"...the quest for transcendence has always been closely linked to the ecstatic release of dancing." (Resensi RollingStone atas sebuah album pop) Mr. Darcy: "So what do you recommend, to encourage affection?"Elizabeth Bennet: "Dancing, even if one's partner is only tolerable." (Pride & Prejudice, 2005)perempuan, 1983, lovesick soul, berjalan kaki, belajar menulis, menonton film, ingin keliling dunia, Billie Holliday, Jane Austen, 'Franny and Zooey', cerita pendek F Scott Fitzgerald, lagu-lagu sedih, kecanduan membeli buku second, deretan buku di lemari, berkeliling dengan bis kota, mengepak koper, menari bebas, Vogue, sepatu, bad boys, kopi, kuliner, foto, semua yang vintage, genggaman tangan, pelukan hangat, detil percakapan antara manusia, kegelisahan, kesepian, ruang pencarian, belajar dewasa, museum dan bangunan tua, hari hujan, sinar matahari hangat di hari berangin, airport, stasiun kereta, dan pertanyaan tanpa akhir YM: isyana_artharini Email: i.artharini@gmail.com
|
|
Saturday, December 22, 2007
Rasional: Nari, Nari, Nari. Pulang-pulang dari Bali kok malah membawa drama. Tak diundang pula. Ckckck.
Irasional: Tapi paketnya itu too good to be true. Wartawan handal,
fotografer top, punya banyak cerita dan trik di balik lengan bajunya,
kritikus tulisan, bisa mencegah orang terlalu dalam dengan neurosisnya
sendiri...
Rasional: Kamu lupa yang paling mendasar. Istri dan seorang anak. Memang, too good to be true. Dengan elemen mendasar itu, dia bisa dibilang tidak nyata.
Irasional: Oh, I know that. Dan aku juga cuma mengagumi dari jauh. Tapi
kenapa platonisnya jadi makin mendalam? Sampai merasuk ke dunia mimpi
segala? Sampai sering kepikiran di tengah-tengah siang bolong? Sampai
jadi terbayang-bayang dan kangen? Dan did I mention beberapa jam nge-Google tentang dia?
Rasional: Please, get over yourself. Bisa saja dia hanya mewakili
sebuah simbol, akan ritual dan masa liputan yang kamu rindukan dan
tidak mungkin terulang. Ingat kan betapa kamu, pada senja terakhir,
merasa sangat kehilangan ritual liputan selama dua minggu sebelumnya?
Dan bilang, 'I'm gonna miss this'? Dia adalah bagian dari dua minggu
itu. Kamu cuma merasa kangen sama dua minggu itu, bukan padanya.
(Jeda)
Rasional: Ini hanya sekedar masalah aklimatisasi. Kamu sedang
menyesuaikan diri lagi dengan ritme dan kondisi kerja di Jakarta.
Mungkin kamu sedang bingung. Karena kamu menyukai apa yang kamu
kerjakan dan menyukai kondisi kerja di Bali selama dua minggu terakhir,
tapi tak yakin apakah perasaan itu akan tersisa untuk Jakarta. "Segala
sesuatu yang berhubungan dengan Jakarta itu tidak penting," kata si mas
platonis dan kata seorang teman yang juga habis liputan panjang di luar
negeri. Iya sih, tapi kan kita masih digaji dengan standar Jakarta...
Irasional: Lho, kamu kan harus bersuara rasional, jangan membuat pertanyaan-pertanyaan sendiri dong.
Rasional: Ya, ya, ya. Aku lanjutkan ya, si mas itu, walaupun tak sering
ketemu, mewakili dua minggu saat semua pertanyaan-pertanyaanmu tentang
mimpi dan cita-cita tak perlu lagi terus-terus ditanyakan, karena sudah
otomatis terjawab dengan begitu mudahnya. Iya kan? Sekarang, kamu tak
lagi yakin, apakah jawaban yang kamu dapat di Bali, bisa berlaku juga
di Jakarta.
Kalau kamu bertanya padaku, jawabnya, seharusnya iya, nona. Kalau kamu
tidak takut dengan konsekuensinya, jawaban yang kamu dapat tidak
berlaku surut. Atau berlaku sesuai lokasi. Tapi mungkin kamu masih
takut.
