PENARI MUNGIL


(Saya bukan seorang penari. Pun sangat jauh dari mungil. Tapi, tahu kan adegan 'Tiny Dancer' di 'Almost Famous'? Sensasi membahagiakan dari adegan itulah yang saya kejar..)



Hold me closer, tiny dancer

Count the headlights on the highway

Lay me down in sheets of linen

You had a busy day, today


("Tiny Dancer" - Elton John)





"...the quest for transcendence has always been closely linked to the ecstatic release of dancing."
(Resensi RollingStone atas sebuah album pop)

Mr. Darcy: "So what do you recommend, to encourage affection?"
Elizabeth Bennet: "Dancing, even if one's partner is only tolerable."
(Pride & Prejudice, 2005)


perempuan, 1983, lovesick soul, berjalan kaki, belajar menulis, menonton film, ingin keliling dunia, Billie Holliday, Jane Austen, 'Franny and Zooey', cerita pendek F Scott Fitzgerald, lagu-lagu sedih, kecanduan membeli buku second, deretan buku di lemari, berkeliling dengan bis kota, mengepak koper, menari bebas, Vogue, sepatu, bad boys, kopi, kuliner, foto, semua yang vintage, genggaman tangan, pelukan hangat, detil percakapan antara manusia, kegelisahan, kesepian, ruang pencarian, belajar dewasa, museum dan bangunan tua, hari hujan, sinar matahari hangat di hari berangin, airport, stasiun kereta, dan pertanyaan tanpa akhir

YM: isyana_artharini
Email: i.artharini@gmail.com
   

<< September 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02
03 04 05 06 07 08 09
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Friday, September 15, 2006
Fight

Setahun nurutin keinginan tempat kerja, menuruti semua perintah dan mengerjakannya sesempurna mungkin, sampai ke rapat yang membuat aku emosional, terus ketebus sama presentasi yang lumayan berhasil--dan mengira 'it will all be worth it'--; asumsi yang langsung hancur ketika ada komentar yang bilang, "biar dia fight dulu".

Oke, fine. Fight, no fighting, whatever. But, define this:

Aku pergi ke sebuah kota di Kalimantan Barat, menjalani perjalanan 6 jam pake mobil ke sebuah kota kecil bernama Sekadim. Dari situ perjalanan naik motor 4 jam sampai ke sebuah kota bernama Sekura. Bermalam. Lalu paginya berangkat lagi naik motor jam 7 pagi, melalui jalan-jalan kecil untuk sampai ke sebuah desa bernama Temajuk. Lokasinya, tepat di ujung buntut kepala burung Kalimantan. Sekitar jam 9, baru mengetahui ternyata ban belakang bocor. Berjalan kaki ke tempat peristirahatan terdekat. Dan jangan bayangkan sekitar adalah pedesaan yang padat penduduk. Jalan pasir dengan vegetasi pantai di sekitar dan matahari yang panas menyengat. Untung sedang ada pembangunan jalan, sehingga ada tempat beristirahat para pekerja jalan. Urusan ban selesai, berjalan lagi menyeberangi sungai dengan perahu penyeberang. Menunggu sampai sekitar 5 jam, menunggu air laut surut, agar dapat melalui jalan menuju desa itu. Satu-satunya jalan 'darat' menuju desa itu. Tapi menuju pinggir laut juga tak melalui jalan lebar, apalagi aspal. Pasir putih, sempit, kadang terendam air. Sampai aku bertanya, pernahkah ada orang yang lewat jalan ini? Satu jam berada di jalan seperti itu. Saat air surut, maghrib mulai datang, sehingga kami mengendarai motor di samping laut di malam hari. Indah, memang. Tapi tanjung-tanjung yang dilewati menjadi tidak terlihat, begitu pula batu-batu raksasa yang menyembul dari permukaan air yang mengering. Naik, turun motor menjadi pekerjaan yang melelahkan, apalagi dengan celana jins yang sudah agak basah. Dua jam kemudian, berkendara motor dalam gelap, dengan ancaman busi yang beberapa kali ngadat karena terkena air asin (semoga kami tak terjebak di sini saat air mulai pasang), kami tiba di Temajuk. Keesokan harinya muter-muter desa wawancara orang. Terus besoknya lagi, jalan masuk ke dalam hutan nyari patok batas, 4 km jalan masuk ke dalam hutan. Jalan di titian sempit. Jatuh bangun entah berapa kali. Lalu 4 km lagi ke luar hutan. Besoknya, kembali lagi menuju Sambas. Kembali lewat pinggir laut, kembali lewat jalan pasir, mampir di Sekura, menyeberangi sungai Sambas, mampir di Sambas sebentar, sebelum akhirnya ke Sekadim. Total perjalanan hari itu di atas sepeda motor? 14 jam. Semuanya dilalui dengan orang asing yang continually harrass me about my weight, my being a single young female yang dapat 'menggoda' status menikahnya (as if I would). Lalu esoknya, 6 jam lagi ke Pontianak. Esoknya, kembali ke Jakarta. Aku bahkan sampai tak mau menunjukkan foto perjalanan dan menceritakan perjalanan itu, karena aku tidak mau melihat reaksi ibuku yang pastinya bakalan cemas setengah mati. Lalu mengetik, selama seminggu, pulang dari kantor selalu di atas jam 2. Bahkan, malam terakhir sampai jam 5 pagi baru pulang, karena hari itu aku sudah mengambil cuti untuk ke Malang dan Surabaya. Setelah selesai cuti, ternyata editan tulisan masih belum kelar juga. Dan sampai dua minggu kemudian. Sampai akhirnya, aku mengajukan diri menyambung-nyambung tulisan. Dan setelah itu selesai, sejak 1,5 bulan yang lalu, sampai sekarang...tulisan itu belum turun juga. Atau setidaknya di-budget-in. Aku yang nggak pernah care dengan tulisanku turun atau nggak aja sampe frustasi berat.

