"...the quest for transcendence has always been closely linked to the ecstatic release of dancing." (Resensi RollingStone atas sebuah album pop) Mr. Darcy: "So what do you recommend, to encourage affection?"Elizabeth Bennet: "Dancing, even if one's partner is only tolerable." (Pride & Prejudice, 2005)perempuan, 1983, lovesick soul, berjalan kaki, belajar menulis, menonton film, ingin keliling dunia, Billie Holliday, Jane Austen, 'Franny and Zooey', cerita pendek F Scott Fitzgerald, lagu-lagu sedih, kecanduan membeli buku second, deretan buku di lemari, berkeliling dengan bis kota, mengepak koper, menari bebas, Vogue, sepatu, bad boys, kopi, kuliner, foto, semua yang vintage, genggaman tangan, pelukan hangat, detil percakapan antara manusia, kegelisahan, kesepian, ruang pencarian, belajar dewasa, museum dan bangunan tua, hari hujan, sinar matahari hangat di hari berangin, airport, stasiun kereta, dan pertanyaan tanpa akhir YM: isyana_artharini Email: i.artharini@gmail.com
|
|
Wednesday, March 04, 2009
Bob: Can you keep a secret? I'm trying to organize a prison break. I'm
looking for, like, an accomplice. We have to first get out of this bar,
then the hotel, then the city, and then the country. Are you in or you
out?
Charlotte:
I'm in. I'll go pack my stuff.
Bob:
I hope that you've had enough to drink. It's going to take courage.
(masih dari, Lost in Translation)
Posted at 06:28 pm by i_artharini
Permalink
Tuesday, March 03, 2009
“Do I want it? You bet your fucking ass I do! I think that people
assume that I don’t care or don’t want it or don’t need it or
something. It’s hard to be there five times, and I’m only human, you
know? But I don’t go home and cry, because we’re all grown-ups here.”
(Kate Winslet di Vanity Fair Desember 2008, artikel: " Isn't She Deneuvely")
Okay, that settles it, I guess. Grown-ups don't cry about it, while I
do. So, that makes me a child? Ah, what the hell. I feel like losing it
here. Act all childish, cry, and just say hell.
I'm pissed with how things turn out, but I'm even more pissed that
after all these years I still can't be happy for other people. I'm
ashamed towards the people, and yes, they are sensitive enough to sense
this thing I feel.
But I can't help it.
Well, actually I have to help it. But I lose the strength to help it.
I'm not above some show of appreciation. Most of the time, I try to be
above it. But there are other times, I need that reinforcement of
faith. So yeah, I need it. It. That thing that you keep throwing to others, but not at me.
Have I not been good enough?
Likeable enough?
Or emotionally messed up enough so that I need some form of sympathy?
Or maybe tough enough?
What the hell have I been doing wrong?
Is asking about this is wrong?
But I can't seem to figure out what the hell is the problem.
I had people telling me to keep positive thinking, but that's just one
easy conclusion, right? I haven't arrived to that conclusion myself.
They're just choking me with it so that I magically, instantly, arrive
at that state of normalcy. Because that's what proper grown-ups do.
You know, words can only do so much to convince me. Yeah, so, I know I
did fucking great, because I made well damn sure to fulfill my own
standard. So your words mean little, because I know I have fulfilled my
own standard. And if my standard coincide with yours, that's great for
you. Your need is fulfilled. But I need some show of appreciation here.
Have I not been good or even, ah-hem, great or what? This bugs me
because I couldn't get to the bottom of this. What's causing it and
what can I do to fix it?
Posted at 07:09 pm by i_artharini
Permalink
Thursday, February 26, 2009
On the Subject of Loneliness
Pada suatu Minggu, empat manusia Jakarta yang kesepian bertemu di pusat jajanan di sebuah mal jantung kota.
Ya, pastinya sih aku yang kesepian. Ada Ms.Know-It-All yang menagih
janji untuk bertemu di salah satu hari liburku. I thought I was
supposed to call her on Monday, tapi pada hari Minggu, dia sudah
miscall dan mengirim pesan pendek, "Nari, kita jadi nge-Raffel's nggak?"
Aku menelepon balik dan bilang, jadi. "Oh ya," kata dia, "nanti ada Ms
Kawaii dan Ms Pretty Technician juga ya. Mereka juga lagi kesepian
katanya." (Nah, Raffel's itu butuh cerita tersendiri. You
know how I always complain about not finding a sandwich shop with a
proper bread? No? Well, okay, I grumbled in private. But, yes, I found
one. They made the sandwich fresh when you ordered it. They have
panini. Well it's not exactly like the panini I know, but it's proper
bread. And okay, Cafe Au Lait has a great tasting tuna sandwich with
great bread, but they have very limited option for sandwich toppings.
Raffel's has chicken pesto [!] and philly and cheese [equivalent of
Subway's steak and cheese]. I told Ms Know-It-All about it on Thursday,
and she said, "Iyaaaaaaa. Aku juga suka delivery kok." So we build up
quite an appetite for their gigantic sandwich) Kami
menanyakan kabar, bertukar cerita. Aku datang di tengah-tengah
pembahasan soal proses perceraian hampir final dari Ms Pretty
Technician. Ms Kawaii belum datang. Ms Know-It-All langsung menuju
order of business for the day, pembahasan soal kesepian itu. (Sebagai catatan, aku pikir kita berada di sini untuk menyingkirkan perasaan itu, bukan malah membahasnya)
Aku sih waktu itu sempat bilang, tidak tahu apakah ini magnifikasi dari
rentetan kejadian atau memang ada hawa tertentu yang lagi melanda
manusia-manusia Jakarta. Kok aku jadi menemukan kesepian atau tema-tema
semacamnya di berbagai tempat. Saat lagi blogwalk dan merasa berada di jurang emosi itu, eh kok ya ketemu sama postingan ini.
