PENARI MUNGIL


(Saya bukan seorang penari. Pun sangat jauh dari mungil. Tapi, tahu kan adegan 'Tiny Dancer' di 'Almost Famous'? Sensasi membahagiakan dari adegan itulah yang saya kejar..)



Hold me closer, tiny dancer

Count the headlights on the highway

Lay me down in sheets of linen

You had a busy day, today


("Tiny Dancer" - Elton John)





"...the quest for transcendence has always been closely linked to the ecstatic release of dancing."
(Resensi RollingStone atas sebuah album pop)

Mr. Darcy: "So what do you recommend, to encourage affection?"
Elizabeth Bennet: "Dancing, even if one's partner is only tolerable."
(Pride & Prejudice, 2005)


perempuan, 1983, lovesick soul, berjalan kaki, belajar menulis, menonton film, ingin keliling dunia, Billie Holliday, Jane Austen, 'Franny and Zooey', cerita pendek F Scott Fitzgerald, lagu-lagu sedih, kecanduan membeli buku second, deretan buku di lemari, berkeliling dengan bis kota, mengepak koper, menari bebas, Vogue, sepatu, bad boys, kopi, kuliner, foto, semua yang vintage, genggaman tangan, pelukan hangat, detil percakapan antara manusia, kegelisahan, kesepian, ruang pencarian, belajar dewasa, museum dan bangunan tua, hari hujan, sinar matahari hangat di hari berangin, airport, stasiun kereta, dan pertanyaan tanpa akhir

YM: isyana_artharini
Email: i.artharini@gmail.com
   

<< December 2005 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03
04 05 06 07 08 09 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Friday, December 16, 2005
I'm Very Good At...

Pas seminggu di Yogya kemarin-kemarin, sempet ketemu seorang anak perempuan berusia sekitar 15 tahunan dari Korea Selatan. Ini anak, agak ajaib. Dia seneng banget ngomong; kasihan yang jadi lawan bicaranya, cuman jadi obyek penderita aja. Jadi ya dia cuman nyari orang yang mau denger dia berbicara.

Nah, karena itu seriing banget omongannya dia cuman di-ohh,ohh-in, atau di-angguk-anggukin aja. Itu buat yang masih sopan. Sering ada yang ninggalin dia begitu aja, karena ini anak nggak bisa di-stop kalo ngomong. Dan ya itu, nggak mbaca situasi, walopun si lawan bicara keliatan enggan, dia masih tetep rajin.

Kasihan juga sih benernya kalau lihat dia dicuekin aja. But well, aku juga nggak tau mau gimana. Dan dia sepertinya juga oke2 aja dengan keadaan itu.

Suatu malam, si gadis Korea yang ternyata bernama Soo itu lagi duduk sendirian di sebuah kursi rotan di depan lift. Dia lagi menulis-nulis sesuatu di bloc note berlogo hotel. Aku nggak sadar kalau dia sedang mendengarkan musik. Jadi, karena aku ngira dia selalu seneng berbicara dan selama ini nggak nemuin orang yang mau diajak bicara, aku mengajaknya ngobrol: "Hi, what are you doing here, sitting alone?"

Hmm, matanya malah ngeliat jutek, dagunya diangkat, dan dia cuma njawab pendek: "Thinking. Just thinking. I'm very good at thinking," sambil terus kembali menulis.

"Oh, okeyyy..."
"And listening to the music," lanjutnya sambil mengeluarkan kabel earphone, sebelum akhirnya kembali menulis.

Aku juga tidak memperpanjang pembicaraan, karena pintu lift sudah membuka. Dan aku sadar, ini anak tidak butuh teman bicara, dia memilih orang yang akan mendengar monolognya. Akan lho, bukan mau.

Btw, kata-katanya tadi so witty, unik, dan mencerminkan rasa percaya dirinya. Ya itu tadi, dia bukan orang yang desperate untuk teman bicara, dia dengan pe-de memilih orang untuk mendengar monolognya.

Dan, hmm, I'm also good at thinking.
Atau, atau, staring out of the window. Hehehe, that is something I can enjoy for hours.

Jadi semangat mendaftar 'things I'm good at' untuk sesuatu yang tidak 'berbentuk'.