Dan si mas itu, adalah bentuk nyata dari dua minggu saat kamu tidak
merasa takut dengan konsekuensi dan merasa nyaman dengan jawaban yang
kamu dapat. Sepengertianku, lebih mudah mengangeni sesuatu yang nyata
daripada yang abstrak. Si mas itu bentuknya lebih nyata dari rekaman
kenangan selama dua minggu kan?
Irasional: Rasional, apakah aku bisa memercayaimu?
Rasional: Terserah. Aku hanya berusaha membantu. Sepertinya aku
terpaksa berhenti dulu di sini. Kuatkan hati untuk memilih ya.
Posted at 07:43 pm by i_artharini
Permalink
Friday, November 30, 2007
Gosip-gosipnya siihh...salah satu petinggi di sini, waktu bekerja di
kantor sebelumnya, pernah muntah gara-gara mabuk pas deadline.
Sementara gue, ih, udah pengen muntah lihat kondisi meja sendiri di
kantor. Hhheghhhh.
Semangat, semangat.
Posted at 07:48 pm by i_artharini
Permalink
(Pertama-pertama: ah, aku lega pas tahu kalau bukan cuma aku yang bisa
nangis tentang kerjaan ini. Kalau atasanku membacanya, yaa..gimana lagi
ya? Maklumin aja kali ya, hehe)
Seharusnya kan aku nggak perlu deg-degan ya dengan pergi ke Bali? Toh
aku cuma aktris pendukung gitu. Tapi tetep aja, even a supporting
actress harus hapal dialog-dialognya. Dan aku belum belajar. Belum
sempet juga.
Duh kayaknya Sabtu harus crash course deh. Tapi kan pengen belanja
juga. Yah, walaupun aktris pendukung kan tetap harus mikirin kostum...
Posted at 05:36 pm by i_artharini
Permalink
Thursday, November 29, 2007
Di tengah-tengah mencoret-coret "puff sleeves, balloon skirts, V
neckline, hideous combination", dst waktu menonton pagelaran busana
kemarin malam, aku sempat melihat wajah familiar. Wajah seorang model cowok.
Familiar karena model ini pernah dipakai sebelumnya di sebuah show
kecil di Plaza Indonesia yang aku tonton. Oops, maksudnya yang aku
liput. Waktu itu sih, seingatku, dia berjalan kayak manusia gua gitu
lho. Yang kayak ada pipa paralon terjepit di antara dua kakinya dan dia
harus berjalan sambil tidak mengenai pipa itu... Nah, waktu
di Plaza Indonesia itu, di belakangku ada wartawan cowok. Dia sibuk
ngasih subtitle deh dari awal pagelaran sampai habis. Dari mulai, "Ini
kan si ... ya? Gayanya cool banget deh. Asik gitu." Atau, "Ih, lihat
deh. Gayanya sok cakep banget." Tapi, komentarnya tentang si 'Manusia
Gua' itu yang membuatku terbatuk-batuk. "Hmmmmmm..Duh, liat deh bo', liat deh bo'. Mukanya tuh minta dibawa tidur. Eeeghhh." Yah, aku akan secara resmi menerjemahkan "come-hither look" jadi "minta dibawa tidur".
Tapi yang membuatku ketawa geli pas pertama kali liat si Minta Dibawa
Tidur ini adalah, dia lagi memeragakan sarung, baju koko plus peci.
Yes, ikon seks buat satu pria bisa jadi guru ngaji buat perempuan lain.
Posted at 10:46 pm by i_artharini
Permalink
(milih judul tuh ngeselin nggak sih?)
Hari ini aku belajar bahwa nangis stress sama ketawa histeris karena geli itu dekat banget. Kayak dari A ke B.
Posted at 10:30 pm by i_artharini
Permalink
Tuesday, November 27, 2007
Mata udah kriyip-kriyip, lensa udah minta dicopot, masih ada ibu hamil,
wartawan lingkungan hidup sejati dan webstore builder/wartawan polkam
di kantor. (Ngapain kita masih pada di kantor ya? Aku sih sebenernya
masih ada kerjaan, cuman udah ngantuk dan si temen sharing taksi belum
ada niat-niat pulang..)
Tapi, oke. Ini sekedar pengingat hari aja, biar nggak kelupaan.
