PENARI MUNGIL


(Saya bukan seorang penari. Pun sangat jauh dari mungil. Tapi, tahu kan adegan 'Tiny Dancer' di 'Almost Famous'? Sensasi membahagiakan dari adegan itulah yang saya kejar..)



Hold me closer, tiny dancer

Count the headlights on the highway

Lay me down in sheets of linen

You had a busy day, today


("Tiny Dancer" - Elton John)





"...the quest for transcendence has always been closely linked to the ecstatic release of dancing."
(Resensi RollingStone atas sebuah album pop)

Mr. Darcy: "So what do you recommend, to encourage affection?"
Elizabeth Bennet: "Dancing, even if one's partner is only tolerable."
(Pride & Prejudice, 2005)


perempuan, 1983, lovesick soul, berjalan kaki, belajar menulis, menonton film, ingin keliling dunia, Billie Holliday, Jane Austen, 'Franny and Zooey', cerita pendek F Scott Fitzgerald, lagu-lagu sedih, kecanduan membeli buku second, deretan buku di lemari, berkeliling dengan bis kota, mengepak koper, menari bebas, Vogue, sepatu, bad boys, kopi, kuliner, foto, semua yang vintage, genggaman tangan, pelukan hangat, detil percakapan antara manusia, kegelisahan, kesepian, ruang pencarian, belajar dewasa, museum dan bangunan tua, hari hujan, sinar matahari hangat di hari berangin, airport, stasiun kereta, dan pertanyaan tanpa akhir

YM: isyana_artharini
Email: i.artharini@gmail.com
   

<< December 2007 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Saturday, December 22, 2007
Drama Tak Diundang

Rasional: Nari, Nari, Nari. Pulang-pulang dari Bali kok malah membawa drama. Tak diundang pula. Ckckck.

Irasional: Tapi paketnya itu too good to be true. Wartawan handal, fotografer top, punya banyak cerita dan trik di balik lengan bajunya, kritikus tulisan, bisa mencegah orang terlalu dalam dengan neurosisnya sendiri...

Rasional: Kamu lupa yang paling mendasar. Istri dan seorang anak. Memang, too good to be true. Dengan elemen mendasar itu, dia bisa dibilang tidak nyata.

Irasional: Oh, I know that. Dan aku juga cuma mengagumi dari jauh. Tapi kenapa platonisnya jadi makin mendalam? Sampai merasuk ke dunia mimpi segala? Sampai sering kepikiran di tengah-tengah siang bolong? Sampai jadi terbayang-bayang dan kangen? Dan did I mention beberapa jam nge-Google tentang dia?

Rasional: Please, get over yourself. Bisa saja dia hanya mewakili sebuah simbol, akan ritual dan masa liputan yang kamu rindukan dan tidak mungkin terulang. Ingat kan betapa kamu, pada senja terakhir, merasa sangat kehilangan ritual liputan selama dua minggu sebelumnya? Dan bilang, 'I'm gonna miss this'? Dia adalah bagian dari dua minggu itu. Kamu cuma merasa kangen sama dua minggu itu, bukan padanya.

(Jeda)

Rasional: Ini hanya sekedar masalah aklimatisasi. Kamu sedang menyesuaikan diri lagi dengan ritme dan kondisi kerja di Jakarta. Mungkin kamu sedang bingung. Karena kamu menyukai apa yang kamu kerjakan dan menyukai kondisi kerja di Bali selama dua minggu terakhir, tapi tak yakin apakah perasaan itu akan tersisa untuk Jakarta. "Segala sesuatu yang berhubungan dengan Jakarta itu tidak penting," kata si mas platonis dan kata seorang teman yang juga habis liputan panjang di luar negeri. Iya sih, tapi kan kita masih digaji dengan standar Jakarta...

Irasional: Lho, kamu kan harus bersuara rasional, jangan membuat pertanyaan-pertanyaan sendiri dong.

Rasional: Ya, ya, ya. Aku lanjutkan ya, si mas itu, walaupun tak sering ketemu, mewakili dua minggu saat semua pertanyaan-pertanyaanmu tentang mimpi dan cita-cita tak perlu lagi terus-terus ditanyakan, karena sudah otomatis terjawab dengan begitu mudahnya. Iya kan? Sekarang, kamu tak lagi yakin, apakah jawaban yang kamu dapat di Bali, bisa berlaku juga di Jakarta.

