"...the quest for transcendence has always been closely linked to the ecstatic release of dancing." (Resensi RollingStone atas sebuah album pop) Mr. Darcy: "So what do you recommend, to encourage affection?"Elizabeth Bennet: "Dancing, even if one's partner is only tolerable." (Pride & Prejudice, 2005)perempuan, 1983, lovesick soul, berjalan kaki, belajar menulis, menonton film, ingin keliling dunia, Billie Holliday, Jane Austen, 'Franny and Zooey', cerita pendek F Scott Fitzgerald, lagu-lagu sedih, kecanduan membeli buku second, deretan buku di lemari, berkeliling dengan bis kota, mengepak koper, menari bebas, Vogue, sepatu, bad boys, kopi, kuliner, foto, semua yang vintage, genggaman tangan, pelukan hangat, detil percakapan antara manusia, kegelisahan, kesepian, ruang pencarian, belajar dewasa, museum dan bangunan tua, hari hujan, sinar matahari hangat di hari berangin, airport, stasiun kereta, dan pertanyaan tanpa akhir YM: isyana_artharini Email: i.artharini@gmail.com
|
|
Wednesday, October 03, 2007
Aku cemas.
Sepertinya ketakutan terbesarku sudah mulai jadi kenyataan, tenggelam
dalam total oblivion (oblivion: n. The condition or quality of being
completely forgotten, the state of being completely forgotten or
unknown).
Ffiiuhh.
Posted at 04:30 pm by i_artharini
Permalink
Friday, September 28, 2007
Ah, akhir-akhir ini jadi terasa terlalu sibuk hidup, tapi tak cukup
sering melakukan pencatatan. Padahal ada banyak cerita-cerita yang
harusnya bisa muncul di sini, tentang dua kali ke Yogya dalam dua
minggu berturutan untuk urusan yang berbeda-beda, sekitar sebulan lalu.
Lalu ada juga tentang mimpi-mimpi yang indah, hehe. Dan sedikit
curhatan tentang kantor yang mengantagonisasi sejumlah orang, internal
maupun eksternal.
Walaupun potensi otak masih jauh lebih besar dari yang biasanya dipakai
manusia, tapi otakku serasa mau meledak menyimpan detil-detil itu. Mau
dicatat, tidak punya waktu. 'Catat sedikit-sedikit saja, tidak usah
terlalu banyak,' tapi otakku tidak bekerja dengan cara itu. Sekali
bendungannya dibuka, aduh, bakal terus ngalir sampai kehabisan, sebelum
kemudian terisi lagi.
Duh, pusing, kepalanya terasa berat dan penuh. Mau unload, sengaja
ditahan-tahan, karena masih ada dua tulisan @ 50 barisan buat Senin
midmorning. Ayo, Nari, back to work, ya.
Posted at 10:06 pm by i_artharini
Permalink
Monday, September 24, 2007
Orang-orang dari Masa Lalu
Mungkin hari ini tepat dibilang hari Belanda
Mungkin Sabtu kemarin
tepat dibilang hari Belanda. Ada beberapa kejadian hari ini yang
membuatku teringat sama masa-masa kuliah dulu. Ketemu beberapa orang
ceritanya.
Pertama, di Gelar Batik
Nusantara, ketemu seorang Gama(lia) yang lagi menggendong anak kecil
umur sekitar satu setengah tahunan. Beberapa saat setelah aku sapa,
dia langsung menegaskan, “Ini bukan anak gue lho ya.” Hehe, tahu
aja kecurigaanku. Nggak curiga-curiga banget sebenarnya, cuma aku
agak ketuker-tuker dengan detil teman lain. ‘Oh iya ya, yang sudah
nikah kan bukan dia.’
Tuker-tuker kartu nama
(wuhuu, kartu namaku sudah terisi lagi stoknya), janji-janji untuk
tetap keep in touch, yang belum terbukti dan terjamin ditaati, tapi
niat baik itu selalu ada, lalu kami berpisah. Dia kembali ke
keluarganya, aku, mencoba memburu keberadaan seorang broker batik.
Kejadian kedua, di depan
Bundaran Hotel Indonesia.
