PENARI MUNGIL


(Saya bukan seorang penari. Pun sangat jauh dari mungil. Tapi, tahu kan adegan 'Tiny Dancer' di 'Almost Famous'? Sensasi membahagiakan dari adegan itulah yang saya kejar..)



Hold me closer, tiny dancer

Count the headlights on the highway

Lay me down in sheets of linen

You had a busy day, today


("Tiny Dancer" - Elton John)





"...the quest for transcendence has always been closely linked to the ecstatic release of dancing."
(Resensi RollingStone atas sebuah album pop)

Mr. Darcy: "So what do you recommend, to encourage affection?"
Elizabeth Bennet: "Dancing, even if one's partner is only tolerable."
(Pride & Prejudice, 2005)


perempuan, 1983, lovesick soul, berjalan kaki, belajar menulis, menonton film, ingin keliling dunia, Billie Holliday, Jane Austen, 'Franny and Zooey', cerita pendek F Scott Fitzgerald, lagu-lagu sedih, kecanduan membeli buku second, deretan buku di lemari, berkeliling dengan bis kota, mengepak koper, menari bebas, Vogue, sepatu, bad boys, kopi, kuliner, foto, semua yang vintage, genggaman tangan, pelukan hangat, detil percakapan antara manusia, kegelisahan, kesepian, ruang pencarian, belajar dewasa, museum dan bangunan tua, hari hujan, sinar matahari hangat di hari berangin, airport, stasiun kereta, dan pertanyaan tanpa akhir

YM: isyana_artharini
Email: i.artharini@gmail.com
   

<< November 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Friday, October 27, 2006
Gaji

Gaji kok ya cuma abis buat mbayar cicilan-cicilan sih?

THR plus bayaran gaji yang dipercepat bulan November cuman bisa mbuat ngelunasin cicilan laptop. Ffiuh. Dua utang selesai tahun ini. Tapi, huks, kayaknya ngambil cicilan ketiga nggak bisa dihindari deh, karena mau ngikut short course yang lumayan price-y.

Bener-bener cuma gali lubang, tutup lubang. Sekarang-sekarang mungkin masih nggak kenapa-napa filosofi hidup kayak gitu, tapi buat tiga tahun ke depan, lima tahun ke depan?

Menjawab pertanyaan mau kerja apa aja kok kayaknya susah banget. Eits, bentar, kayaknya sih udah ketemu. Cuman belum yakin aja kan?

Tunggu sebentar, jangan-jangan kayak gini ini salah satu sumber 'kemarahan' kelas menengah? Tapi, ada gitu 'kemarahan' kelas menengah? Sorry, topik itu nggak pernah bisa aku anggap serius. Walaupun menarik buat dijadiin tema sebuah cerita atau novel.


Currently reading:
How to Breathe Underwater: Stories
By Julie Orringer



Posted at 09:48 pm by i_artharini
Make a comment  

Thursday, October 19, 2006
Mencuri Dengar

Sebuah liputan tentang ajang kompetisi film dokumenter dari stasiun televisi adik koran tempatku bekerja membawaku ke kawasan Cikini. Liputannya di Menteng Huis, ngetik dan ngirim beritanya di TIM. Duh, udah lama banget deh nggak ke sana. Lebih karena males menerjang macet menuju ke situ dari kantor. Terus kalo mau dateng pas nggak ada acara kok ya juga kayaknya kurang kerjaan gitu. Walaupun sebenernya emang iya.

Anyway. Pas udah selesai ngetik di tempat yang rame banget ama anak-anak main game (Huh. Aku pengen punya PDA or hp yang bisa buat ngetik dan ngirim berita deh..), aku memutuskan mampir ke toko buku pojokan TIM.

Ngeliat sosok yang muiiiiriiiiippp banget ama Prasma. Kacamatanya, posturnya, caranya nyeklek-nyeklek tangan, caranya berdiri, caranya pakai baju, tinggi dan lebar badan, wuah plek deh. Sampe aku kaget sendiri, curi-curi liat, jangan-jangan Prasma beneran di Jakarta. Tapi langsung menepis anggapan itu, ketika ngeliat...oh orang ini ternyata cowok tho. (Sorry, Pras. But he really really really really really looks like you) Ternyata setelah pura-pura ngeliat lagi, dia kayaknya salah satu anggota band SORE deh.

Nemu DVD-nya "2001: A Space Odyssey", "Ran"-nya Akira Kurosawa, sama sengaja beli "Scarface". Pas mbayar, dengan wajah minta maaf banget, aku ngeluarin duit pecahan 100 ribu, karena aku emang belum mecah duit lagi. Terpaksalah mas-nya nyuruh asistennya menukar duit itu. Sambil nunggu kembalian, duduklah di kursi depan toko, sambil kipas-kipas, karena cuacanya panaaaas banget.

