PENARI MUNGIL


(Saya bukan seorang penari. Pun sangat jauh dari mungil. Tapi, tahu kan adegan 'Tiny Dancer' di 'Almost Famous'? Sensasi membahagiakan dari adegan itulah yang saya kejar..)



Hold me closer, tiny dancer

Count the headlights on the highway

Lay me down in sheets of linen

You had a busy day, today


("Tiny Dancer" - Elton John)





"...the quest for transcendence has always been closely linked to the ecstatic release of dancing."
(Resensi RollingStone atas sebuah album pop)

Mr. Darcy: "So what do you recommend, to encourage affection?"
Elizabeth Bennet: "Dancing, even if one's partner is only tolerable."
(Pride & Prejudice, 2005)


perempuan, 1983, lovesick soul, berjalan kaki, belajar menulis, menonton film, ingin keliling dunia, Billie Holliday, Jane Austen, 'Franny and Zooey', cerita pendek F Scott Fitzgerald, lagu-lagu sedih, kecanduan membeli buku second, deretan buku di lemari, berkeliling dengan bis kota, mengepak koper, menari bebas, Vogue, sepatu, bad boys, kopi, kuliner, foto, semua yang vintage, genggaman tangan, pelukan hangat, detil percakapan antara manusia, kegelisahan, kesepian, ruang pencarian, belajar dewasa, museum dan bangunan tua, hari hujan, sinar matahari hangat di hari berangin, airport, stasiun kereta, dan pertanyaan tanpa akhir

YM: isyana_artharini
Email: i.artharini@gmail.com
   

<< October 2005 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Wednesday, November 30, 2005
Badai Kenangan

Senin kemarin, di tengah kemacetan pintu tol Kebon Jeruk, aku selesai mbaca 'Cinta Tak Pernah Tepat Waktu'. Hmm, buku menarik yang mbuat aku ngerasa seperti abis kebobolan berita. Aku selalu pengen nulis apa yang ditulis di buku itu.

Tapi ya sudahlah, aku lepaskan perasaan menyesal itu, heheh. Abis, kalau pun aku menuliskannya lebih dulu, nggak mungkin aku bakal bisa menggambarkan rasa kehilangan se-deskriptif dan se-nyata di buku itu.

Si mas penulisnya, Puthut EA, bener-bener menuliskan secara gamblang apa yang aku pikirkan tentang kehilangan. Walaupun, when it comes to ending, keterwakilanku itu udah semakin menipis, aku bisa mengambil jarak dan melihatnya sebagai satu item yang unik, bukan sebagai sesuatu yang 'so-aku-banget'.

Ada satu ungkapan tapinya, di buku itu, yang tidak bisa lebih tepat dari apa yang dimaksudkan (duh, kok mbulet sih?). Badai kenangan.

Tentang satu ingatan tentang senja contohnya, yang langsung bisa memicu deretan kenangan tentang senja-senja yang dihabiskan, atau apa pun yang mungkin tidak berhubungan dengan senja, tapi membuat aku teringat dengan seseorang. Dan satu ingatan membuka pintu untuk ingatan yang lain, sampai akhirnya terjadi badai kenangan. Dalam bahasaku sih seperti itu.

Dan hari ini, aku baru saja diserbu badai kenangan. Pertamanya secara tidak sengaja, karena seseorang yang tidak aku kenal menanyakannya. Lalu tiba-tiba ngeliat. Dan aku diserbu dengan perasaan yang berlebihan untuk sekedar say hello, apa kabar, dan ngobrol seperti dua sahabat yang lama tidak bertemu, tapi sepertinya tidak pantas sekali.

*Menghela nafas*

Oh ya, dan tiba-tiba aku jadi teringat sesuatu. Aku benci sekali kalau dia memanggilku dengan: "Is". Walaupun udah jarang banget juga, setidaknya ada dua kali dalam periode 4-5 bulan? *Psycho banget ya aku? :(*

Nggak tau ya, karena menurutku itu sesuatu yang ofensif. Kayak dia berusaha untuk tidak kenal aku sama sekali. Apa dia mencoba totally wiping out kenangan (which I doubt he even has) dengan mengubah aku jadi seseorang yang benar-benar asing? Dan itu dari nama panggilan. Duh, jadi ngerasa tambah sakit jiwa.

Aku bukan 'Is', aku tidak pernah menjadi seorang 'Is', kecuali untuk bapak-bapak yang usianya selalu jauh di atasku, guru-guruku dulu waktu SD, atau narasumber yang diwawancarai. Sementara orang lain, teman dekat, keluarga, teman, atasan, dan seharusnya dia, memanggilku 'Nari' atau 'Nar' jika dipotong.

Ketika nama pertamaku yang digunakan untuk memanggil, orang cenderung tahu untuk mengatakannya sebagai satu kata, tapi orang yang kenal aku atau aku kenal sebagai 'manusia' (termasuk baik dan buruknya) tak pernah memenggal nama pertamaku. Atau kalau mereka memilih untuk menggunakan kata yang lebih pendek, ada 'Nari.'

Dan entah kenapa, it bothers me so much that he won't use that nick name to call me. Kayak ngerasa di-reject untuk kedua kalinya. Dan kali ini, nggak tau sebabnya apa, terasa lebih ngeselin, lebih frontal, dan terang-terangan. 'Is', walopun itu elemen dari namaku, bukanlah namaku. Itu bukan siapa aku. Apa sih yang sedang kamu coba lakukan? Mencoba untuk menghapus the entire history? Membuat aku jadi seseorang yang asing?

Duh, serasa self-centered banget.
Tapi bener. Aku keseeeel kalo nginget-nginget.
Gila, segitu sensitifnya. Perubahan nama panggilan aja bisa kerasa jadi personal attack.
*menghela nafas lagi*

Huks, kenapa aku berubah jadi psycho gini sih?