Setelah turun dari
jembatan penyeberangan karena naik Trans Jakarta (ini, teorinya,
satu-satunya kendaraan yang boleh lewat Thamrin kemarin. Tapi
ternyata di jalur lambat tetap saja ada kendaraan pribadi yang
lewat...) ada seseorang yang seems so familiar, tapi benar nggak ya?
Dan akhirnya dikonfirmasi lewat sepatu.
“Hai mbak Clara, lagi
ngapain?”
“Ini, lagi sama oom.”
Yeah, Jakarta buat
wartawan itu memang terlalu sempit. Tak direncanakan pun akhirnya
ketemu sesama wartawan. Walaupun beda pos. Aku sudah mengira bakal
ketemu seseorang di Bundaran HI, tapi anak Metropolitan. Eh, ternyata
kok ya Clara.
Pas lagi duduk-duduk
mengisi waktu di depan Sogo itu, tiba-tiba ada seorang perempuan
putih tinggi, berambut bob dengan seorang perempuan ber-ras Kaukasia
dan berambut pirang ikal, tingginya tidak jauh beda dengan si
perempuan Indonesia.
“Eh, La, itu Laura bukan
sih?”
“Elu kok kenal? Dia
temen SMP gue.”
Buat anak Jakarta,
ternyata kelompok pergaulan tuh itu-itu saja ya? Atau tepatnya, buat
anak Jakarta yang sekolah di perguruan Katolik?
Laura ini, sekitar
tiga atau empat tahun lalu, ketemu waktu peluncuran tengah malamnya
Harry Potter 5: The Order of Phoenix di American Book Center, waktu
masih di Kalverstraat. Iseng-iseng lagi jalan ke lantai 3, paling
atas, duduk di sofa, dengar orang sebelahku ngomong bahasa Indonesia.
Tiba-tiba sama-sama melirik, tersenyum demi kesopanan, say hi, terus
kenalan. Laura waktu itu membawa dua temannya, Carla dan Patty,
sementara aku lagi jalan sama Baby. Walaupun baru kenal, lepas tengah
malam itu aku dan Baby berakhir di kamarnya Laura di kawasan De Pijp
terus sedikit.
Besoknya, sebelum brunch
di sebuah restoran Indonesia di daerah Waterlooplein (duuuh, aku
sudah lupa namanya), mataku sempat didandanin dengan eyeliner perak
dan hijau dengan ketebalan yang sangat pas dan hasilnya oh so cool.
Sampai sekarang aku enggak bisa mereproduksi tampilan itu.
“Hey, Laura, masih ingat
nggak? Isyana.”
Dia masih mengingat aku,
anehnya, dengan nama Nari.
Wow, aku cukup kaget.
Maksudnya, itu nama yang cukup intim. Hanya orang yang ‘kenal’
cukup lama, setidaknya lebih dari acquaintance semalam yang setelah
itu tidak pernah berlanjut, yang memanggil aku dengan nama itu.
Pulang di 213 tadi juga
baru tersadar. Aku tidak ingat mantanku yang terakhir pernah
memanggilku dengan nama itu tuh. Yang aku ingat, dan aku catat di
blog ini juga, dia mencoba keras tidak memanggilku dengan nama itu.
What a jerk.
Yeah, oke, pada saat
itu aku membahasakannya dengan ‘panggilan kesayangan’ dan mungkin
dia sedang berusaha memposisikan aku (kata kunci di sini: berusaha*)
sebagai suatu konsep yang bisa disayangi dengan memberinya nama
tersendiri, tapi pada akhirnya, ya....titik-titik sebelumnya bisa
berarti banyak hal, tapi buat aku, untuk selanjutnya, cari seseorang
yang bisa look you in the face and call you your real name.
Oke, kembali ke Laura.
Mengupdate kehidupan
masing-masing ala Friendster (location, affiliation, company, who are
you friends with), lalu pertukaran kartu nama terjadi lagi. Dan pada
saat itu aku tersadar. Kita sama-sama lagi off duty. Well, aku enggak
sih, tapi Gama dan Laura aku rasa iya, tapi kita tidak bisa terlepas
dari kartu nama. Bahkan saat hari liburku pun, aku bisa membayangkan
tidak akan mengeluarkan dompet kartu nama dari tas. Sama seperti ID
wartawan, yang atas alasan ‘jangan-jangan diberi tugas mendadak’
selalu aku bawa bahkan pada hari libur, kartu nama pun begitu.