Eh, tiba-tiba datanglah si pemilik toko nan legendaris itu, yang suka ngelatih teaternya anak-anak, dan sering nganter misi teater anak-anak itu ke luar negeri. Dia duduk di depanku, basa-basi sebentar karena dia mau makan sebungkus nasi goreng, dan aku berkomentar tentang suhu udara, sebelum akhirnya dia melihat seorang temannya dan mengajak si teman ini ngobrol. Uang kembalianku akhirnya dateng. Tapi aku masih memutuskan muter-muter di toko itu.

Aku udah mau masuk lagi ke dalam toko sampai teman si pemilik buku ngomong, "Lho itu kan udah dimuat di Media Indonesia." Wait, what was published? Dan aku berjalan pelan-pelan ke lemari buku deket dua orang itu, pura-pura mbalik-mbalik buku 'About The Kinsey Report'.

"Iya. Udah ditulis ama si Chavcay tuh hari Minggu kemarin," kata si teman pemilik toko buku. Oh, oh, oh, oh. Sekarang aku tahu tulisan mana yang dimaksud. Sebuah artikel yang menurutku, haduuhh, awalnya ngawur banget sih nulisnya. Fokus, please, fokus. Kayak nggak ada intinya. Walaupun pas terus dibaca, oke, ada poin-poin yang menurutku bagus tentang penulis Indonesia yang tak lancar berargumentasi tentang karyanya. He has a point. And I agree with him, karena aku sendiri pernah ngerasain apa yang dia tuliskan.

Tapi untuk kemudian si BoyDiva itu menyebut nama secara langsung siapa-siapa saja yang ia nilai tak becus berargumentasi, nah...itu yang membuat aku bilang, "lho, ini kan ukurannya subyektif."

"Terus gimana?" kata si pemilik toko buku.
"Goenawan marah besar tuh."
"Oh ya?"
"Iya, tapi dibela ama Sutardji. Katanya, 'Tenang aja. Kamu masih muda. Kematianmu tidak akan ada di tangan seorang Goenawan Mohammad.' Pasti rame abis ini. Liat nanti Minggu depan."

Selanjutnya, aku nggak merhatiin lagi apa yang dikatakan. Kemungkinan besar mereka udah berganti topik jadi aku nggak merhatiin, atau mungkin karena omongannya udah nggak kedengeran lagi, tapi aku lupa kenapa aku berhenti ngikutin pembicaraan itu. Yang pasti sih bukan rasa malu pada diri sendiri karena udah nguping, heheh.

Nah, ramalan teman si pemilik buku itu ternyata bener. Minggu kemarin, ada tamparan lanjutan. Tapi yang nulis orang luar. Walaupun topiknya tetep sama; hujatan yang ditujukan terhadap sebuah komunitas sastra di Indonesia.

Secara pribadi, aku nggak nyangka dan nggak pernah ngira ada sesuatu 'seserius' itu di dunia tulis-menulis. Atau mungkin aku lebih ngerasa aneh, lha kok penulis jadi ngeributin bagi-bagi kekuasaan di dunia sastra sih? Atau mereka yang terlalu menganggap diri mereka serius?

Walaupun setelah dipikir-pikir lagi, jangan-jangan sosok Ellsworth Toohey itu bener ada di dunia nyata? Dan ada Howard Roark-Howard Roark yang dijungkalkannya, sementara yang disanjung-sanjungnya hanya sebuah mediokritas? Karena melihat tulisan kedua hari Minggu kemarin, si penulis seperti sedang menggambarkan seorang Ellsworth Toohey. Dan tiba-tiba, paranoia mereka jadi masuk akal buatku.

Jadi inget juga ama posting blog yang pernah aku tulis, tentang SCB nggak setuju ama 'Sastrawan yang para sastrawannya self-supporting dalam puji memuji'. Dan SCB di situ juga beberapa kali menyebut-nyebut 'medioker', salah satu pesan yang disampaikan di 'The Fountainhead'. Jangan-jangan yang dia maksud...Oh-oh.

Posted at 10:29 pm by i_artharini
Make a comment  

Pindah

Good things come to those who waits. Or those who cries and whines about it. Apa pun sebabnya, ada sebuah hal baik yang terjadi ke aku. Yes. Aku akhirnya dipindahin dari kompartemen yang emang udah mati tapi nggak ada yang mau ngakuin kalo kompartemen itu sebenarnya sudah mati.

Temen sekompartemen juga ikut dipindah, kerja bareng bos lama kita. Dan keesokannya, SK pindah kompartemen buat si redaktur pun turun. Jadi, secara resmi, nggak ada woro-woro kompartemen itu diilangin, cuman personelnya aja yang pada dipindahin.

Udah 10 hari aku ada di kompartemen baru. Menyenangkan sebenarnya punya sesuatu yang dikerjakan, hal-hal yang harus diberitain, terus kenalan ama isu-isu baru. Tapi kok rasanya nggak se-ekstatik yang aku bayangkan ya? Bukan tentang semua itu sih, tapi rasanya lepas dari sebuah dead-end. Kok...aku nggak langsung ber-yes, yes, yes, yes gitu lho. Mungkin karena statusnya di SK yang cuma 'diperbantukan' ya? Atau karena aku ngerasa, this could be taken away from me any given time, jadi nggak usah berlebihanlah.