Posted at 07:09 pm by i_artharini
Make a comment  

Nobel

Orang yang kata-katanya paling sering aku kutip dalam seminggu terakhir ini, Yohanes Surya, kemarin menyatakan keyakinannya, pada 2020 nanti akan ada kandidat peraih Nobel di bidang sains dari Indonesia. Keyakinannya ini atas dasar anak-anak Indonesia yang sering menang di berbagai Olimpiade Sains internasional.

Logikanya begini: Pak Yohanes ini sering membaca kisah-kisah para pemenang Nobel di bidang sains. Nah, para pemenang Nobel ini dalam riset-risetnya dilatih oleh para pemenang Nobel sebelumnya. Tentu saja, para pemenang Nobel tidak akan memilih sembarang siswa untuk dilatih, mereka akan sangat selektif memilih siswa-siswa unggul. Caranya siswa-siswa calon murid peraih Nobel ini bisa unggul, adalah dengan menjadi juara dunia pada Olimpiade-olimpiade Sains tingkat internasional. Itulah yang membuat dia terus driven untuk melatih anak-anak Indonesia. (Walaupun aku agak bertanya-tanya, emang yang ngebiayain kerjanya Pak Yo ini siapa sih? Dan atas motivasi apa?)

Buktinya, para peraih medali emas Olimpiade Fisika internasional sekarang banyak yang dilatih para peraih Nobel.

"Seperti di Princeton, Oki Gunawan sedang dilatih oleh Daniel Tsui (peraih Nobel Fisika 1998). Lalu ada lagi anak Indonesia yang sedang dilatih oleh peraih Nobel, Wolfgang Ketterle (pemenang Nobel Fisika 2001) di MIT, di Stanford University ada anak Indonesia yang menjadi asisten dosen peraih Nobel, Douglas Osheroff (Nobel Fisika 1996), ada juga Rizal Fajar Haryadi yang sedang berada di California Technical University dan menjadi murid para peraih Nobel di sana. Bahkan Rizal pernah mengajar peraih Nobel Fisika 2004," jelas Yohanes.

(kutipan dari berita-ku kemarin)

Jadi, kata Pak Yohanes, bukan tidak mungkin 2020 nanti Indonesia punya kandidat peraih hadiah Nobel di bidang sains.

Dan percaya atau tidak, Nobel, setidaknya pada bidang sains, jatuh-jatuhnya adalah masalah networking. Track record penelitian si kandidat harus diketahui dengan baik oleh mereka yang tergabung di komunitas peraih Nobel; ya mungkin biar menjaga nilai penghargaan ini tetap tinggi dan tidak tainted kali ya. Penelitian yang bagus, kalau tidak terpantau dan tidak 'ketahuan' siapa yang ngerjain juga nggak bakal dicalonkan untuk meraih Nobel.

Tapi, tapi, yang jadi pertanyaanku, gimana dengan Nobel Sastra?
Mungkin nggak sih ada pelatihan model seperti ini diterapkan untuk meraih Nobel Sastra?

Dengan banyaknya perhatian (oleh pihak tertentu, tentunya) dan publikasi diberikan untuk  bidang sains, gimana dengan bidang lain seperti Sastra?

Just my two cents.

Posted at 06:45 pm by i_artharini
Make a comment  

Evaluasi

Waduh, nggak nyangka sembilan bulan sudah kelewat, dihabiskan untuk bolak-balik Jatiwaringin-Kedoya enam hari seminggu. Atau kurang sih kalau lagi pengen kabur, heheh.

Anyway, Selasa sore, pas lagi nunggu di bandara ditelpon seorang sekretaris, katanya aku diundang Pemred untuk datang ke ruang kerjanya besok pagi jam 10, yang kemudian diralat jadi jam 9. Tiwas aku udah deg-degan, mengira hanya aku yang mendapat cercaan mengenai tulisan hasil aku seminggu di Yogya, eh ternyata temen-temen seangkatan juga dapet undangan.

Ada sesuatu yang aku senengin kalau ketemu Pemred. Bukan, bukan berbagai camilan di toples-toples di mejanya, tapi...ada sesuatu dengan cara beliau berbicara yang bisa membangkitkan motivasi. Padahal kata-katanya biasa aja, standar lah..

Kayak waktu itu pas aku di Metropolitan, dia nyuruh kita mengasah ketajaman rasa dengan banyak-banyak mbaca, nonton film, ndengerin jazz. Ya mungkin itu juga yang mbuat aku jadi mencanangkan gerakan one movie a day, 50 books a year.

