PENARI MUNGIL


(Saya bukan seorang penari. Pun sangat jauh dari mungil. Tapi, tahu kan adegan 'Tiny Dancer' di 'Almost Famous'? Sensasi membahagiakan dari adegan itulah yang saya kejar..)



Hold me closer, tiny dancer

Count the headlights on the highway

Lay me down in sheets of linen

You had a busy day, today


("Tiny Dancer" - Elton John)





"...the quest for transcendence has always been closely linked to the ecstatic release of dancing."
(Resensi RollingStone atas sebuah album pop)

Mr. Darcy: "So what do you recommend, to encourage affection?"
Elizabeth Bennet: "Dancing, even if one's partner is only tolerable."
(Pride & Prejudice, 2005)


perempuan, 1983, lovesick soul, berjalan kaki, belajar menulis, menonton film, ingin keliling dunia, Billie Holliday, Jane Austen, 'Franny and Zooey', cerita pendek F Scott Fitzgerald, lagu-lagu sedih, kecanduan membeli buku second, deretan buku di lemari, berkeliling dengan bis kota, mengepak koper, menari bebas, Vogue, sepatu, bad boys, kopi, kuliner, foto, semua yang vintage, genggaman tangan, pelukan hangat, detil percakapan antara manusia, kegelisahan, kesepian, ruang pencarian, belajar dewasa, museum dan bangunan tua, hari hujan, sinar matahari hangat di hari berangin, airport, stasiun kereta, dan pertanyaan tanpa akhir

YM: isyana_artharini
Email: i.artharini@gmail.com
   

<< November 2007 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03
04 05 06 07 08 09 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Tuesday, November 27, 2007
Hoahhem...

Mata udah kriyip-kriyip, lensa udah minta dicopot, masih ada ibu hamil, wartawan lingkungan hidup sejati dan webstore builder/wartawan polkam di kantor. (Ngapain kita masih pada di kantor ya? Aku sih sebenernya masih ada kerjaan, cuman udah ngantuk dan si temen sharing taksi belum ada niat-niat pulang..)

Tapi, oke. Ini sekedar pengingat hari aja, biar nggak kelupaan.

1. Cafe au Lait Bowl
I'm seriously (bermain-main sebenernya, tapi main-main yang serius. Kayak Deathproof atau Kill Bill gitu lho) thinking of being an MT in a bank. Gila. Ini udah hari kedua berturut-turut aku nongkrong di Cafe au Lait pagi-pagi dan minum latte yang ukurannya bowl. Kemarin, karena emang butuh kopi dan belum sarapan. Hari ini, karena emang mau pagi-pagi ke BKPM. Dan...ck, ck, ck. Deretan cowok-cowok sebayaku yang rapi dan bersih itu berseliweran nggak berhenti-berhenti. Pagi-pagi udah membuatku berfantasi aja nih. Walaupun bayangan pertamaku adalah, hmm....kalau kerja di bank, boleh pake sepatu dengan sentuhan gaya dominatrix gitu nggak?

2. 'Nyolong' buku di BKPM
Pas ke BKPM, serasa kembali ke dunia nyata deh. Sampai sana udah jam 8.15 menjelang 8.20an, kantor Humasnya masih kosong booo. Padahal di kantor sebelahnya yang tadi aku tongkrongin, dari jam 7.15an orang udah ngantre cuman buat naik lift ke tempat kerja. Orwell-ian banget nggak sih?

Nunggu-menunggu, muncul seorang bapak dari dalam lift yang aku pikir si bapak humas. Ternyata dia dari biro hukum. Untungnya baik. Dia ternyata punya saudara di tempatku bekerja, yang aku kenal juga, redaktur kelas atas deh. Akhirnya si bapak ini nelponin bapak humasnya dan dari situ disuruh untuk langsung aja ke bagian yang aku butuhin, nggak perlu pakai surat-surat pengantar atau sejenisnya. Dua pegawai lain, yang muncul sebelum si bapak ini muncul, dari tadi cuman sok cuek aja.

Akhirnya, pas ke bawah, ya intinya sih data lengkapnya nggak bisa didapetin hari ini, dan aku masih harus nge-faks surat permohonan, etc, etc. Tapi si bapak kabag data itu ngasih buku contoh laporan bulanan BKPM. Aku baca-baca, kayaknya sih ini udah lengkap. Tapi terus aku dioper ke bawahannya. Pas selesai nge-brief apa yang aku butuhin, itu buku mau aku tinggal di meja, eh si bawahan bilang: "ini bukunya jangan sampai ketinggalan". Ya sudahlah, aku masukin ke tas, tasnya ditutup.