And this is just one assignment dengan medan yang agak berat.

Belum assignment-assignment lain, yang walaupun medannya tidak seberat ini, tetap saja aku lakukan dengan kekuatan yang sepenuh hati, yang sama sekali nggak pernah aku tolak.

Belum ngitung tugas-tugas makan ati, karena ngerjain tugas-tugas buangan yang bahkan Ekonomi dan Humaniora aja nggak mau ngambil karena terlalu penuh dengan kepentingan. Kenapa redaktur mereka bisa ngelindungin anak buahnya sementara aku cuman jadi ban serep?

Setahun terakhir, aku sudah memutar otak, mencoba menciptakan alasan demi alasan yang positif tentang keberadaanku di kompartemen yang mati suri ini, dan sekarang...aku udah kehabisan tenaga buat menciptakan ilusi demi ilusi bahwa ini akan bergerak ke arah yang positif.

Aku merasa udah melakukan bagianku untuk berjuang, tapi ternyata itu masih belum cukup ya? Dan sekarang, aku udah kehabisan tenaga.

Duh Gusti, kalau doa saya masih didengarkan, nyuwun paringana kesabaran nggih...

Posted at 08:04 pm by i_artharini
Make a comment  

Continuum

Lagi browsing-browsing 'A Socialite Life' pas nemu artikel tentang John Mayer dan album ketiganya, 'Continuum'. Belum denger sama sekali se-albumnya, dan cuman baca reviewnya Amazon--yang sebelum nonton 'Hard Candy' pun udah menganggap itu tidak akan cukup sebagai penilaian, tapi gimana lagi...I like browsing through Amazon--tapi ngeliat satu judul yang, menurutku, witty. Judul lagunya: "I'm Gonna Find Another You".

Langsung ke Google, nyari liriknya. Dan, bait favorit:

When I was your lover
No one else would do
If I'm false to find another I hope she looks like you
Yeah and she's nicer too

Yeah, I got the answer now: a nicer new person who looks like you.


Currently reading:
Jane Eyre (Dover Thrift Editions)
By Charlotte Brontë



Posted at 05:52 pm by i_artharini
Make a comment  

Wednesday, September 06, 2006
Jempol

"Two thumbs up" -- Ebert & Roeper

Tulisan yang paling sering ditulis di cover-cover dvd bajakan, mungkin fungsinya sugestif, biar orang-orang yang lagi milih dvd tergerak untuk membelinya. Lucunya sih sering, ada kutipan yang agak panjang dari seorang reviewer, yang sebenarnya nadanya negatif, tapi tetep dimasukin di covernya. Jadi, fungsinya apa dong?

Contoh kutipan bernada negatif:
"Fatuous, unfunny, and profoundly un-entertaining." -- Peter Bradshaw, The Guardian

Nah, kalo gitu, buat apa coba dimasukin?

Tapi, ada cerita lain tentang 'thumbs up'.

Kemarin, aku ngeliat salah seorang atasan berjalan masuk ke arah kamar mandi, aku sempat melihat beliau dan pas beliau melihatku, aku tersenyum ke arahnya, dan dia membalasnya dengan mengacungkan jempolnya. Terus begitu sampai masuk ke kamar mandi.

Artinya apa coba?