Terus, kemarin juga beliau tidak mengecewakanku. Kata-kata seperti contohnya, "Kalian itu kan berada di sini juga karena pilihan-pilihan masa lalu kalian." Kayak disadarin aja sih, kalau semain-mainnya, se-asal-asalannya mengambil keputusan untuk ada di sini, itu tetap sebuah pilihan yang aku buat.

Dan ada satu lagi, "apa pun yang kalian kerjakan, yakinlah kalau itu akan selalu terpantau. Setidaknya terpantau oleh mata Tuhan." Pesannya sih, jadi walaupun ada yang memperhatikan atau tidak, janganlah 'berhitung' kalau mengerjakan sesuatu, tetep lakukan aja yang terbaik. Tidak akan, menurut Pak Pemred, good efforts go unnoticed.

Terakhir, beliau menekankan tentang budaya keunggulan, itu sesuatu yang harus dibiasakan dan ditumbuhkan. Hmm, kenapa jadi pidato Presiden gini ya?

Tapi kadang, aku seneng kok mendengarkan nasihat-nasihat yang mengingatkan untuk bertindak normatif dan sifatnya agak menggurui. Heheheh. Mungkin kalau datang di saat yang tepat dan dari orang yang aku hormatin.

Kemarin itu, di saat yang tepat, karena pas balik dari Yogya, aku dapat pencerahan untuk mulai fokus ke kerjaan aja, dan nggak usah bingung mikir hal-hal lain yang secara skala prioritas memang nggak gitu penting.    

Posted at 05:11 pm by i_artharini
Make a comment  

Monday, December 05, 2005
Kuis di Udara (duh, jijay judulnya...)

Di era penerbangan murah seperti sekarang, aku enggak pernah naik pesawat murah selain Citilink. Well, kapan juga naik Citilink kan ya pas masih nganggur, jadi bolak-balik Yogya-Jkt, dan harganya juga waktu itu emang lebih murah bahkan dari Lion, dsb, dsb kan?

Lalu, avtur naik, dan Citilink tak semurah dulu. Rute Yogyanya pun sekarang udah... eh, berkurang drastis, atau malah udah ilang ya?

Dan kemaren, pas lagi butuh cheap flight ke Yogya, pilihan yang ada dan murah jatuh ke Adam Air. Minggu kemarin, naiklah aku ke badan pesawat oranye-hijau terang itu. Betapa syohoknya aku, ketika berapa puluh menit setelah take off, ternyata ada jejreng... kuis tebak-tebakan!

Hadiahnya? Merchandise Adam Air. Kayak topi, kaus, yang paling heboh dan worth it sih menurutku jam dinding, hihihi.

Tiwas aku udah mikir itu acara yang jayuuus banget, dan sampe pura-pura cuek, memalingkan mata yang emang udah merem ke jendela. Tapi ternyata, orang-orang pada dengan antusiasnya menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan si mbak pramugari.

Walaupun aku ngerasa itu acara jayus banget, ada sih pertanyaan-pertanyaan yang pengen aku jawab dengan jawaban iseng, kayak:

"Siapa yang tau apa bahan bakar pesawat?"
Nari: (dalam hati) "Avtur campur aiirr..."

Dan pertanyaan, berapa-pramugari-yang-sedang-bertugas-dan-siapa aja-namanya-? ternyata dapat terjawab dengan baik oleh seorang penumpang. So, apa yang dia lakukan, ngitung pramugari dan mencatat nama-nama mereka semua?

Segitunya sih demi topi...Hehehe.

Tapi, ngeliat Merapi kemarin sore tuh indah banget, keliatan magis. Bukit-bukit di sekitarnya yang ijo, dengan saputan kabut, wuah.. memang kayaknya ada jam-jam tertentu Merapi keliatan magis. Ya kemarin sih sekitar jam 5-an.

Posted at 05:40 pm by i_artharini
Comment (1)  

Sunday, December 04, 2005
Menjadi 22

Malam 1 Desember, saat aku kehabisan pulsa, tiba-tiba satu sms masuk. Ternyata dari seorang teteh. Katanya, out of the blue:

"Nar umurmu skr brp,22?kbetulan gw lg bc diary wkt umur 22.dan ampir ky blog Nari juga;p msh suka sebel ma diri sndr.sambil terus melontar ptanyaan2 yg byk skl!"