Eh pas pamit sama si kabagnya, dia bilang: "ya sudah nanti difaks aja suratnya, no-nya.....kalau mau bukunya yang tadi itu, daftar dulu, buat izin, dst, dst". Dan ya of course lah, itu buku udah ada di dalam tas dan aku cuma ber-oh ya, oh ya.

Merasa punya barang panas di dalam tas, aku jalan sampai mau nabrak-nabrak, nunggu 46 kok juga nggak datang-datang, keburu itu si bapak muncul di tikungan antara Direktorat Pajak-BKPM. Dan pas bisnya datang, hahaha, jadi ngerasa lega. Padahal kalau dipikir-pikir, katanya itu buku ada versi lengkapnya di situsnya. Cuma aku suka rada nggak percaya gitu. Takutnya ada sejenis glitch teknis yang membuatku nggak dapet data itu...Stupid nggak?

Dan aku men-Yudhistira-kan keadaan itu dengan bilang dalam hati: "Lha kan tadi udah disuruh mbawa ama mbaknya". Hehehe.

3. Nge-mail UNFCCC
Seharian udah mbayangin bakal sepedaan di Nusa Dua. Pulang dari Bali dengan muka dan lengan yang tambah hitam dan terbakar. Tapi kerasa happy gitu karena fit dan berhasil menyelesaikan sebuah misi yang bisa ditaruh di CV, hehe. Telpon-telpon ke media centernya juga nggak ada yang ngangkat. Dan ternyata, by the end of the day, udah dapet status Ok. Wohoo, I'm going to Bali!

4. Edisi akhir tahun
Ah, seharian habisnya buat 'deskripsi acara' ama konversi data kunjungan wisatawan 1997an sampe 2006 atau mid 2007 di empat negara, plus data pemasukannya. One thing for sure, Malaysian tourism is scary. Singapura ama Thailand--walaupun nominal pemasukannya gede--tetep labil. Malaysia tuh naik terus grafiknya.

5. Nggosip
And this is where I have my 6th and 7th cigs of the year. I'm only planning to have five each year. Tapi ternyata...hhaeghhh. My first is at my last birthday, terakhir, saat beresolusi untuk berhenti. Keduanya, dua minggu kemudian, minta punya Sic, cuman karena craving aja gitu. Ketiganya...oh, abis pulang dari Mapia, pertama kali masuk mingguan lagi dan deg-degan disuruh nulis 'Jeda'. Nomor empat, pas Lebaran. Thanks to bulik-bulik cerewet yang (entah gimana dan jangan tanya kenapa) buatku jadi terlihat keren dengan menghirup kopi dan nggosip dan ngrokok setelah anak-anak mereka SMP-SMA. Kelima, oh, pas sendirian di rumah, yang ngerasa patah hati ama kerjaan itu lho. Terus aku memberi pembenaran dengan: you're allowed to have one when you're heart is breaking. Hehe.

Enam dan tujuh? Ugh, nggak ada alasan kuat buat yang dua ini, kecuali indulging. Huks.

Ah, ini si taxi-sharer kok belum mau pulang seehhh?

Posted at 10:14 pm by i_artharini
Make a comment  

Monday, November 26, 2007
Life List 2 (sedikit modifikasi)

(Yang terakhir sebelum mulai ngetik tugas-tugas terbengkalai)

22. Bisa memasak, menjahit, mem-bake kue. Pokoknya ilmu-ilmu domestik yang katanya merupakan bagian dari peran tradisional perempuan itu, aku harus bisa. Bukan masalah kodrat atau sesuatu seklise itu sih, cuma karena kemampuan-kemampuan itu bisa membuat hidup lebih nyaman. Dan itu sebenarnya yang dituju.

Dari sedikit perbincangan dengan Sic:

"Gue juga bisa ke London gara-gara itu lho. Ditulis aja. Nggak nyangka gimana bisa akhirnya kesampean.... Tulisan elu menang sesuatu juga harus ditulis."

Oh iya, ya.

Aku: "Aku pengen menang sesuatu yang bisa nambah tabungan."
Sic: "Ah sebenernya enggak harus gitu juga. Elu menang aja kan elu udah nggak mikir yang lain-lain lagi (apakah kutipanku tepat? Tapi intinya sih itu)."
Aku: "Hhmm..mungkin sih."

Tapi, oke.

23. Tulisanku bisa menang suatu penghargaan positif.

Sic: Gue, ke London kesampean. Kuliah juga jadi. Yang nggak jadi cuma punya kisah cinta yang menyenangkan.
Aku: Berarti nulisnya harus "punya kisah cinta menyenangkan yang berakhir bahagia."
Sic: Iya ya. Kalau cuma menyenangkan aja, buat orang yang masokis kayak gue kan ya jadi nggak berakhir bahagia ya?

