"...the quest for transcendence has always been closely linked to the ecstatic release of dancing." (Resensi RollingStone atas sebuah album pop) Mr. Darcy: "So what do you recommend, to encourage affection?"Elizabeth Bennet: "Dancing, even if one's partner is only tolerable." (Pride & Prejudice, 2005)perempuan, 1983, lovesick soul, berjalan kaki, belajar menulis, menonton film, ingin keliling dunia, Billie Holliday, Jane Austen, 'Franny and Zooey', cerita pendek F Scott Fitzgerald, lagu-lagu sedih, kecanduan membeli buku second, deretan buku di lemari, berkeliling dengan bis kota, mengepak koper, menari bebas, Vogue, sepatu, bad boys, kopi, kuliner, foto, semua yang vintage, genggaman tangan, pelukan hangat, detil percakapan antara manusia, kegelisahan, kesepian, ruang pencarian, belajar dewasa, museum dan bangunan tua, hari hujan, sinar matahari hangat di hari berangin, airport, stasiun kereta, dan pertanyaan tanpa akhir YM: isyana_artharini Email: i.artharini@gmail.com
|
|
Tuesday, December 27, 2005
Ohh..udah gitu aja jadinya yang namanya temen?
Oke, ya sudah.
Have fun with your life.
Posted at 08:00 pm by i_artharini
Permalink
Monday, December 26, 2005
Percakapan awalnya berjalan normal. Sampai aku melihat seseorang
memencet tuts telepon, dan deringan terdengar dari jarak dekat. Love can be so strange Don't it amaze you? Every time you give yourself away It comes back to haunt you Love's an elusive charm and it can be painful
Seseorang di dekatku melihat ke arah layar LCD dan mengangkatnya.
"Halo?" sapanya dengan lembut. Dari seberang, aku melihat kepala yang
bergerak menyembunyikan diri dari tatapan tajamku, sedikit di belakang
komputer. Ah, aku mengerti tanda-tanda itu. Remote control
mini dari sebuah mp3 player aku pencet beberapa kali. Volume kini
berada di ambang 20. Berbahaya untuk telingaku, aku tahu.
Tapi setidaknya itu mengamankan hati dari reaksi-reaksi yang membuat
orang lain tidak nyaman. To understand thIS CRAZY WORLD BUT YOU'RE NOT GONNA CRACK NO YOU'RE NEVER GONNA CRACK RUN MY BABY RUN MY BABY RUN RUN FROM THE NOISE OF THE STREET AND THE LOADED GUN TOO LATE FOR SOLUTIONS TO SOLVE IN THE SETTING SUN SO RUN MY BABY RUN MY BABY RUN
Di depan, perempuan muda itu mulai berdiri, membereskan
barang-barangnya. Teleponnya sudah dimatikan. Di sebelah, sosok
pemegang telepon juga sudah menjauhkan gagang dari kepalanya, tapi
gelombang-gelombang elektromagnetik telepon genggamnya masih terpancar
di layar komputerku. LIFE CAN BE SO CRUEL DON'T IT ASTOUND YOU? SO WHEN NOTHING SEEMS TOO CERTAIN OR SAFE
Di sebelahku, sosok itu memencet sesuatu, dan ia meletakkan telepon
genggam di sisi kiri layar komputernya. Ia kembali melihat ke layar,
dan mengarahkan panah mouse ke ujung kiri layar, dan mematikan
komputer. Ah, keadaan mulai aman. LET IT BURN THROUGH YOU YOU CAN KEEP IT PURE ON THE INside And you know what you believe to be right So you're not gonna crack No you're never gonna crack
(Duh, Tuhan. Terima kasih atas mp3 player, atau earphone lah
setidaknya. Tapi, aku kok jahat sih? Kenapa sih, nggak bisa normal aja?)
Posted at 09:07 pm by i_artharini
Permalink
Hmm.. walaupun tidak merayakan, tapi ada ritual-ritual Natal, atau setidaknya menjelang Natal, yang aku kangenin, seperti...
a. duduk nyaman di tengah ruangan berpemanas di depan tivi, sambil
ceklak-ceklek remote dan hanya menemukan berbagai versi dari apa itu..
ceritanya Charles Dickens tentang Ebenezer Scrooge, yang didatangi
ghost of christmas past, present, dan future. Terus berakhir dengan
Timmy kecil yang berkata dengan suara bergetar, "Merry Christmas,
everyone!"