 

Posted at 12:22 am by i_artharini
Make a comment  

Tuesday, November 29, 2005
Shopping pt.2

Hari ini, setelah menemui kebuntuan gara-gara orang yang aku kejar di BNN ternyata lagi ke luar negeri sampai tanggal 3 dan baru masuk Senin, aku pergi (lagi) ke Perpustakaan Depdiknas. *Sigh*

Emang kok, it ain't over till it's over.

Dan pas ke sana, ternyata ada beberapa kios yang pas Jumat lalu aku ke sana belum buka, sekarang buka. Contoh, stand (atau petak kali ya tepatnya?) milik Komunitas Bambu yang ngejual buku-buku kumpulan sajaknya Sitor Situmorang, tapi akhirnya aku malah ngambil buku seken ber-hardcover karangan W.Somerset Maugham, "Liza of Lambeth". Habis masak 'Paris La Nuit' harganya setelah di-diskon tetep Rp 49,5 sih?

Puter-puter kanan kiri, eh di Grasindo ternyata ada 'Salju di Paris' seharga Rp 10 ribu. Dan mundur sedikit, lho kok banyak buku-buku dari penerbit Yogya ya?

Aku cuma bisa nge-scan judulnya satu per satu, karena there's so much yang menarik mata, dan aku cuma berdiri sendirian di depan dua mas-mas yang kayaknya juga ngikutin ke mana mataku bergerak. Akhirnya salah satu mas itu bilang, "Dibaca dong belakangnya, jangan cuma diliatin dari atas aja." Buku-bukunya mereka emang digelar lesehan dan ada yang ditaruh di meja pendek. Aku cuman bisa senyum dan ber-"iya, iya, Mas."

Tapi aku masih tetep scanning-mode, karena kalau it really up to me dan aku mbaca bagian belakangnya, ya mau aku beli semua. Ya enggak juga sih, sebenernya karena ada beberapa buku yang sifatnya nge-pamflet. Eh, terus akhirnya nemuin buku kumpulan cerita pendek Afrika yang terjemahannya dikerjain Sapardi, dan dua buku dari penulis Vietnam, Duong Thu Huong. Udah naksir buku2 itu sejak lama, tapi kok ya harganya mahal untuk buku ukuran kecil yang standar, Rp 50 ribu.

"Mas, ini di-diskon?" tanyaku. Kalau mas-nya bilang belum, aku akan menjadikannya sebagai pembenaran untuk tidak belanja. Tapi sayangnya, jawaban salah satu mas itu, yang memakai kaos merah bertuliskan 'Against Turtle Trade', "belum. Yang di sini," sambil menunjuk ke buku-buku di meja rendah, "50 persen. Yang di situ," menunjuk buku-buku yang digelar di lantai, "40 persen."

*Gasp*

Langsung aja, tiga buku yang udah aku lihat tadi aku tumpuk, sambil ngeliat-liat yang lain. Buku-buku Jalasutra, hmm.. menarik hati, cuman terjemahannya sering kacau, lewatin. Buku-buku Resist, hmm..menarik sih, tapi kesannya kayak itu lhoo.. orang-orang yang clueless dan merasa harus belanja banyak untuk 'catch-up' yang sudah ketinggalan. Well, I am clueless, dan seringnya aku emang belanja banyak untuk catch-up, tapi males ah nunjukinnya di depan mas-mas penjual yang satunya memakai kaus bernada pencinta lingkungan dan yang satunya bernada pro petani, dengan tulisan: Farmer is King. Tebakanku sih, mereka udah menguasai lah apa yang mereka pakai di dada mereka. So, they'll figure out I'm a newbie. 'High Fidelity', anyone?

Sebenarnya ada buku-buku sajak tipis-tipis yang harganya 7500an sebelum diskon (dan buku-buku itu ada di tumpukan 50% off), tapi lagi-lagi rasanya kayak orang clueless yang mau belanja banyak buat mengejar ketertinggalan. Akhirnya batal deh.

Anyway, settle untuk tiga buku itu.

"Ini dari Yogya, mas? Datang ke sini cuma buat pameran?" tanyaku.
"Oh enggak, mbak. Kita di Jakarta kok. Di Jatinegara. Di depan Stasiun Jatinegara, main ke sana aja. Itu alamatnya ada di nota-nya. Di sana juga buku-bukunya terus diskon, nggak se-gede di sini sih memang."

Hmm..kenapa semua deskripsi itu sounds familiar ya?

Aku memberanikan diri untuk nanyain ciri-ciri lain dari toko mereka, untuk mencocokkan karakter-karakter identifyer mencurigakan yang muncul. Tapi mas berkaus 'Farmer is King' dengan rambut gondrong keriting semburat pirang menegasikan ciri-ciri yang aku berikan. Jadi keder juga di tengah jalan. "Oh, nggak jadi deh mas, kayaknya aku salah tempat," kataku.

Mas satunya lagi, si kaus merah, yang baru aku sadar berjenggot agak panjang, memakai kalung gading tiruan berbentuk cakar hewan raksasa yang serenteng, malah bertanya, "Oh, temennya si ini ya mbak?"

Dan aku cuma bisa tersenyum kecut. Aduh. Dan seketika aku ingat, dari mana aku mendapat informasi-informasi itu.

Dalam hati: Ermm, bukan.
Yang keluar: Ermm... *senyum salah tingkah, canggung, etc*

"Sering-sering aja mbak main ke sana," kata mas berkaus merah yang juga memakai kupluk hitam dengan kacamata motorcycle-goggle ala Perang Dunia. Ya tak pa-pa lah, style-nya ada substansinya, heheh.

Aku cuma balas tersenyum dan berbasa-basi, iya, iya. Walaupun dalam hati aku bilang, "waduh, susah nih. Mending nggak usahlah."

Hmm, gak bisa kabur juga nih dari badai kenangan.

Anyhow, muter-muter lagi, dan nemu 'Batas Nalar' sama 'Damai di Bumi' dengan setengah harga! Terus ada juga sih yang lain, kayak buku tipis tentang Virginia Woolf, bukunya Seno Gumira Adjidarma, sama ada satu bukunya Marco Kusumawidjaya tentang tata ruang Jakarta.

