PENARI MUNGIL


(Saya bukan seorang penari. Pun sangat jauh dari mungil. Tapi, tahu kan adegan 'Tiny Dancer' di 'Almost Famous'? Sensasi membahagiakan dari adegan itulah yang saya kejar..)



Hold me closer, tiny dancer

Count the headlights on the highway

Lay me down in sheets of linen

You had a busy day, today


("Tiny Dancer" - Elton John)





"...the quest for transcendence has always been closely linked to the ecstatic release of dancing."
(Resensi RollingStone atas sebuah album pop)

Mr. Darcy: "So what do you recommend, to encourage affection?"
Elizabeth Bennet: "Dancing, even if one's partner is only tolerable."
(Pride & Prejudice, 2005)


perempuan, 1983, lovesick soul, berjalan kaki, belajar menulis, menonton film, ingin keliling dunia, Billie Holliday, Jane Austen, 'Franny and Zooey', cerita pendek F Scott Fitzgerald, lagu-lagu sedih, kecanduan membeli buku second, deretan buku di lemari, berkeliling dengan bis kota, mengepak koper, menari bebas, Vogue, sepatu, bad boys, kopi, kuliner, foto, semua yang vintage, genggaman tangan, pelukan hangat, detil percakapan antara manusia, kegelisahan, kesepian, ruang pencarian, belajar dewasa, museum dan bangunan tua, hari hujan, sinar matahari hangat di hari berangin, airport, stasiun kereta, dan pertanyaan tanpa akhir

YM: isyana_artharini
Email: i.artharini@gmail.com
   

<< November 2005 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Thursday, November 24, 2005
Deal Breaker

Kali ini, deal breaker itu berawal dari:

"Tujuh tahun menikah, pelukis Pupuk Daru Purnomo belum juga dikaruniai anak. Di sisi lain, ironi kehidupan tersingkap lebar di hadapannya. Perempuan-perempuan jalang melakukan aborsi di mana-mana. Jabang bayi hasil persetubuhan liar diempaskan tanpa perasaan bersalah."
(dikutip dari Media Indonesia, 23 November 2005, feature atas pameran lukisan Pupuk Daru Purnomo)

Opini saya: kalimat-kalimat yang dimiringkan itu amat sangat menghakimi, penuh dengan self-righteousness, dan bermuatan seksis.

Mau di-breakdown?

Perempuan jalang? Apa sih itu, perempuan jalang? Siapa yang mengategorikan mereka sebagai 'jalang'? Atas dasar apa?

Bisakah perempuan-perempuan itu dikategorikan jalang, jika si jabang bayi adalah hasil incest atau perkosaan? Tapi sekali lagi, penggunaan kata 'jalang' saja sudah terasa tidak tepat, menghakimi banget euy. 

Lalu, perempuan jalang yang melakukan aborsi? Please deh, bukannya dalam kasus-kasus aborsi, malah sering terjadi social pressure dari si (calon) ayah atau keluarga si perempuan?

Masih ditambah lagi dengan, 'jabang bayi hasil persetubuhan liar diempaskan tanpa perasaan bersalah'? Ih, ih, ih. Tanpa perasaan bersalah? Menggeneralisir sekali. Kata siapa tanpa perasaan bersalah? Atau setidaknya, who is the writer to say that the feeling is guilty/not guilty, dan bukan 'bingung', atau 'putus asa', atau 'kehilangan', atau 'tegas', dst, dst, dst.

Saya menunjukkan tulisan ini pada seorang mbak ayu, yang juga setuju, tulisan ini penuh dengan nada menghakimi, dan marah-marah sambil mengungkapkan kejijikan. Dan gerutuan itu saya teruskan ketika mencari mie ayam di sore hari, ke seorang sahabat.

