PENARI MUNGIL


(Saya bukan seorang penari. Pun sangat jauh dari mungil. Tapi, tahu kan adegan 'Tiny Dancer' di 'Almost Famous'? Sensasi membahagiakan dari adegan itulah yang saya kejar..)



Hold me closer, tiny dancer

Count the headlights on the highway

Lay me down in sheets of linen

You had a busy day, today


("Tiny Dancer" - Elton John)





"...the quest for transcendence has always been closely linked to the ecstatic release of dancing."
(Resensi RollingStone atas sebuah album pop)

Mr. Darcy: "So what do you recommend, to encourage affection?"
Elizabeth Bennet: "Dancing, even if one's partner is only tolerable."
(Pride & Prejudice, 2005)


perempuan, 1983, lovesick soul, berjalan kaki, belajar menulis, menonton film, ingin keliling dunia, Billie Holliday, Jane Austen, 'Franny and Zooey', cerita pendek F Scott Fitzgerald, lagu-lagu sedih, kecanduan membeli buku second, deretan buku di lemari, berkeliling dengan bis kota, mengepak koper, menari bebas, Vogue, sepatu, bad boys, kopi, kuliner, foto, semua yang vintage, genggaman tangan, pelukan hangat, detil percakapan antara manusia, kegelisahan, kesepian, ruang pencarian, belajar dewasa, museum dan bangunan tua, hari hujan, sinar matahari hangat di hari berangin, airport, stasiun kereta, dan pertanyaan tanpa akhir

YM: isyana_artharini
Email: i.artharini@gmail.com
   

<< September 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02
03 04 05 06 07 08 09
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Tuesday, September 19, 2006
Ketagihan Ih

Seminggu yang lalu baru aja selesai mengkatalog dan mengatur secara alfabetis buku-buku di kamar. Setelah mengenal dan mengidentifikasi satu per satu apa aja yang udah aku miliki, aku membuat janji pada diri sendiri bahwa tidak akan ada lagi gila-gilaan membeli buku dalam 2 tahun ke depan. Stok buku-ku sudah mencukupi, bahkan malah lebih, untuk kurun waktu tersebut.

Nah, seorang teman kantor memberi tahu, ada sale lagi di QB Jalan Sunda, sampe 70 persen. Pas menerima berita itu juga tidak terasa kepanikan. Pun tidak langsung bergegas hari itu juga menuju tempat yang dituju. Komentarnya juga cuman, dalam hati: "Kasian banget ya QB, kayaknya pada mau tutup semua ya?"

Nah, hari Sabtunya, asalnya diajak ke Bandung. Cuman karena aku males berangkat hari Jumat, sementara hari Sabtu siang sudah mau pulang, ngerasa tanggung aja, jadi nggak niat jalan sama sekali lah. Sabtu itu akhirnya aku ke QB. Udah siang pula, jam dua-an mungkin dari rumah. Sampai sana sih udah jam 4-an, dan penuuuuhhh banget. Pas aku dateng pun udah ada banyak orang ke luar dengan tas-tas plastik yang isinya banyak-banyak.

Browsing-browsing juga nggak nyaman banget dan pesimis nemuin buku yang bakal aku senengin. Ah, malah lebih bagus lah. Duit kan nggak banyak ke luar gitu. Menganggarkan pun maksimal 200 aja lah, walopun 300 juga masih tolerable. Tapi ternyata nemu F. Scott Fitzgerald yang "The Beautiful and the Damned", nyari yang Tender is the Night udah nggak ada. Terus nemu "The Grass Harp"-nya Truman Capote, terus Collected Stories-nya Eudora Welty (yay!), dan mulai deh...satu penemuan berlanjut ke temuan-temuan lain. Sampai akhirnya, lho kok berat banget ya tas belanjaannya? Dan, waduh...kok banyak banget?

Akhirnya, balik dulu ke tas, ngambil bolpen ama kertas buat itung-itungan, nyari pojokan yang agak sepi dan mulai menghitung. *Menarik nafas tajam* Duh, yakin nih mo ngambil segini?

Oke, bongkar-bongkar dulu, pilih, pilih, pilih, kira-kira yang kurang penting mana yaa. Dan di titik inilah aku menyalahkan keberadaan kartu kredit. Karena kartu kredit itulah aku merasa aku mampu membayar semua itu. Dan, oke, oke, oke, dengan pusing dan agak gugup--karena belum pernah memakai kartu kredit sebelumnya, gimana kalau ditolak coba? Aku kan nggak bisa berpisah dengan buku-buku ini lagi...--aku berjalan menuju kasir.