Jadi,

24. Punya kisah cinta menyenangkan yang berakhir bahagia. Ini berlaku mulai sekarang. Harapannya sih buat 2008, hehe.

Dan, oh, tentang keinginan get married, have kids, mungkin aku harus nambahin ini: Since I'm a hopeless incurable romantic, I hope to marry for love. There will be movies to watch every night, or every Friday night, yang semuanya berakhir dengan make out session ^_^

Ah, beberapa redaktur sudah muncul buat rapat pagi. Dan aku, harus kembali bekerja..

(ps: Aku tiba-tiba mengerti tentang fenomena chicklit yang meledak itu. Blog ini, sepertinya, sudah mulai senafas dengan chicklit-chicklit itu. Sepertinya tidak bisa dihindari. Kayak ada sebuah proses inisiasi yang membuatku jadi seperti ini, tapi aku lupa kapan dilakukannya dan bagaimana itu bisa merubahku jadi chicklit-ers. Tapi nggak ada yang salah juga kan ya dengan jadi seperti itu?)

Posted at 08:57 am by i_artharini
Make a comment  

Perawan

Membaca tulisannya DHF dan XAR di Kompas Minggu (25/11) lalu tentang (salah satunya) klab Vintage di X2, Plaza Senayan, aku jadi ingat punya cerita sendiri. Kamis malam lalu (22/11) ada acara pesta kostum tahunannya sekolah mode ESMOD di klab yang sama.

Aku dan FI ditugaskan meliput.

Asalnya agak ragu melihat tempatnya, soalnya kok tulisannya Davidoff Launch Party. Tapi setelah ditanya ke door(wo)man-nya ternyata benar, pesta kostumnya juga di situ. Nah, setelah menyebutkan nama media, tangan kita masing-masing dicap kayak di Dufan itu lhoo. Nggak muncul apa-apa di tangannya.

Aku dan FI: Lho kok nggak ada apa-apa mbak
Door(wo)man: *Sejenak memberi tatapan "yaelah..."* Nanti pake ultraviolet keliatan, mbak.
Serempak: Ooooo

Dan pas petugas berseragam safari keamanan mengarahkan batangan lampu UV ke tangan-tangan kami, ada lambangnya lho, bersinar di kegelapan. Wahahah, ketahuan banget kalo kami adalah perawan-perawan gemerlapnya dunia malam Jakarta.

Pas acara-acara utamanya udah selesai, kan terus ada DJ yang mainin lagu-lagu (yang sebenernya amat sangat danceable). Di situlah aku nyadar, oh, oh, oh, ternyata aku kangen banget menari diiringi musik keras gitu. Tapi karena there's nobody I know there, dan udah capek plus ngantuk juga, jadi cepet-cepet pulang. Sampai sekarang, itu nada-nada yang dimainin si DJ masih tetap terekam di kepalaku lho.

Posted at 08:41 am by i_artharini
Make a comment  

Kebutuhan Dasar

"Mbak, kamu S2nya gimana? Jadi nggak?"
"Ya, belum tahu."
"Kamu udah mau jadi wartawan terus di tempat sekarang?"
"Heeghhh...nggak tahu."
"Ya rencanamu gimana lho..."
"Duh, nanti dulu deh, aku masih mikirin deadline banyak banget nih..."
"Ya kalau S2 belum, nikahnya jadinya kapan?"
"....."

Senin pagi, jam setengah tujuh juga belum, tiba-tiba sudah harus memikirkan jawaban pertanyaan-pertanyaan besar itu dari ayahku. Pikiranku cuma sampai akhir minggu ini, deadline edisi akhir tahun, majalah sebuah bank, pekerjaan sehari-hari, dan terancam nggak bisa masuk ke KTT Perubahan Iklim. Heegghh.

Tapi, setelah ikut turun di kantornya ayahku, beli cafe au lait yang bowl (beneran dikasih mangkuk sop), tiba-tiba ada lampu yang menyala di dalam kepalaku. Semuanya jadi terang.Aku kembali jadi optimis.

Terancam nggak bisa masuk KTT Perubahan Iklim? Ya tinggal diurus aja.
Deadline edisi akhir tahun? Ya jalanin aja. Kalau mepet bisa telpon-telpon.
Deadline majalah bank? Tinggal artikel kesehatan sekitar 80 barisan kan?
Merasa nggak dapet reward? Ya tinggal retail therapy aja. Belanja dong.
Pekerjaan sehari-hari? Kuliner udah nyicil, masih ada sisa punya FI lagi, dan tasting di resto baru, Sehat masih ada sisa dari minggu lalu, ada Tendance juga. Pokoknya semangat!

Ah, inilah sebabnya orang ngomong: I can't function without my coffee in the morning. Bukan hanya sekedar membangunkan mata, itu mah udah bisa dilakukan lewat mandi, tapi kopi bisa membangunkan rasa. Semangat. Optimisme. Hidup.

