"...the quest for transcendence has always been closely linked to the ecstatic release of dancing." (Resensi RollingStone atas sebuah album pop) Mr. Darcy: "So what do you recommend, to encourage affection?"Elizabeth Bennet: "Dancing, even if one's partner is only tolerable." (Pride & Prejudice, 2005)perempuan, 1983, lovesick soul, berjalan kaki, belajar menulis, menonton film, ingin keliling dunia, Billie Holliday, Jane Austen, 'Franny and Zooey', cerita pendek F Scott Fitzgerald, lagu-lagu sedih, kecanduan membeli buku second, deretan buku di lemari, berkeliling dengan bis kota, mengepak koper, menari bebas, Vogue, sepatu, bad boys, kopi, kuliner, foto, semua yang vintage, genggaman tangan, pelukan hangat, detil percakapan antara manusia, kegelisahan, kesepian, ruang pencarian, belajar dewasa, museum dan bangunan tua, hari hujan, sinar matahari hangat di hari berangin, airport, stasiun kereta, dan pertanyaan tanpa akhir YM: isyana_artharini Email: i.artharini@gmail.com
|
|
Friday, December 29, 2006
"We mortals, men and women, devour many dissapointment between
breakfast and dinner-time; keep back the tears and look a little pale
about the lips, and in answer to inquiries say, "Oh nothing!" Pride
helps us; and pride is not a bad thing when it only urges us to hide
our own hurts--not to hurt others."
('Middlemarch' - George Eliot)
"It is troublesome to talk to such women. They are always wanting
reasons, yet they are too ignorant to understand the merits of any
question, and usually fall back on their moral sense to settle things
after their own taste."
(why do I get the sense that I am
one of those women. Oh, and it's from 'Middlemarch' too. Haven't
decided whether it is a good thing or a bad thing, though. Being one of
those women. But Middlemarch is great, so far.)
Posted at 09:30 pm by i_artharini
Permalink
Saturday, December 23, 2006
Malam minggu harus piket di kantor. Sebenarnya piket pagi, cuman karena
teman piket malam belum pulang dari Dubai, jadi disuruh datang sore
aja, biar piket malam. Anyhoo, sambil makan cordon bleu yang ayamnya
rada alot, nonton Oprah.
Ada seorang perempuan yang selama tiga tahun, sama suaminya, hidup
dengan cara yang paling ekstravagan. Dan, she woke up one morning,
ternyata suaminya udah ilang. Udah, pergi gitu aja. Ninggalin dia.
Nggak ada alasan, nggak ada berita. Udah setahun ilang. Kata si istri,
suaminya adalah seorang narsisis. Itulah yang menyumbang besar ke
kepergiannya.
Yang jadi isu, atau setidaknya salah satunya, adalah si perempuan
pengen dapet penutupan. Closure. Tapi, the message of the story is, you
can never get your closure from a narcissist. So you need to find the
closure somewhere else. Hopefully, it's from the circle of love
(duuhh...begitu self-help book deh kata2nya, circle of love) dari
temen-temen dan keluarga. And to not, never dream about a closure from
him.
Not even think, bahwa someday, di deathbed-nya, dia bakal inget-inget
lagi kesalahan-kesalahan yang udah dilakukannya. Atau memikirkan,
gimana si narcissist bisa tidur tenang malam hari and look at himself
in the mirror.
Karena, buat seorang narcissist, other people didn't exist. Si istri
nggak pernah ada buat si suami, cuman sebuah obyek untuk membuat diri
si suami ngerasa hebat. Sama kayak benda-benda lain dalam hidup si
suami. Oke, I know that I'm already in the rrreaallly OK phase. So I
would just say that it is so true that if someone would said I never
exist for the narcissist. And I felt OK admitting that.
Aku asalnya udah nggak mau posting tentang ini. Karena, what for, toh
aku juga udah pulih. Udah memaafkan. Udah berdamai dengan kenangan.
Udah nggak lagi membutuhkan closure dari dia, karena...well, sebenarnya
aku nggak tau dalam bentuk apa aku mendapat closure. But I just feel
healthy again. And OK. Dan ringan.
Tapi...just in case, aku butuh pengingat. And it was too great a lesson not to be noted down.