1. Ya, kamu tetap di kompartemen sekarang. Cause, you're doing grrreeaatt!
2. Ya, keep up the way you spend the unlimited leisurely free-time.
3. Oh you're still working here? Good.
4. Oh, I think I forgot your name. So, I raise my thumb instead, indicating everything is A-OK.

(Hmm...ini bener-bener pointless.)



Currently listening to:
The Life Pursuit
By Belle & Sebastian



Posted at 08:15 pm by i_artharini
Comments (2)  

Tuesday, September 05, 2006
Middle Class Consortium

Kemarin malam, pas datang ke acara peluncuran bukunya Marco Kusumawijaya, "Kota Rumah Kita", di Aksara Kemang, sempet dengar komentarnya Ayu Utami. "Kalo Wardah Hafidz punya Urban Poor Consortium, mungkin kita harus membuat Middle Class Consortium," katanya.

Aku lupa banget tepatnya bagaimana dia bisa sampai ke kesimpulan itu. Tapi Ayu sempat menyebut-nyebut kehebatan Marco yang bisa membuat dia mengerti permasalahan perkotaan (Jakarta) sebenarnya. "Saya sering sekali merasa kesal dengan Jakarta, tapi nggak tahu, apa sebenarnya masalahnya, atau bagaimana penyelesaiannya," aku inget Ayu ngomong begitu. Jadi, mungkin aku mengira pembentukan MCC itu ada hubungannya dengan penyelesaian masalah Jakarta.

Tapi, middle class consortium? Sejujurnya, I hate being middle class. Karena untuk merasa marah pun serasa berdosa, ada rasa: "what are you complaining about, kamu kan lebih beruntung."

Oke, oke, pasti ada hal-hal 'penting' (see, aku bahkan tidak bisa menganggap serius kemarahan orang-orang kelas menengah. Apalagi kemarahan kaum muda kelas menengah) yang bisa jadi issue buat Middle Class Consortium, tapi aku lagi pengen ngedaftar hal-hal trivial yang bisa jadi kemarahan orang-orang dari kelas ini. Kemarahan trivialku, salah satunya, tapi ini yang paling utama, adalah pada orang-orang yang berkecukupan banget, tapi nggak punya kesopanan. Duh, udah deh. Duit sebanyak apa pun, kalo udah nggak punya kesopanan, manner, ih mending nggak punya duit sama sekali deh.

Aku pernah ngeliat contoh langsungnya, pas rapat di kantor, ada seorang perempuan muda dengan posisi, kekuasaan, dan pastinya keunggulan finansial yang termasuk luar biasa di mata karyawan jelata. Tapi, selama rapat, dia nggak mau nge-silent hp-nya. Teruuuus aja nerima telepon, ngomong keras saat salah satu pimpinan sedang berbicara menerangkan. Dan, si pimpinan juga nggak negur, atau meminta sopan untuk mematikan hp. Kita kan juga keganggu. Dan, aku, kalau sedang presentasi, nggak menghargai ada orang yang tidak memberi perhatian kayak gitu.

So, any trivial anger I should be listing?


Currently listening to:
Show Your Bones
By Yeah Yeah Yeahs



Posted at 08:35 pm by i_artharini
Make a comment  

Bad Boy

Ini satu lagi dari Gilmore Girls Season 4, baru selesai aku tonton tadi pagi,

Lane: "Every girl has to fall for the bad boy. It's the rule. That's the reason why so many accountants eventually got married."

Touche, touche.

Yep, periode pemujaanku terhadap bad boy (kayaknya) sudah selesai, karena pengalaman sebelumnya. Dan, sama kayak Rory, saat itu, aku juga ngerasa, "What could be better than this? He's cute, he's smart, he has good taste in books and music."

(Walaupun dalam kasusku, good taste in music? Ya bolehlah, tapi nggak juga kok. Pastiiii dia belum pernah denger Kings of Leon, heheh.)

Tapi di sisi lain, he's a bad boy in a passive-aggressive kind of way. As in, secara emosional, susaaaaah banget berkomunikasi. (How do you suppose to reply a one-word answer that closes up the possibility of another question?) Perubahan suasana hati yang parah banget, nggak pernah tau apa yang dipengenin, nggak dependable, nggak reliable juga. Deg-degan setiap waktu, mempertanyakan, apakah dia akan tetap ada di sana setelah.....(suatu kejadian atau revelation tertentu).

Hmm, itu semua kan benar-benar perasaan yang tidak nyaman ya? Terus-menerus digantung. Jadi, kenapa aku sampe lamaaaa banget menyesalinya? Mungkin karena yang aku lihat cuma misteriusnya; berharap di balik semua kesulitan itu pasti ada sesuatu yang besaaaaaar banget yang....(apa? apa? aku bisa bantu selesaikan? don't make myself laugh..) nggak tahulah.

