PENARI MUNGIL


(Saya bukan seorang penari. Pun sangat jauh dari mungil. Tapi, tahu kan adegan 'Tiny Dancer' di 'Almost Famous'? Sensasi membahagiakan dari adegan itulah yang saya kejar..)



Hold me closer, tiny dancer

Count the headlights on the highway

Lay me down in sheets of linen

You had a busy day, today


("Tiny Dancer" - Elton John)





"...the quest for transcendence has always been closely linked to the ecstatic release of dancing."
(Resensi RollingStone atas sebuah album pop)

Mr. Darcy: "So what do you recommend, to encourage affection?"
Elizabeth Bennet: "Dancing, even if one's partner is only tolerable."
(Pride & Prejudice, 2005)


perempuan, 1983, lovesick soul, berjalan kaki, belajar menulis, menonton film, ingin keliling dunia, Billie Holliday, Jane Austen, 'Franny and Zooey', cerita pendek F Scott Fitzgerald, lagu-lagu sedih, kecanduan membeli buku second, deretan buku di lemari, berkeliling dengan bis kota, mengepak koper, menari bebas, Vogue, sepatu, bad boys, kopi, kuliner, foto, semua yang vintage, genggaman tangan, pelukan hangat, detil percakapan antara manusia, kegelisahan, kesepian, ruang pencarian, belajar dewasa, museum dan bangunan tua, hari hujan, sinar matahari hangat di hari berangin, airport, stasiun kereta, dan pertanyaan tanpa akhir

YM: isyana_artharini
Email: i.artharini@gmail.com
   

<< October 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Thursday, September 28, 2006
Spinster

Ah, tiba-tiba jadi keinget lagi ama kata itu beberapa waktu lalu, pas nonton 'Gilmore Girls'. Gara-gara Lorelai rencana menghabiskan malamnya dengan duduk di rumah malam demi malam, memesan Chinese food, dan menonton film-film lama.

(What? That's spinster-y? That's what I've been planning to do once I have my own place. Of course, it's important to find the DVD rental with vast selections of 'old movies')

Oke, nggak usah jauh-jauh ngelihat ke masa depan yang belum jelas batasnya, saat aku punya 'tempatku' sendiri. Sekarang aja, saat 'tempatku' sendiri adalah kamar di loteng di rumah orangtuaku, aku sudah bisa membayangkan beberapa tahun ke depan sebagai spinster.

Aku udah punya buku-bukunya, tinggal nyari kucingnya aja kali ya.

Hmm, kekhawatiran ini sih sebenarnya sudah punya bibit sejak...aku lupa tepatnya kapan. Tapi ada percakapan baru-baru ini dengan ibuku yang membuatku kembali merasa khawatir. Walaupun, khawatir mungkin bukan kata yang tepat, karena aku sekarang sebenernya udah di tahap 'menerima' (nasib? Takdir?) sebagai spinster.

Beberapa hari lalu, aku cerita ke ibuku tentang this particularly hilarious quote that my sister said. Jadi, televisi sedang menyala, menayangkan suatu acara infotainment. Ceritanya tentang kehamilan, baju hamil, kebiasaan hamil para selebritis cewek. Salah satunya, Cornelia Agatha. Dia cerita tentang kebiasaannya sekarang, "ya nulis lagu, main piano, ngelukis, etc, etc...(insert art-y activities here)".
Dan adikku, si perempuan muda yang semakin lama semakin cerdas dan sinis dengan kata-kata sampe membuatku terkagum-kagum tanpa henti, tanpa terlihat mikir, sambil ngisi gelasnya di dispenser air mineral, dan dengan nada 'lurus', "Yeah, you're pregnant and you're suddenly multi-talented."

Jenius.

Nah, cerita itu aku ceritain ke ibuku, dan tetep, aku ketawa tanpa henti. So does my mom. She seems really enjoying it. Ketawa tertahan, tapi tetap terkagum-kagum. Dan dia memberikan pujiannya atas kejeniusan kata-kata si adik.