Posted at 07:53 pm by i_artharini
Permalink
Wednesday, December 20, 2006
"Isyana hrp ke rumah kebubes inggris skrg jl teuku umar 72 menteng. Wajib"
Pesan itu masuk tadi siang, sekitar jam 12.50 WIB. Lokasi, P6 baruu aja
ngelewatin halte Komdak. Plan of action selanjutnya, oke..turun di
Farmasi, terus nyebrang, terus naik 213.
Jam 13.15, sampe di Taman Suropati. Jalan dikit ke Teuku Umar, udah
nungguin bajaj karena mikir nomor 72 jauh, eh ternyata cuma tiga rumah
dari ujung Teuku Umar. Pikiranku sama sekali blank tentang apa yang
akan aku hadapi, atau kapan sebenarnya jam pertemuan. Pesan singkat
dari redaktur cuman bilang "Perubahn iklim, lingkungan".
Ternyata, sempet di-harass sama satpam-satpam yang bilang, "Acaranya
udah dari tadiii. Jam setengah satuuu. Mbak masuk juga acaranya udah
selesaiii. Metro emang sering gitu, pas Tony Blair dateng juga gituuu."
Hrgghhh.
"Saya cuman disuruh dateng, paakk. Baru dapet undangannya juga jam satuuu."
"Tapi nama mbak nggak ada di daftar."
(melongok. Ternyata yang ada di daftar nama petinggi-petinggi harian
dan majalah berita nasional. Harusnya yang dateng antara Redaktur
Internasional atau Deputi Direktur Pemberitaan).
"Acaranya udah dari tadi mbaaaakk. Masuk juga paling udah selesaaiiii."
Hrrghhh. Orang-orang ini.
Oke, akhirnya, setelah ngobrol bentar ama Head of Press and Public
Affairs-nya, dibawalah aku masuk ke rumah Dubes yang aku bahkan tak
tahu namanya. (Charles Humfrey, sekarang setelah tahu).
Pintu dibuka, ternyata ada meja panjang, 4 orang masing-masing di satu
sisi dan masing-masing satu orang di kepala meja. It was almost an all
boys' club before I came. Para Pemred dan petinggi dengan kemeja batik,
kemeja katun rapi dan dasi. Sementara akuuu....kemeja biru yang
lengannya dilipat, bagian perut yang udah semi-semi nggak muat. Pas,
hari itu aku lagi pake celana yang cut-nya nggak gitu bagus dan jilbab
yang rada fading. Duuhh..lengkap deh melasnya.
Samping kananku, yak, pemred Tempo, depanku pemred The Jakarta Post,
kanannya dia, sekarang Wakil Presiden Senior KKG. Oke, kalau misalnya
Direktur Pemberitaanku nggak bisa dateng, Deputinya nggak bisa dateng,
Redaktur yang diundang nggak bisa dateng, bukankah masih ada Asisten
Redaktur Eksekutif atau Redaktur Eksekutif?
Di satu sisi, it was an eye opening experience. Tentang media-media
berita Indonesia (Jakarta, tepatnya) yang ternyata kok ya masih all
boys club di tingkat pimpinan. So, that might provide a motivation for
me. Or something like that.
Tapi di satu sisi, aku nggak habis pikir dengan cara pikir kantor yang
menyuruh prajurit lapangan dateng ke pertemuan tingkat tinggi seperti
itu. Setidaknya level menteri lah yang dateng. Toh ini juga bukan
sesuatu yang bisa diterbitin, cuma diskusi aja, diskusi tingkat tinggi
gitu.
Pengalaman yang cukup daunting, cukup merasa agak terintimidasi, tapi
berusaha untuk terlihat natural dan sekali mengeluarkan komentar. I
hope I'm not making too much fool of myself.
It only lasts for 15 minutes. Tapi makan siang yang cukup menarik. Eh, cuman sempet dapet dessert ding...
Posted at 10:12 pm by i_artharini
Permalink
Seminggu yang lalu, kurang lebih, aku datang ke acara Komnas Perempuan.
Acaranya tentang pertanggungjawaban publik ama perkenalan anggota
Komnas Perempuan masa bakti 2007-2009.
I try not to be cengeng atau terlalu sentimental, tapi aku cukup
terharu pas anggota-anggota barunya pada dipanggil dan kualifikasi
mereka dibacain. Aduh, serasa kecemasan-kecemasanku akan politisasi
identitas yang makin merebak (halah!) jadi agak terkurangi.