Kalau kamu bertanya padaku, jawabnya, seharusnya iya, nona. Kalau kamu tidak takut dengan konsekuensinya, jawaban yang kamu dapat tidak berlaku surut. Atau berlaku sesuai lokasi. Tapi mungkin kamu masih takut.

Dan si mas itu, adalah bentuk nyata dari dua minggu saat kamu tidak merasa takut dengan konsekuensi dan merasa nyaman dengan jawaban yang kamu dapat. Sepengertianku, lebih mudah mengangeni sesuatu yang nyata daripada yang abstrak. Si mas itu bentuknya lebih nyata dari rekaman kenangan selama dua minggu kan?

Irasional: Rasional, apakah aku bisa memercayaimu?

Rasional: Terserah. Aku hanya berusaha membantu. Sepertinya aku terpaksa berhenti dulu di sini.  Kuatkan hati untuk memilih ya.

Posted at 07:43 pm by i_artharini
Comments (2)  

Friday, November 30, 2007
Mabuk

Gosip-gosipnya siihh...salah satu petinggi di sini, waktu bekerja di kantor sebelumnya, pernah muntah gara-gara mabuk pas deadline. Sementara gue, ih, udah pengen muntah lihat kondisi meja sendiri di kantor. Hhheghhhh.

Semangat, semangat.

Posted at 07:48 pm by i_artharini
Make a comment  

Pendukung

(Pertama-pertama: ah, aku lega pas tahu kalau bukan cuma aku yang bisa nangis tentang kerjaan ini. Kalau atasanku membacanya, yaa..gimana lagi ya? Maklumin aja kali ya, hehe)

Seharusnya kan aku nggak perlu deg-degan ya dengan pergi ke Bali? Toh aku cuma aktris pendukung gitu. Tapi tetep aja, even a supporting actress harus hapal dialog-dialognya. Dan aku belum belajar. Belum sempet juga.

Duh kayaknya Sabtu harus crash course deh. Tapi kan pengen belanja juga. Yah, walaupun aktris pendukung kan tetap harus mikirin kostum...

Posted at 05:36 pm by i_artharini
Comment (1)  

Thursday, November 29, 2007
Come Hither

Di tengah-tengah mencoret-coret "puff sleeves, balloon skirts, V neckline, hideous combination", dst waktu menonton pagelaran busana kemarin malam, aku sempat melihat wajah familiar.

Wajah seorang model cowok.

Familiar karena model ini pernah dipakai sebelumnya di sebuah show kecil di Plaza Indonesia yang aku tonton. Oops, maksudnya yang aku liput. Waktu itu sih, seingatku, dia berjalan kayak manusia gua gitu lho. Yang kayak ada pipa paralon terjepit di antara dua kakinya dan dia harus berjalan sambil tidak mengenai pipa itu...

Nah, waktu di Plaza Indonesia itu, di belakangku ada wartawan cowok. Dia sibuk ngasih subtitle deh dari awal pagelaran sampai habis. Dari mulai, "Ini kan si ... ya? Gayanya cool banget deh. Asik gitu." Atau, "Ih, lihat deh. Gayanya sok cakep banget." Tapi, komentarnya tentang si 'Manusia Gua' itu yang membuatku terbatuk-batuk.

"Hmmmmmm..Duh, liat deh bo', liat deh bo'. Mukanya tuh minta dibawa tidur. Eeeghhh."

Yah, aku akan secara resmi menerjemahkan "come-hither look" jadi "minta dibawa tidur".

Tapi yang membuatku ketawa geli pas pertama kali liat si Minta Dibawa Tidur ini adalah, dia lagi memeragakan sarung, baju koko plus peci. Yes, ikon seks buat satu pria bisa jadi guru ngaji buat perempuan lain.

Posted at 10:46 pm by i_artharini
Comment (1)  

(milih judul tuh ngeselin nggak sih?)

Hari ini aku belajar bahwa nangis stress sama ketawa histeris karena geli itu dekat banget. Kayak dari A ke B. 

Posted at 10:30 pm by i_artharini
Make a comment  

Tuesday, November 27, 2007
Hoahhem...

