PENARI MUNGIL


(Saya bukan seorang penari. Pun sangat jauh dari mungil. Tapi, tahu kan adegan 'Tiny Dancer' di 'Almost Famous'? Sensasi membahagiakan dari adegan itulah yang saya kejar..)



Hold me closer, tiny dancer

Count the headlights on the highway

Lay me down in sheets of linen

You had a busy day, today


("Tiny Dancer" - Elton John)





"...the quest for transcendence has always been closely linked to the ecstatic release of dancing."
(Resensi RollingStone atas sebuah album pop)

Mr. Darcy: "So what do you recommend, to encourage affection?"
Elizabeth Bennet: "Dancing, even if one's partner is only tolerable."
(Pride & Prejudice, 2005)


perempuan, 1983, lovesick soul, berjalan kaki, belajar menulis, menonton film, ingin keliling dunia, Billie Holliday, Jane Austen, 'Franny and Zooey', cerita pendek F Scott Fitzgerald, lagu-lagu sedih, kecanduan membeli buku second, deretan buku di lemari, berkeliling dengan bis kota, mengepak koper, menari bebas, Vogue, sepatu, bad boys, kopi, kuliner, foto, semua yang vintage, genggaman tangan, pelukan hangat, detil percakapan antara manusia, kegelisahan, kesepian, ruang pencarian, belajar dewasa, museum dan bangunan tua, hari hujan, sinar matahari hangat di hari berangin, airport, stasiun kereta, dan pertanyaan tanpa akhir

YM: isyana_artharini
Email: i.artharini@gmail.com
   

<< May 2017 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05 06
07 08 09 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Monday, March 23, 2009
Reuni

Ini cerita soal 'uncharacteristic' weekend yang ketiga.

Jadi, ya, setelah liputan berpanas-panas, jalan-jalan seputar Senayan dan naik busway ke Museum Prasasti untuk peluncuran peta hijau Jakarta, aku memilih naik taksi untuk ke sebuah kompleks lumayan terkenal di pusat kota.

Setelah menelepon pemilik rumah menanyakan nomor dan jalan tepatnya, dia memberikan arahan yang mudah diikuti dari sekitaran SCBD. Sampailah di sebuah rumah yang...lho kok, kosong?

Tanya ke penjaga rumah bersafari, "Ini rumahnya si xxx?"
"Iya," dia menjawab, tanpa muka angker.

Dan, emang nih, sisa-sisa kumpul di musholla atau rumah teman untuk pengajian, masih kelihatan betapa membekasnya perilaku dan kebiasaan Yogya yang tersisa. Sandal-sandal, yang hanya tiga pasang, sudah dilepas di awaaaaaal banget sebelum masuk rumah. Padahal jalan dari 'awal' lantai marmer sampai area inti itu masih lumayan panjang. Dan dingin karena marmer.

Hey, yang melegakan, Mr. Perenially Cool sudah melambai-lambaikan tangan dari jauh. Or so I thought it was him, terlihat dari siluet jambulnya. Selain tuan rumah, ternyata baru ada tiga tamu. Salah satu tamu, Ms. Highschool Prom Queen (because she is, in all possible fittingly stereotypical of that category), membawa  bayi laki-laki berusia 10 bulan dan pengasuhnya.

Kita datang satu-satu, memesan makanan, menunggu datang sambil cemal-cemil dan bertukar cerita soal pekerjaan dan ayah teman yang baru meninggal atau sudah meninggal dan belum sempat melayat. Soal yang sudah menikah atau berganti agama. Yang baru akan menikah dengan sebelumnya proses pergantian agama juga.

Semuanya ternyata, baru disadari, berasal dari SMP yang sama, kecuali aku. Lalu mereka juga berasal dari kolam yang kurang lebih sama. Yang pada waktu nanti ayah-ayah mereka meninggal sepertinya  'berhak' ditulis obituarinya di koran. Yang akrab memanggil petinggi birokrat republik ini dengan Oom atau Pakde. Baru sekarang aku sadar, oh, ternyata I was once in an Indonesian version of Ivy Leaguer, to?

No wonder my mother has been soooo hopeful. Unfortunately, aku tidak punya kegigihan dan ketangguhan seorang Becky Sharp.

So, okay, salah satu agenda yang sempat dibahas adalah reuni angkatan kita tahun depan. Kenapa tahun depan? Karena momentumnya adalah sepuluh tahun setelah kita lulus.

Oh, oh. Aku dan Bitchiest Straight Guy I Know (karena memang aku nggak pernah ketemu sama pria straight lain yang bicaranya se-bitchy dia) lihat-lihatan dengan tipe kecemasan yang sama di mata kami. Sumber kecemasanku sih: Hah, ini kan such a cheesy John Mayer song. "Run through the halls of my highschool, there's no such thing as the real world, ten years reunion, bust down the double door, you'll know what all those time are for." Nah masalahnya buat aku, semua waktu itu, buat apa?

Aku nggak bisa membaca sih apa sumber kecemasan Mr Bitchiest itu. Tapi ketika selanjutnya yang disebut adalah: "Rencananya sekalian sama family gathering juga." Bola mataku sudah hampir mencelat, dan Bitchiest langsung tegas-tegas bilang, "Kalau itu gue nggak setuju."

Ada hal lain juga yang aku pelajari di situ. Dua dari 10 orang yang datang membawa anak masing-masing, dua-duanya perempuan. Plus ada satu lagi yang sudah punya anak, tapi ini cowok. Yang cowok, dulu sih pas SMA, pernah ditaksir diam-diam sama teman baik masa SMA. Lama-kelamaan, aku jadi mengakui, yeah, he's kinda cool lah.

Sekarang setelah dilihat kok...jadi biasa saja ya?

Dan kalau dipikir-pikir, hampir semua taksiran SMA-ku juga jadi tidak se-mempesona dulu. Jadi, kalau misalnya aku punya anak perempuan nanti, dan dia bilang: I never wanted anything/anyone this much. Aku bisa menjawab: Trust me, you'll want something/someone else even more. It's endless.

Nah, anyway. Mereka yang punya anak-anak ini, bayi-bayi tepatnya, saling bertanya seperti:
"Udah digundulin?"
"Belum, aku nggak tega. Ini masih rambut lahir."

atau,
"Biasanya dia anteng/cerewet/suka senyum. Nggak tahu nih kenapa kok dia sekarang jadi rewel terus, marah gitu lho. Malem suka nggak tidur."
"Oh kalau gitu biasanya dia mau pinter sesuatu. Sama kayak kita, kan suka excited sampai nggak bisa tidur, nah kayak gitu juga biasanya. Si xxx waktu itu juga kayak gitu, eh besoknya dia bisa tengkurap sendiri."

Hmm, aku mencatat ini semua dalam kepalaku. Percakapan basa-basi yang aku belum bisa terlibat di dalamnya.

Selain itu, ada apa lagi ya?

Oh, ini, seperti biasa sih, soal materi.

Bukan iri tepatnya, cuma aku jadi teringat lagi sama...aku kan juga punya mimpi-mimpi apartemen, atau kebingungan mengisi SPT dengan harta yang dimiliki, atau punya properti, dst.