Glek, sampe malu sendiri ngeliat print-print-an bonnya deh. Tapi, ya sudahlah, damage is done. All you can do is just read it, toch?

Dan aduh, sumpah deh, hari itu belagak sok kaya banget. Abis gitu kan tersadar, seharian belum makan. Akhirnya makan deh di lantai atas, yaitu...bakmi GM. Pulangnya, pengen naik taksi sih, karena berat juga mbawa bukunya dan nggak pengen kepergok sama Rani dan mama, takut mereka udah pulang duluan gitu. Ya sudahlah, akhirnya nyetop Ekspres, taksi credible yang bertarif lama lah.

Oke, anyway, satu pemikiran: pas ngeliat tumpukan buku yang udah dibeli dan rencana-rencana akhir pekan untuk membacanya, aku sempet bilang ke diri sendiri;  Nari, you do plan to have a life, right? Social life? Meeting people, etc?

Sekarang, dari tumpukan yang beli kemarin, lagi mbaca 'Kate Remembered', biografinya Katharine Hepburn, sama dari sebelumnya beli 'Wide Sargasso Sea', karena itu berhubungan ama 'Jane Eyre' yang udah berhasil diselesaiin dalam seminggu lebih dikit (hore!).

Posted at 08:55 pm by i_artharini
Comment (1)  

DTK

Sabtu malam kemarin, pas lagi nonton Dunia Tanpa Koma episode 2, Rani komentar: "OMG, kakakku nonton sinetron. Dian Sastro lagi. Kan ada better things to do.."

Well, I got a list of reason actually, kenapa aku nonton sinetron ini. And yes, I got better things to do, kayak 'Jane Eyre' yang memanggil-manggil untuk diselesaikan di atas, pas udah ketauan lagi misteri yang menyelimuti Mr Rochester dan suara-suara aneh dari loteng, belum lagi tiga tas plastik penuh isi buku dari sale 70% QB jalan Sunda--really, I blame that on owning a credit card. That was my first time on using the card. I'm officially in the system, now--but I wish I can stop watching the soap, only if Dian Sastro stop copying my life. Heheheh.

Oke oke, tidak bermaksud untuk menjadi se-egois dan se-narsis itu, tapi the reason I'm watching it because...ya aku ngerasa cuman sama tokoh ini lah aku bisa mengidentifikasikan diriku. Kayak, contoh kecil, kemaren di awal episode 2, ada shoot dari bawah gitu di kamar tidurnya si Raya (Dian Sastro), naik, naik, naik, ternyata ngelewatin meja yang di atasnya ada...'Franny and Zooey', dengan cover putih polos dan slirit-slirit garis merah-kuning-hijau di pojok kiri atas. Waaa, my favorite book, my favorite book. And yes, maybe they put it because of the New York connection, what with her previous school, etc. And of course, with her being a young lady at the same age as Franny and their...ideals on the world.

Terus, pas si Raya-nya bangun dari tempat tidur, ngelewatin pintu atau dinding gitu, dengan poster...Virginia Woolf. Hah! Ok, ok, I didn't put up a Virginia Woolf poster in my room, but I could have...if only I found the poster.

Tapi boleh juga tuh cara mereka menggambarkan karakter, masuk akal juga Raya masang posternya Virginia Woolf, lha..dia kan katanya ngambil feminism studies. Anyhoo, episode 2-nya kok kurang berkesan ya? Walaupun ada suatu line yang membuat aku teriak: hah, bener bangeettt!

Aku lupa siapa tepatnya yang bilang, tapi it goes like this: "kenapa sih, kok kita selalu ngeributin apa HL-nya Harian Kini?"

Ternyata bahasan itu nggak cuman ada di kepala kita-kita aja tho...

Despite it flaws, I would still be found, next Saturday night, right in front of the television, watching DTK.

Eh iya, satu lagi, si Galih ternyata main juga di situ.