Yang membuat aku merasa, eh rutinitas aku dan sosok yang ditulis di
situ kurang lebih sama, imaji-imaji yang kami tangkap lewat mata juga
plus minus mirip, dan akhirnya berujung pada kesimpulan emosi yang
satu. Ini orang asing yang tidak aku kenal, tapi kok dia mendaftar
dengan tepat ya, semua yang aku rasakan? Di tengah sesuatu
semacam epifani itu, aku menyapa mbak Octopus lewat sebuah percakapan
maya. Dan aku kaget campur senang menyadari bahwa dia juga ada di titik
emosi yang sama, kesepian. Kesimpulanku: apa kesepian itu penyakit
manusia kota? Mbak Octopus mendaftar berbagai ritual pengisi
kesepiannya, dari duduk-duduk sendiri di Taman Suropati sampai memilih
film secara acak dan tidur di dalam Metropole. Aku bilang, "Lho kok
jadi kayak manusia-manusia di film-film Wong Kar Wai?"
Ritualku selalu mengulang-ulang pertanyaan ada apa dengan saya, di
antara DVD-DVD atau deretan acara tivi kabel yang aku tonton.
"Coba lihat di sekitar, Nar. Lihat deh," kata Ms Know-It-All. "Masa sih
orang Jakarta kesepian? Lha wong nggak ada yang duduk sendiri. " "Nah itu, makanya yang mbuat aku gentar pas berapa minggu lalu gitu, harus duduk sendiri, makan di foodcourt," kataku. "But I do that all the time," dia bilang.
"I know. Aku juga biasanya gitu, tapi waktu itu nggak tahu kenapa, mau
makan sendirian aja di food court Plaza Senayan sampai gentar, nggak
berani. Apa karena itu pas weekend ya?" "Atau mungkin," ini
masih dari dia, "mereka ketemuan di mal, cuma buat janjian ngapain,
terus pulang dan ngerasa kesepian lagi? Jadi relasi-relasi yang thin
gitu. Lepas lagi kalau nggak ketemu." Mungkin. Aku nggak tahu. Tapi aku cukup bersyukur soal siang ini.
Entah kenapa dia juga lompat ke konklusi ini. "If you can't manage your
loneliness, kamu nggak akan jadi orang yang komplit dalam satu
hubungan. You are not the sum of its part. Coba, kalau kamu cuma 50%,
tambah 50% lagi orang lain, jadi 100%. Tapi kalau 100% ini pecah, kamu
bakal jadi 50% lagi kan?" Kami bicara runtang-runtung.
Dari soal dia yang pesimis akan circle of friends (dia percaya, semakin
kita tua, circle of friends semakin mengecil. "But I know lots of
people yang circle of friendsnya tambah luas," aku bilang. "Atau
mungkin, itu relation by proxy [sic] yang ada karena hubungan
profesional, tapi bukan sesuatu yang lasting. I think it's a very
Eastern, atau Indonesian concept, that we can be friends with people at
work place or those we meet during work. I don't buy that," kata dia),
lalu juga soal kebutuhan akan teman baru ("Why would you need one?"
kata dia. Lalu aku mengingat-ingat, teman-teman baru yang aku dapat,
yang tidak dari perkuliahan atau kerja, cenderung punya kemiripan dari
soal selera, ritme hidup, jangkauan emosi, sampai kebiasaan-kebiasaan
pengisi waktu. Jadi aku nggak tahu apa sebenarnya yang aku cari, more
of the same atau yang lain. Yang aku tahu sih, aku beruntung karena aku
tidak sengaja 'mencari'. Upaya yang dilibatkan relatif minim, tapi
mereka datang). Ms Pretty Technician cerita sesuatu yang
membuat aku shock. Dia bilang karena status maritalnya yang terbaru
sudah mulai menyebar, pria-pria di sekitarnya lalu mulai menawarkan
sebuah jasa khusus. "Nggak pa-pa, kamu kan bakal punya kebutuhan," dia mengutip kata-kata si cowok.
Mungkin seharusnya aku bilang sesuatu, that it was some form of
harassment to her. But I didn't. Dan sampai sekarang aku masih
terkaget-kaget sama opini dan perkataan yang mampu disampaikan oleh
orang. Aku nggak tahu apakah aku terlalu serius menanggapinya karena
yang jadi tujuan kata-kata itu cuma menganggap ringan. Ms
Kawaii datang dari Glodok, mencari DVD di akhir pekan. Kebiasaan yang
tampaknya juga awam di banyak orang yang aku kenal. Ingatkah soal Nick
Hornby yang mencatat di High Fidelity versi buku, bahwa kebanyakan
pencari piringan hitam di akhir pekan itu punya ciri-ciri serupa?
(Mostly single male, memakai pakaian yang serupa, membawa tas yang
serupa untuk mengangkut koleksi yang baru mereka dapatkan)
Mungkin, jika ingin melakukan pencatatan sebanding untuk tulisan Hornby
itu di Jakarta, ada para pencari DVD akhir pekan. Tetapi mereka tidak
hanya mostly single male, sudah meluas juga ke single female. That we
drown our alone-ness with DVDs. Oh ya, perbincangan kami
juga sampai di sindroma Facebook. Aku menyebutnya itu untuk 'penyakit'
yang aku rasa ketika melihat betapa komplitnya hidup orang-orang di
berbagai halaman situs pertemanan itu. "Oh, come on, Nari. Situs-situs pertemanan itu, nge-tag, foto, dan sebagainya. That's all vanity.
Mereka kan cuma nunjukin kalau mereka itu fine, fabulous, nggak
kesepian. Coba deh lihat, foto-foto di Facebook tuh kan cuma kalau
nggak gathering, nikahan, kopdar, ketemuan," says Ms Know-It-All, our
shrink for the day. Kesimpulan yang sudah sering diulang
oleh banyak orang, tapi mungkin baru sekarang aku benar-benar sadar
akan poin itu. Baru terbenam di penalaran. Ini mengingatkanku akan sesuatu yang dikatakan Robin Williams(?) di One Hour Photo.
