PENARI MUNGIL


(Saya bukan seorang penari. Pun sangat jauh dari mungil. Tapi, tahu kan adegan 'Tiny Dancer' di 'Almost Famous'? Sensasi membahagiakan dari adegan itulah yang saya kejar..)



Hold me closer, tiny dancer

Count the headlights on the highway

Lay me down in sheets of linen

You had a busy day, today


("Tiny Dancer" - Elton John)





"...the quest for transcendence has always been closely linked to the ecstatic release of dancing."
(Resensi RollingStone atas sebuah album pop)

Mr. Darcy: "So what do you recommend, to encourage affection?"
Elizabeth Bennet: "Dancing, even if one's partner is only tolerable."
(Pride & Prejudice, 2005)


perempuan, 1983, lovesick soul, berjalan kaki, belajar menulis, menonton film, ingin keliling dunia, Billie Holliday, Jane Austen, 'Franny and Zooey', cerita pendek F Scott Fitzgerald, lagu-lagu sedih, kecanduan membeli buku second, deretan buku di lemari, berkeliling dengan bis kota, mengepak koper, menari bebas, Vogue, sepatu, bad boys, kopi, kuliner, foto, semua yang vintage, genggaman tangan, pelukan hangat, detil percakapan antara manusia, kegelisahan, kesepian, ruang pencarian, belajar dewasa, museum dan bangunan tua, hari hujan, sinar matahari hangat di hari berangin, airport, stasiun kereta, dan pertanyaan tanpa akhir

YM: isyana_artharini
Email: i.artharini@gmail.com
   

<< August 2007 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Monday, August 13, 2007
Tuan-tuan Muda Followill

Nggak bisa dipastikan, olahraga atau kopikah yang bisa membuatku terbangun sampai jam dua tadi pagi. Olahraganya mulai dari jam setengah sebelas sampai jam setengah satu. Kopinya pun cuman Turkish coffee yang satu gelas kecil itu. Diminum jam tiga sore.

Seharusnya pola tidur masih tetap biasa-biasa saja kan?

Tapi jadinya malah berganti-ganti membaca Northanger Abbey dan Persepolis 2 (lagi). Menemukan kesamaan pengalaman Eropa-ku dan Marjane, yang sama-sama menggantungkan hidup pada pasta sebagai sumber makanan utama. Antara cerita gadis berusia 17 tahun di arena pesta-pesta sosialita Bath abad 18 Inggris dan arti Swiss bagi gadis 17 tahun dari sebuah negara dunia ketiga, ada satu elemen yang sama. Musik dari Tuan-tuan muda Followill, alias Kings of Leon.

Kayaknya ekstrim banget, dari sentimentalitas John Mayer ke dekadensi rock and roll-nya mereka. Tapi, sama halnya seperti Continuum-nya John Mayer yang waktu itu nggak bisa aku lepaskan, sekarang aku lagi nggak bisa nggak mendengarkan "Aha Shake Heartbreak"-nya Kings of Leon.

Biasanya, diawali dari Slow Night, So Long, walaupun kadang kalau lagi di jalan aku lewati dan langsung ke King of the Rodeo. Caranya Caleb menyanyikan "Good time to roll on" yang diulang-ulang seperti mantera itu lho. Kayaknya nggak ada vokalis band sekarang yang nyanyinya kayak Caleb deh. Bebunyian yang mereka hasilkan juga sepertinya bukan produk masa sekarang. Lebih seperti produk sebuah masa dan tempat yang sudah tak lagi ada. Tapi, inilah mereka, sedang aku dengarkan berulang-ulang.

Dari King... berlanjut ke Taper Jean Girl. Pistol of Fire suka aku lewatin biar cepat sampai ke Milk. Setelah itu, Bucket dan Soft.

Nah, kalau udah di situ, lingkaran setan deh. Nggak bakal lepas dari dua lagu itu sampai reboot lagi, mulai dari awal. Favoritku, sejauh ini, Soft sepertinya. Walaupun sebenarnya ini lagu yang bisa dibilang 'bodoh'.