Posted at 08:09 pm by i_artharini
Make a comment  

Fight; 2.0

Tidak bermaksud mengeluh sebenernya, cuman pengen...apa ya? Just please consider that one particular story before judging whether I've fought or not. Well, I sort of think that there is something better out there waiting. Sama kayak hubunganku yang sebelumnya, maksudnya, heh, ngapain aku mengharap sesuatu yang cuman sedikit di atas rata-rata, yang minimum aja kadar membahagiakannya, sementara aku bisa dapet sesuatu yang jauh lebih baik?

So, what am I waiting for?

Unfortunately, I have this dream that would include two years working in one place, and it's six months away to 'two years working'. So, ok, it's time to just..suck it up and prove what you're made of. 

Posted at 07:42 pm by i_artharini
Make a comment  

Friday, September 15, 2006
Fight

Setahun nurutin keinginan tempat kerja, menuruti semua perintah dan mengerjakannya sesempurna mungkin, sampai ke rapat yang membuat aku emosional, terus ketebus sama presentasi yang lumayan berhasil--dan mengira 'it will all be worth it'--; asumsi yang langsung hancur ketika ada komentar yang bilang, "biar dia fight dulu".

Oke, fine. Fight, no fighting, whatever. But, define this:

Aku pergi ke sebuah kota di Kalimantan Barat, menjalani perjalanan 6 jam pake mobil ke sebuah kota kecil bernama Sekadim. Dari situ perjalanan naik motor 4 jam sampai ke sebuah kota bernama Sekura. Bermalam. Lalu paginya berangkat lagi naik motor jam 7 pagi, melalui jalan-jalan kecil untuk sampai ke sebuah desa bernama Temajuk. Lokasinya, tepat di ujung buntut kepala burung Kalimantan. Sekitar jam 9, baru mengetahui ternyata ban belakang bocor. Berjalan kaki ke tempat peristirahatan terdekat. Dan jangan bayangkan sekitar adalah pedesaan yang padat penduduk. Jalan pasir dengan vegetasi pantai di sekitar dan matahari yang panas menyengat. Untung sedang ada pembangunan jalan, sehingga ada tempat beristirahat para pekerja jalan. Urusan ban selesai, berjalan lagi menyeberangi sungai dengan perahu penyeberang. Menunggu sampai sekitar 5 jam, menunggu air laut surut, agar dapat melalui jalan menuju desa itu. Satu-satunya jalan 'darat' menuju desa itu. Tapi menuju pinggir laut juga tak melalui jalan lebar, apalagi aspal. Pasir putih, sempit, kadang terendam air. Sampai aku bertanya, pernahkah ada orang yang lewat jalan ini? Satu jam berada di jalan seperti itu. Saat air surut, maghrib mulai datang, sehingga kami mengendarai motor di samping laut di malam hari. Indah, memang. Tapi tanjung-tanjung yang dilewati menjadi tidak terlihat, begitu pula batu-batu raksasa yang menyembul dari permukaan air yang mengering. Naik, turun motor menjadi pekerjaan yang melelahkan, apalagi dengan celana jins yang sudah agak basah. Dua jam kemudian, berkendara motor dalam gelap, dengan ancaman busi yang beberapa kali ngadat karena terkena air asin (semoga kami tak terjebak di sini saat air mulai pasang), kami tiba di Temajuk. Keesokan harinya muter-muter desa wawancara orang. Terus besoknya lagi, jalan masuk ke dalam hutan nyari patok batas, 4 km jalan masuk ke dalam hutan. Jalan di titian sempit. Jatuh bangun entah berapa kali. Lalu 4 km lagi ke luar hutan. Besoknya, kembali lagi menuju Sambas. Kembali lewat pinggir laut, kembali lewat jalan pasir, mampir di Sekura, menyeberangi sungai Sambas, mampir di Sambas sebentar, sebelum akhirnya ke Sekadim. Total perjalanan hari itu di atas sepeda motor? 14 jam. Semuanya dilalui dengan orang asing yang continually harrass me about my weight, my being a single young female yang dapat 'menggoda' status menikahnya (as if I would). Lalu esoknya, 6 jam lagi ke Pontianak. Esoknya, kembali ke Jakarta. Aku bahkan sampai tak mau menunjukkan foto perjalanan dan menceritakan perjalanan itu, karena aku tidak mau melihat reaksi ibuku yang pastinya bakalan cemas setengah mati. Lalu mengetik, selama seminggu, pulang dari kantor selalu di atas jam 2. Bahkan, malam terakhir sampai jam 5 pagi baru pulang, karena hari itu aku sudah mengambil cuti untuk ke Malang dan Surabaya. Setelah selesai cuti, ternyata editan tulisan masih belum kelar juga. Dan sampai dua minggu kemudian. Sampai akhirnya, aku mengajukan diri menyambung-nyambung tulisan. Dan setelah itu selesai, sejak 1,5 bulan yang lalu, sampai sekarang...tulisan itu belum turun juga. Atau setidaknya di-budget-in. Aku yang nggak pernah care dengan tulisanku turun atau nggak aja sampe frustasi berat.