Tapi, tetep sambil ketawa, menambahkan, "Duh, girls. Kalian tuh jangan sinis-sinis lho. Nanti cowok-cowok pada takut, pada males sama kalian."

Kata-kata adikku tuh secerdas itu, sampai aku tetap terhibur dan hanya sedikit kesal dengan kata-kata ibuku.

Haruskah aku memberinya contoh? Jane Eyre? Dia kan dengan segala kekurangannya, tapi dengan kecerdasannya bisa ngedapetin Mr Rochester. Oke, Jane Austen? Itu kan contoh nyata. She's witty and cynical, and a spinster. So it's not that bad being a spinster. Terus, Dorothy Parker? Yang bukan hanya sinis, tapi sampai level yang acidic bitchy-nya. Bukan hanya suami resmi, tapi juga selingkuhan. Terus, Kate Hepburn? "Katharine of Arrogance" itu bisa ngedapetin Howard Hughes juga kok. (Although, on second thoughts, memiliki tulang pipi tinggi dan rambut merah aku rasa juga berperan besar dalam menarik perhatian Howard Hughes...)

Tapi entah kenapa, keragu-raguan ibuku atas aku jadi membuat aku agak terganggu. Dan mungkin karena itu juga aku jadi ngerasa udah menerima nasib (atau takdir? Atau hukuman? Atau berkah? Siapa tau kan...).

Dan, melihat caraku hidup sekarang...yeah, it's spinsterhood, alright.



Posted at 09:51 pm by i_artharini
Make a comment  

Tuesday, September 26, 2006
Iri

Jika ada sesuatu yang dinamakan 'Resolusi Ramadhan', resolusiku, pastinya adalah: menghilangkan rasa iri.

Aku pengen bisa lebih stabil, pengen jadi 'the good girl', yang orang bisa cerita tentang apa pun yang mereka miliki, dapatkan, kebahagiaan-kebahagiaan mereka tanpa aku harus merasa terancam karena merasa ada sesuatu yang hilang dan iri. Aku pengen nggak terpengaruh ama apa yang mereka capai atau dapat. Aku nggak pengen ngerasa upset. I just want to feel genuinely happy for them. Tulus, ikut bahagia, tanpa syarat. Dan tidak merasa, "hey, I want that too".

Aku ngerasa belum dewasa banget ketika ada temen-temen yang sudah dengan santai bisa be cool about others' achievement, sementara aku masih berkubang di rasa iri yang...yah, big surprise-lah kalo ada rewardnya.

Tapi, aku sendiri masih belum bisa memformulasikan apa itu 'iri' dan apa itu yang bukan 'iri'. Maksudnya, apa itu artinya aku sama sekali tidak menginginkan apa yang didapat oleh orang lain? Tapi aku juga nggak pengen berada dalam kondisi yang tidak menginginkan apa-apa; kalo nggak pengen apa-apa, aku bakal ngerasa puas dengan gini-gini aja dong, dan aku nggak pengen udah merasa puas dengan ini.

Singkatnya ini aja kali ya, aku pengen, orang bisa ngerasa nyaman ketika mereka cerita sama aku tentang kebahagiaan terakhir mereka, rejeki terakhir mereka, dan ikut secara tulus bahagia buat mereka. Tapi aku belum bisa menjawab pertanyaan selanjutnya, "apakah aku bisa secara tulus bahagia buat mereka ketika aku juga menginginkan apa yang mereka dapatkan?"

Entah kenapa, aku yakin dari pengalaman-pengalaman terdahulu, aku bisa kok ikut berbahagia buat mereka. Masalahnya, kenapa sekarang itu jadi susah banget ya?

 

Posted at 04:06 pm by i_artharini
Make a comment  

Monday, September 25, 2006
Wide Sargasso Sea

Hurrah! Finished my 40th book this year, last Saturday in fact. 'Wide Sargasso Sea'. Buku yang aku beli pas closing sale-nya QB Plaza Semanggi dan aku beli karena aku punya 'Jane Eyre'.