(sebentar, googling dulu...)
AH! 'A Christmas Carol' judulnya!
b. melihat ke luar jendela, bersiap-siap mau pergi keluar, tapi batal,
karena ngeliat lautan putih dan jejak-jejak kaki orang, dan
membayangkan: hiiii.. pasti dingin banget.
c. ngumpul di kamar seorang temen. Prasma, kayaknya, most likely.
Berhangat-hangat, hang out di depan tivi, menghabiskan waktu libur yang
kemungkinan akan terus berlanjut sampai malam tahun baru.
Tahun kemarin... oh iya, aku menghabiskan malam Natal di tempat seorang
Eyang. Tahun sebelumnya lagi, kayaknya waktu itu ke Weesp deh.
Menemani, well, tepatnya diundang sih sama Denny, buat dinner di
tempatnya.
Tapi at that moment, ah gila. Bener-bener sendirian. Aku inget hari itu
aku tetep ke sekolah, buat cuman sekedar online bentar. Dan akhirnya,
luckily, 'ketemu' Denny di messenger.
Tiwas udah sediih banget karena malam Natal bakal sendirian. Tapi
ternyata dapet undangan last minute. Hmm, emang tidak merayakan sih,
tapi iklan-iklan, billboard-billboard yang dipasang menjelang Natal
sudah membangun harapan-harapan akan sekelompok keluarga dekat atau
teman-teman yang akan menemani sehingga tidak sendirian. Waktu spesial
untuk dihabiskan bersama keluarga dekat lah.
Oh iya, kangen juga sama rush orang-orang belanja di Albertheijn,
berjalan di sepanjang Kalverstraat dan ngeliat lampu-lampu di depan
toko-toko, Kermis di Dam., toetje-toetje yang semakin mewah dengan
semakin mendekatnya Natal dan Tahun Baru. (Dulu aku sering tambah
gendut nggak sih menjelang akhir tahun?)
Ah, hidup...aku dulu di mana, sekarang di tempat lain lagi...
*sigh*
Posted at 08:36 pm by i_artharini
Permalink
Sunday, December 25, 2005
Happy Couples are My Enemy
Aku selalu merasa marah, kesal, dan berlaku tidak ramah pada
teman-temanku yang sedang memiliki pasangan. Dan aku dulu merasa, itu
adalah bagian dari sebuah fase menjadi dewasa. Pasti, aku nanti akan
menertawai sosok aku yang selalu iri melihat kasih sayang antara dua
kekasih.
Tapi sekarang aku yakin, aku tidak akan menjadi sosok yang lebih baik,
di masa depan, ketika melihat seorang teman memiliki pasangan,
sementara aku single.
Nggak peduli, seberapa keras aku berusaha untuk tetap ramah, tersenyum,
ikut berbahagia (dan percaya deh, semua itu benar-benar atas dasar
ketulusan), akan ada titik-titik saat aku merasa iri dengan kasih
sayang yang ter-ping-pong dari dua arah itu.
Dan ya mungkin memang harus diterima aja, kalau aku tidak akan menjadi
teman yang baik untuk mereka yang sedang berpasangan. Teman baik untuk
nonton, untuk nemenin ke toko buku, main bowling, curhat tentang
cowok-cowok bajingan, berbohong pada ortumu, tidak menilai seleramu
atas segala sesuatunya atau apapun tindakanmu, hold your hand when you
terminate a pregnancy, hayuhlah.
Tapi ketika aku mendengar sweet talks, sweet dates, dan melihat sweet
gestures... Maafkan. Tapi aku yakin, aku tidak akan menjadi seorang
teman yang baik. Aku tidak mampu untuk 'bersikap normal'.
Sindiran tajam, tatapan mata penuh rasa iri, reaksi berlebih, perilaku
kasar; yang jatuh-jatuhnya akan membuat orang sakit hati, pasti akan
ada yang terlontar, walaupun dijaga seminim mungkin.
Jadi sudahlah.
Entah aku mengatakan ini pada siapa.
Tapi sepertinya lebih untuk diriku sendiri.
That I'm not a good person when it comes to my friend being couple.
Dan, aku juga malas untuk 'deal with it'.
Apa yang harus di-deal with?
