"...the quest for transcendence has always been closely linked to the ecstatic release of dancing." (Resensi RollingStone atas sebuah album pop) Mr. Darcy: "So what do you recommend, to encourage affection?"Elizabeth Bennet: "Dancing, even if one's partner is only tolerable." (Pride & Prejudice, 2005)perempuan, 1983, lovesick soul, berjalan kaki, belajar menulis, menonton film, ingin keliling dunia, Billie Holliday, Jane Austen, 'Franny and Zooey', cerita pendek F Scott Fitzgerald, lagu-lagu sedih, kecanduan membeli buku second, deretan buku di lemari, berkeliling dengan bis kota, mengepak koper, menari bebas, Vogue, sepatu, bad boys, kopi, kuliner, foto, semua yang vintage, genggaman tangan, pelukan hangat, detil percakapan antara manusia, kegelisahan, kesepian, ruang pencarian, belajar dewasa, museum dan bangunan tua, hari hujan, sinar matahari hangat di hari berangin, airport, stasiun kereta, dan pertanyaan tanpa akhir YM: isyana_artharini Email: i.artharini@gmail.com
|
|
Thursday, September 28, 2006
Ah, tiba-tiba jadi keinget lagi ama kata itu beberapa waktu lalu, pas
nonton 'Gilmore Girls'. Gara-gara Lorelai rencana menghabiskan malamnya
dengan duduk di rumah malam demi malam, memesan Chinese food, dan
menonton film-film lama.
(What? That's spinster-y? That's what I've been planning to do once I
have my own place. Of course, it's important to find the DVD rental
with vast selections of 'old movies') Oke, nggak usah
jauh-jauh ngelihat ke masa depan yang belum jelas batasnya, saat aku
punya 'tempatku' sendiri. Sekarang aja, saat 'tempatku' sendiri adalah
kamar di loteng di rumah orangtuaku, aku sudah bisa membayangkan
beberapa tahun ke depan sebagai spinster. Aku udah punya buku-bukunya, tinggal nyari kucingnya aja kali ya.
Hmm, kekhawatiran ini sih sebenarnya sudah punya bibit sejak...aku lupa
tepatnya kapan. Tapi ada percakapan baru-baru ini dengan ibuku yang
membuatku kembali merasa khawatir. Walaupun, khawatir mungkin bukan
kata yang tepat, karena aku sekarang sebenernya udah di tahap
'menerima' (nasib? Takdir?) sebagai spinster. Beberapa hari
lalu, aku cerita ke ibuku tentang this particularly hilarious quote
that my sister said. Jadi, televisi sedang menyala, menayangkan suatu
acara infotainment. Ceritanya tentang kehamilan, baju hamil, kebiasaan
hamil para selebritis cewek. Salah satunya, Cornelia Agatha. Dia cerita
tentang kebiasaannya sekarang, "ya nulis lagu, main piano, ngelukis,
etc, etc...(insert art-y activities here)". Dan adikku, si
perempuan muda yang semakin lama semakin cerdas dan sinis dengan
kata-kata sampe membuatku terkagum-kagum tanpa henti, tanpa terlihat
mikir, sambil ngisi gelasnya di dispenser air mineral, dan dengan nada
'lurus', "Yeah, you're pregnant and you're suddenly multi-talented." Jenius.
Nah, cerita itu aku ceritain ke ibuku, dan tetep, aku ketawa tanpa
henti. So does my mom. She seems really enjoying it. Ketawa tertahan,
tapi tetap terkagum-kagum. Dan dia memberikan pujiannya atas kejeniusan
kata-kata si adik. Tapi, tetep sambil ketawa, menambahkan,
"Duh, girls. Kalian tuh jangan sinis-sinis lho. Nanti cowok-cowok pada
takut, pada males sama kalian." Kata-kata adikku tuh secerdas itu, sampai aku tetap terhibur dan hanya sedikit kesal dengan kata-kata ibuku.