Jadi, aku baru menemukan satu pola lagi membaca yang (mungkin) bisa meningkatkan efektivitas. Haduh, bahasanya itu lho. Anyway, pola itu sih namanya 'intertekstualitas'. Dan kayaknya, this might be it; pola membaca yang sesuai buat aku dalam men-tackle koleksi buku yang udah semakin mekar dan biar aku nggak asal ngambil juga, dan biar pemaknaannya nggak sekadarnya juga sih. Oke, tentang intertekstualitas sendiri sih maksudnya memilih buku-buku dengan tema yang berhubungan dekat, kayak contohnya 'Jane Eyre' ama 'Wide Sargasso Sea'.

'Wide Sargasso Sea' yang rilis tahun 1966 memposisikan diri sebagai prekuel dari 'Jane Eyre'; bercerita tentang siapa dan asal mula si perempuan gila di loteng. Yang nulis penulis lain tentunya, dan Jean Rhys memiliki alasan yang cukup legit untuk memberi pemaknaan lain atas sosok madwoman in the attic itu. Alasan utamanya sih menurutku karena latar belakang budaya dan asal-usul yang sama dari Antoinette/Bertha Mason dengan Rhys sendiri. Antoinette/Bertha yang besar di Jamaika dan dipindah ke Inggris yang dingin dan steril akan merasa suatu keterasingan, lalu belum lagi status pernikahannya dengan Rochester yang lebih sebagai jual beli dari pada pernikahan. Belum lagi penjelasan atas kegilaan yang degeneratif dan a hint of racism di 'Jane Eyre' tentang penggambaran sosok Bertha Mason.

Buat aku, memang jadi ada suatu sisi cerita lain tentang Bertha. Aku nggak tau apa kata tepatnya untuk memberi suatu penilaian positif untuk adanya cerita tentang Bertha. 'Lebih baik'? Bisa sih. Tapi ceritanya Bertha ternyata tragis. Jadi apakah lebih baik mengetahui cerita yang tragis itu atau tidak? 'Melegakan'? Mungkin juga bisa. Tapi cerita tentang Bertha diceritakan dengan cara yang menyesakkan. Nggak ada sedikit pun nada 'harapan' di buku itu. Berawal dari kesedihan, terus menurun sampai menjadi sesuatu yang tragis. Gimana bisa ada orang se-tidak beruntung Bertha? Benar-benar buku yang membuat depresi. Belum lagi cara tiap karakternya bertutur, 2/3nya dihabiskan dengan cara yang terbata-bata, lalu ada pula tipisnya batas kenyataan-rumor-khayalan; semuanya digabung, kesan yang tercipta jadi menyesakkan.

Bukunya nggak tebel, cuma 123 halaman, tapi nembus bukunya itu susah. It's pretty dense. Struktur, penokohan, kata-kata yang diucapkan sih memang masih jelas banget, cuman, ya itulah...menyesakkannya itu lho yang membuatku susah nembus.

Anyway, dalam menggunakan pola intertekstualitas itu, setelah 'Wide Sargasso Sea' selesai sih maksudnya mau berlanjut ke 'Rebecca'. Ada kesamaan tema dengan 'Jane Eyre', seorang governess yang polos dan naif menikah dengan sosok lelaki yang gelap, murung, misterius, dan menemukan misteri-misteri tentang mantan istrinya yang ada cerita tragis-tragisnya juga, dan setting lokasi yang kuat. Di 'Jane Eyre', settingnya Thornfield, 'Rebecca' di Manderlay.

Tapi, sekarang malah lagi mbaca 'The African Queen'. Gara-garanya, setelah JE, aku mbaca 'Kate Remembered' biar agak rileks sedikit, tapi terus inget...aku punya 'The African Queen' dengan Katharine Hepburn dan Humphrey Bogart di sampulnya. Oh iya, mereka kan pernah main di versi filmnya. Ya sudahlah, since Kate Hepburn is a rarity here, aku cuman bisa membayangkan Hepburn sebagai Rosie Sayer di 'The African Queen'.

