PENARI MUNGIL


(Saya bukan seorang penari. Pun sangat jauh dari mungil. Tapi, tahu kan adegan 'Tiny Dancer' di 'Almost Famous'? Sensasi membahagiakan dari adegan itulah yang saya kejar..)



Hold me closer, tiny dancer

Count the headlights on the highway

Lay me down in sheets of linen

You had a busy day, today


("Tiny Dancer" - Elton John)





"...the quest for transcendence has always been closely linked to the ecstatic release of dancing."
(Resensi RollingStone atas sebuah album pop)

Mr. Darcy: "So what do you recommend, to encourage affection?"
Elizabeth Bennet: "Dancing, even if one's partner is only tolerable."
(Pride & Prejudice, 2005)


perempuan, 1983, lovesick soul, berjalan kaki, belajar menulis, menonton film, ingin keliling dunia, Billie Holliday, Jane Austen, 'Franny and Zooey', cerita pendek F Scott Fitzgerald, lagu-lagu sedih, kecanduan membeli buku second, deretan buku di lemari, berkeliling dengan bis kota, mengepak koper, menari bebas, Vogue, sepatu, bad boys, kopi, kuliner, foto, semua yang vintage, genggaman tangan, pelukan hangat, detil percakapan antara manusia, kegelisahan, kesepian, ruang pencarian, belajar dewasa, museum dan bangunan tua, hari hujan, sinar matahari hangat di hari berangin, airport, stasiun kereta, dan pertanyaan tanpa akhir

YM: isyana_artharini
Email: i.artharini@gmail.com
   

<< January 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Thursday, February 23, 2006
...Gelas Anggur Terakhir Pun Selesai Diteguk

Di tengah taman kota yang tak kusangka dimiliki oleh Jakarta; ruang publik nan hijau  lengkap dengan kolam milik para pekerja Wisma BRI, Wisma BRI II, dan Wisma GKBI, aku menyelesaikan Fiesta. Wuhuu!

Tadi siang ke Wisma GKBI, mencari seorang pejabat negara Ginseng, yang akhirnya baru bisa ditelpon 1,5 jam kemudian. Sebenarnya mau jalan ke Plaza Semanggi, biar sekedar bisa duduk dan membaca, tapi pas jalan keluar...ngeliat penunjuk arah ke 'Restoran'. Ternyata, jalan menuju restoran itu hijau banget, rindang, lengkap dengan kolam yang desainnya alami. Penuh sama karyawan-karyawan kantoran yang ketawa-ketiwi, menikmati taman yang...emang indah.

Duh, nggerundelku dalam hati tentang minimnya ruang publik hijau di Jakarta ternyata tidak sepenuhnya tepat. Ruang publik hijau nyaman di Jakarta ada kok. Buat mereka yang kerja di jalan protokol tapinya. Huh.

Akhirnya, memilih tempat duduk, mengeluarkan 'Fiesta', dan membaca 80 halaman terakhir 'Fiesta'. Sempet terganggu sebenarnya sama segerombolan orang-orang kantoran, yang despite the working place and their smart suits, teteup aja berlaku kayak highschoolers. Ruame banget nggodain cewek. Atau nggodain salah satu dari mereka yang lagi nggodain cewek. Pake taruhan-taruhan buat ngedeketin anak SMA magang yang lagi lunch di situ juga lagi.

Setelah itu, pas udah bisa membaca dengan tenang, 'Fiesta' jadi mengalir lancar. Baru pada 80 halaman terakhir itulah kalimat-kalimat yang disusun Hemingway terasa indah; kosakatanya sederhana, tapi kuat. Cara dia mendeskripsikan pertarungan banteng, lalu saat Brett pergi bersama Romero...

Ini, kutipannya:

"Kami berita duduk di meja, dan seakan-akan ada enam orang yang tidak hadir di situ."

(Ceritanya grupnya mereka ber-enam gitu...)

Setelah itu, buku ketiganya benar-benar pure bliss. Dari mulai caranya menghabiskan waktu sendirian di San Sebastian, lalu kutipan-kutipan singkatnya tentang anggur (wow, this guy is undoubtedly an alcoholic...), tentang membalas telegram dari Brett, tentang pagi hari di San Sebastian. Nggak kerasa mbosenin lagi...Kenapa bagian awalnya kerasa painfully boring ya?

Seperti di 80 halaman terakhir itu, ada sebuah lampu yang menerangi jalan masuk ke otakku sendiri. Kata-katanya, kalimat-kalimatnya  Hemingway jadi lebih punya arti, karena menemukan jalan masuk ke otak.

Dan iya, bener ternyata, dalam 80 halaman terakhir itu, tulisannya mengingatkan aku sama cerpen-cerpennya Umar Kayam di Seribu Kunang-kunang di Manhattan. Mungkin karena itu, aku jadi lebih mengerti?

Posted at 08:46 pm by i_artharini
Make a comment  

Pesan Buruk Sebuah Editorial

Membuka topik tentang Howard Roark dan Fountainhead, aku jadi teringat lagi pada 'pelajaran-pelajaran' yang aku dapat saat membaca buku itu. Sebenarnya, yang paling penting, dan jadi inti buku itu adalah tentang 'selling-out' kan? Antara memilih idealisme atau berkompromi karena tawaran finansial.

Dan aku ingat, setelah selesai membaca buku itu, mengatakan pada diri sendiri, "Jika aku membaca buku ini beberapa tahun lebih cepat, aku mungkin akan lebih militan dalam mempertahankan idealisme dan tidak berkompromi."

Dengan bekerja di tempat aku bekerja sekarang, apakah level kompromi-ku jadi semakin menurun? Aku berusaha untuk tidak. Tapi ada masa-masanya saat aku merasa, 'apa sih yang sedang aku lakukan di kolam ini?'

Hari ini, akan aku catat, sebagai suatu bukti, that this place contain an evil force so obvious, that you cannot help to do anything, than feeling weak in the knees and throw up all the food you have for lunch...

(Apa yang bisa saya 'laporkan' pada Ayn Rand? Fuck that. Apa yang bisa saya katakan pada hati dan kesadaran saya?)

***
PESAN BURUK DARI PAPUA

SETIAP hari bangsa Indonesia mengirim pesan buruk kepada dunia tentang siapa kita. Kedutaan negara lain dirusak, perusahaan asing diduduki, orang asing dirampok, ditipu, dan banyak lagi.

Lebih celaka lagi, kita bangga dengan perilaku itu. Kita mengatakan kepada dunia bahwa seluruh aksi itu adalah bagian dari kesadaran mempertahankan harga diri.

Dalam konteks global apa yang sedang digemari manusia Indonesia itu sama dengan menyiram kebun dengan lahar gunung berapi. Kita sedang melakukan aksi bunuh diri dengan bangga.

Pesan buruk terbaru tentang diri sendiri yang disiarkan ke seantero jagat datang dari Papua. Sekitar 300 warga memblokade jalan masuk ke kompleks PT Freeport. Mereka bersenjata parang dan anak panah.