Dengan penekanan-penekanan pada kata dan ungkapan 'jalang', 'aborsi', 'di mana-mana', 'liar', dan terakhir, 'diempaskan tanpa perasaan bersalah', saya menceritakan kekesalan saya atas tulisan, yang menurut saya, bisa amat sangat tidak sensitif dan bersudut pandang sempit.

Saya sudah selesai bercerita beberapa saat, tapi sahabat saya itu tidak berkata apa-apa.

"Tapi, babe, babe, gue kayaknya setuju deh sama apa yang dia tulis itu," katanya, akhirnya.
"WHAT?" saya berseru setengah bertanya, tapi tidak begitu mengharap jawaban. Saya tidak mempercayai apa yang saya dengar. "WHAT?" tanya saya lagi, tak kalah keras.

Lalu saya mengulangi lagi kalimat-kalimat yang dimiringkan di atas padanya, seakan dapat memberi efek yang berbeda. Tapi penekanan-penekanan saya tak lagi sekuat pertama kali, dan akhirnya berhenti di tengah-tengah.

Si sahabat akhirnya cuma mengatakan, "ya iya sih." Entah apa yang ia iyakan. Mungkin maksudnya hanya untuk meredam seruan-seruan saya. Tapi saya sudah kecewa, sampai pada tahap terluka.

Bagaimana bisa sahabat yang saya kagumi ternyata bisa berpikiran berbeda pada sesuatu yang prinsip seperti itu? Saya percaya persetujuannya itu adalah bukti atas cara pandang dia yang sebenarnya terhadap perempuan, dan persetujuannya atas pernyataan bahwa ketika perempuan melakukan aborsi, mereka melakukannya tanpa rasa bersalah. Untuk sedetik, saya merasa kecewa, akan pikirannya yang sempit.

Hmm, kekecewaan saya bukan hanya atas ekspresi persetujuannya. Tapi juga akan apa yang terjadi sesudahnya; saya tidak akan melihatnya dengan cara yang sama lagi, 'nilai'nya di mata saya tak lagi setinggi dulu.

Dan saya membenci ketika kejadian seperti ini terjadi, ketika saya mengira orang yang akan berpikiran sama dengan saya atas satu hal, ternyata bisa berpendapat sesuatu yang lain di luar perkiraan. Boleh saja sih berbeda pikiran, tapi pengalaman saya selalu terjadi pada hal-hal yang 'prinsipil'; dalam arti, saat saya mengira teman saya itu adalah orang yang saya percaya akan berada di pihak yang sama dengan saya akan isu tersebut.

Saya pernah mengalami hal ini, dengan beberapa orang teman sebelumnya. Salah satu contohnya, dengan seorang sahabat juga, adalah tentang Perang Irak. Saya bisa berseteru dengannya hanya karena ia benar-benar yakin tindakan GWB melakukan invasi ke Irak adalah suatu hal yang tepat. Oke, menurut saya, Saddam memang bukan pemimpin yang baik, tapi melakukan invasi ke negara lain atas dasar minyak?

Akhir-akhirnya, setelah lama, saya minta maaf padanya, merasa sayalah yang kurang dewasa dan seharusnya menghargai perbedaan pikiran. Tapi saat saya berseteru dengannya, saya benar-benar tidak habis pikir, bagaimana bisa, bagaimana bisa, bagaimana bisaaaaahhh?

Dan sekarang, saya mengalami sesuatu yang kurang lebih sama.

Dalam intensitas yang lebih kecil tentunya, karena saya tak lagi se-intens dua atau tiga tahun lalu. Tapi tetap saja, efeknya sama. Buat saya, kejadian itu adalah sebuah 'deal-breaker'. Saya tak sanggup lagi melihat sahabat saya yang sekarang ini dengan cara yang sama. Saya sedih ketika ini terjadi, saya langsung merasa kehilangan seorang teman yang dapat mengerti saya.

Tapi ada satu rasa kecewa lagi dalam hati saya. Atau mungkin tepatnya rasa penasaran. Apakah ini berarti saya masih belum lebih dewasa dibanding dua atau tiga tahun lalu? Karena saya masih belum bisa menerima perbedaan pendapat?