Dan, dan, aku ketemu Haha, alias Fani, alias Stephanie Surya. Sambil berdiri kita bisa catch-up sampe setengah jam-an sendiri. Sempet nggak ngenalin, karena dia keliatan lebih seger, lebih putih (mungkin karena dulu sering kedinginan, pipinya jadi merah terus), lebih chubby pipinya, pokoknya sempet ragulah. Wow, what a coincidence. What a nice coincidence.

Btw, ini ada info dari penjaga buku cute di petak Paguyuban Karl May Indonesia, katanya tanggal 7-11 Desember nanti di JCC bakal ada Indonesia Book Fair! That's one book fair that I'm definitely not going to go.

Katanya si mas, "Nih ya mbak, saya kasih bocoran. Kita itu, di Diknas, pasti seminggu sebelum Jakarta Book Fair atau Indonesia Book Fair. Off the recordnya: kok jadi ngehantam IKAPI gini sih aku ngomongnya? Tapi ya intinya itu, kita di sini penerbit2 kecil kan susah mbiayain stand di situ, dan kita juga pengen pameran..."

Terus dia ngomong rada panjang tentang memberikan diskonnya kembali ke pembaca dan bukan ke retour-retour ke penerbitan besar, atau apaaa gitu, rada nggak dong juga sama penjelasannya, pokoknya dia terus menyingkatnya jadi: memanusiakan pembaca.

Ah well. Bolong lagi kantongkuuuu...

Posted at 09:41 pm by i_artharini
Make a comment  

Monday, November 28, 2005
Shopping

Ada berita-berita yang buatku reaksi penerimaannya sudah definit; getir atau gembira, seperti berita "kita akan mengimpor beras" atau "aku mendapat keponakan baru". Tapi ada berita-berita yang mendapat reaksi beragam ketika diterima, seperti salah satu contohnya, "DR Azahari tertembak mati di sebuah villa di Batu, Malang." Gembira, pastinya, karena ada harapan rantai teror itu akan terputus. Tapi juga agak menyesal, karena dia tidak sempat menjawab pertanyaan 'kenapa?'. Dan kenapa aku juga merasakan ragu, karena polisi tak kunjung menunjukkan jasadnya kepada umum, seperti layaknya pengebom Bali II. (Hey, CNN saja terus-menerus menampilkan foto-foto jasad Uday dan Qusay Hussein setelah mereka tertembak mati, kan?)

Salah satu contoh berita yang aku terima dengan perasaan bercampur datang dari seorang teteh, di inbox surat elektronik-ku, Selasa minggu lalu (22/11). Isinya:

".....
dalam rangka
PERAYAAN 1 TAHUN PERPUSTAKAAN PENDIDIKAN NASIONAL
29 NOVEMBER 2004 S.D. 29 NOVEMBER 2005

Perpustakaan Pendidikan Nasional bekerjasama
dengan Komunitas Pekerja Buku Indonesia
untuk yang kedua kalinya menyelenggarakan:

-----------------------------------------------------
5 0 % B O O K E V E N T
gelar semua buku diskon limapuluh persen
-----------------------------------------------------

Jum'at, 25 November s.d. Sabtu, 3 Desember 2005
Jam 10.00 s.d. 19.00 wib

~ingat dan catat baik-baik, diadakan cuma 9 hari,
setelah itu harga normal kembali seperti di toko buku~

diadakan di:
Perpustakaan Pendidikan Nasional
Plasa Gedung A Komplek Depdiknas RI
Jl. Jenderal Sudirman Senayan
Jakarta Pusat (samping Pertokoan Ratu Plasa)

Penerbit/Distributor/Lembaga yang berpartisipasi

1. Agromedia Group
2. Aksara Karunia
3. Alfabet
4. Almawardi Prima
5. Bentang Pustaka
.........
55. Yayasan Obor Indonesia

Di stand Pustaka LP3ES, setiap pembelian Rp. 100.000, dapat hadiah T-Shirt dan kalau belanja Rp. 200.000 malah
dapat voucher gratis DUFAN. Tidak berlaku kelipatannya.

Di stand iBookCorner, Java Books dan Etnobook dapatkan buku-buku impor dengan bargain prices yang murah
banget.

Di stand Jakarta Books dapatkan buku anak yang mendidik, dengan harga miring dan stand guide yang 'ramah'

Di stand KPG, bisa ditemukan buku-buku karya Remy Sylado, Ayu Utami dan Seno Gumira Adjidarma dengan setengah
harga.

Di stand PKMI, kamu bisa temukan buku-buku karya Karl May dengan diskon besar dan bonus yang tak terduga.

Dan masih banyak lagi stand dengan ribuan judul buku yang bisa jadi alternatif bacaan Anda serta menambah koleksi
perpustakaan Pribadi Anda"

------------------

Aku cuma bisa menghela nafas.

Kabar-kabar yang mendapat reaksi bercampur itu memang tak pernah datang tepat waktu. Atau karena datangnya kabar-kabar itu yang tiba-tiba, makanya aku menerimanya dengan perasaan tak tentu?

Siang itu, aku baru saja membeli empat buku. Awalnya, hanya ingin mencari "Frank Sinatra Kena Selesma", buku tipis berisi tiga tulisan yang mewakili kategori jurnalisme sastra. Tapi di tengah-tengah mencari buku tersebut, yang membutuhkan waktu agak lama dan aku hampir menyerah, aku menemukan beberapa buku menarik lainnya.

Sebuah buku kumpulan cerita pendek dari penerbit yang sama dengan buku "Frank...", sebuah novel debutan milik seorang prosais yang sampulnya berwarna merah hati, dan sebuah buku anak-anak tentang seekor tikus yang jatuh cinta pada seorang putri.

Dan ketika membaca surat dari si teteh itu, kata yang terlintas di kepala: yah, batal nabung dong.

Tidak mungkin aku tidak pergi ke sana, tapi kalau aku ke sana, rekening bank-ku pasti bakal kembang kempis. Jadi? Ya gimana caranya agar itu tidak terjadi.

