PENARI MUNGIL


(Saya bukan seorang penari. Pun sangat jauh dari mungil. Tapi, tahu kan adegan 'Tiny Dancer' di 'Almost Famous'? Sensasi membahagiakan dari adegan itulah yang saya kejar..)



Hold me closer, tiny dancer

Count the headlights on the highway

Lay me down in sheets of linen

You had a busy day, today


("Tiny Dancer" - Elton John)





"...the quest for transcendence has always been closely linked to the ecstatic release of dancing."
(Resensi RollingStone atas sebuah album pop)

Mr. Darcy: "So what do you recommend, to encourage affection?"
Elizabeth Bennet: "Dancing, even if one's partner is only tolerable."
(Pride & Prejudice, 2005)


perempuan, 1983, lovesick soul, berjalan kaki, belajar menulis, menonton film, ingin keliling dunia, Billie Holliday, Jane Austen, 'Franny and Zooey', cerita pendek F Scott Fitzgerald, lagu-lagu sedih, kecanduan membeli buku second, deretan buku di lemari, berkeliling dengan bis kota, mengepak koper, menari bebas, Vogue, sepatu, bad boys, kopi, kuliner, foto, semua yang vintage, genggaman tangan, pelukan hangat, detil percakapan antara manusia, kegelisahan, kesepian, ruang pencarian, belajar dewasa, museum dan bangunan tua, hari hujan, sinar matahari hangat di hari berangin, airport, stasiun kereta, dan pertanyaan tanpa akhir

YM: isyana_artharini
Email: i.artharini@gmail.com
   

<< May 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05 06
07 08 09 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Thursday, April 27, 2006
Satrapi, Satrapi

Tadi siang, sebelum ke kantor, memutuskan untuk mampir di Gramedia Matraman. Maksudnya cuma mau ngeliat, 'Bordir', novel grafisnya Marjane Satrapi yang katanya udah diterjemahin itu udah ada belum di sana. Dan ternyata ada.

Pokoknya harus langsung beli. Apa pun untuk Satrapi. Graphic novelist asal Iran ini udah membuat aku terpukau sejak pertama kali mbaca terjemahan 'Persepolis' yang diterbitin sama Resist Book. Ceritanya sebenarnya sederhana, tentang masa kecilnya, keluarganya, tapi keluarga Satrapi sendiri adalah keluarga yang menarik; liberal, modern, berasal dari kalangan menengah ke atas yang terpelajar, dan terpaksa berhubungan dengan keseharian Iran yang pemerintahannya dikuasai para mullah. Bisa membayangkan nggak, ibunya Satrapi adalah penggemar berat Simone de Beauvoir, berhadapan dengan situasi sosial politik Iran yang saat itu, pada awal-awalnya tidak kondusif terhadap perempuan?

Situasi-situasi yang sulit dan/atau tragis, ia gambarkan dengan sederhana, tapi tetap witty dan tidak dangkal.

Anyway, minggu ini, aku punya dua pahlawan perempuan baru, Woolf dan Satrapi.

Pas mau mbayar pake debet Mandiri, ternyata nggak bisa, minimal harus Rp 50 ribu. "Tapi biasanya bisa kok mbak nggak harus 50 ribu," aku lagi ngeyel.
"Oh, itu kalo BCA mbak.."
"Oke, pake BCA deh."

Rada deg-degan juga sih, soalnya saldo di BCA tinggal 59 ribu. Tapi untungnya bisa. Btw, salah satu alasan aku beli 'Bordir'/'Embroideries' ini demi mengakali daftar bacaan yang harus selesai bulan ini. Sebenernya aku berharap selesai Woolf's A Writer Diary weekend lalu, tapi ternyata nggak...Dan karena ini novel grafis, jadi terpenuhilah bacaan bulan ini, hahahaha. Yah, nggak juga sih, masih kurang satu lagi sebenernya...

Hmm, mbaca karya-karyanya Satrapi jadi teringat sama apa yang terjadi di sekitarku saat ini, bagaimana konservatisme jadi sebuah tindakan yang anarkis. Belum lagi RUU APP yang meresahkan itu. Duh, apakah akhirnya kita akan jadi seperti Iran?