Sama kayak kepindahan Denny, perubahan ini "hasn't hit me yet". Atau memang perubahannya nggak se-mencengangkan itu, makanya aku jadi tenang-tenang aja?

Tapi pindah kompartemen di tengah-tengah minggu sempat membuat 'rencana-rencana' jadi berantakan. Gara-gara pas beberapa hari sebelumnya lagi nganggur dan menawarkan diri buat nulis tentang film, terus sekarang jadi ada tugas liputan sendiri, terpaksa tugas sukarela nulis filmnya mundur dulu dan membuat waktu pulang ke rumah jadi pas orang bangun sahur. Terus 'Oliver Twist' yang rencananya udah selesai, paling lambat, Jumat lalu, eh sampe Kamis malem ini belum selesai. Alamat sampe weekend ini baru selesai kali. (Jadi menemukan jawaban kenapa aku bisa mbaca lumayan cepet--buat aku--karena aku, bisa dibilang, nggak ada activity lain. Thank God, I'm out of that situation. Cuman harus menyiasati waktu gimana bisa nyelesein rencana mbaca-mbaca).

Rencana ngambil kursus tapi tetep jalan lah. Walaupun kayaknya pertemuan pertamanya bakal tabrakan ama jadwal liputan. Tapi, gimana pun, aku lega.

Posted at 10:13 pm by i_artharini
Make a comment  

Tuesday, October 10, 2006
Audrey Hepburn Weekend

I always want to say something like this on how I spend my weekend, "Oh, I went to this Audrey Hepburn retrospective thingy at that cool independent movie-theater."

Dan, karena Sabtu-Minggu lalu di Teater Utan Kayu emang abis ada Audrey Hepburn weekend, aku jadi bisa bilang, "Tau nggak, weekend kemaren di Utan Kayu ada Audrey Hepburn weekend lhooo."

Tiba-tiba, karena weekend kemarin, Jakarta jadi Stars Hollow-ish.

Dari tujuh film yang diputar sejak Jumat malem, aku cuman nonton tiga sih, Funny Face, Roman Holiday, ama The Children's Hour. Dua film lainnya sengaja nggak aku tonton karena udah pernah nonton, My Fair Lady, ama Breakfast at Tiffany's. Tapi terus sekarang jadi menyesal, karena, how can there be watching too much of Breakfast at Tiffany's?

Di Funny Face, itu pertama kalinya aku nonton filmnya Fred Astaire, dan ngeliat dia menari. Aku sekarang jadi ngerti apa yang dimaksud Katharine Hepburn ketika dia bilang, "Ginger gave Fred sex appeal, Fred gave Ginger class." Karena Fred Astaire, dialah perwakilan class itu sendiri. Dari bahasa tubuh, potongan-potongan pakaiannya, jas hujannya, caranya dia menari, wow, kelas dan keanggunan tuh menetes deras dari semua elemen sosoknya.

Audrey memang seorang ballerina terlatih, tapi aku awalnya nggak nyangka dia bakal bisa mengimbangi Astaire. She's a magnificent dancer. Dan ada sex appeal yang muncul pas Audrey menari di kafe bawah tanah di Paris. Cara badannya meliuk, aku nggak pernah nyangka kerangka badan yang boyish dan rapuh itu bisa punya api juga. Benar-benar sebuah bentuk pelepasan.

Ceritanya sih semi-semi transformasi Cinderella-Ugly Duckling. Cerita tentang cewek smart pemilik toko buku dan penyuka filsafat tapi berwajah kurang menarik (halah, Audrey Hepburn gitu lhooo...) ketemu ama fotografer (Astaire) majalah mode terkenal, Vogue-like, tapi namanya Quality. Toko bukunya jadi setting buat pemotretan majalah, tapi si fotografer malah jadi seneng ama si Jo (Hepburn). Fotografer lalu mengusulkan agar si Jo bisa dijadikan Quality-Woman berikutnya. Jo, setelah menolak, akhirnya setuju dengan iming-iming ke Paris, biar dia bisa ketemu ama profesor filsafat kesukaannya.

(Argh, kapan bisa ke Paris lagi yaa?)

Dan, aku baru sadar, I love musical. Setidaknya drama musikal tuh nggak pernah nggak berhasil membuat aku tersenyum. Sama dengan yang ini. Plus, melihat Audrey Hepburn berparade kanan kiri dengan baju-baju rancangan Givenchy? Hah, hah, hah, I'm having a fabulous weekend. Adegan mereka menari di belakang gereja itu benar-benar perfect, wedding dress-nya terutama.

Tapi, aku sebel ama orang yang setelah filmnya selesai ngomong: "duh, lama juga ya, gara-gara nyanyi-nyanyi, nari-nari kayak Bollywood gitu sih."