Hahaha. Such a sweet sms, I think. Mau mbales tapi tak bisa. Untung masih di kantor, jadi bisa nelpon dari kantor. Tapi si mas operator bersuara empuk tidak kunjung mengangkat. Aduh, udah dipanggil Ass.RE lagi.

Akhirnya nggak sempet berterimakasih malam itu.

Tapi, sekedar refleksi. Hmm, mungkin iya ya, pertanyaan-pertanyaanku yang segudang itu akan memudar seiring usia, karena kita udah bisa nemuin jawabannya sendiri, atau mungkin nemuin masalah lain yang lebih penting.

Aku selalu punya pertanyaan-pertanyaan buat hal-hal yang nggak penting (yang anehnya, pas saatnya aku ngajuin pertanyaan, kayak pas ngewawancara narasumber, justru nggak keluar :<), yang sering aku tanyain sama orang-orang di sekitarku. Hmm, nggak heran juga kalau pernah ada yang bilang pertanyaanku kayak teror, atau malah bilang 'emang penting yah?'

Huks, huks.

Tapi ya gimana lagi, that's me. Ya nggak ada yang salah sih sama pertanyaan-pertanyaan itu, dan aku juga tidak berharap aku punya lebih sedikit pertanyaan. But anyway, anyway, intinya...hmm, menyenangkan juga ya dapet 'bocoran' kayak gitu. Tentang, usia yang cuma sebuah fase aja, tentang 'aku-juga-dulu-pernah-mengalaminya-kok' dari orang yang lebih tua, dan ngeliat mereka sekarang yang lebih tenang.

Jadinya merasa lebih tentram. Aku emang udah bukan remaja puber lagi, tapi masih menyenangkan untuk sesekali nerima 'nasihat', "no, you're not alone, kamu nggak aneh kok, aku juga dulu seperti itu."

Dari ketulusan hati, terima kasih, teteh.

Posted at 12:11 am by i_artharini
Make a comment  

Saturday, December 03, 2005
Titik Didih

Setahunan yang lalu, sempet sering ketemu acara 'Boiling Point' di MTV waktu lagi ceklak-ceklik remote nggak jelas. Kalo nggak salah sih judulnya itu. Anyway, inti acaranya sih rada-rada sama kayak 'Punk'd'; ngerjain orang dengan segala macem trik, dan ngetes orang yang dikerjain bakal marah atau enggak. Tapi di 'Boiling..', kalo misalnya setelah melewati waktu tertentu dan si orang masih bisa tetep stay calm, dia bakal dapat duit.

Nah, tanpa ada maksud apa-apa, aku kayaknya udah mbuat seseorang ngelewatin boiling point-nya deh. Ceritanya dari Sabtu weekend lalu, lagi packing-packing buat..interupsi bentar, di tv kedengeran suaranya Nirina mbawain Gigi by Request; gosh, SHE'S SO ANNOYING! oke.. back on track. Lagi packing buat ke Ancol. Asalnya mau berangkat jam 10, eh aku malah baru mulai packing jam 10.

Diburu-burulah aku sama si ibu. Dan karena barang-barang kayaknya pada ngilang semua, jadi pontang-panting nyari-nyari, ex: jilbab item, lha.. nggak ada, kalo nggak ada kan nggak bisa pake baju yang ini, oke cari baju yang lain...tapi baju putih dalemannya nggak ada, lha terus pake yang mana lagi dong, etc etc.

Akhirnya kelar.

Tapi, hp mana? Kayaknya udah dimasukin tas sih, tapi tasnya penuh banget, diaduk-aduk nanti berantakan. Oke, coba telpon, coba telpon.

Ngambil handset, mencet nomor...
Berapa sih nomorku?

08...berapa ya? Pokoknya berurutan deh. Oh, kalo gitu, 123.. trus lanjutannya? Oh 54xxxx.
Hmm, tapi kok kerasanya aneh ya?
Is it really my number?

Dan terdengarlah nada sambung yang semi-semi familiar. Lho, kok pake lagu sih nada sambungnya?
"Windu, windu, windu, windu, windu, windu, windu, windu, Devrina..."