Diri saya sekarang masih berkeras, bahwa pendapat saya itu sudah tepat, bahwa tulisan itu memang penuh dengan nada judgmental, beraroma seksis, dan tidak sensitif.

(Heheh, saya bisa sepanas ini cuma gara-gara tiga kalimat, dan saya berani mengatakan saya tidak se-intens dua atau tiga tahun lalu?)

Tapi tak urung, sepanjang waktu mie ayam diracik, dan saat kami memakannya, dan kembali ke kantor, saya tak berkata sepatah pun padanya. Setidaknya, sore itu, saya merasa semuanya akan menjadi berbeda.    

Posted at 02:14 am by i_artharini
Make a comment  

Rindu

Baru-baru ini saya menemukan satu lagu bagus. Lagu yang membuat saya merasa sentimentil dan mellow mengingat cerita lalu, tapi anehnya hati saya tidak keterusan merasa kekosongan yang perih ketika mendengarnya. Sekarang saya sedang menghindari lagu-lagu sedih, karena serasa memperbesar luka yang sudah ada. Billie Holliday? Hmm..sudah berapa lama ya saya tidak mendengarkannya?

Pernah, seorang teman memasang "I Get Along Without You Very Well", walaupun itu cuma versi Diana Krall, aduh...hati saya rasanya langsung ambles.

Tapi saat mendengar lagu-nya SORE itu, saya cuma bisa menghela nafas, lalu merasa, entah lagunya, atau kerinduan saya akan cerita lalu, terasa indah.

Judul lagu itu 'Mata Berdebu', dari sebuah band bernama SORE. Time Asia menyebut album mereka penuh dengan lagu-lagu yang pas didengarkan "...in the rainy afternoons, lying on your back, wishing your life was simpler."

Dan lirik yang membuat saya menghela nafas,

Dan aku rindu melangkah di duniamu...

Sudah, hanya itu saja. Ya, sebenarnya, sebelumnya ada bagian yang diulang-ulang,

Dan aku tak bisa melangkah
di antara musafirnya

lalu dilanjutkan dengan 'dan aku rindu'.

Iya, pak. Saya rindu melangkah di duniamu.
Mengetahui film apa yang baru kamu tonton, apakah kamu masih meminjamnya jauh-jauh ke Depok?

Buku apa saja yang baru kamu beli, sampai-sampai tanpa kamu sadari, menghabiskan gajimu di tengah bulan.

Ke mana sekarang, pak, kamu menghabiskan akhir minggumu? Apa sudah ada seorang perempuan yang menunggu untuk bertemu denganmu di siang hari, karena kamu baru terbangun setelah matahari cukup tinggi?

Dan blog-mu yang masih tetap saja rumit, dulu saya bisa menanyakan apa artinya, mencoba menelusuri jejakmu pada dunia. Atau sebelum saya bertanya, kamu sudah bercerita tentang apa yang kamu lihat, secara tidak langsung menjelaskan maksud tulisanmu.

Ah.  

Tahukah kamu, pak? Ada konser jazz di akhir pekan ini. It would've been a great date if we're still together. Kita belum pernah pergi ke konser bersama kan, pak? Dan band yang lagunya sedang saya sukai sekarang, SORE, akan tampil. Sepertinya kamu akan suka pada mereka. Atau jika tidak, setidaknya kamu akan mendengar saya yang terus-menerus berbicara tentang mereka.

Kamu masih sering merasa pusing di malam hari? Saat hari sudah usai, tapi kamu tidak bisa menutup mata? Kamu dulu sering sekali mengeluh tentang itu, sampai lama-lama saya merasa bosan sendiri mendengarnya, karena kamu terdengar manja. Tapi saat itu, setidaknya saya merasa lega, karena saya mendengar ceritamu tentang tempat-tempat yang kamu kunjungi hari itu. Saya seakan melihat apa yang kamu lihat.