Helloooooo. Please deh. Kamu udah sadar kalo kamu bakal nonton filmnya Audrey Hepburn ama Fred Astaire. Fred Astaiiirreee! Of course you'll get dancing and singing. First rate dancing, even. Jangan terkejut, mengeluh-ngeluh seakan kamu nggak tahu apa yang akan kamu dapetin deh.

Sebenernya malam itu mo nonton 'The Unforgiven', film western sebenernya, tapi yang nyutradarain John Huston. Tapi keburu diselamatkan dengan ajakan makan di Izzi Pizza.

Minggunya, aku balik lagi ke TUK. Pertama nonton Roman Holiday. Duh, baru sadar, betapa gantengnya Gregory Peck ya. Dan betapa indahnya Roma. Huks, for a few hours, aku ngerasa nggak di Jakarta deh..

Terus abis itu nonton The Children's Hour. Nah, film yang kedua ini menarik nih. Tentang dua guru muda yang mendirikan sekolah khusus anak perempuan. Satunya Audrey Hepburn, satunya Shirley MacLaine.

Ada satu anak yang bitchy banget, sampai akhirnya si anak, cuman gara-gara iseng, nyebarin gosip kalo Hepburn dan MacLaine adalah sepasang kekasih. Semua orang jadi percaya, dan Hepburn-MacLaine kalah dari tuntutan pencemaran nama baik terhadap nenek si anak bitchy itu.

Terus, ada satu adegan, yang Hepburn-MacLaine mau jalan-jalan, tapi pas sampai pintu nggak berani keluar karena ada mobil yang berhenti dan beberapa orang di dalamnya ngeliat-ngeliat ke arah sekolah, membahas dan menunjuk-nunjuk.

Nah, pasangan yang duduk di sebelahku, yang udah datengnya telat, terus ngobrol-ngobrol terus, si ceweknya nanya-nanya terus, pokoknya cukup mengetes kesabaran di saat puasa deh. Pasangan ini, si cowoknya, komentar, "ih, di luar negeri coba masih kayak gitu."

Helloooooooooooooo. Please deh, liat aja itu settingnya tahun berapa. Rock Hudson aja baru coming out of the closet pas dia ketahuan kena AIDS. Liat dong, ini kota kecil. Liat dong, posisi dua perempuan itu sebagai guru untuk anak-anak perempuan. Mungkin di era keterbatasan informasi kayak gitu, pandangan mereka tentang sekolah itu dan Neverland tempat anak-anak kecil berbagi tempat tidur dengan Michael Jackson jadi nggak jauh beda. DAN, tujuannya film ini kan emang mau nunjukin kekuatan sebuah rumor anak kecil bisa menghancurkan reputasi dua guru itu. Please people, use your head and think. Apresiasinya jangan cuma segitu-segitu aja dong.

Ada kutipan yang bagus dari line-nya Hepburn, tapi aku lupa tepatnya. Intinya sih, setelah gosip tersebar dan reputasi mereka hancur, Hepburn bilang, "there is no safe word anymore. Woman, friend, love, unnatural, everything has a new meaning."

Pas jaman-jaman kuliah aku sempet ngeliat acara BBC Talking Movies dan dibahas sebuah film dokumenter tentang para movie addict, mereka-mereka yang janjian kumpul tengah hari di hari kerja hanya buat nonton mattinee-nya Breakfast at Tiffany's. Terus ada potongan shot-nya, yang mereka abis nonton Breakfast at Tiffany's, credit title-nya masih jalan diiringin 'Moon River', terus pelan-pelan lampu di bioskopnya mulai menyala, dan orang-orang itu saling melihat satu sama lain dengan tersenyum, kayak bilang, "wow. Did you see it too, the magic that I just saw?"

Terus, setelah keluar dari bioskop mereka ngomong, "It's still a great movie. Magnificent, etc, etc, etc."

Dan aku inget figur mereka. Karakteristiknya. Slightly overweight, fashionably challenged, wearing outdated thick glasses. Oh my God. I'm one of them.

Posted at 02:36 pm by i_artharini
Make a comment  

Monday, October 02, 2006
Takut

"Sometimes it's interesting to see just how bad 'bad writing' can be. This promised to go the limit. "

(Joe Gillis, Sunset Boulevard - 1950)


Hari ini sempet mbaca-mbaca lagi buku yang udah aku beli sejak dua tahun lalu, judulnya "Cukup Beranikah Anda Untuk Kreatif?" Kedengerannya emang agak bernada self-help, tapi ada poin-poin di ringkasannya yang memang sedang aku cari jawabannya. Dan buku ini berjanji menjawabnya.

Tentang penulisnya, Rollo May, di sampul depan buku ditulis: pakar psikologi eksistensial. Hmm, 'pakar' tak lagi sebuah label yang membuatku percaya dengan mudah, dan setelah browsing Amazon sebentar, okelah...mungkin yang satu ini bisa disebut pakar.

Tapi, sebelum terpengaruh sama review Amazon, aku udah menikmati buku ini. Terutama dari contoh-contoh 'orang-orang kreatif' yang disebutnya dan dihubungkan dengan makna keberanian. Referensi mulai dari Camus, Sartre, Cezanne, Aleksander Solzhenitsyn, sampai puisinya...TS Elliot kalo nggak salah (atau Dylan Thomas ya? Aku agak lupa yang bagian itu); lengkap.