Hah? Siapa yang masangin nada sambung ini?
Ada yang pulling pranks on me atau gimana, gara-gara sempet mbuat beberapa orang yang sebel ama lagu ini makin kesel gara-gara aku nyanyiin secara sengaja dengan amat falsnya. Tapi niat banget nge-pranks-in. Dan buat apa?

Akhirnya, kesadar. 'Eh, ini bukan nomerku kali..' Dan langsung aku tutup.
'Mam, nomerku berapa sih?'
'08...5673xxxxx'
'Oh yaaaa...Ternyata urutannya tuh 567 tho...'

Langsung dipencet dan terdengarlah ringtone dari dalam tas yang penuh sesak. Tenang. Oke, tinggal nunggu taksi.

Tapi, lha tadi berarti nomernya siapa dong?
Jangan-jangan nomernya Charlie Nicholson-ku?
Eh tapi kalo dia...kan 0815 trus...oh iya, 13xxxxxxx
Lha terus ini siapa?

Pikir, pikir, pikir...*gasp* aduh, jangan-jangan si...

Cetring!

Lha, udah langsung ngirim sms? Sambil deg-degan dan setengah nutup mata, ngeliat siapa yang ngirim pesan pendek. Eh ternyata temen sekantor. Fiuh.

Oke, oke, bales pesan pendek dulu aja.

Dan di tengah-tengah ngetik, tiba-tiba, cetring! 

Kali ini, tak ada nama, cuma deretan nomor yang sekarang aku ingat karena tadi aku hubungi.

Katanya:
"Tadi yang telp aku pake telp rmhmu itu kmu ya!? Ada apa?! Ta'pikir kmu sm skali dah gmau knal aku. Kmu td telp, tp gk jls jg mksdmu td apa?!"

Oh-oh.
Waduh, belum apa-apa, aku sudah membuat orang lain mendidih marah nih kayaknya.
Mungkin aku punya sense of penilaian yang rada-rada cuek, tapi menurutku aku melakukan sesuatu yang cukup kecil untuk mendapat reaksi seperti itu.

Anyhow, agak jahat sih, tapi aku lagi malas berhadapan dengan neurosis seperti itu untuk tindakan yang, menurutku, sepele. Dan lagi malas menjelaskan pula. Ya sudah, nanti dulu lah, didiamkan saja.

Sesampainya di Seaworld, sempet sih cerita tentang insiden itu ke Rani, ples reaksi yang aku terima, dan tindakanku yang males menjelaskan.

"Ih, bilang aja lagi salah mencet. Tapi nanti dia ke-GR-an ngira kamu masih apal no-nya. Lha kok kamu masih apal?" saran dan cecar Rani.
"Ya, aku keingetnya cuma nomerku berurutan aja, trus otomatisnya keluar itu. Dan ya itu, aku males njelasin jadi sekarang," aku ngeles.

Dan 'pendiaman' itu berlanjut sampai Senin.
Senin siang, saat baru megang hp lagi, mbaca sms dari Rani:
"Eh si mas *** sms aq nanyain kmrn aq tlp ke hpnya pk no rmh qt ga? dn blg dia sms kmu tp g bls.aq hrs jwb apa?"

Pesan pendeknya Rani juga nggak aku balas. 'Maaf ya, Ran. Decide what you want to do,' kataku dalam hati. Aseli, jahat.

Dan sampai sekarang, aku masih belum njelasin duduk perkaranya.

Posted at 11:51 pm by i_artharini
Comment (1)  

Thursday, December 01, 2005
Aargh!

Kalo boleh jujur:

God, I miss him so much.
Serasa pengen meluk kenceng-kenceng, menghempaskan badan, dan bilang, aku kangen banget, kamu ke mana aja sih?

Jadi maaf ya, kalau aku nggak bisa menahan diri, dan sms-sms itu kelepasan terkirim.

Kalau kataku, kayak pintu bendungan yang dibuka, dan air bahnya menyerbu keluar, ada banjir perasaan. Sementara seorang teman bilang, "ih, itu kan kayak ada satu bolongan kecil aja di bendungannya, dan airnya langsung bocor kemana-mana."

Huks, masak sih?
(Hmm, hate to admit it, tapi ada satu bagian dari hatiku yang tersentak pas denger deskripsi itu).

