PENARI MUNGIL


(Saya bukan seorang penari. Pun sangat jauh dari mungil. Tapi, tahu kan adegan 'Tiny Dancer' di 'Almost Famous'? Sensasi membahagiakan dari adegan itulah yang saya kejar..)



Hold me closer, tiny dancer

Count the headlights on the highway

Lay me down in sheets of linen

You had a busy day, today


("Tiny Dancer" - Elton John)





"...the quest for transcendence has always been closely linked to the ecstatic release of dancing."
(Resensi RollingStone atas sebuah album pop)

Mr. Darcy: "So what do you recommend, to encourage affection?"
Elizabeth Bennet: "Dancing, even if one's partner is only tolerable."
(Pride & Prejudice, 2005)


perempuan, 1983, lovesick soul, berjalan kaki, belajar menulis, menonton film, ingin keliling dunia, Billie Holliday, Jane Austen, 'Franny and Zooey', cerita pendek F Scott Fitzgerald, lagu-lagu sedih, kecanduan membeli buku second, deretan buku di lemari, berkeliling dengan bis kota, mengepak koper, menari bebas, Vogue, sepatu, bad boys, kopi, kuliner, foto, semua yang vintage, genggaman tangan, pelukan hangat, detil percakapan antara manusia, kegelisahan, kesepian, ruang pencarian, belajar dewasa, museum dan bangunan tua, hari hujan, sinar matahari hangat di hari berangin, airport, stasiun kereta, dan pertanyaan tanpa akhir

YM: isyana_artharini
Email: i.artharini@gmail.com
   

<< August 2007 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Monday, August 20, 2007
The Philadelphia Story

Setiap perempuan muda sepertinya harus memiliki Cary Grant sebagai mantan suami yang berusaha dengan segala cara, turning tricks and everything, untuk memenangkan kembali hati mereka.

Damn, I want Cary Grant as an ex-husband yang menerapkan semua tipu daya in order to win me back. The Philadelphia Story dan His Girl Friday ternyata punya satu elemen itu yang sama. Cary Grant sebagai mantan suami yang berusaha dengan segala cara agar mantan-mantan istri mereka kembali padanya.

Tapi, that man, aduuuhhh. So charming, so handsome, tough dan cuek dan seksi tapi tetep rapi. Oufff.

Oke, oke, Philadelphia Story dulu kali ya.

Aku sempat terkagum-kagum sama Zadie Smith yang mengaku bisa hafal baris per baris dialognya "The Philadelphia Story". Tapi, setelah nonton 1 3/4 kali selama akhir pekan kemarin, ternyata nggak sesusah itu menghafalnya. Maksudnya gini, I wasn't even trying, tapi kalimat-kalimatnya tuh udah penuh ritme dan sederhana gitu.

Yang ada di pucuk kepalaku contohnya, (Katharine) Hepburn dan Jimmy Stewart lagi berbicara tentang buku yang ditulis karakter Stewart.

"Why, they're beautiful. They're almost poetry."
"Don't kid yourself. They are."
"You talk like these (sambil menunjuk ke dada Stewart) and then you write like these (menunjuk ke buku). Which is which?"

Atau, "The time to make up your mind about people is never."

Hmm. Aku susah memulai menceritakan tentang betapa lezatnya film ini. Ini sesuatu yang harusnya ditonton sendiri. Ceritanya sih sebenarnya sederhana. Seorang sosialita yang pernah sekali bercerai dengan karakter Cary Grant, mau menikah lagi, tapi ia diperas oleh seorang editor majalah gosip untuk memberikan hak liputan utama sama seorang penulis dan fotografer. Jimmy Stewart jadi penulisnya.

Saking berkilaunya permainan ketiga aktor utamanya, aku jadi bingung mau berfokus di mana. Hepburn is grand, Grant is dashing, dan Stewart....lucu, aku tidak pernah mengasosiasikan dia sebagai aktor yang flirtatious, tapi di sini, dia bisa menawan dan menggoda dengan cara yang sama sekali berbeda dari Grant. Antara itu atau ya, memang secara umum, aku suka pria-pria tampan. Hehe.

Tapi ini, ada dua baris dialog yang menurutku, setelah melihat keseluruhan filmnya, menjadi esensi dari identitas perempuan selama ini. Oke, oke, aku tidak bermaksud menyempitkan arti film ini sekadar jadi sesuatu buat pesan feminis, tapi salah satu unsurnya lah.

