"...the quest for transcendence has always been closely linked to the ecstatic release of dancing." (Resensi RollingStone atas sebuah album pop) Mr. Darcy: "So what do you recommend, to encourage affection?"Elizabeth Bennet: "Dancing, even if one's partner is only tolerable." (Pride & Prejudice, 2005)perempuan, 1983, lovesick soul, berjalan kaki, belajar menulis, menonton film, ingin keliling dunia, Billie Holliday, Jane Austen, 'Franny and Zooey', cerita pendek F Scott Fitzgerald, lagu-lagu sedih, kecanduan membeli buku second, deretan buku di lemari, berkeliling dengan bis kota, mengepak koper, menari bebas, Vogue, sepatu, bad boys, kopi, kuliner, foto, semua yang vintage, genggaman tangan, pelukan hangat, detil percakapan antara manusia, kegelisahan, kesepian, ruang pencarian, belajar dewasa, museum dan bangunan tua, hari hujan, sinar matahari hangat di hari berangin, airport, stasiun kereta, dan pertanyaan tanpa akhir YM: isyana_artharini Email: i.artharini@gmail.com
|
|
Wednesday, November 01, 2006
Pernah merasa tiba-tiba beberapa kejadian dengan tema yang berhubungan
menyerbu di saat bersamaan? Aku, cukup sering. (Mungkin karena itu aku
nggak boleh percaya sama yang namanya kebetulan kali ya?)
Anyway, beberapa hari yang lalu, sempet nge-posting tentang Gaji,
yak...dua postingan di bawah. Terus, Minggu malamnya pas nonton
'Friends With Money'. Eh, Senin siangnya dapet gosipan tentang kondisi
keuangan seorang teman yang membuat mata terbelalak.
Insting pertamaku adalah mengidentikkan diriku dengan karakter Olivia
di 'Friends With Money'. Dan aku sempat meyakininya untuk beberapa
detik, sampai bagian dari diriku yang rasional (most of the time
invisible, I know) bilang, "Wake up! You're not Olivia." Tambah pake
beberapa kali tamparan juga.
And of course, that other part of me is right.
Iya, emang, aku masih belum figured out my life. Tapi aku bukan seorang
pembersih rumah dengan gaji minimum dan pacar asshole yang sering
mintain bagian gajiku kan? Dan teman-temanku juga bukan orang-orang
yang melihat penghasilanku sebagai angka pengeluaran rutin uang sekolah
anaknya per bulan kan? Dan aku nggak sampai mencari-cari sampel produk
toiletries untuk menghemat pengeluaran kan? (Or maybe I should start
doing that?)
The thing is, kita sama-sama ada di level yang sama, dengan pemasukan
yang sama. Aku seharusnya bisa ada di status yang sama. Nah, kenapa
nggak?
(No big book buying activities di QB, salah satunya).
(Or laptop).
(Or digital camera).
(Tapi itu kan bukan pembenaran juga. Despite all of that, harusnya ada sesuatu yang bisa dibanggakan kan?)
Duh, aku harus bener-bener mulai ngatur duit deh.
Posted at 08:23 pm by i_artharini
Permalink
Aku lagi jatuh cintaaaa banget sama "How to Breathe Underwater".
Review-nya di Amazon emang pas, ceritanya ngalir smooth kayak 'vanilla
milkshake but with the complexity of vintage wine'.
Bahasa yang dipakai sederhana, kisah-kisah yang ditulis pun tujuannya
'cuma' mau menceritakan sesuatu. Walaupun isu-isu yang dibahasnya
berat, tapi bungkusannya tetap ringan. Jarang-jarang aku bisa go with
the flow, biasanya selalu ngerutin dahi, mikirin tentang apa yang aku
baca pasti tentang sesuatu.
Tapi ini mbacanya cuman buat the sake of the story itself.
Ada cerita-cerita atau bagian-bagian yang membuat aku nggak tega
mbacanya, momen-momen yang membuat aku ngerasa 'patah hati
berkali-kali' tentang the pain of being an adolescent. Dan membaca
cerita-cerita itu aku jadi sadar, bahwa aku masih di tahap emosi itu;
adolescent. Masih transisi dan berevolusi.
Well, duh, semua orang emang iya, masih, nggak ada berhentinya
berevolusi. Tapi...gimana ya? Ada banyak momen-momen yang membuat aku
bilang, "aku tau rasanya gimana." Ada sesuatu yang membuat aku ngerasa
lebih tidak matang dibandingin yang lain seusiaku. Ada rasa malu dan
cemas ketika aku kayak dihadapin dengan cerminan diri sendiri.
*menghela nafas*
Yang nyenengin, pas lagi nge-google tentang penulisnya, Julie Orringer, nemu link dari penerbitnya dia yang masukin hasil scan dari buku catatan nulisnya. Jadi keliatan proses-prosesnya dia ngembangin cerita dan tulisan.