And this is just one assignment dengan medan yang agak berat.

Belum assignment-assignment lain, yang walaupun medannya tidak seberat ini, tetap saja aku lakukan dengan kekuatan yang sepenuh hati, yang sama sekali nggak pernah aku tolak.

Belum ngitung tugas-tugas makan ati, karena ngerjain tugas-tugas buangan yang bahkan Ekonomi dan Humaniora aja nggak mau ngambil karena terlalu penuh dengan kepentingan. Kenapa redaktur mereka bisa ngelindungin anak buahnya sementara aku cuman jadi ban serep?

Setahun terakhir, aku sudah memutar otak, mencoba menciptakan alasan demi alasan yang positif tentang keberadaanku di kompartemen yang mati suri ini, dan sekarang...aku udah kehabisan tenaga buat menciptakan ilusi demi ilusi bahwa ini akan bergerak ke arah yang positif.

Aku merasa udah melakukan bagianku untuk berjuang, tapi ternyata itu masih belum cukup ya? Dan sekarang, aku udah kehabisan tenaga.

Duh Gusti, kalau doa saya masih didengarkan, nyuwun paringana kesabaran nggih...

Posted at 08:04 pm by i_artharini
Make a comment  

Continuum

Lagi browsing-browsing 'A Socialite Life' pas nemu artikel tentang John Mayer dan album ketiganya, 'Continuum'. Belum denger sama sekali se-albumnya, dan cuman baca reviewnya Amazon--yang sebelum nonton 'Hard Candy' pun udah menganggap itu tidak akan cukup sebagai penilaian, tapi gimana lagi...I like browsing through Amazon--tapi ngeliat satu judul yang, menurutku, witty. Judul lagunya: "I'm Gonna Find Another You".

Langsung ke Google, nyari liriknya. Dan, bait favorit:

When I was your lover
No one else would do
If I'm false to find another I hope she looks like you
Yeah and she's nicer too

Yeah, I got the answer now: a nicer new person who looks like you.


Currently reading:
Jane Eyre (Dover Thrift Editions)
By Charlotte Brontë



Posted at 05:52 pm by i_artharini
Make a comment  

Wednesday, September 06, 2006
Jempol

"Two thumbs up" -- Ebert & Roeper

Tulisan yang paling sering ditulis di cover-cover dvd bajakan, mungkin fungsinya sugestif, biar orang-orang yang lagi milih dvd tergerak untuk membelinya. Lucunya sih sering, ada kutipan yang agak panjang dari seorang reviewer, yang sebenarnya nadanya negatif, tapi tetep dimasukin di covernya. Jadi, fungsinya apa dong?

Contoh kutipan bernada negatif:
"Fatuous, unfunny, and profoundly un-entertaining." -- Peter Bradshaw, The Guardian

Nah, kalo gitu, buat apa coba dimasukin?

Tapi, ada cerita lain tentang 'thumbs up'.

Kemarin, aku ngeliat salah seorang atasan berjalan masuk ke arah kamar mandi, aku sempat melihat beliau dan pas beliau melihatku, aku tersenyum ke arahnya, dan dia membalasnya dengan mengacungkan jempolnya. Terus begitu sampai masuk ke kamar mandi.

Artinya apa coba?

1. Ya, kamu tetap di kompartemen sekarang. Cause, you're doing grrreeaatt!
2. Ya, keep up the way you spend the unlimited leisurely free-time.
3. Oh you're still working here? Good.
4. Oh, I think I forgot your name. So, I raise my thumb instead, indicating everything is A-OK.

(Hmm...ini bener-bener pointless.)