Mata udah kriyip-kriyip, lensa udah minta dicopot, masih ada ibu hamil, wartawan lingkungan hidup sejati dan webstore builder/wartawan polkam di kantor. (Ngapain kita masih pada di kantor ya? Aku sih sebenernya masih ada kerjaan, cuman udah ngantuk dan si temen sharing taksi belum ada niat-niat pulang..)

Tapi, oke. Ini sekedar pengingat hari aja, biar nggak kelupaan.

1. Cafe au Lait Bowl
I'm seriously (bermain-main sebenernya, tapi main-main yang serius. Kayak Deathproof atau Kill Bill gitu lho) thinking of being an MT in a bank. Gila. Ini udah hari kedua berturut-turut aku nongkrong di Cafe au Lait pagi-pagi dan minum latte yang ukurannya bowl. Kemarin, karena emang butuh kopi dan belum sarapan. Hari ini, karena emang mau pagi-pagi ke BKPM. Dan...ck, ck, ck. Deretan cowok-cowok sebayaku yang rapi dan bersih itu berseliweran nggak berhenti-berhenti. Pagi-pagi udah membuatku berfantasi aja nih. Walaupun bayangan pertamaku adalah, hmm....kalau kerja di bank, boleh pake sepatu dengan sentuhan gaya dominatrix gitu nggak?

2. 'Nyolong' buku di BKPM
Pas ke BKPM, serasa kembali ke dunia nyata deh. Sampai sana udah jam 8.15 menjelang 8.20an, kantor Humasnya masih kosong booo. Padahal di kantor sebelahnya yang tadi aku tongkrongin, dari jam 7.15an orang udah ngantre cuman buat naik lift ke tempat kerja. Orwell-ian banget nggak sih?

Nunggu-menunggu, muncul seorang bapak dari dalam lift yang aku pikir si bapak humas. Ternyata dia dari biro hukum. Untungnya baik. Dia ternyata punya saudara di tempatku bekerja, yang aku kenal juga, redaktur kelas atas deh. Akhirnya si bapak ini nelponin bapak humasnya dan dari situ disuruh untuk langsung aja ke bagian yang aku butuhin, nggak perlu pakai surat-surat pengantar atau sejenisnya. Dua pegawai lain, yang muncul sebelum si bapak ini muncul, dari tadi cuman sok cuek aja.

Akhirnya, pas ke bawah, ya intinya sih data lengkapnya nggak bisa didapetin hari ini, dan aku masih harus nge-faks surat permohonan, etc, etc. Tapi si bapak kabag data itu ngasih buku contoh laporan bulanan BKPM. Aku baca-baca, kayaknya sih ini udah lengkap. Tapi terus aku dioper ke bawahannya. Pas selesai nge-brief apa yang aku butuhin, itu buku mau aku tinggal di meja, eh si bawahan bilang: "ini bukunya jangan sampai ketinggalan". Ya sudahlah, aku masukin ke tas, tasnya ditutup.

Eh pas pamit sama si kabagnya, dia bilang: "ya sudah nanti difaks aja suratnya, no-nya.....kalau mau bukunya yang tadi itu, daftar dulu, buat izin, dst, dst". Dan ya of course lah, itu buku udah ada di dalam tas dan aku cuma ber-oh ya, oh ya.

Merasa punya barang panas di dalam tas, aku jalan sampai mau nabrak-nabrak, nunggu 46 kok juga nggak datang-datang, keburu itu si bapak muncul di tikungan antara Direktorat Pajak-BKPM. Dan pas bisnya datang, hahaha, jadi ngerasa lega. Padahal kalau dipikir-pikir, katanya itu buku ada versi lengkapnya di situsnya. Cuma aku suka rada nggak percaya gitu. Takutnya ada sejenis glitch teknis yang membuatku nggak dapet data itu...Stupid nggak?

Dan aku men-Yudhistira-kan keadaan itu dengan bilang dalam hati: "Lha kan tadi udah disuruh mbawa ama mbaknya". Hehehe.

3. Nge-mail UNFCCC
Seharian udah mbayangin bakal sepedaan di Nusa Dua. Pulang dari Bali dengan muka dan lengan yang tambah hitam dan terbakar. Tapi kerasa happy gitu karena fit dan berhasil menyelesaikan sebuah misi yang bisa ditaruh di CV, hehe. Telpon-telpon ke media centernya juga nggak ada yang ngangkat. Dan ternyata, by the end of the day, udah dapet status Ok. Wohoo, I'm going to Bali!