Haruskah aku memberinya contoh? Jane Eyre? Dia kan dengan segala
kekurangannya, tapi dengan kecerdasannya bisa ngedapetin Mr Rochester.
Oke, Jane Austen? Itu kan contoh nyata. She's witty and cynical, and a
spinster. So it's not that bad being a spinster. Terus, Dorothy Parker?
Yang bukan hanya sinis, tapi sampai level yang acidic bitchy-nya. Bukan
hanya suami resmi, tapi juga selingkuhan. Terus, Kate Hepburn?
"Katharine of Arrogance" itu bisa ngedapetin Howard Hughes juga kok.
(Although, on second thoughts, memiliki tulang pipi tinggi dan rambut
merah aku rasa juga berperan besar dalam menarik perhatian Howard
Hughes...) Tapi entah kenapa, keragu-raguan ibuku atas aku
jadi membuat aku agak terganggu. Dan mungkin karena itu juga aku jadi
ngerasa udah menerima nasib (atau takdir? Atau hukuman? Atau berkah?
Siapa tau kan...). Dan, melihat caraku hidup sekarang...yeah, it's spinsterhood, alright.
Posted at 09:51 pm by i_artharini
Permalink
Tuesday, September 26, 2006
Jika ada sesuatu yang dinamakan 'Resolusi Ramadhan', resolusiku, pastinya adalah: menghilangkan rasa iri.
Aku pengen bisa lebih stabil, pengen jadi 'the good girl', yang orang
bisa cerita tentang apa pun yang mereka miliki, dapatkan,
kebahagiaan-kebahagiaan mereka tanpa aku harus merasa terancam karena
merasa ada sesuatu yang hilang dan iri. Aku pengen nggak terpengaruh
ama apa yang mereka capai atau dapat. Aku nggak pengen ngerasa upset. I
just want to feel genuinely happy for them. Tulus, ikut bahagia, tanpa
syarat. Dan tidak merasa, "hey, I want that too".
Aku ngerasa belum dewasa banget ketika ada temen-temen yang sudah
dengan santai bisa be cool about others' achievement, sementara aku
masih berkubang di rasa iri yang...yah, big surprise-lah kalo ada
rewardnya.
Tapi, aku sendiri masih belum bisa memformulasikan apa itu 'iri' dan
apa itu yang bukan 'iri'. Maksudnya, apa itu artinya aku sama sekali
tidak menginginkan apa yang didapat oleh orang lain? Tapi aku juga
nggak pengen berada dalam kondisi yang tidak menginginkan apa-apa; kalo
nggak pengen apa-apa, aku bakal ngerasa puas dengan gini-gini aja dong,
dan aku nggak pengen udah merasa puas dengan ini.
Singkatnya ini aja kali ya, aku pengen, orang bisa ngerasa nyaman
ketika mereka cerita sama aku tentang kebahagiaan terakhir mereka,
rejeki terakhir mereka, dan ikut secara tulus bahagia buat mereka. Tapi
aku belum bisa menjawab pertanyaan selanjutnya, "apakah aku bisa secara
tulus bahagia buat mereka ketika aku juga menginginkan apa yang mereka
dapatkan?"
Entah kenapa, aku yakin dari pengalaman-pengalaman terdahulu, aku bisa
kok ikut berbahagia buat mereka. Masalahnya, kenapa sekarang itu jadi
susah banget ya?
Posted at 04:06 pm by i_artharini
Permalink
Monday, September 25, 2006
Hurrah! Finished my 40th book this year, last Saturday in fact. 'Wide
Sargasso Sea'. Buku yang aku beli pas closing sale-nya QB Plaza
Semanggi dan aku beli karena aku punya 'Jane Eyre'.
Jadi, aku baru menemukan satu pola lagi membaca yang (mungkin) bisa
meningkatkan efektivitas. Haduh, bahasanya itu lho. Anyway, pola itu
sih namanya 'intertekstualitas'. Dan kayaknya, this might be it; pola
membaca yang sesuai buat aku dalam men-tackle koleksi buku yang udah
semakin mekar dan biar aku nggak asal ngambil juga, dan biar
pemaknaannya nggak sekadarnya juga sih. Oke, tentang intertekstualitas
sendiri sih maksudnya memilih buku-buku dengan tema yang berhubungan
dekat, kayak contohnya 'Jane Eyre' ama 'Wide Sargasso Sea'.