Mungkin memang genre-nya tetap self-help, tapi yang ini kerasanya kayak buku-buku filsafat 'pop'-nya Alain de Botton, cuman lebih tipis. Dan kalo pun genre-nya tetap self-help, nah, inilah contoh buku self-help yang ideal.

Aku beli buku ini pas jaman-jaman baru pertama balik, terus ide untuk 'berkreasi' lagi kencang. Aku merasa cukup berani lah pas masa itu. Walaupun ternyata hasilnya juga nggak segitu hebohnya. Sekarang sih keberanian itu udah hilang. Entah terjebak dalam rutinitas atau kehampaan hidup manusia modern (tsaaahhh...gayamu lho, Nar!)

Anyway, kemarin abis mbaca wawancaranya Juliette Lewis (ya, si aktris dan mantan pacar Brad Pitt) di The Guardian tentang membuat musik dan nge-band. Katanya, singkatnya sih, keinginan untuk bermusik itu selalu ada di dirinya, tapi selalu ditunda-tunda karena dia takut dengan hasilnya. Tapi sekarang, keinginan untuk bermusik itu jadi besaaaar banget, sampai mengalahkan rasa takutnya.

Jadi, itukah yang harus aku lakukan? Menunggu sampai keinginan itu menumpuk dan mengalahkan rasa takut? Enggak, kan? Menulis ya menulis. Tapi, aku masih takut.

Oh ya. Akhir pekan kemarin dihabiskan dengan menonton 'Sunset Boulevard'. Sabtu kemarin adalah salah satu siang/sore yang membuat aku bertanya, "duh, nggak ada film lama diputer di tivi ya yang cocok buat siang/sore weekend kayak gini?"

Dan keinget, eh, ada 'Sunset Boulevard' di atas. Sama ada 'Chitty Chitty Bang Bang' yang belum ditonton. Atau, ya nonton ulang 'My Fair Lady' ("The rain in Spain stays mainly in the plaiinnn...."). 'Sunset..' ternyata mengagumkan sekali. Dan ternyata aku juga punya 'The Birds'-nya Hitchcock. Oke, weekend ini, a Gilmore-style movie night can be on the way. (Hmm, pengen jadi anggotanya Subtitles lagi deh)

Kutipan di atas? Ah, cuman sejenis self-mockery aja.  Tentang ketakutanku akan kualitas tulisanku.


Currently discussing:
The Courage to Create
By Rollo May



Posted at 07:55 pm by i_artharini
Make a comment  

Thursday, September 28, 2006
Spinster

Ah, tiba-tiba jadi keinget lagi ama kata itu beberapa waktu lalu, pas nonton 'Gilmore Girls'. Gara-gara Lorelai rencana menghabiskan malamnya dengan duduk di rumah malam demi malam, memesan Chinese food, dan menonton film-film lama.

(What? That's spinster-y? That's what I've been planning to do once I have my own place. Of course, it's important to find the DVD rental with vast selections of 'old movies')

Oke, nggak usah jauh-jauh ngelihat ke masa depan yang belum jelas batasnya, saat aku punya 'tempatku' sendiri. Sekarang aja, saat 'tempatku' sendiri adalah kamar di loteng di rumah orangtuaku, aku sudah bisa membayangkan beberapa tahun ke depan sebagai spinster.

Aku udah punya buku-bukunya, tinggal nyari kucingnya aja kali ya.

Hmm, kekhawatiran ini sih sebenarnya sudah punya bibit sejak...aku lupa tepatnya kapan. Tapi ada percakapan baru-baru ini dengan ibuku yang membuatku kembali merasa khawatir. Walaupun, khawatir mungkin bukan kata yang tepat, karena aku sekarang sebenernya udah di tahap 'menerima' (nasib? Takdir?) sebagai spinster.

Beberapa hari lalu, aku cerita ke ibuku tentang this particularly hilarious quote that my sister said. Jadi, televisi sedang menyala, menayangkan suatu acara infotainment. Ceritanya tentang kehamilan, baju hamil, kebiasaan hamil para selebritis cewek. Salah satunya, Cornelia Agatha. Dia cerita tentang kebiasaannya sekarang, "ya nulis lagu, main piano, ngelukis, etc, etc...(insert art-y activities here)".
Dan adikku, si perempuan muda yang semakin lama semakin cerdas dan sinis dengan kata-kata sampe membuatku terkagum-kagum tanpa henti, tanpa terlihat mikir, sambil ngisi gelasnya di dispenser air mineral, dan dengan nada 'lurus', "Yeah, you're pregnant and you're suddenly multi-talented."

Jenius.

Nah, cerita itu aku ceritain ke ibuku, dan tetep, aku ketawa tanpa henti. So does my mom. She seems really enjoying it. Ketawa tertahan, tapi tetap terkagum-kagum. Dan dia memberikan pujiannya atas kejeniusan kata-kata si adik.