Currently listening to:
The Life Pursuit
By Belle & Sebastian



Posted at 08:15 pm by i_artharini
Comments (2)  

Tuesday, September 05, 2006
Middle Class Consortium

Kemarin malam, pas datang ke acara peluncuran bukunya Marco Kusumawijaya, "Kota Rumah Kita", di Aksara Kemang, sempet dengar komentarnya Ayu Utami. "Kalo Wardah Hafidz punya Urban Poor Consortium, mungkin kita harus membuat Middle Class Consortium," katanya.

Aku lupa banget tepatnya bagaimana dia bisa sampai ke kesimpulan itu. Tapi Ayu sempat menyebut-nyebut kehebatan Marco yang bisa membuat dia mengerti permasalahan perkotaan (Jakarta) sebenarnya. "Saya sering sekali merasa kesal dengan Jakarta, tapi nggak tahu, apa sebenarnya masalahnya, atau bagaimana penyelesaiannya," aku inget Ayu ngomong begitu. Jadi, mungkin aku mengira pembentukan MCC itu ada hubungannya dengan penyelesaian masalah Jakarta.

Tapi, middle class consortium? Sejujurnya, I hate being middle class. Karena untuk merasa marah pun serasa berdosa, ada rasa: "what are you complaining about, kamu kan lebih beruntung."

Oke, oke, pasti ada hal-hal 'penting' (see, aku bahkan tidak bisa menganggap serius kemarahan orang-orang kelas menengah. Apalagi kemarahan kaum muda kelas menengah) yang bisa jadi issue buat Middle Class Consortium, tapi aku lagi pengen ngedaftar hal-hal trivial yang bisa jadi kemarahan orang-orang dari kelas ini. Kemarahan trivialku, salah satunya, tapi ini yang paling utama, adalah pada orang-orang yang berkecukupan banget, tapi nggak punya kesopanan. Duh, udah deh. Duit sebanyak apa pun, kalo udah nggak punya kesopanan, manner, ih mending nggak punya duit sama sekali deh.

Aku pernah ngeliat contoh langsungnya, pas rapat di kantor, ada seorang perempuan muda dengan posisi, kekuasaan, dan pastinya keunggulan finansial yang termasuk luar biasa di mata karyawan jelata. Tapi, selama rapat, dia nggak mau nge-silent hp-nya. Teruuuus aja nerima telepon, ngomong keras saat salah satu pimpinan sedang berbicara menerangkan. Dan, si pimpinan juga nggak negur, atau meminta sopan untuk mematikan hp. Kita kan juga keganggu. Dan, aku, kalau sedang presentasi, nggak menghargai ada orang yang tidak memberi perhatian kayak gitu.

So, any trivial anger I should be listing?


Currently listening to:
Show Your Bones
By Yeah Yeah Yeahs



Posted at 08:35 pm by i_artharini
Make a comment  

Bad Boy

Ini satu lagi dari Gilmore Girls Season 4, baru selesai aku tonton tadi pagi,

Lane: "Every girl has to fall for the bad boy. It's the rule. That's the reason why so many accountants eventually got married."

Touche, touche.

Yep, periode pemujaanku terhadap bad boy (kayaknya) sudah selesai, karena pengalaman sebelumnya. Dan, sama kayak Rory, saat itu, aku juga ngerasa, "What could be better than this? He's cute, he's smart, he has good taste in books and music."

(Walaupun dalam kasusku, good taste in music? Ya bolehlah, tapi nggak juga kok. Pastiiii dia belum pernah denger Kings of Leon, heheh.)

Tapi di sisi lain, he's a bad boy in a passive-aggressive kind of way. As in, secara emosional, susaaaaah banget berkomunikasi. (How do you suppose to reply a one-word answer that closes up the possibility of another question?) Perubahan suasana hati yang parah banget, nggak pernah tau apa yang dipengenin, nggak dependable, nggak reliable juga. Deg-degan setiap waktu, mempertanyakan, apakah dia akan tetap ada di sana setelah.....(suatu kejadian atau revelation tertentu).

Hmm, itu semua kan benar-benar perasaan yang tidak nyaman ya? Terus-menerus digantung. Jadi, kenapa aku sampe lamaaaa banget menyesalinya? Mungkin karena yang aku lihat cuma misteriusnya; berharap di balik semua kesulitan itu pasti ada sesuatu yang besaaaaaar banget yang....(apa? apa? aku bisa bantu selesaikan? don't make myself laugh..) nggak tahulah.