Kalau katanya Nick Hornby, kekecewaan terbesar pada musik pop terletak pada lirik. Konyol, tanpa arti, tak masuk akal. Tapi ketika digabung dengan melodi, ia jadi tak penting lagi. Setidaknya lirik musik pop tak punya beban 'harus' mencapai sesuatu yang sastrawi gitu.

Mendengar 'Soft', aku nggak ngerti kenapa lagu ini membuatku terhipnotis walaupun liriknya juga kayaknya nggak segitunya memberi perenungan atau pencerahan gitu.

Oke, liriknya:

I used to see you every day
Used to see you every day
I danced around your folk and soul
I danced to all your fucking soul
I left you with your nose a bleedin
And your toes creepin' around
Ahhh so mundane and incomplete
Hand me down my pants and get me off this street

I'm passed out in your garden,
I'm in I can't get off so soft
I'd pop myself in your body,
I'd come into your party but I'm soft

Behind the fringe of a whiskey high
Mutilating cat like eyes,
And in your nose blood decadence
You try to drag me into your bohemian dancing
You paint my fingers and you paint my toes,
You let your perfect nipple show

I'm passed out in your garden,
I'm in I can't get off so soft
I'd pop myself in your body,
I'd come into your party but I'm soft

But, I'm Soft.

I'm passed out in your garden,
I'm in I can't get out so soft
I'd pop myself in your body,
I'd come all over your party but I'm soft

I'm passed out in your garden,
I'm in I can't get out so soft
I'd pop myself in your body,
I'd come all over your party but I'm soft

Aku punya kecurigaan tentang isi lagu ini pas denger pertama. Setelah sedikit nge-google tentang band ini, ternyata ceritanya lebih konyol lagi. Ini cerita tentang Caleb, sang vokalis, yang lagi berpesta sama seorang supermodel. Nosebleed di sini merujuk pada efek dari heroin yang mereka hirup. Dan 'Soft' merujuk pada.... Hmm, bukannya sudah cukup menjelaskan ya? Hehehe.

Lagu ini bukan tentang sesuatu yang bisa aku asosiasikan dengan diriku sendiri. I'm not and never will be a rock star partying around dengan seorang model dan menghirup kokain, heroin, apa pun itu di sebuah kamar hotel yang gelap dan tidak bisa get it up...tapi, I can't get enough of Caleb singing this particular line: "And in your nose blood decadence, You try to drag me into your bohemian dancing".

Norak kedengerannya, tapi kayaknya bagian itulah yang membuat lagunya jadi terasa klasik. Ketika terlepas dari lagunya pun terdengar, oh so cool. Mungkin karena situasi yang digambarkannya terasa sangat tidak sehari-hari. Dan mungkin malah bisa jadi sebuah pemantik cerita tersendiri.

Followill-Followill muda, seberapa pun aku mengharapkan kesuksesan will come your way, aku berharap kalian masih punya sedikit kadar anonimitas. If you're too well known, I don't think I would think of you as 'this' cool anymore.

Posted at 06:49 pm by i_artharini
Make a comment  

Tuesday, July 31, 2007
Perempuan di Titik Nol?

Sumpah deh. Kayaknya hari ini sebenarnya punya makna tersendiri yang belum bisa aku baca. Tanda-tandanya ada di mana-mana.

Mulai dari pengamen yang menyanyi dengan suara serak tapi dipekikkan (serik?), "Gara-gara korupseeeee. Indonesia bangkruuuut." Setelah sebelumnya agak nge-rap dikit, "Kami tidak sebusuk yang anda bayangkan." Tapi kata 'busuk'-nya diucapkan dengan begitu vindictive sampai aku udah males sendiri ngedengerin gerutuannya dia.

Tapi pas dia ngomong, "Yang ada cuma lumpur Lapindo, keringat orang miskin diperas habis," kayaknya ada sesuatu di otak yang ketendang. Pas itu, aku lagi ngeliat ke bis Kampung Rambutan-Tanah Abang di sebelah, bis Jepang itu, yang penuh. Melihat orang bergelantungan, jadi merasa melihat sebuah pemandangan yang khas Jakarta.