Dua-duanya sudah menjadi
bagian dari identitasku, sepertinya. Sama juga dengan tempatku
bekerja sekarang. Dan seragam birunya yang membuat bosan matanya
Samuel Mulia, kata Sic.
“Wah, Nari. Kamu nggak
berubah.”
Masih ada harapan
sepertinya. Atau komentar itu berarti sesuatu yang mengkhawatirkan?
(*berusaha= kata ini bisa
ditanggapi maknanya secara positif atau negatif sebenarnya. Tergantung
mau berpikiran seperti apa. Tapi aku berkesimpulan ada batasnya kan
antara berusaha dan berusaha terlalu keras? Sepertinya, pada saat itu,
kita berdua sudah melewati batas itu. Thus itulah yang aku maksud
dengan 'kata kuncinya' sebagai petunjuk bahwa ini sudah jadi sesuatu
yang doom from the start).
Posted at 01:23 pm by i_artharini
Permalink
Wednesday, September 12, 2007
Kutipan Hari Ini-ku:
"Gue udah capek, udah bosen nge-follow up global warming. Sampai gue udah nggak percaya lagi itu ada."
Mwahahaha.
Posted at 05:18 pm by i_artharini
Permalink
Thursday, August 23, 2007
Indra Setiawan (IS): Dia datang ngasih surat dan diam saja, Pol.
Pollycarpus Budihari Priyanto (PBP): Tenang saja, Pak.
IS: Surat penugasan itu apa dia lihat? Kalau sekarang itu ramai dibicarain. Bagaimana kalau ada yang fotokopi?
PBP: Saya sudah ketemu sama Ibu Asmini. Barang-barang itu sudah tidak
ada. Bapak kan tahu, saya masuk biar Garuda tidak diembargo. Setelah
itu, saya keluar. Lagian tenang saja, Pak. Bagir Manan itu orang kita.
Novum baru itu tidak ada, Pak. Ini permainan politis. Saya sudah ketemu
Harry Tjan dari CSIS, orangnya Ali Moertopo. Ini permainan, Pak. Masa
penahanan bapak itu 60 hari, sedang pengajuan berkas butuh waktu 14
hari kerja. Nah sekarang masanya sudah mau habis. Bapak bisa bebas. Ini
bapak ditahan karena ada ambisi tertentu dari polisi. Saya terus
dampingi Bapak. Kalau malam, saya terus mengelilingi rumah Bapak.
IS: Di mana kamu?
PBP: Di belakang Mabes. Di situ ada warung. Saya sama istri. Kadang
saya ingin ke dalam, tapi waktunya belum pas. Sekarang ini 90 % pejabat
negara memihak kita, Pak.
IS: Saya nggak mau kebawa-bawa, Pol. Aku nggak mau, my future, my family.
PBP: Tenang saja, Pak. Ini hanya permainan. Itu si Petruk sudah diganti.
IS: Siapa?
PBP: Abdul Rahman (Saleh). Dia sudah diganti, sedang Bagir Manan itu orang kita. Bapak sabar saja. Di situ kuncinya, kesabaran.
(Media Indonesia, 23 Agustus 2007)
***
Taruhan. Penulis skenario terbaik pun pasti tidak bisa menghasilkan sesuatu yang semengerikan ini.
Mungkin ini bisa jadi salah satu contoh art imitates life atau life
imitates art. Tapi, buatku, percakapan ini jadi sesuatu yang mengerikan
karena ini benar-benar nyata, bukan sekedar 'art'. Tapi ya,
mudah-mudahan hal mengerikan ini dibuka biar bisa mencapai satu tujuan
yang diinginkan.
Jadi ingat, kemarin sempat ketemuan sama teman yang berkomentar sinis
tapi lucu, "BIN itu ternyata beneran intel ya? Ternyata bisa beneran
kerja ya? Lha kok selama ini keamanan bisa bocor terus. Berarti
prestasi terbesarnya cuma membunuh Munir?"
Masih ditambah, "Garuda juga. Coba, harga tiket sudah paling mahal,
terus-terusan merugi, masih disubsidi pemerintah. Air Asia aja berani
jual tiket murah, ya nggak gitu rugi-rugi amat. Jadi Garuda,
prestasinya ya itu, bisa membunuh Munir?"