Tapi, tetep sambil ketawa, menambahkan, "Duh, girls. Kalian tuh jangan sinis-sinis lho. Nanti cowok-cowok pada takut, pada males sama kalian."

Kata-kata adikku tuh secerdas itu, sampai aku tetap terhibur dan hanya sedikit kesal dengan kata-kata ibuku.

Haruskah aku memberinya contoh? Jane Eyre? Dia kan dengan segala kekurangannya, tapi dengan kecerdasannya bisa ngedapetin Mr Rochester. Oke, Jane Austen? Itu kan contoh nyata. She's witty and cynical, and a spinster. So it's not that bad being a spinster. Terus, Dorothy Parker? Yang bukan hanya sinis, tapi sampai level yang acidic bitchy-nya. Bukan hanya suami resmi, tapi juga selingkuhan. Terus, Kate Hepburn? "Katharine of Arrogance" itu bisa ngedapetin Howard Hughes juga kok. (Although, on second thoughts, memiliki tulang pipi tinggi dan rambut merah aku rasa juga berperan besar dalam menarik perhatian Howard Hughes...)

Tapi entah kenapa, keragu-raguan ibuku atas aku jadi membuat aku agak terganggu. Dan mungkin karena itu juga aku jadi ngerasa udah menerima nasib (atau takdir? Atau hukuman? Atau berkah? Siapa tau kan...).

Dan, melihat caraku hidup sekarang...yeah, it's spinsterhood, alright.



Posted at 09:51 pm by i_artharini
Make a comment  

Tuesday, September 26, 2006
Iri

Jika ada sesuatu yang dinamakan 'Resolusi Ramadhan', resolusiku, pastinya adalah: menghilangkan rasa iri.

Aku pengen bisa lebih stabil, pengen jadi 'the good girl', yang orang bisa cerita tentang apa pun yang mereka miliki, dapatkan, kebahagiaan-kebahagiaan mereka tanpa aku harus merasa terancam karena merasa ada sesuatu yang hilang dan iri. Aku pengen nggak terpengaruh ama apa yang mereka capai atau dapat. Aku nggak pengen ngerasa upset. I just want to feel genuinely happy for them. Tulus, ikut bahagia, tanpa syarat. Dan tidak merasa, "hey, I want that too".

Aku ngerasa belum dewasa banget ketika ada temen-temen yang sudah dengan santai bisa be cool about others' achievement, sementara aku masih berkubang di rasa iri yang...yah, big surprise-lah kalo ada rewardnya.

Tapi, aku sendiri masih belum bisa memformulasikan apa itu 'iri' dan apa itu yang bukan 'iri'. Maksudnya, apa itu artinya aku sama sekali tidak menginginkan apa yang didapat oleh orang lain? Tapi aku juga nggak pengen berada dalam kondisi yang tidak menginginkan apa-apa; kalo nggak pengen apa-apa, aku bakal ngerasa puas dengan gini-gini aja dong, dan aku nggak pengen udah merasa puas dengan ini.

Singkatnya ini aja kali ya, aku pengen, orang bisa ngerasa nyaman ketika mereka cerita sama aku tentang kebahagiaan terakhir mereka, rejeki terakhir mereka, dan ikut secara tulus bahagia buat mereka. Tapi aku belum bisa menjawab pertanyaan selanjutnya, "apakah aku bisa secara tulus bahagia buat mereka ketika aku juga menginginkan apa yang mereka dapatkan?"

Entah kenapa, aku yakin dari pengalaman-pengalaman terdahulu, aku bisa kok ikut berbahagia buat mereka. Masalahnya, kenapa sekarang itu jadi susah banget ya?

 

Posted at 04:06 pm by i_artharini
Make a comment  

Monday, September 25, 2006
Wide Sargasso Sea

Hurrah! Finished my 40th book this year, last Saturday in fact. 'Wide Sargasso Sea'. Buku yang aku beli pas closing sale-nya QB Plaza Semanggi dan aku beli karena aku punya 'Jane Eyre'.

Jadi, aku baru menemukan satu pola lagi membaca yang (mungkin) bisa meningkatkan efektivitas. Haduh, bahasanya itu lho. Anyway, pola itu sih namanya 'intertekstualitas'. Dan kayaknya, this might be it; pola membaca yang sesuai buat aku dalam men-tackle koleksi buku yang udah semakin mekar dan biar aku nggak asal ngambil juga, dan biar pemaknaannya nggak sekadarnya juga sih. Oke, tentang intertekstualitas sendiri sih maksudnya memilih buku-buku dengan tema yang berhubungan dekat, kayak contohnya 'Jane Eyre' ama 'Wide Sargasso Sea'.

