PENARI MUNGIL


(Saya bukan seorang penari. Pun sangat jauh dari mungil. Tapi, tahu kan adegan 'Tiny Dancer' di 'Almost Famous'? Sensasi membahagiakan dari adegan itulah yang saya kejar..)



Hold me closer, tiny dancer

Count the headlights on the highway

Lay me down in sheets of linen

You had a busy day, today


("Tiny Dancer" - Elton John)





"...the quest for transcendence has always been closely linked to the ecstatic release of dancing."
(Resensi RollingStone atas sebuah album pop)

Mr. Darcy: "So what do you recommend, to encourage affection?"
Elizabeth Bennet: "Dancing, even if one's partner is only tolerable."
(Pride & Prejudice, 2005)


perempuan, 1983, lovesick soul, berjalan kaki, belajar menulis, menonton film, ingin keliling dunia, Billie Holliday, Jane Austen, 'Franny and Zooey', cerita pendek F Scott Fitzgerald, lagu-lagu sedih, kecanduan membeli buku second, deretan buku di lemari, berkeliling dengan bis kota, mengepak koper, menari bebas, Vogue, sepatu, bad boys, kopi, kuliner, foto, semua yang vintage, genggaman tangan, pelukan hangat, detil percakapan antara manusia, kegelisahan, kesepian, ruang pencarian, belajar dewasa, museum dan bangunan tua, hari hujan, sinar matahari hangat di hari berangin, airport, stasiun kereta, dan pertanyaan tanpa akhir

YM: isyana_artharini
Email: i.artharini@gmail.com
   

<< November 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Monday, September 25, 2006
Jane Eyre

(Setelah selesai membaca Jane Eyre hari Senin lalu...)

Aku ngerasa bahwa memikirkan kemungkinan aku lebih suka karakter Jane Eyre daripada karakter Elizabeth Bennett adalah sesuatu yang agak blasphemic. Mungkin kesimpulan bahwa 'Lizzie Bennet adalah all-time favorite character in a book' diambil terlalu cepat, karena aku belum begitu banyak membaca tentang heroin-heroin menarik di dunia perbukuan untuk akhirnya bisa memilih Lizzie sebagai favorit, tapi mungkin juga karena Jane Eyre benar-benar mengesankan.

Ada banyak hal yang berbeda di antara keduanya; yang satu tumbuh dalam keluarga inti yang sangat mendukungnya (walaupun dengan orangtua dan adik-adik yang eksentrik), sementara yang lain dengan keluarga angkat yang menolaknya, lalu membentuk keluarga-keluarga sendiri. Yang satu sopan dan mencoba segala cara untuk tidak menjadi anti-sosial, percaya pada aturan dan norma-norma, sementara yang lain lebih penyendiri, lebih nyaman pada perilaku kasar karena tidak pernah mengharapkan keramahan. Walaupun secara ekonomi Lizzie sedikit lebih beruntung karena kelas sosial yang lebih menguntungkan juga, tapi kemampuan finansial mereka sebenarnya sama-sama terbatas.

Yang pasti, dua-duanya sama-sama merasa ada sesuatu yang lebih buat mereka dari sekedar yang 'dikasih' oleh hidup, sama-sama witty, sama-sama berani jujur ama dirinya sendiri, nggak peduli yang dibilangin orang lain, dan sama-sama jatuh cinta ama Mr-Mr yang jutek, dark, sinis, dan therefore...charming. Mr Darcy dan Mr Rochester.

Dan Mr Rochester pun terasa lebih cerdas daripada Mr Darcy. Lebih jutek pas ngajak omong, tapi lebih talkative. Perdebatan mereka tentang suatu topik bisa jauh lebih panjang dari Lizzie-Darcy dan lebih panas. Berbicara tentang 'panas' yang lain, ya, Jane Eyre kerasa banget lebih passionate, dan lebih sering memunculkan kupu-kupu di perut daripada Pride & Prejudice. Ketika P&P masih bermalu-malu mengungkapkan perasaan dari karakter utama lelaki dan perempuannya, Jane Eyre sudah amat berterus terang, tapi tetap nggak kehilangan kelasnya.

Benar-benar romansa dalam skala yang epik deh.