1. Cafe au Lait Bowl
I'm seriously (bermain-main sebenernya, tapi main-main yang serius.
Kayak Deathproof atau Kill Bill gitu lho) thinking of being an MT in a
bank. Gila. Ini udah hari kedua berturut-turut aku nongkrong di Cafe au
Lait pagi-pagi dan minum latte yang ukurannya bowl. Kemarin, karena
emang butuh kopi dan belum sarapan. Hari ini, karena emang mau
pagi-pagi ke BKPM. Dan...ck, ck, ck. Deretan cowok-cowok sebayaku yang
rapi dan bersih itu berseliweran nggak berhenti-berhenti. Pagi-pagi
udah membuatku berfantasi aja nih. Walaupun bayangan pertamaku adalah,
hmm....kalau kerja di bank, boleh pake sepatu dengan sentuhan gaya
dominatrix gitu nggak?
2. 'Nyolong' buku di BKPM
Pas ke BKPM, serasa kembali ke dunia nyata deh. Sampai sana udah jam
8.15 menjelang 8.20an, kantor Humasnya masih kosong booo. Padahal di
kantor sebelahnya yang tadi aku tongkrongin, dari jam 7.15an orang udah
ngantre cuman buat naik lift ke tempat kerja. Orwell-ian banget nggak
sih?
Nunggu-menunggu, muncul seorang bapak dari dalam lift yang aku pikir si
bapak humas. Ternyata dia dari biro hukum. Untungnya baik. Dia ternyata
punya saudara di tempatku bekerja, yang aku kenal juga, redaktur kelas
atas deh. Akhirnya si bapak ini nelponin bapak humasnya dan dari situ
disuruh untuk langsung aja ke bagian yang aku butuhin, nggak perlu
pakai surat-surat pengantar atau sejenisnya. Dua pegawai lain, yang
muncul sebelum si bapak ini muncul, dari tadi cuman sok cuek aja.
Akhirnya, pas ke bawah, ya intinya sih data lengkapnya nggak bisa
didapetin hari ini, dan aku masih harus nge-faks surat permohonan, etc,
etc. Tapi si bapak kabag data itu ngasih buku contoh laporan bulanan
BKPM. Aku baca-baca, kayaknya sih ini udah lengkap. Tapi terus aku
dioper ke bawahannya. Pas selesai nge-brief apa yang aku butuhin, itu
buku mau aku tinggal di meja, eh si bawahan bilang: "ini bukunya jangan
sampai ketinggalan". Ya sudahlah, aku masukin ke tas, tasnya ditutup.
Eh pas pamit sama si kabagnya, dia bilang: "ya sudah nanti difaks aja
suratnya, no-nya.....kalau mau bukunya yang tadi itu, daftar dulu, buat
izin, dst, dst". Dan ya of course lah, itu buku udah ada di dalam tas
dan aku cuma ber-oh ya, oh ya.
Merasa punya barang panas di dalam tas, aku jalan sampai mau
nabrak-nabrak, nunggu 46 kok juga nggak datang-datang, keburu itu si
bapak muncul di tikungan antara Direktorat Pajak-BKPM. Dan pas bisnya
datang, hahaha, jadi ngerasa lega. Padahal kalau dipikir-pikir, katanya
itu buku ada versi lengkapnya di situsnya. Cuma aku suka rada nggak
percaya gitu. Takutnya ada sejenis glitch teknis yang membuatku nggak
dapet data itu...Stupid nggak?
Dan aku men-Yudhistira-kan keadaan itu dengan bilang dalam hati: "Lha kan tadi udah disuruh mbawa ama mbaknya". Hehehe.
3. Nge-mail UNFCCC
Seharian udah mbayangin bakal sepedaan di Nusa Dua. Pulang dari Bali
dengan muka dan lengan yang tambah hitam dan terbakar. Tapi kerasa
happy gitu karena fit dan berhasil menyelesaikan sebuah misi yang bisa
ditaruh di CV, hehe. Telpon-telpon ke media centernya juga nggak ada
yang ngangkat. Dan ternyata, by the end of the day, udah dapet status
Ok. Wohoo, I'm going to Bali!