Tunangan Tracy Lord, karakter Katharine, George Kittredge bilang, "A husband expects his wife to behave herself, naturally." Sementara CK Dexter Haven-nya Cary Grant bilang, "To behave herself naturally."

Merasa nggak sih kalau pertentangan antara dua hal itu adalah dilema perempuan dalam mengekspresikan dirinya? Selalu ada kesenjangan antara behaving seperti yang diharapkan dan berlaku seperti dirinya sendiri. Buat aku, yang ideal memang apa yang dikatakan karakter Grant, tapi yang sering kejadian adalah I behave myself seperti yang diharapkan. Atau keberaniannya belum ada untuk behave myself naturally?

Posted at 03:51 pm by i_artharini
Make a comment  

Kartu Identitas

KTP-ku akhirnya ketemu. Secara nggak sengaja. Di dekat mesin faks tempat aku sering mengosongkan isi kantong seragam. Hari Kamis (16/8) pas mau berangkat ke kantor buat kumpul dan menengok Dipi, aku mengambili satu-satu isi kantong yang tersebar.

Kupon makan, STNK-nya Irma yang tadi malam kebawa, uang-uang, dan KTP. Hah, KTP? Kok bisa? Muncul dari mana nih? Oh, mungkin selama ini keselip di bawah mesin faks kali ya? Tapi, hore, jadi bisa ndaftar ke Subtitles.

Timingnya nemu KTP tidak bisa lebih sempurna dari sekarang. Awal akhir minggu yang panjang sebenarnya waktu yang pas untuk melingkar di depan tivi dan nonton berbagai macam film-film klasik. Tapi, gara-gara KTP hilang, jadi nggak bisa ndaftar membership.

Akhirnya, setelah berangkat nengok, tapi nggak ketemu orangnya, mampirlah di Dharmawangsa Square. Aduh, kembali ke tempat yang sangat familiar itu. Turun ke lantai dasar, lewat tempat duduk supir-supir dan dipelototin, dan sampailah di Subtitles.

Ternyata lagi ada antrian di meja 'resepsionisnya'. Ya sudahlah, muter-muter dulu cari film. Menemukan 'Ghost World' yang aku catat di dalam hati, pokoknya harus pinjam. Di depannya ternyata ada sejenis rak pajangan berbentuk agak piramida segi empat, yang dipasang di situ ternyata film-film lama semua. Dan yang paling pertama aku lihat, The Philadelphia Story! Iyaaaa, THAT Philadelphia Story yang ada Katharine Hepburn-nya! Horeee, bakal jadi Katharine Hepburn weekend nih.

Muterin piramidanya, eh ternyata nemu His Girl Friday! Wah, ini sih bakalan jadi Cary Grant Weekend malah.

Balik lagi ke meja resepsionis, ternyata sudah ada satu orang lagi pegawai dan aku langsung bilang, "Mbak, mau daftar membership."

"Sebelumnya pernah jadi anggota?"

"Pernah sih, tapi udah agak lama nggak aku perpanjang lagi."

"Oh, nggak pa-pa. Datanya masih ada kok. Namanya siapa?"

"Isyana."

Nyari, nyari, nyari.

"Isyana Artharini ya mbak?"

"Iya."

"Alamat ama nomor teleponnya masih sama?"

"Masih."

"Ya udah, nyari filmnya aja dulu."

Ooohhh. Ternyata nggak usah pake KTP-KTP-an lagiii.

Nggak pake lama-lama menentukan mau yang iuran bulanannya berapa. Gara-gara udah nemu tiga film untuk disewa, ya sudahlah, mbayar yang buat tiga film.

***

Sekarang, sudah mbalikin dan sudah minjem lagi. Masih memperpanjang Philadelphia Story (yang udah aku tonton 1 3/4 kali), Sabrina (yang ada Audrey Hepburn dan Humphrey Bogart-nya), dan Say Anything (film rom-com-nya John Cusack pas dia masih remaja. Aku penasaran pengen liat adegan endingnya yang katanya dia berdiri dengan boombox di bawah jendelanya si cewek. Duh, John Cusack nggak bisa salah deh sama aku).

Ternyata, ternyata. Selama ini nggak usah pakai KTP.