Akibatnya perusahaan tembaga asal Amerika Serikat itu menghentikan operasi untuk waktu yang tidak ditentukan. Kerugiannya bisa dihitung. Indonesia kehilangan tidak kurang US$3 juta/hari. Ribuan tenaga kerja kehilangan pendapatan. Kalau berlarut-larut, mereka bisa diberhentikan.

Tentu, penutupan jalan oleh warga itu ada sebabnya. Sebelumnya, sejumlah warga yang disebut sebagai penambang liar diminta tidak mendulang di daerah aliran sungai dan bekas pertambangan karena sangat berbahaya. Salah satu bahaya yang diwaspadai adalah potensi longsor akibat curah hujan yang tinggi akhir-akhir ini.

Tetapi permintaan itu malah menimbulkan bentrokan yang mencederai para penambang liar maupun aparat keamanan. Bentrokan itulah yang kemudian berdampak pada kemarahan kolektif dan berkembang liar pula menjadi pemblokadean.

Sebagai usaha pertambangan sekaliber Freeport, dampak yang ditimbulkan terhadap lingkungan pasti ada. Terutama kerusakan pada permukaan tanah akibat eksplorasi dan limbah. Akan tetapi, yang tidak kalah penting adalah komitmen sebuah usaha tambang untuk merenovasi lingkungan setelah pertambangan berhenti di kemudian hari.

Freeport bukan perusahaan yang baru kemarin beroperasi di Papua. Pemerintah, LSM, dan dunia pun amat peduli pada standar-standar global tentang pemeliharaan lingkungan. Jadi, kalau Freeport sudah beroperasi sejak 1976 dan sudah diperpanjang untuk beberapa puluh tahun lagi, berarti ada kesepakatan tentang risiko dan keuntungan.

Masih banyak cara untuk mempertemukan perbedaan kepentingan dan keinginan. Salah satu cara terhormat adalah berdialog. Mob seperti yang dilakukan warga yang menutup jalan ke Freeport adalah contoh buruk. Selama konflik kepentingan penduduk dengan pabrik dan unit-unit ekonomi diselesaikan melalui kekerasan, kita mengirim pesan buruk kepada dunia agar tidak membawa modalnya ke negeri ini.

Dalam dunia yang begitu terbuka dan tidak lagi berjarak, persepsi global tentang peradaban sebuah bangsa amat menentukan.


Posted at 06:13 pm by i_artharini
Make a comment  

Tuesday, February 21, 2006
I Don't Need No Education?

Sesiangan dan sesorean berusaha menghubungi seorang pengacara kondang tanpa hasil. Terakhir, katanya, dia masih belum selesai meeting dan tidak menjanjikan waktu yang jelas untuk dihubungi kembali...

Argh. Kerjaan sendiri juga masih belum beres.
Duh, mengutip katanya teman, serasa ingin menjadi burung unta yang bisa memasukkan kepalanya ke gundukan pasir, dan menyembunyikan diri dari dunia dan tanggung jawab. Atau, naik ke tempat tidur, berbungkus selimut, krukupan, dan tidak melakukan apa-apa.

Di tengah-tengah ketidakberdayaan, akhirnya browsing-browsing lebih lanjut tentang sebuah ide yang baru aku dengar dari seorang senior tadi malam. Tentang kembali ke kampus.

Harus aku akui, ide yang sangat menarik. Apalagi karena biaya yang harus dikeluarkan ternyata tidak semahal seperti yang aku bayangkan sebelumnya. "Asal bukan magister manajemen atau accounting aja sih, lumayan murahlah," kata bapakku tadi pagi. Masalah biaya itu yang sebenarnya membuat aku semakin tertarik.

Dan untuk bidang yang aku minati pula.

Beberapa waktu yang lalu, aku sempat kehilangan minat buat S2, terutama karena biayanya itu. Dan karena aku juga jadi nggak tertarik lagi untuk belajar 'Manajemen Pemasaran' atau topik-topik yang berhubungan dengan manajemen dan/atau bisnis.
Oke, aku masih ada minat sih sebenarnya untuk ngejar S2, tapi beasiswa, heheh. Tapi kalau nggak dapat itu? Masa balik ke belajar manajemen bisnis?

Lalu, out of nowhere, si senior ini bercerita, dia mau mengikuti ujian masuk untuk S2 Kajian Wilayah Amerika. Selanjutnya, browsing-browsing, eh ternyata ada S2 Sastra dengan salah satu pilihan pengkhususannya pada Cultural Studies.

Mbaca kurikulumnya, kok menarik ya?
Harganya juga...sesuai kantong lah.
Dan mengingat kompartemenku sekarang, hmm...kayaknya bisa nih disambi.

Alternatif lain juga ada; S2 Filsafat, di sekolah lain, yang biaya per semesternya setengah yang pertama. Sekolah ini ternyata juga punya program kursus semesteran dan kuliahnya seminggu sekali. Harganya? 200 ribu per semester!

Sesaat, aku merasakan euforia. Tapi yang ini, euforia yang membumi; karena apa yang aku inginkan ini, masih dalam jangkauan kemampuan, tenaga dan finansial.

Tapi, sekarang pertanyaannya, apa ini benar-benar yang aku inginkan dan butuhkan? Inginkan? Iya, pasti. Butuhkan? Hmm...yang ini sepertinya butuh pemikiran lebih matang.

Si senior mungkin sudah waktunya lagi, sesuai perputaran siklus hidup, untuk kembali mengasah dirinya di dunia akademis. Memberi stimulasi dari dunia yang berbeda pada otak, mengisi kembali batere-batere pengetahuan, memperluas perspektif untuk menghasilkan tulisan yang kaya. Sementara aku? Tidak sampai dua tahun yang lalu aku selesai (sementara) dengan dunia itu. Jangan-jangan ini cuma sekedar klangenan baru, cara untuk melarikan diri dari tanggung jawab dunia nyata. Dan cuma gara-gara ikut-ikutan.

Nggak tahu ini sekedar pembenaran atau sebuah argumen yang makes sense...aku merasa ketinggalan jauh dalam masalah kekayaan perspektif, dan perspektif yang kaya itu dibutuhkan dalam menjalani pekerjaanku, dan pendidikan adalah salah satu jalan untuk memperkaya perspektif itu kan?

Selain itu, meyakinkan orangtuaku adalah suatu 'pekerjaan' lain lagi. It's my money, I know. Tapi mereka tidak bisa tidak akan mengajukan pertanyaan tentang apa yang mau aku lakukan dengan uang itu, dan tidak membuangnya secara sembarangan.

Aku sendiri masih belum bisa menjawab pertanyaan: apa benar, aku benar-benar butuh pendidikan itu sekarang?