Bahwa kita tuh nggak akan memotret momen-momen yang menyedihkan. Selalu
acara-acara bahagia. Pesta ulang tahun, liburan bersama, tapi nggak ada
soal pertengkaran atau perselisihan. Aku sudah lama tidak menonton film
itu, tapi sepertinya pernyataan dia itu berhubungan sama kenapa dia
begitu hancur waktu keluarga yang diikutinya juga ternyata tidak
seideal di foto. Sama seperti di Facebook. Kita berusaha merangkum momen-momen bahagia itu dan ditunjukkan (tertunjukkan?) ke orang lain. But anyway, pada akhirnya Ms Know-It-All memberi cerita soal kenapa dia menganggap loneliness is good. "Nih ya, aku punya to-do-list apa yang pengen aku kerjain. Nah pas aku sendiri tuh aku jadi punya waktu ngelakuin semua itu." Pernyataan sederhana ini kok ya jadi membuatku nyaman.
Dan di masa mood-ku sedang kacau seperti sekarang, aku juga jadi
menemukan berkah. Bahwa ini adalah waktu yang tepat buatku
mendengarkan... MORRISSEEEEYYY! (aku sudah empat kali
bolak-balik menghabiskan "Years of Refusal"-nya yang baru itu dan sudah
lama aku tidak sebahagia ini soal sebuah album. Membuatku ingin
bernyanyi-nyanyi terus. Dan ini baru pertama kalinya aku mendengar
Morissey secara utuh. I'll tell you why, next. Oh, right after I edit
some articles first) Oh, something is squeezing my skull Something I cannot describe There is no love in modern life Oh, something is squeezing my skull Something I can't fight No true friends in modern life Diazapam Valium Tarmazpam Lithium HRT ECT How long must I stay on this stuff? Please don't gimme anymore Please don't gimme anymore Please don't gimme anymore Please don't gimme anymore (Something is Squeezing My Skull --"Years of Refusal", Morissey )
Posted at 02:21 pm by i_artharini
Permalink
Saturday, February 21, 2009
I was doing my not-as-usual blogwalk when I happen to meet this quotation:
"Saya menyadari bahwa film ternyata kini telah berubah fungsinya menjadi salah satu alat bertahan, survival essentials,
untuk seseorang individu. Tidak hanya perempuan, tetapi para lelaki
(terutama mereka yang masih lajang dan memiliki banyak waktu untuk
dihabiskan sendirian) berupaya mempertahankan kewarasannya di tengah
riuh rendahnya hidup hanya dengan bermodalkan stok
koleksi dvd di kediamannya. Dengan kata lain, film menjadi sebuah
eskapisme dari kerutinan sehari-hari yang mendera, yang kelak
menciptakan sebuah renungan tentang hidup."
(dari Blog Dian Sastrowardoyo, entry "Perempuan dan Film")
My first reaction was: how so accurate. Well, at least in my case.
Aku kenal tuh beberapa perempuan dan lelaki lajang yang, entah
motivasinya mempertahankan kewarasan atau apa, tapi mungkin lebih
karena eskapisme dari rutinitas sehari-hari, beralih ke DVD.
(Ya kan, Mas Lambe? Dan Mbak Octopus yang lega asal bisa tidur dan
nonton DVD? Dan, aku nggak yakin sih, apakah Xat masih melakukan
kebiasaan ini, karena dia sekarang lebih sering berada di tengah laut
dan kenyataan yang dia hadapi sekarang tidak selajang saat kami masih
bekerja bersama )
Sejak hampir setahun terakhir, seminggu sekali aku mengisi halaman
resensi di media tempatku bekerja. Film, musik, buku. Lebih seringnya
film dan musik sih, karena sejujurnya, sudah beberapa bulan aku
kehilangan selera membaca. Nama halamannya pun menandai pelarian itu,
Eskapisme.
So it was only fitting that I watch movies. Although, not as much as I want it to be.
Yang aku cemaskan sekarang, kok makin lama kenyataanku itu jadi tidak
terpisah sama yang aku tonton lewat kotak kaca, atau lewat layar lebar
ya? Dari seharusnya menjadi sebuah eskapisme, sekarang malah jadi
merasa itu tempat tujuan sebenarnya. Dan kenyataan yang saya hadapi
sehari-hari, itu malah yang fantasi.
Pada suatu masa, saat sedang menaiki kendaraan umum di sepanjang
Sudirman yang kosong, aku sampai di kesimpulan: mungkin hidupku bisa
jadi lebih sederhana kalau aku tidak menonton film. Aku tidak akan tahu
soal area abu-abu, beragam gradasi emosi yang mampu membuat manusia
jadi ini atau itu, tidak akan ada dramatisasi yang berbuah kerumitan.
Bahwa satu-satunya 'kenyataan' atau emosi yang saya lihat dan
rasakan ya...berdasar atas kejadian-kejadian yang sudah saya alami.
Bukan karena saya melihatnya lewat sebuah film.
Aku menyampaikan pemikiran ini ke Ccr. "Jangan-jangan hidupku bakalan
lebih simpel, nggak ribet, kalau aku nggak nonton banyak film ya?"
Dan dia mengangguk pasti, mantap.
Mungkin karena waktu itu dia belum menonton film yang cukup. Tapi
sekarang, dia juga kena sama film. Dia juga memproyeksikan kehidupan
atau alternatifnya, keputusan, karakter, kemungkinan 'ending' dari
keputusan yang dia ambil, pada sebuah film. Sepertinya sekarang dia
malah lebih rajin menonton. Kalau dia sudah menonton film yang belum
aku tonton, aku akan terpacu menonton film itu.
Percakapan acak dengan mbak Octopus membuat kita saling bertanya.
"Apakah kamu juga memproyeksikan kenyataan atau mencocok-cocokkan atau
mengasosiasikan hidup pada satu film?"
(Pertanyaan aslinya tentu tak seformal itu, tapi intinya tetap sama)
Kami sama-sama menjawab iya. Dan belum terlalu lama lalu kami menyadari
bahwa film bukanlah cantolan yang bisa diandalkan untuk berbagai macam
keputusan yang kami ambil di kehidupan nyata.
Kami juga saling bertanya, kapan kamu menyadari hal itu, bahwa film bukan sandaran berarti buat pilihan-pilihan hidup?