Kalo katanya Lisa Loeb, di 'Stay':

You said that I was naive,
and I thought that I was strong.
I thought, "hey, I can leave, I can leave."
Oh, but now I know that I was wrong, 'cause I missed you.
Yeah, I missed you.

Posted at 01:21 am by i_artharini
Make a comment  

Beli Nggak Ya?

Aduh. Di book fair itu ada 'Menggarami Burung Terbang'-nya Sitok Srengenge, didiskon jadi Rp 38 ribu dari (tertulisnya sih) Rp 75 ribu. Just because they slashed down the price, apa itu artinya aku harus beli?

Tadi sempet mbaca dua paragraf awalnya sih, dan lumayan dashyat. Terus ngeliat halaman-halaman belakangnya, footnote-footnote-nya juga kayaknya dashyat. So?

Argh, I hate myself when it comes to book fairs.

Posted at 01:11 am by i_artharini
Make a comment  

Wednesday, November 30, 2005
Badai Kenangan

Senin kemarin, di tengah kemacetan pintu tol Kebon Jeruk, aku selesai mbaca 'Cinta Tak Pernah Tepat Waktu'. Hmm, buku menarik yang mbuat aku ngerasa seperti abis kebobolan berita. Aku selalu pengen nulis apa yang ditulis di buku itu.

Tapi ya sudahlah, aku lepaskan perasaan menyesal itu, heheh. Abis, kalau pun aku menuliskannya lebih dulu, nggak mungkin aku bakal bisa menggambarkan rasa kehilangan se-deskriptif dan se-nyata di buku itu.

Si mas penulisnya, Puthut EA, bener-bener menuliskan secara gamblang apa yang aku pikirkan tentang kehilangan. Walaupun, when it comes to ending, keterwakilanku itu udah semakin menipis, aku bisa mengambil jarak dan melihatnya sebagai satu item yang unik, bukan sebagai sesuatu yang 'so-aku-banget'.

Ada satu ungkapan tapinya, di buku itu, yang tidak bisa lebih tepat dari apa yang dimaksudkan (duh, kok mbulet sih?). Badai kenangan.

Tentang satu ingatan tentang senja contohnya, yang langsung bisa memicu deretan kenangan tentang senja-senja yang dihabiskan, atau apa pun yang mungkin tidak berhubungan dengan senja, tapi membuat aku teringat dengan seseorang. Dan satu ingatan membuka pintu untuk ingatan yang lain, sampai akhirnya terjadi badai kenangan. Dalam bahasaku sih seperti itu.

Dan hari ini, aku baru saja diserbu badai kenangan. Pertamanya secara tidak sengaja, karena seseorang yang tidak aku kenal menanyakannya. Lalu tiba-tiba ngeliat. Dan aku diserbu dengan perasaan yang berlebihan untuk sekedar say hello, apa kabar, dan ngobrol seperti dua sahabat yang lama tidak bertemu, tapi sepertinya tidak pantas sekali.

*Menghela nafas*

Oh ya, dan tiba-tiba aku jadi teringat sesuatu. Aku benci sekali kalau dia memanggilku dengan: "Is". Walaupun udah jarang banget juga, setidaknya ada dua kali dalam periode 4-5 bulan? *Psycho banget ya aku? :(*

Nggak tau ya, karena menurutku itu sesuatu yang ofensif. Kayak dia berusaha untuk tidak kenal aku sama sekali. Apa dia mencoba totally wiping out kenangan (which I doubt he even has) dengan mengubah aku jadi seseorang yang benar-benar asing? Dan itu dari nama panggilan. Duh, jadi ngerasa tambah sakit jiwa.

Aku bukan 'Is', aku tidak pernah menjadi seorang 'Is', kecuali untuk bapak-bapak yang usianya selalu jauh di atasku, guru-guruku dulu waktu SD, atau narasumber yang diwawancarai. Sementara orang lain, teman dekat, keluarga, teman, atasan, dan seharusnya dia, memanggilku 'Nari' atau 'Nar' jika dipotong.

Ketika nama pertamaku yang digunakan untuk memanggil, orang cenderung tahu untuk mengatakannya sebagai satu kata, tapi orang yang kenal aku atau aku kenal sebagai 'manusia' (termasuk baik dan buruknya) tak pernah memenggal nama pertamaku. Atau kalau mereka memilih untuk menggunakan kata yang lebih pendek, ada 'Nari.'