Posted at 06:25 pm by i_artharini
Make a comment  

Piket Pagi

Piket pagi, resminya mulai jam 09.00. Tapi memulai tugas piket tepat jam 09.00 juga rasanya terlalu pagi. Sementara, aku tadi sampai di kantor jam 07.30. Alasannya; Kalimalang di pagi hari bener-bener such a bitch, padatnya itu lho. Akhirnya ikut bapakku berangkat pagi ke kantor.

Sampai kantor, langsung ke musholla, dan..tidur. Yah, masih ada cukup dua jamlah untuk mengistirahatkan diri. Mana tadi malam juga baru tidur jam setengah dua. Jam 09.00 itu biasanya aku baru bangun..

Jam 10-an akhirnya ketemu beberapa atasan yang pada nanya: "Lho, kamu nginep di kantor?"

Aku rada trauma piket pagi sebenernya. Berbeda dengan malam hari yang ideal buat nge-blog, bermimpi dengan mata terbuka, atau membaca dan ndengerin musik, piket pagi lebih ngerepotin. Kehidupan masih berjalan, dan banyak yang masih harus diawasi.  

Dan, hiihh...ac-nya dingin banget sih.

Terus, bener kan, pas di tengah-tengah ngetik ini, tiba-tiba telpon bunyi. Ikut rapat dulu katanya. Ah, moga-moga nggak dapet tugas 'side-job'..

Posted at 10:24 am by i_artharini
Make a comment  

Monday, February 20, 2006
Pada Awalnya, Pada Akhirnya

Pada awalnya, pertemuan sekilas dengan sesosok santun di Sabtu siang. Lalu, aku pulang dan ngebut membaca 'Ziarah' --yang sebenarnya juga nggak bisa dibilang ngebut, karena baru selesai hari ini-- Dan pada akhirnya, sebuah kesimpulan; "Gila, 'Ziarah' itu dashyat banget. Apa yang sudah disampaikan Ayn Rand lewat 'The Fountainhead' dalam 720 halaman, bisa disampaikan oleh Iwan Simatupang dengan lebih baik dalam 140 halaman."

Lebih baik, karena, pertamanya, lebih singkat. Entah kenapa, buat aku itu artinya less self-indulgent. Kedua, disampaikan dalam bahasa ibuku sendiri. Ketiga, ada lebih banyak ungkapan-ungkapan yang quotable dan dapat 'digunakan' dalam kehidupan sehari-hari, sementara dialog-dialog 'Fountain..' lebih...panjang, menjelaskan, dan tidak quote-friendly. (Hmm, apakah berarti aku termasuk tipe 'pengutip'? Biasanya aku memasukkan para pengutip itu ke kategori sombong. But I don't feel like a snob doing that, karena memang nggak banyak kesempatannya juga...tapi yang terakhir ini sepertinya lebih sebagai pembelaan diri.)

Ah, Fountainhead...yang kuingat dengan jelas darinya; nama Howard Roark (menjelaskan sekali karakter si tokoh), deskripsi mengagumkan tentang arsitektur suatu bangunan, dan ya..tentu saja pembelaan diri Roark, monolog yang puanjang banget itu. One of those books I've read, gara-gara..(lagi-lagi) Rory Gilmore.

Btw, boleh nggak sih laporan sama sosok santun itu, aku sudah mengerjakan pekerjaan rumah darimu lho...

Posted at 10:02 pm by i_artharini
Comment (1)  

Sunday, February 19, 2006
Weekend Story

Kantor, Minggu malam, biasanya sepi-sepi aja. Dan emang, udah dari tadi kedengerannya sepi, damai. Mungkin karena aku sekarang nggak duduk di deket para golden boys itu ya, yang suka heboh-heboh sendiri dengan pembicaraan telepon yang tak henti-hentinya dengan para ketua lembaga negara atau setidaknya anggota lembaga negara.

Deretan mejaku dulu sekarang udah jadi deretan meja orang-orang serem, euy. Meja orang-orang terpilih, murid-murid pilihan; hmm, kok jadi aromanya seperti Perjamuan Kudus?

Tiba-tiba ada rame-rame di dekat deretan itu, dan terdengar tawa khas seorang tua , ups..matang mungkin tepatnya, membahana. Sang PU,  Legenda Hidup, favorit beberapa perempuan muda angkatan Agustus, ternyata memang sedang memunculkan diri. Berjalan mondar-mandir di lorong panjang, yang sekarang baru aku sadar dan curiga... kok kayak catwalk sih? Apa memang dibentuk seperti itu?

Anyhow, komputerku udah nge-hang dua kali. Sebelumnya sempet mbaca-mbaca artikelnya Kompas Sabtu kemarin, tentang BLBI yang dikupas tuntas. Lha, kalau gitu, apa lagi dong yang mau kita bahas sekarang? Mau ngelanjutin kerja, tapi udah kehilangan semangat gara-gara komputer hang itu.

Sayangnya, komputer nge-hang itu bukan karena masalah kerjaan, tapi karena di antara kerjaan, aku lagi pengen goofing off, dan nge-Google orang yang baru aku ketemu Sabtu kemarin.

Weekend story yang lumayan...yah, ada warnanya dari sekedar jalan-jalan ke mal. Sabtu siang, pergi ke sebuah perpustakaan di tengah kota, karena ada diskusi tentang penulisan kreatif. Acara jam 1, berangkat dari rumah jam 1 kurang 5. Parah.

Sampe di lokasi 1.45, dan ternyata acaranya baru mulai. Hahahah.

Yang dateng ternyata sedikit. Dan para penulisnya, ceritanya itu buku diterbitin borongan ama 3 orang penulisnya, cuma satu orang yang cukup lancar berbicara tentang penulisan kreatif. Padahal moderator, dibantu beberapa orang di sekitarnya, udah memancing reaksi dengan berbagai cara. Gawatnya, yang nulis paling banyak malah yang kurang komunikatif.

Tapi, tidak bersedia untuk membiarkan siang itu tanpa makna, akhirnya setelah diskusi selesai nanya-nanya lebih jauh ama salah seorang pembicara de facto yang cukup articulate.  Namanya sih udah pernah denger sebelumnya, udah pernah liat buku yang ditulisnya di Gramedia juga, tapi baru tau..."Oh, ini to yang namanya..."

Akhirnya nanya-nanyalah aku tentang cara membaca yang baik, mengapresiasi bacaan, apa ada yang salah dengan caraku selama ini, etc, etc. Ada beberapa nama yang disebutnya terus-terusan, dan saat dia membaca semacam check-list apa yang udah aku baca dan belum.

Dia membaca Steinbeck, tapi tidak menyukai caranya bercerita, karena terlalu banyak tentang detil eksterior alam, tapi kurang pada psikologis para tokoh. Lalu dia menyebut Octavio Paz, dia menyukainya untuk suatu alasan, aku lupa apa...tapi tidak menyukai ke-asosial-an Paz. Lalu dia menyebut Neruda, tapi aku curiga...mungkin dia menyukai Neruda untuk Canto General dan 'the struggle for the social justice' daripada Neruda yang menulis sajak-sajak cinta. Dia mengaku belajar tentang alegori dari Marquez. ("Siapa?" tanyaku, karena dia menyebutnya Mark West.. Baru setelah dia bilang, "Gabriel Garcia.." aku baru meng-ooh, dan menjawab iya sudah mbaca kok.)