Dan sejumlah uang pun aku sisihkan. Setidaknya ada pembatasan anggaran.

Tapi pada Hari H, tetap saja, melihatku Jumat kemarin (25/11) di aula perpustakaan Pendidikan Nasional tidak jauh berbeda dengan melihat 15 menit pertama 'Saving Private Ryan'.

Sekitar 15-an buku yang berjejalan di tas plastik harus aku tenteng ke kantor. Aduh, padahal waktu itu hujan lebat baru saja selesai, di depan Depdiknas itu kan perbaikan trotoar (atau pembangunan subway sih itu?) membuat tanah merah dan genangan air tersebar ke mana-mana.

Aku dan teteh kehabisan duit. Asalnya mau ngambil uang dulu, "nanti aja, di BCA dekat kantor." Dan aku mengiyakan. Sampai sana, eh ATM-nya malah rusak atau belum diisi ulang, yang pasti uang tidak keluar.

Ouch. Padahal udah laper setengah mati sampai hampir pingsan. Buku-buku itu kerasa beraaat sekali. Dan "Mrs.Robinson-wannabe" sempat bilang: "Waduh, jangan repot-repot, makasih banget dibawain. Ayo dibuka kuenya..."

Huks, jadi makin laper.

Untungnya ada teteh lain yang berbaik hati ngasih pinjeman, dan menanggung makan siang saya dan teteh pembeli buku.

***

Sesudah makan, kembali ke meja, rasanya puas sih ngeliat tumpukan buku yang baru dibeli.

"Orang-orang Bloomington" jadi 20 ribu, dari asalnya 39; buku skenario "Eliana, Eliana" jadi 18 ribu dari asalnya 34, "Pengakuan"-nya Anton Chekhov yang jadi Rp 12,5 dari asalnya 25, dan buku-buku Pustaka Sastra dari LKiS yang bener-bener jadi 50%.

Walaupun mungkin agak deg-deg-an membayangkan kapan aku akan selesai membaca buku-buku tersebut. Tapi ah, kalau punya kan lebih mudah untuk mulai membaca (aduh, bau-baunya pembenaran sekali..)

Eh iya, baru ingat, ada satu faktor lagi yang membuatku deg-deg-an. Seruan tidak setuju dari seorang perempuan paruh baya saat melihatku menenteng buku-buku itu memasuki pagar rumah.

Posted at 06:56 pm by i_artharini
Make a comment  

Friday, November 25, 2005
Observasi Iseng

Malam itu, menjelang penutupan rapim partai pemenang Pemilu 2004 oleh RI-1, dan di tengah acara ulang tahun ke-5 sebuah stasiun televisi berita yang bertetangga dengan kantor redaksi sebuah koran nasional, sebuah televisi di ruang redaksi koran nasional tersebut malah sempat menayangkan penampilan dua ibu muda nan ayu dan energik menyanyikan salah satu anthem generasi 'so what gitu loh?', "Teman Tapi Mesra".

Aku tidak sempat melihat penampilan dua ibu itu, tapi warna suara khas si vokalis yang terdengar lantang keluar dari pesawat televisi cukup menandakan keberadaan mereka di layar. Dan oh iya, dua pasang mata dari lelaki paruh baya yang tertancap mantap mengikuti kerlip layar seperti laron yang tertarik pada lampu menjadi bukti bahwa penampilan dua ibu muda itu tidak akan terlewat tanpa apresiasi yang mencukupi.

"Aku sing iki yo, kowe sing iki wae," kata salah satu dari dua pasang mata itu sambil menunjuk ke sosok yang sepertinya tak henti melonjak-lonjak, karena telunjuk si pasang mata itu bergerak tak tentu arah di depan layar televisi.

(Aduh, bapak-bapak, kok tidak beda sama kelakuan saya dan adik saya, waktu saya kelas 4 SD, dan jatuh cinta setengah mati sama NKOTB sih?)




Posted at 09:11 pm by i_artharini
Make a comment  

TGIF

Hmm jarang banget aku ngomong TGIF, Thank God It's Friday, karena nggak kerasa bedanya antara weekend dan hari kerja. Somehow, hari libur yang cuma 1 hari di weekend itu jadi kerasa nyiksa, karena aku cuman pengen tidur setelah (biasanya) 6 hari seminggu muter-muterin Jakarta. Tapi di hari libur itu justru aku dipaksa menjalankan 'kewajiban' hang out ama keluarga ke tempat-tempat yang nggak gitu aku senengin, such as shopping malls. Benar, aku ngerasa dipaksa, karena aku capek liat-liat barang that I cannot afford, dan aku akhir-akhirnya jadi bosen sendiri, dan cranky sama semua orang, dan akhirnya cepet-cepet minta pulang, tapi yang lain masih pada pengen jalan-jalan, dan akhir-akhirnya aku malah tambah kesel dan tambah ngeselin semua orang.

Setidaknya kalau nggak tidur, aku pengen menghabiskan waktu weekend dengan mbaca buku yang seringnya masih terbungkus plastik, belum sempat dibaca. Atau, kalau pengen hang out bareng sekeluarga, please...setidaknya ke tempat yang aku seneng dong sesekali.

(Tapi tampaknya ngajak keluargaku untuk ke museum, atau ngeliat pameran lukisan, atau pertunjukan tari, atau sesuatu sejenisnya seems like something impossible. Tempat favorit lain, taman kota, juga sesuatu yang lebih tidak mungkin. Taman kota yang asik di Jakarta di mana atuh?)

Nah, tapi, tapi, tapi, weekend ini setidaknya aku punya rencana menghabiskan akhir pekan yang tidak include malls. Sabtu bseok, ikut piknik kantornya bapakku, mau ke Dufaaaann... Heheh, setidaknya rollercoaster, carrousel, rumah hantu, etc, adalah suatu variasi yang menyegarkan.

Dan Minggunya, hore, hore, hore, ada konser jazz di Depok, featuring (salah satunya) band yang lagi aku senengin banget: SORE. Open air concert, coba kapan terakhir kali aku nonton acara seperti itu? Mungkin...pas Uitmarkt 2004 ya?