Aku lupa jawaban dia (apa ya mbak Octopus? Cinema Paradiso?), tapi
buatku, jawabannya itu waktu nonton Jomblo. Waktu karakternya si Ringgo
Agus Rahman itu, saat dia memilih si pacar utamanya daripada
selingkuhannya yang digambarkan lebih pas buat dia? It's not like he
was married to her.
Dari situ aku baru melek, bahwa bisa lho mempertanyakan apa yang
terjadi di layar. Bahwa, bisa juga lho, pikirannya nggak sejalan sama
si narator. Haha, cemen banget ya? Dan, setelah sekian lama,
pencerahannya baru itu?
But anyway, setelah pencerahan itu terjadi, sekarang kok aku malah
kembali ke kemenyatuan antara yang fantasi dan yang realita. Jadi sulit
dipilah lagi. Membaca ulang beberapa posting terakhir di sini, jadi
semakin minim realita manusia-nya (atau manusia nyata-nya), dan lebih
banyak soal dunia dan manusia dalam kotak kaca.
Beberapa waktu lalu aku juga menemukan sebuah kutipan. Sekarang aku
malah sudah lupa siapa yang bilang dan di mana aku menemukannya.
Sepertinya itu antara di sampul belakang sebuah buku yang aku lihat di
toko buku, atau sebuah blog. Dalam bahasa Inggris. Katanya, semakin
kita tua, semakin kita tidak bisa memisahkan antara hidup kita dan apa
yang kita tonton. Benarkah begitu? Kalau iya, apakah ini yang sedang
terjadi?
Pauline Kael juga pernah bilang (dan ini aku ingat ada di bagian awal
buku berjudul Movie Love in the Fifties) pada sebuah wawancara. Si
pewawancara bilang, "When I go to a movie, I feel lost." Dan Kael
menjawab, "I feel as if I am found."
Sebuah sesi seminar kritik film dalam Jiffest lalu menghadirkan
peresensi untuk majalah Variety bernama Russel Edwards. Aku ada di sana
dan mencatat pernyataan-pernyataannya karena..aku nggak tahu tanggung
jawab apa yang datang bersama 'pekerjaan' ini.
Kata-kata Edwards yang paling relevan untuk tulisan ini, mungkin soal
bahwa meresensi film adalah sebuah pekerjaan yang soliter. "We sit in
the dark, paying attention to the screen, it's not exactly a sociable
[sic?] job," kata dia.
I'm not ready to call what I do as a job yet. Not if compared to what
he's done as a reviewer. At best, I would call what I do a part-time
reviewer and full time editor. But I am already starting to feel that
solitary type of life.
Mungkin bukan juga karena konsekuensi sebuah tugas, tapi bisa juga
karena aku lebih memilih untuk menyelami realita dengan menekan tombol
play, daripada bergaul secara 'normal'. Tapi pernah dengar kan soal
riset bahwa mereka yang menghabiskan waktu lebih lama di depan televisi
adalah mereka yang tidak bahagia?
I am tempted to count that as some sort of answer.
Film juga sepertinya, secara bersamaan, terlalu sederhana untuk jadi
bagian dari solusi dan terlalu indah dan kompleks untuk cuma jadi obat
ketidakbahagiaan.
So why is it I found myself more alone, and deeper in the fantasy
realm? So deep that I could not separate this world and that of optical
'illussion'?
Posted at 02:30 pm by i_artharini
Permalink
Wednesday, February 18, 2009
Rabu Trivia. Saat baru tiba di IMDB, aku langsung melihat
pertanyaan ini: "Do you know that Robert Downey Jr. turned down the
role in this classic romantic comedy? (Answer)" Klik. Jawabannya: yeah, Say Anything aja lho.
Hah, film yang mendasari karir film John Cusack (semua peran yang ia
perankan selanjutnya kan hanya variasi dari Lloyd Dobler bukan? Sama
kayak...Diane Keaton yang sering memerankan berbagai variasi karakter
Annie Hall begitu? Oh is this the fate that would befall Michael Cera?)
pernah hampir dimainkan sama Robert Downey? Film yang membuat John
Cusack, sampai hari ini, still gets laid on a daily basis itu hampir
jatuh ke Robert Downey? *Lagi membayangkan Robert Downey sebagai the good man that is Lloyd Dobler* ("I gave her my heart and she gave me a pen!") Ya, nggak masalah juga sih. I love them both. Anyway.
Tadi malam baru nonton Defiance. Yang seharusnya ditonton serius, aku
malah lebih sibuk menghitung pro dan kontra untuk karakter Daniel Craig
dan Liev Schreiber. Kadang-kadang juga, Jamie Bell. I can't decide
which one's hotter. Daniel Craig, whoaa, he's the best kisser kayaknya. Liev Schreiber, hot, in a boring kind of way. Walaupun poin totalnya tiba-tiba naik drastis di akhir film. He's such a DILF! (DILF= tahu kepanjangan MILF kan? Nah, D-nya for Dad :D)
(satu lagi catatan nggak penting dari Defiance. Waktu melihat karakter
Bella, kok kayak ingat, pernah lihat di mana ya? Sampai akhirnya
karakter Bella dan Zus-nya Liev ngomong berdua. Hah, ini kan...si Iben
Hjejle yang jadi pacarnya John Cusack, Laura, di High Fidelity. Kok
jadi suram banget ya wajahnya? Well, okay, dia jadi korban buruan sih..) Waktu itu Ccr pernah datang ke mejaku dengan pengumuman: "Eh gue barusan nonton The Darjeeling Limited." "Ah-ha." "Coba, Nar. Di antara tiga bersaudara itu, lo pilih yang mana?" "Hmm."
Sejujurnya, pas nonton film itu aku nggak kepikiran sama sekali untuk
melakukan apa yang aku lakukan waktu nonton Defiance. Setelah ditanya
itu oleh Ccr, baru deh berpikir. Mungkin karena lebih terhanyut sama
ceritanya ya? "Hmm, kayaknya karakter yang adiknya deh. Yang bungsu." "AH, ITU TUH. Dia tipe cowok pendek yang hot gitu kan?" Aku bertanya-tanya: emm, emang tipe kayak gitu ada ya? Kok aku nggak pernah dengar?