Posted at 02:22 pm by i_artharini
Comment (1)  

Wednesday, August 15, 2007
Yang Harus Dilakukan

Daftar hal yang bisa (dan harus) dikerjakan selama long weekend instead of going to Karimun Jawa (ikuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuut, empat hari masa nggak bisa sih, girls?):

1. Kerja, ngupdate blog kerjaan. Yang ini wajib kayaknya dan memang udah ketinggalan banyak.

2. Baca HP 7 pinjeman dan beberapa buku self-help, hehe.

3. Oh iya, ada yang menyenangkan. Masih bisa shopping baju, which I desperately need. Really, I do.

4. Immerse self in movies from DVD bajakan.

Cukup ya kayaknya?

Tapi, kayaknya kemarin berpindah-pindah tempat tidur dalam sebulan terakhir jadi membentuk sebuah pola. Jadi addicted jalan-jalan ke luar kota dan ke luar dari Jakarta untuk sesaat. Cepet juga ya kebentuk polanya. Tsk.

Posted at 12:09 am by i_artharini
Make a comment  

Tuesday, August 14, 2007
Pengungkapan

Pas udah keluar nonton.

(detil percakapannya agak fuzzy, tapi ini garis besarnya)

"Udah makan belum? Makan dulu yuk."
"Oke, boleh."
"Tapi sholat dulu yah."

Damn.

I'm prepared for anything basically, liberalis, kapitalis, sosialis, sinis, pluralis, atheis, Pram-is, platonis, apapun lah. Tapi tidak pernah mempersiapkan diri untuk seorang agamis.

Aku menyalahkannya pada kebanyakan liputan di Paramadina dan Freedom Institute sama sesekali main ke Utan Kayu. (Kata Ccr, which I amen-ed, "Kok bisa ya nggak tersesat. Nggak kayak kita yang mempertanyakan terus malah jadi tersesat sendiri...")

Btw, (*sniff, sniff*) kopi Aceh oleh-oleh redaktur bertahi lalat di bibir kok seperti punya bau-bau 'familiar' ya? (Sniff, sniff)

Posted at 10:52 pm by i_artharini
Make a comment  

Bourne Ultimatum

Menonton Bourne dari film pertama sampai ketiga yang terasa adalah kekonsistenannya. Walaupun mungkin buat orang-orang tipe half-empty, yang terasa malah prediktabilitas alur cerita film ini. Buat aku sih, nonton tiga-tiganya, rasanya sama seperti nonton serial Mission Impossible yang vintage.

Kemarin, di StarWorld kalau nggak salah, sempat lihat sekilas pembuatan dan potongan-potongan adegan Bourne Ultimatum. Aku sudah nonton filmnya, jadi pas nonton itu serasa adegan-adegan pentingnya dibuka semua. Tapi, ada adegan yang menggambarkan Nicky (Julia Stiles) dan Bourne lagi duduk berhadap-hadapan di sebuah kedai kopi. "It's difficult at first, for me. With you," kata Nicky singkat dan agak nggak jelas.

Terus Julia Stiles diwawancara, menjelaskan bla-bla-bla, betapa Nicky yang tahu dari awal siapa Bourne sebenarnya, sebelum dia bernama Bourne, melihatnya pada masa pelatihan, dst. Sementara aku bertanya, dalam hati, oh really?

Wawancara berganti ke Matt Damon yang bilang bahwa Nicky dan Bourne di film ketiga itu terus mengalami situasi-situasi yang sama seperti Bourne dan Marie Kreutz di film pertama, tapi jelas cerita mereka tidak akan berakhir sama karena pilihan-pilihan berbeda yang mereka buat. Aku, dalam hati tapi agak keras, ngomong, 'Jangan sampe deh akhir cerita dua pasangan ini sama.'

Tapi mendengar Matt Damon bilang seperti itu, yang muncul di pikiranku langsung adegan Julia Stiles memotong, mengganti warna dan mengeramasi rambutnya di wastafel. Sama seperti Marie di film pertama. Dalam dua film itu pun Bourne ada di pintu. Di film pertama, dia membantu Marie mengeramasi rambutnya, dan di film ketiga Bourne hanya mengetuk pintu kamar mandi ketika Nicky keramas di wastafel. Which to that, I say, thank God.

Maksudnya, adegan Marie dikeramasi rambutnya sama Bourne, itu kan yang meluncurkan fantasi "I wanna shampoo you" yang jadi favoritku selama ini. Ada sizzle, getaran, desisan antara keduanya. Dan Marie is a cool chick, I like her. Tapi Nicky? Can that girl be more of a puppet than she already is?

Dan aku bernafas lega ketika dia naik ke bis dan menghilang dari layar. Sampai di bagian akhir dia muncul lagi and tidak melakukan sesuatu yang signifikan. Aarrgggghhh. Why does she have to be in that movie?