"It's Jess. He already bailed on me twice," juga kata Rory.

Aku sudah tidak ingat lagi berapa kali malah dia bailing on me. Bailing dalam arti emosi, tapi tetep aja, rasa kecewanya itu kan tetep nyata dan ada. So, from now, apa yang aku cari adalah seseorang dengan emosi yang lebih secure. Jadi, accountants? Yes, please.

Dan dalam hal penampilan juga, kayaknya bener yang dibilangin seorang temen,  dulu, semakin berantakan semakin baik. Tapi sekarang, aku lagi punya favoritisme terhadap cowok-cowok pemakai polo shirt. Preppy is what I'm looking for now. (Tapi, tetep, no turtlenecks please...)

Jadi, no more emotionally unavailable, starving artist, grunting one-syllable-answers guy. Only clean-looking, polo-shirt wearing guy with a perfect understanding on the concept of "communication" and a healthy dose of emotion is what I'm trying to find, now.


Currently listening to:
Aha Shake Heartbreak
By Kings of Leon



Posted at 06:45 pm by i_artharini
Make a comment  

Berkarat

rust‧y1[ruhs-tee]
–adjective, rust‧i‧er, rust‧i‧est.
1.covered with or affected by rust.
2.consisting of or produced by rust.
3.of or tending toward the color rust; rust-colored.
4.faded or shabby; impaired by time or wear, as clothes or drapery.
5.impaired through disuse or neglect: My Latin is rusty.
6.having lost agility or alertness; out of practice: I am a bit rusty at tennis.
7.(of a sound) grating or harsh.

Sementara, dari kamus.net, rusty, artinya kaku, lupa, berkarat. Kata itu tiba-tiba muncul, mendadak, di kepala tadi malam. Dan itu kata yang tepat banget untuk menggambarkan semua kondisiku sekarang. Tulisanku, satu-satunya hal dalam hidup yang aku yakin aku bisa melakukan dengan baik dibandingin hal-hal lain dalam hidupku, jadi berkarat. Caraku menyusun satu kalimat, membentuk argumentasi, penggunaan diksi. Rasanya udah kayak, aku nggak mau repot-repot dengan sedikit berpikir.

Dan, ini yang mengerikan, di bukunya Rilke yang 'Letters to a Young Poet' kan ada pertanyaan utama dan mendasar dari Rilke pada si penyair muda itu. Tentang bagaimana kita bisa mengetahui apakah menulis itu memang yang kita harus lakukan, kita disuruh membayangkan, bisa nggak sehari saja, kita tidak menulis. Aku dulu-dulu, nggak berani memikirkan jawaban pertanyaan itu. Maksudnya, gimana kalo jawabannya ternyata "iya, aku bisa tuh menghabiskan sehari tanpa menulis". Sementara, menulis adalah sesuatu yang...ya itu, aku membayangkan sebagai the best thing I do in my entire existence.Jadi, aku suka menenangkan diri dan bilang, nggak lah, jangan sampai itu kejadian.

Nah, mengerikannya, hatiku sekarang semakin mengarah ke jawaban itu.

Oke, ada Santo Agustinus yang membuat aku terintimidasi, tapi...intimidasi itu hanya sebatas merasa terancam di permukaan. Permukaan, dalam artian, lingkungan kantor, penilaian positif dari atasan, membuktikan kemampuan di antara orang-orang yang kita sama-sama kenal. Tapi, secara mendasar, tidak ada sesuatu yang membuat aku termotivasi untuk menghilangkan karat menulis itu.

Setahun lalu, aku bakal menelan semmmua tulisan tentang 'the craft of writing'. Sedikiiit aja tentang menulis bakal membuat aku terbakar untuk punya ide baru, corat-coret di buku catatan atau kertas kecil buat nulis. Tapi sekarang, nggak ada ide baru, dan semua pengetahuan teknis tentang menulis juga udah lupa.

Pengetahuan akan film, atau caraku menonton film, juga berkarat. Nggak tahu kenapa, sekarang aku nggak punya kesabaran yang sama untuk menonton sesuatu yang baru. Aku jadi pengen sesuatu yang ringan aja buat menghibur. Biasanya, sesuatu yang (sok) rumit membuatku terhibur. Sekarang, itu cuman membuat aku malas memulai nontonnya. Now, I just go for cheesy rom-coms.

Aku sudah kehilangan kelincahan (agility) dan kepekaan (alertness), sesuatu yang mungkin adalah hasil dari kurangnya berlatih. Rusak, karena tidak digunakan lagi atau karena pengabaian, menurut artinya di atas.