Terus ada link lain, wawancaranya dengan seorang Robert Birnbaum.
Aku belum sempet nge-google siapa itu Robert Birnbaum, tapi
wawancaranya cukup mendalam. Dan lebih ngeliatin lagi proses nulisnya
Orringer dan apa yang terjadi dengannya saat di kelas-kelas belajar
menulis.
Dan terakhir, insight into someone's process of writing nggak bakal
lengkap tanpa daftar-daftar penulis favorit, buku favorit, etc. Itu,
adanya di Meet the Author-nya Barnes & Noble.
Kalau ada saat-saat yang membuat aku ingat enaknya membaca, membaca
"How to Breathe Underwater" lah salah satu saat itu. Untung waktu itu
mbela-mbelain beli pas QB (Jalan Sunda) Book Sale walopun hardcover.
Posted at 07:34 pm by i_artharini
Permalink
Friday, October 27, 2006
Gaji kok ya cuma abis buat mbayar cicilan-cicilan sih?
THR plus bayaran gaji yang dipercepat bulan November cuman bisa mbuat
ngelunasin cicilan laptop. Ffiuh. Dua utang selesai tahun ini. Tapi,
huks, kayaknya ngambil cicilan ketiga nggak bisa dihindari deh, karena
mau ngikut short course yang lumayan price-y.
Bener-bener cuma gali lubang, tutup lubang. Sekarang-sekarang mungkin
masih nggak kenapa-napa filosofi hidup kayak gitu, tapi buat tiga tahun
ke depan, lima tahun ke depan?
Menjawab pertanyaan mau kerja apa aja kok kayaknya susah banget. Eits,
bentar, kayaknya sih udah ketemu. Cuman belum yakin aja kan?
Tunggu sebentar, jangan-jangan kayak gini ini salah satu sumber
'kemarahan' kelas menengah? Tapi, ada gitu 'kemarahan' kelas menengah?
Sorry, topik itu nggak pernah bisa aku anggap serius. Walaupun menarik
buat dijadiin tema sebuah cerita atau novel.
Posted at 09:48 pm by i_artharini
Permalink
Thursday, October 19, 2006
Sebuah liputan tentang ajang kompetisi film dokumenter dari stasiun
televisi adik koran tempatku bekerja membawaku ke kawasan Cikini.
Liputannya di Menteng Huis, ngetik dan ngirim beritanya di TIM. Duh,
udah lama banget deh nggak ke sana. Lebih karena males menerjang macet
menuju ke situ dari kantor. Terus kalo mau dateng pas nggak ada acara
kok ya juga kayaknya kurang kerjaan gitu. Walaupun sebenernya emang
iya.
Anyway. Pas udah selesai ngetik di tempat yang rame banget ama
anak-anak main game (Huh. Aku pengen punya PDA or hp yang bisa buat
ngetik dan ngirim berita deh..), aku memutuskan mampir ke toko buku
pojokan TIM. Ngeliat sosok yang muiiiiriiiiippp banget ama
Prasma. Kacamatanya, posturnya, caranya nyeklek-nyeklek tangan, caranya
berdiri, caranya pakai baju, tinggi dan lebar badan, wuah plek deh.
Sampe aku kaget sendiri, curi-curi liat, jangan-jangan Prasma beneran
di Jakarta. Tapi langsung menepis anggapan itu, ketika ngeliat...oh
orang ini ternyata cowok tho. (Sorry, Pras. But he really really really
really really looks like you) Ternyata setelah pura-pura ngeliat lagi,
dia kayaknya salah satu anggota band SORE deh. Nemu DVD-nya
"2001: A Space Odyssey", "Ran"-nya Akira Kurosawa, sama sengaja beli
"Scarface". Pas mbayar, dengan wajah minta maaf banget, aku ngeluarin
duit pecahan 100 ribu, karena aku emang belum mecah duit lagi.
Terpaksalah mas-nya nyuruh asistennya menukar duit itu. Sambil nunggu
kembalian, duduklah di kursi depan toko, sambil kipas-kipas, karena
cuacanya panaaaas banget. Eh, tiba-tiba datanglah si
pemilik toko nan legendaris itu, yang suka ngelatih teaternya
anak-anak, dan sering nganter misi teater anak-anak itu ke luar negeri.
Dia duduk di depanku, basa-basi sebentar karena dia mau makan sebungkus
nasi goreng, dan aku berkomentar tentang suhu udara, sebelum akhirnya
dia melihat seorang temannya dan mengajak si teman ini ngobrol. Uang
kembalianku akhirnya dateng. Tapi aku masih memutuskan muter-muter di
toko itu. Aku udah mau masuk lagi ke dalam toko sampai
teman si pemilik buku ngomong, "Lho itu kan udah dimuat di Media
Indonesia." Wait, what was published? Dan aku berjalan pelan-pelan ke
lemari buku deket dua orang itu, pura-pura mbalik-mbalik buku 'About
The Kinsey Report'. "Iya. Udah ditulis ama si Chavcay tuh
hari Minggu kemarin," kata si teman pemilik toko buku. Oh, oh, oh, oh.