Nah, aku pernah berpikir, aku 'harus' tinggal seberapa jauh lagi dari pusat kota kalau orangtuaku saja sudah tinggal di kawasan pinggiran? Tapi ada teman yang ternyata bertetangga dengan orangtuaku. Padahal aku pikir aku nggak bakal sanggup beli apa pun di dekat-dekat tempat tinggalku sekarang.

Sisanya, ya, pada berapartemen-apartemen. Ada juga sih yang tinggal di Depok dan menjalani kehidupan KRL itu. Tapi, ya itu, aku kan juga punya mimpi-mimpi apartemen ituuu. Kenapa aku belum bisa bergerak?

Ada sedikit post-script juga.

Dari dua jari berderet di tangan kanan Ms Highschool Prom Queen, ada sepasang cincin yang gemerlapnya benar-benar waaoooowww. Besar tapi dirancang seperti cincin vintage tahun 1920an gitu. Jadi cukup tasteful.

Dan pas aku datang, aku melihat ada mobil BMW dari tipe yang kemarin-kemarin sempat dikomentari ayahku, "Kalau orang punya mobil kayak gini, duitnya itu berapa ya?"

Karena aku menganggap semua BMW itu nggak berbeda satu sama lainnya, jadi aku bilang, "Emang yang tipe ini berapa?"

"Ya 1,5 M-an gitu lah."

Aku pikir itu punya tuan rumah, tapi ternyata itu punya Ms Highschool Prom Queen. Aku sempat numpang mobilnya itu karena dia nggak tahu arah dan jalannya agak searah.

Beneran lho, pas di dalam mobil itu, aku langsung merasa bosan dan lelah sama semua kaleng-kaleng kerupuk kota penuh virus penyakit yang setiap hari aku naiki, dan pengamen-pengamennya, dan emisinya yang setiap hari aku hirup dari bangku belakang ojek.

Dia tinggal di daerah Pejaten. Pas aku tanya kenapa memilih di sana, dia bilang, "Asalnya di Cinere, tapi sekarang yang di sana dikontrakin. Terus ada tanah juga di Kemang (haaahhh?--ini dari penulis), tapi karena lagi krisis, yaa sekarang baru mbangun, yang nggak tahu selesainya kapan. Jadi ya ada temennya bapak mertua yang maksa-maksa beli."

Maksudnya, aku nggak punya mimpi-mimpi BMW sih. Aku cukup puas dengan busway dan taksi, tapi punya bioskop kecil dengan desain art-deco atau tinggal di rumah yang desainnya masih gaya Jakarta 1950an, hehehe. Tapi, aku jadi bosaaaan dan muak sama semua moda transportasi yang aku gunakan di Jakarta selama ini.

Di balik semua 'keirian' materi itu, aku ternyata lebih merasa tersentuh sama her most-prized possession, her 10-month old son. Ini bayi dengan the most agreeable disposition I've seen. Nggak rewel, nggak nangisan, penuh rasa ingin tahu, ramah dan kayaknya sih, pengen kenal juga sama aku. Bahunya yang mungil, punggungnya yang masih lunak. Yang kalau aku sentuh punggung dan bahunya, dia terus menjengking-jengking ke belakang, makin nempel ke tanganku, sambil noleh ke aku dan ketawa-ketawa senang.  

Dia ini yang benar-benar membuat sesuatu pada bagian tubuh internal saya jadi bergetar dan mencair. Bayi-bayi sepertinya dibekali kemampuan itu ya.


Posted at 11:30 am by i_artharini
Comments (2)  

Saturday, March 14, 2009
Uncharacteristic

I have been having two uncharacteristic weekends. Dan aku rasa hampir untuk yang ketiga.

Ini berawal dari tiga pekan lalu. Tiba-tiba kok akhir pekanku jadi uncharacteristically unalone, penuh dengan teman-teman dan orang-orang. Padahal saat itu aku mengharapkan kesendirian untuk menyelesaikan hal-hal pada to-do list.

Jumat malamnya ketemuan sama teman-teman mantan MI Siang. Well, tiga masih di kantor yang sama, tapi dua lagi, Xat dan Nachtwey Kecil yang sudah lama nggak ketemu, which is fun.

Hari Minggunya ada ketemuan dengan Ms Know It All, Ms Kawaai, Ms High Society dan Little Miss Graphic Designer untuk bebek, terus pindah ke Sour Sally, dan (minus Little Miss Graphic Designer) for some coffee di Aksara Pacific Place.

Yang paling menonjol dari ketemuan hari Minggu itu sih cerita absurd dari Ms Know It All. Kita janjian jam 12.00 di restoran bebek di bilangan Senopati. Dari jam 11.30 dia sudah menelepon nanya aku di mana. "I'll be on my way. Naik taksi kok," aku bilang.

Jam 12 pas bisa sampai.

"Lho kok cepet banget sih datangnya?" aku tanya ke dia.
"Iya, aku tadi abis dimintain mbak-mbak kos nganterin dia."
"Hah, kok minta anter kamu?"
"Dia mau ke..., jadi gini ceritanya, kemarin Jumat itu di depan kos-kosanku ada yang abis mbuang bayi."
"Haaahhh?"

Bayinya masih berusia dua mingguan, dibuang dalam kondisi hidup dan sehat. Pelakunya siapa belum diketahui dan tampaknya susah diketahui. Soalnya, satpam kos, para tukang ojek yang ramai nongkrong di depan kos, penjaga warung, dll, lagi pada Jumatan. Penemuan itu sudah dilaporkan ke polisi, tapi sama polisinya diminta para penghuni kos yang merawat.

"Jadi kemarin kita udah pada chip in for the baby. Aku abis beli popok ama susu," kata Ms Know It All.
"Hah? Kenapa nggak bilang aku? Aku lagi pengen punya anak cowok nih. Emang bayinya apa?"
"Cowok."

Well, entah kenapa I had an emotional-maternal discharge beberapa minggu lalu, membayangkan, kayaknya lucu ya punya anak cowok yang bisa diajak nonton film lucu terus ketawa-ketawa, happy ngelihat dia ketawa-ketawa kegelian. My little Atticus Finch. Of course, he would not be named Atticus Finch. Holden, maybe? Hehehe.

Nah, uncharacteristic weekend kedua terjadi pekan lalu. Tiba-tiba kok my weekend is uncharacteristically filled with stages and live music. Kamis tepatnya, aku nonton The S.I.G.I.T dan band bluegrass The Student Loan dan White Shoes dan aku merasa, sudah terlalu lama sepertinya tidak menonton sebuah pertunjukan musik live seperti ini.

Pulang dari situ, di taksi, dapat pesan pendek dari Sha yang bilang Eva punya beberapa tiket gratis Java Jazz dan mengajak-ajak ke sana. Oke, jadi Jumat aku ke Java Jazz. Sempat nonton satu vokalis perempuan kulit hitam yang tidak aku tangkap namanya, terus ke Dianne Reeves yang beberapa kali sepanjang pertunjukan aku sampai pada kesimpulan she's really really good, bukan jazz-jazz-an gitu. Terus kembali ke Plennary buat Matt Bianco.