4. Edisi akhir tahun
Ah, seharian habisnya buat 'deskripsi acara' ama konversi data
kunjungan wisatawan 1997an sampe 2006 atau mid 2007 di empat negara,
plus data pemasukannya. One thing for sure, Malaysian tourism is scary.
Singapura ama Thailand--walaupun nominal pemasukannya gede--tetep
labil. Malaysia tuh naik terus grafiknya.
5. Nggosip
And this is where I have my 6th and 7th cigs of the year. I'm only
planning to have five each year. Tapi ternyata...hhaeghhh. My first is
at my last birthday, terakhir, saat beresolusi untuk berhenti.
Keduanya, dua minggu kemudian, minta punya Sic, cuman karena craving
aja gitu. Ketiganya...oh, abis pulang dari Mapia, pertama kali masuk
mingguan lagi dan deg-degan disuruh nulis 'Jeda'. Nomor empat, pas
Lebaran. Thanks to bulik-bulik cerewet yang (entah gimana dan jangan
tanya kenapa) buatku jadi terlihat keren dengan menghirup kopi dan
nggosip dan ngrokok setelah anak-anak mereka SMP-SMA. Kelima, oh, pas
sendirian di rumah, yang ngerasa patah hati ama kerjaan itu lho. Terus
aku memberi pembenaran dengan: you're allowed to have one when you're
heart is breaking. Hehe.
Enam dan tujuh? Ugh, nggak ada alasan kuat buat yang dua ini, kecuali indulging. Huks.
Ah, ini si taxi-sharer kok belum mau pulang seehhh?
Posted at 10:14 pm by i_artharini
Permalink
Monday, November 26, 2007
Life List 2 (sedikit modifikasi)
(Yang terakhir sebelum mulai ngetik tugas-tugas terbengkalai)
22. Bisa memasak, menjahit, mem-bake kue. Pokoknya ilmu-ilmu domestik
yang katanya merupakan bagian dari peran tradisional perempuan itu, aku
harus bisa. Bukan masalah kodrat atau sesuatu seklise itu sih, cuma
karena kemampuan-kemampuan itu bisa membuat hidup lebih nyaman. Dan itu
sebenarnya yang dituju.
Dari sedikit perbincangan dengan Sic:
"Gue juga bisa ke London gara-gara itu lho. Ditulis aja. Nggak nyangka
gimana bisa akhirnya kesampean.... Tulisan elu menang sesuatu juga
harus ditulis."
Oh iya, ya.
Aku: "Aku pengen menang sesuatu yang bisa nambah tabungan."
Sic: "Ah sebenernya enggak harus gitu juga. Elu menang aja kan elu udah
nggak mikir yang lain-lain lagi (apakah kutipanku tepat? Tapi intinya
sih itu)."
Aku: "Hhmm..mungkin sih."
Tapi, oke.
23. Tulisanku bisa menang suatu penghargaan positif.
Sic: Gue, ke London kesampean. Kuliah juga jadi. Yang nggak jadi cuma punya kisah cinta yang menyenangkan.
Aku: Berarti nulisnya harus "punya kisah cinta menyenangkan yang berakhir bahagia."
Sic: Iya ya. Kalau cuma menyenangkan aja, buat orang yang masokis kayak gue kan ya jadi nggak berakhir bahagia ya?
Jadi,
24. Punya kisah cinta menyenangkan yang berakhir bahagia. Ini berlaku mulai sekarang. Harapannya sih buat 2008, hehe.
Dan, oh, tentang keinginan get married, have kids, mungkin aku harus
nambahin ini: Since I'm a hopeless incurable romantic, I hope to marry
for love. There will be movies to watch every night, or every Friday
night, yang semuanya berakhir dengan make out session ^_^
Ah, beberapa redaktur sudah muncul buat rapat pagi. Dan aku, harus kembali bekerja..
(ps: Aku tiba-tiba mengerti tentang fenomena chicklit yang meledak itu.
Blog ini, sepertinya, sudah mulai senafas dengan chicklit-chicklit itu.
Sepertinya tidak bisa dihindari. Kayak ada sebuah proses inisiasi yang
membuatku jadi seperti ini, tapi aku lupa kapan dilakukannya dan
bagaimana itu bisa merubahku jadi chicklit-ers. Tapi nggak ada yang
salah juga kan ya dengan jadi seperti itu?)