Dan entah kenapa, it bothers me so much that he won't use that nick name to call me. Kayak ngerasa di-reject untuk kedua kalinya. Dan kali ini, nggak tau sebabnya apa, terasa lebih ngeselin, lebih frontal, dan terang-terangan. 'Is', walopun itu elemen dari namaku, bukanlah namaku. Itu bukan siapa aku. Apa sih yang sedang kamu coba lakukan? Mencoba untuk menghapus the entire history? Membuat aku jadi seseorang yang asing?

Duh, serasa self-centered banget.
Tapi bener. Aku keseeeel kalo nginget-nginget.
Gila, segitu sensitifnya. Perubahan nama panggilan aja bisa kerasa jadi personal attack.
*menghela nafas lagi*

Huks, kenapa aku berubah jadi psycho gini sih?

 

Posted at 12:22 am by i_artharini
Make a comment  

Tuesday, November 29, 2005
Shopping pt.2

Hari ini, setelah menemui kebuntuan gara-gara orang yang aku kejar di BNN ternyata lagi ke luar negeri sampai tanggal 3 dan baru masuk Senin, aku pergi (lagi) ke Perpustakaan Depdiknas. *Sigh*

Emang kok, it ain't over till it's over.

Dan pas ke sana, ternyata ada beberapa kios yang pas Jumat lalu aku ke sana belum buka, sekarang buka. Contoh, stand (atau petak kali ya tepatnya?) milik Komunitas Bambu yang ngejual buku-buku kumpulan sajaknya Sitor Situmorang, tapi akhirnya aku malah ngambil buku seken ber-hardcover karangan W.Somerset Maugham, "Liza of Lambeth". Habis masak 'Paris La Nuit' harganya setelah di-diskon tetep Rp 49,5 sih?

Puter-puter kanan kiri, eh di Grasindo ternyata ada 'Salju di Paris' seharga Rp 10 ribu. Dan mundur sedikit, lho kok banyak buku-buku dari penerbit Yogya ya?

Aku cuma bisa nge-scan judulnya satu per satu, karena there's so much yang menarik mata, dan aku cuma berdiri sendirian di depan dua mas-mas yang kayaknya juga ngikutin ke mana mataku bergerak. Akhirnya salah satu mas itu bilang, "Dibaca dong belakangnya, jangan cuma diliatin dari atas aja." Buku-bukunya mereka emang digelar lesehan dan ada yang ditaruh di meja pendek. Aku cuman bisa senyum dan ber-"iya, iya, Mas."

Tapi aku masih tetep scanning-mode, karena kalau it really up to me dan aku mbaca bagian belakangnya, ya mau aku beli semua. Ya enggak juga sih, sebenernya karena ada beberapa buku yang sifatnya nge-pamflet. Eh, terus akhirnya nemuin buku kumpulan cerita pendek Afrika yang terjemahannya dikerjain Sapardi, dan dua buku dari penulis Vietnam, Duong Thu Huong. Udah naksir buku2 itu sejak lama, tapi kok ya harganya mahal untuk buku ukuran kecil yang standar, Rp 50 ribu.

"Mas, ini di-diskon?" tanyaku. Kalau mas-nya bilang belum, aku akan menjadikannya sebagai pembenaran untuk tidak belanja. Tapi sayangnya, jawaban salah satu mas itu, yang memakai kaos merah bertuliskan 'Against Turtle Trade', "belum. Yang di sini," sambil menunjuk ke buku-buku di meja rendah, "50 persen. Yang di situ," menunjuk buku-buku yang digelar di lantai, "40 persen."

*Gasp*

Langsung aja, tiga buku yang udah aku lihat tadi aku tumpuk, sambil ngeliat-liat yang lain. Buku-buku Jalasutra, hmm.. menarik hati, cuman terjemahannya sering kacau, lewatin. Buku-buku Resist, hmm..menarik sih, tapi kesannya kayak itu lhoo.. orang-orang yang clueless dan merasa harus belanja banyak untuk 'catch-up' yang sudah ketinggalan. Well, I am clueless, dan seringnya aku emang belanja banyak untuk catch-up, tapi males ah nunjukinnya di depan mas-mas penjual yang satunya memakai kaus bernada pencinta lingkungan dan yang satunya bernada pro petani, dengan tulisan: Farmer is King. Tebakanku sih, mereka udah menguasai lah apa yang mereka pakai di dada mereka. So, they'll figure out I'm a newbie. 'High Fidelity', anyone?