Oh iya, Sabtu pukul 3 pagi, setelah menghabiskan waktu di McDonald's Kalimalang bersama dua teman perempuan, saya sempat melewati kedai kopi dan roti bakar tempat kita paling sering menghabiskan waktu. Entah kenapa, sambil menaiki ojek, saya terus melihat ke arah tenda yang agak tertutup itu. Dan saya melihat sosokmu, pak. Berdua bersama teman lelaki. Rambutnya sama persis rambutmu, kurusnya pun sama. Saya tak bisa melihat lebih jelas untuk memastikan, tapi ada firasat yang membuat saya yakin, itu kamu.

Saya ingin segera memastikan, tapi untung seorang teman mencegah saya mengirim pesan pendek padamu. Sepertinya itu kamu. Or, I'm seeing the ghost of you.

(Lucu, ketika saya tersandung pada ungkapan itu, stasiun TV langsung memutar 'Ghost of You' dari My Chemical Romance. Band yang belum saya dengar lengkap lagunya, tapi sudah saya buang dari mp3 player, karena menurut saya terlalu riuh. Tapi yang ini, saya cukup menyenanginya, bahkan sebelum saya 'melihatmu' dini hari itu. "And all the things that you never ever told me, And all the smiles that are ever gonna haunt me, And all the wounds that are ever gonna scar me, For all the ghosts that are never gonna catch me")
 
Sekarang, saya sama sekali tidak tahu apa yang kamu lihat atau alami. Dan saya merasa rindu menjelajahi duniamu, mengetahui cerita-ceritamu.

Hmm...tapi sepertinya kamu terlihat bahagia dan lega ya, pak? 

Ya, sudahlah. Saya juga tidak berniat menyesali dan bersedih-sedih. Saya cuma ingin mengakui, saya rindu melangkah di duniamu. Dan satu hal lagi, tapi yang ini dengan berat hati saya akui, that I'm still not over you.  

Posted at 01:24 am by i_artharini
Make a comment  

Tuesday, November 22, 2005
Cheer Up Movie

Argh. Minggu kemarin, Dedi the Loper Boy salah nganterin koran. Dia mbawain Republika Minggu instead of Koran Tempo Minggu. Buat aku, itu udah cukup bencana. Pengakuan: aku pembaca fanatik Koran Tempo, bahasa penulisannya itu lho; singkat, informatif, tapi juga indah. Itu baru buat yang harian. Nah, yang Mingguan, dengan karakter khas koran minggu yang penuh feature-feature luwes, itu lebih dashyat lagi.

Saya pernah ditempatkan di koran Mingguan, dan tiap hari Minggu, kerjaan saya cuma deg-degan menunggu Kompas dan Koran Tempo. Tapi, di tengah aroma persaingan dan dendam itu, saya selalu lebih terhibur dengan Koran Tempo Minggu. Sekarang setelah dipikir, mungkin lebih efek sugesti kali ya?

Anyway, Minggu kemarin, bencana! Dan saya lupa beli pas ke kantor siangnya. Argh, bencana banget.

Baru hari ini, saya sempat membacanya di kantor. Dan memang, ada beberapa artikel yang menarik, seperti perjalanan-nya yang ke suatu tempat di Italia (lupa di mana, tapi pastinya indah, Sardinia ya kalau tidak salah?), lalu artikel tentang 'Dunia Tanpa Koma'; sinetron baru yang skenarionya dikerjakan oleh Leila S.Chudori, terakhir sih..yang sempat mbuat saya terhibur banget, wawancara dengan Joko Anwar.

Pertanyaan yang diajukan sebenarnya biasa, film apa yang sering ditonton ketika sedang sedih? Jawab si sutradara Janji Joni yang menurutku fenomenal dan hebat itu, "Bring it On".

What?
Serius?