Posted at 08:30 pm by i_artharini
Make a comment  

Monday, August 13, 2007
Tuan-tuan Muda Followill

Nggak bisa dipastikan, olahraga atau kopikah yang bisa membuatku terbangun sampai jam dua tadi pagi. Olahraganya mulai dari jam setengah sebelas sampai jam setengah satu. Kopinya pun cuman Turkish coffee yang satu gelas kecil itu. Diminum jam tiga sore.

Seharusnya pola tidur masih tetap biasa-biasa saja kan?

Tapi jadinya malah berganti-ganti membaca Northanger Abbey dan Persepolis 2 (lagi). Menemukan kesamaan pengalaman Eropa-ku dan Marjane, yang sama-sama menggantungkan hidup pada pasta sebagai sumber makanan utama. Antara cerita gadis berusia 17 tahun di arena pesta-pesta sosialita Bath abad 18 Inggris dan arti Swiss bagi gadis 17 tahun dari sebuah negara dunia ketiga, ada satu elemen yang sama. Musik dari Tuan-tuan muda Followill, alias Kings of Leon.

Kayaknya ekstrim banget, dari sentimentalitas John Mayer ke dekadensi rock and roll-nya mereka. Tapi, sama halnya seperti Continuum-nya John Mayer yang waktu itu nggak bisa aku lepaskan, sekarang aku lagi nggak bisa nggak mendengarkan "Aha Shake Heartbreak"-nya Kings of Leon.

Biasanya, diawali dari Slow Night, So Long, walaupun kadang kalau lagi di jalan aku lewati dan langsung ke King of the Rodeo. Caranya Caleb menyanyikan "Good time to roll on" yang diulang-ulang seperti mantera itu lho. Kayaknya nggak ada vokalis band sekarang yang nyanyinya kayak Caleb deh. Bebunyian yang mereka hasilkan juga sepertinya bukan produk masa sekarang. Lebih seperti produk sebuah masa dan tempat yang sudah tak lagi ada. Tapi, inilah mereka, sedang aku dengarkan berulang-ulang.

Dari King... berlanjut ke Taper Jean Girl. Pistol of Fire suka aku lewatin biar cepat sampai ke Milk. Setelah itu, Bucket dan Soft.

Nah, kalau udah di situ, lingkaran setan deh. Nggak bakal lepas dari dua lagu itu sampai reboot lagi, mulai dari awal. Favoritku, sejauh ini, Soft sepertinya. Walaupun sebenarnya ini lagu yang bisa dibilang 'bodoh'.

Kalau katanya Nick Hornby, kekecewaan terbesar pada musik pop terletak pada lirik. Konyol, tanpa arti, tak masuk akal. Tapi ketika digabung dengan melodi, ia jadi tak penting lagi. Setidaknya lirik musik pop tak punya beban 'harus' mencapai sesuatu yang sastrawi gitu.

Mendengar 'Soft', aku nggak ngerti kenapa lagu ini membuatku terhipnotis walaupun liriknya juga kayaknya nggak segitunya memberi perenungan atau pencerahan gitu.

Oke, liriknya:

I used to see you every day
Used to see you every day
I danced around your folk and soul
I danced to all your fucking soul
I left you with your nose a bleedin
And your toes creepin' around
Ahhh so mundane and incomplete
Hand me down my pants and get me off this street

I'm passed out in your garden,
I'm in I can't get off so soft
I'd pop myself in your body,
I'd come into your party but I'm soft

Behind the fringe of a whiskey high
Mutilating cat like eyes,
And in your nose blood decadence
You try to drag me into your bohemian dancing
You paint my fingers and you paint my toes,
You let your perfect nipple show

I'm passed out in your garden,
I'm in I can't get off so soft
I'd pop myself in your body,
I'd come into your party but I'm soft

But, I'm Soft.

I'm passed out in your garden,
I'm in I can't get out so soft
I'd pop myself in your body,
I'd come all over your party but I'm soft

I'm passed out in your garden,
I'm in I can't get out so soft
I'd pop myself in your body,
I'd come all over your party but I'm soft

Aku punya kecurigaan tentang isi lagu ini pas denger pertama. Setelah sedikit nge-google tentang band ini, ternyata ceritanya lebih konyol lagi. Ini cerita tentang Caleb, sang vokalis, yang lagi berpesta sama seorang supermodel. Nosebleed di sini merujuk pada efek dari heroin yang mereka hirup. Dan 'Soft' merujuk pada.... Hmm, bukannya sudah cukup menjelaskan ya? Hehehe.