Tapi, ngomong-ngomong, aku jadi penasaran dengan Bronte sisters. Setidaknya dari novelnya Emily dan Charlotte yang udah aku baca (Wuthering Heights dan Jane Eyre); ada apa ya di pendidikan mereka yang membolehkan mereka untuk jujur seperti itu terhadap perasaan? Ada gelombang passion yang sama kuatnya di dua novel itu. Sesuatu yang agak ditahan dalam novel-novel Austen, yang ketika dibandingkan dengan mereka jadi terasa steril, higienis, rasional, dan (ahem, please excuse myself) agak...dangkal.

But, no, no. I don't want to feel like that about Austen. This is Austen, Jane Austen. Aku lagi ngerasa berdosa banget nih berpikir kayak gitu tentang Austen. Well, mungkin sama kayak orang beragama kali ya, nggak terima kalo ada yang bilang bahwa sesuatu yang dia percaya selama ini ternyata...tidak salah sih, cuman ada yang lebih baik. Tapi aku kan nggak percaya dengan lebih baik-lebih jelek, tapi pada adanya 'perbedaan'. Jadi?

Hmm, sepertinya aku dan Austen sedang berada di tahap hubungan yang...'is she the one? Is she not the one? Apakah aku masih bisa belanja-belanja kanan kiri lagi?' dan hopefully, semoga, akhirnya aku bisa kembali lagi Austen, walaupun mungkin dalam fungsi yang berbeda. Mungkin bukan lagi the best, tapi mungkin sebagai penulis yang aku andalkan saat aku pengen detox, merasakan cita rasa yang sederhana, something that can make me happy all the time kali ya?  

Posted at 06:30 pm by i_artharini
Make a comment  

Sanctuary Baru

Dari liputan peluncuran buku Jumat kemarin, aku jadi sadar, hah, dua tahun di Jakarta, dan aku akhirnya menemukan 'American Book Center'-ku. Well, setidaknya pengganti American Book Center yang setelah mengunjungi, rasanya sama kayak abis ngunjungin the actual American Book Center. Tempatnya? Kinokuniya Plaza Senayan. Well, no surprise there, itu cuma masalah mencari tempat di mana buku-buku impor ditemukan dalam jumlah banyak sih.

Mungkin karena pas aku ke sana, aku menemukan banyak buku yang pengen dibeli, tapi nggak punya duit buat membelinya, dan itu menimbulkan rasa yang sama seperti saat browsing-browsing 3 jam di ABC, hehe. Tapi kemarin sempet nemu 1001 Books To Read Before You Die dan membolak-baliknya sampe jam 10an, pas tokonya mau tutup. Terus ngeliat juga judul-judul yang sama dengan berbagai jenis cover, lebih menarik dari QB.

Dan tempatnya yang luas juga. Rak-raknya dengan kategorisasi yang endless, jumlah judulnya juga lebih variatif; lebih masif, dan masih belum bosen didatengin. Kangen juga ih sama ABC yang asli. Terakhir denger kabarnya, lewat blognya, mbaca kalau mereka bakal pindah ke Spui, yang bekas toko piano. Jangan-jangan, nanti seberang-seberangan sama Athenaeum ya?


Currently reading:
The African Queen
By C.S. Forester



Posted at 05:24 pm by i_artharini
Make a comment  

Wednesday, September 20, 2006
Yang Pergi

Ok, ok, ini news flash.

Tadi siang, pas ngeliat hape ternyata ada miscall dari Clara. "Kenapa bu, aku nggak mau ikutan nge-date ama kamu lho ya.." referring ke satu peristiwa baru yang akan terjadi dalam hidupnya (cieee.) Terus pas mau masukin hape ke tas, eh tiba-tiba udah ada balesan. Gila, cepet banget si Clara mbales.

Ternyata itu dari seorang teman dekat. "Wah, kayaknya aku bakal satu pesawat ama Baasyir deh ke Bali. Barengan ama dia dan entourage-nya di waiting room."

Yang tentu aja langsung aku bales, "Too late for ticket refund, eh? [It's a stigmatized joke, I know-Red] Btw, ngapain ke Bali?"

Tiba-tiba, si temen ini langsung nelpon.