Tapi, ceritanya ada satu komisioner yang membuat aku paling merinding.
And she was soooo pleasant to talk to. Pas kualifikasinya dibacain, ibu
ini dapat tepuk tangan paling meriah.
Dia seorang polisi, pangkatnya sudah Kombes. Dia pernah jadi komandan
pasukan Garuda ke Bosnia-Herzegovina. Aku sengaja nyari beliau pas
mencari 'sampel' komisioner baru untuk diwawancarai.
She was just so warm, so loveable, walaupun tegas. Ramah banget. Dan
kerendahan hatinya itu lho. Caranya dia bilang, "ini masih dunia yang
baru buat saya." Aku nggak nyangka, willingness to learn itu bisa
kedengaran di intonasi.
Terus, "kita masih belum dilihat sebagai bangsa yang beradab kalau belum bisa memperlakukan perempuan dengan baik."
Dan, dia pernah jadi Kabid Humas Polda Bali waktu bom Bali 1 dan 2. But
she was so warm dan bisa ngomong seperti 'manusia biasa'. Nggak kayak
normatif-normatifnya polisi.
Anyway, pas dua hari lalu datang ke acara Komnas Perempuan lain, ibu
ini datang lagi. Aku sempet say hi, dan beliau langsung, "halooo, apa
kabar?" sambil menarik buat cipika-cipiki.
Secara body chemistry, tangannya si ibu ini juga hangat menyenangkan
gitu. Nggak terlalu panas yang sampe berkeringat. (Atau karena ruangan
itu dingin ac-nya nggak kira-kira ya?)
Terus, pas beliau memperkenalkan diri, pas ngomong latar belakangnya
polisi, ada sedikit nada "heh" dari audience. Cukup pelan, hampir tak
kentara, tapi tetap tak lepas dari pendengaran tajam si ibu. "Kenapa
kok 'heh' waktu dengar polisi? Iya memang polisi itu tidak disukai,"
katanya. Tapi terus dia menjelaskan bahwa dia juga jadi instruktur HAM
di sebuah institusi (aku agak lupa apa).
Nah, yang membuat aku teringat-ingat terus dan cheering for her,
gara-gara pas mbaca majalah TEMPO terbaru, edisi Hari Ibu,
ternyata....jreng, jreng, kok ada wajah yang terlihat familiar.
Waaahhh, ternyata si ibu Pengasihan Gaut itu.
Hwalah.
Ternyata, she is all that. And even more.
Selamat buat ibu yang satu ini.
Posted at 06:28 pm by i_artharini
Permalink
Oh My God!
Oke, aku tahu suatu hari ini bakal kejadian ke aku. Tapi aku nggak nyangka bakalan secepat ini.
Terpilih jadi TIME Person of the Year!
(hehehe)
Sebenarnya, membaca berita ini kemarin di Koran Tempo. Tapi baru sekarang sempat nge-blognya.
Yes, kita harus memberi selamat pada diri kita sendiri, para penyumbang
content di internet. Penulis blog, yang nge-post tulisan atau video
atau musik di MySpace dan YouTube, atau mungkin di situs-situs lain,
pokoknya orang-orang yang mengupload content ke internet deh. Selamat.
Yah, walaupun gelar ini harus dibagi dengan entah berapa ratus juta
(atau sudah milyar?) orang yang mengupload content di internet, tapi
mungkin sesekali bisa ditaruh di CV.
'Chosen as TIME Person of the Year 2006'
Posted at 06:19 pm by i_artharini
Permalink
Thursday, December 14, 2006
Another almost-end-of-week out-of-town journey.
Sekarang, ke Pekanbaru.
Sebuah follow up dari kunjungan ke media luncheon sebuah perusahaan
pulp dan kertas di belantara Riau. Walaupun undangannya waktu itu ke
negara tetangga.
Btw, aku tiba-tiba jadi punya mimpi dan rencana. Rencana perjalanan.
Rencana sekolah lagi. Duh, jadi membuat deg-deg-an. Tapi kayaknya udah
rada lama juga ya aku berjalan tanpa target.
So, walaupun rada cemas, walaupun rada takut gagal, mungkin ini cara yang lebih sehat buat hidup(?)
Posted at 09:52 pm by i_artharini
Permalink
Sunday, December 10, 2006
Yay!