Sementara konser di udara terbuka, atau abis nonton konser apa pun (setidaknya yang musiknya bisa aku nikmatin) selalu bisa ngasih romantika tersendiri lah. Malam jadi terasa lain, udara jadi terasa lain, orang-orang terasa lain, esok hari juga terasa akan berbeda, dan aku biasanya akan pulang ke rumah dengan nada-nada yang terus saja bermain di kepala dan hati yang lebih ringan.

Dan entah kenapa, tiba-tiba weekend ini jadi terasa penuh dengan acara-acara yang di luar 'kebiasaan', seperti katanya anak Humaniora ada pelatihan penulisan feature Sabtu ini, terus ada pertunjukan balet Alice in Wonderland di GKJ, yang walaupun dua hari pertunjukannya (Sabtu-Minggu), aku paling bisanya Sabtu, karena Minggu mau keukeuh nonton SORE, hehehe. Tapi Sabtu kan di Dufan... aduh gimana dong?

Anyhow, ya sudahlah, milih yang gratis aja, ke Dufan. Setidaknya buat yang ini aku udah diharapkan untuk datang, dan kali ini, I'm going to have fun dan tidak menganggap itu sebagai kewajiban.

Weekend, aku datang.

Posted at 07:30 pm by i_artharini
Make a comment  

Thursday, November 24, 2005
Deal Breaker

Kali ini, deal breaker itu berawal dari:

"Tujuh tahun menikah, pelukis Pupuk Daru Purnomo belum juga dikaruniai anak. Di sisi lain, ironi kehidupan tersingkap lebar di hadapannya. Perempuan-perempuan jalang melakukan aborsi di mana-mana. Jabang bayi hasil persetubuhan liar diempaskan tanpa perasaan bersalah."
(dikutip dari Media Indonesia, 23 November 2005, feature atas pameran lukisan Pupuk Daru Purnomo)

Opini saya: kalimat-kalimat yang dimiringkan itu amat sangat menghakimi, penuh dengan self-righteousness, dan bermuatan seksis.

Mau di-breakdown?

Perempuan jalang? Apa sih itu, perempuan jalang? Siapa yang mengategorikan mereka sebagai 'jalang'? Atas dasar apa?

Bisakah perempuan-perempuan itu dikategorikan jalang, jika si jabang bayi adalah hasil incest atau perkosaan? Tapi sekali lagi, penggunaan kata 'jalang' saja sudah terasa tidak tepat, menghakimi banget euy. 

Lalu, perempuan jalang yang melakukan aborsi? Please deh, bukannya dalam kasus-kasus aborsi, malah sering terjadi social pressure dari si (calon) ayah atau keluarga si perempuan?

Masih ditambah lagi dengan, 'jabang bayi hasil persetubuhan liar diempaskan tanpa perasaan bersalah'? Ih, ih, ih. Tanpa perasaan bersalah? Menggeneralisir sekali. Kata siapa tanpa perasaan bersalah? Atau setidaknya, who is the writer to say that the feeling is guilty/not guilty, dan bukan 'bingung', atau 'putus asa', atau 'kehilangan', atau 'tegas', dst, dst, dst.

Saya menunjukkan tulisan ini pada seorang mbak ayu, yang juga setuju, tulisan ini penuh dengan nada menghakimi, dan marah-marah sambil mengungkapkan kejijikan. Dan gerutuan itu saya teruskan ketika mencari mie ayam di sore hari, ke seorang sahabat.

Dengan penekanan-penekanan pada kata dan ungkapan 'jalang', 'aborsi', 'di mana-mana', 'liar', dan terakhir, 'diempaskan tanpa perasaan bersalah', saya menceritakan kekesalan saya atas tulisan, yang menurut saya, bisa amat sangat tidak sensitif dan bersudut pandang sempit.

Saya sudah selesai bercerita beberapa saat, tapi sahabat saya itu tidak berkata apa-apa.

"Tapi, babe, babe, gue kayaknya setuju deh sama apa yang dia tulis itu," katanya, akhirnya.
"WHAT?" saya berseru setengah bertanya, tapi tidak begitu mengharap jawaban. Saya tidak mempercayai apa yang saya dengar. "WHAT?" tanya saya lagi, tak kalah keras.

Lalu saya mengulangi lagi kalimat-kalimat yang dimiringkan di atas padanya, seakan dapat memberi efek yang berbeda. Tapi penekanan-penekanan saya tak lagi sekuat pertama kali, dan akhirnya berhenti di tengah-tengah.

Si sahabat akhirnya cuma mengatakan, "ya iya sih." Entah apa yang ia iyakan. Mungkin maksudnya hanya untuk meredam seruan-seruan saya. Tapi saya sudah kecewa, sampai pada tahap terluka.

Bagaimana bisa sahabat yang saya kagumi ternyata bisa berpikiran berbeda pada sesuatu yang prinsip seperti itu? Saya percaya persetujuannya itu adalah bukti atas cara pandang dia yang sebenarnya terhadap perempuan, dan persetujuannya atas pernyataan bahwa ketika perempuan melakukan aborsi, mereka melakukannya tanpa rasa bersalah. Untuk sedetik, saya merasa kecewa, akan pikirannya yang sempit.

Hmm, kekecewaan saya bukan hanya atas ekspresi persetujuannya. Tapi juga akan apa yang terjadi sesudahnya; saya tidak akan melihatnya dengan cara yang sama lagi, 'nilai'nya di mata saya tak lagi setinggi dulu.

Dan saya membenci ketika kejadian seperti ini terjadi, ketika saya mengira orang yang akan berpikiran sama dengan saya atas satu hal, ternyata bisa berpendapat sesuatu yang lain di luar perkiraan. Boleh saja sih berbeda pikiran, tapi pengalaman saya selalu terjadi pada hal-hal yang 'prinsipil'; dalam arti, saat saya mengira teman saya itu adalah orang yang saya percaya akan berada di pihak yang sama dengan saya akan isu tersebut.