Hari ini juga sempat membaca di harian lain tentang isi kesaksian salah
satu saksi utama kasus Munir. Kalau nggak salah Asrini Utami Putri,
salah satu penumpang yang sempat melihat Polly, Ongen dan Munir di
Coffee Bean Changi. Katanya dia jelas-jelas ingat Munir ngobrol ama
Pollycarpus karena kantung matanya Polly lebih gelap dari warna kulit
mukanya.
Amazing ya, cara saksi ini mengingat detil. Tapi intinya adalah, kalau punya kantung mata, harus diurus.
Posted at 04:10 pm by i_artharini
Permalink
Monday, August 20, 2007
Setiap perempuan muda sepertinya harus memiliki Cary Grant sebagai
mantan suami yang berusaha dengan segala cara, turning tricks and
everything, untuk memenangkan kembali hati mereka.
Damn, I want Cary Grant as an
ex-husband yang menerapkan semua tipu daya in order to win me back. The
Philadelphia Story dan His Girl Friday ternyata punya satu elemen itu
yang sama. Cary Grant sebagai mantan suami yang berusaha dengan segala
cara agar mantan-mantan istri mereka kembali padanya.
Tapi, that man, aduuuhhh. So charming, so handsome, tough dan cuek dan seksi tapi tetep rapi. Oufff.
Oke, oke, Philadelphia Story dulu kali ya.
Aku sempat terkagum-kagum sama Zadie Smith yang mengaku bisa hafal baris per baris dialognya "The Philadelphia Story".
Tapi, setelah nonton 1 3/4 kali selama akhir pekan kemarin, ternyata
nggak sesusah itu menghafalnya. Maksudnya gini, I wasn't even trying,
tapi kalimat-kalimatnya tuh udah penuh ritme dan sederhana gitu.
Yang ada di pucuk kepalaku contohnya, (Katharine) Hepburn dan Jimmy
Stewart lagi berbicara tentang buku yang ditulis karakter Stewart.
"Why, they're beautiful. They're almost poetry."
"Don't kid yourself. They are."
"You talk like these (sambil menunjuk ke dada Stewart) and then you write like these (menunjuk ke buku). Which is which?"
Atau, "The time to make up your mind about people is never."
Hmm. Aku susah memulai menceritakan tentang betapa lezatnya film ini.
Ini sesuatu yang harusnya ditonton sendiri. Ceritanya sih sebenarnya
sederhana. Seorang sosialita yang pernah sekali bercerai dengan
karakter Cary Grant, mau menikah lagi, tapi ia diperas oleh seorang
editor majalah gosip untuk memberikan hak liputan utama sama seorang
penulis dan fotografer. Jimmy Stewart jadi penulisnya.
Saking berkilaunya permainan ketiga aktor utamanya, aku jadi bingung
mau berfokus di mana. Hepburn is grand, Grant is dashing, dan
Stewart....lucu, aku tidak pernah mengasosiasikan dia sebagai aktor
yang flirtatious, tapi di sini, dia bisa menawan dan menggoda dengan
cara yang sama sekali berbeda dari Grant. Antara itu atau ya, memang
secara umum, aku suka pria-pria tampan. Hehe.
Tapi ini, ada dua baris dialog yang menurutku, setelah melihat
keseluruhan filmnya, menjadi esensi dari identitas perempuan selama
ini. Oke, oke, aku tidak bermaksud menyempitkan arti film ini sekadar
jadi sesuatu buat pesan feminis, tapi salah satu unsurnya lah.
Tunangan Tracy Lord, karakter Katharine, George Kittredge bilang, "A
husband expects his wife to behave herself, naturally." Sementara CK
Dexter Haven-nya Cary Grant bilang, "To behave herself naturally."
Merasa nggak sih kalau pertentangan antara dua hal itu adalah dilema
perempuan dalam mengekspresikan dirinya? Selalu ada kesenjangan antara
behaving seperti yang diharapkan dan berlaku seperti dirinya sendiri.
Buat aku, yang ideal memang apa yang dikatakan karakter Grant, tapi
yang sering kejadian adalah I behave myself seperti yang diharapkan.
Atau keberaniannya belum ada untuk behave myself naturally?