"Hai, Narii.. Aku mau ke Bali, terus abis gitu langsung ke Jepang."
"What? Ngapain ke Jepang? Sampai kapan?"
"Aku mau sekolah lagi. Sorry yaaa...aku telat bilangnya. Cuman si Ms.Dusta sih yang tau, katanya dia mau jadi juru bicara, tapi belum nyebar ya?"
"Ya publicist itu kan cara kerjanya memang ketika ditanya baru memberikan tanggapan, heheheh."

But anyway, what? I'm still quite shocked. And sad. Ya, aku bahagia lah pastinya si temen ini bisa sekolah lagi, lagi-lagi ke tempat yang jauh, emang rejekinya dia lah. Tapi sedih gitu, wah, perginya jauh juga ya?

Emang sih, kita nggak sering ketemu. Jarang banget malah. Frekuensinya mungkin cuma sekitar...empat kali dalam dua tahun terakhir. Tapi he's still within the country. Sekarang, waaahhh, ada sesuatu yang membuat "ke luar negeri" masih terasa jauh, walaupun dunia sekarang sudah semakin mendatar.

"Ya, I'll send you an e-mail setelah sampe deh. Biar kalo gini email-emailnya kan semakin intensif."

Iya sih.

Aku masih mencoba menyerap besarnya berita itu. Kayaknya ini ada di level yang sama kayak tiba-tiba aku dapet undangan nikahan one of my close college friends tanpa woro-woro sebelumnya deh tentang proses perkenalan dengan calon pasangan.

It's huge.

Dan aku merasa, sampai besok pun masih belum benar-benar 'hit me'.

He's gone.
Wow.

Posted at 08:46 pm by i_artharini
Make a comment  

Resensi Atas Nama Emosi

Mungkinkah itu? Validkah itu? Membuat sebuah resensi atas dasar emosi? Bukan sekedar suka atau nggak suka, tapi...singkatnya begini saja, ndengerin 'Continuum' kok aku selalu berkeinginan untuk crying my eyes out, bawling my eyes with tears....

Dari yang 'Bold As Love', 'Dreaming With A Broken Heart' (bener lho, waking up-nya is the hardest part, was he really here?), 'Slow Dancing in a Burning Room' (yes, I'm being a bitch because I can. And yeah, I know when it's the deep and dying breath of our relationship. And yes too, 'I make the most of my sadness, How dare you say it's nothing to me, Baby, you're the only light I ever saw'), 'Waiting On The World to Change' ("What's So Funny Bout Peace, Love, and Understanding?" untuk generasiku?), 'The Heart of Life', sampai yang 'Stop This Train', 'In Repair', dan tentu aja, 'Vultures'.

It's just the way he writes. Precisely pinpoint the particulars in a vague-y experience. Tapi, jangan-jangan 'vague'nya karena kita tidak bisa mengartikulasikannya?

Huks, untung udah selesai nih ndengerin. Kalau nggak, nangis terus deh.

Posted at 08:27 pm by i_artharini
Comment (1)  

Fighting Vultures

Tadi malem, pas lagi mbaca 'Kate Remembered', sambil ndengerin 'Continuum' yang akhirnya sampai ke lagu 'Vultures'. Lagu yang emang udah aku senengin pas denger di album John Mayer Trio yang Try!

Aku pernah mengutip bait pertamanya di blog ini. Cuman ternyata ada lanjutannya yang pas banget ama masalah terbesarku sekarang. Kutipannya:

How did they find me here
What do they want from me
All of these vultures hiding
Right outside my door

I hear them whisperin
They're tryin to ride it out
They've never gone this long
Without a kill before

Down to the wire
I wanted water but
I'll walk through the fire
If this is what it takes
To take me even higher
Then I'll come through
Like I do
When the world keeps
Testing me, testing me, testing me

It's fire, indeed. Tapi ya, if this is what it takes to take me even higher....


Currently reading:
Kate remembered
By A. Scott Berg



Posted at 08:05 pm by i_artharini
Make a comment  

Barang Bajakan

Rasa kagumku pada para pelaku pembajakan produk media di Indonesia masih belum habis. Contoh, Minggu beberapa hari yang lalu, ke Ambassador. Di luar rencana sebenarnya, karena itu juga habis arisan, dan jalan ama ortuku.