Sekarang aku tahu tulisan mana yang dimaksud. Sebuah artikel yang
menurutku, haduuhh, awalnya ngawur banget sih nulisnya. Fokus, please,
fokus. Kayak nggak ada intinya. Walaupun pas terus dibaca, oke, ada
poin-poin yang menurutku bagus tentang penulis Indonesia yang tak
lancar berargumentasi tentang karyanya. He has a point. And I agree
with him, karena aku sendiri pernah ngerasain apa yang dia tuliskan.
Tapi untuk kemudian si BoyDiva itu menyebut nama secara langsung
siapa-siapa saja yang ia nilai tak becus berargumentasi, nah...itu yang
membuat aku bilang, "lho, ini kan ukurannya subyektif." "Terus gimana?" kata si pemilik toko buku. "Goenawan marah besar tuh." "Oh ya?"
"Iya, tapi dibela ama Sutardji. Katanya, 'Tenang aja. Kamu masih muda.
Kematianmu tidak akan ada di tangan seorang Goenawan Mohammad.' Pasti
rame abis ini. Liat nanti Minggu depan." Selanjutnya, aku
nggak merhatiin lagi apa yang dikatakan. Kemungkinan besar mereka udah
berganti topik jadi aku nggak merhatiin, atau mungkin karena omongannya
udah nggak kedengeran lagi, tapi aku lupa kenapa aku berhenti ngikutin
pembicaraan itu. Yang pasti sih bukan rasa malu pada diri sendiri
karena udah nguping, heheh. Nah, ramalan teman si pemilik
buku itu ternyata bener. Minggu kemarin, ada tamparan lanjutan. Tapi
yang nulis orang luar. Walaupun topiknya tetep sama; hujatan yang
ditujukan terhadap sebuah komunitas sastra di Indonesia.
Secara pribadi, aku nggak nyangka dan nggak pernah ngira ada sesuatu
'seserius' itu di dunia tulis-menulis. Atau mungkin aku lebih ngerasa
aneh, lha kok penulis jadi ngeributin bagi-bagi kekuasaan di dunia
sastra sih? Atau mereka yang terlalu menganggap diri mereka serius? Walaupun setelah dipikir-pikir lagi, jangan-jangan sosok Ellsworth Toohey itu bener ada di dunia nyata? Dan ada Howard Roark-Howard Roark
yang dijungkalkannya, sementara yang disanjung-sanjungnya hanya sebuah
mediokritas? Karena melihat tulisan kedua hari Minggu kemarin, si
penulis seperti sedang menggambarkan seorang Ellsworth Toohey. Dan
tiba-tiba, paranoia mereka jadi masuk akal buatku. Jadi inget juga ama posting blog yang pernah aku tulis, tentang SCB nggak setuju ama ' Sastrawan yang para sastrawannya self-supporting dalam puji memuji'.
Dan SCB di situ juga beberapa kali menyebut-nyebut 'medioker', salah
satu pesan yang disampaikan di 'The Fountainhead'. Jangan-jangan yang
dia maksud...Oh-oh.
Posted at 10:29 pm by i_artharini
Permalink
Good things come to those who waits. Or those who cries and whines
about it. Apa pun sebabnya, ada sebuah hal baik yang terjadi ke aku.
Yes. Aku akhirnya dipindahin dari kompartemen yang emang udah mati tapi
nggak ada yang mau ngakuin kalo kompartemen itu sebenarnya sudah mati.
Temen sekompartemen juga ikut dipindah, kerja bareng bos lama kita. Dan
keesokannya, SK pindah kompartemen buat si redaktur pun turun. Jadi,
secara resmi, nggak ada woro-woro kompartemen itu diilangin, cuman
personelnya aja yang pada dipindahin.
Udah 10 hari aku ada di kompartemen baru. Menyenangkan sebenarnya punya
sesuatu yang dikerjakan, hal-hal yang harus diberitain, terus kenalan
ama isu-isu baru. Tapi kok rasanya nggak se-ekstatik yang aku bayangkan
ya? Bukan tentang semua itu sih, tapi rasanya lepas dari sebuah
dead-end. Kok...aku nggak langsung ber-yes, yes, yes, yes gitu lho.
Mungkin karena statusnya di SK yang cuma 'diperbantukan' ya? Atau
karena aku ngerasa, this could be taken away from me any given time,
jadi nggak usah berlebihanlah.
Sama kayak kepindahan Denny, perubahan ini "hasn't hit me yet". Atau
memang perubahannya nggak se-mencengangkan itu, makanya aku jadi
tenang-tenang aja?