Melihat banyaknya orang ke sana, aku jadi bertanya, should I go there? Maksudnya, sengaja merencanakan dan beli tiket untuk ke sana walaupun aku nggak tahu banyak soal jazz. Aku merasa hampir ketinggalan sesuatu saat berada di sana, yang untungnya 'terselamatkan' oleh tiket gratis. Jadi aku mulai bertanya-tanya, tahun depan, haruskah ke sana?

Btw, it's also filled with orang dewasa tanggung, anak-anak usia 19, 20, 23-an yang hampir semuanya menenteng Blackberry like it's a piece of brick.

Nah akhir pekan ini nih yang hampir uncharacteristic. Ada liputan Sabtu malam di Taman Menteng dan Minggu pagi sampai siang di beberapa lokasi buat Peta Hijau. Dan...

Beberapa hari lalu, di Facebook ada pesan soal reunian teman-teman SMA di rumah salah satu teman. Reaksi pertama, wow, kayaknya bakal asik.

Lambat-lambat, keraguan mulai masuk. Sampai akhirnya aku menelepon seseorang yang bisa disebut Mr Perenially Cool. Ini teman SMA juga, dan sort of teman kuliah walau beda kota.

Nggak diangkat.
Tapi terus aku ditelpon balik oleh sebuah nomor tak dikenal.
"Kenapa, Nar?" kata Mr Perenially Cool.
"Eh kamu tahu kan ada undangan dari xxx soal reunian, etc etc etc."
"Iya, semuanya diundang kok."
"Aku juga dapet, cuman...siapa aja yang dateng sih?"

Mr Perenially Cool mendaftar teman-teman yang akan datang terus bertanya, "Kenapa?"

"Aku agak-agak nervous mau datang."
"Ini kan cuman teman-teman SMA, Nar, yang masih dengan guyonan-guyonan bapuk waktu kita SMA."
"Yes, tapi mereka kan udah jadi stranger. Dan aku udah lama nggak ada di lingkungan yang penuh orang asing dan harus bercakap-cakap. Aku kan nggak tau gimana memulai percakapan. Atau, gimana kalau nggak ada yang ngomong ama akuuu?"

Aku sambil ketawa-ketawa sih di telepon, but it's my biggest fear for this weekend. Telapak tanganku sampai basah.

"Tenang," kata dia lagi, "kan ada Bitchiest Straight Guy I Know."
"YES. But he has his much cooler friends than me."

Yang membuat aku cemas, Mr Perenially Cool masih di area abu-abu soal datang atau tidak. "Aku ada acara kantor, tapi aku mungkin datang mepet," dia bilang. Nah, liputanku itu memasukkan unsur berjalan-jalan dan keringetan dan nggak fresh, yang bakal membuatku nggak wangi. Huks, huks.

Well, okay. Let's see tomorrow how my nerves serve me.

Posted at 02:16 pm by i_artharini
Comment (1)  

Wednesday, March 04, 2009
Kabur

Bob: Can you keep a secret? I'm trying to organize a prison break. I'm looking for, like, an accomplice. We have to first get out of this bar, then the hotel, then the city, and then the country. Are you in or you out?
Charlotte: I'm in. I'll go pack my stuff.
Bob: I hope that you've had enough to drink. It's going to take courage.

(masih dari, Lost in Translation)

Posted at 06:28 pm by i_artharini
Make a comment  

Tuesday, March 03, 2009
Rambler

ďDo I want it? You bet your fucking ass I do! I think that people assume that I donít care or donít want it or donít need it or something. Itís hard to be there five times, and Iím only human, you know? But I donít go home and cry, because weíre all grown-ups here.Ē

(Kate Winslet di Vanity Fair Desember 2008, artikel: "Isn't She Deneuvely")

Okay, that settles it, I guess. Grown-ups don't cry about it, while I do. So, that makes me a child? Ah, what the hell. I feel like losing it here. Act all childish, cry, and just say hell.

I'm pissed with how things turn out, but I'm even more pissed that after all these years I still can't be happy for other people. I'm ashamed towards the people, and yes, they are sensitive enough to sense this thing I feel.

But I can't help it.

Well, actually I have to help it. But I lose the strength to help it.

I'm not above some show of appreciation. Most of the time, I try to be above it. But there are other times, I need that reinforcement of faith. So yeah, I need it. It. That thing that you keep throwing to others, but not at me.

Have I not been good enough?
Likeable enough?
Or emotionally messed up enough so that I need some form of sympathy?
Or maybe tough enough?
What the hell have I been doing wrong?

Is asking about this is wrong?
But I can't seem to figure out what the hell is the problem.

I had people telling me to keep positive thinking, but that's just one easy conclusion, right? I haven't arrived to that conclusion myself. They're just choking me with it so that I magically, instantly, arrive at that state of normalcy. Because that's what proper grown-ups do.

You know, words can only do so much to convince me. Yeah, so, I know I did fucking great, because I made well damn sure to fulfill my own standard. So your words mean little, because I know I have fulfilled my own standard. And if my standard coincide with yours, that's great for you. Your need is fulfilled. But I need some show of appreciation here.

Have I not been good or even, ah-hem, great or what? This bugs me because I couldn't get to the bottom of this. What's causing it and what can I do to fix it?

Posted at 07:09 pm by i_artharini
Comments (2)  

Thursday, February 26, 2009
On the Subject of Loneliness

Pada suatu Minggu, empat manusia Jakarta yang kesepian bertemu di pusat jajanan di sebuah mal jantung kota.

Ya, pastinya sih aku yang kesepian. Ada Ms.Know-It-All yang menagih janji untuk bertemu di salah satu hari liburku. I thought I was supposed to call her on Monday, tapi pada hari Minggu, dia sudah miscall dan mengirim pesan pendek, "Nari, kita jadi nge-Raffel's nggak?"

Aku menelepon balik dan bilang, jadi. "Oh ya," kata dia, "nanti ada Ms Kawaii dan Ms Pretty Technician juga ya. Mereka juga lagi kesepian katanya."

(Nah, Raffel's itu butuh cerita tersendiri. You know how I always complain about not finding a sandwich shop with a proper bread? No? Well, okay, I grumbled in private. But, yes, I found one. They made the sandwich fresh when you ordered it. They have panini. Well it's not exactly like the panini I know, but it's proper bread. And okay, Cafe Au Lait has a great tasting tuna sandwich with great bread, but they have very limited option for sandwich toppings. Raffel's has chicken pesto [!] and philly and cheese [equivalent of Subway's steak and cheese]. I told Ms Know-It-All about it on Thursday, and she said, "Iyaaaaaaa. Aku juga suka delivery kok." So we build up quite an appetite for their gigantic sandwich)

Kami menanyakan kabar, bertukar cerita. Aku datang di tengah-tengah pembahasan soal proses perceraian hampir final dari Ms Pretty Technician. Ms Kawaii belum datang. Ms Know-It-All langsung menuju order of business for the day, pembahasan soal kesepian itu.