'Wide Sargasso Sea' yang rilis tahun 1966 memposisikan diri sebagai
prekuel dari 'Jane Eyre'; bercerita tentang siapa dan asal mula si
perempuan gila di loteng. Yang nulis penulis lain tentunya, dan Jean
Rhys memiliki alasan yang cukup legit
untuk memberi pemaknaan lain atas sosok madwoman in the attic itu.
Alasan utamanya sih menurutku karena latar belakang budaya dan
asal-usul yang sama dari Antoinette/Bertha Mason dengan Rhys sendiri.
Antoinette/Bertha yang besar di Jamaika dan dipindah ke Inggris yang
dingin dan steril akan merasa suatu keterasingan, lalu belum lagi
status pernikahannya dengan Rochester yang lebih sebagai jual beli dari
pada pernikahan. Belum lagi penjelasan atas kegilaan yang degeneratif
dan a hint of racism di 'Jane Eyre' tentang penggambaran sosok Bertha
Mason.
Buat aku, memang jadi ada suatu sisi cerita lain tentang Bertha. Aku
nggak tau apa kata tepatnya untuk memberi suatu penilaian positif untuk
adanya cerita tentang Bertha. 'Lebih baik'? Bisa sih. Tapi ceritanya
Bertha ternyata tragis. Jadi apakah lebih baik mengetahui cerita yang
tragis itu atau tidak? 'Melegakan'? Mungkin juga bisa. Tapi cerita
tentang Bertha diceritakan dengan cara yang menyesakkan. Nggak ada
sedikit pun nada 'harapan' di buku itu. Berawal dari kesedihan, terus
menurun sampai menjadi sesuatu yang tragis. Gimana bisa ada orang
se-tidak beruntung Bertha? Benar-benar buku yang membuat depresi. Belum
lagi cara tiap karakternya bertutur, 2/3nya dihabiskan dengan cara yang
terbata-bata, lalu ada pula tipisnya batas kenyataan-rumor-khayalan;
semuanya digabung, kesan yang tercipta jadi menyesakkan.
Bukunya nggak tebel, cuma 123 halaman, tapi nembus bukunya itu susah.
It's pretty dense. Struktur, penokohan, kata-kata yang diucapkan sih
memang masih jelas banget, cuman, ya itulah...menyesakkannya itu lho
yang membuatku susah nembus.
Anyway, dalam menggunakan pola intertekstualitas itu, setelah 'Wide
Sargasso Sea' selesai sih maksudnya mau berlanjut ke 'Rebecca'. Ada
kesamaan tema dengan 'Jane Eyre', seorang governess yang polos dan naif
menikah dengan sosok lelaki yang gelap, murung, misterius, dan
menemukan misteri-misteri tentang mantan istrinya yang ada cerita
tragis-tragisnya juga, dan setting lokasi yang kuat. Di 'Jane Eyre',
settingnya Thornfield, 'Rebecca' di Manderlay.
Tapi, sekarang malah lagi mbaca 'The African Queen'. Gara-garanya,
setelah JE, aku mbaca 'Kate Remembered' biar agak rileks sedikit, tapi
terus inget...aku punya 'The African Queen' dengan Katharine Hepburn
dan Humphrey Bogart di sampulnya. Oh iya, mereka kan pernah main di
versi filmnya. Ya sudahlah, since Kate Hepburn is a rarity here, aku
cuman bisa membayangkan Hepburn sebagai Rosie Sayer di 'The African
Queen'.