Tapi pindah kompartemen di tengah-tengah minggu sempat membuat
'rencana-rencana' jadi berantakan. Gara-gara pas beberapa hari
sebelumnya lagi nganggur dan menawarkan diri buat nulis tentang film,
terus sekarang jadi ada tugas liputan sendiri, terpaksa tugas sukarela
nulis filmnya mundur dulu dan membuat waktu pulang ke rumah jadi pas
orang bangun sahur. Terus 'Oliver Twist' yang rencananya udah selesai,
paling lambat, Jumat lalu, eh sampe Kamis malem ini belum selesai.
Alamat sampe weekend ini baru selesai kali. (Jadi menemukan jawaban
kenapa aku bisa mbaca lumayan cepet--buat aku--karena aku, bisa
dibilang, nggak ada activity lain. Thank God, I'm out of that
situation. Cuman harus menyiasati waktu gimana bisa nyelesein rencana
mbaca-mbaca).
Rencana ngambil kursus tapi tetep jalan lah. Walaupun kayaknya
pertemuan pertamanya bakal tabrakan ama jadwal liputan. Tapi, gimana
pun, aku lega.
Posted at 10:13 pm by i_artharini
Permalink
Tuesday, October 10, 2006
I always want to say something like this on how I spend my weekend,
"Oh, I went to this Audrey Hepburn retrospective thingy at that cool
independent movie-theater."
Dan, karena Sabtu-Minggu lalu di Teater Utan Kayu emang abis ada Audrey
Hepburn weekend, aku jadi bisa bilang, "Tau nggak, weekend kemaren di
Utan Kayu ada Audrey Hepburn weekend lhooo."
Tiba-tiba, karena weekend kemarin, Jakarta jadi Stars Hollow-ish.
Dari tujuh film yang diputar sejak Jumat malem, aku cuman nonton tiga
sih, Funny Face, Roman Holiday, ama The Children's Hour. Dua film
lainnya sengaja nggak aku tonton karena udah pernah nonton, My Fair
Lady, ama Breakfast at Tiffany's. Tapi terus sekarang jadi menyesal,
karena, how can there be watching too much of Breakfast at Tiffany's?
Di Funny Face, itu pertama kalinya aku nonton filmnya Fred Astaire, dan
ngeliat dia menari. Aku sekarang jadi ngerti apa yang dimaksud
Katharine Hepburn ketika dia bilang, "Ginger gave Fred sex appeal, Fred
gave Ginger class." Karena Fred Astaire, dialah perwakilan class itu
sendiri. Dari bahasa tubuh, potongan-potongan pakaiannya, jas hujannya,
caranya dia menari, wow, kelas dan keanggunan tuh menetes deras dari
semua elemen sosoknya.
Audrey memang seorang ballerina terlatih, tapi aku awalnya nggak
nyangka dia bakal bisa mengimbangi Astaire. She's a magnificent dancer.
Dan ada sex appeal yang muncul pas Audrey menari di kafe bawah tanah di
Paris. Cara badannya meliuk, aku nggak pernah nyangka kerangka badan
yang boyish dan rapuh itu bisa punya api juga. Benar-benar sebuah
bentuk pelepasan.
Ceritanya sih semi-semi transformasi Cinderella-Ugly Duckling. Cerita
tentang cewek smart pemilik toko buku dan penyuka filsafat tapi
berwajah kurang menarik (halah, Audrey Hepburn gitu lhooo...) ketemu
ama fotografer (Astaire) majalah mode terkenal, Vogue-like, tapi
namanya Quality. Toko bukunya jadi setting buat pemotretan majalah,
tapi si fotografer malah jadi seneng ama si Jo (Hepburn). Fotografer
lalu mengusulkan agar si Jo bisa dijadikan Quality-Woman berikutnya.
Jo, setelah menolak, akhirnya setuju dengan iming-iming ke Paris, biar
dia bisa ketemu ama profesor filsafat kesukaannya.
(Argh, kapan bisa ke Paris lagi yaa?)
Dan, aku baru sadar, I love musical. Setidaknya drama musikal tuh nggak
pernah nggak berhasil membuat aku tersenyum. Sama dengan yang ini.
Plus, melihat Audrey Hepburn berparade kanan kiri dengan baju-baju
rancangan Givenchy? Hah, hah, hah, I'm having a fabulous weekend.
Adegan mereka menari di belakang gereja itu benar-benar perfect,
wedding dress-nya terutama.
Tapi, aku sebel ama orang yang setelah filmnya selesai ngomong: "duh,
lama juga ya, gara-gara nyanyi-nyanyi, nari-nari kayak Bollywood gitu
sih."
Helloooooo. Please deh. Kamu udah sadar kalo kamu bakal nonton filmnya
Audrey Hepburn ama Fred Astaire. Fred Astaiiirreee! Of course you'll
get dancing and singing. First rate dancing, even. Jangan terkejut,
mengeluh-ngeluh seakan kamu nggak tahu apa yang akan kamu dapetin deh.