Lagu ini bukan tentang sesuatu yang bisa aku asosiasikan dengan diriku sendiri. I'm not and never will be a rock star partying around dengan seorang model dan menghirup kokain, heroin, apa pun itu di sebuah kamar hotel yang gelap dan tidak bisa get it up...tapi, I can't get enough of Caleb singing this particular line: "And in your nose blood decadence, You try to drag me into your bohemian dancing".

Norak kedengerannya, tapi kayaknya bagian itulah yang membuat lagunya jadi terasa klasik. Ketika terlepas dari lagunya pun terdengar, oh so cool. Mungkin karena situasi yang digambarkannya terasa sangat tidak sehari-hari. Dan mungkin malah bisa jadi sebuah pemantik cerita tersendiri.

Followill-Followill muda, seberapa pun aku mengharapkan kesuksesan will come your way, aku berharap kalian masih punya sedikit kadar anonimitas. If you're too well known, I don't think I would think of you as 'this' cool anymore.

Posted at 06:49 pm by i_artharini
Make a comment  

Tuesday, July 31, 2007
Perempuan di Titik Nol?

Sumpah deh. Kayaknya hari ini sebenarnya punya makna tersendiri yang belum bisa aku baca. Tanda-tandanya ada di mana-mana.

Mulai dari pengamen yang menyanyi dengan suara serak tapi dipekikkan (serik?), "Gara-gara korupseeeee. Indonesia bangkruuuut." Setelah sebelumnya agak nge-rap dikit, "Kami tidak sebusuk yang anda bayangkan." Tapi kata 'busuk'-nya diucapkan dengan begitu vindictive sampai aku udah males sendiri ngedengerin gerutuannya dia.

Tapi pas dia ngomong, "Yang ada cuma lumpur Lapindo, keringat orang miskin diperas habis," kayaknya ada sesuatu di otak yang ketendang. Pas itu, aku lagi ngeliat ke bis Kampung Rambutan-Tanah Abang di sebelah, bis Jepang itu, yang penuh. Melihat orang bergelantungan, jadi merasa melihat sebuah pemandangan yang khas Jakarta.

Katanya Jakarta merubah orang. Kalau iya, bagaimana aku telah berubah? Hati yang makin keras, iya. Walaupun tak berarti lebih tangguh. Jangan-jangan malah lebih cengeng. Ebenezer Scrooge. Mungkin aku sudah berubah jadi dia. Aku kayaknya nggak punya lagi kesabaran menghadapi orang-orang yang aku temui di jalan. Prasangka baik sudah hilang semua.

Setelah penyanyi serik itu, ada seorang kakek-kakek yang sebenarnya cuma mau minta uang. Tapi dibanding pemuda-pemuda lain yang ngomongnya singkat, padat, ringkas, kakek ini adalah paduan dari lelaki tua yang cenderung cerita berlama-lama dan yang diceritakan adalah riwayat kesehatan. Hasilnya, super lama. Sampai kata penutupnya aja lamaaaaa banget. Maksudnya, yang mau ngasih duit aja sampai nggak sabar nunggu kapan dia nyodorin amplop.

Abis itu, ganti lagi bapak-bapak yang ngamen, nyanyinya nggak pake nada, teriak-teriak nggak keruan. Yang paling buat mantap, sampai enam lagu lagi. Terakhir ini beneran buat kepala nyut-nyutan.

Pengamennya kok pada jenis-jenis baru semua ya? Jarang pada liat atau ketemu di bis-bis lain gitu. Dan akhirnya tersadar, oh iya, ini naik bis yang rutenya jarang aku naikin.

Sampai di tempat liputan, melihat majalah 'Jalan-Jalan' edisi terbaru yang judulnya 'An Insider's Guide to Amsterdam' yang ditulis oleh Prasma. Yes, our Prasma, girls. I always have a sense that she's a good writer but I never read her writings until now.

Selesai liputan satu, ke Kino PS mau nyari majalah itu karena tadinya belum membaca lengkap sambil nunggu liputan kedua di PS.

Membaca tentang Amsterdam dan tentang kata-katanya Prasma bahwa ia sudah tinggal di sana selama tujuh tahun dan siap mengajukan pembelaan bagi para Amsterdam resent-er, aku jadi termangu. Gila, tujuh tahun ya? Itu hampir sepertiga hidupnya.