(Abah waktu aku ceritain tentang percakapan ini bilang, "Ih, aneh ya. Kenalan bisa sampe menyeluruh gitu." Aku: "Lha, kan emang sengaja apa yang harus dibaca, terus dia yang kayak ngecek gitu, apa aja yang udah aku baca..")

Nah, sehubungan dengan dia nanya apa yang udah aku baca, it was quite pathetic, man. Di kepalaku cuman keinget, Salinger ama Umar Kayam sebagai penulis favorit. Pas dia nanya, "Iwan Simatupang?" aku langsung teringat sama 'Ziarah' yang baru dibeli sekitar akhir November, awal Desember lalu pas ada jualan buku 50% di Perpus Diknas, dan sampai sekarang masih kebungkus rapi, gara-gara aku masih milih mbaca yang lain. Oh ya, tiga cerita pendek di 'Tegak Lurus Dengan Langit' pinjeman dari si ex, yang akhirnya harus cepet-cepet dibalikin karena hubungannya berakhir, bisa diitung nggak sih? Dan aku kok ya lupa pas itu...

Dan ada penulis-penulis lain yang nggak aku sebutin pas dia nanya. Huks, jadi ngerasa kecil. Padahal kan preferences-nya aja yang emang beda. Oke, oke, aku emang harus ngebut mbaca, tapi ada kan yang udah aku baca dan yang lain belum...

Anyway, browsing-browsing di Google (yang akibatnya nge-hang dua kali), ngeliat tulisannya si sosok yang ternyata juga kerja sebagai wartawan budaya di sebuah harian sore, dan kelihatan banget..apa yang dia baca tercermin di tulisannya. Dari tema, gaya penulisan, warna-warnanya; sedikit Steinbeck, sejumput Marquez, beberapa tetes Neruda.

Dia sempat menanyakan kabar dua orang temannya yang bekerja di kantorku. Dan ini, aku tidak bisa tidak membandingkan dia dan salah seorang temannya di kantorku. Orang ini, cukup simpatik. Santun dalam berbicara, tidak menimbulkan kesan ingin membuat orang terkesan dengan siapa dia, berbeda dengan...ah, well.

Karyanya juga cukup aksesibel, berbicara dengan orangnya juga nggak aneh-aneh. Sosok menyenangkan untuk berdiskusi singkat di Sabtu siang. 

Dari situ, terus ke daerah Jakarta Timur, ada rockumentary; sempet nonton dua, yang pertama tentang Bob Dylan (fake! Corporate sellout!), dan Flaming Lips (ah, nggak pernah ngecewain mereka... my favorite...)

Arrgh, jam 10. Anteran udah mo berangkat. Weekend almost oveeerr!!!


Currently reading:
The Great Gatsby
By F. Scott Fitzgerald





Posted at 09:08 pm by i_artharini
Make a comment  

Tuesday, February 14, 2006
Ingatan Kebahagiaan, pt.2

Ada kan istilah 'count your blessings'? Tapi aku lupa, konteksnya itu 'you should always count your blessings' atau 'you shouldn't'? Kalau arti terjemahannya mensyukuri nikmat, berari 'you should always' kan ya, konteksnya?

 

Ah anyway, aku lagi pengen count my blessing kemarin. Ada sesuatu yang tidak terduga, terjadi, kemarin. Ceritanya berawal dari Sabtu malam, pas lagi liat Metro, eh kok tiba-tiba ada versi instrumentalnya 'Moon River', dan gambar seorang perempuan kurus dengan gaun hitam panjang tanpa lengan, dan rambut disanggul ke atas berdiri di depan…Tiffany's?

 

"Kyaaaaaaaaa, Breakfast at Tiffany's!!!" teriakku di depan tivi, ngagetin si Rani.

"Duh, biasa aja kenapa sih. Kan kamu juga udah punya DVD-nya.."

"Yeah, but still. Ini bakalan ditayangin di tivi…"

 

Aku nggak bisa merasionalisasi alasan kehisterisan itu, karena aku bisa nonton filmnya kapan aja, karena udah punya DVD-nya. Mungkin kalau gini, aku jadi bisa share ama orang yang nonton di tivi kali ya, tanpa punya DVD-nya. Ah, mbulet.

 

Dari kehisterisan itu, aku tapi langsung ngerasa sedih. Gara-garanya, udah jadi kebiasaanku, kalo ada suatu film yang bagus, aku bakal sms-sms orang-orang deket, ngasih tau ada film keren, ya dengan harapan biar aku bisa diskusi ama mereka kali ya…

 

Dan, hiks, orang yang pertama keinget, adalah si cerita lama. Tapi, ih nggak bisalah aku nge-sms dia, even atas nama 'Breakfast at Tiffany's'. Lagian, sekarang kan udah punya cewek baru gitu. Kamu nggak mau kan, Nar, memberi dia dan cewek barunya kepuasan untuk nge-cap kamu psikopat, stalker, atau malah bunny boiler? (Yes, I know, inner heartmu berteriak-teriak: 'itu semua memang aku'. Tapi please, sekali ini, act cool…)

 

Sambil menyusun rencana biar besok bisa pulang cepet dari kantor, tetep aja ngerasa sedih euy, nggak bisa share film bagus ke orang itu.

 

* * *

 

Besoknya, sampe kantor jam 5-an, dan keukeuh, nanti pengen pulang cepet ah. Dan ternyata ada temen yang pulang ke arah yang sama, jadi mempercepat waktu perjalanan pulang.

 

Akhirnya, jam 20.20lah udah sampai rumah. Kapuk ama si Item udah njegok-njegok kenceeeng banget pas denger motor tukang ojek berenti di depan pager. Pas aku udah mbuka gembok pager, terus mau mbuka pintu teras, eh dari pintu ruang tamu ternyata ada bunyi kunci juga jegrek-jegrek. Ternyata si bapak.

 

"Hayoo, kamu pulang cepet mo nonton Breakfast at Tiffany's kan?"

 

Aku cuma ber-hehehe, sambil sibuk menerima sambutan dari para kaki empat. Pas masuk rumah, si ibu juga sudah menyambut di ujung ruang tamu menuju ruang keluarga, "iya, ini film kesukaanmu kan? Breakfast at Tiffany's?"

 

Aku ngeliat ke layar tivi, dan wajah Audrey Hepburn dan George Peppard sudah memenuhinya.

 

"Iya ya, Mbak, kamu pulang cepet mo nonton ini ya?" tanya Papa.