Ada teman yang cocok untuk ngrokok di bawah, tapi bukan untuk
percakapan panjang tentang hidup. Ada yang cocok untuk bertanya tentang
cara menulis, tapi tidak untuk teman muter-muter nggak jelas keliling
kota. (Dan ada yang cuma cocok buat kissing-buddy, tapi nggak buat
pacar, heheh).
Mungkin ini sih yang lebih harus di-deal with:
Apakah kesadaranku 'diizinkan' untuk tidak merasa bersalah ketika
mendengar tawa bahagia seseorang, terus kepala dan hati jadi merasa
terbelah saking sakitnya, dan akhirnya pengen meredam sumber suara
dengan melempar layar komputer?
No, honey. I don't hate you.
Mungkin kamu tidak percaya, tapi I'm happy for you. I really do.
It's just that my genes, they are not made to stand seeing people who are in love.
Akhirnya, ya, cari aku untuk sesuatu yang lain. Tapi I'm not good at respecting the coupling part.
Posted at 05:54 pm by i_artharini
Permalink
Konsep membaca ulang suatu buku kan sebenarnya bukan sesuatu yang aneh
ya buatku? Ternyata. Setelah nyadar. 'High Fidelity'? 'Pride and
Prejudice'? 'The Catcher in the Rye'? 'Franny and Zooey'?
Tapi ya emang, membaca ulangnya lebih sebagai usaha untuk
menikmati kembali makna-makna yang tersembunyi, mendapatkan pelajaran
untuk hidup, bukan untuk teknik penulisan.
Anyway, aku lagi jatuh cinta nih sama antologi-antologi cerpen dari
ON/OFF dan Bentang. Waktu ke Yogya, sempat beli dua kopi. Satu yang
judulnya 'Sepuluh Kisah Cinta yang Mencurigakan', satunya lagi
'Perempuan Mencatat Kenangan'.
Sebenarnya, aku lebih sempet mbolak-mbalik yang 'Perempuan...' dan
tertarik sama isinya. Tapi, udah lebih tergoda sama judul yang
satunya. Akhirnya, daripada menyesal, beli dua-duanya lah.
Dari yang harganya Rp22.750 each, didiskon 30% jadi Rp16-17an; akhirnya ditawar jadi Rp30 buat dua. Dan boleh!
Anyway, pas mbaca yang 'Sepuluh Kisah..' aku ngerasa tulisan-tulisan
yang terkumpul di antologi itu dashyat-dashyat banget tekniknya. Dan
pas mbolak-mbalik profil para penulisnya, mbaca tulisan ini:
"On/Off adalah sebuah media yang berniat mewadahi proses menulis,
termasuk di antaranya proses menemukan bentuk-bentuk dan teknik-teknik
tulisan yang baru.."
Ealah, pantesaan..
Kedashyatan itu ternyata tidak berhenti pada antologi 'Sepuluh
Kisah...' . Setidaknya sampai dua cerita pertama di 'Perempuan...'
rahangku tak kunjung terangkat dari lantai.
Wow.
Btw, ini back copies-nya antologi yang lain-lain bisa dicari dimana ya di Jakarta?
Dan, apakah mereka masih rutin ngeluarin antologi cerpen yang dashyat-dashyat itu?
Posted at 05:24 pm by i_artharini
Permalink
Friday, December 23, 2005
Sampai sekarang, aku masih belum tahu caranya membaca buku dengan
benar. Benar, dalam artian tidak hanya membaca yang tersurat.
tapi juga yang tersirat. Duh, bahasanya itu...
Pengisahan yang baik itu kan yang menunjukkan, bukan yang menceritakan
(show, not tell). Jadi, bisa saja ada pesan yang tersembunyi ketika
seorang karakter lelaki, pada kekasihnya, mengatakan: "Baby, you look
super fine in that dress."
(Pesan tersembunyi seperti, mungkin, "We haven't had sex in six months!")
Nah, aku pengen bisa lebih jeli membaca pesan tersembunyi itu.
Lalu, membaca dengan benar juga berarti mengambil suatu manfaat dari
bacaan itu. Apresiasi akan gaya penceritaan, alasan kenapa si penulis
memilih kata-kata itu dan bukan yang lainnya, cara si penulis
menggambarkan karakter, pilihan kejadian yang dituliskannya untuk para
karakter itu, dan kenapa ia memilih penyelesaian cerita dengan gaya
seperti itu; untuk menyebut beberapa contoh.
Hal-hal tersebut, masih cukup dangkal aku apresiasi.