Setelah tahu mau ke Ambassador pun cuma berencana untuk beli Gilmore Girls season 5. And yeah, whatever quirky CD they sell lah.

Obyek pertama, udah kebeli. Terus, iseng-iseng liat tempat jualan CD, tidak benar-benar mengetahui apa yang aku cari atau pengenin sih. Sempet liat Sarah Vaughan, Dinah Washington, dan udah mau memilih salah satu dari mereka sebelum akhirnya melihat bajakannya Patti Smith yang Trampin' di bagian Oldies Jazz Female--yang tepat hanya 'female' dari tiga karakterisasi itu-- Aku lupa kapan tepatnya album ini keluar, tapi kayaknya cukup baru--setelah dicek, 27 April 2004--Tapi Patti Smith bukanlah sesuatu yang aku harapkan ketika mencari-cari di tumpukan jerami. Ini bukan sekedar jarum yang aku temukan.

Patti Smith.
Wooooowwww.

Shirley Manson, vokalis Garbage, di edisi Rolling Stone versi Indonesia tentang 50 Best Performing Artist (SIAPA YANG MINJEM PUNYAKU WOY?) tentang Patti Smith menulis, bahwa dia saat itu berusia 21 tahun saat pertama kali mendengar 'Horses'. Aku lupa, berapa usiaku saat itu? 20, mungkin. Lewat internet radio-nya VH1. Dan kayaknya pas itu Trampin' juga baru keluar, jadi aku membaca beberapa hal tentang Smith di saat bersamaan dan terkagum-kagum.

Ah, me and dramatic women.

Yang ini pasti kebeli deh. Terus sempet nemu juga dua versi double CD live-nya Dave Matthews Band, yang sebenernya udah mau aku beli salah satunya, sebelum iseng-iseng nyari--dan sebenernya nggak berharap nemu-- 'Continuum'-nya John Mayer.

Dan, yerp. Aku menemukannya. Dalam kondisi rekaman yang cukup bagus. Ini ceritanya direkam dari sebuah acara radio di LA, Star FM kalo nggak salah namanya, di mana Mayer memasang seluruh albumnya di segmen radio tersebut, dengan dia ikut menarasikan proses pembuatan tiap lagu. Di rekaman itu dia menyatakan kesadarannya akan acara ini direkam atau albumnya dibocorin di internet, but hey, go ahead, steal away, katanya.

Jadi, sama kayak DVD bajakan dengan kualitas bagus, yang cuman buat screening purposes only, terus di bawahnya ada tulisan 'Property of ...., If shown please contact.....for reporting', nah ini sesekali ada komentar 'You're listening to Star FM. Continuum, out on September 12'.

September 12 cobaaa!

Dan Minggu kemarin itu kan baru 17 September. Gila nggak sih?

Maksudnya, ada yang ngerekam acara itu di LA, terus dicopy dan dikirim ke suatu tempat, China mungkin, terus akhirnya sampai ke Ambassador, Jakarta dalam...ya itung aja acara itu kan nggak mungkin ditayangin tanggal 12nya ya, itunglah....seminggu sebelum tgl 12 lah ya. 12 hari? Tsk, tsk tsk. Dalam dunia pembajakan, aku membayangkan, sudah banyak yang bisa dilakukan dalam waktu dua minggu kurang sedikit.

Kekagumanku sama jaringan ini malah melebihi kekagumanku menemukan bajakannya Patti Smith. Karena, yang resmi aja--aku membayangkan genre-nya dia-- agak menantang untuk dipasarkan, tapi tetep aja dibajak. Hebat, hebat.

Posted at 07:18 pm by i_artharini
Make a comment  

Tuesday, September 19, 2006
Ketagihan Ih

Seminggu yang lalu baru aja selesai mengkatalog dan mengatur secara alfabetis buku-buku di kamar. Setelah mengenal dan mengidentifikasi satu per satu apa aja yang udah aku miliki, aku membuat janji pada diri sendiri bahwa tidak akan ada lagi gila-gilaan membeli buku dalam 2 tahun ke depan. Stok buku-ku sudah mencukupi, bahkan malah lebih, untuk kurun waktu tersebut.