 

"Enggak sih sebenernya, udah nggak ada kerjaan juga, tadi ada temenku yang mbawa mobil, jadi ikut nebeng pulang. Tapi ya karena ada ini juga makanya jadi rada cepet…Walopun sebenernya bisa nonton DVD sih, tapi mumpung ada di tivi.."

 

"Hebat ya Papa, empatinya, bisa tau kalo ini film kesukaanmu.." kata si bapak.

 

"Paling tau dari Rani," aku menimpali.

 

"Enggak, Rani nggak ngomong apa-apa gitu kok," si ibu ikut nimbrung. "Emang kenapa sih seneng film ini?" lanjutnya.

 

"Ya, soalnya New York gitu…, tahun 50-an lagi, terus gayanya Audrey Hepburn-nya kan juga stylish banget. Keren aja…"

 

"Oh, harusnya kasih tau Eyang Mimi, kan Eyang Guritnya pas tahun segitu ada di Amerika. Oh, telpon Eyang Uti juga.." kata ibuku, sekarang sambil melangkah ke arah telepon rumah, memencet nomor, dan langsung berbicara dengan eyang putriku.

 

"Ibu? Ibu lagi ngapain? Udah nonton Metro?"

 

Tak lama kemudian, "Eyang Uti juga lagi nonton tuh.."

 

Aduh.. nggak tau kenapa, aku jadi ngerasa sayang banget sama bapak-ibuku. Bapakku yang biasanya cuek bukan main, tiba-tiba mau bother ngambil kesimpulan akan kepulangan awalku dari kantor, walaupun mungkin tau dari Rani atau ibuku tentang kesukaanku sama film ini, tapi tetep aja..beliau ikut antusias.

Terus ibuku yang juga ikut antusias dan ngasih-ngasih tau eyang-eyang lewat telpon kalo ada Breakfast at Tiff's.

 

Mungkin bukan karena aku juga tindakan yang kedua, tapi…kayak diingetin, eh ada lho orang lain yang appreciate what you appreciate. Nggak hanya si bapak satu itu yang bisa dikasih tau…

 

Aku pengen nulis ini, sebagai pengingat, ini lho..ortumu yang merhatiin kamu, Nari. Dan I have to admit, akhir-akhir ini aku lagi dalam periode yang baik dengan mereka; hubungannya lagi sehat.

 

Oh iya, terus pas adegan Audrey/Holly nyanyi 'Moon River' dengan gitar kecil di jendela, otomatis aku ikut nyanyi dong. Terus ibuku yang lagi di kamarnya, tiba-tiba keluar (swear, nyanyiku pelan, dan ketika pintu kamar ibuku ditutup, suaranya nggak nembus), "Oh, oh, oh, anakku nyanyi nonton film…"

 

"Iyalah, 'Moon River' gitu…"

 

And the night turns out to be good, also. Selesai Breakfast.. terus pindah ke channel lain, eh… ada 'Ed Wood'. Wuah, kemaren sempet liat di Subtitles, tapi belum rencana nyewa. Tapi ternyata keren itu film. Tim Burton is my new favorite director!

 

Ah, aku dan my zero social life…My happiness, consist of good movies played on national television. Sad.


Posted at 06:55 am by i_artharini
Comment (1)  

Ingatan Kebahagiaan, pt.1

Senin pagi minggu lalu. Aku bangun tidur dan pertanyaan pertamaku adalah, jam berapa sekarang. HP yang tergeletak di kiri kepalaku langsung kuambil; ternyata ada sebuah pesan pendek yang masuk jam 9 tadi.

 

"Hari ini ultah Pram ke-81 di TIM, acara-acaranya mulai jam 11. Datang yo.."

 

Pengirimnya seorang teman yang sudah agak lama tidak bertemu. Dengan mata yang masih kriyip-kriyip, aku menyimpan pesan singkat itu dalam inbox, dan mengecek waktu. Ternyata saat aku bangun sudah sekitar jam 10 pagi.

 

Disgusting habit, sebenarnya, bangun di jam segini. Tapi minggu ini aku sedang dalam masa 'libur', tulisanku minggu ini turun, kataku membenarkan dalam hati. Mungkin bisa datang ke acara itu. Tapi masa nggak ke kantor sama sekali dan nongkrong terus dari pagi di situ, lha kok tidak produktif sekali…

 

Sambil turun tangga, aku membalas pesan singkat si teman:

 

"Lha kok saka isuk2 to, mas? Acaranya ada apa aja?"

 

"Paginya pembukaan pameran, malamnya dialog. Datang ya.."

 

"Malamnya jam berapa? Biar aku bisa siap-siap berangkat dari Kedoya."

 

"Selesainya jam setengah sebelas.."

 

Lha, piye to? Aku kan maksudnya nanya mulainya. Tapi ya sudah, setidaknya sampailah di sana sebelum jam setengah sebelas. Sebenernya mau aku tegesin lagi ke si temen, tapi dia sering punya pulsa terbatas. Ya wislah…

 

* * *

 

Sorenya, setelah berhasil membajak seorang temen dari rapat mingguan kompartemennya, aku berangkat ke TIM. Dari kantor jam 19.30. Hm..kayaknya bakal sampe di sana jam 21.30 deh. Dan ternyata, bener.

 

Dan nggak nyangka, dua jam perjalanan itu bener-bener nyiksa ya, walaupun sudah diperkirakan. Sampe omongan udah garing, berantem dua kali sama date for the night, baikan lagi, dan akhirnya ngantuk, beluum sampe juga.

 

Ketika sampe, aku cuma ngerasa seneng aja, pantat nggak didudukin lagi. Terus sempet ketemu temen lain yang njualin buku di acara itu, dan udah nentengin traveling bag yang isinya buku-buku jualannya. Sempet aku minta bukain buku-bukunya, tapi nggak ada yang menarik, dan aku juga kan lagi menyusutkan jumlah buku yang dibeli bulan ini. Akhirnya pisahlah sama si pedagang buku sebelum dia ngundang ke pementasan teaternya tanggal 7 bulan depan. Dan oh ya, dia bertanya tentang si cerita lama.

 

"Lho, kenapa nggak bareng lagi sama dia?" tanya si pedagang buku.

"Errm…aku harus njawab apa nih?" aku nanya ke 'date for the night'.

"Soalnya si itu-nya lagi sibuk," jawab date for the night. Aduh, pahlawanku. 

 

Sampe Teater Kecil, tempat yang pertama kita cari, tentu aja toilet. Dan sekeluarnya dari toilet, mau masuk, tapi harus nungguin date for the night, terus…mata tiba-tiba jatuh ke sepatu seorang sosok. Dan celana jinsnya yang potongannya baggy.

 

Otomatis aku ngeliat ke atas, terus ke bawah lagi, ke atas, ke kaki lagi, dan pas mata lagi di kaki, aku baru sadar. "Lho, tadi orang itu mukanya gimana sih?" Akhirnya mata bergerak lagi ke atas. Aih, ternyata 'rebound-guy-who-reject-me'.