"Err, bukan itu sih sebenarnya. Kalau si Owen Wilson, terlalu
egosentris, terus yang Adrien Brody, karakter istrinya lagi hamil. Kan
gue bisa merasa berdosa milih dia. Kalau yang adiknya kan, dia masih
terombang-ambing, nggak bisa ngelupain ceweknya, tapi terus engage in a
passionate kiss with another woman untuk ngelupain atau kabur atau
mulai sesuatu yang baru. Nggak tahu yang dia mau. Emotional mess lah
pokoknya. Cowok-cowok yang emosinya berantakan, yang nggak tahu maunya
apa, nah that's hot. Dan suka nulis." Permainan ini juga bisa
diterapkan buat tontonan yang sebenarnya cuma biasa-biasa saja, atau
malah nggak penting, tapi terpaksa nonton. Kaya apa ya? Oh, Brothers
& Sisters. Adikku suka sekali nonton itu, tapi aku
nggak ngerti apa yang membuat dia kecantol. Hamparan emosinya datar,
isu-isu yang mereka angkat juga nggak aku anggap penting (walaupun isu
yang sama di serial atau tontonan lain bisa membuat aku terpaku), ya
mungkin karena aku nggak bersimpati sama satu pun karakternya.
Sally Field sebagai ibu yang diselingkuhi kan seharusnya bisa jadi poin
kuat pembangkit simpati, tapi ternyata enggak. Ingatan akan "You loved
me, you really really loved me" jadi terlalu mengganggu. I like perky,
but I can't take her perkiness. Lalu Calista Flockhart yang
aku sukai di Ally McBeal, ternyata sekarang masih whining soal hal yang
sama lagi di Brothers & Sisters. Aku cuma punya kuota buat satu
whiny character yang setia aku ikuti, dan sekarang, kuota itu terisi
oleh Meredith Grey. Hmm, Rachel Griffiths. Aku lebih suka waktu dia sinis, mabuk, berpesta dengan dua pelaut sekaligus, dan kena kanker. Aku sudah bersiap-siap suka sama Balthazar Getty, tapi keburu dengar skandal Sienna Miller, haha. "Iya sih," kata adikku, "mereka kan keluarga kaya yang bisa membuat orang nggak peduli sama masalah mereka." Atau ya mungkin itu, karakter mereka kaya.
Sampai akhirnya, itu waktu episode apa ya, yang mereka semua berkumpul
di akhir, mengelilingi pohon Natal kalau nggak salah. Yang pas adik
bungsunya dikasih tenggat waktu agak longgar sebelum balik ke
Afghanistan. Nah, baru deh aku ngerti apa daya tarik sebenarnya serial
ini. "To decide which brother is hotter," aku bilang sama adikku. Dan dia cuma mengangguk-angguk sambil senyum-senyum. "Yeah, yeah," kata dia.
Posted at 10:45 am by i_artharini
Permalink
Saturday, February 14, 2009
Sudah menjelang jam pulang, eh ada berita yang harus dikejar. Ya sudah, menunggu dulu. Sambil menunggu laporan, aku jadi ingat sesuatu.
Berita soal kebakaran Victoria yang meluas itu kan sampai memakan korban keragaman genetik beberapa spesies di Australia. Di MI edisi kemarin (13/2) ada kalimat yang membuatku sampai ingin menangis deh. "Bencana kebakaran tersebut sudah memakan korban lebih dari 180 orang. Jumlah yang lebih besar lagi diperkirakan terjadi pada para hewan yang tidak bisa menyelamatkan diri, seperti kanguru, koala, wombat, dan berbagai jenis reptil."
Dan dengan fotonya si koala Sam yang jadi korban kebakaran itu, tangan dan kakinya semua dibebat perban, hiks, benar-benar mengiris hati. Ceritanya Sam sekarang punya rekan sepenanggungan korban kebakaran. Namanya Bob.
Dalam berita yang sama ditulis, "Bob terus memeluk dan menenangkan Sam. Mereka terlihat sangat bersahabat," tutur Jenny Shaw, petugas kantor perlindungan hewan liar di Rawson, Victoria, kepada AFP, kemarin."
Mataku sampai berair membayangkannya. Apalagi membayangkan Sam bisa sampai menghabiskan dua botol air mineral saking kehausannya karena terjebak di hutan kebakaran (ada video YouTube-nya di suatu tempat, pasti mudah dicari kok).
Pas kemarin berangkat ke Pacific Place, di depan mobil kita ada tiga truk berjejer. Masing-masing truk isinya tiga atau empat ekor sapi. Tidak diikat pakai tiang bambu dan tali-temali. Pokoknya berdiri saja.
Satu kali, truk yang di depan kami berhenti mendadak. Sapi-sapinya di dalam kaget dan oleng berdirinya sampai hampir jatuh. Duh, nggak tega gitu melihat mata-mata bulat itu memandang ke arah kita.
Apalagi selepas pintu tol, ada tanjakan cukup tinggi dan turunan untuk masuk ke tol dalam kota. Waaa, aku langsung tutup mata, nggak berani membayangkan atau melihat. Ada untungnya juga pengemudi dari kantor bergegas (dengan berbahaya) menyalip truk-truk sapi itu.
Nah, selanjutnya, tadi barusan nih. Di Trans 7 ada acara judulnya "Petualangan Liar" (no pun intended) kalau nggak salah. Atau "Petualangan Alam Liar", atau sebangsanya.
Ceritanya nggak jelas di mana, tapi ada seekor tapir yang terperosok ke lubang penuh lumpur. Nggak tahu di dalam lubang itu ada apa, cuma kaki si tapir itu sampai luka besar. Hiks. Hiks. Mataku jadi kembali berair.
Ternyata bukan cuma aku lho. Si mas-mas tim Petualangan yang ikut menyelamatkan saja terlihat menghapus air mata, walaupun agak sembunyi-sembunyi gesturnya. Sampai dua jam, kata si pembawa acara, mereka berusaha mengeluarkan tapir itu dari lubang lumpur.