Katanya Jakarta merubah orang. Kalau iya, bagaimana aku telah berubah? Hati yang makin keras, iya. Walaupun tak berarti lebih tangguh. Jangan-jangan malah lebih cengeng. Ebenezer Scrooge. Mungkin aku sudah berubah jadi dia. Aku kayaknya nggak punya lagi kesabaran menghadapi orang-orang yang aku temui di jalan. Prasangka baik sudah hilang semua.

Setelah penyanyi serik itu, ada seorang kakek-kakek yang sebenarnya cuma mau minta uang. Tapi dibanding pemuda-pemuda lain yang ngomongnya singkat, padat, ringkas, kakek ini adalah paduan dari lelaki tua yang cenderung cerita berlama-lama dan yang diceritakan adalah riwayat kesehatan. Hasilnya, super lama. Sampai kata penutupnya aja lamaaaaa banget. Maksudnya, yang mau ngasih duit aja sampai nggak sabar nunggu kapan dia nyodorin amplop.

Abis itu, ganti lagi bapak-bapak yang ngamen, nyanyinya nggak pake nada, teriak-teriak nggak keruan. Yang paling buat mantap, sampai enam lagu lagi. Terakhir ini beneran buat kepala nyut-nyutan.

Pengamennya kok pada jenis-jenis baru semua ya? Jarang pada liat atau ketemu di bis-bis lain gitu. Dan akhirnya tersadar, oh iya, ini naik bis yang rutenya jarang aku naikin.

Sampai di tempat liputan, melihat majalah 'Jalan-Jalan' edisi terbaru yang judulnya 'An Insider's Guide to Amsterdam' yang ditulis oleh Prasma. Yes, our Prasma, girls. I always have a sense that she's a good writer but I never read her writings until now.

Selesai liputan satu, ke Kino PS mau nyari majalah itu karena tadinya belum membaca lengkap sambil nunggu liputan kedua di PS.

Membaca tentang Amsterdam dan tentang kata-katanya Prasma bahwa ia sudah tinggal di sana selama tujuh tahun dan siap mengajukan pembelaan bagi para Amsterdam resent-er, aku jadi termangu. Gila, tujuh tahun ya? Itu hampir sepertiga hidupnya.

Aku sempat dapat empat tahun sih. Fase hidup yang bakal aku bilang ke my future children saat aku berada dalam mood Mrs Dalloway, itulah masa when I am at my most happiness and I have your grandparents to thank for that.

Tapi membaca lagi tentang Amsterdam, duh, jadi mbrebes mili. Pengen pulang ke sana lagi. Homesick.

Iseng-iseng ngecek jam dan nggak sengaja tersadar sama tanggal. Sekarang tanggal 31. Hari terakhir di bulan Juli. Bulan kepulanganku ke Jakarta tiga tahun lalu. Tiga tahun di Jakarta, apa artinya ya?

Aku sedang mencoba mencari jawabannya.

Kalau mau di-pas-pas-in, kok ya rasanya sekarang lagi kembali ke titik awal ya? Atau mungkin tepatnya sebuah lingkaran telah tergambar sempurna karena awal dan ujungnya sudah ketemu lagi. Di kerjaan pun, aku sepertinya kembali lagi ke titik awal dan belajar nulis lagi.

Ini semua ada artinya atau cuma kebetulan-kebetulan? Tapi apakah aku percaya pada kebetulan?

Posted at 02:06 pm by i_artharini
Make a comment  

Wednesday, July 25, 2007
Bangun dengan Patah Hati

Yang susah bukan cuma mimpi dengan patah hati. Bangun dan langsung merasa patah hati juga nggak menyenangkan. Kali ini--karena sudah beberapa kali mengalaminya--gara-gara mimpi seorang crush yang mau menikah.

Oke, patah hatinya sebenarnya nggak segitunya. Toh, aku tahu cowok ini sudah punya long-term girlfriend dan hari menikahnya mereka tinggal menunggu waktu. Tapi yang heartbreaking itu sebenarnya isi mimpinya.