Sebenernya malam itu mo nonton 'The Unforgiven', film western
sebenernya, tapi yang nyutradarain John Huston. Tapi keburu
diselamatkan dengan ajakan makan di Izzi Pizza.
Minggunya, aku balik lagi ke TUK. Pertama nonton Roman Holiday. Duh,
baru sadar, betapa gantengnya Gregory Peck ya. Dan betapa indahnya
Roma. Huks, for a few hours, aku ngerasa nggak di Jakarta deh..
Terus abis itu nonton The Children's Hour. Nah, film yang kedua ini
menarik nih. Tentang dua guru muda yang mendirikan sekolah khusus anak
perempuan. Satunya Audrey Hepburn, satunya Shirley MacLaine.
Ada satu anak yang bitchy banget, sampai akhirnya si anak, cuman
gara-gara iseng, nyebarin gosip kalo Hepburn dan MacLaine adalah
sepasang kekasih. Semua orang jadi percaya, dan Hepburn-MacLaine kalah
dari tuntutan pencemaran nama baik terhadap nenek si anak bitchy itu.
Terus, ada satu adegan, yang Hepburn-MacLaine mau jalan-jalan, tapi pas
sampai pintu nggak berani keluar karena ada mobil yang berhenti dan
beberapa orang di dalamnya ngeliat-ngeliat ke arah sekolah, membahas
dan menunjuk-nunjuk.
Nah, pasangan yang duduk di sebelahku, yang udah datengnya telat, terus
ngobrol-ngobrol terus, si ceweknya nanya-nanya terus, pokoknya cukup
mengetes kesabaran di saat puasa deh. Pasangan ini, si cowoknya,
komentar, "ih, di luar negeri coba masih kayak gitu."
Helloooooooooooooo. Please deh, liat aja itu settingnya tahun berapa.
Rock Hudson aja baru coming out of the closet pas dia ketahuan kena
AIDS. Liat dong, ini kota kecil. Liat dong, posisi dua perempuan itu
sebagai guru untuk anak-anak perempuan. Mungkin di era keterbatasan
informasi kayak gitu, pandangan mereka tentang sekolah itu dan
Neverland tempat anak-anak kecil berbagi tempat tidur dengan Michael
Jackson jadi nggak jauh beda. DAN, tujuannya film ini kan emang mau
nunjukin kekuatan sebuah rumor anak kecil bisa menghancurkan reputasi
dua guru itu. Please people, use your head and think. Apresiasinya
jangan cuma segitu-segitu aja dong.
Ada kutipan yang bagus dari line-nya Hepburn, tapi aku lupa tepatnya.
Intinya sih, setelah gosip tersebar dan reputasi mereka hancur, Hepburn
bilang, "there is no safe word anymore. Woman, friend, love, unnatural,
everything has a new meaning."
Pas jaman-jaman kuliah aku sempet ngeliat acara BBC Talking Movies dan
dibahas sebuah film dokumenter tentang para movie addict, mereka-mereka
yang janjian kumpul tengah hari di hari kerja hanya buat nonton
mattinee-nya Breakfast at Tiffany's. Terus ada potongan shot-nya, yang
mereka abis nonton Breakfast at Tiffany's, credit title-nya masih jalan
diiringin 'Moon River', terus pelan-pelan lampu di bioskopnya mulai
menyala, dan orang-orang itu saling melihat satu sama lain dengan
tersenyum, kayak bilang, "wow. Did you see it too, the magic that I
just saw?"
Terus, setelah keluar dari bioskop mereka ngomong, "It's still a great movie. Magnificent, etc, etc, etc."
Dan aku inget figur mereka. Karakteristiknya. Slightly overweight,
fashionably challenged, wearing outdated thick glasses. Oh my God. I'm
one of them.
Posted at 02:36 pm by i_artharini
Permalink
Monday, October 02, 2006
"Sometimes it's interesting to see just how bad 'bad writing' can be. This promised to go the limit.
"
(Joe Gillis, Sunset Boulevard - 1950)
Hari ini sempet mbaca-mbaca lagi buku yang udah aku beli sejak dua
tahun lalu, judulnya "Cukup Beranikah Anda Untuk Kreatif?"
Kedengerannya emang agak bernada self-help, tapi ada poin-poin di
ringkasannya yang memang sedang aku cari jawabannya. Dan buku ini
berjanji menjawabnya.
Tentang penulisnya, Rollo May, di sampul depan buku ditulis: pakar
psikologi eksistensial. Hmm, 'pakar' tak lagi sebuah label yang
membuatku percaya dengan mudah, dan setelah browsing Amazon sebentar,
okelah...mungkin yang satu ini bisa disebut pakar.