Kembali ke meja dan membaca Detik.com, ada paus yang terdampar di Parang Kusumo dan sudah mati.
*ffiuuh*
Yang lebih strike a personal chord sih sebenarnya terjadi beberapa hari lalu. Sudah di rumah, sudah jajan sekoteng di malam yang dingin dan berangin kencang, lagi sibuk mengagumi Eric Bana dan Brad Pitt di Troy, terus kedengaran suara motor lewat.
Selanjutnya, ada kaingkaingkaingkainggauwgauwkgauwkgauwkkaiiiiiiiiinnnggggauwk yang membuatku dengan hati deg-degan, cemas, takut, kaget, berlari ke luar. Apa ketabrak atau dipukul orang.
Ternyata mahluk yang dimaksud lagi ada di taman dengan dua tangan menancap di kasa-kasa kawat, berusaha melepaskan diri. Aku berusaha keluar, tapi ternyata pintu 'sangkar burung' itu sudah dikunci. Balik lagi ke pintu sebelumnya, mencabut kunci, baru membuka.
Mendekati si mahluk yang masih teriak-teriak sekeras-kerasnya, berusaha melepaskan dia. Aku pegang punggungnya, dan dia yang kesakitan berusaha menggigit. Si putih ikut-ikutan naik ke punggungnya si mahluk konyol itu, dan ibuku yang sudah ikut keluar membantu dari dalam, menarik kawat itu ke dalam, biar tangannya tidak tertancap lagi.
Hah, akhirnya bisa.
Baru setelah lepas, dan si bodoh itu diam, aku merasa lututku lemas.
Yang terjadi berikutnya adalah kita saling bertanya, "Gimana bisa? Emang dia ada di mana? Kok bisa keluar? Sebenernya dia kenapa?"
Kalau soal sebenarnya kenapa, kayaknya sih dia berusaha keluar lewat kisi-kisi pagar atau berusaha masuk tapi tangannya tersangkut di kawat kasa dan nggak tahu cara melepaskan diri. Dan panik, dan kesakitan, dan lupa menarik tangannya, atau sesuatu seperti itu.
Aku lupa apa si konyol itu sempat ikut ke luar waktu kita membayar Bapak Sekoteng terus lupa dimasukkan lagi. Bagian itu yang paling aku nggak ingat. But anyway, it happens. And it's over. Tidak ada yang terluka berdarah atau semacamnya.
Setelah kita saling membahas sih pangkalnya sepertinya adalah kebodohan si mahluk. Sebenarnya bukan problem yang 'sulit' untuk dia bisa melepaskan diri sendiri, tapi ya...kecerdasan yang terbatas membuat dia berteriak-teriak panik.
"Duh, sampai tetangga-tetangga pada keluar. Ma pikir dia tuh dipukulin orang lho," kata ibuku.
"Aku malah mikir dia ditabrak motor. Abis tadi kedengeran bunyi motor lewat, baru dia teriak-teriak."
Hati dan perut kita sudah pada berjatuhan ke tanah, lutut sudah pada lemas semua, eh ternyata cuman tangan yang terselip di kawat.
Huaaaaaaaa, jadi ingin cepat pulang dan mengelus-elus.
(Jadi teringat cerita dari Ms.Know-It-All yang pernah bilang soal alasannya lebih memilih terlibat dalam animal cause daripada human cause. Save the whale, dolphins, orangutans, gorilla, panda, dia jadi daftar penyumbangnya, daripada soal homeless atau anak-anak putus sekolah atau soal riset HIV/AIDS. Alasannya, "because animals can't help themselves". Oh, oh, Sam...)
Posted at 07:27 pm by i_artharini
Permalink
Satu hal lagi sebenarnya yang kemarin aku temukan di ak.sa.ra.
Ada tiga buku, kosong, kecuali bagian paling atasnya, dan
ilustrasi-ilustrasi indah di kirinya. Judulnya Listography. Ada yang
temanya khusus buat hidup, ada yang buat love life ("Your Love Life in
Lists", katanya) dan ada yang buat anak-anak.
Kategorinya lucu-lucu. List of places where your first kisses happened,
atau List of places that you want to visit, List of cities you have
visited, hal-hal seperti itulah. Harganya mahal banget. 150an ribu atau
200 ribu gitu.
Nah, tapi, di dalamnya ada alamat website-nya. Jadi aku pergi ke situ dan menemukan mereka punya layanan gratis untuk membuat daftar-daftar itu. Just for fun.
So, lovers of High Fidelity, go mad!
Posted at 06:41 pm by i_artharini
Permalink
Hal pertama yang aku sadari waktu bersiap menuju kantor hari ini adalah sinar matahari yang sangat terang. Anginnya kencang sekali, tapi.
Jadi tampaknya tidak ada Valentine sepi dengan berdingin-dingin. Di sini, het is zomer! Dari mulai keterangan cahaya sampai bau udara, sampai menyipitkan mata untuk bisa melihat ke depan, dan keinginan untuk berteduh di sepanjang jalan, this is summer 2002 alright, when we're having heatwave, Vondelpark is a must, and Kelis' Milkshake were still all the rage.
Seusai makan siang, sudah kembali di depan komputer dan kembali dengan kesibukan menyunting kata. Senjata utamanya, tombol shift, panah arah (bisa kanan atau bawah) dan backspace. Oh ya, ada eliksir para dewa juga yang jadi teman. Wujudnya, susu kalengan Bear Brand dengan rasa malt putih yang diseruput pakai sedotan Aqua, biar tidak cepat habis. Mahal, porsinya kecil, dan enak. Banget.
Sambil mengetik, aku melihat kuku yang ternyata cat ungu muda metaliknya sudah pecah-pecah. Berdiri dari kubikel dan melihat sosok Jer yang, walaupun tanpa kacamata, sudah aku lihat lagi senyum-senyum.
"Oh iya ya," kata dia. "Hari ini kan Valentine." "Huh?" "Pantesan. Baju lo."
Oh crap. Tanpa sadar aku memakai baju, bukan pink, tapi magenta. Tapi buat mereka yang suka mensimplifikasi (i.e., Jer), ini cukup memenuhi syarat untuk jadi pink.