Setelah dua peta itu selesai dijalanin, I'm thinking of going the socialite map, jadi..Vanity Fair, novel-novelnya Edith Wharton, Bel-Ami, terus F Scott Fitzgerald kali ya, sebelum akhirnya membuat cabang peta baru ke 1920s writers yang bermuara ke Gertrude Stein--gurunya Hemingway dan Fitzgerald--dengan 'The Autobiography of Alice B Toklas'.

Dan oh, I'm also thinking about 'short story ladies', diawali dari Alice Munro mungkin, terus berlanjut ke Collected Short Storiesnya Katherine Ann Porter yang dibaca back-to-back ama Collected Short Storiesnya Eudora Welty (mereka saling mengagumi ternyata, dan Porter adalah mentornya Welty), sebelum lanjut ke novel-novelnya Welty sampai ke Faulkner yang sama-sama Southern Writers. Hah! Jadi inget, dari situ kan bisa ke Carson McCullers...

(Ough, I'm definitely going to be a spinster...)

Posted at 07:37 pm by i_artharini
Make a comment  

Jane Eyre

(Setelah selesai membaca Jane Eyre hari Senin lalu...)

Aku ngerasa bahwa memikirkan kemungkinan aku lebih suka karakter Jane Eyre daripada karakter Elizabeth Bennett adalah sesuatu yang agak blasphemic. Mungkin kesimpulan bahwa 'Lizzie Bennet adalah all-time favorite character in a book' diambil terlalu cepat, karena aku belum begitu banyak membaca tentang heroin-heroin menarik di dunia perbukuan untuk akhirnya bisa memilih Lizzie sebagai favorit, tapi mungkin juga karena Jane Eyre benar-benar mengesankan.

Ada banyak hal yang berbeda di antara keduanya; yang satu tumbuh dalam keluarga inti yang sangat mendukungnya (walaupun dengan orangtua dan adik-adik yang eksentrik), sementara yang lain dengan keluarga angkat yang menolaknya, lalu membentuk keluarga-keluarga sendiri. Yang satu sopan dan mencoba segala cara untuk tidak menjadi anti-sosial, percaya pada aturan dan norma-norma, sementara yang lain lebih penyendiri, lebih nyaman pada perilaku kasar karena tidak pernah mengharapkan keramahan. Walaupun secara ekonomi Lizzie sedikit lebih beruntung karena kelas sosial yang lebih menguntungkan juga, tapi kemampuan finansial mereka sebenarnya sama-sama terbatas.

Yang pasti, dua-duanya sama-sama merasa ada sesuatu yang lebih buat mereka dari sekedar yang 'dikasih' oleh hidup, sama-sama witty, sama-sama berani jujur ama dirinya sendiri, nggak peduli yang dibilangin orang lain, dan sama-sama jatuh cinta ama Mr-Mr yang jutek, dark, sinis, dan therefore...charming. Mr Darcy dan Mr Rochester.

Dan Mr Rochester pun terasa lebih cerdas daripada Mr Darcy. Lebih jutek pas ngajak omong, tapi lebih talkative. Perdebatan mereka tentang suatu topik bisa jauh lebih panjang dari Lizzie-Darcy dan lebih panas. Berbicara tentang 'panas' yang lain, ya, Jane Eyre kerasa banget lebih passionate, dan lebih sering memunculkan kupu-kupu di perut daripada Pride & Prejudice. Ketika P&P masih bermalu-malu mengungkapkan perasaan dari karakter utama lelaki dan perempuannya, Jane Eyre sudah amat berterus terang, tapi tetap nggak kehilangan kelasnya.

Benar-benar romansa dalam skala yang epik deh.

Tapi, ngomong-ngomong, aku jadi penasaran dengan Bronte sisters. Setidaknya dari novelnya Emily dan Charlotte yang udah aku baca (Wuthering Heights dan Jane Eyre); ada apa ya di pendidikan mereka yang membolehkan mereka untuk jujur seperti itu terhadap perasaan? Ada gelombang passion yang sama kuatnya di dua novel itu. Sesuatu yang agak ditahan dalam novel-novel Austen, yang ketika dibandingkan dengan mereka jadi terasa steril, higienis, rasional, dan (ahem, please excuse myself) agak...dangkal.