Setelah dua peta itu selesai dijalanin, I'm thinking of going the
socialite map, jadi..Vanity Fair, novel-novelnya Edith Wharton,
Bel-Ami, terus F Scott Fitzgerald kali ya, sebelum akhirnya membuat
cabang peta baru ke 1920s writers yang bermuara ke Gertrude
Stein--gurunya Hemingway dan Fitzgerald--dengan 'The Autobiography of
Alice B Toklas'.
Dan oh, I'm also thinking about 'short story ladies', diawali dari
Alice Munro mungkin, terus berlanjut ke Collected Short Storiesnya
Katherine Ann Porter yang dibaca back-to-back ama Collected Short
Storiesnya Eudora Welty (mereka saling mengagumi ternyata, dan Porter
adalah mentornya Welty), sebelum lanjut ke novel-novelnya Welty sampai
ke Faulkner yang sama-sama Southern Writers. Hah! Jadi inget, dari situ
kan bisa ke Carson McCullers...
(Ough, I'm definitely going to be a spinster...)
Posted at 07:37 pm by i_artharini
Permalink
(Setelah selesai membaca Jane Eyre hari Senin lalu...)
Aku ngerasa bahwa memikirkan kemungkinan aku lebih suka karakter Jane
Eyre daripada karakter Elizabeth Bennett adalah sesuatu yang agak blasphemic.
Mungkin kesimpulan bahwa 'Lizzie Bennet adalah all-time favorite
character in a book' diambil terlalu cepat, karena aku belum begitu
banyak membaca tentang heroin-heroin menarik di dunia perbukuan untuk
akhirnya bisa memilih Lizzie sebagai favorit, tapi mungkin juga karena
Jane Eyre benar-benar mengesankan.
Ada banyak hal yang berbeda di antara keduanya; yang satu tumbuh dalam
keluarga inti yang sangat mendukungnya (walaupun dengan orangtua dan
adik-adik yang eksentrik), sementara yang lain dengan keluarga angkat
yang menolaknya, lalu membentuk keluarga-keluarga sendiri. Yang satu
sopan dan mencoba segala cara untuk tidak menjadi anti-sosial, percaya
pada aturan dan norma-norma, sementara yang lain lebih penyendiri,
lebih nyaman pada perilaku kasar karena tidak pernah mengharapkan
keramahan. Walaupun secara ekonomi Lizzie sedikit lebih beruntung
karena kelas sosial yang lebih menguntungkan juga, tapi kemampuan
finansial mereka sebenarnya sama-sama terbatas.
Yang pasti, dua-duanya sama-sama merasa ada sesuatu yang lebih buat
mereka dari sekedar yang 'dikasih' oleh hidup, sama-sama witty,
sama-sama berani jujur ama dirinya sendiri, nggak peduli yang
dibilangin orang lain, dan sama-sama jatuh cinta ama Mr-Mr yang jutek,
dark, sinis, dan therefore...charming. Mr Darcy dan Mr Rochester.
Dan Mr Rochester pun terasa lebih cerdas daripada Mr Darcy. Lebih jutek
pas ngajak omong, tapi lebih talkative. Perdebatan mereka tentang suatu
topik bisa jauh lebih panjang dari Lizzie-Darcy dan lebih panas.
Berbicara tentang 'panas' yang lain, ya, Jane Eyre kerasa banget lebih
passionate, dan lebih sering memunculkan kupu-kupu di perut daripada
Pride & Prejudice. Ketika P&P masih bermalu-malu mengungkapkan
perasaan dari karakter utama lelaki dan perempuannya, Jane Eyre sudah
amat berterus terang, tapi tetap nggak kehilangan kelasnya.
Benar-benar romansa dalam skala yang epik deh.
Tapi, ngomong-ngomong, aku jadi penasaran dengan Bronte sisters.
Setidaknya dari novelnya Emily dan Charlotte yang udah aku baca
(Wuthering Heights dan Jane Eyre); ada apa ya di pendidikan mereka yang
membolehkan mereka untuk jujur seperti itu terhadap perasaan? Ada
gelombang passion yang sama kuatnya di dua novel itu. Sesuatu yang agak
ditahan dalam novel-novel Austen, yang ketika dibandingkan dengan
mereka jadi terasa steril, higienis, rasional, dan (ahem, please excuse
myself) agak...dangkal.