Posted at 11:44 pm by i_artharini
Comment (1)  

Doa

"....I mention this because I was talking to a rather pompous Orientalist over the weekend, and at one point, during a very deep, metaphysical lull in the conversation, I told him I had a little brother who once got over an unhappy love affair by trying to translate the Mundaka Upanishad into classical Greek. (He laughed uproariously--you know the way Orientalists laugh.)"

('Franny and Zooey' - JD Salinger)

Dan ini yang aku minta dalam doaku akhir-akhir ini; semoga, suatu saat, aku kembali merasakan patah hati, sehingga punya cukup energi untuk memulai 'Ulysses'.

Posted at 10:45 pm by i_artharini
Make a comment  

Tuesday, April 25, 2006
Jane Austen lewat Budi Darma

Sejak membaca profilnya Budi Darma di bagian belakang 'Orang-orang Bloomington' dan mengetahui ia pernah menulis disertasi tentang karakter dan penilaian moral atas novel-novel Jane Austen, aku selalu ingin tahu, bagaimana penulis satu itu melihat sosok Austen. Dan bagaimana karya-karya Austen mempengaruhi karya-karyanya sendiri.

Maksudnya, Queen of Romantic Comedy dan seorang maestro absurditas? I failed to see the connection.

Aku cukup kaget mengetahui ternyata ada seorang laki-laki yang suka membaca, setidaknya cukup suka sehingga menganalisa tentang, Jane Austen. Dan ketika laki-laki itu adalah sosok penulis yang aku kagumi, rasa penasaran tentang pengaruh Austen pada Budi Darma makin tinggi.

I'm a big Austen fan. I'm a romantic girl at heart. Dan Austen, benar-benar menangkap semangat romantis itu, tanpa membubuhkan emosi yang meledak-ledak. Cinta pun bisa makes sense, atau harus makes sense.

Buat banyak lelaki, mungkin karakter-karakter perempuan dalam novel-novel Jane Austen hanya dilihat sebagai pengejar pria untuk dijadikan suami. Tapi budaya masa itu memang...ah, well, tak usah diperpanjang lah.

Anyway, salah satu milis yang aku ikuti ternyata memberitahukan bahwa hari ini adalah hari ulang tahun Budi Darma yang ke-69. Mereka lalu menawarkan, siapa nih yang mau ikut mengucapkan selamat.

Aduh, ini kesempatanku satu-satunya. Setidaknya begitu menurutku. Dan, voila,

Selamat Ulang Tahun, Pak Budi Darma!

Semoga selalu diberkahi dengan kesehatan agar bisa terus menulis. Saya
belum pernah bertemu sama sekali dengan bapak, dan saya malu mengakui
sebenarnya, bahwa saya baru membaca karya bapak baru-baru ini. Dan
saya rasa, sama seperti orang-orang yang juga ikut mengirim ucapan
selamat ini, saya mengagumi tulisan-tulisan bapak. Tapi saya punya
pertanyaan untuk bapak, yang entah bagaimana akan terjawab, tentang
Jane Austen.

Ada 2 cerpen dalam 'Orang-orang Bloomington' yang menyebut nama
Willoughby dan Brandon, lalu Lydia Wickham dan Harriet Smith;
nama-nama karakter dalam novel-novel Jane Austen. Dan bapak juga
pernah menulis disertasi tentang karakter dan penilaian atas moral
dalam novel-novel Austen. Bagaimana sebenarnya Jane Austen berpengaruh
pada karya bapak?

Saya memang belum pernah bertemu dengan semua orang di dunia, tapi
saya amat sangat jarang menemukan seorang laki-laki yang membaca Jane
Austen :)

Terimakasih sebelumnya, Pak. Sekali lagi, selamat ulang tahun!

Moderator milis tersebut memang menyelipkan ucapan selamat ulang tahunku bersama ucapan dari yang lain. Tetapi ia kemudian menambahkan, bahwa ia juga menanyakan pertanyaan yang sama pada Budi Darma, dan hasil wawancara itu akan tampil di suplemen Ruang Baca Koran Tempo, edisi Minggu (30/4).

Wuaaa...

Pertanyaanku itu akhirnya bakal kejawab. Huks, aku jadi deg-degan banget deh nunggu hari Minggu nanti...