Dan pastinya masih banyak hal-hal lain juga yang luput aku 'baca'.
Anyway, pas kemaren malam lagi duduk di teras, sipping coffee dan
menghembuskan asap rokok menthol, sesuatu yang terkesan seperti sebuah
jawaban terlintas di kepala.
Di 'Finding Forrester', tokoh William Forrester (Sean Connery)
menasehati seorang penulis muda: menulislah pertama kali dengan hati,
lalu menulislah dengan otak.
Draft pertama, ya biarkan aja mengalir. Baru dibaca ulang, dan diedit dengan otak.
Jika menulis adalah hasil 'pembuangan' dari apa yang sudah kita makan,
yaitu bacaan, maka cara kita membaca harusnya plus minus sama dengan
cara kita menulis kan?
Pertama membaca dengan hati, dirasakan dulu, suka atau tidak, kenapa
suka, kenapa tidak. Baru setelah itu membaca dengan otak; kenapa si
karakter melakukan ini, kenapa si penulis memilih bercerita seperti
itu, apa sebenarnya yang coba disampaikan.
Bener nggak? Sama kayak nonton film favorit aja berkali-kali, setiap
kali nonton lagi ada sesuatu yang sebelumnya kelewatan dan semakin
menguatkan (atau malah menurunkan) rasa suka kan?
Sounds making sense, setidaknya untuk aku.
Tapi, ini berarti aku harus membaca ulang lagi buku-buku atau cerpen-cerpen yang udah aku baca ya?
*Sigh*
Apresiasi yang sempurna itu emang butuh banyak kerja keras.
(Dan makanya aku iri sama orang-orang yang punya kemampuan mengapresiasi dashyat dengan begitu otomatisnya...)

Posted at 07:32 pm by i_artharini
Permalink
Wednesday, December 21, 2005
Nggak nyangka, ternyata si Rantje punya DVD film itu di rumah.
Diem-diem, seneng juga sih, karena penasaran pengen nonton suatu film
dengan body-function joke di dalamnya.
Esensinya sih... nggak banyak. Kalau mau didaftar:
1. Aku naksir Catherine Keener. Huks, ibu satu itu cakep bangeeet.. dan so cool.
2. Salah satu line terbaik dalam film pada 2005 (walaupun aku ingin
memasukkannya untuk 'best line in a movie of all time' versiku)
"You wanna know how I know that you're gay? Cause you like Coldplay."
HAHAHAHAHAHHAHAHAHA.
Oops. Maaf para penggemar Coldplay.
Tapi, why am I laughing?
Sedikit serius, apa itu artinya I'm laughing at suatu joke yang tidak sopan secara orientasi seksual?
Posted at 08:56 pm by i_artharini
Permalink
Tuesday, December 20, 2005
Darmanto Jatman, dalam bukunya, 'Perilaku Kelas Menengah Indonesia'
pernah mengutarakan beberapa ciri-ciri kelas menengah Indonesia. Aku
lagi nggak punya bukunya sama aku sekarang, tapi yang paling keinget
contohnya: mereka yang mengeret-eret laptop, menenteng Tempo (ouch!),
Detik, atau.. aku lupa satunya. Sepertinya Pak Darmanto bisa menambah
satu lagi ciri-ciri perilaku kelas menengah Indonesia; Mereka yang
menonton Jiffest.
Jiffest, walaupun gegap gempitanya selalu hadir di berbagai media,
tidak menjadi suatu event yang terjadwal rutin di agendaku. Nggak
tau kenapa. Well, mungkin aku tau kenapa. Aku pernah mbaca wawancara
dengan seorang pembuat film independen yang tidak senang dengan
festival-festival film. "Karena terlalu crowded, terlalu banyak orang,
terlalu sibuk," cetusnya. (heheh, 'cetus'...)
Dan, aku yang juga nggak seneng dengan atmosfer 'dikejar-kejar' untuk
nonton film, mendapat pembenaran tanpa pernah benar-benar mengalaminya.
Ya aku dapat sekilas gambaran tentang film festival, tapi tidak
mendalam, tapi aku udah keburu mengamini kata-kata si pembuat film itu.
Dan Jiffest sendiri, film-film menonjolnya sering udah muncul di
kios-kios dvd bajakan sejak beberapa minggu sebelumnya. Jadi mending
milih yang lebih murah dan tenang kan, daripada harus berada di tengah
gelombang manusia-manusia kelas menengah Indonesia itu...