(Sebagai catatan, aku pikir kita berada di sini untuk menyingkirkan perasaan itu, bukan malah membahasnya)

Aku sih waktu itu sempat bilang, tidak tahu apakah ini magnifikasi dari rentetan kejadian atau memang ada hawa tertentu yang lagi melanda manusia-manusia Jakarta. Kok aku jadi menemukan kesepian atau tema-tema semacamnya di berbagai tempat.

Saat lagi blogwalk dan merasa berada di jurang emosi itu, eh kok ya ketemu sama postingan ini. Yang membuat aku merasa, eh rutinitas aku dan sosok yang ditulis di situ kurang lebih sama, imaji-imaji yang kami tangkap lewat mata juga plus minus mirip, dan akhirnya berujung pada kesimpulan emosi yang satu. Ini orang asing yang tidak aku kenal, tapi kok dia mendaftar dengan tepat ya, semua yang aku rasakan?

Di tengah sesuatu semacam epifani itu, aku menyapa mbak Octopus lewat sebuah percakapan maya. Dan aku kaget campur senang menyadari bahwa dia juga ada di titik emosi yang sama, kesepian. Kesimpulanku: apa kesepian itu penyakit manusia kota?

Mbak Octopus mendaftar berbagai ritual pengisi kesepiannya, dari duduk-duduk sendiri di Taman Suropati sampai memilih film secara acak dan tidur di dalam Metropole. Aku bilang, "Lho kok jadi kayak manusia-manusia di film-film Wong Kar Wai?"

Ritualku selalu mengulang-ulang pertanyaan ada apa dengan saya, di antara DVD-DVD atau deretan acara tivi kabel yang aku tonton.

"Coba lihat di sekitar, Nar. Lihat deh," kata Ms Know-It-All. "Masa sih orang Jakarta kesepian? Lha wong nggak ada yang duduk sendiri. "

"Nah itu, makanya yang mbuat aku gentar pas berapa minggu lalu gitu, harus duduk sendiri, makan di foodcourt," kataku.

"But I do that all the time," dia bilang.

"I know. Aku juga biasanya gitu, tapi waktu itu nggak tahu kenapa, mau makan sendirian aja di food court Plaza Senayan sampai gentar, nggak berani. Apa karena itu pas weekend ya?"

"Atau mungkin," ini masih dari dia, "mereka ketemuan di mal, cuma buat janjian ngapain, terus pulang dan ngerasa kesepian lagi? Jadi relasi-relasi yang thin gitu. Lepas lagi kalau nggak ketemu."

Mungkin. Aku nggak tahu. Tapi aku cukup bersyukur soal siang ini.

Entah kenapa dia juga lompat ke konklusi ini. "If you can't manage your loneliness, kamu nggak akan jadi orang yang komplit dalam satu hubungan. You are not the sum of its part. Coba, kalau kamu cuma 50%, tambah 50% lagi orang lain, jadi 100%. Tapi kalau 100% ini pecah, kamu bakal jadi 50% lagi kan?"

Kami bicara runtang-runtung.

Dari soal dia yang pesimis akan circle of friends (dia percaya, semakin kita tua, circle of friends semakin mengecil. "But I know lots of people yang circle of friendsnya tambah luas," aku bilang. "Atau mungkin, itu relation by proxy [sic] yang ada karena hubungan profesional, tapi bukan sesuatu yang lasting. I think it's a very Eastern, atau Indonesian concept, that we can be friends with people at work place or those we meet during work. I don't buy that," kata dia), lalu juga soal kebutuhan akan teman baru ("Why would you need one?" kata dia. Lalu aku mengingat-ingat, teman-teman baru yang aku dapat, yang tidak dari perkuliahan atau kerja, cenderung punya kemiripan dari soal selera, ritme hidup, jangkauan emosi, sampai kebiasaan-kebiasaan pengisi waktu. Jadi aku nggak tahu apa sebenarnya yang aku cari, more of the same atau yang lain. Yang aku tahu sih, aku beruntung karena aku tidak sengaja 'mencari'. Upaya yang dilibatkan relatif minim, tapi mereka datang).

Ms Pretty Technician cerita sesuatu yang membuat aku shock. Dia bilang karena status maritalnya yang terbaru sudah mulai menyebar, pria-pria di sekitarnya lalu mulai menawarkan sebuah jasa khusus.

"Nggak pa-pa, kamu kan bakal punya kebutuhan," dia mengutip kata-kata si cowok.

Mungkin seharusnya aku bilang sesuatu, that it was some form of harassment to her. But I didn't. Dan sampai sekarang aku masih terkaget-kaget sama opini dan perkataan yang mampu disampaikan oleh orang. Aku nggak tahu apakah aku terlalu serius menanggapinya karena yang jadi tujuan kata-kata itu cuma menganggap ringan.

Ms Kawaii datang dari Glodok, mencari DVD di akhir pekan. Kebiasaan yang tampaknya juga awam di banyak orang yang aku kenal. Ingatkah soal Nick Hornby yang mencatat di High Fidelity versi buku, bahwa kebanyakan pencari piringan hitam di akhir pekan itu punya ciri-ciri serupa? (Mostly single male, memakai pakaian yang serupa, membawa tas yang serupa untuk mengangkut koleksi yang baru mereka dapatkan)

Mungkin, jika ingin melakukan pencatatan sebanding untuk tulisan Hornby itu di Jakarta, ada para pencari DVD akhir pekan. Tetapi mereka tidak hanya mostly single male, sudah meluas juga ke single female. That we drown our alone-ness with DVDs.

Oh ya, perbincangan kami juga sampai di sindroma Facebook. Aku menyebutnya itu untuk 'penyakit' yang aku rasa ketika melihat betapa komplitnya hidup orang-orang di berbagai halaman situs pertemanan itu.

"Oh, come on, Nari. Situs-situs pertemanan itu, nge-tag, foto, dan sebagainya. That's all vanity. Mereka kan cuma nunjukin kalau mereka itu fine, fabulous, nggak kesepian. Coba deh lihat, foto-foto di Facebook tuh kan cuma kalau nggak gathering, nikahan, kopdar, ketemuan," says Ms Know-It-All, our shrink for the day.

Kesimpulan yang sudah sering diulang oleh banyak orang, tapi mungkin baru sekarang aku benar-benar sadar akan poin itu. Baru terbenam di penalaran.

Ini mengingatkanku akan sesuatu yang dikatakan Robin Williams(?) di One Hour Photo. Bahwa kita tuh nggak akan memotret momen-momen yang menyedihkan. Selalu acara-acara bahagia. Pesta ulang tahun, liburan bersama, tapi nggak ada soal pertengkaran atau perselisihan. Aku sudah lama tidak menonton film itu, tapi sepertinya pernyataan dia itu berhubungan sama kenapa dia begitu hancur waktu keluarga yang diikutinya juga ternyata tidak seideal di foto.

Sama seperti di Facebook. Kita berusaha merangkum momen-momen bahagia itu dan ditunjukkan (tertunjukkan?) ke orang lain.