Hihihihihihihihihi. (Cannot stop giggling)

Posted at 10:40 pm by i_artharini
Make a comment  

Monday, April 24, 2006
Satu Lagi Tentang Sabtu

Satu lagi Sabtu yang sempurna buat aku.

Pagi: Inacraft
Pergi bertiga tanpa Ayah, macet berat, jalan-jalan hanya di satu hall, padat orang, barang-barang indah (let's say: imajinasi akan hari pernikahanku sekarang semakin lengkap dengan kebaya yang akan aku pakai :D), tidak membeli apa-apa. And, oh yeah, great lunch!

Sore: Bowling
Masih bertiga. Tempatnya enak, sepi pas kita dateng. Had several strikes, tapi anehnya...begitu strike, langsung nggak sukses lagi. End up being the loser of the afternoon. I got my ass kicked by my mom! (Well, anyway, tell me something new...)

Malam: Ronggeng di TUK
Akhirnyaa...
Jumat malemnya ditolak masuk gara-gara dateng baru jam 08.15, dan katanya nggak bisa masuk gara-gara 'panggungnya' pas di depan pintu. Yeah, right! Besoknya, sampai jam 08.30 aja masih bisa pada nyelusup masuk. Dan nggak bener tuh 'panggungnya' pas di depan pintu. Banyak yang nggak aku ngertiin dari kata-kata yang dinyanyiin, tapi..it was fun.

Perfect day.

THE END.

Posted at 09:27 pm by i_artharini
Make a comment  

Poster Boy

Ada seorang penulis di kantorku yang tidak bisa tidak menampilkan wajahnya dalam ukuran cukup signifikan pada poster-poster buku yang akan diluncurkannya. Setidaknya, pada dua buku terakhirnya.

Poster pertama peluncuran bukunya yang aku lihat, 3/4nya didominasi oleh foto dirinya, berpose telanjang dada. Sekarang, poster kedua peluncuran bukunya--buku yang berbeda--tentang Chairil Anwar, menampilkan foto Chairil Anwar, dan fotonya sendiri. Seakan hampir berhadapan.

Duh, walaupun itu bukumu, tapi bukunya tentang Chairil kan?
Bukan tentangmu kan?

Anyway, who am I to judge. Tapi, pas pertama kali ngeliat posternya, reaksi pertamaku, "Ah, sooo typical of him."

(Btw, ada yang pernah lihat seorang penulis begitu bersemangat memampangkan wajahnya dimana-mana? Aku, nggak pernah. Makanya itu, jadi ngerasa rada aneh melihat yang satu ini.)

Posted at 08:21 pm by i_artharini
Make a comment  

Sunday, April 23, 2006
Mengintip Keseharian Virginia

Aku sekarang tak lagi takut dengan Virginia Woolf. Aku jatuh cinta dengannya. Aku menilainya sebagai orang yang menyenangkan ketika berbicara tentang buku. Ia memang sosok yang nyinyir ketika berbicara tentang orang-orang di sekitarnya. Tapi aku merasa tak lagi takut membaca tulisan-tulisannya.

Pasalnya, beberapa hari ini aku sedang mencuri-curi baca buku hariannya. Buku itu memang milikku, tapi tetap saja, aku merasa mencuri milik seseorang; rekaman tentang kehidupan kesehariannya. Leonard memang membatasi isi buku harian yang ditunjukkan di buku itu. Hanya tentang proses-proses kepenulisan, berlatih menulis, buku yang rencananya akan ia tulis, esai-esai yang ditulisnya, proses penelitiannya, etc.

Membaca tentang keseharian Virginia membuatku merasa lega. Seorang Virginia Woolf pun memiliki keengganan untuk mulai membaca 'Ulysses' karya Joyce. Lalu ia menulis, baru sekaranglah, pada usia 38 ia bisa mengerti bagaimana otaknya bekerja dan tidak merasa cemas ketika mengalami writer's block. Sampai pada kecemasan-kecemasannya tentang hal yang, kalau terjadi padaku, akan aku anggap sepele, walaupun tetap akan diributkan; seperti tidak teraturnya ia mengisi buku hariannya.