Saya pernah mengalami hal ini, dengan beberapa orang teman sebelumnya. Salah satu contohnya, dengan seorang sahabat juga, adalah tentang Perang Irak. Saya bisa berseteru dengannya hanya karena ia benar-benar yakin tindakan GWB melakukan invasi ke Irak adalah suatu hal yang tepat. Oke, menurut saya, Saddam memang bukan pemimpin yang baik, tapi melakukan invasi ke negara lain atas dasar minyak?

Akhir-akhirnya, setelah lama, saya minta maaf padanya, merasa sayalah yang kurang dewasa dan seharusnya menghargai perbedaan pikiran. Tapi saat saya berseteru dengannya, saya benar-benar tidak habis pikir, bagaimana bisa, bagaimana bisa, bagaimana bisaaaaahhh?

Dan sekarang, saya mengalami sesuatu yang kurang lebih sama.

Dalam intensitas yang lebih kecil tentunya, karena saya tak lagi se-intens dua atau tiga tahun lalu. Tapi tetap saja, efeknya sama. Buat saya, kejadian itu adalah sebuah 'deal-breaker'. Saya tak sanggup lagi melihat sahabat saya yang sekarang ini dengan cara yang sama. Saya sedih ketika ini terjadi, saya langsung merasa kehilangan seorang teman yang dapat mengerti saya.

Tapi ada satu rasa kecewa lagi dalam hati saya. Atau mungkin tepatnya rasa penasaran. Apakah ini berarti saya masih belum lebih dewasa dibanding dua atau tiga tahun lalu? Karena saya masih belum bisa menerima perbedaan pendapat?

Diri saya sekarang masih berkeras, bahwa pendapat saya itu sudah tepat, bahwa tulisan itu memang penuh dengan nada judgmental, beraroma seksis, dan tidak sensitif.

(Heheh, saya bisa sepanas ini cuma gara-gara tiga kalimat, dan saya berani mengatakan saya tidak se-intens dua atau tiga tahun lalu?)

Tapi tak urung, sepanjang waktu mie ayam diracik, dan saat kami memakannya, dan kembali ke kantor, saya tak berkata sepatah pun padanya. Setidaknya, sore itu, saya merasa semuanya akan menjadi berbeda.    

Posted at 02:14 am by i_artharini
Make a comment  

Rindu

Baru-baru ini saya menemukan satu lagu bagus. Lagu yang membuat saya merasa sentimentil dan mellow mengingat cerita lalu, tapi anehnya hati saya tidak keterusan merasa kekosongan yang perih ketika mendengarnya. Sekarang saya sedang menghindari lagu-lagu sedih, karena serasa memperbesar luka yang sudah ada. Billie Holliday? Hmm..sudah berapa lama ya saya tidak mendengarkannya?

Pernah, seorang teman memasang "I Get Along Without You Very Well", walaupun itu cuma versi Diana Krall, aduh...hati saya rasanya langsung ambles.

Tapi saat mendengar lagu-nya SORE itu, saya cuma bisa menghela nafas, lalu merasa, entah lagunya, atau kerinduan saya akan cerita lalu, terasa indah.

Judul lagu itu 'Mata Berdebu', dari sebuah band bernama SORE. Time Asia menyebut album mereka penuh dengan lagu-lagu yang pas didengarkan "...in the rainy afternoons, lying on your back, wishing your life was simpler."

Dan lirik yang membuat saya menghela nafas,

Dan aku rindu melangkah di duniamu...

Sudah, hanya itu saja. Ya, sebenarnya, sebelumnya ada bagian yang diulang-ulang,

Dan aku tak bisa melangkah
di antara musafirnya

lalu dilanjutkan dengan 'dan aku rindu'.

Iya, pak. Saya rindu melangkah di duniamu.
Mengetahui film apa yang baru kamu tonton, apakah kamu masih meminjamnya jauh-jauh ke Depok?

Buku apa saja yang baru kamu beli, sampai-sampai tanpa kamu sadari, menghabiskan gajimu di tengah bulan.

Ke mana sekarang, pak, kamu menghabiskan akhir minggumu? Apa sudah ada seorang perempuan yang menunggu untuk bertemu denganmu di siang hari, karena kamu baru terbangun setelah matahari cukup tinggi?

Dan blog-mu yang masih tetap saja rumit, dulu saya bisa menanyakan apa artinya, mencoba menelusuri jejakmu pada dunia. Atau sebelum saya bertanya, kamu sudah bercerita tentang apa yang kamu lihat, secara tidak langsung menjelaskan maksud tulisanmu.

Ah.  

Tahukah kamu, pak? Ada konser jazz di akhir pekan ini. It would've been a great date if we're still together. Kita belum pernah pergi ke konser bersama kan, pak? Dan band yang lagunya sedang saya sukai sekarang, SORE, akan tampil. Sepertinya kamu akan suka pada mereka. Atau jika tidak, setidaknya kamu akan mendengar saya yang terus-menerus berbicara tentang mereka.

Kamu masih sering merasa pusing di malam hari? Saat hari sudah usai, tapi kamu tidak bisa menutup mata? Kamu dulu sering sekali mengeluh tentang itu, sampai lama-lama saya merasa bosan sendiri mendengarnya, karena kamu terdengar manja. Tapi saat itu, setidaknya saya merasa lega, karena saya mendengar ceritamu tentang tempat-tempat yang kamu kunjungi hari itu. Saya seakan melihat apa yang kamu lihat.

Oh iya, Sabtu pukul 3 pagi, setelah menghabiskan waktu di McDonald's Kalimalang bersama dua teman perempuan, saya sempat melewati kedai kopi dan roti bakar tempat kita paling sering menghabiskan waktu. Entah kenapa, sambil menaiki ojek, saya terus melihat ke arah tenda yang agak tertutup itu. Dan saya melihat sosokmu, pak. Berdua bersama teman lelaki. Rambutnya sama persis rambutmu, kurusnya pun sama. Saya tak bisa melihat lebih jelas untuk memastikan, tapi ada firasat yang membuat saya yakin, itu kamu.