(Spoken like a true junkie)

Posted at 08:27 am by i_artharini
Make a comment  

Saturday, November 24, 2007
Setengah Bangun

Badanku sebenernya udah capeeek banget. Tapi kok kayaknya aku masih belum pengen menghabiskan hari ini dengan tidur. Atau belum rela gitu menutup hari. Yang berarti menutup semua masalah-masalah di hari ini.  

Ada hal-hal yang masih ngganjel, yang belum bisa aku temuin jawabannya, atau setidaknya kejadian yang bisa aku 'maklumi'. Sama sekali nggak nyangka, hubunganku dengan pekerjaan ini bisa jadi begitu panjang dan rumit.

Baru beberapa hari yang lalu aku pengen jadi wartawan hebat. Tapi, seingatku, malamnya, aku merasa patah hati sama...--nah ini aku tidak bisa menentukan--bisa institusi tempatku bekerja, bisa pekerjaannya. Tapi ketika aku mengungkapkannya keras-keras, yang keluar adalah: aku cinta pekerjaan ini. Tadi siang juga, ketika beberapa orang nanya, did you like it? Aku menjawab, oh yes, I love it. Itu aku katakan beberapa kali, dan semuanya aku jawab dengan mantap. Nggak terasa ada kebohongan yang aku katakan. (Atau karena aku udah terlalu terbiasa dengan kebohongan itu?) 

Jadi, apa yang membuatmu masih terbangun, Nari?

Hmm, mungkin karena aku sadar, Senin besok adalah awal dari tiga minggu tersibuk selama 2 tahun 8 bulanku kerja. Yang membuatnya berat adalah karena aku nggak tahu apa ada sesuatu yang bisa aku nanti-nantikan sebagai reward di akhirnya. It's not about the money at all. Tapi mungkin sekedar...reward. Yang bukan lagi 'sekedar' pujian atau tanggung jawab baru. Tapi ya sekedar reward. Penghargaan. Aku tidak tahu apa bentuknya yang aku pengeni, tapi aku tahu rasanya ketika mendapat sebuah reward. Dan yang pasti bukan tantangan-tantangan baru lagi.

Apakah aku terlalu besar kepala untuk mengharapkan suatu reward? Biasanya, dulu-dulunya, aku tidak mengharapkan apa-apa. Tapi kenapa sekarang aku jadi picik(?) ya?

***

"The Devil Wears Prada", walaupun aku nggak gitu suka Anne Hathaway-nya, setiap kali ditonton (dan kemarin-kemarin emang lagi sering diputer di tv kabel), selalu membuat aku bertanya-tanya tentang hubunganku dan kerjaan.

Andy kayaknya mengalami masalah yang sama, tentang dia yang merasa nggak dihargai terus ngadu ke Nigel (Stanley Tucci), dan Nigel memarah-marahinya dengan tepat. "You, trying hard enough?" atau tentang "What do you expect her to do, kiss you on the forehead, give you a ribbon, etc...?".

Well, aku jadi bertanya-tanya:

Apakah aku sudah berusaha cukup keras?

Jawabanku sih sepertinya belum. Ada hal-hal yang aku harap bisa lebih sempurna. Tapi kok ujung-ujungnya yang muncul adalah kesimpulan, aku tidak yakin apakah aku mau berinvestasi lebih lama, berusaha lebih keras untuk mendapat sesuatu yang belum pasti itu.

And yet. Aku masih pengen jadi wartawan.

Btw, rasa-rasa sedih dan bingungnya kok agak sama ya kayak waktu lagi berkeping-keping setahun lalu itu lhoo. Sejenis second heartbreak sepertinya. Kalau misalnya iya, beneran patah hati, penyelesaiannya simpel kan? Ya udah, tinggalin dan start something afresh. Right?

Yang membuatnya nggak simpel karena aku masih butuh sesuatu dari hubungan ini. Jadi sekarang fokusnya terarah ke timbangan, apakah 'sesuatu-sesuatu' itu lebih berat dari semua yang kamu keluhkan, Nari? Itu dulu sepertinya yang harus dijawab. Kalau lebih ringan, ya sudah, hubungan itu berakhir. Kalau lebih berat, ya sudah, suck it up, and do your work.

Hmm, sepertinya aku lebih takut sama jawaban yang akan muncul deh. Mungkin itu sebabnya selama ini pertanyaannya nggak terjawab-jawab, karena aku mengindari untuk menjawabnya.

Oke, aku tinggalin dulu aja di situ.


Posted at 11:22 pm by i_artharini
Make a comment  

Friday, November 23, 2007
Valentine Antidote

Jawabannya? St Catherine's Day.