'Wide Sargasso Sea' yang rilis tahun 1966 memposisikan diri sebagai prekuel dari 'Jane Eyre'; bercerita tentang siapa dan asal mula si perempuan gila di loteng. Yang nulis penulis lain tentunya, dan Jean Rhys memiliki alasan yang cukup legit untuk memberi pemaknaan lain atas sosok madwoman in the attic itu. Alasan utamanya sih menurutku karena latar belakang budaya dan asal-usul yang sama dari Antoinette/Bertha Mason dengan Rhys sendiri. Antoinette/Bertha yang besar di Jamaika dan dipindah ke Inggris yang dingin dan steril akan merasa suatu keterasingan, lalu belum lagi status pernikahannya dengan Rochester yang lebih sebagai jual beli dari pada pernikahan. Belum lagi penjelasan atas kegilaan yang degeneratif dan a hint of racism di 'Jane Eyre' tentang penggambaran sosok Bertha Mason.

Buat aku, memang jadi ada suatu sisi cerita lain tentang Bertha. Aku nggak tau apa kata tepatnya untuk memberi suatu penilaian positif untuk adanya cerita tentang Bertha. 'Lebih baik'? Bisa sih. Tapi ceritanya Bertha ternyata tragis. Jadi apakah lebih baik mengetahui cerita yang tragis itu atau tidak? 'Melegakan'? Mungkin juga bisa. Tapi cerita tentang Bertha diceritakan dengan cara yang menyesakkan. Nggak ada sedikit pun nada 'harapan' di buku itu. Berawal dari kesedihan, terus menurun sampai menjadi sesuatu yang tragis. Gimana bisa ada orang se-tidak beruntung Bertha? Benar-benar buku yang membuat depresi. Belum lagi cara tiap karakternya bertutur, 2/3nya dihabiskan dengan cara yang terbata-bata, lalu ada pula tipisnya batas kenyataan-rumor-khayalan; semuanya digabung, kesan yang tercipta jadi menyesakkan.

Bukunya nggak tebel, cuma 123 halaman, tapi nembus bukunya itu susah. It's pretty dense. Struktur, penokohan, kata-kata yang diucapkan sih memang masih jelas banget, cuman, ya itulah...menyesakkannya itu lho yang membuatku susah nembus.

Anyway, dalam menggunakan pola intertekstualitas itu, setelah 'Wide Sargasso Sea' selesai sih maksudnya mau berlanjut ke 'Rebecca'. Ada kesamaan tema dengan 'Jane Eyre', seorang governess yang polos dan naif menikah dengan sosok lelaki yang gelap, murung, misterius, dan menemukan misteri-misteri tentang mantan istrinya yang ada cerita tragis-tragisnya juga, dan setting lokasi yang kuat. Di 'Jane Eyre', settingnya Thornfield, 'Rebecca' di Manderlay.

Tapi, sekarang malah lagi mbaca 'The African Queen'. Gara-garanya, setelah JE, aku mbaca 'Kate Remembered' biar agak rileks sedikit, tapi terus inget...aku punya 'The African Queen' dengan Katharine Hepburn dan Humphrey Bogart di sampulnya. Oh iya, mereka kan pernah main di versi filmnya. Ya sudahlah, since Kate Hepburn is a rarity here, aku cuman bisa membayangkan Hepburn sebagai Rosie Sayer di 'The African Queen'.

Setelah dua peta itu selesai dijalanin, I'm thinking of going the socialite map, jadi..Vanity Fair, novel-novelnya Edith Wharton, Bel-Ami, terus F Scott Fitzgerald kali ya, sebelum akhirnya membuat cabang peta baru ke 1920s writers yang bermuara ke Gertrude Stein--gurunya Hemingway dan Fitzgerald--dengan 'The Autobiography of Alice B Toklas'.

Dan oh, I'm also thinking about 'short story ladies', diawali dari Alice Munro mungkin, terus berlanjut ke Collected Short Storiesnya Katherine Ann Porter yang dibaca back-to-back ama Collected Short Storiesnya Eudora Welty (mereka saling mengagumi ternyata, dan Porter adalah mentornya Welty), sebelum lanjut ke novel-novelnya Welty sampai ke Faulkner yang sama-sama Southern Writers. Hah! Jadi inget, dari situ kan bisa ke Carson McCullers...

(Ough, I'm definitely going to be a spinster...)

Posted at 07:37 pm by i_artharini
Make a comment  

Jane Eyre

(Setelah selesai membaca Jane Eyre hari Senin lalu...)

Aku ngerasa bahwa memikirkan kemungkinan aku lebih suka karakter Jane Eyre daripada karakter Elizabeth Bennett adalah sesuatu yang agak blasphemic. Mungkin kesimpulan bahwa 'Lizzie Bennet adalah all-time favorite character in a book' diambil terlalu cepat, karena aku belum begitu banyak membaca tentang heroin-heroin menarik di dunia perbukuan untuk akhirnya bisa memilih Lizzie sebagai favorit, tapi mungkin juga karena Jane Eyre benar-benar mengesankan.