Nah, seorang teman kantor memberi tahu, ada sale lagi di QB Jalan Sunda, sampe 70 persen. Pas menerima berita itu juga tidak terasa kepanikan. Pun tidak langsung bergegas hari itu juga menuju tempat yang dituju. Komentarnya juga cuman, dalam hati: "Kasian banget ya QB, kayaknya pada mau tutup semua ya?"

Nah, hari Sabtunya, asalnya diajak ke Bandung. Cuman karena aku males berangkat hari Jumat, sementara hari Sabtu siang sudah mau pulang, ngerasa tanggung aja, jadi nggak niat jalan sama sekali lah. Sabtu itu akhirnya aku ke QB. Udah siang pula, jam dua-an mungkin dari rumah. Sampai sana sih udah jam 4-an, dan penuuuuhhh banget. Pas aku dateng pun udah ada banyak orang ke luar dengan tas-tas plastik yang isinya banyak-banyak.

Browsing-browsing juga nggak nyaman banget dan pesimis nemuin buku yang bakal aku senengin. Ah, malah lebih bagus lah. Duit kan nggak banyak ke luar gitu. Menganggarkan pun maksimal 200 aja lah, walopun 300 juga masih tolerable. Tapi ternyata nemu F. Scott Fitzgerald yang "The Beautiful and the Damned", nyari yang Tender is the Night udah nggak ada. Terus nemu "The Grass Harp"-nya Truman Capote, terus Collected Stories-nya Eudora Welty (yay!), dan mulai deh...satu penemuan berlanjut ke temuan-temuan lain. Sampai akhirnya, lho kok berat banget ya tas belanjaannya? Dan, waduh...kok banyak banget?

Akhirnya, balik dulu ke tas, ngambil bolpen ama kertas buat itung-itungan, nyari pojokan yang agak sepi dan mulai menghitung. *Menarik nafas tajam* Duh, yakin nih mo ngambil segini?

Oke, bongkar-bongkar dulu, pilih, pilih, pilih, kira-kira yang kurang penting mana yaa. Dan di titik inilah aku menyalahkan keberadaan kartu kredit. Karena kartu kredit itulah aku merasa aku mampu membayar semua itu. Dan, oke, oke, oke, dengan pusing dan agak gugup--karena belum pernah memakai kartu kredit sebelumnya, gimana kalau ditolak coba? Aku kan nggak bisa berpisah dengan buku-buku ini lagi...--aku berjalan menuju kasir.

Glek, sampe malu sendiri ngeliat print-print-an bonnya deh. Tapi, ya sudahlah, damage is done. All you can do is just read it, toch?

Dan aduh, sumpah deh, hari itu belagak sok kaya banget. Abis gitu kan tersadar, seharian belum makan. Akhirnya makan deh di lantai atas, yaitu...bakmi GM. Pulangnya, pengen naik taksi sih, karena berat juga mbawa bukunya dan nggak pengen kepergok sama Rani dan mama, takut mereka udah pulang duluan gitu. Ya sudahlah, akhirnya nyetop Ekspres, taksi credible yang bertarif lama lah.

Oke, anyway, satu pemikiran: pas ngeliat tumpukan buku yang udah dibeli dan rencana-rencana akhir pekan untuk membacanya, aku sempet bilang ke diri sendiri;  Nari, you do plan to have a life, right? Social life? Meeting people, etc?

Sekarang, dari tumpukan yang beli kemarin, lagi mbaca 'Kate Remembered', biografinya Katharine Hepburn, sama dari sebelumnya beli 'Wide Sargasso Sea', karena itu berhubungan ama 'Jane Eyre' yang udah berhasil diselesaiin dalam seminggu lebih dikit (hore!).

Posted at 08:55 pm by i_artharini
Comment (1)  

DTK

Sabtu malam kemarin, pas lagi nonton Dunia Tanpa Koma episode 2, Rani komentar: "OMG, kakakku nonton sinetron. Dian Sastro lagi. Kan ada better things to do.."