Membaca buku, nah itu apalagi. Terakhir, ya 'Auntie Mame'. Tapi itu juga suatu buku yang ringan. 'Catch-22', jadi mandek di tengah-tengah. 'All Passion Spent', akhirnya baru aku mulai lagi, ya lumayanlah udah di tengah-tengah. Dan ketika aku membaca pun, aku nggak mau repot-repot untuk berhenti sebentar dan berpikir. Kalau ada sesuatu yang aku nggak gitu ngerti, lanjut aja terus. Jadi cuma membaca kata-katanya aja.

Ffiuh.

Masalah ini kayaknya udah menahun satu tahun belakangan deh. Tapi nggak ada penyelesaian yang tuntas. Selalu aja kembali ke permasalahan yang sama. Jangan-jangan, salah satu penyebabnya adalah minimnya sparring partner? Iya, ada temen-temen dengan minat sama di sini. Cuma, aku belum menemukan seseorang dengan intensitas yang bisa membuat aku terpacu.

Pernah nih, pas kemarin ke Surabaya, ketemu Denny, dan dia membahas tentang 'Superman Returns'. Dia menjelaskan detil banget tentang kenapa 'Superman Returns' itu sebuah film yang keren. Dan sampailah dia pada kesimpulan, "film itu, secara fisika, sempurna."

Aduh, aku kangen banget komentar-komentar kayak gitu dari dia. Sesuatu yang belum pernah aku dapet dari orang-orang di sekitarku tentang film.

Terus, tentang buku, browsing di Amazon, atau Gutenberg, atau blog-blog tentang buku, sekarang udah nggak mempan lagi buat membakar rasa ingin tahu.

Aduh, aku jadi bener-bener ngerasain, bebal tuh rasanya kayak gini tho. Sumpah deh, aku bisa merasakan rasanya otakku jadi bebal, sama kayak orang ngomong: "I don't know, but I can smell the pinkness."

Aku cuma tahu, aku butuh sesuatu yang menyegarkan. Tapi nggak tau, apakah itu, atau di mana sesuatu yang menyegarkan itu bisa ditemukan.


Currently listening to:
Youth & Young Manhood
By Kings of Leon



Posted at 05:45 pm by i_artharini
Make a comment  

Sedikit Gosip Tentang Mayer

Aku punya kebiasaan buruk, melupakan kapan tepatnya sesuatu itu terjadi. Well, mungkin sebenarnya itu sesuatu yang normal, tapi kebiasaan buruknya adalah tidak langsung mencatat kejadian itu, ke blog atau suatu jenis buku catatan.

Pokoknya, baru-baru ini, Rani bilang, "Mbak Nari, masak si John Mayer katanya pacaran ama Jessica Simpson lho."

To which I replied, "ah, nggak mungkin. Aku belum mbaca tuh di Socialite's Life (website tempatku paling sering menghabiskan waktu dan website yang rutin tiap hari aku kunjungin. Purely guilty pleasure..). Emang kamu mbaca di mana?"

"Detikhot kalo nggak salah."

"Ah, nggak mungkin. Pokoknya belum ada yang pasti sampai masuk Socialite's Life."

Sekitar dua, tiga hari berlalu, sampai akhirnya aku melihat berita ini di..mana lagi  kalo bukan di  Socialite's Life. Yang lebih menarik sebenarnya komentar dari si penulis blog: "I can see it. He dated Jennifer Love Hewitt, so you know he's not going for the brains."

Hahahahahahhahahhahaha. Spot on. Pengamat yang cermat.

Jangan salah ya, aku penggemar berat Mayer, tapi agak mengejutkan juga ketika dia memilih Simpson. Yah, intinya aku berharap Mayer akan memilih seseorang dengan content yang lebih berkualitas. But ah, what the hell, why bother thinking about them?

But, oh yeah, John-john, if things didn't work out for you and blondy there, give me call, ok. I have boobs too. And brains. :)

(Come to think of it, that's supposed to be a deadly combination, right? Boobs AND brains? Wow, aku baru dapat pencerahan nih..)

Posted at 05:24 pm by i_artharini
Comments (2)  

Monday, September 04, 2006
Belanja Akhir Pekan-ku

Sabtu kemaren, setelah mampir kantor sebentar buat ngupload foto Multiply (I don't know whether to hate or love the office that underworked me), memutuskan untuk ke Ambassador.

Awalnya bingung milih antara belanja DVD-CD di Ambassador atau duduk, minum great coffee, dan membaca di Cicero. Tapi, ah, I really really want a CD version of Feist, biar bisa di-rip buat mp3 player-ku. But, on a second thought, aku juga pengen nonton Will & Grace.