But, no, no. I don't want to feel like that about Austen. This is
Austen, Jane Austen. Aku lagi ngerasa berdosa banget nih berpikir kayak
gitu tentang Austen. Well, mungkin sama kayak orang beragama kali ya,
nggak terima kalo ada yang bilang bahwa sesuatu yang dia percaya selama
ini ternyata...tidak salah sih, cuman ada yang lebih baik. Tapi aku kan
nggak percaya dengan lebih baik-lebih jelek, tapi pada adanya
'perbedaan'. Jadi?
Hmm, sepertinya aku dan Austen sedang berada di tahap hubungan
yang...'is she the one? Is she not the one? Apakah aku masih bisa
belanja-belanja kanan kiri lagi?' dan hopefully, semoga, akhirnya aku
bisa kembali lagi Austen, walaupun mungkin dalam fungsi yang berbeda.
Mungkin bukan lagi the best, tapi mungkin sebagai penulis yang aku
andalkan saat aku pengen detox, merasakan cita rasa yang sederhana,
something that can make me happy all the time kali ya?
Posted at 06:30 pm by i_artharini
Permalink
Dari liputan peluncuran buku Jumat kemarin, aku jadi sadar, hah, dua
tahun di Jakarta, dan aku akhirnya menemukan 'American Book Center'-ku.
Well, setidaknya pengganti American Book Center yang setelah
mengunjungi, rasanya sama kayak abis ngunjungin the actual American
Book Center. Tempatnya? Kinokuniya Plaza Senayan. Well, no surprise
there, itu cuma masalah mencari tempat di mana buku-buku impor
ditemukan dalam jumlah banyak sih.
Mungkin karena pas aku ke sana, aku menemukan banyak buku yang pengen
dibeli, tapi nggak punya duit buat membelinya, dan itu menimbulkan rasa
yang sama seperti saat browsing-browsing 3 jam di ABC, hehe. Tapi
kemarin sempet nemu 1001 Books To Read Before You Die dan
membolak-baliknya sampe jam 10an, pas tokonya mau tutup. Terus ngeliat
juga judul-judul yang sama dengan berbagai jenis cover, lebih menarik
dari QB.
Dan tempatnya yang luas juga. Rak-raknya dengan kategorisasi yang
endless, jumlah judulnya juga lebih variatif; lebih masif, dan masih
belum bosen didatengin. Kangen juga ih sama ABC yang asli. Terakhir
denger kabarnya, lewat blognya, mbaca kalau mereka bakal pindah ke
Spui, yang bekas toko piano. Jangan-jangan, nanti seberang-seberangan
sama Athenaeum ya?

Posted at 05:24 pm by i_artharini
Permalink
Wednesday, September 20, 2006
Ok, ok, ini news flash.
Tadi siang, pas ngeliat hape ternyata ada miscall dari Clara. "Kenapa
bu, aku nggak mau ikutan nge-date ama kamu lho ya.." referring ke satu
peristiwa baru yang akan terjadi dalam hidupnya (cieee.) Terus pas mau
masukin hape ke tas, eh tiba-tiba udah ada balesan. Gila, cepet banget
si Clara mbales.
Ternyata itu dari seorang teman dekat. "Wah, kayaknya aku bakal satu
pesawat ama Baasyir deh ke Bali. Barengan ama dia dan entourage-nya di
waiting room."
Yang tentu aja langsung aku bales, "Too late for ticket refund, eh? [It's a stigmatized joke, I know-Red] Btw, ngapain ke Bali?"
Tiba-tiba, si temen ini langsung nelpon.
"Hai, Narii.. Aku mau ke Bali, terus abis gitu langsung ke Jepang."
"What? Ngapain ke Jepang? Sampai kapan?"
"Aku mau sekolah lagi. Sorry yaaa...aku telat bilangnya. Cuman si
Ms.Dusta sih yang tau, katanya dia mau jadi juru bicara, tapi belum
nyebar ya?"