Dan aku merasa lega, seorang Virginia pun akan merasa hancur bila tulisannya tak diterima oleh teman-temannya di komunitas Bloomsbury. Virginia yang mengkhawatirkan resensi-resensi tentang bukunya; walaupun akhirnya ia tetap bersemangat ketika mendapat resensi buruk tapi menerima pujian dari karibnya, Lytton Strachey.

Ada banyak ide tentang mendesain kerangka sebuah novel dalam buku hariannya itu. Dan tentang ide, Virginia adalah sosok yang tepat untuk memberi masukan. Salah satu kekuatan Virginia, menurutku lewat buku harian itu, adalah bentuk. Ia merancang dengan detil bentuk-bentuk tulisan yang akan ditulisnya. Ia berbicara tentang bentuk jauh lebih banyak daripada tentang karakter atau dialog atau setting.

Dan tidak ada keraguan lagi akan kecerdasannya, akan kecintaannya pada kata-kata dan hal-hal detil yang ia lihat sehari-hari, pada bacaan dan sastra yang tak terentang waktu, dan akan menulis.

Ia beristirahat dari menulis novelnya dengan menulis; cerita-cerita kecil atau buku harian atau esai tentang buku. Ini mungkin akan menjadi buku Virginia Woolf pertama yang bisa aku selesaikan. Dari sini, mungkin bisa mulai Mrs D lagi dari awal untuk keempat atau lima kalinya (sebelumnya tak pernah selesai), dan Orlando. 

Ah, aku sedang tidak kehabisan pujian untuk perempuan satu ini.

(Btw, Selamat Hari Kartini!)   

Posted at 08:30 pm by i_artharini
Make a comment  

Pharrel

Daaaaaaaaaaaaaaammmmnnn, Pharreeeellll!
You're hooooooooooooooooootttt!

(Suatu malam, nonton MTV, melihat sekilas pembuatan video klipnya Mariah Carey dan Pharrel Williams di Paris. Aku lupa judulnya. Pharrel di situ memakai jas lengkap. Lookin ' smokin'! For the record, aku masih merasa miris, that now, the only guy who has the capability to turn me on is...someone that I saw on TV. Chemistry-ku sama cowok-cowok di kehidupan sehari-hari lagi benar-benar nol. Mungkin ini rasanya pasca terapi hormon. Tapi, hmm, aku masih menikmati aja nih kekosongan yang sekarang lagi dikasih oleh hidup. Ah, pasti nanti-nanti bakal ngangenin kalo hidup mulai hectic lagi..)

Posted at 08:22 pm by i_artharini
Make a comment  

Scrubs vs Kemeja Biru

Hasil nonton marathon sitkom Scrubs season 1 dan 2; sebuah ide. Kenapaaa coba nggak mbuat skenario berdasarkan pengalaman nyata kami menjadi jurnalis pemula berkemeja biru? Atau, well, setidaknya pengalaman nyata menjadi jurnalis pemula.

Konsep dasarnya, seperti Scrubs itu.
Nyontek ya, sebenernya?

Tapi ada beberapa kesamaan lho antara para dokter-dokter muda, intern, di Scrubs dan saya dan teman-teman. Pertama, yang paling simpel aja, baju yang mereka pakai dan baju yang kami pakai. Mereka memakai scrubs (seragam walaupun warnanya macam-macam), kami, memakai seragam kemeja biru. Jam kerja mereka yang panjang, sama, kami juga.

Terus, tentang kesulitan-kesulitan yang mereka temui saat berhadapan dengan pasien, atau Dr Cox si mentor pemberontak, dan Dr Kelso yang mewakili kapitalisme rumahsakit. Hmm, kami juga mengalami hal yang sama; dengan narasumber, redaktur-redaktur yang slengean, dan mereka-mereka yang mencoba melampaui dua-tiga pulau dengan satu dayungan.

Lalu ada masalah persaingan antar sesama, belajar menjadi dokter yang baik, cinta-cinta lokasi karena kehidupan sosial yang minim, berusaha mendapat penghargaan dari lingkungan kerja dan perhatian tentunya. Tapi yang paling penting tentang menemukan teman-teman baik yang akhirnya lebih menjadi keluarga. Dan ah, itu semua nggak asing buat kami disini.