Tapi, sebelum terpengaruh sama review Amazon, aku udah menikmati buku
ini. Terutama dari contoh-contoh 'orang-orang kreatif' yang disebutnya
dan dihubungkan dengan makna keberanian. Referensi mulai dari Camus,
Sartre, Cezanne, Aleksander Solzhenitsyn, sampai puisinya...TS Elliot
kalo nggak salah (atau Dylan Thomas ya? Aku agak lupa yang bagian itu);
lengkap.
Mungkin memang genre-nya tetap self-help, tapi yang ini kerasanya kayak
buku-buku filsafat 'pop'-nya Alain de Botton, cuman lebih tipis. Dan
kalo pun genre-nya tetap self-help, nah, inilah contoh buku self-help
yang ideal.
Aku beli buku ini pas jaman-jaman baru pertama balik, terus ide untuk
'berkreasi' lagi kencang. Aku merasa cukup berani lah pas masa itu.
Walaupun ternyata hasilnya juga nggak segitu hebohnya. Sekarang sih
keberanian itu udah hilang. Entah terjebak dalam rutinitas atau
kehampaan hidup manusia modern (tsaaahhh...gayamu lho, Nar!)
Anyway, kemarin abis mbaca wawancaranya Juliette Lewis (ya, si aktris
dan mantan pacar Brad Pitt) di The Guardian tentang membuat musik dan
nge-band. Katanya, singkatnya sih, keinginan untuk bermusik itu selalu
ada di dirinya, tapi selalu ditunda-tunda karena dia takut dengan
hasilnya. Tapi sekarang, keinginan untuk bermusik itu jadi besaaaar
banget, sampai mengalahkan rasa takutnya.
Jadi, itukah yang harus aku lakukan? Menunggu sampai keinginan itu
menumpuk dan mengalahkan rasa takut? Enggak, kan? Menulis ya menulis.
Tapi, aku masih takut.
Oh ya. Akhir pekan kemarin dihabiskan dengan menonton 'Sunset
Boulevard'. Sabtu kemarin adalah salah satu siang/sore yang membuat aku
bertanya, "duh, nggak ada film lama diputer di tivi ya yang cocok buat
siang/sore weekend kayak gini?"
Dan keinget, eh, ada 'Sunset Boulevard' di atas. Sama ada 'Chitty
Chitty Bang Bang' yang belum ditonton. Atau, ya nonton ulang 'My Fair
Lady' ("The rain in Spain stays mainly in the plaiinnn....").
'Sunset..' ternyata mengagumkan sekali. Dan ternyata aku juga punya
'The Birds'-nya Hitchcock. Oke, weekend ini, a Gilmore-style movie
night can be on the way. (Hmm, pengen jadi anggotanya Subtitles lagi
deh)
Kutipan di atas? Ah, cuman sejenis self-mockery aja. Tentang ketakutanku akan kualitas tulisanku.

Posted at 07:55 pm by i_artharini
Permalink
Thursday, September 28, 2006
Ah, tiba-tiba jadi keinget lagi ama kata itu beberapa waktu lalu, pas
nonton 'Gilmore Girls'. Gara-gara Lorelai rencana menghabiskan malamnya
dengan duduk di rumah malam demi malam, memesan Chinese food, dan
menonton film-film lama.
(What? That's spinster-y? That's what I've been planning to do once I
have my own place. Of course, it's important to find the DVD rental
with vast selections of 'old movies') Oke, nggak usah
jauh-jauh ngelihat ke masa depan yang belum jelas batasnya, saat aku
punya 'tempatku' sendiri. Sekarang aja, saat 'tempatku' sendiri adalah
kamar di loteng di rumah orangtuaku, aku sudah bisa membayangkan
beberapa tahun ke depan sebagai spinster. Aku udah punya buku-bukunya, tinggal nyari kucingnya aja kali ya.
Hmm, kekhawatiran ini sih sebenarnya sudah punya bibit sejak...aku lupa
tepatnya kapan. Tapi ada percakapan baru-baru ini dengan ibuku yang
membuatku kembali merasa khawatir. Walaupun, khawatir mungkin bukan
kata yang tepat, karena aku sekarang sebenernya udah di tahap
'menerima' (nasib? Takdir?) sebagai spinster. Beberapa hari
lalu, aku cerita ke ibuku tentang this particularly hilarious quote
that my sister said. Jadi, televisi sedang menyala, menayangkan suatu
acara infotainment. Ceritanya tentang kehamilan, baju hamil, kebiasaan
hamil para selebritis cewek. Salah satunya, Cornelia Agatha. Dia cerita
tentang kebiasaannya sekarang, "ya nulis lagu, main piano, ngelukis,
etc, etc...(insert art-y activities here)". Dan adikku, si
perempuan muda yang semakin lama semakin cerdas dan sinis dengan
kata-kata sampe membuatku terkagum-kagum tanpa henti, tanpa terlihat
mikir, sambil ngisi gelasnya di dispenser air mineral, dan dengan nada
'lurus', "Yeah, you're pregnant and you're suddenly multi-talented." Jenius.
