada teman-teman, atau teman, yang berulang kali bilang, "Lo kan nggak perlu iri sama siapa-siapa lagi. Karena lo bisa ngelakuin semuanya. Apa aja."

 

Hah, really?  

 

Dan, deng, deng, deng. Aku baru sadar lagi. Nggak heran I'm such a hot-headed, hard-headed, emotionally spoiled girl, karena (and I know I would sound so ungrateful) orang-orang di sekitarku terlalu menyayangiku. Membiarkanku menjadi siapa aku sekarang. Padahal orang kan menjadi sosok maksimal mereka saat ditantang, diragukan, dicerca. Dan aku tidak cukup sering berada dalam situasi itu. Semua kekuranganku ditoleransi dan dimaklumi.

 

And they didn't know any better than to accept me for who I am. Well, it would complicate things if they do know any better, yet they still accept me anyway. (Or they do know better? Because if so, now that's quite touching. Even by my standard. And, d'oh, I think I just realized what "love" means)

 

Aku punya cukup kapasitas untuk jadi Susan Sontag* (haha. Please see footnote below), tapi aku cuma bisa jadi karakternya Dennis Quaid di Smart People. Grumpy, narcissistic, self-absorbed, emotionally unattentive and on the verge of being obsolete.

 

Jadi, mungkin, kejadian itu, yang aku harap tidak lewat begitu saja, adalah kesempatanku untuk menebus diri, to redeem myself, ungkapan yang baru sekarang saya sadari kedalaman maknanya. Kejadian itu harus terjadi supaya aku jadi punya kesempatan menjadi sosok maksimal itu, Susan Sontag. Atau, "Susan Sontag". Dari yang sekarang diragukan menjadi, dan ini saya pinjam dari salah satu komen sebelumnya, "juaranya".

 

Membicarakan apa yang sudah terjadi bukan sesuatu yang nyaman buatku. Dan, most days, aku berlaku seperti apa yang sudah terjadi itu sudah terlupakan atau terlewat. Belum kok. Apalagi waktu aku membuka laci meja dan melihat sebuah amplop yang membuat perutku seperti jatuh sampai ke lutut. Aku setengah berharap itu bakal terlupakan, tapi setengah lagi berharap aku terus mengingatnya. But now, I'm just eager to be a happier person, a kinder person, a friendlier and more attentive person than I was before.

 

If all of those people around me really love me, then maybe I don't have to be a better person, because they'll love me anyway whoever I am. But because I love them, I want to be exactly just that, the better person. Sejenis, "I-know-I-don't-have-to-but-I-want-to" type of thing.     

 

So yeah, this is my Big Gift of Life for this year, I guess. To be doubted so I can redeem myself. And to know that I am loved.  

 

--

*= Oh, tentang Susan Sontag. Aku jadi penasaran sama Reborn: Journals & Notebooks 1947-1963 yang baru terbit itu. Resensi di Slate.com menyebut:

 

"The critic takes her own personality on as a subject and dissects, often unflatteringly, her own weaknesses on the highest and most trivial levels. "I had never realized how bad my posture is," she writes. "It has always been that way. … [I]t's not only that my shoulders + back are round, but that my head is thrust forward." The journals are largely comprised of lists, ways to improve herself, books she should read, chronologies. They give evidence of a fierce and unrelenting campaign to work on herself as an intellectual, as a woman, as a mother. "In the journal," she writes, "I do not just express myself more openly than I could do to any person; I create myself." She was 24 years old."

 

Di Time juga dibilang:

 

"...the first of three projected volumes selected from the diaries Sontag kept nearly all her life, is a portrait of the artist as a young omnivore, an earnest, tirelessly self-inspecting thinker fashioning herself into the phenomenon she will be. A typical entry: "Read the Spender translation of [Rilke's] The Duino Elegies as soon as possible." As soon as possible! She's 15.