Sebenarnya ada buku-buku sajak tipis-tipis yang harganya 7500an sebelum diskon (dan buku-buku itu ada di tumpukan 50% off), tapi lagi-lagi rasanya kayak orang clueless yang mau belanja banyak buat mengejar ketertinggalan. Akhirnya batal deh.

Anyway, settle untuk tiga buku itu.

"Ini dari Yogya, mas? Datang ke sini cuma buat pameran?" tanyaku.
"Oh enggak, mbak. Kita di Jakarta kok. Di Jatinegara. Di depan Stasiun Jatinegara, main ke sana aja. Itu alamatnya ada di nota-nya. Di sana juga buku-bukunya terus diskon, nggak se-gede di sini sih memang."

Hmm..kenapa semua deskripsi itu sounds familiar ya?

Aku memberanikan diri untuk nanyain ciri-ciri lain dari toko mereka, untuk mencocokkan karakter-karakter identifyer mencurigakan yang muncul. Tapi mas berkaus 'Farmer is King' dengan rambut gondrong keriting semburat pirang menegasikan ciri-ciri yang aku berikan. Jadi keder juga di tengah jalan. "Oh, nggak jadi deh mas, kayaknya aku salah tempat," kataku.

Mas satunya lagi, si kaus merah, yang baru aku sadar berjenggot agak panjang, memakai kalung gading tiruan berbentuk cakar hewan raksasa yang serenteng, malah bertanya, "Oh, temennya si ini ya mbak?"

Dan aku cuma bisa tersenyum kecut. Aduh. Dan seketika aku ingat, dari mana aku mendapat informasi-informasi itu.

Dalam hati: Ermm, bukan.
Yang keluar: Ermm... *senyum salah tingkah, canggung, etc*

"Sering-sering aja mbak main ke sana," kata mas berkaus merah yang juga memakai kupluk hitam dengan kacamata motorcycle-goggle ala Perang Dunia. Ya tak pa-pa lah, style-nya ada substansinya, heheh.

Aku cuma balas tersenyum dan berbasa-basi, iya, iya. Walaupun dalam hati aku bilang, "waduh, susah nih. Mending nggak usahlah."

Hmm, gak bisa kabur juga nih dari badai kenangan.

Anyhow, muter-muter lagi, dan nemu 'Batas Nalar' sama 'Damai di Bumi' dengan setengah harga! Terus ada juga sih yang lain, kayak buku tipis tentang Virginia Woolf, bukunya Seno Gumira Adjidarma, sama ada satu bukunya Marco Kusumawidjaya tentang tata ruang Jakarta.

Dan, dan, aku ketemu Haha, alias Fani, alias Stephanie Surya. Sambil berdiri kita bisa catch-up sampe setengah jam-an sendiri. Sempet nggak ngenalin, karena dia keliatan lebih seger, lebih putih (mungkin karena dulu sering kedinginan, pipinya jadi merah terus), lebih chubby pipinya, pokoknya sempet ragulah. Wow, what a coincidence. What a nice coincidence.

Btw, ini ada info dari penjaga buku cute di petak Paguyuban Karl May Indonesia, katanya tanggal 7-11 Desember nanti di JCC bakal ada Indonesia Book Fair! That's one book fair that I'm definitely not going to go.

Katanya si mas, "Nih ya mbak, saya kasih bocoran. Kita itu, di Diknas, pasti seminggu sebelum Jakarta Book Fair atau Indonesia Book Fair. Off the recordnya: kok jadi ngehantam IKAPI gini sih aku ngomongnya? Tapi ya intinya itu, kita di sini penerbit2 kecil kan susah mbiayain stand di situ, dan kita juga pengen pameran..."

Terus dia ngomong rada panjang tentang memberikan diskonnya kembali ke pembaca dan bukan ke retour-retour ke penerbitan besar, atau apaaa gitu, rada nggak dong juga sama penjelasannya, pokoknya dia terus menyingkatnya jadi: memanusiakan pembaca.

Ah well. Bolong lagi kantongkuuuu...

Posted at 09:41 pm by i_artharini
Make a comment  

Next Page