4. Edisi akhir tahun
Ah, seharian habisnya buat 'deskripsi acara' ama konversi data kunjungan wisatawan 1997an sampe 2006 atau mid 2007 di empat negara, plus data pemasukannya. One thing for sure, Malaysian tourism is scary. Singapura ama Thailand--walaupun nominal pemasukannya gede--tetep labil. Malaysia tuh naik terus grafiknya.

5. Nggosip
And this is where I have my 6th and 7th cigs of the year. I'm only planning to have five each year. Tapi ternyata...hhaeghhh. My first is at my last birthday, terakhir, saat beresolusi untuk berhenti. Keduanya, dua minggu kemudian, minta punya Sic, cuman karena craving aja gitu. Ketiganya...oh, abis pulang dari Mapia, pertama kali masuk mingguan lagi dan deg-degan disuruh nulis 'Jeda'. Nomor empat, pas Lebaran. Thanks to bulik-bulik cerewet yang (entah gimana dan jangan tanya kenapa) buatku jadi terlihat keren dengan menghirup kopi dan nggosip dan ngrokok setelah anak-anak mereka SMP-SMA. Kelima, oh, pas sendirian di rumah, yang ngerasa patah hati ama kerjaan itu lho. Terus aku memberi pembenaran dengan: you're allowed to have one when you're heart is breaking. Hehe.

Enam dan tujuh? Ugh, nggak ada alasan kuat buat yang dua ini, kecuali indulging. Huks.

Ah, ini si taxi-sharer kok belum mau pulang seehhh?

Posted at 10:14 pm by i_artharini
Make a comment  

Monday, November 26, 2007
Life List 2 (sedikit modifikasi)

(Yang terakhir sebelum mulai ngetik tugas-tugas terbengkalai)

22. Bisa memasak, menjahit, mem-bake kue. Pokoknya ilmu-ilmu domestik yang katanya merupakan bagian dari peran tradisional perempuan itu, aku harus bisa. Bukan masalah kodrat atau sesuatu seklise itu sih, cuma karena kemampuan-kemampuan itu bisa membuat hidup lebih nyaman. Dan itu sebenarnya yang dituju.

Dari sedikit perbincangan dengan Sic:

"Gue juga bisa ke London gara-gara itu lho. Ditulis aja. Nggak nyangka gimana bisa akhirnya kesampean.... Tulisan elu menang sesuatu juga harus ditulis."

Oh iya, ya.

Aku: "Aku pengen menang sesuatu yang bisa nambah tabungan."
Sic: "Ah sebenernya enggak harus gitu juga. Elu menang aja kan elu udah nggak mikir yang lain-lain lagi (apakah kutipanku tepat? Tapi intinya sih itu)."
Aku: "Hhmm..mungkin sih."

Tapi, oke.

23. Tulisanku bisa menang suatu penghargaan positif.

Sic: Gue, ke London kesampean. Kuliah juga jadi. Yang nggak jadi cuma punya kisah cinta yang menyenangkan.
Aku: Berarti nulisnya harus "punya kisah cinta menyenangkan yang berakhir bahagia."
Sic: Iya ya. Kalau cuma menyenangkan aja, buat orang yang masokis kayak gue kan ya jadi nggak berakhir bahagia ya?

Jadi,

24. Punya kisah cinta menyenangkan yang berakhir bahagia. Ini berlaku mulai sekarang. Harapannya sih buat 2008, hehe.

Dan, oh, tentang keinginan get married, have kids, mungkin aku harus nambahin ini: Since I'm a hopeless incurable romantic, I hope to marry for love. There will be movies to watch every night, or every Friday night, yang semuanya berakhir dengan make out session ^_^

Ah, beberapa redaktur sudah muncul buat rapat pagi. Dan aku, harus kembali bekerja..

(ps: Aku tiba-tiba mengerti tentang fenomena chicklit yang meledak itu. Blog ini, sepertinya, sudah mulai senafas dengan chicklit-chicklit itu. Sepertinya tidak bisa dihindari. Kayak ada sebuah proses inisiasi yang membuatku jadi seperti ini, tapi aku lupa kapan dilakukannya dan bagaimana itu bisa merubahku jadi chicklit-ers. Tapi nggak ada yang salah juga kan ya dengan jadi seperti itu?)