Ada banyak hal yang berbeda di antara keduanya; yang satu tumbuh dalam keluarga inti yang sangat mendukungnya (walaupun dengan orangtua dan adik-adik yang eksentrik), sementara yang lain dengan keluarga angkat yang menolaknya, lalu membentuk keluarga-keluarga sendiri. Yang satu sopan dan mencoba segala cara untuk tidak menjadi anti-sosial, percaya pada aturan dan norma-norma, sementara yang lain lebih penyendiri, lebih nyaman pada perilaku kasar karena tidak pernah mengharapkan keramahan. Walaupun secara ekonomi Lizzie sedikit lebih beruntung karena kelas sosial yang lebih menguntungkan juga, tapi kemampuan finansial mereka sebenarnya sama-sama terbatas.

Yang pasti, dua-duanya sama-sama merasa ada sesuatu yang lebih buat mereka dari sekedar yang 'dikasih' oleh hidup, sama-sama witty, sama-sama berani jujur ama dirinya sendiri, nggak peduli yang dibilangin orang lain, dan sama-sama jatuh cinta ama Mr-Mr yang jutek, dark, sinis, dan therefore...charming. Mr Darcy dan Mr Rochester.

Dan Mr Rochester pun terasa lebih cerdas daripada Mr Darcy. Lebih jutek pas ngajak omong, tapi lebih talkative. Perdebatan mereka tentang suatu topik bisa jauh lebih panjang dari Lizzie-Darcy dan lebih panas. Berbicara tentang 'panas' yang lain, ya, Jane Eyre kerasa banget lebih passionate, dan lebih sering memunculkan kupu-kupu di perut daripada Pride & Prejudice. Ketika P&P masih bermalu-malu mengungkapkan perasaan dari karakter utama lelaki dan perempuannya, Jane Eyre sudah amat berterus terang, tapi tetap nggak kehilangan kelasnya.

Benar-benar romansa dalam skala yang epik deh.

Tapi, ngomong-ngomong, aku jadi penasaran dengan Bronte sisters. Setidaknya dari novelnya Emily dan Charlotte yang udah aku baca (Wuthering Heights dan Jane Eyre); ada apa ya di pendidikan mereka yang membolehkan mereka untuk jujur seperti itu terhadap perasaan? Ada gelombang passion yang sama kuatnya di dua novel itu. Sesuatu yang agak ditahan dalam novel-novel Austen, yang ketika dibandingkan dengan mereka jadi terasa steril, higienis, rasional, dan (ahem, please excuse myself) agak...dangkal.

But, no, no. I don't want to feel like that about Austen. This is Austen, Jane Austen. Aku lagi ngerasa berdosa banget nih berpikir kayak gitu tentang Austen. Well, mungkin sama kayak orang beragama kali ya, nggak terima kalo ada yang bilang bahwa sesuatu yang dia percaya selama ini ternyata...tidak salah sih, cuman ada yang lebih baik. Tapi aku kan nggak percaya dengan lebih baik-lebih jelek, tapi pada adanya 'perbedaan'. Jadi?

Hmm, sepertinya aku dan Austen sedang berada di tahap hubungan yang...'is she the one? Is she not the one? Apakah aku masih bisa belanja-belanja kanan kiri lagi?' dan hopefully, semoga, akhirnya aku bisa kembali lagi Austen, walaupun mungkin dalam fungsi yang berbeda. Mungkin bukan lagi the best, tapi mungkin sebagai penulis yang aku andalkan saat aku pengen detox, merasakan cita rasa yang sederhana, something that can make me happy all the time kali ya?  

Posted at 06:30 pm by i_artharini
Make a comment  

Sanctuary Baru

Dari liputan peluncuran buku Jumat kemarin, aku jadi sadar, hah, dua tahun di Jakarta, dan aku akhirnya menemukan 'American Book Center'-ku. Well, setidaknya pengganti American Book Center yang setelah mengunjungi, rasanya sama kayak abis ngunjungin the actual American Book Center. Tempatnya? Kinokuniya Plaza Senayan. Well, no surprise there, itu cuma masalah mencari tempat di mana buku-buku impor ditemukan dalam jumlah banyak sih.

Mungkin karena pas aku ke sana, aku menemukan banyak buku yang pengen dibeli, tapi nggak punya duit buat membelinya, dan itu menimbulkan rasa yang sama seperti saat browsing-browsing 3 jam di ABC, hehe. Tapi kemarin sempet nemu 1001 Books To Read Before You Die dan membolak-baliknya sampe jam 10an, pas tokonya mau tutup. Terus ngeliat juga judul-judul yang sama dengan berbagai jenis cover, lebih menarik dari QB.

Dan tempatnya yang luas juga. Rak-raknya dengan kategorisasi yang endless, jumlah judulnya juga lebih variatif; lebih masif, dan masih belum bosen didatengin. Kangen juga ih sama ABC yang asli. Terakhir denger kabarnya, lewat blognya, mbaca kalau mereka bakal pindah ke Spui, yang bekas toko piano. Jangan-jangan, nanti seberang-seberangan sama Athenaeum ya?


Currently reading:
The African Queen
By C.S. Forester



Posted at 05:24 pm by i_artharini
Make a comment  

Next Page