But, no, no. I don't want to feel like that about Austen. This is Austen, Jane Austen. Aku lagi ngerasa berdosa banget nih berpikir kayak gitu tentang Austen. Well, mungkin sama kayak orang beragama kali ya, nggak terima kalo ada yang bilang bahwa sesuatu yang dia percaya selama ini ternyata...tidak salah sih, cuman ada yang lebih baik. Tapi aku kan nggak percaya dengan lebih baik-lebih jelek, tapi pada adanya 'perbedaan'. Jadi?

Hmm, sepertinya aku dan Austen sedang berada di tahap hubungan yang...'is she the one? Is she not the one? Apakah aku masih bisa belanja-belanja kanan kiri lagi?' dan hopefully, semoga, akhirnya aku bisa kembali lagi Austen, walaupun mungkin dalam fungsi yang berbeda. Mungkin bukan lagi the best, tapi mungkin sebagai penulis yang aku andalkan saat aku pengen detox, merasakan cita rasa yang sederhana, something that can make me happy all the time kali ya?  

Posted at 06:30 pm by i_artharini
Make a comment  

Sanctuary Baru

Dari liputan peluncuran buku Jumat kemarin, aku jadi sadar, hah, dua tahun di Jakarta, dan aku akhirnya menemukan 'American Book Center'-ku. Well, setidaknya pengganti American Book Center yang setelah mengunjungi, rasanya sama kayak abis ngunjungin the actual American Book Center. Tempatnya? Kinokuniya Plaza Senayan. Well, no surprise there, itu cuma masalah mencari tempat di mana buku-buku impor ditemukan dalam jumlah banyak sih.

Mungkin karena pas aku ke sana, aku menemukan banyak buku yang pengen dibeli, tapi nggak punya duit buat membelinya, dan itu menimbulkan rasa yang sama seperti saat browsing-browsing 3 jam di ABC, hehe. Tapi kemarin sempet nemu 1001 Books To Read Before You Die dan membolak-baliknya sampe jam 10an, pas tokonya mau tutup. Terus ngeliat juga judul-judul yang sama dengan berbagai jenis cover, lebih menarik dari QB.

Dan tempatnya yang luas juga. Rak-raknya dengan kategorisasi yang endless, jumlah judulnya juga lebih variatif; lebih masif, dan masih belum bosen didatengin. Kangen juga ih sama ABC yang asli. Terakhir denger kabarnya, lewat blognya, mbaca kalau mereka bakal pindah ke Spui, yang bekas toko piano. Jangan-jangan, nanti seberang-seberangan sama Athenaeum ya?


Currently reading:
The African Queen
By C.S. Forester



Posted at 05:24 pm by i_artharini
Make a comment  

Wednesday, September 20, 2006
Yang Pergi

Ok, ok, ini news flash.

Tadi siang, pas ngeliat hape ternyata ada miscall dari Clara. "Kenapa bu, aku nggak mau ikutan nge-date ama kamu lho ya.." referring ke satu peristiwa baru yang akan terjadi dalam hidupnya (cieee.) Terus pas mau masukin hape ke tas, eh tiba-tiba udah ada balesan. Gila, cepet banget si Clara mbales.

Ternyata itu dari seorang teman dekat. "Wah, kayaknya aku bakal satu pesawat ama Baasyir deh ke Bali. Barengan ama dia dan entourage-nya di waiting room."

Yang tentu aja langsung aku bales, "Too late for ticket refund, eh? [It's a stigmatized joke, I know-Red] Btw, ngapain ke Bali?"

Tiba-tiba, si temen ini langsung nelpon.