Ya udah, Ambassador it is.

Begitu dateng, langsung dapet Volver. Gambarnya sih masih 75%an lah, tapi aku berencana menulis sesuatu tentang Almodovar. Ya, biar rada produktif dikit gitu. Terus nemu Clueless-nya Alicia Silverstone juga, kayaknya si Rani seneng banget, ya udahlah dibeliin aja.

Sebenarnya aku berencana untuk nggak beli banyak-banyak DVD. Sadar diri gitu. Karena aku masih pengen beli CD-CD bajakan juga. Pas di bawah, nemu DVD 'Hard Candy' ama 'Cache', DAN 'Marie Antoinette'. Yang itu pasti masih jelek banget juga. But, ah ya sudahlah, biar bisa nulis juga maksudnya.

Eh, ternyata, pas udah mbayar, ada 'Will & Grace' lengkap, dari season 1 sampe season 8. Di Ambassador udah ada lhooo. Ya sudah, akhirnya aku beli season 2-nya.

Terus, naik ke lantai 5 kalo nggak salah, ada tempat CD bajakan yang koleksinya lumayan unik. Dan di sana, nemu Yeah Yeah Yeahs yang 'Show Your Bones', terus 'Compact Jazz: Astrud Gilberto' (YES!), terus nemu 'Let It Die'nya Feist yang memang dicari, dan...Kings of Leon yang 'Aha Shake Heartbreak'. Tapi, track list-nya ada Bonus Track-nya, sampe sekitar 10 lagu sendiri, termasuk 'Molly's Chamber'. Jangan-jangan ini lagu-lagu dari album pertamanya?

Pas sampe rumah dan ngecek track listingnya lengkap di Amazon, ternyata bener. Horeee, aku sekarang punya 'Aha Shake Heartbreak' ama 'Youth and Young Manhood' lengkap.

Tapi, itu masih belum ceri di atas es krim-nya, karena..di kios DVD bajakan deket kios CD, aku nemu Gilmore Girls sampe season 6. Wah, kalo udah sampe season 6, berarti ada juga season 4 dan 5-nya dong. Tadaaa, akhirnya menemukan juga season 4-nya, yang langsung aku beli.

So, it's been a very Gilmore weekend for me.

Tapi, hmm, kok aku merasa season 4 ini nggak se-bibliophile kayak season-season sebelumnya ya? Apa karena waktu pas di Chilton, Rory lagi ngejar daftar bacaannya? Dan, apa karena waktu itu ada Jess juga, yang jadi sparring partner Rory buat diskusi?

But anyway, ada satu adegan yang sukses mbuat aku ketawa keras banget. Ceritanya, Lorelai bangun pagi, kedinginan banget karena kaca rumahnya pecah pas malem-malemnya dia nyoba ngunci. Akhirnya dia dan Rory menghangatkan diri, makan sarapan, duduk di samping oven. Oven yang bagian dari kompor gas, bukan oven bentuk microwave gitu. Terus mereka babbling, kedatengan si Lane, ngomongin Jess, trus diam. Pause sejenak dalam percakapan itu lhoo.

Eh, tiba-tiba si Lorelai, dengan nada yang normal banget, ngomong gini: "Hey, does anyone ever think that maybe Sylvia Plath isn't crazy. She was just cold (sambil menunjuk ke pintu oven yang kebuka)".

(P.S: Should I explain about Sylvia Plath? Nggak usah ya. Ada Google dan Wikipedia kok.)

But anyway, horeee... good entertainment ternyata nggak susah dicari di Ambassador.


Posted at 06:03 pm by i_artharini
Make a comment  

Monday, August 28, 2006
Katalis

Pas kuliah dulu, aku sering banget ke ABC buat mbolak-mbalik majalah fashionnya secara gratis, atau mempergunakan 10% (atau 20 ya?) student discountnya beli majalah fashion. Seringnya emang In Style, tapi kadang kalo lagi mau rada hardcore, ya beli Vogue.

Sejak di sini, atau bulan-bulan terakhir di Amsterdam lah, kayaknya udah jarang beli majalah-majalah mode. Apalagi pas udah di Jakarta.

Nah, kemarin, pas sebelum berangkat ke Manado, kan naik Garuda lewat terminal 2, yang bandara internasional. Dan ada Periplus-nya. Eh, ternyata Vogue yang aku niatin buat beli, edisi September yang covernya si Kirsten Dunst dalam dandanan Marie Antoinette itu udah terbit (Bener-bener nggak sabar deh pengen cepet-cepet nonton film ini...).