Kantor ternyata isinya cowok semua. Pantesan dari tadi kok susah mencari rekan bergosip.
Well, enggak juga sih. Jer bolak-balik datang ke meja dan berbagi pengalaman atau pertanyaan sambil aku menyunting soal perampokan taksi dan kelayapan di dunia maya. Facebook, terutama.
You know, aku seharusnya sudah cukup dewasa untuk menghadapi sebuah piranti, tapi ternyata belum. Ya, Facebook itu yang aku maksud. Bisa sampai geregetan dan iri sama pameran kehidupan orang yang terpampang di situ.
Jadi ingin ini, ingin itu. Ke sini, ke situ. Terintimidasi sama yang sudah ke sini, ke situ. Melakukan ini, itu. Wina, Venezia, Roma, Berlin, Turki, New York, atau Washington.
(Hey, I'm not a stalker. You know a little thing called 'notification' everytime you posted a photo album? Yeah, it lets me know that there's a new album posted. And, of course, because those are my dream destinations too, so it is only natural that I clicked and browse through them)
So much so irinya, waktu kemarin-kemarin mengisi pertanyaan "why are you interested to ...etc, etc,", jawaban pertama yang ada di kepalaku adalah: biar saya bisa punya album foto baru di Facebook yang lokasinya membuat orang iri.
Yah, benar-benar sangat dewasa.
(Hmm. Mungkin Facebook sebenarnya bisa jadi alat yang tepat untuk menumbuhkan motivasi buat slacker seperti saya, ya?)
But, anyway.
Ada juga teman-teman yang sudah menikah, akan menikah, sedang hamil, sedang mendekati hari melahirkannya, dan saya berpikir, kok mereka terlihat begitu normal ya?
Oke, kadang 'normal' bukan satu kata sifat bermakna positif buatku, tapi kali ini dan hari ini, kok rasanya menyenangkan untuk jadi 'normal'.
Kemarin malam juga, waktu jalan-jalan di Pacific Place (ikut Ccr, Sic, dan * yang rencananya akan liputan tapi ternyata sudah telat, dan aku ikut biar bisa makan di satu tempat karena rumah kosong dan pastinya tidak ada makanan), aku melihat tiga pasang laki dan perempuan seusiaku sedang menunggu lift datang menjemput.
Satu mbak-mbaknya sudah hamil. Sepasang lain, seorang mas yang menenteng tas laptop, mengenakan kemeja lengan pendek motif garis-garis tipis dan celana jins. Mbak-mbaknya mengaitkan telapak tangan ke tangan si mas yang dikacakkan di pinggang. Si mbak memakai baju kantoran, kemeja dan rok. Rambutnya dikuncir biasa. Pasangan satunya lagi, aku lupa.
Aku ingat pada saat itulah aku bilang dalam hati: such picture of normalcy that I long for. Orang-orang ini pasti punya akun Facebook. Dan kehidupan sosial yang mereka tampilkan di sana juga pasti sama sehatnya dengan kehidupan sosial karakter-karakter di film-film Woody Allen. Penuh pesta atau dinner parties, well setidaknya jadwal ketemuan di mal.
Pada mas-mas yang membawa tas laptop, aku berkomentar (dalam hati): Si mas ini dulu kan ya pernah SD ya. Sama kayak aku atau anak-anak temannya bapakku, yang sekarang bergantian mengirim undangan pernikahan ke rumah. Where did I went wrong and he went right? Or they went right?
Yang cepat datangnya, juga cepat hilangnya.
Lift kami datang, dan mereka langsung hilang dari pandangan. Dan pikiran. Sampai akhirnya muncul sekarang.
Di ak.sa.ra, Ccr menyorongkan sebuah buku. Judulnya, "It's Just a Date: How to Get 'Em, How to Read 'Em, And How to Rock 'Em". (Aku nggak sempat lihat nama pengarangnya, tapi ternyata ini buku karangan Greg Behrendt-nya "He's Just Not That Into You")
"Nih, Nar."
"Haha." (setengah hati)
(But I did see a Woody Allen DVD box yang membuatku melambung excited, tapi terus menciut melihat harganya)
Arrghh, ini apaan sih? Pre atau post Valentine depression?
Posted at 05:20 pm by i_artharini
Permalink
Friday, February 13, 2009
Hey, it's Friday the 13th!
Dan besok adalah, buat yang merayakannya, Hari Valentine.
Enggak, enggak. Aku nggak mau membahas panjang lebar soal seberapa
pentingnya makna Valentine dst. Cuma kepikiran untuk memilih film apa
yang pas buat ditonton dalam momen berjualan tahunan bernama Valentine
ini.
Beberapa hari lalu Ccr bilang, "Eh, Sabtu kan Valentine. Emang pada ngapain? Ngapain gitu yuk?"
Aku bilang, "Ah aku mau nonton DVD aja."
"Ih, Nari. Itu kan, agenda tahun lalu. Dan tahun lalu sebelumnya."
Sial.
Tapi repertoar yang bisa dipilih itu cukup sayang untuk ditinggalkan.
Ada, tentu saja, pilihan sederhana untuk menonton ulang Nick & Norah's Infinite Playlist
sambil mengingat-ingat cinta remaja yang sempat tumbuh, dan sekarang
sudah hilang. It's nice to reminisce. Dan pemandangan lampu-lampu New
York yang seperti disorot dari sudut pandang kekasih kota itu juga
membuat filmnya tampak indah. Cara yang mudah untuk merasa optimis dan
bahagia.
Once is also great. Tapi aku
takut terhanyut terlalu jauh dalam atmosfernya. Bisa-bisa nggak keluar
dari situ sampai berhari-hari atau berminggu-minggu.
Atau ada juga Dr Zhivago.
Julie Christie, Omar Sharif, the mass expanse of Russian snow and the
heartbreaking last scene, hiks. Pas buat bersendu-sendu sambil
selimutan. Mungkin cocok kalau hari Sabtu nanti hujan deras seharian
dan dingin.