Posted at 03:51 pm by i_artharini
Permalink
KTP-ku akhirnya ketemu. Secara nggak sengaja. Di dekat mesin faks
tempat aku sering mengosongkan isi kantong seragam. Hari Kamis (16/8)
pas mau berangkat ke kantor buat kumpul dan menengok Dipi, aku
mengambili satu-satu isi kantong yang tersebar.
Kupon makan, STNK-nya Irma yang tadi malam kebawa, uang-uang, dan KTP.
Hah, KTP? Kok bisa? Muncul dari mana nih? Oh, mungkin selama ini
keselip di bawah mesin faks kali ya? Tapi, hore, jadi bisa ndaftar ke
Subtitles.
Timingnya nemu KTP tidak bisa lebih sempurna dari sekarang. Awal akhir
minggu yang panjang sebenarnya waktu yang pas untuk melingkar di depan
tivi dan nonton berbagai macam film-film klasik. Tapi, gara-gara KTP
hilang, jadi nggak bisa ndaftar membership.
Akhirnya, setelah berangkat nengok, tapi nggak ketemu orangnya,
mampirlah di Dharmawangsa Square. Aduh, kembali ke tempat yang sangat
familiar itu. Turun ke lantai dasar, lewat tempat duduk supir-supir dan
dipelototin, dan sampailah di Subtitles.
Ternyata lagi ada antrian di meja 'resepsionisnya'. Ya sudahlah,
muter-muter dulu cari film. Menemukan 'Ghost World' yang aku catat di
dalam hati, pokoknya harus pinjam. Di depannya ternyata ada sejenis rak
pajangan berbentuk agak piramida segi empat, yang dipasang di situ
ternyata film-film lama semua. Dan yang paling pertama aku lihat, The
Philadelphia Story! Iyaaaa, THAT Philadelphia Story yang ada Katharine
Hepburn-nya! Horeee, bakal jadi Katharine Hepburn weekend nih.
Muterin piramidanya, eh ternyata nemu His Girl Friday! Wah, ini sih bakalan jadi Cary Grant Weekend malah.
Balik lagi ke meja resepsionis, ternyata sudah ada satu orang lagi
pegawai dan aku langsung bilang, "Mbak, mau daftar membership."
"Sebelumnya pernah jadi anggota?"
"Pernah sih, tapi udah agak lama nggak aku perpanjang lagi."
"Oh, nggak pa-pa. Datanya masih ada kok. Namanya siapa?"
"Isyana."
Nyari, nyari, nyari.
"Isyana Artharini ya mbak?"
"Iya."
"Alamat ama nomor teleponnya masih sama?"
"Masih."
"Ya udah, nyari filmnya aja dulu."
Ooohhh. Ternyata nggak usah pake KTP-KTP-an lagiii.
Nggak pake lama-lama menentukan mau yang iuran bulanannya berapa.
Gara-gara udah nemu tiga film untuk disewa, ya sudahlah, mbayar yang
buat tiga film.
***
Sekarang, sudah mbalikin dan sudah minjem lagi. Masih memperpanjang
Philadelphia Story (yang udah aku tonton 1 3/4 kali), Sabrina (yang ada
Audrey Hepburn dan Humphrey Bogart-nya), dan Say Anything (film
rom-com-nya John Cusack pas dia masih remaja. Aku penasaran pengen liat
adegan endingnya yang katanya dia berdiri dengan boombox di bawah
jendelanya si cewek. Duh, John Cusack nggak bisa salah deh sama aku).
Ternyata, ternyata. Selama ini nggak usah pakai KTP.
Posted at 02:22 pm by i_artharini
Permalink
Wednesday, August 15, 2007
Daftar hal yang bisa (dan harus) dikerjakan selama long weekend instead
of going to Karimun Jawa (ikuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuut, empat hari masa
nggak bisa sih, girls?):
1. Kerja, ngupdate blog kerjaan. Yang ini wajib kayaknya dan memang udah ketinggalan banyak.
2. Baca HP 7 pinjeman dan beberapa buku self-help, hehe.
3. Oh iya, ada yang menyenangkan. Masih bisa shopping baju, which I desperately need. Really, I do.
4. Immerse self in movies from DVD bajakan.
Cukup ya kayaknya?