Posted at 08:57 am by i_artharini
Permalink
Membaca t ulisannya DHF dan XAR di Kompas Minggu (25/11) lalu tentang (salah satunya) klab Vintage di X2, Plaza Senayan,
aku jadi ingat punya cerita sendiri. Kamis malam lalu (22/11) ada acara
pesta kostum tahunannya sekolah mode ESMOD di klab yang sama.
Aku dan FI ditugaskan meliput.
Asalnya agak ragu melihat tempatnya, soalnya kok tulisannya Davidoff
Launch Party. Tapi setelah ditanya ke door(wo)man-nya ternyata benar,
pesta kostumnya juga di situ. Nah, setelah menyebutkan nama media,
tangan kita masing-masing dicap kayak di Dufan itu lhoo. Nggak muncul
apa-apa di tangannya.
Aku dan FI: Lho kok nggak ada apa-apa mbak
Door(wo)man: *Sejenak memberi tatapan "yaelah..."* Nanti pake ultraviolet keliatan, mbak.
Serempak: Ooooo
Dan pas petugas berseragam safari keamanan mengarahkan batangan lampu
UV ke tangan-tangan kami, ada lambangnya lho, bersinar di kegelapan.
Wahahah, ketahuan banget kalo kami adalah perawan-perawan gemerlapnya
dunia malam Jakarta.
Pas acara-acara utamanya udah selesai, kan terus ada DJ yang mainin
lagu-lagu (yang sebenernya amat sangat danceable). Di situlah aku
nyadar, oh, oh, oh, ternyata aku kangen banget menari diiringi musik
keras gitu. Tapi karena there's nobody I know there, dan udah capek
plus ngantuk juga, jadi cepet-cepet pulang. Sampai sekarang, itu
nada-nada yang dimainin si DJ masih tetap terekam di kepalaku lho.
Posted at 08:41 am by i_artharini
Permalink
"Mbak, kamu S2nya gimana? Jadi nggak?" "Ya, belum tahu." "Kamu udah mau jadi wartawan terus di tempat sekarang?" "Heeghhh...nggak tahu." "Ya rencanamu gimana lho..." "Duh, nanti dulu deh, aku masih mikirin deadline banyak banget nih..." "Ya kalau S2 belum, nikahnya jadinya kapan?" "....."
Senin pagi, jam setengah tujuh juga belum, tiba-tiba sudah harus
memikirkan jawaban pertanyaan-pertanyaan besar itu dari ayahku.
Pikiranku cuma sampai akhir minggu ini, deadline edisi akhir tahun,
majalah sebuah bank, pekerjaan sehari-hari, dan terancam nggak bisa
masuk ke KTT Perubahan Iklim. Heegghh. Tapi, setelah ikut
turun di kantornya ayahku, beli cafe au lait yang bowl (beneran dikasih
mangkuk sop), tiba-tiba ada lampu yang menyala di dalam kepalaku.
Semuanya jadi terang.Aku kembali jadi optimis. Terancam nggak bisa masuk KTT Perubahan Iklim? Ya tinggal diurus aja. Deadline edisi akhir tahun? Ya jalanin aja. Kalau mepet bisa telpon-telpon. Deadline majalah bank? Tinggal artikel kesehatan sekitar 80 barisan kan?
Merasa nggak dapet reward? Ya tinggal retail therapy aja. Belanja dong.
Pekerjaan sehari-hari? Kuliner udah nyicil, masih ada sisa punya FI
lagi, dan tasting di resto baru, Sehat masih ada sisa dari minggu lalu,
ada Tendance juga. Pokoknya semangat! Ah, inilah sebabnya
orang ngomong: I can't function without my coffee in the morning. Bukan
hanya sekedar membangunkan mata, itu mah udah bisa dilakukan lewat
mandi, tapi kopi bisa membangunkan rasa. Semangat. Optimisme. Hidup. (Spoken like a true junkie)
Posted at 08:27 am by i_artharini
Permalink
Saturday, November 24, 2007
Badanku sebenernya udah capeeek banget. Tapi kok kayaknya aku masih belum pengen menghabiskan hari ini dengan tidur. Atau belum rela gitu menutup hari. Yang berarti menutup semua masalah-masalah di hari ini.