But anyway, pada akhirnya Ms Know-It-All memberi cerita soal kenapa dia menganggap loneliness is good. "Nih ya, aku punya to-do-list apa yang pengen aku kerjain. Nah pas aku sendiri tuh aku jadi punya waktu ngelakuin semua itu."

Pernyataan sederhana ini kok ya jadi membuatku nyaman.

Dan di masa mood-ku sedang kacau seperti sekarang, aku juga jadi menemukan berkah.  Bahwa ini adalah waktu yang tepat buatku mendengarkan... MORRISSEEEEYYY!

(aku sudah empat kali bolak-balik menghabiskan "Years of Refusal"-nya yang baru itu dan sudah lama aku tidak sebahagia ini soal sebuah album. Membuatku ingin bernyanyi-nyanyi terus. Dan ini baru pertama kalinya aku mendengar Morissey secara utuh. I'll tell you why, next. Oh, right after I edit some articles first)

Oh, something is squeezing my skull
Something I cannot describe
There is no love in modern life

Oh, something is squeezing my skull
Something I can't fight
No true friends in modern life

Diazapam
Valium
Tarmazpam
Lithium
HRT
ECT
How long must I stay on this stuff?

Please don't gimme anymore
Please don't gimme anymore
Please don't gimme anymore
Please don't gimme anymore

(
Something is Squeezing My Skull--"Years of Refusal", Morissey)

Posted at 02:21 pm by i_artharini
Comments (6)  

Saturday, February 21, 2009
Film dan Eskapisme

I was doing my not-as-usual blogwalk when I happen to meet this quotation:

"Saya menyadari bahwa film ternyata kini telah berubah fungsinya menjadi salah satu alat bertahan, survival essentials, untuk seseorang individu. Tidak hanya perempuan, tetapi para lelaki (terutama mereka yang masih lajang dan memiliki banyak waktu untuk dihabiskan sendirian) berupaya mempertahankan kewarasannya di tengah riuh rendahnya hidup hanya dengan bermodalkan stok koleksi dvd di kediamannya. Dengan kata lain, film menjadi sebuah eskapisme dari kerutinan sehari-hari yang mendera, yang kelak menciptakan sebuah renungan tentang hidup."

(dari Blog Dian Sastrowardoyo, entry "
Perempuan dan Film")

My first reaction was: how so accurate. Well, at least in my case.

Aku kenal tuh beberapa perempuan dan lelaki lajang yang, entah motivasinya mempertahankan kewarasan atau apa, tapi mungkin lebih karena eskapisme dari rutinitas sehari-hari, beralih ke DVD.

(Ya kan, Mas Lambe? Dan Mbak Octopus yang lega asal bisa tidur dan nonton DVD? Dan, aku nggak yakin sih, apakah Xat masih melakukan kebiasaan ini, karena dia sekarang lebih sering berada di tengah laut dan kenyataan yang dia hadapi sekarang tidak selajang saat kami masih bekerja bersama )

Sejak hampir setahun terakhir, seminggu sekali aku mengisi halaman resensi di media tempatku bekerja. Film, musik, buku. Lebih seringnya film dan musik sih, karena sejujurnya, sudah beberapa bulan aku kehilangan selera membaca. Nama halamannya pun menandai pelarian itu, Eskapisme.

So it was only fitting that I watch movies. Although, not as much as I want it to be.

Yang aku cemaskan sekarang, kok makin lama kenyataanku itu jadi tidak terpisah sama yang aku tonton lewat kotak kaca, atau lewat layar lebar ya? Dari seharusnya menjadi sebuah eskapisme, sekarang malah jadi merasa itu tempat tujuan sebenarnya. Dan kenyataan yang saya hadapi sehari-hari, itu malah yang fantasi.

Pada suatu masa, saat sedang menaiki kendaraan umum di sepanjang Sudirman yang kosong, aku sampai di kesimpulan: mungkin hidupku bisa jadi lebih sederhana kalau aku tidak menonton film. Aku tidak akan tahu soal area abu-abu, beragam gradasi emosi yang mampu membuat manusia jadi ini atau itu, tidak akan ada dramatisasi yang berbuah kerumitan. Bahwa  satu-satunya 'kenyataan' atau emosi yang saya lihat dan rasakan ya...berdasar atas kejadian-kejadian yang sudah saya alami. Bukan karena saya melihatnya lewat sebuah film.

Aku menyampaikan pemikiran ini ke Ccr. "Jangan-jangan hidupku bakalan lebih simpel, nggak ribet, kalau aku nggak nonton banyak film ya?"

Dan dia mengangguk pasti, mantap.

Mungkin karena waktu itu dia belum menonton film yang cukup. Tapi sekarang, dia juga kena sama film. Dia juga memproyeksikan kehidupan atau alternatifnya, keputusan, karakter, kemungkinan 'ending' dari keputusan yang dia ambil, pada sebuah film. Sepertinya sekarang dia malah lebih rajin menonton. Kalau dia sudah menonton film yang belum aku tonton, aku akan terpacu menonton film itu.

Percakapan acak dengan mbak Octopus membuat kita saling bertanya. "Apakah kamu juga memproyeksikan kenyataan atau mencocok-cocokkan atau mengasosiasikan hidup pada satu film?"

(Pertanyaan aslinya tentu tak seformal itu, tapi intinya tetap sama)

Kami sama-sama menjawab iya. Dan belum terlalu lama lalu kami menyadari bahwa film bukanlah cantolan yang bisa diandalkan untuk berbagai macam keputusan yang kami ambil di kehidupan nyata.

Kami juga saling bertanya, kapan kamu menyadari hal itu, bahwa film bukan sandaran berarti buat pilihan-pilihan hidup?

Aku lupa jawaban dia (apa ya mbak Octopus? Cinema Paradiso?), tapi buatku, jawabannya itu waktu nonton Jomblo. Waktu karakternya si Ringgo Agus Rahman itu, saat dia memilih si pacar utamanya daripada selingkuhannya yang digambarkan lebih pas buat dia? It's not like he was married to her.

Dari situ aku baru melek, bahwa bisa lho mempertanyakan apa yang terjadi di layar. Bahwa, bisa juga lho, pikirannya nggak sejalan sama si narator. Haha, cemen banget ya? Dan, setelah sekian lama, pencerahannya baru itu?

But anyway, setelah pencerahan itu terjadi, sekarang kok aku malah kembali ke kemenyatuan antara yang fantasi dan yang realita. Jadi sulit dipilah lagi. Membaca ulang beberapa posting terakhir di sini, jadi semakin minim realita manusia-nya (atau manusia nyata-nya), dan lebih banyak soal dunia dan manusia dalam kotak kaca.

Beberapa waktu lalu aku juga menemukan sebuah kutipan. Sekarang aku malah sudah lupa siapa yang bilang dan di mana aku menemukannya. Sepertinya itu antara di sampul belakang sebuah buku yang aku lihat di toko buku, atau sebuah blog. Dalam bahasa Inggris. Katanya, semakin kita tua, semakin kita tidak bisa memisahkan antara hidup kita dan apa yang kita tonton. Benarkah begitu? Kalau iya, apakah ini yang sedang terjadi?