Anyhow, kemaren sebenernya pas Jiffest mulai, aku lagi di Yogya dan
ketinggalan workshop2 gratisnya. Padahal itu yang lebih pengen aku
kejar. Filmnya, cuman pengen liat 'Broken Flowers', tapi pas liat
jadwalnya, aku nge-predict aku bakal ketinggalan.
Pas balik ke Jakarta, aku juga masih belum minat ngejar, walaupun
festival masih ada empat hari lagi. Sampai, aku akhirnya ketemuan ama
seorang kakak kelas.
Waktu si kakak kelas mbuka jaket, eh.. dia udah pake kaos Jiffest.
(Snob, snob, snob, kataku dalam hati :D). Dan dia ngakuin, asalnya mau
nonton, tapi takut nggak ngerti, akhirnya beli kaosnya aja, biar
keliatan keren. Tapi terus dia ngasih buklet jadwalnya.
Sambil setengah minat sih mbolak-mbaliknya. Sampai akhirnya ngeliat..
Broken Flowers ternyata masih ada jadwalnya, trus ada dokumenternya
Lars von Trier yang gratis (!!!), ada juga dokumenter The Corporation
yang gratis. Dan itu udah aku tungguin sejak setahun lalu. Dan ada
beberapa film lain lah yang tampak menarik..
Akhirnya, mbuat jadwal lah aku. Dan dengan aktivitas kompartemenku yang
lumayan minim, mengharapkan bisa nonton beberapa yang aku kejar.
Terutama 'Broken Flowers'.
Akhirnya, pas hari Kamis nonton 'Mountain Patrol' ama 'Yasmin'.
Jumatnya, nonton 'Broken Flowers', Sabtunya...nggak bisa kabur dari
rumah, dan Minggu baru nonton lagi. 'Mondovino' ama 'The Five
Obstructions'-nya Lars von Trier.
Tapi anyhow, tiga hari nongkrong di TIM itu, ya itulah....ngeliat
berbagai potret kelas menengah Indonesia. Mereka, yang dilihat dari
gelagat dan cara berpakaiannya, mengesankan tidak pernah pergi ke
bioskop sebelumnya. Ya, pakaian yang super stylish...
Dan dalam semangat Holden-esque atau High-Fidelity-ish, mereka yang
berpakain semeriah itu tidak benar-benar mencintai film. Mereka tidak
menonton Jiffest based on their love of film.
Tapi mereka, seperti katanya Radhar Panca Dahana di Kompas saat dia
menulis tentang I La Galigo, menonton karena alasan-alasan
sosio-politis. Bukan karena mereka cinta, atau mengerti, atau menyukai,
tapi karena datang ke event tersebut dapat menambah nilai tentang siapa
mereka di mata orang-orang di sekitarnya.
Dan dengan media hype yang terjadi tentang Jiffest, event ini menjadi sesuatu yang hip. Dan, I hate it. Aku benci segala sesuatunya yang hip.
Dan, di sebelahnya GBB kan ada toko buku kecil yang juga njual DVD
bajakan. Udah pada berjejer tuh film-film yang pengen aku tonton dan
aku pikir susah nyari bajakannya; Mountain Patrol, dan juga Broken
Flowers. Film-film Jiffest juga nggak gitu baru-barulah.
Ya sudah, berarti tahun depan, tak usahlah aku merasa cemas karena
belum membeli membership card, atau merasa dikejar-kejar harus menonton
suatu film di Jiffest, dan terlihat seperti bagian dari hype.
Posted at 08:21 pm by i_artharini
Permalink
Menghabiskan beberapa puluh menit aja bersama para "Polkam Golden Boys"
itu akan selalu berakhir buruk. Make a mental note of it. Nggak pernah
ada baiknya buat self-esteem, jatuh-jatuhnya pasti akan ngerasa
pencapaian-pencapaianku itu minim arti.
Secara insting, ngeliat The Misogynist dan Paus Biru bareng pun, udah
rada-rada ngerasa sebel. "Ih, para anak emas itu," dalam hati pasti
langsung ngomong gitu.
Awalnya sih karena kemaleman ngerjain riset data pengungsi Aceh,
jadinya udah nggak punya teman makan malam. The Misogynist, yang lagi
sibuk ama urusan wakil rakyat lagi pada ngeliat piramida, akhirnya
kelaperan tak tertahankan dan ngajakin. Okelah, daripada nggak ada
temen. (Aduh, masak aku prefer ditemenin makan malam ama seorang
misoginis, hanya demi ada temennya? Does this say something about my
relationships pattern?)