"Hai, Narii.. Aku mau ke Bali, terus abis gitu langsung ke Jepang."
"What? Ngapain ke Jepang? Sampai kapan?"
"Aku mau sekolah lagi. Sorry yaaa...aku telat bilangnya. Cuman si Ms.Dusta sih yang tau, katanya dia mau jadi juru bicara, tapi belum nyebar ya?"
"Ya publicist itu kan cara kerjanya memang ketika ditanya baru memberikan tanggapan, heheheh."

But anyway, what? I'm still quite shocked. And sad. Ya, aku bahagia lah pastinya si temen ini bisa sekolah lagi, lagi-lagi ke tempat yang jauh, emang rejekinya dia lah. Tapi sedih gitu, wah, perginya jauh juga ya?

Emang sih, kita nggak sering ketemu. Jarang banget malah. Frekuensinya mungkin cuma sekitar...empat kali dalam dua tahun terakhir. Tapi he's still within the country. Sekarang, waaahhh, ada sesuatu yang membuat "ke luar negeri" masih terasa jauh, walaupun dunia sekarang sudah semakin mendatar.

"Ya, I'll send you an e-mail setelah sampe deh. Biar kalo gini email-emailnya kan semakin intensif."

Iya sih.

Aku masih mencoba menyerap besarnya berita itu. Kayaknya ini ada di level yang sama kayak tiba-tiba aku dapet undangan nikahan one of my close college friends tanpa woro-woro sebelumnya deh tentang proses perkenalan dengan calon pasangan.

It's huge.

Dan aku merasa, sampai besok pun masih belum benar-benar 'hit me'.

He's gone.
Wow.

Posted at 08:46 pm by i_artharini
Make a comment  

Resensi Atas Nama Emosi

Mungkinkah itu? Validkah itu? Membuat sebuah resensi atas dasar emosi? Bukan sekedar suka atau nggak suka, tapi...singkatnya begini saja, ndengerin 'Continuum' kok aku selalu berkeinginan untuk crying my eyes out, bawling my eyes with tears....

Dari yang 'Bold As Love', 'Dreaming With A Broken Heart' (bener lho, waking up-nya is the hardest part, was he really here?), 'Slow Dancing in a Burning Room' (yes, I'm being a bitch because I can. And yeah, I know when it's the deep and dying breath of our relationship. And yes too, 'I make the most of my sadness, How dare you say it's nothing to me, Baby, you're the only light I ever saw'), 'Waiting On The World to Change' ("What's So Funny Bout Peace, Love, and Understanding?" untuk generasiku?), 'The Heart of Life', sampai yang 'Stop This Train', 'In Repair', dan tentu aja, 'Vultures'.

It's just the way he writes. Precisely pinpoint the particulars in a vague-y experience. Tapi, jangan-jangan 'vague'nya karena kita tidak bisa mengartikulasikannya?

Huks, untung udah selesai nih ndengerin. Kalau nggak, nangis terus deh.

Posted at 08:27 pm by i_artharini
Comment (1)  

Fighting Vultures

Tadi malem, pas lagi mbaca 'Kate Remembered', sambil ndengerin 'Continuum' yang akhirnya sampai ke lagu 'Vultures'. Lagu yang emang udah aku senengin pas denger di album John Mayer Trio yang Try!

Aku pernah mengutip bait pertamanya di blog ini. Cuman ternyata ada lanjutannya yang pas banget ama masalah terbesarku sekarang. Kutipannya:

How did they find me here
What do they want from me
All of these vultures hiding
Right outside my door

I hear them whisperin
They're tryin to ride it out
They've never gone this long
Without a kill before

Down to the wire
I wanted water but
I'll walk through the fire
If this is what it takes
To take me even higher
Then I'll come through
Like I do
When the world keeps
Testing me, testing me, testing me

It's fire, indeed. Tapi ya, if this is what it takes to take me even higher....


Currently reading:
Kate remembered
By A. Scott Berg



Posted at 08:05 pm by i_artharini
Make a comment  

Barang Bajakan

Rasa kagumku pada para pelaku pembajakan produk media di Indonesia masih belum habis. Contoh, Minggu beberapa hari yang lalu, ke Ambassador. Di luar rencana sebenarnya, karena itu juga habis arisan, dan jalan ama ortuku.