Katanya, selesai nonton film itu pasti jadi ceria lagi.

Hah? Sutradara dengan film debut yang hebat itu menjadi ceria lagi dengan nonton Bring it On? Film tentang kompetisi 'white school' dan 'black school' dalam pertandingan cheerleader? Heheheh.

Joko Anwar juga manusia ternyata.

(Btw, Senin lalu sempet nonton 'High Fidelity' lagi. Dan inilah film yang bisa mbuat saya ceria lagi. Membuat saya memaklumi patah hati sebagai part of the life-cycle, dan merasa beruntung karena belum memiliki Top 5 Breakup of All Time List. Tapi kalau pun nanti punya, si Deus-Ex-Machina ini akan jadi Charlie Nicholson dalam list-ku).

Posted at 08:47 pm by i_artharini
Make a comment  

Multitasking

Multitasking, atau secara sederhananya, kemampuan melakukan dua atau lebih tugas secara bersamaan, entah kenapa, lebih sering hak miliknya terletak pada kaum perempuan. Multi-task katanya berhubungan dengan kemampuan otak perempuan, atau pola pikir (saya agak lupa-lupa ingat tepatnya),i untuk berkonsentrasi dalam melakukan beberapa hal secara bersamaan. Mungkin hal ini sama seperti kemampuan membaca peta yang katanya lebih dimiliki kaum pria.

Sebelum ada teriakan-teriakan tentang kesetaraan gender, saya mau menegaskan, tentu saja, ini tidak mutlak. Saya bisa menyebutkan setidaknya lima perempuan yang saya kenal, yang dapat membaca peta dengan baik. Tapi, dalam semangat yang saya, membuktikan ke-tidakmutlak-an pembatasan tersebut, kenapa ya, saya jarang melihat seorang pria ber-multitask?

Baru hari ini di Gramedia saya melihatnya. Dan, herannya, kok saya takjub ya melihat seorang pria ber-multitask? Seperti... melihat monyet merangkai bunga. No offense. Tapi, tahu kan ungkapan monyet dikasih bunga? (Atau kera mendapat bunga?)

Anyway, tadi siang, di Gramedia Citraland, ada lelaki bertubuh tambun, berkacamata, dan memiliki brewok yang lumayan lebat, berdiri di depan tumpukan buku bertanda "Best Seller" (yang isinya: buku-buku self-help tentang meraih kesuksesan dan spiritualitas pop semi nyastra Paulo Coelho). Mata si lelaki tambun itu tetap memindai judul buku-buku yang bertumpuk dengan cepat. Dagunya terangkat ketika melongok menjauh, memeriksa judul di ujung tumpukan yang lebih jauh, lalu bola matanya menyusur ke kanan, berpindah cepat ke tengah, lalu ke tumpukan yang lebih dekat dengannya. Dan selama ia melakukan itu, jempol seukuran sosis raksasa itu tak henti-hentinya meninju-ninju keypad hape-nya yang mungil.

Saking agak lamanya ia memindai judul sambil tangannya meninju keypad, saya sampai tersadar akan gerakannya dan bertanya, "Ini orang ngapain sih? Ngirim sms ya?"

Dan pada detik itu pula, lelaki berkulit kuning di samping tumpukan buku menunduk dan melihat ke layar LCD hape-nya. Oh, ternyata benar, dari tadi memang dia sedang ber-multitask; mengetik sms dan melihat judul-judul buku. Wah, saya kagum. Cuma karena stigma pria tidak bisa ber-multitask, dan baru sekali ini saya melihat seorang pria ber-multitask.




Posted at 07:52 pm by i_artharini
Make a comment  

Monday, November 21, 2005
Shattered Glass

Saya baru seminggu yang lalu menonton film ini. Terlambat sebenarnya, karena dvd bajakannya sudah terlalu sering saya lihat bertebaran di Ambassador sejak setahun yang lalu, tapi saya tak kunjung membelinya. Akhirnya, Sabtu malam minggu lalu saya menontonnya. And it was okay. Film yang rapi, menurut saya. Rapi dalam penyutradaraan, timing, dialog, akurat dan realistis sehubungan dengan dunia yang ditampilkan, enjoyable lah.