Posted at 08:57 am by i_artharini
Make a comment  

Perawan

Membaca tulisannya DHF dan XAR di Kompas Minggu (25/11) lalu tentang (salah satunya) klab Vintage di X2, Plaza Senayan, aku jadi ingat punya cerita sendiri. Kamis malam lalu (22/11) ada acara pesta kostum tahunannya sekolah mode ESMOD di klab yang sama.

Aku dan FI ditugaskan meliput.

Asalnya agak ragu melihat tempatnya, soalnya kok tulisannya Davidoff Launch Party. Tapi setelah ditanya ke door(wo)man-nya ternyata benar, pesta kostumnya juga di situ. Nah, setelah menyebutkan nama media, tangan kita masing-masing dicap kayak di Dufan itu lhoo. Nggak muncul apa-apa di tangannya.

Aku dan FI: Lho kok nggak ada apa-apa mbak
Door(wo)man: *Sejenak memberi tatapan "yaelah..."* Nanti pake ultraviolet keliatan, mbak.
Serempak: Ooooo

Dan pas petugas berseragam safari keamanan mengarahkan batangan lampu UV ke tangan-tangan kami, ada lambangnya lho, bersinar di kegelapan. Wahahah, ketahuan banget kalo kami adalah perawan-perawan gemerlapnya dunia malam Jakarta.

Pas acara-acara utamanya udah selesai, kan terus ada DJ yang mainin lagu-lagu (yang sebenernya amat sangat danceable). Di situlah aku nyadar, oh, oh, oh, ternyata aku kangen banget menari diiringi musik keras gitu. Tapi karena there's nobody I know there, dan udah capek plus ngantuk juga, jadi cepet-cepet pulang. Sampai sekarang, itu nada-nada yang dimainin si DJ masih tetap terekam di kepalaku lho.

Posted at 08:41 am by i_artharini
Make a comment  

Kebutuhan Dasar

"Mbak, kamu S2nya gimana? Jadi nggak?"
"Ya, belum tahu."
"Kamu udah mau jadi wartawan terus di tempat sekarang?"
"Heeghhh...nggak tahu."
"Ya rencanamu gimana lho..."
"Duh, nanti dulu deh, aku masih mikirin deadline banyak banget nih..."
"Ya kalau S2 belum, nikahnya jadinya kapan?"
"....."

Senin pagi, jam setengah tujuh juga belum, tiba-tiba sudah harus memikirkan jawaban pertanyaan-pertanyaan besar itu dari ayahku. Pikiranku cuma sampai akhir minggu ini, deadline edisi akhir tahun, majalah sebuah bank, pekerjaan sehari-hari, dan terancam nggak bisa masuk ke KTT Perubahan Iklim. Heegghh.

Tapi, setelah ikut turun di kantornya ayahku, beli cafe au lait yang bowl (beneran dikasih mangkuk sop), tiba-tiba ada lampu yang menyala di dalam kepalaku. Semuanya jadi terang.Aku kembali jadi optimis.

Terancam nggak bisa masuk KTT Perubahan Iklim? Ya tinggal diurus aja.
Deadline edisi akhir tahun? Ya jalanin aja. Kalau mepet bisa telpon-telpon.
Deadline majalah bank? Tinggal artikel kesehatan sekitar 80 barisan kan?
Merasa nggak dapet reward? Ya tinggal retail therapy aja. Belanja dong.
Pekerjaan sehari-hari? Kuliner udah nyicil, masih ada sisa punya FI lagi, dan tasting di resto baru, Sehat masih ada sisa dari minggu lalu, ada Tendance juga. Pokoknya semangat!

Ah, inilah sebabnya orang ngomong: I can't function without my coffee in the morning. Bukan hanya sekedar membangunkan mata, itu mah udah bisa dilakukan lewat mandi, tapi kopi bisa membangunkan rasa. Semangat. Optimisme. Hidup.

(Spoken like a true junkie)

Posted at 08:27 am by i_artharini
Make a comment  

Saturday, November 24, 2007
Setengah Bangun

Badanku sebenernya udah capeeek banget. Tapi kok kayaknya aku masih belum pengen menghabiskan hari ini dengan tidur. Atau belum rela gitu menutup hari. Yang berarti menutup semua masalah-masalah di hari ini.  