Nah, cerita itu aku ceritain ke ibuku, dan tetep, aku ketawa tanpa
henti. So does my mom. She seems really enjoying it. Ketawa tertahan,
tapi tetap terkagum-kagum. Dan dia memberikan pujiannya atas kejeniusan
kata-kata si adik. Tapi, tetep sambil ketawa, menambahkan,
"Duh, girls. Kalian tuh jangan sinis-sinis lho. Nanti cowok-cowok pada
takut, pada males sama kalian." Kata-kata adikku tuh secerdas itu, sampai aku tetap terhibur dan hanya sedikit kesal dengan kata-kata ibuku.
Haruskah aku memberinya contoh? Jane Eyre? Dia kan dengan segala
kekurangannya, tapi dengan kecerdasannya bisa ngedapetin Mr Rochester.
Oke, Jane Austen? Itu kan contoh nyata. She's witty and cynical, and a
spinster. So it's not that bad being a spinster. Terus, Dorothy Parker?
Yang bukan hanya sinis, tapi sampai level yang acidic bitchy-nya. Bukan
hanya suami resmi, tapi juga selingkuhan. Terus, Kate Hepburn?
"Katharine of Arrogance" itu bisa ngedapetin Howard Hughes juga kok.
(Although, on second thoughts, memiliki tulang pipi tinggi dan rambut
merah aku rasa juga berperan besar dalam menarik perhatian Howard
Hughes...) Tapi entah kenapa, keragu-raguan ibuku atas aku
jadi membuat aku agak terganggu. Dan mungkin karena itu juga aku jadi
ngerasa udah menerima nasib (atau takdir? Atau hukuman? Atau berkah?
Siapa tau kan...). Dan, melihat caraku hidup sekarang...yeah, it's spinsterhood, alright.
Posted at 09:51 pm by i_artharini
Permalink
Tuesday, September 26, 2006
Jika ada sesuatu yang dinamakan 'Resolusi Ramadhan', resolusiku, pastinya adalah: menghilangkan rasa iri.
Aku pengen bisa lebih stabil, pengen jadi 'the good girl', yang orang
bisa cerita tentang apa pun yang mereka miliki, dapatkan,
kebahagiaan-kebahagiaan mereka tanpa aku harus merasa terancam karena
merasa ada sesuatu yang hilang dan iri. Aku pengen nggak terpengaruh
ama apa yang mereka capai atau dapat. Aku nggak pengen ngerasa upset. I
just want to feel genuinely happy for them. Tulus, ikut bahagia, tanpa
syarat. Dan tidak merasa, "hey, I want that too".
Aku ngerasa belum dewasa banget ketika ada temen-temen yang sudah
dengan santai bisa be cool about others' achievement, sementara aku
masih berkubang di rasa iri yang...yah, big surprise-lah kalo ada
rewardnya.
Tapi, aku sendiri masih belum bisa memformulasikan apa itu 'iri' dan
apa itu yang bukan 'iri'. Maksudnya, apa itu artinya aku sama sekali
tidak menginginkan apa yang didapat oleh orang lain? Tapi aku juga
nggak pengen berada dalam kondisi yang tidak menginginkan apa-apa; kalo
nggak pengen apa-apa, aku bakal ngerasa puas dengan gini-gini aja dong,
dan aku nggak pengen udah merasa puas dengan ini.
Singkatnya ini aja kali ya, aku pengen, orang bisa ngerasa nyaman
ketika mereka cerita sama aku tentang kebahagiaan terakhir mereka,
rejeki terakhir mereka, dan ikut secara tulus bahagia buat mereka. Tapi
aku belum bisa menjawab pertanyaan selanjutnya, "apakah aku bisa secara
tulus bahagia buat mereka ketika aku juga menginginkan apa yang mereka
dapatkan?"
Entah kenapa, aku yakin dari pengalaman-pengalaman terdahulu, aku bisa
kok ikut berbahagia buat mereka. Masalahnya, kenapa sekarang itu jadi
susah banget ya?
Posted at 04:06 pm by i_artharini
Permalink
Monday, September 25, 2006
Hurrah! Finished my 40th book this year, last Saturday in fact. 'Wide
Sargasso Sea'. Buku yang aku beli pas closing sale-nya QB Plaza
Semanggi dan aku beli karena aku punya 'Jane Eyre'.
Jadi, aku baru menemukan satu pola lagi membaca yang (mungkin) bisa
meningkatkan efektivitas. Haduh, bahasanya itu lho. Anyway, pola itu
sih namanya 'intertekstualitas'. Dan kayaknya, this might be it; pola
membaca yang sesuai buat aku dalam men-tackle koleksi buku yang udah
semakin mekar dan biar aku nggak asal ngambil juga, dan biar
pemaknaannya nggak sekadarnya juga sih. Oke, tentang intertekstualitas
sendiri sih maksudnya memilih buku-buku dengan tema yang berhubungan
dekat, kayak contohnya 'Jane Eyre' ama 'Wide Sargasso Sea'.