Gara-gara kemaren malam (and I mean malem, jam 10 booo jadwal acaranya. Belum terlambatnya...) liputan perayaan St Catherine's Day-nya ESMOD, aku jadi nge-Google tentang perayaan ini. Penjelasan yang menarik sih ada di situs ini. Sampe terbahak-bahak deh mbacanya.

(Dan mungkin agak sedikit deg-degan, in 6 weeks, I will be eligible to be called  a "Catherinette". On the good side, aku juga eligible untuk jadi pusat perayaan ini. Second birthday party in one year, wohooo!)

Tentang serba-serbinya hari yang diperingati tiap 25 November ini:
On St. Catherine's Day, it is customary for unmarried women to pray for husbands, and to honor women who've reached 25 years of age but haven't married -- called "Catherinettes" in France. Catherinettes send postcards to each other, and friends of the Catherinettes make hats for them -- traditionally using the colors yellow (faith) and green (wisdom), often outrageous -- and crown them for the day....The Catherinettes are supposed to wear the hat all day long, and they are usually feted with a meal among friends.

Yang paling membuatku terbahak-bahak membacanya, ternyata ada doa khusus yang dibaca perempuan-perempuan muda demi mendapatkan suami. Buat yang di bawah 25:

"Donnez-moi, Seigneur, un mari de bon lieu! Qu'il soit doux, opulent, libéral et agréable!" (Lord, give me a well-situated husband. Let him be gentle, rich, generous, and pleasant!)

Khas optimisme orang muda ya, yang mimpinya masih besar-besar dan tinggi-tinggi kayak life-listku di bawah. Nah, terus buat yang udah di atas 25:

"Seigneur, un qui soit supportable, ou qui, parmi le monde, au moins puisse passer!"
(Lord, one who's bearable, or who can at least pass as bearable in the world!")

uuuUUUUuuu, tampaknya sudah ada yang mulai kesepian di tempat tidur nih. What, those late night Austen-reading doesn't help you much in believing that there is a Darcy for you? Or passionate Heathcliff never showed up in front of your bedroom door and proclaim something like 'I must have you'? Opsi juga tidak seindah dan sebanyak waktu muda dulu ya? Realita sepertinya mulai menyusup perlahan masuk ke otak. (What is it with me being mean today?)

Nah, ternyata masih ada lanjutannya nih. Buat yang pushing 30:
"Un tel qu'il te plaira Seigneur, je m'en contente!"
("Send whatever you want, Lord; I'll take it!")

Hahaha.

(Society is that mean to women, eh? Tiba-tiba aku jadi ngerti what the whole fuss with feminism is about, hehe.)

Ah, anyway. For my fabulous 'Catherinettes' across the sea, atau yang di Surabaya, di Bali, you girls are my hero. Have a great St Catherine's weekend ya.  

Posted at 11:35 am by i_artharini
Make a comment  

KTT Perubahan Iklim (1)

Keep reading until the end, wiseguy..

KTT IKLIM - UNFCCC TOLERANSI MOBIL GUNAKAN PREMIUM
     Denpasar, 23/11 (ANTARA) - Panitia daerah konferensi internasional
perubahan iklim (UNFCCC), akhirnya memberikan toleransi terhadap kendaraan
yang masih menggunakan bahan bakar premium maupun solar untuk tetap dapat
masuk ke kawasan bebas polusi di Nusa Dua, Bali.
Perubahan kebijakan itu didasarkan keluhan para petugas pengiriman
barang dan pihak hotel yang mendapat komplain dari tamu ke Nusa Dua sejak
dua minggu sebelum dimulainya konferensi yang berlangsung, 3-14 Desember
2007.
"Kita tetap harus menggalakkan kampanye bebas polusi asap kendaraan
bermotor di Nusa Dua, tetapi kesulitan petugas pengiriman barang dan
kekhawatiran tamu hotel kabur, juga harus diperhatikan," kata Sekretaris
Umum Panitia Daerah Konferensi UNFCCC, Ir R Sudirman, kepada ANTARA di
Denpasar, Jumat.
Sudirman yang menjabat sebagai Kepala Pusat Pengelolaan Lingkungan
Hidup Regional Bali dan Nusa Tenggara itu menjelaskan, bahwa hingga kini
mobil tetap boleh masuk ke kawasan Nusa Dua, namun hanya untuk menurunkan
barang dan penumpang.
Setelah itu, pengemudi harus langsung membawanya keluar dari kawasan
bebas polusi, untuk diparkir di tiga zona yang sudah dipersiapkan, yakni di
dekat Grand Hayatt, dekat BICC dan di areal sekitar jalan utama menuju Nusa
Dua.
Sebelumnya diumumkan hanya kendaraan yang menggunakan bahan bakar
biopetramax, biosolar dan bahan bakar nabati atau biofuel, yang boleh masuk
kawasan hijau bebas polusi tersebut.
Menanggapi hal itu, Humas Pertamina Cabang Denpasar, Pamuji Harjo
mengatakan, bahwa pihaknya tak terkait dengan kebijakan tersebut, kecuali
menyiapkan biopetramax dan biosolar, yang kini sudah tersedia di enam SPBU
di Denpasar, empat SPBU di sekitar Nusa Dua, hingga satu SPBU di Ketewel,
Gianyar.
"Prinsipnya kami sebatas menyiapkan ketersediaan kedua jenis bahan
bakar dengan oktan tinggi tersebut. Kami siapkan sesuai kebutuhan,"
katanya.
Menurut keterangan, perubahan kebijakan mobil menggunakan premium dan
solar boleh masuk Nusa Dua itu setelah mendengar masukan pada rapat yang
dipimpin Gubernur Bali Dewa Beratha, beberapa waktu lalu.
Namun dalam upaya terus mengkampanyekan kawasan bebas polusi, di Nusa
Dua telah disediakan 500 sepeda pancal, yang pengaturan penggunaannya
dilakukan oleh petugas di pos-pos peminjaman.
(T.T007/B/I005/I005) 23-11-2007 10:50:14