Ada hal-hal yang masih ngganjel, yang belum bisa aku temuin jawabannya, atau setidaknya kejadian yang bisa aku 'maklumi'. Sama sekali nggak nyangka, hubunganku dengan pekerjaan ini bisa jadi begitu panjang dan rumit.
Baru beberapa hari yang lalu aku pengen jadi wartawan hebat. Tapi, seingatku, malamnya, aku merasa patah hati sama...--nah ini aku tidak bisa menentukan--bisa institusi tempatku bekerja, bisa pekerjaannya. Tapi ketika aku mengungkapkannya keras-keras, yang keluar adalah: aku cinta pekerjaan ini. Tadi siang juga, ketika beberapa orang nanya, did you like it? Aku menjawab, oh yes, I love it. Itu aku katakan beberapa kali, dan semuanya aku jawab dengan mantap. Nggak terasa ada kebohongan yang aku katakan. (Atau karena aku udah terlalu terbiasa dengan kebohongan itu?)
Jadi, apa yang membuatmu masih terbangun, Nari?
Hmm, mungkin karena aku sadar, Senin besok adalah awal dari tiga minggu tersibuk selama 2 tahun 8 bulanku kerja. Yang membuatnya berat adalah karena aku nggak tahu apa ada sesuatu yang bisa aku nanti-nantikan sebagai reward di akhirnya. It's not about the money at all. Tapi mungkin sekedar...reward. Yang bukan lagi 'sekedar' pujian atau tanggung jawab baru. Tapi ya sekedar reward. Penghargaan. Aku tidak tahu apa bentuknya yang aku pengeni, tapi aku tahu rasanya ketika mendapat sebuah reward. Dan yang pasti bukan tantangan-tantangan baru lagi.
Apakah aku terlalu besar kepala untuk mengharapkan suatu reward? Biasanya, dulu-dulunya, aku tidak mengharapkan apa-apa. Tapi kenapa sekarang aku jadi picik(?) ya?
***
"The Devil Wears Prada", walaupun aku nggak gitu suka Anne Hathaway-nya, setiap kali ditonton (dan kemarin-kemarin emang lagi sering diputer di tv kabel), selalu membuat aku bertanya-tanya tentang hubunganku dan kerjaan.
Andy kayaknya mengalami masalah yang sama, tentang dia yang merasa nggak dihargai terus ngadu ke Nigel (Stanley Tucci), dan Nigel memarah-marahinya dengan tepat. "You, trying hard enough?" atau tentang "What do you expect her to do, kiss you on the forehead, give you a ribbon, etc...?".
Well, aku jadi bertanya-tanya:
Apakah aku sudah berusaha cukup keras?
Jawabanku sih sepertinya belum. Ada hal-hal yang aku harap bisa lebih sempurna. Tapi kok ujung-ujungnya yang muncul adalah kesimpulan, aku tidak yakin apakah aku mau berinvestasi lebih lama, berusaha lebih keras untuk mendapat sesuatu yang belum pasti itu.
And yet. Aku masih pengen jadi wartawan.
Btw, rasa-rasa sedih dan bingungnya kok agak sama ya kayak waktu lagi berkeping-keping setahun lalu itu lhoo. Sejenis second heartbreak sepertinya. Kalau misalnya iya, beneran patah hati, penyelesaiannya simpel kan? Ya udah, tinggalin dan start something afresh. Right?
Yang membuatnya nggak simpel karena aku masih butuh sesuatu dari hubungan ini. Jadi sekarang fokusnya terarah ke timbangan, apakah 'sesuatu-sesuatu' itu lebih berat dari semua yang kamu keluhkan, Nari? Itu dulu sepertinya yang harus dijawab. Kalau lebih ringan, ya sudah, hubungan itu berakhir. Kalau lebih berat, ya sudah, suck it up, and do your work.
Hmm, sepertinya aku lebih takut sama jawaban yang akan muncul deh. Mungkin itu sebabnya selama ini pertanyaannya nggak terjawab-jawab, karena aku mengindari untuk menjawabnya.
Oke, aku tinggalin dulu aja di situ.
Posted at 11:22 pm by i_artharini
Permalink
|
|
|