Aku sempat dapat empat tahun sih. Fase hidup yang bakal aku bilang ke my future children saat aku berada dalam mood Mrs Dalloway, itulah masa when I am at my most happiness and I have your grandparents to thank for that.

Tapi membaca lagi tentang Amsterdam, duh, jadi mbrebes mili. Pengen pulang ke sana lagi. Homesick.

Iseng-iseng ngecek jam dan nggak sengaja tersadar sama tanggal. Sekarang tanggal 31. Hari terakhir di bulan Juli. Bulan kepulanganku ke Jakarta tiga tahun lalu. Tiga tahun di Jakarta, apa artinya ya?

Aku sedang mencoba mencari jawabannya.

Kalau mau di-pas-pas-in, kok ya rasanya sekarang lagi kembali ke titik awal ya? Atau mungkin tepatnya sebuah lingkaran telah tergambar sempurna karena awal dan ujungnya sudah ketemu lagi. Di kerjaan pun, aku sepertinya kembali lagi ke titik awal dan belajar nulis lagi.

Ini semua ada artinya atau cuma kebetulan-kebetulan? Tapi apakah aku percaya pada kebetulan?

Posted at 02:06 pm by i_artharini
Make a comment  

Wednesday, July 25, 2007
Bangun dengan Patah Hati

Yang susah bukan cuma mimpi dengan patah hati. Bangun dan langsung merasa patah hati juga nggak menyenangkan. Kali ini--karena sudah beberapa kali mengalaminya--gara-gara mimpi seorang crush yang mau menikah.

Oke, patah hatinya sebenarnya nggak segitunya. Toh, aku tahu cowok ini sudah punya long-term girlfriend dan hari menikahnya mereka tinggal menunggu waktu. Tapi yang heartbreaking itu sebenarnya isi mimpinya.

Detilnya sih agak terlupakan, tapi yang paling jelas, ini, dia beli jam tangan banyaaaaak banget. Lebih dari lima dengan berbagai tipe terbaru. Ada beberapa yang modelnya charm bracelet, itu yang aku ingat. Semuanya ditaruh di amplop cokelat ukuran sedang, ditujukan buatku. Tapi jangan keburu sorak-sorak dulu.

Selain jam, di dalamnya ada surat pendek yang tulisannya, "Nari, aku titip ini di kamu ya. Tolong simpenin." Sambil melihat jam-jam itu, aku bertanya, "Emang si xxx (pacarnya) suka jam tangan?"

Tapi aku dapat jawabannya, entah dari mana, yang ngasih tahu bahwa jam-jam ini sebagai gantinya cincin tunangan atau mas kawin. Yang aku nggak habis pikir, kok bisa ya 'cincin-cincin' itu dipercayakan ke aku.

Apa maksudnya pesan dari Sang Entitas Agung (lagi mogok menyebut nama Tuhan) yang mengingatkan, "Nari, saya percaya kamu cukup dewasa untuk membiarkan mereka berdua saja. Jadi, please, alihkan rencanamu ke subyek-subyek lain ya." Sekedar tebakan asal-asalan kalau aku boleh ge-er sih.

Tapi kenapa tiba-tiba pesan ini yang muncul ya? Toh aku nggak se-intensif itu 'mengganggu-ganggu'. Aku sudah cukup menerima apa yang pasti akan terjadi di masa depan, walaupun yaa...masih ada imajinasi-imajinasi 'what would happen if...' sih. Tapi kemarin-kemarin kepikiran juga sepertinya enggak. Apa karena lagi tidur di atas kapal ya? (Saat itu lagi di Sorong, btw).

Paginya sempat mengirimkan pesan pendek yang menanyakan kabar berita dari mimpi itu (Was I stupid or was I stupid?). Nggak langsung dibalas deh. Pas ha-pe sudah nggak dapat sinyal lagi, eh tiba-tiba tersadar. Jangan-jangan si crush itu ngiranya aku yang harusnya 'dinikahin' dan dia jadi ilfil gara-gara aku ke-geeran sampe segitunya.

Maksudnya gini, mencoba berjalan di sepatunya si crush, kenapa juga dia harus memikirkan pendapatku tentang pernikahannya dia kan? Memang nggak ada alasan. Oke, we're old friends. Setidaknya dalam kapasitas itu aku juga nanti bakal dapat pemberitahuan resmi kan?Jadi kenapa harus repot-repot mikirin sebelumnya?