Detilnya sih agak terlupakan, tapi yang paling jelas, ini, dia beli jam tangan banyaaaaak banget. Lebih dari lima dengan berbagai tipe terbaru. Ada beberapa yang modelnya charm bracelet, itu yang aku ingat. Semuanya ditaruh di amplop cokelat ukuran sedang, ditujukan buatku. Tapi jangan keburu sorak-sorak dulu.

Selain jam, di dalamnya ada surat pendek yang tulisannya, "Nari, aku titip ini di kamu ya. Tolong simpenin." Sambil melihat jam-jam itu, aku bertanya, "Emang si xxx (pacarnya) suka jam tangan?"

Tapi aku dapat jawabannya, entah dari mana, yang ngasih tahu bahwa jam-jam ini sebagai gantinya cincin tunangan atau mas kawin. Yang aku nggak habis pikir, kok bisa ya 'cincin-cincin' itu dipercayakan ke aku.

Apa maksudnya pesan dari Sang Entitas Agung (lagi mogok menyebut nama Tuhan) yang mengingatkan, "Nari, saya percaya kamu cukup dewasa untuk membiarkan mereka berdua saja. Jadi, please, alihkan rencanamu ke subyek-subyek lain ya." Sekedar tebakan asal-asalan kalau aku boleh ge-er sih.

Tapi kenapa tiba-tiba pesan ini yang muncul ya? Toh aku nggak se-intensif itu 'mengganggu-ganggu'. Aku sudah cukup menerima apa yang pasti akan terjadi di masa depan, walaupun yaa...masih ada imajinasi-imajinasi 'what would happen if...' sih. Tapi kemarin-kemarin kepikiran juga sepertinya enggak. Apa karena lagi tidur di atas kapal ya? (Saat itu lagi di Sorong, btw).

Paginya sempat mengirimkan pesan pendek yang menanyakan kabar berita dari mimpi itu (Was I stupid or was I stupid?). Nggak langsung dibalas deh. Pas ha-pe sudah nggak dapat sinyal lagi, eh tiba-tiba tersadar. Jangan-jangan si crush itu ngiranya aku yang harusnya 'dinikahin' dan dia jadi ilfil gara-gara aku ke-geeran sampe segitunya.

Maksudnya gini, mencoba berjalan di sepatunya si crush, kenapa juga dia harus memikirkan pendapatku tentang pernikahannya dia kan? Memang nggak ada alasan. Oke, we're old friends. Setidaknya dalam kapasitas itu aku juga nanti bakal dapat pemberitahuan resmi kan?Jadi kenapa harus repot-repot mikirin sebelumnya?

Akhirnya, karena berkesimpulan bahwa apa yang sudah aku lakukan sebelumnya tidak pantas, pas sampai di Makassar langsung ngirim sms lagi. Isinya sih permintaan maaf plus plus. Balasannya, duh, kembali menegaskan posisinya dia sebagai 'my crush'. Menenangkan dan menyenangkan sekaligus. Pakai dipanggil 'nduk' lagi. Jadi meleleh deh hatinya...*blushing*

(Suara hati: Nari, noooooo. He's getting married.)

Posted at 01:11 pm by i_artharini
Make a comment  

Wednesday, July 18, 2007
Menentukan Mau

Katanya, orang yang paling tersiksa adalah orang yang nggak tau apa maunya. Sepertinya aku sekarang jadi salah satu orang itu.

Aku belum pernah jadi penggemar sepakbola. Dan tidak pernah juga jadi penggemar sepakbola. Seharusnya dengan kesimpulan itu di kepala, nggak susah untuk menjawab tawaran tiket nonton Indonesia lawan Korea Selatan, nanti malam. Apalagi kalau harganya mencapai Rp 75 ribu.

Tapi, aduuuh, kok susah banget menentukan maunya hati ya. Pas udah menolak tawaran tiket, Selasa paginya membaca berita di Kompas yang mewawancara mantan pelatih tim Indonesia. Si mantan pelatih bilang Korea S Selatan sekarang beda sama Korsel yang dilatih Guus Hiddink dan bermain hebat di Piala Dunia...kapan ya itu? 2002? (Seburuk itulah memori sepakbolaku).