 

Kaget, aku cuma bisa nunjuk ke arahnya, melambaikan tangan kecil, terus senyum. Sementara dia yang lagi nelpon, juga terbelalak kaget, terus senyum terpaksa tapi tetep manis (dasar Mr.Etiquette!), sebelum akhirnya menutup matanya, rada memalingkan wajah, dan bibirnya bergerak seiring kata 'Aduh'.

 

Di saat itu, untung date for the night keluar dari kamar mandi (Bukannya aku yang seringnya lama di toilet ya?), aku 'njemput' dia, terus meng-update dengan situasi, dan kita dengan belagak cuek masuk ke ruang teaternya. Happily, buat aku.. kok ya aku nggak care lagi ya ama 'rebound-guy..' setelah itu.

 

Aku dan date for the night langsung cari posisi di belakang, tapi..pengen foto-foto juga, mumpung bawa kamera. Akhirnya aku bergerak rada ke depan sambil ngeluarin kamera. Tapi masa ngandelin zoom aja sih? Kan menurut sebuah kutipan yang aku baca di kaos seorang fotografer kantor, "if you think your picture is not good enough, then you're not close enough." Ambil resiko, ambil resiko, ayo berani ke depan. Sadly, aku emang sepenakut itu.

 

Pas aku berbalik, mau ngajakin date for the night ikutan maju, malah kuaget setengah mati. 'Rebound-guy..' ada di belakangku, tersenyum, dan bertanya.

 

"Lho, dateng sendiri?"

"Enggak, ama temen."

"Liputan apa…"

"Dateng-dateng aja"

 

And honestly, aku lupa apa aku ama dia punya longer conversation, atau jawaban tepatku apa. Lebih leganya lagi sih, karena I don't care.

 

Akhirnya ke depan sendirian, ketemu fotografer kantor. Ngobrol-ngobrol, dia nginceng kamera, aku ikut. Liat hasil foto-fotonya dia, terus berusaha mbuat yang sama. Sementara aku udah ngerasa dapet yang lumayan keren (tapi terus terhenti gara-gara battery low. Raniii, kamu nggak nge-charge kan abis dipake kawinannya Ikrar?), si fotografer kantor berkomentar, "Waduh, fotoku jik elek-elek iki lho…"

 

Ternyata malem itu, sumpahku untuk tidak berbelanja buku gagal oy. Ada satu stand yang nggelar buku-buku 50 % off. Ada 'Second Sex' edisi Indonesia, terus ada 'Il Postino' terjemahan akubaca, terus ada beberapa buku lainlah. Tapi, sekuat-kuatnya nahan, ternyata aku tetep nggak bisa ngelepasin 'Hadji Murat'-nya Tolstoy terbitan Bentang. CMIIW, kayaknya udah susah ya nyari di toko buku? Dan akhirnya, keluarlah 15 ribu.

 

Acara bubar, hang out2 dulu, coffee and cigarettes never absent. Terus membahas lebih lanjut tentang 'rebound-guy..'

 

Aku: ih seneng deh, ngeliat dia yang kayak annoyed ngeliat aku. Dan akunya yang cool-cool aja ngadepin dia.

 

Date: ah, enggak lagi… aku kan tadi berdiri di belakangnya dia. Pas yang elu maju ngeluarin kamera itu, dia kan asalnya di belakangku, terus ikut maju ngedeketin elu. Pokoknya tinggal elu balik badan aja deh, pasti ngobrol. Orang asalnya aku ngira dia mau nyapa kamu kok. Anaknya aja tuh, yang pengen disapa duluan.

 

Aku: hahahhaa. Serius? Well, walopun nggak bener sih, tetep cerita yang bagus buat malem yang asik lah.

 

Yang lebih asik lagi dari incident itu sih sebenernya…karena aku udah berharap banget punya kesempatan kayak gitu. Aku dan 'rebound-guy..' ketemu pas liputan or something, dianya, dengan GR yang pol mengira aku bakal nemplokin, tapi ternyata akunya yang bisa have fun sibuk-sibuk sendiri.

 

And, it happens.

Atau, ya setidaknya 'terjadi' dalam versi cerita yang akan aku ulang terus-menerus, scenario itu terjadi. Jarang-jarang nih ada kemenangan kecil kayak gini.

 

(Tapi aku tetep ngerasa: gilaaa, hidupku pathetic banget yah..)






Posted at 06:48 am by i_artharini
Make a comment  

Cerita Kecil Tentang Kesepian

Sabtu pagi, sekitar pukul 06.45, aku keluar dari kantor. Aku baru saja menghabiskan Jumat malamku di kantor, menyelesaikan tulisan untuk pekerjaan kantor. Sepertinya dari situ semua berasal. Sabtu pagi itu.

 

Aku tidak sendiri. Seorang teman yang juga harus menyelesaikan tulisan untk akhir pekan itu juga ikut menginap. Tapi pagi itu, sambil menonton sekilas lima menit terakhir salah satu episode Friends di televisi ruang kantor, di lantai dasar, ada sesuatu yang terasa absen. Tidak ada di tempat yang seharusnya.

 

"Nggak mau ke kamar mandi dulu, cuci muka atau gimana?" tanya si teman. Aku cuma mengiyakan. Dan segera bergerak ke kamar mandi, mencuci muka, berkumur. Aku hanya tertidur satu jam tadi pagi.

 

Aku membereskan barang-barang, memakai jaket, dan berjalan bersama keluar. Pagi yang aneh. Atau mungkin cuma perasaanku saja yang aneh; aku tidak pernah berada di kantor pukul 06.45 di pagi hari.

 

"Aneh," kataku, "nggak pernah lho, ada di kantor jam segini."

"Aku nggak pernah di luar rumah jam segini," balas si teman. "Mau nyari sarapan?"

 

Sebenarnya malas, tapi mungkin makanan dapat membantuku merasa lebih baik. Hanya saja, aku terlalu lelah mengunyah. Tapi aku mengiyakan, ketika memikirkan kemungkinan adanya bubur ayam.

 

Kantin menyiapkan mie ayam pagi itu; dan kami berdua terus berjalan menuju gerbang. "Kalau bubur mungkin mau," cetus si teman. Aku mengiyakan saja dalam hati. Sekarang yang ada di pikiranku hanya ibuku, dan betapa aku ingin memeluknya.

 

Aku mengamati semuanya dalam perjalanan pulang. Kehidupan yang berjalan di sekitarku; yang bukan menjadi bagianku. Sinar matahari yang hangat. Sudah lama aku tidak merasakan sinar matahari pagi.

 

Aku memilih duduk di dekat jendela. Mencoba mendinginkan dan membuat nyaman badan. Aku bisa saja melepas jaketku, tapi aku sedang tidak ingin.

 

Ketika bis sampai di perempatan Tomang, aku menyalakan musik, mencoba memilih lagu yang tepat untuk mengisi kekosongan, tapi juga sesuatu yang tak terlalu mengalihkan aku dari suasana pagi hari yang jarang aku lewati di luar rumah.