Ternyata, The Misogynist alias Golden Boy #2 ngajakin Golden Boy #1, Paus Biru. Tadaa! Sudahlah, aku bakalan jadi pelengkap penderita aja, bakalan lebih sering diem, merasa kecil, etc etc. Tapi, ini re-cap-nya...
Percakapan 1
T(he) M(isogynist): Kemaren, aku ke Bandung lho, terus jalan ke mall... Dan aku kaget, shock. Ituuu, cewek-ceweknya..
P(aus) B(iru): Kenapa? Pada pake baju seksi-seksi ya?
TM: Iyaaaa. Masa pake baju terusan, nggak pake lengan, trus panjangnya
cuman seginiii (menggarisi daerah paha, antara pangkal dan lutut).
Terus nyalam2in satpamnya segala..Kaget aku. Parah bangeet.
Aku: (keras banget) AHH KALIAANN! DASAR MUNAFIK!
Percakapan 2
Intinya, mereka saling bertukar cerita tentang kompetensi masing-masing
dalam menggempur institusi-institusi negara yang menjadi pos-pos
mereka. Aduh.. achievement-ku makin tiada arti. Salah satunya si PB,
yang cerita dia ngarahin seorang ketua Komisi negara untuk mengeluarkan
pernyataan-pernyataan yang lebih 'mantap', saking dekatnya.
Percakapan 3
PB: Sekarang siapa yang bareng elu di DPR?
TM: Si 'Gupuh Boy' (GB)
PB: Wah mantap itu si GB. Kata temen gue yang waktu itu pernah di
Sulianti, dia nanyanya detil banget, "yang mati siapa, kenapa, usianya,
masuk kapan," wah pokoknya lengkap banget. Nanyaaaa terus.
TM: Iya, di DPR juga gitu. Mantap kalo nyuri-nyuri data.
PB: Iya, tapi trus data udah banyak gitu, dia nanya ke temen gue: 'Nulisnya gimana ini?'
TM: Kemaren juga, aku suruh nyuri-nyuri data, dapet terus dia. Mantap sekali anak itu.
PB: Calon penjahat lah. Kayak si siapa itu, BabyFace juga. Calon penjahat itu.
Aku: (dalam hati) duh...banyak banget ya yang aku nggak bisa. Nanya
tanpa akhir, nyuri data, nembus sumber...Kapan aku jadi calon penjahat.
Percakapan 4
(yang ini okelah, membangun kok buat aku, tapi tetep aja sempet mbuat aku ngerasa 'kecil')
PB: Tulisan elu, yang kemarin tentang novel apa tuh? Jelek.
Aku: (menelan ludah, agak ikhlas menerima kritik, tapi ya shock juga) Yang 'Catcher'?
PB: Ya itulah, gue lupa judulnya. Jelek. Terlalu banyak data. Data kan bisa nyari di internet. Apresiasinya minim.
Aku: Ya, emang itu sih yang aku akuin kurang.
PB: Harusnya pilih satu aja. Karakter yang menarik, contohnya, trus
baru.. data melengkapi premise yang udah kita punyain di kepala. Trus
kemaren baru dari Yogya ya?
Aku: Iya.
PB: Pertama-tamanya sih oke, tapi mundur-mundur, elo udah capek ya? Udah makin...
Aku: Iya sih, lama-lama bosen.
PB: Kalo buat feature tuh, jangan sering pake 'katanya, katanya'.
Diperbanyaklah. Cetusnya, imbuhnya, selanya, tegas, (dan aku lupa apa
lagi, tapi dia nyebut setidaknya tujuh variasi lagi di sini. Sesuatu
yang cukup mbuat aku ngerasa, 'wah, aku berhadapan dengan penulis
handal nih'.)
Hmm.. seorang dewasa pasti akan ngerasa berterimakasih kan dengan
advis-advis PB? Dan nggak ngerasa apa-apa lagi. Aku? Berterimakasih,
iya. Tapi terus aku jadi ngerasa kecil. (Sigh)
Tipikal aku banget.
Banyak memang yang harus dipelajarin.
Tapi salah satu catatannya: jangan pernah makan bareng para anak emas itu.