"Ya publicist itu kan cara kerjanya memang ketika ditanya baru memberikan tanggapan, heheheh."
But anyway, what? I'm still quite shocked. And sad. Ya, aku bahagia lah
pastinya si temen ini bisa sekolah lagi, lagi-lagi ke tempat yang jauh,
emang rejekinya dia lah. Tapi sedih gitu, wah, perginya jauh juga ya?
Emang sih, kita nggak sering ketemu. Jarang banget malah. Frekuensinya
mungkin cuma sekitar...empat kali dalam dua tahun terakhir. Tapi he's
still within the country. Sekarang, waaahhh, ada sesuatu yang membuat
"ke luar negeri" masih terasa jauh, walaupun dunia sekarang sudah
semakin mendatar.
"Ya, I'll send you an e-mail setelah sampe deh. Biar kalo gini email-emailnya kan semakin intensif."
Iya sih.
Aku masih mencoba menyerap besarnya berita itu. Kayaknya ini ada di
level yang sama kayak tiba-tiba aku dapet undangan nikahan one of my
close college friends tanpa woro-woro sebelumnya deh tentang proses
perkenalan dengan calon pasangan.
It's huge.
Dan aku merasa, sampai besok pun masih belum benar-benar 'hit me'.
He's gone.
Wow.
Posted at 08:46 pm by i_artharini
Permalink
Mungkinkah itu? Validkah itu? Membuat sebuah resensi atas dasar emosi?
Bukan sekedar suka atau nggak suka, tapi...singkatnya begini saja,
ndengerin 'Continuum' kok aku selalu berkeinginan untuk crying my eyes
out, bawling my eyes with tears....
Dari yang 'Bold As Love', 'Dreaming With A Broken Heart' (bener lho,
waking up-nya is the hardest part, was he really here?), 'Slow Dancing
in a Burning Room' (yes, I'm being a bitch because I can. And yeah, I
know when it's the deep and dying breath of our relationship. And yes
too, 'I make the most of my sadness, How dare you say it's nothing to
me, Baby, you're the only light I ever saw'), 'Waiting On The World to
Change' ("What's So Funny Bout Peace, Love, and Understanding?" untuk
generasiku?), 'The Heart of Life', sampai yang 'Stop This Train', 'In
Repair', dan tentu aja, 'Vultures'.
It's just the way he writes. Precisely pinpoint the particulars in a
vague-y experience. Tapi, jangan-jangan 'vague'nya karena kita tidak
bisa mengartikulasikannya?
Huks, untung udah selesai nih ndengerin. Kalau nggak, nangis terus deh.
Posted at 08:27 pm by i_artharini
Permalink
Tadi malem, pas lagi mbaca 'Kate Remembered', sambil ndengerin
'Continuum' yang akhirnya sampai ke lagu 'Vultures'. Lagu yang emang
udah aku senengin pas denger di album John Mayer Trio yang Try!
Aku pernah mengutip bait pertamanya di blog ini. Cuman ternyata ada
lanjutannya yang pas banget ama masalah terbesarku sekarang.
Kutipannya:
How did they find me here
What do they want from me
All of these vultures hiding
Right outside my door
I hear them whisperin
They're tryin to ride it out
They've never gone this long
Without a kill before
Down to the wire
I wanted water but
I'll walk through the fire
If this is what it takes
To take me even higher
Then I'll come through
Like I do
When the world keeps
Testing me, testing me, testing me
It's fire, indeed. Tapi ya, if this is what it takes to take me even higher....
Posted at 08:05 pm by i_artharini
Permalink
Rasa kagumku pada para pelaku pembajakan produk media di Indonesia
masih belum habis. Contoh, Minggu beberapa hari yang lalu, ke
Ambassador. Di luar rencana sebenarnya, karena itu juga habis arisan,
dan jalan ama ortuku.
Setelah tahu mau ke Ambassador pun cuma berencana untuk beli Gilmore
Girls season 5. And yeah, whatever quirky CD they sell lah.