Kalau tidak hujan dan dingin, ada Must Love Dogs. Ini jadi pilihan yang tepat karena karakternya John Cusack yang lebih memilih nonton Dr Zhivago daripada berkencan dan bertemu dengan orang baru. Diingatkan lagi pada betapa atraktifnya ide menonton Dr Zhivago bersama John Cusack adalah hal yang paling menyenangkan dari menonton Must Love Dogs.
Apakah aku sedang dalam suasana hati yang membutuhkan humor dan realisme dan romantisme? Kalau iya, ada pilihan klasik Annie Hall. Before Sunrise juga pilihan yang sangat jelas, tapi terakhir kali aku menontonnya, kok ya jadi terlalu romantic overload.
Atau, aaaahhh. High Fidelity aja. Back to back sama Annie Hall.
Dua-duanya menunjukkan laporan forensik soal anatomi hubungan dua
manusia. Plus sarat elemen budaya pop-nya. Ada Bruce Springsteen juga
kan di High Fidelity. Dan, "is this your copy of Catcher in the Rye or is it mine?" Ini di Annie Hall.
Eh, terus Lost in Translation
mau ditaruh di mana? Aku lagi pengen menjalani ulang mendengar dialog:
"I tried taking pictures. But they were so mediocre. I guess every girl
goes through a photography phase. You know, horses, taking pictures of
their feet." (Haha!) Yah, sama adegan bisik-bisiknya itu juga.
But okay, I'll always have the choice for total ignorance and make some
sort of marathon. Bisa Woody Allen, atau Michael Winterbottom, atau
noir atau Wong Kar Wai, atau award season movies?
Argh. Why is there so many films that my eyes and brain can contain? Is there such thing as movie overload?
(I do have a movie date, though. On matinee Monday. Valkyrie. With my dad :D)
Posted at 06:09 pm by i_artharini
Permalink
Thursday, February 12, 2009
Charlotte: "But Evelyn Waugh was a man."
(Lost in Translation--2003)
Hatiku sepertinya sedang disambangi kegelapan. Ada terlalu banyak
kebencian dan kemarahan yang tak jelas sumbernya apa. Suasana hati atau
mungkin sekadar emosi, itu yang aku tidak yakin. Sempat ada masa
gemuruh itu mereda, tapi sekarang sedang keras-kerasnya.
Dan pada masa-masa seperti itu, aku jadi mindlessly catty.
Beberapa hari lalu, aku, Sha dan Ccr lagi berbincang biasa dari kanan
ke kiri. Kemudian mereka berbincang panjang soal seseorang dan aku
memilih tidak terlibat di dalamnya. Seingatku, adalah Sha yang meminta
konfirmasi lagi soal opiniku yang kontra terhadap topik yang antusias
mereka bicarakan itu.
Ccr pun terkejut waktu mendengar pendapatku. "Hah, emang kenapa?" kata dia.
Aku tahu bukan tempatku untuk mengatakan apa-apa, tapi aku memblongkan
rem dan bilang, "Mengutip Norah di Nick & Norah yang baru aku
tonton semalem, 'what's so special about her? I can floss with that girl'."
Lalu ada kediaman yang canggung. Mata mereka menghindari mataku.
Disambung beberapa detik kemudian dengan tawa yang canggung juga.
"Well," kata Ccr, "what's so special about him?"
Dia tidak membutuhkan jawaban. Itu bukan pertanyaan retoris sebenarnya,
tapi cara Ccr untuk menendang dengan subtil untuk menyampaikan pesan:
kamu tidak punya hak untuk merendahkan si her.
Aku bisa juga membalas dengan pesan bahwa kita semua nggak punya hak
untuk bermain dengan hidup orang, tapi bukan itu yang aku maksud dengan
kutipan Nick & Norah. I was just being catty.
Satu dan lain hal memecahkan kelompok perbincangan itu. Aku kembali ke
komputerku, berputar-putar secara maya, lalu kembali lagi ke meja Sha, sans Ccr. "Sha, Sha," sambil aku colek-colek.
"Kayaknya aku butuh psikiater deh. Aku gelisah dan marah yang nggak jelas sumbernya apa."
"Ih gimana ya kalau kita ngerasa gelisah gitu, tapi nggak tahu sebabnya apa. Lo beneran nggak tau?"
"Ya tau sih."
Singkatnya, itu merujuk pada ketidakmampuan (atau ketidakmauan) untuk bergerak.
"Mungkin kita orang-orang yang kekurangan motivasi ya, Nar," kata dia.
"Nah itu. Aku juga kemarin-kemarin sadar, kan namanya 'motivational
letter'. Kenapa aku susah banget berfokus sama itu, apa karena aku
kekurangan motivasi? Harusnya kan aku punya motivasi yang meluap-luap
sampai bisa ditampung di kertas."
"Jadi itu aja?"
"Dan ada hal-hal lain."
"Si ini?"
"Ah, itu sih makin lama makin jadi remeh. Way down in my priority list."
Kami diam berdua.
"I need a shrink. Then I can say, 'Dokter, I have mean thoughts'."
Lalu, Sha mulai tertawa keras.
"I can't stand people."
Ketawanya malah lebih keras, seperti aku sedang menceritakan kejadian lucu, tapi benar-benar aku nggak tahu apa yang so funny.
"Well, not all of them, just some people I can't stand."
Tergelak-gelak lagi, sampai dia memalingkan wajah, kayak ada adegan
lucu di depan dia yang nggak bisa membuat dia berhenti ketawa.
"Kenapa siiiihhhh?"
"Ya ini lucu aja. Hillarious..," dan tanggapan lain yang membuatku more
amused karena merasa jadi materi sitkom, than bruised. Sambil berusaha
mencari-cari juga sih, 'Is it the way I said it? What?'
Kembali lagi ke komputer.
Di Gmail lalu melihat status F. "Must not let her tongue slip as Lizzie did."
Jadi aku bilang ke dia, "You too? Aku lagi jadi catty banget. But I already let one slip out today."
"Ugh. Me too."
So, is it a full moon?
Posted at 10:29 am by i_artharini
Permalink
|
|
|