I'm back after a midweek travel to Singapore. Duh, bener-bener
kunjungan yang menyenangkan. Ketemu Su. Cuci mata (walopun nggak
belanja apa-apa). Jadi kuat niatnya buat backpacking (walaupun harus
super nabung. Tapi ndak pa-pa, if there's a will, there's a way..)
Love, love, looovve the short visit.
Walaupun pas di sana jadi kangen ama temen-temen dan keluarga di rumah, yang I wish, kita bisa berkunjung bareng ke sana.
Sabtunya, libur. Menghabiskan waktu dengan nyetrika dan nonton DVD.
Minggunya, udah maleees banget ke kantor. Tapi akhirnya ke kantor juga.
Ngetik tugas dan hasil liputan, terus...rada ngerasa: duh, kenapa harus
dateng hari ini ya? Kayaknya liputan kemarin bisa diserahin hari Senin
deh. Kan bisa menghabiskan hari ini dengan kembali nyetrika sambil
nonton DVD (Currently my idea of a favorite past-time activity). Atau,
membaca tiga majalah fashion produk negara tetangga yang beli buat si
Rani.
Posted at 08:15 pm by i_artharini
Permalink
Wednesday, December 06, 2006
Ajaib.
Oke, mungkin tidak terlalu.
Tapi, ternyata blog ini masih nyala juga. Duh, I almost felt that I
have turned into someone new dari sejak terakhir kali ngisi blog ini.
But, no, still the same. Entah fortunately atau unfortunately.
Aku cuma ngalamin banyak hal aja. FAM Trip ke Yogya-Bali sama fellow
international journalists. Itu banyak kenangan indahnya. Terus, dateng
ke nikahannya Anti yang jadi kayak reuni kecil sama teman-teman SMA.
Pulang dari Bali, udah langsung ngejar-ngejar Nawal el Saadawi dan
dapet pencerahan-pencerahan. (Sudah berencana untuk mengupload hasil
wawancaranya di sini, tapi belum sempat-sempat. Transkripnya juga masih
belum lengkap). Sempat juga wawancara seorang penyair dan penulis
naskah drama asal Canada yang ikut memberi cara baru dalam memaknai
tulisan.
Dua minggu kemudian, setelah liputan-liputan yang membuat aku agak
susah bernafas, eh dapet undangan lagi ke Sikka. Tapi dong, semalem
sebelumnya harus ikut Raker ke Putri Duyung Cottage. Pengen ditinggalin
sih sebenarnya. Tapi, sayang kan, ketika kamu ditawarin kesempatan
untuk bersuara atau bertanya tentang hal-hal yang tidak memuaskan di
lingkungan kerjamu, masak mau dilewatin gitu aja?
Pergi Jumat pagi, pulang Minggu malam. Sekarang Rabu, Kamis besok pagi
udah mau berangkat lagi. Hmm, aku jadi mempertanyakan hasil kerjaku
gimana nih. Kok kayaknya jadi banyak banget ya utang tulisannya.
Dan, di sela-sela semua itu, masih ada kelas malam yang aku ikutin.
Whoa, so many new people's faces and characteristics. So many memories.
So many things to write down.
Sebentar, aku harus mengambil nafas.
Ruang kontemplasi? Kok kerasanya jadi ilang ya? Jadi kayak nggak punya
waktu buat duduk sebentar dan berpikir. Benar-benar, literally,
mengejar deadline. Nggak heran kalau penilaianku masih belum bisa
mengejar deadline.
Dan ini, satu lagi tentang kejar-mengejar. Aku merasa sudah harus
memperhatikan kesehatan badan nih, ngurangin berat badan. Sekarang
jalan-jalan dikit aja udah ngos-ngosan. Degup jantungnya jadi tambah
cepat secara signifikan. Pertanda buruk. Pertanda buruk.
Oke. Aku masih harus nandain daftar nama-nama sekolah. Terus, pulang.
Terus, packing. Terus, off to airport. Kembali, Jumat sore.
Good Luck and Good Night.
Posted at 10:21 pm by i_artharini
Permalink
Wednesday, November 01, 2006
Pernah merasa tiba-tiba beberapa kejadian dengan tema yang berhubungan
menyerbu di saat bersamaan? Aku, cukup sering. (Mungkin karena itu aku
nggak boleh percaya sama yang namanya kebetulan kali ya?)