Tapi...(atau mungkin aku memang malas, sehingga belum apa-apa sudah membuat alasan..), bukannya sebentar lagi akan ada 'Dunia Tanpa Koma' ya? Sinetronnya Dian Sastro sebagai wartawan kriminal muda, yang skenarionya ditulis oleh Leila S.Chudori?

Ah.
Hmmm...

Posted at 07:56 pm by i_artharini
Make a comment  

Thursday, April 20, 2006
Makanan Paling Enak?

Sebuah pertanyaan sederhana yang aku tidak tahu jawabannya: Makanan terenak apa yang pernah kamu makan?

Seorang teman menanyakannya kemarin malam, saat aku sedang menyantap Chicken Tandoori dari kantin kantor (rasanya seperti rendang ayam sih sebenarnya...Bumbu Tandoori instan paketan yang dulu sering aku beli buat bahan makan malam pas kuliah rasanya lebih jelas deh..), dan si teman menyantap Cordon Bleu.

(Ah, there's nothing like the foods in our pretentious canteen..I meant it as a cynical comment.)

Ada teman lain yang bercerita dia pernah makan Kobe beef karena ditraktir temannya seorang pialang, tapi aku cukup tertegun, tidak bisa memikirkan jawaban atas pertanyaan itu. Dan iya, tertegun juga atas harga total tagihan Kobe beef dalam cerita si teman.

Akhirnya. karena tidak bisa menjawab, aku membalik pertanyaan itu pada yang menanyakan. "Ikan tuna kalengan," jawabnya cepat. "Terus macem-macem soto juga suka," tambahnya.

"Sebentar, kenapa ikan tuna kalengan?"

"Ya...karena bisa terus-terusan makan aja."

"Oh, kalau definisinya itu sih...berarti jawabanku, sate ayam. Ya, karena nggak berenti-berenti aja makannya."

"Oh, terus cincau juga. Cincau item. That, I cannot get enough of," tambahku lagi. "Leci kalengan juga.."

But still, kalau ditanya tentang hidangan, meal, daftar jawabanku masih panjang sih. Tapi waktu itu, kenapa jawaban pertama di otakku itu pasta ya?

Dan jadinya mendaftar pasta-pasta yang pernah aku masak. Simply, because it's the cheapest food product that I can find waktu kuliah dulu. Penne dengan saus merah tuna. Oh, ini juga, penne dan bayam rebus, disiram saus alfredo. Spaghetti yang cuma disiram minyak cabe.

Come to think of it, kayaknya ini mah bukan karena makanannya, tapi occassionnya waktu makan makanan ini. Pas lagi kumpul-kumpul, bareng-bareng. Ah, jadi kangen pasta dan atribut-atribut pertemanan di belakangnya...

But anyway, sambil mencari-cari jawaban pertanyaan 'makanan terenak apa..', aku jadi menyimpulkan, bahwa kejadiannya itulah yang lebih membuat si makanan terasa enak. Makanan yang dimakan setelah seharian di kampus, nyelesein skripsi, terus pulang, belanja dulu di Dirk deket rumah, masak, terus makan di depan tivi, di ruangan yang hangat. Damn, even the shitload of washing up to do is fun.

Hmm, mungkin harus mulai masak-masak lagi nih...

Posted at 09:52 pm by i_artharini
Comment (1)  

Sister Back in Town

Can you believe it? Dari Senin, pas Rani sampai Jakarta dari Yogya, sampai Rabu malam kemarin aku pulang kantor, aku belum ketemu sama itu anak. Akhirnya ketemuan baru tadi pagi.

Dan dia dengan sok marahnya nanya, "EH, kamu sadar nggak sih, dari aku pulang kita belum ketemuan?"

"Iya. Sadar. Lha aku pulang selalu disambut dengan semua orang udah pada tidur gitu. Kamu berangkat pagi-pagi banget."

"Lho, kamu kan bisa mbangunin aku pas kamu pulang," katanya. Btw, emang dia nggak grumpy dibangunin malem-malem?

"Ih males. Kamu kan juga bisa mbangunin aku pagi-pagi sebelum berangkat," aku membalas. "Aku kan nunggu kamu yang nyari," tambahku lagi. "Alasanmu apa?"

"Aku juga nunggu dicariin kok," jawabnya.

Hrgghergrhgrhgrghrgh.

Posted at 09:21 pm by i_artharini
Make a comment  

Next Page