Setelah tahu mau ke Ambassador pun cuma berencana untuk beli Gilmore Girls season 5. And yeah, whatever quirky CD they sell lah.

Obyek pertama, udah kebeli. Terus, iseng-iseng liat tempat jualan CD, tidak benar-benar mengetahui apa yang aku cari atau pengenin sih. Sempet liat Sarah Vaughan, Dinah Washington, dan udah mau memilih salah satu dari mereka sebelum akhirnya melihat bajakannya Patti Smith yang Trampin' di bagian Oldies Jazz Female--yang tepat hanya 'female' dari tiga karakterisasi itu-- Aku lupa kapan tepatnya album ini keluar, tapi kayaknya cukup baru--setelah dicek, 27 April 2004--Tapi Patti Smith bukanlah sesuatu yang aku harapkan ketika mencari-cari di tumpukan jerami. Ini bukan sekedar jarum yang aku temukan.

Patti Smith.
Wooooowwww.

Shirley Manson, vokalis Garbage, di edisi Rolling Stone versi Indonesia tentang 50 Best Performing Artist (SIAPA YANG MINJEM PUNYAKU WOY?) tentang Patti Smith menulis, bahwa dia saat itu berusia 21 tahun saat pertama kali mendengar 'Horses'. Aku lupa, berapa usiaku saat itu? 20, mungkin. Lewat internet radio-nya VH1. Dan kayaknya pas itu Trampin' juga baru keluar, jadi aku membaca beberapa hal tentang Smith di saat bersamaan dan terkagum-kagum.

Ah, me and dramatic women.

Yang ini pasti kebeli deh. Terus sempet nemu juga dua versi double CD live-nya Dave Matthews Band, yang sebenernya udah mau aku beli salah satunya, sebelum iseng-iseng nyari--dan sebenernya nggak berharap nemu-- 'Continuum'-nya John Mayer.

Dan, yerp. Aku menemukannya. Dalam kondisi rekaman yang cukup bagus. Ini ceritanya direkam dari sebuah acara radio di LA, Star FM kalo nggak salah namanya, di mana Mayer memasang seluruh albumnya di segmen radio tersebut, dengan dia ikut menarasikan proses pembuatan tiap lagu. Di rekaman itu dia menyatakan kesadarannya akan acara ini direkam atau albumnya dibocorin di internet, but hey, go ahead, steal away, katanya.

Jadi, sama kayak DVD bajakan dengan kualitas bagus, yang cuman buat screening purposes only, terus di bawahnya ada tulisan 'Property of ...., If shown please contact.....for reporting', nah ini sesekali ada komentar 'You're listening to Star FM. Continuum, out on September 12'.

September 12 cobaaa!

Dan Minggu kemarin itu kan baru 17 September. Gila nggak sih?

Maksudnya, ada yang ngerekam acara itu di LA, terus dicopy dan dikirim ke suatu tempat, China mungkin, terus akhirnya sampai ke Ambassador, Jakarta dalam...ya itung aja acara itu kan nggak mungkin ditayangin tanggal 12nya ya, itunglah....seminggu sebelum tgl 12 lah ya. 12 hari? Tsk, tsk tsk. Dalam dunia pembajakan, aku membayangkan, sudah banyak yang bisa dilakukan dalam waktu dua minggu kurang sedikit.

Kekagumanku sama jaringan ini malah melebihi kekagumanku menemukan bajakannya Patti Smith. Karena, yang resmi aja--aku membayangkan genre-nya dia-- agak menantang untuk dipasarkan, tapi tetep aja dibajak. Hebat, hebat.

Posted at 07:18 pm by i_artharini
Make a comment  

Tuesday, September 19, 2006
Ketagihan Ih

Seminggu yang lalu baru aja selesai mengkatalog dan mengatur secara alfabetis buku-buku di kamar. Setelah mengenal dan mengidentifikasi satu per satu apa aja yang udah aku miliki, aku membuat janji pada diri sendiri bahwa tidak akan ada lagi gila-gilaan membeli buku dalam 2 tahun ke depan. Stok buku-ku sudah mencukupi, bahkan malah lebih, untuk kurun waktu tersebut.