Pauline Kael juga pernah bilang (dan ini aku ingat ada di bagian awal buku berjudul Movie Love in the Fifties) pada sebuah wawancara. Si pewawancara bilang, "When I go to a movie, I feel lost." Dan Kael menjawab, "I feel as if I am found."

Sebuah sesi seminar kritik film dalam Jiffest lalu menghadirkan peresensi untuk majalah Variety bernama Russel Edwards. Aku ada di sana dan mencatat pernyataan-pernyataannya karena..aku nggak tahu tanggung jawab apa yang datang bersama 'pekerjaan' ini.

Kata-kata Edwards yang paling relevan untuk tulisan ini, mungkin soal bahwa meresensi film adalah sebuah pekerjaan yang soliter. "We sit in the dark, paying attention to the screen, it's not exactly a sociable [sic?] job," kata dia.

I'm not ready to call what I do as a job yet. Not if compared to what he's done as a reviewer. At best, I would call what I do a part-time reviewer and full time editor. But I am already starting to feel that solitary type of life.

Mungkin bukan juga karena konsekuensi sebuah tugas, tapi bisa juga karena aku lebih memilih untuk menyelami realita dengan menekan tombol play, daripada bergaul secara 'normal'. Tapi pernah dengar kan soal riset bahwa mereka yang menghabiskan waktu lebih lama di depan televisi adalah mereka yang tidak bahagia?

I am tempted to count that as some sort of answer.

Film juga sepertinya, secara bersamaan, terlalu sederhana untuk jadi bagian dari solusi dan terlalu indah dan kompleks untuk cuma jadi obat ketidakbahagiaan.

So why is it I found myself more alone, and deeper in the fantasy realm? So deep that I could not separate this world and that of optical 'illussion'?

Posted at 02:30 pm by i_artharini
Comments (4)  

Wednesday, February 18, 2009
Hot, Hot, Heat

Rabu Trivia.

Saat baru tiba di IMDB, aku langsung melihat pertanyaan ini: "Do you know that Robert Downey Jr. turned down the role in this classic romantic comedy? (Answer)"

Klik.

Jawabannya: yeah, Say Anything aja lho.

Hah, film yang mendasari karir film John Cusack (semua peran yang ia perankan selanjutnya kan hanya variasi dari Lloyd Dobler bukan? Sama kayak...Diane Keaton yang sering memerankan berbagai variasi karakter Annie Hall begitu? Oh is this the fate that would befall Michael Cera?) pernah hampir dimainkan sama Robert Downey? Film yang membuat John Cusack, sampai hari ini, still gets laid on a daily basis itu hampir jatuh ke Robert Downey?

*Lagi membayangkan Robert Downey sebagai the good man that is Lloyd Dobler*

("I gave her my heart and she gave me a pen!")

Ya, nggak masalah juga sih. I love them both.

Anyway.

Tadi malam baru nonton Defiance. Yang seharusnya ditonton serius, aku malah lebih sibuk menghitung pro dan kontra untuk karakter Daniel Craig dan Liev Schreiber. Kadang-kadang juga, Jamie Bell. I can't decide which one's hotter.

Daniel Craig, whoaa, he's the best kisser kayaknya.
Liev Schreiber, hot, in a boring kind of way. Walaupun poin totalnya tiba-tiba naik drastis di akhir film. He's such a DILF!

(DILF= tahu kepanjangan MILF kan? Nah, D-nya for Dad :D)

(satu lagi catatan nggak penting dari Defiance. Waktu melihat karakter Bella, kok kayak ingat, pernah lihat di mana ya? Sampai akhirnya karakter Bella dan Zus-nya Liev ngomong berdua. Hah, ini kan...si Iben Hjejle yang jadi pacarnya John Cusack, Laura, di High Fidelity. Kok jadi suram banget ya wajahnya? Well, okay, dia jadi korban buruan sih..)

Waktu itu Ccr pernah datang ke mejaku dengan pengumuman: "Eh gue barusan nonton The Darjeeling Limited."

"Ah-ha."

"Coba, Nar. Di antara tiga bersaudara itu, lo pilih yang mana?"

"Hmm."

Sejujurnya, pas nonton film itu aku nggak kepikiran sama sekali untuk melakukan apa yang aku lakukan waktu nonton Defiance. Setelah ditanya itu oleh Ccr, baru deh berpikir. Mungkin karena lebih terhanyut sama ceritanya ya?

"Hmm, kayaknya karakter yang adiknya deh. Yang bungsu."

"AH, ITU TUH. Dia tipe cowok pendek yang hot gitu kan?"

Aku bertanya-tanya: emm, emang tipe kayak gitu ada ya? Kok aku nggak pernah dengar?

"Err, bukan itu sih sebenarnya. Kalau si Owen Wilson, terlalu egosentris, terus yang Adrien Brody, karakter istrinya lagi hamil. Kan gue bisa merasa berdosa milih dia. Kalau yang adiknya kan, dia masih terombang-ambing, nggak bisa ngelupain ceweknya, tapi terus engage in a passionate kiss with another woman untuk ngelupain atau kabur atau mulai sesuatu yang baru. Nggak tahu yang dia mau. Emotional mess lah pokoknya. Cowok-cowok yang emosinya berantakan, yang nggak tahu maunya apa, nah that's hot. Dan suka nulis."

Permainan ini juga bisa diterapkan buat tontonan yang sebenarnya cuma biasa-biasa saja, atau malah nggak penting, tapi terpaksa nonton. Kaya apa ya? Oh, Brothers & Sisters.

Adikku suka sekali nonton itu, tapi aku nggak ngerti apa yang membuat dia kecantol. Hamparan emosinya datar, isu-isu yang mereka angkat juga nggak aku anggap penting (walaupun isu yang sama di serial atau tontonan lain bisa membuat aku terpaku), ya mungkin karena aku nggak bersimpati sama satu pun karakternya.

Sally Field sebagai ibu yang diselingkuhi kan seharusnya bisa jadi poin kuat pembangkit simpati, tapi ternyata enggak. Ingatan akan "You loved me, you really really loved me" jadi terlalu mengganggu. I like perky, but I can't take her perkiness.

Lalu Calista Flockhart yang aku sukai di Ally McBeal, ternyata sekarang masih whining soal hal yang sama lagi di Brothers & Sisters. Aku cuma punya kuota buat satu whiny character yang setia aku ikuti, dan sekarang, kuota itu terisi oleh Meredith Grey.

Hmm, Rachel Griffiths. Aku lebih suka waktu dia sinis, mabuk, berpesta dengan dua pelaut sekaligus, dan kena kanker. Aku sudah bersiap-siap suka sama Balthazar Getty, tapi keburu dengar skandal Sienna Miller, haha.

"Iya sih," kata adikku, "mereka kan keluarga kaya yang bisa membuat orang nggak peduli sama masalah mereka."

Atau ya mungkin itu, karakter mereka kaya.