Well, I got a list of reason actually, kenapa aku nonton sinetron ini. And yes, I got better things to do, kayak 'Jane Eyre' yang memanggil-manggil untuk diselesaikan di atas, pas udah ketauan lagi misteri yang menyelimuti Mr Rochester dan suara-suara aneh dari loteng, belum lagi tiga tas plastik penuh isi buku dari sale 70% QB jalan Sunda--really, I blame that on owning a credit card. That was my first time on using the card. I'm officially in the system, now--but I wish I can stop watching the soap, only if Dian Sastro stop copying my life. Heheheh.

Oke oke, tidak bermaksud untuk menjadi se-egois dan se-narsis itu, tapi the reason I'm watching it because...ya aku ngerasa cuman sama tokoh ini lah aku bisa mengidentifikasikan diriku. Kayak, contoh kecil, kemaren di awal episode 2, ada shoot dari bawah gitu di kamar tidurnya si Raya (Dian Sastro), naik, naik, naik, ternyata ngelewatin meja yang di atasnya ada...'Franny and Zooey', dengan cover putih polos dan slirit-slirit garis merah-kuning-hijau di pojok kiri atas. Waaa, my favorite book, my favorite book. And yes, maybe they put it because of the New York connection, what with her previous school, etc. And of course, with her being a young lady at the same age as Franny and their...ideals on the world.

Terus, pas si Raya-nya bangun dari tempat tidur, ngelewatin pintu atau dinding gitu, dengan poster...Virginia Woolf. Hah! Ok, ok, I didn't put up a Virginia Woolf poster in my room, but I could have...if only I found the poster.

Tapi boleh juga tuh cara mereka menggambarkan karakter, masuk akal juga Raya masang posternya Virginia Woolf, lha..dia kan katanya ngambil feminism studies. Anyhoo, episode 2-nya kok kurang berkesan ya? Walaupun ada suatu line yang membuat aku teriak: hah, bener bangeettt!

Aku lupa siapa tepatnya yang bilang, tapi it goes like this: "kenapa sih, kok kita selalu ngeributin apa HL-nya Harian Kini?"

Ternyata bahasan itu nggak cuman ada di kepala kita-kita aja tho...

Despite it flaws, I would still be found, next Saturday night, right in front of the television, watching DTK.

Eh iya, satu lagi, si Galih ternyata main juga di situ.

Posted at 08:09 pm by i_artharini
Make a comment  

Fight; 2.0

Tidak bermaksud mengeluh sebenernya, cuman pengen...apa ya? Just please consider that one particular story before judging whether I've fought or not. Well, I sort of think that there is something better out there waiting. Sama kayak hubunganku yang sebelumnya, maksudnya, heh, ngapain aku mengharap sesuatu yang cuman sedikit di atas rata-rata, yang minimum aja kadar membahagiakannya, sementara aku bisa dapet sesuatu yang jauh lebih baik?

So, what am I waiting for?

Unfortunately, I have this dream that would include two years working in one place, and it's six months away to 'two years working'. So, ok, it's time to just..suck it up and prove what you're made of. 

Posted at 07:42 pm by i_artharini
Make a comment  

Friday, September 15, 2006
Fight

Setahun nurutin keinginan tempat kerja, menuruti semua perintah dan mengerjakannya sesempurna mungkin, sampai ke rapat yang membuat aku emosional, terus ketebus sama presentasi yang lumayan berhasil--dan mengira 'it will all be worth it'--; asumsi yang langsung hancur ketika ada komentar yang bilang, "biar dia fight dulu".

Oke, fine. Fight, no fighting, whatever. But, define this:

Aku pergi ke sebuah kota di Kalimantan Barat, menjalani perjalanan 6 jam pake mobil ke sebuah kota kecil bernama Sekadim. Dari situ perjalanan naik motor 4 jam sampai ke sebuah kota bernama Sekura. Bermalam. Lalu paginya berangkat lagi naik motor jam 7 pagi, melalui jalan-jalan kecil untuk sampai ke sebuah desa bernama Temajuk. Lokasinya, tepat di ujung buntut kepala burung Kalimantan. Sekitar jam 9, baru mengetahui ternyata ban belakang bocor. Berjalan kaki ke tempat peristirahatan terdekat. Dan jangan bayangkan sekitar adalah pedesaan yang padat penduduk. Jalan pasir dengan vegetasi pantai di sekitar dan matahari yang panas menyengat. Untung sedang ada pembangunan jalan, sehingga ada tempat beristirahat para pekerja jalan. Urusan ban selesai, berjalan lagi menyeberangi sungai dengan perahu penyeberang. Menunggu sampai sekitar 5 jam, menunggu air laut surut, agar dapat melalui jalan menuju desa itu. Satu-satunya jalan 'darat' menuju desa itu. Tapi menuju pinggir laut juga tak melalui jalan lebar, apalagi aspal. Pasir putih, sempit, kadang terendam air. Sampai aku bertanya, pernahkah ada orang yang lewat jalan ini? Satu jam berada di jalan seperti itu. Saat air surut, maghrib mulai datang, sehingga kami mengendarai motor di samping laut di malam hari. Indah, memang. Tapi tanjung-tanjung yang dilewati menjadi tidak terlihat, begitu pula batu-batu raksasa yang menyembul dari permukaan air yang mengering. Naik, turun motor menjadi pekerjaan yang melelahkan, apalagi dengan celana jins yang sudah agak basah. Dua jam kemudian, berkendara motor dalam gelap, dengan ancaman busi yang beberapa kali ngadat karena terkena air asin (semoga kami tak terjebak di sini saat air mulai pasang), kami tiba di Temajuk. Keesokan harinya muter-muter desa wawancara orang. Terus besoknya lagi, jalan masuk ke dalam hutan nyari patok batas, 4 km jalan masuk ke dalam hutan. Jalan di titian sempit. Jatuh bangun entah berapa kali. Lalu 4 km lagi ke luar hutan. Besoknya, kembali lagi menuju Sambas. Kembali lewat pinggir laut, kembali lewat jalan pasir, mampir di Sekura, menyeberangi sungai Sambas, mampir di Sambas sebentar, sebelum akhirnya ke Sekadim. Total perjalanan hari itu di atas sepeda motor? 14 jam. Semuanya dilalui dengan orang asing yang continually harrass me about my weight, my being a single young female yang dapat 'menggoda' status menikahnya (as if I would). Lalu esoknya, 6 jam lagi ke Pontianak. Esoknya, kembali ke Jakarta. Aku bahkan sampai tak mau menunjukkan foto perjalanan dan menceritakan perjalanan itu, karena aku tidak mau melihat reaksi ibuku yang pastinya bakalan cemas setengah mati. Lalu mengetik, selama seminggu, pulang dari kantor selalu di atas jam 2. Bahkan, malam terakhir sampai jam 5 pagi baru pulang, karena hari itu aku sudah mengambil cuti untuk ke Malang dan Surabaya. Setelah selesai cuti, ternyata editan tulisan masih belum kelar juga. Dan sampai dua minggu kemudian. Sampai akhirnya, aku mengajukan diri menyambung-nyambung tulisan. Dan setelah itu selesai, sejak 1,5 bulan yang lalu, sampai sekarang...tulisan itu belum turun juga. Atau setidaknya di-budget-in. Aku yang nggak pernah care dengan tulisanku turun atau nggak aja sampe frustasi berat.

And this is just one assignment dengan medan yang agak berat.

Belum assignment-assignment lain, yang walaupun medannya tidak seberat ini, tetap saja aku lakukan dengan kekuatan yang sepenuh hati, yang sama sekali nggak pernah aku tolak.

Belum ngitung tugas-tugas makan ati, karena ngerjain tugas-tugas buangan yang bahkan Ekonomi dan Humaniora aja nggak mau ngambil karena terlalu penuh dengan kepentingan. Kenapa redaktur mereka bisa ngelindungin anak buahnya sementara aku cuman jadi ban serep?

Setahun terakhir, aku sudah memutar otak, mencoba menciptakan alasan demi alasan yang positif tentang keberadaanku di kompartemen yang mati suri ini, dan sekarang...aku udah kehabisan tenaga buat menciptakan ilusi demi ilusi bahwa ini akan bergerak ke arah yang positif.

Aku merasa udah melakukan bagianku untuk berjuang, tapi ternyata itu masih belum cukup ya? Dan sekarang, aku udah kehabisan tenaga.

Duh Gusti, kalau doa saya masih didengarkan, nyuwun paringana kesabaran nggih...

Posted at 08:04 pm by i_artharini
Make a comment  

Previous Page Next Page