Anyway, beberapa hari yang lalu, sempet nge-posting tentang Gaji,
yak...dua postingan di bawah. Terus, Minggu malamnya pas nonton
'Friends With Money'. Eh, Senin siangnya dapet gosipan tentang kondisi
keuangan seorang teman yang membuat mata terbelalak.
Insting pertamaku adalah mengidentikkan diriku dengan karakter Olivia
di 'Friends With Money'. Dan aku sempat meyakininya untuk beberapa
detik, sampai bagian dari diriku yang rasional (most of the time
invisible, I know) bilang, "Wake up! You're not Olivia." Tambah pake
beberapa kali tamparan juga.
And of course, that other part of me is right.
Iya, emang, aku masih belum figured out my life. Tapi aku bukan seorang
pembersih rumah dengan gaji minimum dan pacar asshole yang sering
mintain bagian gajiku kan? Dan teman-temanku juga bukan orang-orang
yang melihat penghasilanku sebagai angka pengeluaran rutin uang sekolah
anaknya per bulan kan? Dan aku nggak sampai mencari-cari sampel produk
toiletries untuk menghemat pengeluaran kan? (Or maybe I should start
doing that?)
The thing is, kita sama-sama ada di level yang sama, dengan pemasukan
yang sama. Aku seharusnya bisa ada di status yang sama. Nah, kenapa
nggak?
(No big book buying activities di QB, salah satunya).
(Or laptop).
(Or digital camera).
(Tapi itu kan bukan pembenaran juga. Despite all of that, harusnya ada sesuatu yang bisa dibanggakan kan?)
Duh, aku harus bener-bener mulai ngatur duit deh.
Posted at 08:23 pm by i_artharini
Permalink
Aku lagi jatuh cintaaaa banget sama "How to Breathe Underwater".
Review-nya di Amazon emang pas, ceritanya ngalir smooth kayak 'vanilla
milkshake but with the complexity of vintage wine'.
Bahasa yang dipakai sederhana, kisah-kisah yang ditulis pun tujuannya
'cuma' mau menceritakan sesuatu. Walaupun isu-isu yang dibahasnya
berat, tapi bungkusannya tetap ringan. Jarang-jarang aku bisa go with
the flow, biasanya selalu ngerutin dahi, mikirin tentang apa yang aku
baca pasti tentang sesuatu.
Tapi ini mbacanya cuman buat the sake of the story itself.
Ada cerita-cerita atau bagian-bagian yang membuat aku nggak tega
mbacanya, momen-momen yang membuat aku ngerasa 'patah hati
berkali-kali' tentang the pain of being an adolescent. Dan membaca
cerita-cerita itu aku jadi sadar, bahwa aku masih di tahap emosi itu;
adolescent. Masih transisi dan berevolusi.
Well, duh, semua orang emang iya, masih, nggak ada berhentinya
berevolusi. Tapi...gimana ya? Ada banyak momen-momen yang membuat aku
bilang, "aku tau rasanya gimana." Ada sesuatu yang membuat aku ngerasa
lebih tidak matang dibandingin yang lain seusiaku. Ada rasa malu dan
cemas ketika aku kayak dihadapin dengan cerminan diri sendiri.
*menghela nafas*
Yang nyenengin, pas lagi nge-google tentang penulisnya, Julie Orringer, nemu link dari penerbitnya dia yang masukin hasil scan dari buku catatan nulisnya. Jadi keliatan proses-prosesnya dia ngembangin cerita dan tulisan.
Terus ada link lain, wawancaranya dengan seorang Robert Birnbaum.
Aku belum sempet nge-google siapa itu Robert Birnbaum, tapi
wawancaranya cukup mendalam. Dan lebih ngeliatin lagi proses nulisnya
Orringer dan apa yang terjadi dengannya saat di kelas-kelas belajar
menulis.
Dan terakhir, insight into someone's process of writing nggak bakal
lengkap tanpa daftar-daftar penulis favorit, buku favorit, etc. Itu,
adanya di Meet the Author-nya Barnes & Noble.
Kalau ada saat-saat yang membuat aku ingat enaknya membaca, membaca
"How to Breathe Underwater" lah salah satu saat itu. Untung waktu itu
mbela-mbelain beli pas QB (Jalan Sunda) Book Sale walopun hardcover.
Posted at 07:34 pm by i_artharini
Permalink
|
|
|