Sampai akhirnya, itu waktu episode apa ya, yang mereka semua berkumpul di akhir, mengelilingi pohon Natal kalau nggak salah. Yang pas adik bungsunya dikasih tenggat waktu agak longgar sebelum balik ke Afghanistan. Nah, baru deh aku ngerti apa daya tarik sebenarnya serial ini.

"To decide which brother is hotter," aku bilang sama adikku.

Dan dia cuma mengangguk-angguk sambil senyum-senyum. "Yeah, yeah," kata dia.

Posted at 10:45 am by i_artharini
Comments (3)  

Saturday, February 14, 2009
Mahluk-mahluk itu...

Sudah menjelang jam pulang, eh ada berita yang harus dikejar. Ya sudah, menunggu dulu. Sambil menunggu laporan, aku jadi ingat sesuatu.

Berita soal kebakaran Victoria yang meluas itu kan sampai memakan korban keragaman genetik beberapa spesies di Australia. Di MI edisi kemarin (13/2) ada kalimat yang membuatku sampai ingin menangis deh. "Bencana kebakaran tersebut sudah memakan korban lebih dari 180 orang. Jumlah yang lebih besar lagi diperkirakan terjadi pada para hewan yang tidak bisa menyelamatkan diri, seperti kanguru, koala, wombat, dan berbagai jenis reptil."

Dan dengan fotonya si koala Sam yang jadi korban kebakaran itu, tangan dan kakinya semua dibebat perban, hiks, benar-benar mengiris hati. Ceritanya Sam sekarang punya rekan sepenanggungan korban kebakaran. Namanya Bob.

Dalam berita yang sama ditulis, "Bob terus memeluk dan menenangkan Sam. Mereka terlihat sangat bersahabat," tutur Jenny Shaw, petugas kantor perlindungan hewan liar di Rawson, Victoria, kepada AFP, kemarin."

Mataku sampai berair membayangkannya. Apalagi membayangkan Sam bisa sampai menghabiskan dua botol air mineral saking kehausannya karena terjebak di hutan kebakaran (ada video YouTube-nya di suatu tempat, pasti mudah dicari kok).

Pas kemarin berangkat ke Pacific Place, di depan mobil kita ada tiga truk berjejer. Masing-masing truk isinya tiga atau empat ekor sapi. Tidak diikat pakai tiang bambu dan tali-temali. Pokoknya berdiri saja.

Satu kali, truk yang di depan kami berhenti mendadak. Sapi-sapinya di dalam kaget dan oleng berdirinya sampai hampir jatuh. Duh, nggak tega gitu melihat mata-mata bulat itu memandang ke arah kita.

Apalagi selepas pintu tol, ada tanjakan cukup tinggi dan turunan untuk masuk ke tol dalam kota. Waaa, aku langsung tutup mata, nggak berani membayangkan atau melihat. Ada untungnya juga pengemudi dari kantor bergegas (dengan berbahaya) menyalip truk-truk sapi itu.

Nah, selanjutnya, tadi barusan nih. Di Trans 7 ada acara judulnya "Petualangan Liar" (no pun intended) kalau nggak salah. Atau "Petualangan Alam Liar", atau sebangsanya.

Ceritanya nggak jelas di mana, tapi ada seekor tapir yang terperosok ke lubang penuh lumpur. Nggak tahu di dalam lubang itu ada apa, cuma kaki si tapir itu sampai luka besar. Hiks. Hiks. Mataku jadi kembali berair.

Ternyata bukan cuma aku lho. Si mas-mas tim Petualangan yang ikut menyelamatkan saja terlihat menghapus air mata, walaupun agak sembunyi-sembunyi gesturnya. Sampai dua jam, kata si pembawa acara, mereka berusaha mengeluarkan tapir itu dari lubang lumpur.

Kembali ke meja dan membaca Detik.com, ada paus yang terdampar di Parang Kusumo dan sudah mati.

*ffiuuh*

Yang lebih strike a personal chord sih sebenarnya terjadi beberapa hari lalu. Sudah di rumah, sudah jajan sekoteng di malam yang dingin dan berangin kencang, lagi sibuk mengagumi Eric Bana dan Brad Pitt di Troy, terus kedengaran suara motor lewat.

Selanjutnya, ada kaingkaingkaingkainggauwgauwkgauwkgauwkkaiiiiiiiiinnnggggauwk yang membuatku dengan hati deg-degan, cemas, takut, kaget, berlari ke luar. Apa ketabrak atau dipukul orang.

Ternyata mahluk yang dimaksud lagi ada di taman dengan dua tangan menancap di kasa-kasa kawat, berusaha melepaskan diri. Aku  berusaha keluar, tapi ternyata pintu 'sangkar burung' itu sudah dikunci. Balik lagi ke pintu sebelumnya, mencabut kunci, baru membuka.

Mendekati si mahluk yang masih teriak-teriak sekeras-kerasnya, berusaha melepaskan dia. Aku pegang punggungnya, dan dia yang kesakitan berusaha menggigit. Si putih ikut-ikutan naik ke punggungnya si mahluk konyol itu, dan ibuku yang sudah ikut keluar membantu dari dalam, menarik kawat itu ke dalam, biar tangannya tidak tertancap lagi.

Hah, akhirnya bisa.

Baru setelah lepas, dan si bodoh itu diam, aku merasa lututku lemas.

Yang terjadi berikutnya adalah kita saling bertanya, "Gimana bisa? Emang dia ada di mana? Kok bisa keluar? Sebenernya dia kenapa?"

Kalau soal sebenarnya kenapa, kayaknya sih dia berusaha keluar lewat kisi-kisi pagar atau berusaha masuk tapi tangannya tersangkut di kawat kasa dan nggak tahu cara melepaskan diri. Dan panik, dan kesakitan, dan lupa menarik tangannya, atau sesuatu seperti itu.

Aku lupa apa si konyol itu sempat ikut ke luar waktu kita membayar Bapak Sekoteng  terus lupa dimasukkan lagi. Bagian itu yang paling aku nggak ingat. But anyway, it happens. And it's over. Tidak ada yang terluka berdarah atau semacamnya.

Setelah kita saling membahas sih pangkalnya sepertinya adalah kebodohan si mahluk. Sebenarnya bukan problem yang 'sulit' untuk dia bisa melepaskan diri sendiri, tapi ya...kecerdasan yang terbatas membuat dia berteriak-teriak panik.

"Duh, sampai tetangga-tetangga pada keluar. Ma pikir dia tuh dipukulin orang lho," kata ibuku.

"Aku malah mikir dia ditabrak motor. Abis tadi kedengeran bunyi motor lewat, baru dia teriak-teriak."

Hati dan perut kita sudah pada berjatuhan ke tanah, lutut sudah pada lemas semua, eh ternyata cuman tangan yang terselip di kawat.

Huaaaaaaaa, jadi ingin cepat pulang dan mengelus-elus.

(Jadi teringat cerita dari Ms.Know-It-All yang pernah bilang soal alasannya lebih memilih terlibat dalam animal cause daripada human cause. Save the whale, dolphins, orangutans, gorilla, panda, dia jadi daftar penyumbangnya, daripada soal homeless atau anak-anak putus sekolah atau soal riset HIV/AIDS. Alasannya, "because animals can't help themselves". Oh, oh, Sam...)