Obyek pertama, udah kebeli. Terus, iseng-iseng liat tempat jualan CD,
tidak benar-benar mengetahui apa yang aku cari atau pengenin sih.
Sempet liat Sarah Vaughan, Dinah Washington, dan udah mau memilih salah
satu dari mereka sebelum akhirnya melihat bajakannya Patti Smith yang
Trampin' di bagian Oldies Jazz Female--yang tepat hanya 'female' dari
tiga karakterisasi itu-- Aku lupa kapan tepatnya album ini keluar, tapi
kayaknya cukup baru--setelah dicek, 27 April 2004--Tapi Patti Smith
bukanlah sesuatu yang aku harapkan ketika mencari-cari di tumpukan
jerami. Ini bukan sekedar jarum yang aku temukan.
Patti Smith.
Wooooowwww.
Shirley Manson, vokalis Garbage, di edisi Rolling Stone versi Indonesia
tentang 50 Best Performing Artist (SIAPA YANG MINJEM PUNYAKU WOY?)
tentang Patti Smith menulis, bahwa dia saat itu berusia 21 tahun saat
pertama kali mendengar 'Horses'. Aku lupa, berapa usiaku saat itu? 20,
mungkin. Lewat internet radio-nya VH1. Dan kayaknya pas itu Trampin'
juga baru keluar, jadi aku membaca beberapa hal tentang Smith di saat
bersamaan dan terkagum-kagum.
Ah, me and dramatic women.
Yang ini pasti kebeli deh. Terus sempet nemu juga dua versi double CD
live-nya Dave Matthews Band, yang sebenernya udah mau aku beli salah
satunya, sebelum iseng-iseng nyari--dan sebenernya nggak berharap
nemu-- 'Continuum'-nya John Mayer.
Dan, yerp. Aku menemukannya. Dalam kondisi rekaman yang cukup bagus.
Ini ceritanya direkam dari sebuah acara radio di LA, Star FM kalo nggak
salah namanya, di mana Mayer memasang seluruh albumnya di segmen radio
tersebut, dengan dia ikut menarasikan proses pembuatan tiap lagu. Di
rekaman itu dia menyatakan kesadarannya akan acara ini direkam atau
albumnya dibocorin di internet, but hey, go ahead, steal away, katanya.
Jadi, sama kayak DVD bajakan dengan kualitas bagus, yang cuman buat
screening purposes only, terus di bawahnya ada tulisan 'Property of
...., If shown please contact.....for reporting', nah ini sesekali ada
komentar 'You're listening to Star FM. Continuum, out on September 12'.
September 12 cobaaa!
Dan Minggu kemarin itu kan baru 17 September. Gila nggak sih?
Maksudnya, ada yang ngerekam acara itu di LA, terus dicopy dan dikirim
ke suatu tempat, China mungkin, terus akhirnya sampai ke Ambassador,
Jakarta dalam...ya itung aja acara itu kan nggak mungkin ditayangin
tanggal 12nya ya, itunglah....seminggu sebelum tgl 12 lah ya. 12 hari?
Tsk, tsk tsk. Dalam dunia pembajakan, aku membayangkan, sudah banyak
yang bisa dilakukan dalam waktu dua minggu kurang sedikit.
Kekagumanku sama jaringan ini malah melebihi kekagumanku menemukan
bajakannya Patti Smith. Karena, yang resmi aja--aku membayangkan
genre-nya dia-- agak menantang untuk dipasarkan, tapi tetep aja
dibajak. Hebat, hebat.
Posted at 07:18 pm by i_artharini
Permalink
Tuesday, September 19, 2006
Seminggu yang lalu baru aja selesai mengkatalog dan mengatur secara
alfabetis buku-buku di kamar. Setelah mengenal dan mengidentifikasi
satu per satu apa aja yang udah aku miliki, aku membuat janji pada diri
sendiri bahwa tidak akan ada lagi gila-gilaan membeli buku dalam 2
tahun ke depan. Stok buku-ku sudah mencukupi, bahkan malah lebih, untuk
kurun waktu tersebut.