 

Tetapi aku tidak ingat berada di mana, saat aku mencoba untuk menutup mata, mencoba keras untuk menikmati sinar matahari di wajah, dan angin dari jendela bis. Mencoba keras, karena aku ingin merasakan sesuatu yang berbeda. Dan ini adalah pagi yang berbeda. Jadi logisnya, aku harus merasakan dan mengingat semua yang terjadi.

 

Tapi ketika aku menutup mata itulah, aku mulai teringat bahwa ini hari Sabtu pagi. Delapan bulan yang lalu, aku akan kebingungan memilih tempat yang akan kita kunjungi. Aku tiba-tiba teringat akan teleponmu.

 

"Kamu libur hari apa, mbak?"

"Sabtu."

"Weiss, mantap. Besok kita ke mana?"

 

Dan mulai pagi hari, pikiranku terus tertuju padamu. Tentang bagaimana aku harus mengatakan pada orangtuaku bahwa aku akan pergi, dan bagaimana aku terus ketakutan mereka akan mencurigai aku pergi dengan siapa, dan tentang waktu yang tidak akan pernah cukup, dan aku yang tidak benar-benar bebas.

 

Sekarang, aku teringat pada helm kecil berwarna ungu tua di motormu. Helm kedua. Untuk siapakah kau siapkan helm itu? Kamu bukan seseorang yang menyiapkan helm kedua di motormu. Kamu tidak membiarkan orang masuk dalam hidupmu. Tapi sekarang, siapakah yang kau biarkan masuk? Akan pergi kemanakah kalian Sabtu pagi ini? Apakah kau menanyakan padanya untuk memilihkan tempat yang akan kalian kunjungi hari ini?

 

Cawang.

 

Aku berganti ke M19.

Aku hanya ingin sampai di rumah dan tidur.

Ini hanya karena tidak tidur semalaman.

 

Pagar terbuka ketika aku sampai di rumah, dan aku membuka pintu depan dengan kunciku. Di ruang tengah tidak ada siapa-siapa. Melepas jam tangan, kacamata, dan melihat sebuah paket yang pastinya berisi buku yang kupesan beberapa hari sebelumnya. Lalu aku berganti baju, mencuci tangan, dan membuka bungkusan berisi buku itu. Ada segelas jus jambu di gelas tinggi di atas meja makan. Aku baru mengangkat tutup gelasnya yang berwarna hijau, ketika ibuku keluar dari kamar.

 

"Haloo," katanya hangat. "Baru sampai ya?"

"Iya."

 

Aku mencari gula rendah kalori, membuka sachetnya, menuangkan isinya ke jus jambu di gelas tinggi, dan mengaduknya dengan sendok bertangkai panjang. Aku meminumnya sampai habis dengan beberapa teguk, tanpa menurunkannya. Aku mengelap mulutku, mengambil buku yang sudah terbuka dari bungkusnya, dan berjalan menuju kamar ibuku.

 

"Sampai jam berapa tadi?"

"Setengah sembilan."

 

Aku mengambil remote control, merebahkan badan, dan menyalakan TV, lalu memindah-mindah saluran. Aku geletakkan buku-buku yang kubeli di sebelahku. Ibuku lalu masuk membawa telepon genggamnya di tangan, yang lalu ia tunjukkan padaku.

 

Layarnya mati. Aku tidak tahu sebenarnya apa yang ingin ia tunjukkan padaku, tapi aku membiarkannya melakukan itu. Aku hanya melihat bayangan mata kananku, sesekali berkedip. Ibuku mengelus dan mencium lengan kananku. Kemudian ia melihat kea rah telepon genggamnya.

 

"Kok mati, gimana sih, nggak ngomong-ngomong?"

"Lho, aku pikir…" Aku tidak meneruskan.

 

Ia menunjukkan sebuah pesan pendek, tentang acara ulang tahun sepupunya, pamanku, Sabtu depan nanti.

 

"Datang aja, mbak. Sepertinya menarik."

"Oom itu sudah 60?"

"Iya."

 

Diam.

 

"Mama nanti harus ke Berlan. Menemani eyangmu. Bibimu mau pergi ke Suralaya hari ini, ngambil obat."

 

Aku hanya diam saja.

 

"Ma, aku lagi sedih. Ma, aku lagi sedih. Ma, aku patah hati," kataku dalam hati.

 

Tapi kemudian ia bercerita tentang seorang kerabat yang mengalami masalah keuangan, dan bagaimana ia terbebani dan cemas menghadapi permasalahan si kerabat.

 

"Apalah masalahku dibandingkan kegalauannya," kataku, "aku tidak bisa bercerita tentang masalahku."

 

Kedua buku yang aku letakkan di sampingku aku ambil, dan sisipkan di bawah bantal. Ibuku akhirnya selesai bercerita. Lalu aku membalikkan badan.

 

"Kenapa, mbak? Kamu lagi sedih kenapa?" tanyanya.

 

Aku masih tetap diam.

 

"Ayo cerita aja," katanya lagi. Aku merasakan dagunya di punggungku.

 

Aku memutuskan untuk tetap diam, walaupun dalam otakku, mulutku mengulang-ngulang cerita kesedihan. Yang keluar, aku hanya bisa mengatakan, "nggak" berulang-ulang.

"Kenapa? Kamu…kecewa, sedih, takut? Kecewa tentang…pekerjaan? Kenapa tentang pekerjaan?" ia mencoba menebak-nebak dan menganalisa.

 

Cerita itu sudah ada di ujung lidahku, Ma. Tapi kalau aku bercerita, aku tahu kau pasti akan marah; karena aku berhubungan dengan seseorang yang tidak kau izinkan. Dan aku akan merasa malu, karena Sabtu pagi ini, yang aku rasakan sebenarnya cuma kesepian, dan cemburu.

 

Aku mulai kesulitan bernafas. Dan ketika aku menarik nafas, ada sesuatu yang menghalangi jalur pernafasanku. Ibuku kini tahu aku sudah mulai menangis.

 

"Ayo cerita. Mama jadi ngganjel nih. Kamu sedih kenapa, kok sampai nangis?"

 

Aku ingin, Ma, tapi aku tidak bisa.

 

"Nggak apa-apa. Bukan sesuatu yang penting. Remeh banget, makanya aku nggak mau cerita."

"Tapi masak kamu sampai nangis?" ia kini mengusap rambut dan melepaskan jepit rambut di belakang telinga, penahan anak rambutku.

 

Tapi aku bangun, mengambil dua buku dari bawah bantal, dan keluar dari kamarnya.

 

"Kamu selalu gitu sih, nggak pernah mau share."

 

Ma, aku men-share terlalu banyak. Dan aku tahu, Mama tidak akan menjadi lega mendengar cerita ini.