Saya ingin segera memastikan, tapi untung seorang teman mencegah saya mengirim pesan pendek padamu. Sepertinya itu kamu. Or, I'm seeing the ghost of you.

(Lucu, ketika saya tersandung pada ungkapan itu, stasiun TV langsung memutar 'Ghost of You' dari My Chemical Romance. Band yang belum saya dengar lengkap lagunya, tapi sudah saya buang dari mp3 player, karena menurut saya terlalu riuh. Tapi yang ini, saya cukup menyenanginya, bahkan sebelum saya 'melihatmu' dini hari itu. "And all the things that you never ever told me, And all the smiles that are ever gonna haunt me, And all the wounds that are ever gonna scar me, For all the ghosts that are never gonna catch me")
 
Sekarang, saya sama sekali tidak tahu apa yang kamu lihat atau alami. Dan saya merasa rindu menjelajahi duniamu, mengetahui cerita-ceritamu.

Hmm...tapi sepertinya kamu terlihat bahagia dan lega ya, pak? 

Ya, sudahlah. Saya juga tidak berniat menyesali dan bersedih-sedih. Saya cuma ingin mengakui, saya rindu melangkah di duniamu. Dan satu hal lagi, tapi yang ini dengan berat hati saya akui, that I'm still not over you.  

Posted at 01:24 am by i_artharini
Make a comment  

Tuesday, November 22, 2005
Cheer Up Movie

Argh. Minggu kemarin, Dedi the Loper Boy salah nganterin koran. Dia mbawain Republika Minggu instead of Koran Tempo Minggu. Buat aku, itu udah cukup bencana. Pengakuan: aku pembaca fanatik Koran Tempo, bahasa penulisannya itu lho; singkat, informatif, tapi juga indah. Itu baru buat yang harian. Nah, yang Mingguan, dengan karakter khas koran minggu yang penuh feature-feature luwes, itu lebih dashyat lagi.

Saya pernah ditempatkan di koran Mingguan, dan tiap hari Minggu, kerjaan saya cuma deg-degan menunggu Kompas dan Koran Tempo. Tapi, di tengah aroma persaingan dan dendam itu, saya selalu lebih terhibur dengan Koran Tempo Minggu. Sekarang setelah dipikir, mungkin lebih efek sugesti kali ya?

Anyway, Minggu kemarin, bencana! Dan saya lupa beli pas ke kantor siangnya. Argh, bencana banget.

Baru hari ini, saya sempat membacanya di kantor. Dan memang, ada beberapa artikel yang menarik, seperti perjalanan-nya yang ke suatu tempat di Italia (lupa di mana, tapi pastinya indah, Sardinia ya kalau tidak salah?), lalu artikel tentang 'Dunia Tanpa Koma'; sinetron baru yang skenarionya dikerjakan oleh Leila S.Chudori, terakhir sih..yang sempat mbuat saya terhibur banget, wawancara dengan Joko Anwar.

Pertanyaan yang diajukan sebenarnya biasa, film apa yang sering ditonton ketika sedang sedih? Jawab si sutradara Janji Joni yang menurutku fenomenal dan hebat itu, "Bring it On".

What?
Serius?

Katanya, selesai nonton film itu pasti jadi ceria lagi.

Hah? Sutradara dengan film debut yang hebat itu menjadi ceria lagi dengan nonton Bring it On? Film tentang kompetisi 'white school' dan 'black school' dalam pertandingan cheerleader? Heheheh.

Joko Anwar juga manusia ternyata.

(Btw, Senin lalu sempet nonton 'High Fidelity' lagi. Dan inilah film yang bisa mbuat saya ceria lagi. Membuat saya memaklumi patah hati sebagai part of the life-cycle, dan merasa beruntung karena belum memiliki Top 5 Breakup of All Time List. Tapi kalau pun nanti punya, si Deus-Ex-Machina ini akan jadi Charlie Nicholson dalam list-ku).

Posted at 08:47 pm by i_artharini
Make a comment  

Multitasking

Multitasking, atau secara sederhananya, kemampuan melakukan dua atau lebih tugas secara bersamaan, entah kenapa, lebih sering hak miliknya terletak pada kaum perempuan. Multi-task katanya berhubungan dengan kemampuan otak perempuan, atau pola pikir (saya agak lupa-lupa ingat tepatnya),i untuk berkonsentrasi dalam melakukan beberapa hal secara bersamaan. Mungkin hal ini sama seperti kemampuan membaca peta yang katanya lebih dimiliki kaum pria.

Sebelum ada teriakan-teriakan tentang kesetaraan gender, saya mau menegaskan, tentu saja, ini tidak mutlak. Saya bisa menyebutkan setidaknya lima perempuan yang saya kenal, yang dapat membaca peta dengan baik. Tapi, dalam semangat yang saya, membuktikan ke-tidakmutlak-an pembatasan tersebut, kenapa ya, saya jarang melihat seorang pria ber-multitask?

Baru hari ini di Gramedia saya melihatnya. Dan, herannya, kok saya takjub ya melihat seorang pria ber-multitask? Seperti... melihat monyet merangkai bunga. No offense. Tapi, tahu kan ungkapan monyet dikasih bunga? (Atau kera mendapat bunga?)

Anyway, tadi siang, di Gramedia Citraland, ada lelaki bertubuh tambun, berkacamata, dan memiliki brewok yang lumayan lebat, berdiri di depan tumpukan buku bertanda "Best Seller" (yang isinya: buku-buku self-help tentang meraih kesuksesan dan spiritualitas pop semi nyastra Paulo Coelho). Mata si lelaki tambun itu tetap memindai judul buku-buku yang bertumpuk dengan cepat. Dagunya terangkat ketika melongok menjauh, memeriksa judul di ujung tumpukan yang lebih jauh, lalu bola matanya menyusur ke kanan, berpindah cepat ke tengah, lalu ke tumpukan yang lebih dekat dengannya. Dan selama ia melakukan itu, jempol seukuran sosis raksasa itu tak henti-hentinya meninju-ninju keypad hape-nya yang mungil.