Ada hal-hal yang masih ngganjel, yang belum bisa aku temuin jawabannya, atau setidaknya kejadian yang bisa aku 'maklumi'. Sama sekali nggak nyangka, hubunganku dengan pekerjaan ini bisa jadi begitu panjang dan rumit.

Baru beberapa hari yang lalu aku pengen jadi wartawan hebat. Tapi, seingatku, malamnya, aku merasa patah hati sama...--nah ini aku tidak bisa menentukan--bisa institusi tempatku bekerja, bisa pekerjaannya. Tapi ketika aku mengungkapkannya keras-keras, yang keluar adalah: aku cinta pekerjaan ini. Tadi siang juga, ketika beberapa orang nanya, did you like it? Aku menjawab, oh yes, I love it. Itu aku katakan beberapa kali, dan semuanya aku jawab dengan mantap. Nggak terasa ada kebohongan yang aku katakan. (Atau karena aku udah terlalu terbiasa dengan kebohongan itu?) 

Jadi, apa yang membuatmu masih terbangun, Nari?

Hmm, mungkin karena aku sadar, Senin besok adalah awal dari tiga minggu tersibuk selama 2 tahun 8 bulanku kerja. Yang membuatnya berat adalah karena aku nggak tahu apa ada sesuatu yang bisa aku nanti-nantikan sebagai reward di akhirnya. It's not about the money at all. Tapi mungkin sekedar...reward. Yang bukan lagi 'sekedar' pujian atau tanggung jawab baru. Tapi ya sekedar reward. Penghargaan. Aku tidak tahu apa bentuknya yang aku pengeni, tapi aku tahu rasanya ketika mendapat sebuah reward. Dan yang pasti bukan tantangan-tantangan baru lagi.

Apakah aku terlalu besar kepala untuk mengharapkan suatu reward? Biasanya, dulu-dulunya, aku tidak mengharapkan apa-apa. Tapi kenapa sekarang aku jadi picik(?) ya?

***

"The Devil Wears Prada", walaupun aku nggak gitu suka Anne Hathaway-nya, setiap kali ditonton (dan kemarin-kemarin emang lagi sering diputer di tv kabel), selalu membuat aku bertanya-tanya tentang hubunganku dan kerjaan.

Andy kayaknya mengalami masalah yang sama, tentang dia yang merasa nggak dihargai terus ngadu ke Nigel (Stanley Tucci), dan Nigel memarah-marahinya dengan tepat. "You, trying hard enough?" atau tentang "What do you expect her to do, kiss you on the forehead, give you a ribbon, etc...?".

Well, aku jadi bertanya-tanya:

Apakah aku sudah berusaha cukup keras?

Jawabanku sih sepertinya belum. Ada hal-hal yang aku harap bisa lebih sempurna. Tapi kok ujung-ujungnya yang muncul adalah kesimpulan, aku tidak yakin apakah aku mau berinvestasi lebih lama, berusaha lebih keras untuk mendapat sesuatu yang belum pasti itu.

And yet. Aku masih pengen jadi wartawan.

Btw, rasa-rasa sedih dan bingungnya kok agak sama ya kayak waktu lagi berkeping-keping setahun lalu itu lhoo. Sejenis second heartbreak sepertinya. Kalau misalnya iya, beneran patah hati, penyelesaiannya simpel kan? Ya udah, tinggalin dan start something afresh. Right?

Yang membuatnya nggak simpel karena aku masih butuh sesuatu dari hubungan ini. Jadi sekarang fokusnya terarah ke timbangan, apakah 'sesuatu-sesuatu' itu lebih berat dari semua yang kamu keluhkan, Nari? Itu dulu sepertinya yang harus dijawab. Kalau lebih ringan, ya sudah, hubungan itu berakhir. Kalau lebih berat, ya sudah, suck it up, and do your work.

Hmm, sepertinya aku lebih takut sama jawaban yang akan muncul deh. Mungkin itu sebabnya selama ini pertanyaannya nggak terjawab-jawab, karena aku mengindari untuk menjawabnya.

Oke, aku tinggalin dulu aja di situ.


Posted at 11:22 pm by i_artharini
Make a comment  

Next Page