 

When the book opens one year earlier, Sontag is enduring life with her mother and stepfather in Los Angeles. It's 1947, but this is not going to be the memoir of a bobby soxer: "Immersed myself in Gide all afternoon and listened to the Busch recording of Don Giovanni. Several arias (such soul stretching sweetness!) I played over and over again ... If I could always hear them, how resolute and serene I would be!"

 

Resolute she already is. Serene she can forget about. Sontag's every synapse is open to the joys of books, movies, music and theater, but the imperatives of her industrial-strength self-awareness guarantee that she will never quite measure up to her convictions about the importance of pleasure and sensuality. "Let go Let go Let Really go," she writes. But her brain won't let her body take the wheel."

 

Doesn't she sound fascinating?

 

I love reading diaries, ever since I read Virginia Woolf's. And this one seems so interesting. But the idea of campaigning to be a "better-self", membuat daftar things to do, mencari keseimbangan antara hati dan pikiran, don't we all do that?


Posted at 10:13 pm by i_artharini
Comments (2)  

Monday, January 12, 2009
Fantasi

Keinginan terakhir saya (dalam daftar yang sebenarnya sudah amat panjang itu) muncul kemarin malam.

 

Semuanya berawal saat tetangga dari kubikel sebelah memutar sebuah lagu di laptopnya. Mungkin dia keseringan mendengar saya mendominasi 'airwave' dengan lagu-lagu unduhan dari Mininova. Jadi begitu ada kesempatan langsung deh…berbagai versi Anarchy in the UK, The Cure dan lagu-lagu hit lain dari generasinya terdengar berulang. Sampai ada lagu yang intronya terdengar familiar.

 

"Kok kedengerannya seperti…Iya bukan ya?" aku cuma membatin.

 

"Aku adalah arsitek//merekonstruksi tubuhmu," terdengar dari kubikel sebelah.

 

"Eh ada suara siapa tuhhh? Si akang yaa," Ccr, yang lagi kebetulan lewat di depan deretan kubikel kami, nyeletuk rindu.  

 

Terus adegan berpindah ke ruang artistik. Sambil menunggu halaman selesai dikerjakan, Ccr bilang, "Nar, gue masih belum pas ama kado ultah lo. Gue tahu pasti bakal luar biasa sih, tapi…"

 

"Oh, La, La, gue tahu maunya apa. Kalau lo nggak tahu mau ngasih apa…"

 

"Gue udah tahu sih mau ngasih apa, tapi…"

 

"Ini nih, La. Gue jadi tahu pengen apa. Gimana kalau lo kerjasama aja ama xxx (tetangga dari kubikel sebelah yang mengaku pernah jadi anak band dan kenal dekat dengan Si Akang). Gue pengen ada kue ulang tahun raksasa yang di dalemnya ada Otong. Terus dia bakal melompat keluar dan bilang 'Selamat Ulang Tahun, Nari'. Terus dia nge-french kiss gue deh."

 

"Ih, jorok. Tapi lo pengen dia pake apa? Celana voli yang pendek banget gitu?"

 

"Euughh, no." Bayanganku akan kepungan aroma Bvlgari-nya itu tiba-tiba hilang.

 

Lalu muncul lagi saat harus berhadapan dengan teks yang sedang diperiksa tipografinya. "Bwahahaha. Duh, jadi nggak bisa konsen nih."

 

"Sumpah, Nar, lo jorok banget deh."

 

"Gue mbayanginnya dia nge-french kiss sampe lutut gue lemes gitu, La. Bwahaha." Sampai, dan saya meminjam kata-kata yang sering diulang Stephenie Meyer buat Bella Swan, "aku terpaksa berhenti untuk mengambil nafas".

 

Yah, dalam semangat yang sama dengan 'lakon' Feminis Gugat yang disampaikan Nursyahbani Katjasungkana di Kompas Minggu (11/1) soal Drupadi*, aku adalah arsitek yang (menunjukkan pilihan) merekonstruksi tubuhnya.    