Langsung kepikiran mau beli. Tapi, be rational, Nar. Ini udah tanggal berapa, dan perjalanan elu kan udah ditanggung. Beli aja, sooner or later you'll buy it, anyway.

Bolak-balik, bolak-balik, akhirnya...

"Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA 603 tujuan Balikpapan dan Manado akan segera diberangkatkan. Para penumpang diharap menaiki pesawat melalui pintu F6."

Oke, langsung aku ambil deh.

Ternyata, I hit the jackpot. Iya ya, ini kan edisi autumn, yang tiap September pasti Vogue tuebel bukan main. Wuhuuu, wuhuuu, wuhuuu. Plus, harganya yang aku kira sekitar Rp 120ribuan itu ternyata...'cuma' Rp 89 ribu.

Setelah perjalanan total 4 jam, aku baru mulai mbaca di kamar hotel. Waaa, baruu liat halaman iklannya yang bisa jadi satu majalah sendiri itu aja, udah jadi punya inspirasi-inspirasi baru.

Liat daftar isi dan deskripsi dari tiap artikel juga jadi punya ide-ide baru lagi. Seminggu lalu benernya sempat beli buku di QB Plaza Senayan, judulnya "How To Wear High Heels", panduan tentang fashion dan style gitu. Tapi Vogue, masih tetap ngasih lebih banyak.

Fungsi Vogue sebagai katalis juga pernah aku baca di "Cold Comfort Farm", novel dengan setting tahun 1930an, di mana salah satu tokohnya diinspirasi untuk melihat dunia lewat satu edisi majalah ini.

And it is. It shows me the movies that I should see, the music that I ought to try to hear, the places, the people that I can dub as my source of inspirations, the quirky artists and designers, and of course, fashion in all its glory.

Tapi kadang gini, aku baru sampe halaman 244, dan itu baru ada dua artikel yang muncul. Sisanya iklan. Boring? No, great even. Tapi, di halaman 244 yang aku kasih 'pembatas buku' itu, setelah mbaca artikelnya Andre Leon Talley, editorial dari Anna Wintour, sama tulisan tentang Warren Beatty, kadang aku nggak bisa nahan ketawa.

Wow, orang-orang ini benar-benar take themselves too seriously. Maksudku, Warren Beatty ditulis sebagai a thinking woman's sex god? The guy was just plain narcissistic, he loooooovvvvveeee hearing himself talk. Terus tulisannya Andre Leon Talley? Pujiannya buat seorang desainer sepatu baru lebih mirip surat cinta.

Dan aku juga jadi ngetawain diriku sendiri, aku memakai pembatas buku buat nandain halaman majalah? Oke, oke, itu majalah memang 754 halaman, tapi it's just a magazine, toch? Bukan...bukan... bukan buku beneran gitu.

(just a note: Rani ngomong, "mbak Nari, kamu nggak mau nge-hardcover-in Vogue-nya? Nanti halamannya pada rusak-rusak lhoo, copot-copot lhooo..)

Hehe, jangan-jangan aku udah jadi kayak salah satu cewek di episodenya Sex and the City yang 'Models and Mortals', si cewek model itu bilang: "I'm really very literary, you know. I read magazine from cover to cover..."

Posted at 10:22 pm by i_artharini
Comment (1)  

Lelaki Berpakaian Hitam Itu

Dari menonton 'Walk The Line', aku baru bisa membenarkan pesan utama sebuah film lain, 'Moulin Rouge', bahwa "the greatest thing in the world, is to love and be loved in return".

***
Aku selalu punya daftar--kadang tertulis, kadang tercatat tapi terserak di otak-- tentang hal-hal yang 'seharusnya mulai aku lakukan'. Kayak, aku harus mulai nonton Kurosawa, atau aku harus mulai membaca penulis besar Rusia, atau penulis besar Amerika Selatan, atau mulai mendengar satu per satu lagu Bob Dylan (but I hate his ego, though). Sebuah usaha sadistik untuk memperbaiki diri sendiri sebenarnya. Atau malah sangat Bridget Jones?

Anyway, salah satu hal di daftar itu adalah mencoba mengenal Johnny Cash. Awalnya dari sebuah artikel di majalah Time, dengan Cash sebagai cover. Lalu Rob Gordon di 'High Fidelity' versi buku menyebut buku otobiografi Cash sebagai buku favoritnya.