Berarti, dua minggu itu kita bakal sepedaan terus?
Duh, gimana aku bisa tetap wangi seharian buat ngecengin peneliti-peneliti
muda global warming kalo kemana-mana sepedaan....










Posted at 11:08 am by i_artharini
Make a comment  

Wednesday, November 21, 2007
Life List (Akan Terus Bertambah)

(Pengaruh kopi pagi-pagi masiiiihh juga belum habis. Padahal udah pakai dinner segala. Walaupun nggak pakai makan siang sih...)

1. Gara-gara nonton Ellen, dan bintang tamunya ada Kat Von D dari "LA Ink" (sebelumnya dia di serial "Miami Ink"), aku jadi bercita-cita pengen punya tattoo headshotnya Katharine Hepburn deh. Dengan kemampuan artistik Kat Von D dan ragam pilihan pose Kat Hepburn, aku cukup yakin akan berakhir dengan karya seni yang cukup indah. Tapi ditaruh di mana ya? Bentuk badan yang tidak membuat pipi Miss Hepburn jadi mleyat-mleyot gitu...

2. S2, dengan beasiswa, di Eropa, Australia dan/atau Amerika. Belajar Communication Studies, Cultural Studies, Film Studies, Literature Studies, baru terakhir, biar asal dapet S2 di luar negeri, Women Studies.

3. Atau bisa ke Eropa, Amerika (New York terutama, atau kota-kota besar lainnya. Asal jangan daerah Midwest. Atau enggak apa-apa aja dulu, baru nanti menjelajah?), India, Nepal, Asia Tenggara, Rusia, Amerika Selatan, Kuba, ermm..pokoknya semua tujuan-tujuan eksotis di luar negeri deh dengan penugasan kantor. I mean, every single reporters angkatanku kayaknya udah dapat giliran itu deh. Why not me?

4. Punya koran sendiri. Not something big, koran komunitas tapi terpercaya gitu. Agak-agak kayak Uitkrant, kertas, format dan warnanya. Tapi desainnya lebih pop. Agak kayak The Believer. Isinya juga agak mirip-mirip kayak gitu. Hell, I want something like The Believer. Gaya penulisannya nggak boleh yang sok-sok rumit ala Andrea Hirata dengan learning curve-learning curvenya itu. Ringan, tapi penuh kecintaan. Penuh hasrat dari para penulisnya. Tapi nggak boleh cengeng juga. Nulis kejam boleh, tapi you really have to know what you are talking about. Heheh. I think I'm going to be a difficult boss deh.

5. Get married and have kids. Twins preferably.

6. Punya gaji atau income yang membuatku nggak perlu khawatir lagi seumur hidup. Preferably at a young age, di bawah 35 lah. Yang memungkinkan aku punya koleksi Jimmy Choo atau Christian Loubotin, tapi juga punya cukup banyak untuk menyumbang besar ke organisasi penyelamatan satwa, hehe. Dan bisa beli rumah sendiri yang ditata mengikuti buku-buku desain Mama di rumah. Bisa punya koleksi film-film old Hollywood lengkap. Dan koleksi CD yang nyamain repertoarnya Aksara, hehe.

7. (Damn, kenapa baru inget sekarang?) Publish a novel. Sesuatu tentang coming-of-age. Bisa diterima dengan baik oleh kritikus dan pembaca. Sesuatu seperti High Fidelity, yang bisa kayak batu terus bergulir. I aim for Special Topics in Calamity Physics, tapi kemampuanku kayaknya enggak sekuat itu.Tapi pada akhirnya, aku ingin dikenal sebagai seorang penulis.