Nah, seorang teman kantor memberi tahu, ada sale lagi di QB Jalan
Sunda, sampe 70 persen. Pas menerima berita itu juga tidak terasa
kepanikan. Pun tidak langsung bergegas hari itu juga menuju tempat yang
dituju. Komentarnya juga cuman, dalam hati: "Kasian banget ya QB,
kayaknya pada mau tutup semua ya?"
Nah, hari Sabtunya, asalnya diajak ke Bandung. Cuman karena aku males
berangkat hari Jumat, sementara hari Sabtu siang sudah mau pulang,
ngerasa tanggung aja, jadi nggak niat jalan sama sekali lah. Sabtu itu
akhirnya aku ke QB. Udah siang pula, jam dua-an mungkin dari rumah.
Sampai sana sih udah jam 4-an, dan penuuuuhhh banget. Pas aku dateng
pun udah ada banyak orang ke luar dengan tas-tas plastik yang isinya
banyak-banyak.
Browsing-browsing juga nggak nyaman banget dan pesimis nemuin buku yang
bakal aku senengin. Ah, malah lebih bagus lah. Duit kan nggak banyak ke
luar gitu. Menganggarkan pun maksimal 200 aja lah, walopun 300 juga
masih tolerable. Tapi ternyata nemu F. Scott Fitzgerald yang "The
Beautiful and the Damned", nyari yang Tender is the Night udah nggak
ada. Terus nemu "The Grass Harp"-nya Truman Capote, terus Collected
Stories-nya Eudora Welty (yay!), dan mulai deh...satu penemuan
berlanjut ke temuan-temuan lain. Sampai akhirnya, lho kok berat banget
ya tas belanjaannya? Dan, waduh...kok banyak banget?
Akhirnya, balik dulu ke tas, ngambil bolpen ama kertas buat
itung-itungan, nyari pojokan yang agak sepi dan mulai menghitung.
*Menarik nafas tajam* Duh, yakin nih mo ngambil segini?
Oke, bongkar-bongkar dulu, pilih, pilih, pilih, kira-kira yang kurang
penting mana yaa. Dan di titik inilah aku menyalahkan keberadaan kartu
kredit. Karena kartu kredit itulah aku merasa aku mampu membayar semua
itu. Dan, oke, oke, oke, dengan pusing dan agak gugup--karena belum
pernah memakai kartu kredit sebelumnya, gimana kalau ditolak coba? Aku
kan nggak bisa berpisah dengan buku-buku ini lagi...--aku berjalan
menuju kasir.
Glek, sampe malu sendiri ngeliat print-print-an bonnya deh. Tapi, ya
sudahlah, damage is done. All you can do is just read it, toch?
Dan aduh, sumpah deh, hari itu belagak sok kaya banget. Abis gitu kan
tersadar, seharian belum makan. Akhirnya makan deh di lantai atas,
yaitu...bakmi GM. Pulangnya, pengen naik taksi sih, karena berat juga
mbawa bukunya dan nggak pengen kepergok sama Rani dan mama, takut
mereka udah pulang duluan gitu. Ya sudahlah, akhirnya nyetop Ekspres,
taksi credible yang bertarif lama lah.
Oke, anyway, satu pemikiran: pas ngeliat tumpukan buku yang udah dibeli
dan rencana-rencana akhir pekan untuk membacanya, aku sempet bilang ke
diri sendiri; Nari, you do plan to have a life, right? Social life? Meeting people, etc?
Sekarang, dari tumpukan yang beli kemarin, lagi mbaca 'Kate
Remembered', biografinya Katharine Hepburn, sama dari sebelumnya beli
'Wide Sargasso Sea', karena itu berhubungan ama 'Jane Eyre' yang udah
berhasil diselesaiin dalam seminggu lebih dikit (hore!).
Posted at 08:55 pm by i_artharini
Permalink
|
|
|