"It's Jess. He already bailed on me twice," juga kata Rory.

Aku sudah tidak ingat lagi berapa kali malah dia bailing on me. Bailing dalam arti emosi, tapi tetep aja, rasa kecewanya itu kan tetep nyata dan ada. So, from now, apa yang aku cari adalah seseorang dengan emosi yang lebih secure. Jadi, accountants? Yes, please.

Dan dalam hal penampilan juga, kayaknya bener yang dibilangin seorang temen,  dulu, semakin berantakan semakin baik. Tapi sekarang, aku lagi punya favoritisme terhadap cowok-cowok pemakai polo shirt. Preppy is what I'm looking for now. (Tapi, tetep, no turtlenecks please...)

Jadi, no more emotionally unavailable, starving artist, grunting one-syllable-answers guy. Only clean-looking, polo-shirt wearing guy with a perfect understanding on the concept of "communication" and a healthy dose of emotion is what I'm trying to find, now.


Currently listening to:
Aha Shake Heartbreak
By Kings of Leon



Posted at 06:45 pm by i_artharini
Make a comment  

Berkarat

rust‧y1[ruhs-tee]
–adjective, rust‧i‧er, rust‧i‧est.
1.covered with or affected by rust.
2.consisting of or produced by rust.
3.of or tending toward the color rust; rust-colored.
4.faded or shabby; impaired by time or wear, as clothes or drapery.
5.impaired through disuse or neglect: My Latin is rusty.
6.having lost agility or alertness; out of practice: I am a bit rusty at tennis.
7.(of a sound) grating or harsh.

Sementara, dari kamus.net, rusty, artinya kaku, lupa, berkarat. Kata itu tiba-tiba muncul, mendadak, di kepala tadi malam. Dan itu kata yang tepat banget untuk menggambarkan semua kondisiku sekarang. Tulisanku, satu-satunya hal dalam hidup yang aku yakin aku bisa melakukan dengan baik dibandingin hal-hal lain dalam hidupku, jadi berkarat. Caraku menyusun satu kalimat, membentuk argumentasi, penggunaan diksi. Rasanya udah kayak, aku nggak mau repot-repot dengan sedikit berpikir.

Dan, ini yang mengerikan, di bukunya Rilke yang 'Letters to a Young Poet' kan ada pertanyaan utama dan mendasar dari Rilke pada si penyair muda itu. Tentang bagaimana kita bisa mengetahui apakah menulis itu memang yang kita harus lakukan, kita disuruh membayangkan, bisa nggak sehari saja, kita tidak menulis. Aku dulu-dulu, nggak berani memikirkan jawaban pertanyaan itu. Maksudnya, gimana kalo jawabannya ternyata "iya, aku bisa tuh menghabiskan sehari tanpa menulis". Sementara, menulis adalah sesuatu yang...ya itu, aku membayangkan sebagai the best thing I do in my entire existence.Jadi, aku suka menenangkan diri dan bilang, nggak lah, jangan sampai itu kejadian.

Nah, mengerikannya, hatiku sekarang semakin mengarah ke jawaban itu.

Oke, ada Santo Agustinus yang membuat aku terintimidasi, tapi...intimidasi itu hanya sebatas merasa terancam di permukaan. Permukaan, dalam artian, lingkungan kantor, penilaian positif dari atasan, membuktikan kemampuan di antara orang-orang yang kita sama-sama kenal. Tapi, secara mendasar, tidak ada sesuatu yang membuat aku termotivasi untuk menghilangkan karat menulis itu.

Setahun lalu, aku bakal menelan semmmua tulisan tentang 'the craft of writing'. Sedikiiit aja tentang menulis bakal membuat aku terbakar untuk punya ide baru, corat-coret di buku catatan atau kertas kecil buat nulis. Tapi sekarang, nggak ada ide baru, dan semua pengetahuan teknis tentang menulis juga udah lupa.

Pengetahuan akan film, atau caraku menonton film, juga berkarat. Nggak tahu kenapa, sekarang aku nggak punya kesabaran yang sama untuk menonton sesuatu yang baru. Aku jadi pengen sesuatu yang ringan aja buat menghibur. Biasanya, sesuatu yang (sok) rumit membuatku terhibur. Sekarang, itu cuman membuat aku malas memulai nontonnya. Now, I just go for cheesy rom-coms.