Tapi, kayaknya kemarin berpindah-pindah tempat tidur dalam sebulan
terakhir jadi membentuk sebuah pola. Jadi addicted jalan-jalan ke luar
kota dan ke luar dari Jakarta untuk sesaat. Cepet juga ya kebentuk
polanya. Tsk.
Posted at 12:09 am by i_artharini
Permalink
Tuesday, August 14, 2007
Pas udah keluar nonton. (detil percakapannya agak fuzzy, tapi ini garis besarnya) "Udah makan belum? Makan dulu yuk." "Oke, boleh." "Tapi sholat dulu yah." Damn.
I'm prepared for anything basically, liberalis, kapitalis, sosialis,
sinis, pluralis, atheis, Pram-is, platonis, apapun lah. Tapi tidak
pernah mempersiapkan diri untuk seorang agamis. Aku
menyalahkannya pada kebanyakan liputan di Paramadina dan Freedom
Institute sama sesekali main ke Utan Kayu. (Kata Ccr, which I amen-ed,
"Kok bisa ya nggak tersesat. Nggak kayak kita yang mempertanyakan terus
malah jadi tersesat sendiri...")
Btw, (*sniff, sniff*) kopi Aceh oleh-oleh redaktur bertahi lalat di
bibir kok seperti punya bau-bau 'familiar' ya? (Sniff, sniff)
Posted at 10:52 pm by i_artharini
Permalink
Menonton Bourne dari film pertama sampai ketiga yang terasa adalah
kekonsistenannya. Walaupun mungkin buat orang-orang tipe half-empty,
yang terasa malah prediktabilitas alur cerita film ini. Buat aku sih,
nonton tiga-tiganya, rasanya sama seperti nonton serial Mission
Impossible yang vintage.
Kemarin, di StarWorld kalau nggak salah, sempat lihat sekilas pembuatan
dan potongan-potongan adegan Bourne Ultimatum. Aku sudah nonton
filmnya, jadi pas nonton itu serasa adegan-adegan pentingnya dibuka
semua. Tapi, ada adegan yang menggambarkan Nicky (Julia Stiles) dan
Bourne lagi duduk berhadap-hadapan di sebuah kedai kopi. "It's
difficult at first, for me. With you," kata Nicky singkat dan agak
nggak jelas.
Terus Julia Stiles diwawancara, menjelaskan bla-bla-bla, betapa Nicky
yang tahu dari awal siapa Bourne sebenarnya, sebelum dia bernama
Bourne, melihatnya pada masa pelatihan, dst. Sementara aku bertanya,
dalam hati, oh really?
Wawancara berganti ke Matt Damon yang bilang bahwa Nicky dan Bourne di
film ketiga itu terus mengalami situasi-situasi yang sama seperti
Bourne dan Marie Kreutz di film pertama, tapi jelas cerita mereka tidak
akan berakhir sama karena pilihan-pilihan berbeda yang mereka buat.
Aku, dalam hati tapi agak keras, ngomong, 'Jangan sampe deh akhir
cerita dua pasangan ini sama.'
Tapi mendengar Matt Damon bilang seperti itu, yang muncul di pikiranku
langsung adegan Julia Stiles memotong, mengganti warna dan mengeramasi
rambutnya di wastafel. Sama seperti Marie di film pertama. Dalam dua
film itu pun Bourne ada di pintu. Di film pertama, dia membantu Marie
mengeramasi rambutnya, dan di film ketiga Bourne hanya mengetuk pintu
kamar mandi ketika Nicky keramas di wastafel. Which to that, I say,
thank God.
Maksudnya, adegan Marie dikeramasi rambutnya sama Bourne, itu kan yang
meluncurkan fantasi "I wanna shampoo you" yang jadi favoritku selama
ini. Ada sizzle, getaran, desisan antara keduanya. Dan Marie is a cool
chick, I like her. Tapi Nicky? Can that girl be more of a puppet than
she already is?
Dan aku bernafas lega ketika dia naik ke bis dan menghilang dari layar.
Sampai di bagian akhir dia muncul lagi and tidak melakukan sesuatu yang
signifikan. Aarrgggghhh. Why does she have to be in that movie?
Posted at 08:30 pm by i_artharini
Permalink
|
|
|