Mungkin tulisan itu memang dibentuk seperti tulisan orang yang sudah berada di senja hidupnya. Tapi tulisan itu berhubungan dengan keluarnya album Cash yang terbaru saat itu, sekitar tahun 2002/2003, American IV: The Man Comes Around. Yang membuat album itu spesial, Johhny Cash, si pak tua berusia 70 tahun dengan rasa sakit di seluruh tubuhnya akibat ketergantungan masa lalunya pada obat, merekam ulang lagu 'Hurt'-nya Nine Inch Nails.

Di artikel itu ditulis, Trent Reznor, vokalis NIN, ketika melihat final cut-nya video klip 'Hurt' versi Cash jadi bergidik ngeri. Cara Cash menyanyikannya dan video klip yang dibuat oleh Mark Romanek (sutr. One Hour Photo) buat aku juga kerasa haunting. Tapi liriknya juga, well, baca aja yang ini:

I hurt myself today
To see if I still feel
I focus on the pain
The only thing that's real
The needle tears a hole
The old familiar sting
Try to kill it all away
But I remember everything

What have I become
My sweetest friend
Everyone I know goes away
In the end
And you could have it all
My empire of dirt
I will let you down
I will make you hurt


Pas tadi malem nonton 'Walk The Line', ngeliat cara hidupnya Cash dan kehidupannya dia yang nggak jauh-jauh dari rasa sakit dan kesakitan, self-inflicted ataupun disebabkan oleh orang lain, lagu ini jadi punya makna jujur yang baru. Oh, dia tahu apa yang dia nyanyikan. He's been there, done that, and more than just puking on it.

Seperti katanya Snoop Dogg juga di artikel itu: "Man, I listen to Johnny Cash growing up, singing 'I shot a man in Reno, just to watch him die'.Dan kalian ribut-ribut tentang kita nge-rap tentang senjata dan kekerasan?"

***
Semua tentang June & Johnny, itu inti 'Walk The Line'.

Beberapa bulan setelah membaca artikel Time, ada berita bahwa June Carter Cash meninggal. Berita yang sempat membuat aku terhenyak. Sepertinya semua orang sedang menunggu kematian Johnny. Tapi kejutan itu malah datang dari June.

Dan aku sempat melihat sebentar saja rekaman pemakamannya; Johnny tetap dengan pakaian hitam-hitamnya, mengenakan kacamata hitam. Walaupun dari jauh, bibirnya yang miring terlihat jelas, ia berjalan tertatih-tatih dituntun oleh Roseanne.

Saat itu, selain keterhenyakan tadi, aku tidak bisa memberi arti atas hilangnya perempuan itu.

Tapi semuanya jadi jelas setelah melihat 'Walk The Line'.

Siapa dan apa June terjawab lewat cerita cinta yang panjang; tentang kesabaran di kedua belah pihak (Johnny menunggu June mengiyakan lamaran pernikahannya, June menunggu Johnny lepas dari pengaruh obat dan alkohol, dua-duanya dalam ikatan pernikahan dengan orang lain), proses berubahnya hubungan mereka; teman, kekasih, rekan kerja, sahabat, mantan kekasih, kakak-adik, teman duet, creative partner, dan entah apa lagi.

Kata-kata: the greatest thing in the world is to love and be loved in return yang buat aku terasa kosong di Moulin Rouge, jadi punya makna lewat film ini.

***
Satu lagi hal hebat tentang film ini adalah penggambaran adegan 'Folsom Prison Blues'. Kemeriahan, pengelu-eluan Cash oleh para tahanan, setting panggung dan antusiasme penonton, semuanya tepat seperti yang aku bayangkan saat mendengar rekamannya.

Tapi sorakan para tahanan Folsom Prison di rekaman terdengar lebih mengerikan, lebih membuat bulu kuduk merinding daripada di film. Bahkan saat aku hanya mengenal sekilas Cash, aku merasa dia benar-benar berada di rumah saat menyanyi di penjara itu.

***
Mungkin ada sesuatu yang lintas batas dari sosok Cash. Setidaknya aku merasa seperti itu. Musiknya yang selalu amat terasa khas Americana (bukan sekedar country, tapi juga blues, rock n' roll, traditional folk song...aku selalu membayangkannya seperti musikalisasi karya-karya Steinbeck) di tengah politik internasional dalam lima, enam tahun terakhir, tidak membuatku melihat imejnya yang quissential American itu sebagai sosok 'aneh'.

He's just a literary figure, for me.

Suaranya unik; tajam, maskulin, menderu, bergulung-gulung dengan cepat walaupun berat. Semua karakternya muncul di suara itu. Lagu-lagunya, walaupun mudah diterima, buatku hanya sekedar instrumen, alat pembawa suara agung itu.   

Posted at 04:47 pm by i_artharini
Make a comment  

Next Page