Aku sudah kehilangan kelincahan (agility) dan kepekaan (alertness), sesuatu yang mungkin adalah hasil dari kurangnya berlatih. Rusak, karena tidak digunakan lagi atau karena pengabaian, menurut artinya di atas.

Membaca buku, nah itu apalagi. Terakhir, ya 'Auntie Mame'. Tapi itu juga suatu buku yang ringan. 'Catch-22', jadi mandek di tengah-tengah. 'All Passion Spent', akhirnya baru aku mulai lagi, ya lumayanlah udah di tengah-tengah. Dan ketika aku membaca pun, aku nggak mau repot-repot untuk berhenti sebentar dan berpikir. Kalau ada sesuatu yang aku nggak gitu ngerti, lanjut aja terus. Jadi cuma membaca kata-katanya aja.

Ffiuh.

Masalah ini kayaknya udah menahun satu tahun belakangan deh. Tapi nggak ada penyelesaian yang tuntas. Selalu aja kembali ke permasalahan yang sama. Jangan-jangan, salah satu penyebabnya adalah minimnya sparring partner? Iya, ada temen-temen dengan minat sama di sini. Cuma, aku belum menemukan seseorang dengan intensitas yang bisa membuat aku terpacu.

Pernah nih, pas kemarin ke Surabaya, ketemu Denny, dan dia membahas tentang 'Superman Returns'. Dia menjelaskan detil banget tentang kenapa 'Superman Returns' itu sebuah film yang keren. Dan sampailah dia pada kesimpulan, "film itu, secara fisika, sempurna."

Aduh, aku kangen banget komentar-komentar kayak gitu dari dia. Sesuatu yang belum pernah aku dapet dari orang-orang di sekitarku tentang film.

Terus, tentang buku, browsing di Amazon, atau Gutenberg, atau blog-blog tentang buku, sekarang udah nggak mempan lagi buat membakar rasa ingin tahu.

Aduh, aku jadi bener-bener ngerasain, bebal tuh rasanya kayak gini tho. Sumpah deh, aku bisa merasakan rasanya otakku jadi bebal, sama kayak orang ngomong: "I don't know, but I can smell the pinkness."

Aku cuma tahu, aku butuh sesuatu yang menyegarkan. Tapi nggak tau, apakah itu, atau di mana sesuatu yang menyegarkan itu bisa ditemukan.


Currently listening to:
Youth & Young Manhood
By Kings of Leon



Posted at 05:45 pm by i_artharini
Make a comment  

Sedikit Gosip Tentang Mayer

Aku punya kebiasaan buruk, melupakan kapan tepatnya sesuatu itu terjadi. Well, mungkin sebenarnya itu sesuatu yang normal, tapi kebiasaan buruknya adalah tidak langsung mencatat kejadian itu, ke blog atau suatu jenis buku catatan.

Pokoknya, baru-baru ini, Rani bilang, "Mbak Nari, masak si John Mayer katanya pacaran ama Jessica Simpson lho."

To which I replied, "ah, nggak mungkin. Aku belum mbaca tuh di Socialite's Life (website tempatku paling sering menghabiskan waktu dan website yang rutin tiap hari aku kunjungin. Purely guilty pleasure..). Emang kamu mbaca di mana?"

"Detikhot kalo nggak salah."

"Ah, nggak mungkin. Pokoknya belum ada yang pasti sampai masuk Socialite's Life."

Sekitar dua, tiga hari berlalu, sampai akhirnya aku melihat berita ini di..mana lagi  kalo bukan di  Socialite's Life. Yang lebih menarik sebenarnya komentar dari si penulis blog: "I can see it. He dated Jennifer Love Hewitt, so you know he's not going for the brains."

Hahahahahahhahahhahaha. Spot on. Pengamat yang cermat.

Jangan salah ya, aku penggemar berat Mayer, tapi agak mengejutkan juga ketika dia memilih Simpson. Yah, intinya aku berharap Mayer akan memilih seseorang dengan content yang lebih berkualitas. But ah, what the hell, why bother thinking about them?

But, oh yeah, John-john, if things didn't work out for you and blondy there, give me call, ok. I have boobs too. And brains. :)

(Come to think of it, that's supposed to be a deadly combination, right? Boobs AND brains? Wow, aku baru dapat pencerahan nih..)

Posted at 05:24 pm by i_artharini
Comments (2)  

Next Page