 

Aku pindah ke kamarku sendiri, tertidur sekitar pukul sembilan. Saat terbangun, aku melihat jam sekitar pukul 12.30. ibuku sudah tidak ada, lalu aku pindah ke kamarnya. Aku sempat mendengar adikku dan ayahku datang. Kami sempat berbicara saat aku setengah tertidur. Mereka mengajakku pergi, aku menjawab tidak. Dan kemudian melanjutkan tidur. Dan saat terbangun, jam menunjukkan pukul 17.30. Aku sudah tertidur sembilan jam.

 

Malam itu, menjelang tidur, aku merasakan kekosongan itu kembali. Merasakan kehidupanku terbuang begitu saja, tak ada manusia, kehidupan yang berarti. A life of no importance.

 

Seorang sahabat sempat menelepon, setelah aku mengiriminya pesan pendek. Ketika dia menanyakan, "tapi kamu baik-baik aja kan?", awalnya akan menjawab tidak, tapi aku tidak tahu lagi bagaimana harus bercerita padanya bahwa aku tidak baik-baik saja.

 

Aku berubah pikiran, dan tidak jadi bercerita padanya.

 

Aku tertidur pukul 00.00 malam itu, dan terbangun dengan berkeringat. Ketika aku keluar kamar dan melihat jam di atas meja makan, pukul 12.00. Ini semakin parah.

Sambil meminum segelas air dingin, aku mencoba mengingat-ingat, kenapa aku terbangun masih dengan rasa kosong itu. Sesuatu yang berhubungan dengan mimpi tadi malam.

 

Oh, aku bermimpi tentang sebuah pernikahan. Pernikahanku. Tidak, tidak denganmu. Aku tidak pernah memimpikan itu tentangmu, tidak dalam dunia nyata, dan tidak dalam tidur.

 

Ceritanya, aku bertemu seseorang di toko buku, entah bagaimana aku dan lelaki itu hanya bertukar beberapa kata, tapi aku merasa dekat dengannya, dan kami bertukar nomor telepon. Entah bagaimana, dia menelepon dan berkata, ayo kita menikah, atau sesuatu seperti itu. Aku dan lelaki itu hanya bertemu satu kali di toko buku, dan aku tidak melihatnya lagi sampai akhir mimpi.

 

Tapi ada kesibukan yang luar biasa terjadi di sekitarku, dalam mimpi itu. The idea ada seseorang yang akan menikah denganku, dan the idea aku tidak akan kesepian lagi, membuat aku terus bahagia di mimpi itu.

 

Sampai pada hari-H-nya, semua orang di keluargaku sudah siap, dan entah kenapa, mereka memutuskan untuk memakai baju berwarna hitam-putih. Aku bahkan melihat ayah dari ayahku, memakai baju hitam panjang, seperti baju seorang pastur yang berbentuk gaun terusan berwarna hitam. Semua orang sudah siap untuk pergi ke tempat si mempelai pria (kenapa keluargaku yang harus datang ke sana? Atau kami akan pergi ke tempat resepsi?), dan hanya aku yang belum bersiap-siap. Aku belum mandi, dan aku belum keramas. Dan untuk mandi dan mencuci rambut, aku butuh waktu yang lama. Dan semua rasa bahagia yang sebelumnya ada, menjadi hilang, berganti dengan kegelisahan akan keterlambatanku, dan ketakutan akan orang yang tadinya akan menikahiku berubah pikiran, karena aku bersiap-siap terlalu lama. Lalu aku terbangun. Masih dengan rasa gelisah dan ketakutan itu. dan sekarang terasa lebih parah, karena aku tahu, kegelisahan dan ketakutan itu bukan hanya dari mimpi, tapi sedang kualami dalam kehidupan nyata. Tidak ada tempat untuk bersembunyi.

 

Aku masuk ke kamar ibuku, dan merebahkan diri lagi di situ.

 

Ayahku pulang sekitar satu jam kemudian, melihatku tertidur di tempat tidurnya, dan bertanya pada adikku, "Mbak-mu sakit ya?"

 

Aku mendengar pertanyaannya setengah sadar, dan dalam hati, aku mengiyakan 



Currently reading:
The Stranger (Vintage International)
By Albert Camus



Posted at 06:41 am by i_artharini
Make a comment  

Wednesday, February 08, 2006
Multitasking Bacaan

Rory Gilmore, atau nonton Gilmore Girls-lah, berguna buat ngasih beberapa tips dan motivator buat mbaca lebih banyak. Apakah aku terlalu sering mengatakannya? Ouw, sorry. Ah, what the hell. Emang bener kok.

Episode-nya pas Rory ngadepin finals, dia belajarnya multitasking gitu, "So for example, if I've hit a Bolshevik Revolution overloads, I shift over, and hello...Louis XVI is getting his head chopped off, and if I move over, there's Algebra (or Calculus gitu, aku rada lupa)".

Lorelei: "Wow, saving the party subject for last, huh?"
Rory: "It just seems to produce better results"

Nah, aku jadi mengadopsi teknik ini untuk mbaca. Emang udah my nature to get bored so easily. Too easily, in fact. Jadi, pas kemaren nge-organise buku di lemari kecil, lebih banyak yang ada di bagian 'udah setengah dibaca, tapi belum selesai karena keburu pindah ke buku lain' dari pada bagian 'belum dibaca sama sekali' atau 'sudah selesai dbaca'. Dan I used to feel very guilty about it. Karena rasanya, bagian lemari itu membuktikan asumsi ibuku tentang aku, yang never being able to finish anything.

Little did I know (haduh), kalo mungkin Attention Deficit Disorder itu emang sifat alami-ku, dan emang aku harus nyari jalan untuk ngelompatin masalah itu. Ugh, kenapa coba, nggak dari dulu-dulu kepikiran mbaca kayak gini?  (And not feeling guilty about it...)

Jadi sekarang, korbannya emang tas-ku jadi rada berat, tapi tak apalah, setidaknya biar bisa selesai mbaca buku. Sekarang jadi ada 4, 5, 6-an buku lah di tas. Dan ketika aku mengalami Tolstoy overload, hello...ada Stephen King lagi ngajarin nulis, terus bosen lagi...ada laporan jurnalisme mendalam yang bisa ngajarin cara nulis reportase yang menarik, terus ada Hemingway yang menawarkan kisahnya tentang menikmati nonton adu banteng di Pamplona bareng temen-temennya, dan...kumpulan short stories.

Sebagai seorang perempuan, multitasking harusnya udah jadi second nature kan?

Dan sejauh ini juga cukup bisa mengatasi kebosenan-kebosenan pas mbaca juga kok. Terus ada satu hal lagi yang bisa diambil dari Rory, attitude-nya yang ngerasa dia ketinggalan dalam daftar bacaannya, terus dia menggunakan semua waktu luang yang ada untuk 'catch up on (my) reading'. ("But I need to catch up on my reading.."-->ingat-ingat Nari, and live by it...)

Posted at 09:40 pm by i_artharini
Make a comment  

Next Page