Nah, seorang teman kantor memberi tahu, ada sale lagi di QB Jalan Sunda, sampe 70 persen. Pas menerima berita itu juga tidak terasa kepanikan. Pun tidak langsung bergegas hari itu juga menuju tempat yang dituju. Komentarnya juga cuman, dalam hati: "Kasian banget ya QB, kayaknya pada mau tutup semua ya?"

Nah, hari Sabtunya, asalnya diajak ke Bandung. Cuman karena aku males berangkat hari Jumat, sementara hari Sabtu siang sudah mau pulang, ngerasa tanggung aja, jadi nggak niat jalan sama sekali lah. Sabtu itu akhirnya aku ke QB. Udah siang pula, jam dua-an mungkin dari rumah. Sampai sana sih udah jam 4-an, dan penuuuuhhh banget. Pas aku dateng pun udah ada banyak orang ke luar dengan tas-tas plastik yang isinya banyak-banyak.

Browsing-browsing juga nggak nyaman banget dan pesimis nemuin buku yang bakal aku senengin. Ah, malah lebih bagus lah. Duit kan nggak banyak ke luar gitu. Menganggarkan pun maksimal 200 aja lah, walopun 300 juga masih tolerable. Tapi ternyata nemu F. Scott Fitzgerald yang "The Beautiful and the Damned", nyari yang Tender is the Night udah nggak ada. Terus nemu "The Grass Harp"-nya Truman Capote, terus Collected Stories-nya Eudora Welty (yay!), dan mulai deh...satu penemuan berlanjut ke temuan-temuan lain. Sampai akhirnya, lho kok berat banget ya tas belanjaannya? Dan, waduh...kok banyak banget?

Akhirnya, balik dulu ke tas, ngambil bolpen ama kertas buat itung-itungan, nyari pojokan yang agak sepi dan mulai menghitung. *Menarik nafas tajam* Duh, yakin nih mo ngambil segini?

Oke, bongkar-bongkar dulu, pilih, pilih, pilih, kira-kira yang kurang penting mana yaa. Dan di titik inilah aku menyalahkan keberadaan kartu kredit. Karena kartu kredit itulah aku merasa aku mampu membayar semua itu. Dan, oke, oke, oke, dengan pusing dan agak gugup--karena belum pernah memakai kartu kredit sebelumnya, gimana kalau ditolak coba? Aku kan nggak bisa berpisah dengan buku-buku ini lagi...--aku berjalan menuju kasir.

Glek, sampe malu sendiri ngeliat print-print-an bonnya deh. Tapi, ya sudahlah, damage is done. All you can do is just read it, toch?

Dan aduh, sumpah deh, hari itu belagak sok kaya banget. Abis gitu kan tersadar, seharian belum makan. Akhirnya makan deh di lantai atas, yaitu...bakmi GM. Pulangnya, pengen naik taksi sih, karena berat juga mbawa bukunya dan nggak pengen kepergok sama Rani dan mama, takut mereka udah pulang duluan gitu. Ya sudahlah, akhirnya nyetop Ekspres, taksi credible yang bertarif lama lah.

Oke, anyway, satu pemikiran: pas ngeliat tumpukan buku yang udah dibeli dan rencana-rencana akhir pekan untuk membacanya, aku sempet bilang ke diri sendiri;  Nari, you do plan to have a life, right? Social life? Meeting people, etc?

Sekarang, dari tumpukan yang beli kemarin, lagi mbaca 'Kate Remembered', biografinya Katharine Hepburn, sama dari sebelumnya beli 'Wide Sargasso Sea', karena itu berhubungan ama 'Jane Eyre' yang udah berhasil diselesaiin dalam seminggu lebih dikit (hore!).

Posted at 08:55 pm by i_artharini
Comment (1)  

Next Page