Mungkin karena didasarkan dari kisah nyata, jadi para pembuat filmnya punya dasar untuk mengembangkan setting waktu, tempat, dan karakter orang-orang yang terlibat. Dan jika ini bisa dikategorikan sebagai akting yang bagus; Hayden Christensen dapat membuat Stephen Glass sebagai sosok menyebalkan untuk seorang pembohong patologis. Atau mungkin karena saya akan selalu membenci sosok seperti Stephen Glass di dunia nyata. Bagaimana ia bisa populer di kalangan peers-nya, kemampuan menulisnya (harus diakui, tulisannya setidaknya memenuhi standar kualitas tertentu untuk masuk di TNR, The New Republic, bukan Tempo News Room :D) yang juga membuat iri peersnya. Lalu, bagaimana Glass bisa menjadi favorit para editor, bukan hanya majalahnya sendiri, tapi juga di George, Harper's, atau RollingStone.

Ada satu adegan yang membuat saya tertawa. Bukan karena adegan itu lucu, tapi karena it hits home, saya merasa terwakili di situ. Salah satu kolega Stephen, Amy Brand (Melanie Lynskey) , meminta Caitlin Avey (Chloe Sevigny) untuk memeriksa tulisannya.

"What do you think?" tanya Amy penuh harap. Saya lupa jawaban tepatnya, tapi intinya Caitlin memberi tanggapan negatif. "Kenapa kamu mau beralih dari keahlianmu dan menulis sesuatu seperti ini?" Caitlin balik bertanya. "Kamu bagus menulis tentang kebijakan, bukan tentang sesuatu yang lucu. You don't write funny," tegas Caitlin.

Lalu, Amy, perempuan dengan pipi tembam itu mengatakan, "Tapi para editor itu tidak mau lagi tulisan seperti ini.Mereka ingin tulisan yang lucu."

"Jadi itu alasannya? Kamu mau menulis seperti Stephen?"

--dan ini saya kutip langsung dari imdb.com--

Amy: "Have you noticed the way Steve's phone has been ringing lately? Did you see all those editors at the correspondence dinner? The way they were circling him?

Caitlin: "Is that what you want, Amy? To get a bunch of smoke blown up your ass by a pack of editors?"

Amy Brand: "Yes. Yes it is."

--end quote--

Amy mengingatkan saya pada diri saya sendiri. Ia menginginkan apa yang saya inginkan; get a bunch of smoke blown up my ass by a pack of editors.

Tak usahlah TNR, yang katanya the snobbiest rag in the business, in flight magazine di Air Force One, di tempat saya juga ada seorang Stephen Glass. Sayangnya, atau untungnya, tergantung dari sisi mana melihatnya, Stephen Glass ini tidak mengarang beritanya. Favorit para redaktur, dikagumi teman-teman sejawatnya, atau setidaknya diakui kemampuannya oleh peers-nya, dan orang ini tahu bahwa dia is that good.

Sekali, saya pernah mencoba peruntungan dan bertanya ke seorang teman, kenapa tulisan 'Stephen Glass' itu bagus?

Jawaban si teman, "dia itu diksinya kuat, vocabnya banyak, dan punya banyak referensi." Dan saya, seperti jawaban karakter Chuck Lane setelah Glass mempresentasikan idenya, hanya bisa mengatakan, "Wow, a tough act to follow." Dan ini terjadi sebelum saya menonton filmnya.