Akhirnya, karena berkesimpulan bahwa apa yang sudah aku lakukan sebelumnya tidak pantas, pas sampai di Makassar langsung ngirim sms lagi. Isinya sih permintaan maaf plus plus. Balasannya, duh, kembali menegaskan posisinya dia sebagai 'my crush'. Menenangkan dan menyenangkan sekaligus. Pakai dipanggil 'nduk' lagi. Jadi meleleh deh hatinya...*blushing*

(Suara hati: Nari, noooooo. He's getting married.)

Posted at 01:11 pm by i_artharini
Make a comment  

Wednesday, July 18, 2007
Menentukan Mau

Katanya, orang yang paling tersiksa adalah orang yang nggak tau apa maunya. Sepertinya aku sekarang jadi salah satu orang itu.

Aku belum pernah jadi penggemar sepakbola. Dan tidak pernah juga jadi penggemar sepakbola. Seharusnya dengan kesimpulan itu di kepala, nggak susah untuk menjawab tawaran tiket nonton Indonesia lawan Korea Selatan, nanti malam. Apalagi kalau harganya mencapai Rp 75 ribu.

Tapi, aduuuh, kok susah banget menentukan maunya hati ya. Pas udah menolak tawaran tiket, Selasa paginya membaca berita di Kompas yang mewawancara mantan pelatih tim Indonesia. Si mantan pelatih bilang Korea S Selatan sekarang beda sama Korsel yang dilatih Guus Hiddink dan bermain hebat di Piala Dunia...kapan ya itu? 2002? (Seburuk itulah memori sepakbolaku).

Si mantan pelatih ini juga mengajukan beberapa argumen yang membuatnya menyimpulkan, "Indonesia punya kemungkinan bertahan atau malah punya peluang menang." Argumen-argumen yang disusunnya cukup logis sampai, wah, kok ya jadi tergerak untuk nonton.

Selasa siang kemarin, pas sampai kantor juga ditanyain lagi, "Yakin nggak mau nonton? Banyak lho yang mau nonton." Sudah mulai agak goyah sih. Tapi pas sorenya tanya ama Bintang Pelem dan telepon ke Irvan yang lagi nungguin tiket, katanya udah dipesenin sama sekretarisnya siapa gitu dengan jumlah yang sebelumnya, dan udah nggak kekejar lagi kalau mau nyerahin duit, soalnya pasti udah dipesenin dan kantor si sekretaris ini skrg tutup. Singkatnya, aku nggak bakal nonton bareng rombongan media yang katanya sampai 16 orang itu.

Tiba-tiba, kok jadi teringat adegannya "The Perfect Catch" ya? Yang pas karakter Jimmy Fallon memilih datang ke pesta ultah temennya Drew Barrymore dengan tema The Great Gatsby, dan mereka have a great time, yakin bahwa masing-masing adalah "the one" bagi pasangannya, pokoknya semuanya sempurna sampai...Red Sox yang jadi tim favoritnya Fallon menang melawan musuh bebuyutannya. Selama berapa puluh tahun gitu Red Sox nggak pernah menang ngelawan tim lawan. Yankee apa ya?

Pokoknya, itu adalah malam yang bersejarah buat penggemar Red Sox dan Fallon ketinggalan. Di cerita itu sih, karakter Fallon dan Barrymore akhirnya bertengkar karena Barrymore sakit hati Fallon setengah menyalahkannya untuk tidak hadir di pertandingan bersejarah itu. "Itu kan keputusanmu sendiri pergi sama aku," kata Barrymore yang sakit hati.

(Btw, aku nggak tau adegan ini ada atau enggak di "Fever Pitch" buku yang jadi dasar film ini. Hornby kayaknya baru membayangkan worst case scenarionya deh. Setidaknya aku baru membaca sampai bagian itu)

Oke, aku jadi berpikir, bagaimana jika inilah malam bersejarah itu? Seharusnya apa pun yang terjadi tidak akan menggangguku, karena, toh aku bukan penggemar sepakbola gitu. Tapi kenapa ya, kejadian ini, Indonesia di Piala Asia maksudnya, jadi terasa seperti sesuatu yang mampu menembus batas. Batas apa pun itu. Ini sudah menjadi sesuatu yang besar. Buueessaarr. Dan aku akan melewatkan berada di lokasi sejarah dibuat, di kandang kita. Hehe.

Ya mungkin masih bisa sih ngantre tiket di Senayan. Tapi tadi pagi aku juga lebih milih nge-gym walaupun dengan instruktur yang menyebalkan, terus..ada liputan sih, sekarang nge-blog dan siang ada liputan lagi. Intinya, aku juga tidak tergerak untuk berupaya lebih keras untuk bisa ada di sana. Bingung kan?