8. Menulis naskah film yang difilmkan.

9. Hidup dengan memoar dalam kepala.

10. Punya 50 dates a year. Bisa berulang, bisa dengan orang baru.

11. Membaca 50 buku per tahun.

12. Punya toko buku. Online nggak masalah. Tapi lebih pengen yang 'beneran'. Bayangkan 'Championship Vinyl' adalah toko buku. Dan aku, pemiliknya, less bitter tentang toko itu. I love the store, walaupun mungkin sinis ama hidup. Mungkin tampilannya agak konvensional dan sopan kayak toko bukunya Andrew di Gilmore Girls, tapi koleksinya lengkap dan unik. Atau mungkin kayak Shakespeare & Co di Paris. Kalau nggak salah toko terakhir ini punya kategori-kategori lucu dalam mengelompokkan buku-bukunya.

13. Bisa berolahraga secara rutin.

14. Makan lebih sehat.

15. Dress better. Punya signature style. Berkelas dan anggun.

16. Nggak gampang iri sama keberuntungan orang lain. Bisa ikut berbahagia atas keberuntungan yang diterima orang lain.

17. Achieve greatness. Dalam apa? Sebagai penulis, sebagai wartawan (terlepas dari institusi dan desk), dan sebagai manusia dari segi karakter.

18. Bisa berenang. Dan menyelam.

19. Bisa wangi terus seharian.

20. Pengen bisa motret dengan baik. Indah? Errmm, mungkin lebih ke arah unik dan humanis kali ya. Kalau aku menetapkan Safir Makki jadi standar, ketinggian nggak?

21. Bisa berdamai dengan Tuhan? Bukan dalam artian nyuekin juga sih. Tapi gimana ya, aku nggak terpengaruh sama apa yang dia lempar ke aku gitu? Kalau baik ya, oke. Enggak baik juga nggak membuatku jadi kenapa-kenapa gitu.

22. ....ini dulu aja deh kayaknya. Masih work in progress kok.

Posted at 07:19 pm by i_artharini
Make a comment  

Efek Kopi Belum Habis

(Masih dengan semangat media-bashing. Ooopps. Maaf. Tepatnya, media-criticizing.)

Kalau mau cerita dari awalnya banget, mungkin harus dimulai dari liputan tiga hari ke Bali, yang sebenarnya cuma liputan dua hari, tapi aku nggak bisa pulang pas hari kedua karena tiket penuh, dan merasa sengsara banget di Bali karena tidak berguna. Aku nggak pernah ngerasa se-officesick itu selama dua tahun kerja di sini.

Kangeeeen banget. Bisa lupa sama semua masalah yang sedang terjadi. Pertempuran, perang, apa pun itu. Yang kerasa cuma kangen ama kerjaan, pengen jadi berguna buat atasan dan teman-teman se-desk. Pas ketemu Hko dan mbak Wey pun rasanya seneeeeng banget.

Tapi jadi lebih seneng lagi pas ngelihat ada setitik kecil harapan lagi berjalan ke kamar mandi.

"Lho, Bang Thoyib (duh nama kodenya enggak banget deh), dari kapan datangnya?"
"Gimana, apa kabar? Udah dari Senin."

Oke, di usia dan masa kerja sekarang, aku harusnya udah cukup matang untuk tahu pengidolaan bukanlah penyelesaian masalah. Tapi melihat sosok dia, setelah kehilangan tetua-tetua lain, rasa damai tuh jadi terasa mungkin.

Kemarin, si Bang Thoyib ini, dalam perjalanan ke kamar mandi, tiba-tiba mengurungkan niat, berbalik arah, dan berjalan ke mejaku. Aku lagi nggosip ama Ccr.

Bang Thoyib tanya basa-basi, aku di desk apa, lagi nulis apa, etc. Aku nanya balik, dia supervisi halaman apa. Entah gimana, obrolan tiba-tiba melompat ke hilangnya halaman budaya. Dia tanya, "Sudah baca wawancaranya Rendra di majalah Target?"

Aku: "Udaaahh. Ih itu wawancaranya nggak baguuuus/jelek bangeeeet."

(Aku lupa tepatnya menggunakan ungkapan apa, tapi yang pasti ada pemanjangan vokal di bagian akhir. Dalam hati aku bilang sih, itu wawancara--sorry untuk menggunakan ungkapan yang sangat juvenile dan seakan tak kreatif, tapi itu benar-benar yang aku rasain setelah membacanya--sucks ass big time).

Bang Thoyib (agak terhenyak sedikit nggak ya?): "Ya terlepas dari itu wawancara bagus apa enggak. Tapi di situ Rendra bilang kalau dia membaca rubrik sastra dan puisi di Koran Target dan Harian Kini yang dia langgani. Itu kan tendangan buat kita. Berarti kita belum dianggap koran nasional yang halaman sastranya mumpuni."