Saking agak lamanya ia memindai judul sambil tangannya meninju keypad, saya sampai tersadar akan gerakannya dan bertanya, "Ini orang ngapain sih? Ngirim sms ya?"

Dan pada detik itu pula, lelaki berkulit kuning di samping tumpukan buku menunduk dan melihat ke layar LCD hape-nya. Oh, ternyata benar, dari tadi memang dia sedang ber-multitask; mengetik sms dan melihat judul-judul buku. Wah, saya kagum. Cuma karena stigma pria tidak bisa ber-multitask, dan baru sekali ini saya melihat seorang pria ber-multitask.




Posted at 07:52 pm by i_artharini
Make a comment  

Monday, November 21, 2005
Shattered Glass

Saya baru seminggu yang lalu menonton film ini. Terlambat sebenarnya, karena dvd bajakannya sudah terlalu sering saya lihat bertebaran di Ambassador sejak setahun yang lalu, tapi saya tak kunjung membelinya. Akhirnya, Sabtu malam minggu lalu saya menontonnya. And it was okay. Film yang rapi, menurut saya. Rapi dalam penyutradaraan, timing, dialog, akurat dan realistis sehubungan dengan dunia yang ditampilkan, enjoyable lah.

Mungkin karena didasarkan dari kisah nyata, jadi para pembuat filmnya punya dasar untuk mengembangkan setting waktu, tempat, dan karakter orang-orang yang terlibat. Dan jika ini bisa dikategorikan sebagai akting yang bagus; Hayden Christensen dapat membuat Stephen Glass sebagai sosok menyebalkan untuk seorang pembohong patologis. Atau mungkin karena saya akan selalu membenci sosok seperti Stephen Glass di dunia nyata. Bagaimana ia bisa populer di kalangan peers-nya, kemampuan menulisnya (harus diakui, tulisannya setidaknya memenuhi standar kualitas tertentu untuk masuk di TNR, The New Republic, bukan Tempo News Room :D) yang juga membuat iri peersnya. Lalu, bagaimana Glass bisa menjadi favorit para editor, bukan hanya majalahnya sendiri, tapi juga di George, Harper's, atau RollingStone.

Ada satu adegan yang membuat saya tertawa. Bukan karena adegan itu lucu, tapi karena it hits home, saya merasa terwakili di situ. Salah satu kolega Stephen, Amy Brand (Melanie Lynskey) , meminta Caitlin Avey (Chloe Sevigny) untuk memeriksa tulisannya.

"What do you think?" tanya Amy penuh harap. Saya lupa jawaban tepatnya, tapi intinya Caitlin memberi tanggapan negatif. "Kenapa kamu mau beralih dari keahlianmu dan menulis sesuatu seperti ini?" Caitlin balik bertanya. "Kamu bagus menulis tentang kebijakan, bukan tentang sesuatu yang lucu. You don't write funny," tegas Caitlin.

Lalu, Amy, perempuan dengan pipi tembam itu mengatakan, "Tapi para editor itu tidak mau lagi tulisan seperti ini.Mereka ingin tulisan yang lucu."

"Jadi itu alasannya? Kamu mau menulis seperti Stephen?"

--dan ini saya kutip langsung dari imdb.com--

Amy: "Have you noticed the way Steve's phone has been ringing lately? Did you see all those editors at the correspondence dinner? The way they were circling him?

Caitlin: "Is that what you want, Amy? To get a bunch of smoke blown up your ass by a pack of editors?"

Amy Brand: "Yes. Yes it is."

--end quote--

Amy mengingatkan saya pada diri saya sendiri. Ia menginginkan apa yang saya inginkan; get a bunch of smoke blown up my ass by a pack of editors.

Tak usahlah TNR, yang katanya the snobbiest rag in the business, in flight magazine di Air Force One, di tempat saya juga ada seorang Stephen Glass. Sayangnya, atau untungnya, tergantung dari sisi mana melihatnya, Stephen Glass ini tidak mengarang beritanya. Favorit para redaktur, dikagumi teman-teman sejawatnya, atau setidaknya diakui kemampuannya oleh peers-nya, dan orang ini tahu bahwa dia is that good.

Sekali, saya pernah mencoba peruntungan dan bertanya ke seorang teman, kenapa tulisan 'Stephen Glass' itu bagus?

Jawaban si teman, "dia itu diksinya kuat, vocabnya banyak, dan punya banyak referensi." Dan saya, seperti jawaban karakter Chuck Lane setelah Glass mempresentasikan idenya, hanya bisa mengatakan, "Wow, a tough act to follow." Dan ini terjadi sebelum saya menonton filmnya.

Ternyata, di kantor, banyak juga Stephen Glass-Stephen Glass yang lain, masing-masing dengan kemampuan yang beragam. Dan mereka-mereka yang ada di pikiran saya ini memiliki banyak hal secara bersamanaan; kekuatan diksi, referensi yang luas, apresiasi yang dashyat, imajinasi tanpa batas, kepekaan menakjubkan pada detil, dan perlukah disebutkan kemampuan merangkainya menjadi satu tulisan?

Jika semua itu adalah hasil kerja keras, dan bukan bakat, seberapa keraskah mereka bekerja? Saya bergidik membayangkannya.

Tapi saya juga merasa menjadi bayi besar, karena tidak bisa mengakui keunggulan mereka.

Oke, oke, saya pernah bertanya pada seorang senior, apa sih bagusnya tulisan saya? "Kamu kuat di gaya bertutur," jawabnya. What the hell was that? Itu belum cukuplah. That's nothing.

Tapi oke, mencoba berhenti menjadi bayi dan produktif, selain menambah referensi, apa lagi sih yang harus dilakukan agar menjadi bagus? Adakah manual, seperti judul bukunya Nick Hornby, tentang how to be good?

Posted at 09:54 pm by i_artharini
Make a comment  

Next Page