Ternyata, di kantor, banyak juga Stephen Glass-Stephen Glass yang lain, masing-masing dengan kemampuan yang beragam. Dan mereka-mereka yang ada di pikiran saya ini memiliki banyak hal secara bersamanaan; kekuatan diksi, referensi yang luas, apresiasi yang dashyat, imajinasi tanpa batas, kepekaan menakjubkan pada detil, dan perlukah disebutkan kemampuan merangkainya menjadi satu tulisan?

Jika semua itu adalah hasil kerja keras, dan bukan bakat, seberapa keraskah mereka bekerja? Saya bergidik membayangkannya.

Tapi saya juga merasa menjadi bayi besar, karena tidak bisa mengakui keunggulan mereka.

Oke, oke, saya pernah bertanya pada seorang senior, apa sih bagusnya tulisan saya? "Kamu kuat di gaya bertutur," jawabnya. What the hell was that? Itu belum cukuplah. That's nothing.

Tapi oke, mencoba berhenti menjadi bayi dan produktif, selain menambah referensi, apa lagi sih yang harus dilakukan agar menjadi bagus? Adakah manual, seperti judul bukunya Nick Hornby, tentang how to be good?

Posted at 09:54 pm by i_artharini
Make a comment  

Monday, November 14, 2005
Tentang Nama

Kenapa "Penari Mungil"?
Kenapa "Penari", padahal aku bukan seorang penari.
Kenapa "Mungil", padahal aku juga tidak mungil.

Ada satu adegan, di salah satu film yang aku sukai, "Almost Famous", saat sebagian besar karakter utamanya berada di bis tur, setelah Russell Hammond (Billy Crudup) yang gitaris utama sebuah band di film tersebut, Stillwaters, dijemput dari rumah penggemarnya. Russell baru saja menghabiskan malam dengan gila-gilaan, kabur, setelah bertengkar dengan vokalis band. Ketika Russell kembali di dalam bis, dan semua orang melihatnya dengan tatapan kesal, ia hanya bisa mengetatkan balutan handuk yang menutupi tubuh bagian atasnya yang telanjang. Kemudian ia duduk, dan diam.

Saat bis berjalan, para penggemar Stillwaters melambaikan tangan-tangan mereka, dentingan "Tiny Dancer" milik Elton John pun berawal. Lama-kelamaan, suasana beku di dalam bis mencair, karena satu per satu karakternya mulai menyanyikan lagu itu. Terlalu sentimentil? Mungkin iya. Tapi menurutku, itu adegan sederhana, tanpa dialog, tapi mengena. Langsung terasa perubahan mood karakter-karakternya. Dan menurut saya, "Tiny Dancer" adalah lagu yang indah, juga, entah kenapa, romantis dengan cara yang realistis.

Jadi itulah, saya langsung teringat "Tiny Dancer", atau "adegan Tiny Dancer", yang semoga saja bisa memberi efek yang sama. Merubah suasana hati yang kelam, jadi kembali bahagia.

Dan kutipan yang aku pilih di atas? Bagian itulah yang dinyanyikan, yang menandakan klimaks "adegan Tiny Dancer", saat kesalahan-kesalahan Russel dimaafkan, dan nyanyian mereka semua semakin keras, dibarengi dengan senyuman, dan Russel juga sepertinya bisa memaafkan dirinya sendiri.

Hold me closer tiny dancer, count the headlights on the highway
Lay me down in sheets of linen, you had a busy day today


Pelukan yang erat, menghitung lampu-lampu fluorescent di jalan tol yang sepi saat pulang malam hari, seprei linen setelah hari yang sibuk, ah...semoga kesalahan-kesalahanku di hari ini termaafkan, dan semoga besok, hatiku tak sesakit hari ini.

Posted at 02:39 am by i_artharini
Make a comment  

Tentang Perubahan

Harry Roesli, katanya berjuang untuk perubahan. Dia bilang, "Jangan pernah merasa takut! Yang takut cuma cecurut. Besok atau lusa, perubahan pasti datang. Sadar atau tidak, dituntut atau diarahkan. Terus berjuang! Jangan pernah menyerah demi sebuah kepercayaan."