(Yah, tips-tips menulis dari PB, masih bolehlah..)
Posted at 07:13 pm by i_artharini
Permalink
Sunday, December 18, 2005
Yogya, walaupun dengan semua tuntutan kewajiban yang membuatku berada di sana, tetap bisa membuat hati tentram.
Terakhir kali ke sana, emang belum lama. Baru Lebaran kemarin. Dan itu bukan sesuatu yang aku nikmati. Antara ingin dan tidak ingin mengalami badai kenangan.
Ingin, karena ya, emang kangen sama cerita-cerita yang dulu pernah terjadi di situ. Enggak pengen, karena takut, badai kenangan itu akan terlalu kuat untuk aku hadapi. Kenyataan yang terjadi, aku malah mati rasa. Sesuatu yang membingungkan, karena ternyata aku membenci ke-mati-rasa-an itu.
Tapi, sepuluh hari di Yogya kemarin, walaupun dikejar-kejar per telepon oleh seorang redaktur, dan tiga di hari terakhir, tidak mendapat waktu luang untuk jalan-jalan mengeksplorasi kota sendirian, tetap saja bisa menentramkan hati.
Berada di sana, aku nggak pengen berada di tempat lain. Ada di sana saja sudah cukup.
Aku juga nggak ngerasa iri sama hidup orang lain, relationship-nya orang lain, kemampuannya orang lain, keadaan fisik dan spiritual orang lain; apa yang aku punyai sudah cukup. Yang penting, yang ada di kepala, hanya saat itu, kota itu.
Tidak ada rasa dikejar-kejar oleh sesuatu; bahkan aku merasa mengatakan sesuatu yang sangat konyol, ketika meminta seorang supir taksi mengendarai kendaraannya dengan kecepatan tinggi, demi mengejar seseorang.
Oke, aku memang masih sempat teringat pada seseorang. Tapi terbatas hanya pada kelebatan nama dan sosok. Tak lebih. Tak ada lagi pertanyaan-pertanyaan seperti: Apa yang sedang ia lakukan sekarang? Sedang bersama siapa ia sekarang? Apa yang sedang ia baca atau pikirkan sekarang?
So, tetep aja, masih belum kena diskualifikasi pernyataan "Yogya menentramkan hati".
Kenapa dulu aku tidak menerima Yogya seperti sekarang? Aku dulu menginginkan Yogya yang lebih meriah dari sekedar suburban wasteland. Dan Yogya sekarang menjadi lebih meriah dengan papan iklan perumahan baru yang sedang dibangun bertebaran di mana-mana. Pusat-pusat perbelanjaan baru sedang dibangun. Dan aku membenci itu.
Tapi di tengah kecemasan akan Yogya yang mulai menyemburkan api konsumerisme, rasa tentram itu tetap dominan. Ah, keluar dari Jakarta memang menyenangkan.
Dengan segala modus, akhirnya sempat juga satu hari diluangkan untuk lihat Jogja Biennale dan belanja buku ke 'Taman Pintar'. (Ini nama barunya, dulu kan namanya 'Shopping' ya? Tapi aku nggak tau nulisnya sebenernya gimana, karena dibacanya 'soping', dengan 'i' yang lebih menjurus ke 'e' khas orang Jawa). Dan mborong pula. Semua buku pada 30% off, nemu buku-buku yang nggak dicetak lagi.
Hmm, berusaha sebisa mungkin mereload batere, agar kembali kuat menghadapi Jakarta yang akan memeras habis optimisme, kedalaman pikiran, ketenangan hati, kesabaran, dan rasa nrimo atas hidup yang kita jalani.
Dan kembali ke Jakarta, aku berusaha keras untuk tetap terus menjaga kesederhanaan dan kedamaian yang mengendap dari kunjungan Yogya, agar tidak cepat hilang.
Hmm. Ternyata susah. Ngeliat kebahagiaan orang lain di depanku, relationship yang sempurna di depanku, pasangan saling menelepon dengan kata-kata manis penuh perhatian untuk satu sama lain...
Ah.
Sudahlah, sudahlah. Salah satu bagian dari 'pencerahan Yogya' kan memfokuskan diri pada pekerjaan. Dan pada kualitas tulisan. Dan untuk tidak berpikir yang lain-lain.
Ayo, ayo. Let's get to work.
Posted at 02:23 am by i_artharini
Permalink
|
|
|