Posted at 07:27 pm by i_artharini
Comment (1)  

Daftar

Satu hal lagi sebenarnya yang kemarin aku temukan di ak.sa.ra.

Ada tiga buku, kosong, kecuali bagian paling atasnya, dan ilustrasi-ilustrasi indah di kirinya. Judulnya Listography. Ada yang temanya khusus buat hidup, ada yang buat love life ("Your Love Life in Lists", katanya) dan ada yang buat anak-anak.

Kategorinya lucu-lucu. List of places where your first kisses happened, atau List of places that you want to visit, List of cities you have visited, hal-hal seperti itulah. Harganya mahal banget. 150an ribu atau 200 ribu gitu.

Nah, tapi, di dalamnya ada alamat website-nya. Jadi aku pergi ke situ dan menemukan mereka punya layanan gratis untuk membuat daftar-daftar itu. Just for fun.

So, lovers of High Fidelity, go mad!

Posted at 06:41 pm by i_artharini
Make a comment  

Gumaman Valentine

Hal pertama yang aku sadari waktu bersiap menuju kantor hari ini adalah sinar matahari yang sangat terang. Anginnya kencang sekali, tapi.

Jadi tampaknya tidak ada Valentine sepi dengan berdingin-dingin. Di sini, het is zomer! Dari mulai keterangan cahaya sampai bau udara, sampai menyipitkan mata untuk bisa melihat ke depan, dan keinginan untuk berteduh di sepanjang jalan, this is summer 2002 alright, when we're having heatwave, Vondelpark is a must, and Kelis' Milkshake were still all the rage.

Seusai makan siang, sudah kembali di depan komputer dan kembali dengan kesibukan menyunting kata. Senjata utamanya, tombol shift, panah arah (bisa kanan atau bawah) dan backspace. Oh ya, ada eliksir para dewa juga yang jadi teman. Wujudnya, susu kalengan Bear Brand dengan rasa malt putih yang diseruput pakai sedotan Aqua, biar tidak cepat habis. Mahal, porsinya kecil, dan enak. Banget.

Sambil mengetik, aku melihat kuku yang ternyata cat ungu muda metaliknya sudah pecah-pecah. Berdiri dari kubikel dan melihat sosok Jer yang, walaupun tanpa kacamata, sudah aku lihat lagi senyum-senyum.

"Oh iya ya," kata dia. "Hari ini kan Valentine."
"Huh?"
"Pantesan. Baju lo."

Oh crap. Tanpa sadar aku memakai baju, bukan pink, tapi magenta. Tapi buat mereka yang suka mensimplifikasi (i.e., Jer), ini cukup memenuhi syarat untuk jadi pink.

Kantor ternyata isinya cowok semua. Pantesan dari tadi kok susah mencari rekan bergosip.

Well, enggak juga sih. Jer bolak-balik datang ke meja dan berbagi pengalaman atau pertanyaan sambil aku menyunting soal perampokan taksi dan kelayapan di dunia maya. Facebook, terutama.

You know, aku seharusnya sudah cukup dewasa untuk menghadapi sebuah piranti, tapi ternyata belum. Ya, Facebook itu yang aku maksud. Bisa sampai geregetan dan iri sama pameran kehidupan orang yang terpampang di situ.

Jadi ingin ini, ingin itu. Ke sini, ke situ. Terintimidasi sama yang sudah ke sini, ke situ. Melakukan ini, itu. Wina, Venezia, Roma, Berlin, Turki, New York, atau Washington.

(Hey, I'm not a stalker. You know a little thing called 'notification' everytime you posted a photo album? Yeah, it lets me know that there's a new album posted. And, of course, because those are my dream destinations too, so it is only natural that I clicked and browse through them)

So much so irinya, waktu kemarin-kemarin mengisi pertanyaan "why are you interested to ...etc, etc,", jawaban pertama yang ada di kepalaku adalah: biar saya bisa punya album foto baru di Facebook yang lokasinya membuat orang iri.

Yah, benar-benar sangat dewasa.

(Hmm. Mungkin Facebook sebenarnya bisa jadi alat yang tepat untuk menumbuhkan motivasi buat slacker seperti saya, ya?)

But, anyway.

Ada juga teman-teman yang sudah menikah, akan menikah, sedang hamil, sedang mendekati hari melahirkannya, dan saya berpikir, kok mereka terlihat begitu normal ya?

Oke, kadang 'normal' bukan satu kata sifat bermakna positif buatku, tapi kali ini dan hari ini, kok rasanya menyenangkan untuk jadi 'normal'.

Kemarin malam juga, waktu jalan-jalan di Pacific Place (ikut Ccr, Sic, dan * yang rencananya akan liputan tapi ternyata sudah telat, dan aku ikut biar bisa makan di satu tempat karena rumah kosong dan pastinya tidak ada makanan), aku melihat tiga pasang laki dan perempuan seusiaku sedang menunggu lift datang menjemput.

Satu mbak-mbaknya sudah hamil. Sepasang lain, seorang mas yang menenteng tas laptop, mengenakan kemeja lengan pendek motif garis-garis tipis dan celana jins. Mbak-mbaknya mengaitkan telapak tangan ke tangan si mas yang dikacakkan di pinggang. Si mbak memakai baju kantoran, kemeja dan rok. Rambutnya dikuncir biasa. Pasangan satunya lagi, aku lupa.

Aku ingat pada saat itulah aku bilang dalam hati: such picture of normalcy that I long for. Orang-orang ini pasti punya akun Facebook. Dan kehidupan sosial yang mereka tampilkan di sana juga pasti sama sehatnya dengan kehidupan sosial karakter-karakter di film-film Woody Allen. Penuh pesta atau dinner parties, well setidaknya jadwal ketemuan di mal.

Pada mas-mas yang membawa tas laptop, aku berkomentar (dalam hati): Si mas ini dulu kan ya pernah SD ya. Sama kayak aku atau anak-anak temannya bapakku, yang sekarang bergantian mengirim undangan pernikahan ke rumah. Where did I went wrong and he went right? Or they went right? 

Yang cepat datangnya, juga cepat hilangnya.

Lift kami datang, dan mereka langsung hilang dari pandangan. Dan pikiran. Sampai akhirnya muncul sekarang.

Di ak.sa.ra, Ccr menyorongkan sebuah buku. Judulnya, "It's Just a Date: How to Get 'Em, How to Read 'Em, And How to Rock 'Em". (Aku nggak sempat lihat nama pengarangnya, tapi ternyata ini buku karangan Greg Behrendt-nya "He's Just Not That Into You")

"Nih, Nar."

"Haha." (setengah hati)

(But I did see a Woody Allen DVD box yang membuatku melambung excited, tapi terus menciut melihat harganya)

Arrghh, ini apaan sih? Pre atau post Valentine depression?


Posted at 05:20 pm by i_artharini
Comments (4)  

Previous Page Next Page