Sementara, ikon lain yang katanya juga berjuang untuk perubahan, Soe Hok Gie, mengatakan, "Buat apa menghindar? Cepat atau lambat, suka atau tidak, perubahan hanya soal waktu. Semua boleh berubah, semua boleh baru, tapi satu yang harus dipegang: kepercayaan."

Lalu, dia yang kata Rendra menjalang, Chairil Anwar, mengatakan ini tentang perubahan, "Jangan mau jadi pengecut! Hidup sekali harus berarti. Ada yang berubah, ada yang bertahan, karena zaman tak bisa dilawan. Yang pasti, kepercayaan harus diperjuangkan."

Haduh, haduh, haduh.
Kok ya kesannya berat temenan tho?
Lha wong cuma pindah blog aja, kok sampai mengutip kata-kata orang besar yang dipakai sama harian Kompas untuk menandai perubahan, menyongsong 40 tahun usianya.

Apa perubahanku. seperti Kompas, juga demi memperjuangkan kepercayaan?
Hmm...antara iya dan tidak.
Tidak, karena aku mikir, enggak sampe level yang sama dengan Kompas, karena gimana-gimana, ini cuma perubahan blog. Tapi kok kayaknya merendahkan sekali dengan bilang tidak, seperti tidak menghargai usaha sendiri, dan semangat di belakang perubahan blog. Jadi, ya, aku juga bilang iya. Walaupun kepercayaan yang diperjuangkan diharapkan datang dari diri sendiri.

Kepercayaan akan:
1. Kemampuan diri untuk berdamai dengan cerita-cerita masa lalu
2. Kemampuan diri untuk kembali bermimpi (liar, tanpa batas)
3. Kemampuan diri untuk mewujudkan mimpi-mimpi itu
4. Kemampuan diri untuk berkreasi
5. Kemampuan diri untuk menjadi anak yang lebih berbakti
6. Kemampuan diri untuk menjadi teman yang tidak egois, menawarkan bantuan tanpa diminta, mampu lebih berempati, dan tidak melupakan
7. Kemampuan diri untuk bersabar dan tidak mengeluh
8. Kemampuan diri untuk belajar lebih keras

Setidaknya itu dulu, sepertinya sudah menggeh-menggeh mendaftarnya.

Dan apakah itu semua bisa datang dari sekedar perubahan blog?
Ya, nggaklah. Ngawur aja kalo iya.

Tapi setidaknya blog baru ini jadi titik awal perubahan, memberi warna baru, memenuhi hati dengan kebahagiaan hasil suatu pencapaian kecil, mengeluarkanku dari zona aman, menantang untuk melakukan sesuatu yang lebih, salah satu sarana untuk memulai hidup baru menjadi seseorang yang baru, dan lebih baik, aku harap begitu.

Selain itu sih, masih ada program: One Movie a Day, dan...50 Books a Year (realistis nggak sih sebenarnya yang kedua?) untuk perbaikan diri. Momentum Lebaran kemarin jangan dilewatkan begitu saja, ah. Sayang dong.

Jadi, sekarang rumahku pindah di sini. Selamat datang buat teman-teman yang bisa menemukan jalannya ke rumah baru ini, mungkin dari blog lama ya? (Tapi kalau tidak ada yang datang? Ya sudahlah, pohon di hutan itu tetap jatuh kok walau tidak ada yang mendengar)

Tapi buat yang sudah datang, maaf, masih banyak yang berantakan; shoutbox belum terpasang, tampilan grafis masih sederhana, links...sepertinya masih ada yang belum tercatat. Tapi, terima kasih sudah datang. Dan mohon doa restu, semoga sebelum 2005 berakhir, ada pelajaran-pelajaran baru yang bisa aku dapat dari perubahan yang sedang diperjuangkan ini.

Posted at 01:40 am by i_artharini
Make a comment