Aku: "Ah, ya enggak usah kecil hati gitu lah. Kalau Harian Kini, semua orang kan mbaca itu. Itu pasti jadi pilihan pertama. Koran Target, itu cuma masalah pilihan. Aku sih enggak mikir sampe segitu jauh pertimbangannya."

Ya lagian, masa elu mau percaya sama ukuran satu orang aja? Emang dia polisi budaya? Penjaga koridor standar estetika? Kalau emang iya, standarnya dia masih didenger orang gitu? Isn't he a sell-out?

Mungkin dia memilih Koran Target karena dalam berbudaya sealiran. Punya afinitas dengan institusi dan petinggi-petingginya. Jadi dia lebih merasa familiar, aman, nyaman.

Bang Thoyib: "Tapi jamannya redaktur budaya kita si ***, Rendra masih mbaca lho koran kita."

Lha terus?

Oke, perbaikan diri, itu memang mutlak untuk terus dilakukan. Tapi jangan demi dibaca satu orang aja dong. If there ever was one small message yang bisa aku ingat dari Samuel Mulia, itu adalah bekerja baik untuk standar diri sendiri aja dulu, jangan terpaku pada institusi untuk mengangkat diri. Kalau reputasi kita emang baik, lepas dari institusinya, pasti apresiasi itu akan datang kan?

Aku sih lebih membaca ada agenda tertentu di wawancara itu. Cermati deh alur tanya-jawabnya. Masa Majalah Target cuman mampu nanya kayak gitu sih? Masih ribut tentang "Sastra Liberal-Non Liberal, Sastra Mazhab Selangkangan, Fiksi Aliran Kelamin, etc, etc" itu? What is this article serves for, pentahbisan kenabian dari 'aliran' yang berseberangan dengan yang digalakkan TI?

Maksudnya, okeee... di seberang sana, motor gerakan ada TI, di sisi sini untuk mengimbangi ada Rendra. Gitu?

Please, sing us something new. Membaca artikel tanya-jawab itu, aku bisa menirukan reaksinya Merryl Streep dengan tepat saat di "The Devil Wears Prada" dia mengatakan, "Spring. And flowers. Groundbreaking."

I've read all of that typical answers before. We've read all of the same-different, same-different answers before.

Bukannya bakal lebih menarik nanyain tentang 72 tahunnya, gimana dia melihat hidupnya ke belakang. Ada penyesalan-penyesalan dalam berkarya. Kesempatan-kesempatan yang terlewat. Tuduhan dia selling-out, menerima hadiah dari grup Bakrie segala. Apa artinya jadi seniman di usia segitu. Apa fungsinya seniman di mata dia. Apa yang masih membuat dia marah, terinspirasi, kesal, menyesal, bersemangat. Apa yang masih dia look forward to in life. Apa yang dia iriin dari seniman muda sekarang. Seberapa besar egonya sekarang. Karyanya siapa yang sampai sekarang masih dia baca terus dan masih memunculkan semua rasa yang muncul saat ia pertama kali membacanya. His Top 5 Greatest Book Ever Read. Atau sesuatu yang menarik kayak gitulah.

Yang manusia.

Bukan cuma nyari backingan akan sebuah aliran.

Tapi, sebenarnya, kalau aku cermat-cermati bentuk pertanyaannya, jangan-jangan Rendra cuma nyerocos terus aja nggak mau dipotong, jadi bentuk pertanyaannya diselip-selipin, singkat, dan agak mengarahkan gitu....

Just a wild guess.

Posted at 06:26 pm by i_artharini
Make a comment  

Megawatt

Yeah, baby.

Buat orang-orang sok benar yang sering menuding betapa saratnya kepentingan di institusi tempatku bekerja, nah silahkan baca yang satu ini. Gaya penulisannya kayaknya nggak beda deh kalau pas tempatku menulis tentang si pemilik kelompok usaha.

Dosamu, dosamu. Dosaku, ya dosaku. Iya nggak?

Masih tentang subyek yang sama, walaupun anglenya agak berbeda, dan beritanya ada di Koran Target (21/11).

"Kata Megawati, pada Pemilu 2004, dirinya tidak mengalami kekalahan, tapi hanya kekurangan suara."

(Me: Yah, you say tomato, I say tomahto-lah.)

Masih dari sumber yang sama dan sumber media yang sama,

"Ia menyindir ibu-ibu yang pada Pemilu 2004 tidak memilihnya kini menyesal lantaran harga bensin, pupuk, dan obat-obatan naik. 'Maunya milih yang ganteng, yo wis monggo,' katanya."

(Me: Bener ya. Hell hath no fury like a woman scorned. Btw, emang dia bakal bisa menghindarkan kita dari kenaikan BBM gitu?)

Posted at 06:03 pm by i_artharini
Make a comment  

Next Page