 

--

*= Bukan berarti saya tidak punya keberatan tertentu pada satu hal dari tulisan itu. Salah satunya (atau mungkin satu-satunya) adalah poin pembahasan soal perbedaan mata lelaki dan perempuan dalam menonton. They just didn't interpret the movie the way you have, and they 'just' happen to be male. Memulai tulisan dengan asumsi cara menonton yang berbeda antara laki-laki dan perempuan, menurut saya, malah justru memperkuat stereotip daripada 'menetralisir'-nya. Maksudnya, jika memang ada cara menonton yang berbeda itu, maka keberadaan chick flick jadi terjustifikasi. Padahal masih ada perdebatan lain soal, apakah chick flick adalah stereotip soal selera perempuan atau malah akses bagi perempuan untuk eksis di layar. Dan, anyway, daripada memperdebatkan soal interpretasi (yang setiap orang berhak memiliki dan melakukannya), kenapa penonton awam belum diberi kesempatan seluas-luasnya (karena tiket Jiffest yang terbatas) untuk menarik kesimpulan mereka sendiri terhadap film itu?


Posted at 02:13 pm by i_artharini
Make a comment  

Tuesday, January 06, 2009
Flannel

Hanya sebuah pencatatan dari hasil pengamatan tak disengaja. Flannel is back ya ternyata?

Aku jadi membayangkan reaksi temanku yang metroseksual dan pernah berkomentar ini soal flannel beberapa tahun lalu, "Idih, itu barang haram di lemari baju seorang metroseksual."

Pertama sadar sih waktu nonton Twilight, Pas adegan Bella dan teman-teman sekelasnya lagi study tour ke sebuah rumah kaca itu, dia kan pakai jaket yang lapisan luarnya bahan flannel kotak-kotak ungu. Terus waktu si Robert Pattinson memamerkan potongan rambut barunya di Heathrow, dia juga pakai flannel hitam putih.

Jangan keburu ber-yay dulu buat para penggemar flannel di masa lalu. Pasalnya, flannel yang hidup lagi sekarang itu sepertinya tak punya banyak kaitan dengan sub kultur pemberontakan grunge yang sempat muncul dulu deh. Instead, dia dipotong-potong dan dimodifikasi untuk jadi 'tempelan' dalam artefak kontemporer lainnya.

Contohnya ini, ini hari waktu aku mengalami Flannel Revelation, di Mal Ambassador.

Waktu berdiri di eskalator, di depanku ada pasangan ibu dan anak perempuannya yang mungkin usia kuliahan. Si anak perempuan memakai kemeja flannel biru elektrik dan hitam, lengan panjang tapi digulung. Yang 'lucu', model potongannya dibuat baby doll. Ada jahitan tepat di bawah dada, terus di bawahnya baru potongannya longgar.

Dipadukan bukan dengan celana jins belel dan sandal gunung, tapi dengan short yang sekarang sedang ngetren juga itu, sepatu ballerina dan tote bag. Sudah nggak ada tanda-tanda anti kemapanannya kan?

Ibunya juga sama. Bahan kemeja yang dia pakai juga flannel, tapi warnanya pink muda. Motif kotak-kotaknya malah meniru motif kotak-kotak Burberry. 

Sampai di lantai yang dimaksud, eh aku melihat di etalase Platinum (atau Premium?), ada manekin yang memakai jaket bomber berbahan flannel dan motif kotak-kotak hitam putih. Sepersekian detik kemudian, ada lagi ibu-ibu menggandeng anaknya yang masih balita, juga menggunakan flannel kotak-kotak biru, merah. Nggak sampai lima detik, ibu-ibu lain memakai flannel.

Jadi dalam kurang dari dua puluh detik, aku sudah bisa menghitung lima pemakai flannel. So I guess it's definitely back. Walaupun tidak lagi membawa makna yang sama.

(Dan d'oh aku baru ingat, artikel tentang Hot New Winona Ryders yang aku sebut di bawah juga menyebut tentang flannel is back)


Posted at 01:21 pm by i_artharini
Comment (1)  

Previous Page Next Page