Kalau mungkin sekedar permainannya, bisa diikuti lewat televisi. Sesuatu yang mau aku lakukan dengan langsung pulang habis liputan. (Ini salah satu sebab aku cinta banget sama communicatorku) Tapi mungkin aku juga ingin merasakan suasananya ya.

Tapi lagi, di saat aku sudah bisa meredam keinginan untuk ada di sana, teman sekelas Basic Step yang kerasa kayak kelas Real Stepper itu ngomong ama si instruktur nyebelin, "Iya, Korsel kan kalah ama Bahrain. Kita kemarin menang lawan Bahrain. Jadi pasti seru nih."

Arrgh.

Bener, memang. Tersiksa.


Posted at 01:46 pm by i_artharini
Comments (2)  

Tuesday, July 17, 2007
Menjadi Berani

Gara-gara liputan peringatan Hari Anak Nasional di daerah Sunan Giri tadi pagi, aku jadi keingat satu kutipan yang disampaikan oleh seorang ibu pejabat. Yah, dia memang bukan orang yang suka memberi 'kutipan-kutipan seksi'. Biasanya sih normatif-normatif aja sampai berbatasan dengan sillyness, mungkin.

(Contoh, masa pertanyaan pertamanya, "Anak-anak sedang apa di sini?" Aku dan wartawati sebuah stasiun televisi yang produk beritanya diakui unggul itu sampai ketawa-ketawa geli. Si wartawati itu malah menambahkan, "Benar-benar harta karun liputan ke sini." Ya, for me, harta karun buat nge-blog).

Anyway, saat 'bertugas' sebagai pemberi solusi masalah keseharian ibu-ibu, si ibu pejabat ini ditanyai seorang ibu orangtua murid yang mengaku takut kalau harus ketemu sama gurunya anaknya. Bukan karena ada masalah, tapi ya sekedar ngobrol-ngobrol aja deh.

Tidak diduga, si ibu pejabat ini memberi sebuah petuah yang belakangan ini baru-baru aja aku 'figure out'. "Kalau buat anak, rasa takut itu harus kita pendam dalam-dalam," katanya. Pas pulang ke kantor naik P11, eh, denger juga "Stop This Train", yang menurutku agak-agak berhubungan temanya.

Jadi gini, beberapa minggu yang lalu aku mulai terus-terusan memikirkan tentang betapa beraninya orangtua-orangtua di sekitarku. My parents, terutama. Maksudnya dunia itu, menurutku, adalah tempat yang 'ominous' juga melelahkan. Sebagai orang muda, mungkin kita bisa meng-indulge dalam pemikiran untuk, "udah ah, aku mau turun dari kereta ini. Aku nggak tahan sama kecepatannya." Sesuatu yang diinginkan John Mayer lewat "Stop This Train". Maaf kalau lagi-lagi tentang dia, aku masih belum bisa melepaskan album ini dari keseharianku.

Tapi, once you have a child, kayaknya keinginan-keinginan untuk berhenti itu jadi dipaksa untuk hilang. Soalnya kalau enggak, ya kemana lagi si anak mau bergantung kan?

Maksudnya, menghadapi keseharian aja aku masih sering harus dibantu dengan penyemangatan dari ibu atau bapakku. Kalau misalnya mereka nggak cukup berani untuk menghadapi keseharian hidup dan tragedi-tragedi kecilnya, I don't know where would I be.

Aku mengakui bahwa ini hanya sekedar observasi dari orang yang belum punya pengalaman sama sekali, hanya sekedar merasionalisasi apa yang aku lihat sehari-hari. Tapi kesimpulannya, being a parent is about being brave.

Btw, sepertinya aku jadi tambah cinta sama keluargaku deh habis liburan ini. Atau memang karena hati yang jadi tambah ringan dan ceria, jadinya bisa lebih melihat segala sesuatunya dari sudut yang positif pula?

Nggak tau ya, tapi I seem to love my dad more, my mom yaahh...bisa sampai pada tahap yang bisa ditoleransi sih walaupun kadang masih ngerasa kesel, tapi definitely my dad more.

Moral cerita ini?

Jadi, kalau pas ngerasa juteeeek banget, nggak ada tujuan hidup, atau tujuan kerjaan, cranky ama semua orang, tanya sama diri sendiri, kapan terakhir kali pergi liburan. Pelajaran selesai.

Posted at 06:17 pm by i_artharini
Make a comment  

Next Page