'Wide Sargasso Sea' yang rilis tahun 1966 memposisikan diri sebagai
prekuel dari 'Jane Eyre'; bercerita tentang siapa dan asal mula si
perempuan gila di loteng. Yang nulis penulis lain tentunya, dan Jean
Rhys memiliki alasan yang cukup legit
untuk memberi pemaknaan lain atas sosok madwoman in the attic itu.
Alasan utamanya sih menurutku karena latar belakang budaya dan
asal-usul yang sama dari Antoinette/Bertha Mason dengan Rhys sendiri.
Antoinette/Bertha yang besar di Jamaika dan dipindah ke Inggris yang
dingin dan steril akan merasa suatu keterasingan, lalu belum lagi
status pernikahannya dengan Rochester yang lebih sebagai jual beli dari
pada pernikahan. Belum lagi penjelasan atas kegilaan yang degeneratif
dan a hint of racism di 'Jane Eyre' tentang penggambaran sosok Bertha
Mason.
Buat aku, memang jadi ada suatu sisi cerita lain tentang Bertha. Aku
nggak tau apa kata tepatnya untuk memberi suatu penilaian positif untuk
adanya cerita tentang Bertha. 'Lebih baik'? Bisa sih. Tapi ceritanya
Bertha ternyata tragis. Jadi apakah lebih baik mengetahui cerita yang
tragis itu atau tidak? 'Melegakan'? Mungkin juga bisa. Tapi cerita
tentang Bertha diceritakan dengan cara yang menyesakkan. Nggak ada
sedikit pun nada 'harapan' di buku itu. Berawal dari kesedihan, terus
menurun sampai menjadi sesuatu yang tragis. Gimana bisa ada orang
se-tidak beruntung Bertha? Benar-benar buku yang membuat depresi. Belum
lagi cara tiap karakternya bertutur, 2/3nya dihabiskan dengan cara yang
terbata-bata, lalu ada pula tipisnya batas kenyataan-rumor-khayalan;
semuanya digabung, kesan yang tercipta jadi menyesakkan.
Bukunya nggak tebel, cuma 123 halaman, tapi nembus bukunya itu susah.
It's pretty dense. Struktur, penokohan, kata-kata yang diucapkan sih
memang masih jelas banget, cuman, ya itulah...menyesakkannya itu lho
yang membuatku susah nembus.
Anyway, dalam menggunakan pola intertekstualitas itu, setelah 'Wide
Sargasso Sea' selesai sih maksudnya mau berlanjut ke 'Rebecca'. Ada
kesamaan tema dengan 'Jane Eyre', seorang governess yang polos dan naif
menikah dengan sosok lelaki yang gelap, murung, misterius, dan
menemukan misteri-misteri tentang mantan istrinya yang ada cerita
tragis-tragisnya juga, dan setting lokasi yang kuat. Di 'Jane Eyre',
settingnya Thornfield, 'Rebecca' di Manderlay.
Tapi, sekarang malah lagi mbaca 'The African Queen'. Gara-garanya,
setelah JE, aku mbaca 'Kate Remembered' biar agak rileks sedikit, tapi
terus inget...aku punya 'The African Queen' dengan Katharine Hepburn
dan Humphrey Bogart di sampulnya. Oh iya, mereka kan pernah main di
versi filmnya. Ya sudahlah, since Kate Hepburn is a rarity here, aku
cuman bisa membayangkan Hepburn sebagai Rosie Sayer di 'The African
Queen'.
Setelah dua peta itu selesai dijalanin, I'm thinking of going the
socialite map, jadi..Vanity Fair, novel-novelnya Edith Wharton,
Bel-Ami, terus F Scott Fitzgerald kali ya, sebelum akhirnya membuat
cabang peta baru ke 1920s writers yang bermuara ke Gertrude
Stein--gurunya Hemingway dan Fitzgerald--dengan 'The Autobiography of
Alice B Toklas'.
Dan oh, I'm also thinking about 'short story ladies', diawali dari
Alice Munro mungkin, terus berlanjut ke Collected Short Storiesnya
Katherine Ann Porter yang dibaca back-to-back ama Collected Short
Storiesnya Eudora Welty (mereka saling mengagumi ternyata, dan Porter
adalah mentornya Welty), sebelum lanjut ke novel-novelnya Welty sampai
ke Faulkner yang sama-sama Southern Writers. Hah! Jadi inget, dari situ
kan bisa ke Carson McCullers...
(Ough, I'm definitely going to be a spinster...)
Posted at 07:37 pm by i_artharini
Permalink
|
|
|