Si mantan pelatih ini juga mengajukan beberapa argumen yang membuatnya menyimpulkan, "Indonesia punya kemungkinan bertahan atau malah punya peluang menang." Argumen-argumen yang disusunnya cukup logis sampai, wah, kok ya jadi tergerak untuk nonton.

Selasa siang kemarin, pas sampai kantor juga ditanyain lagi, "Yakin nggak mau nonton? Banyak lho yang mau nonton." Sudah mulai agak goyah sih. Tapi pas sorenya tanya ama Bintang Pelem dan telepon ke Irvan yang lagi nungguin tiket, katanya udah dipesenin sama sekretarisnya siapa gitu dengan jumlah yang sebelumnya, dan udah nggak kekejar lagi kalau mau nyerahin duit, soalnya pasti udah dipesenin dan kantor si sekretaris ini skrg tutup. Singkatnya, aku nggak bakal nonton bareng rombongan media yang katanya sampai 16 orang itu.

Tiba-tiba, kok jadi teringat adegannya "The Perfect Catch" ya? Yang pas karakter Jimmy Fallon memilih datang ke pesta ultah temennya Drew Barrymore dengan tema The Great Gatsby, dan mereka have a great time, yakin bahwa masing-masing adalah "the one" bagi pasangannya, pokoknya semuanya sempurna sampai...Red Sox yang jadi tim favoritnya Fallon menang melawan musuh bebuyutannya. Selama berapa puluh tahun gitu Red Sox nggak pernah menang ngelawan tim lawan. Yankee apa ya?

Pokoknya, itu adalah malam yang bersejarah buat penggemar Red Sox dan Fallon ketinggalan. Di cerita itu sih, karakter Fallon dan Barrymore akhirnya bertengkar karena Barrymore sakit hati Fallon setengah menyalahkannya untuk tidak hadir di pertandingan bersejarah itu. "Itu kan keputusanmu sendiri pergi sama aku," kata Barrymore yang sakit hati.

(Btw, aku nggak tau adegan ini ada atau enggak di "Fever Pitch" buku yang jadi dasar film ini. Hornby kayaknya baru membayangkan worst case scenarionya deh. Setidaknya aku baru membaca sampai bagian itu)

Oke, aku jadi berpikir, bagaimana jika inilah malam bersejarah itu? Seharusnya apa pun yang terjadi tidak akan menggangguku, karena, toh aku bukan penggemar sepakbola gitu. Tapi kenapa ya, kejadian ini, Indonesia di Piala Asia maksudnya, jadi terasa seperti sesuatu yang mampu menembus batas. Batas apa pun itu. Ini sudah menjadi sesuatu yang besar. Buueessaarr. Dan aku akan melewatkan berada di lokasi sejarah dibuat, di kandang kita. Hehe.

Ya mungkin masih bisa sih ngantre tiket di Senayan. Tapi tadi pagi aku juga lebih milih nge-gym walaupun dengan instruktur yang menyebalkan, terus..ada liputan sih, sekarang nge-blog dan siang ada liputan lagi. Intinya, aku juga tidak tergerak untuk berupaya lebih keras untuk bisa ada di sana. Bingung kan?

Kalau mungkin sekedar permainannya, bisa diikuti lewat televisi. Sesuatu yang mau aku lakukan dengan langsung pulang habis liputan. (Ini salah satu sebab aku cinta banget sama communicatorku) Tapi mungkin aku juga ingin merasakan suasananya ya.

Tapi lagi, di saat aku sudah bisa meredam keinginan untuk ada di sana, teman sekelas Basic Step yang kerasa kayak kelas Real Stepper itu ngomong ama si instruktur nyebelin, "Iya, Korsel kan kalah ama Bahrain. Kita kemarin menang lawan Bahrain. Jadi pasti seru nih."

Arrgh.

Bener, memang. Tersiksa.


Posted at 01:46 pm by i_artharini
Comments (2)  

Tuesday, July 17, 2007
Menjadi Berani

Gara-gara liputan peringatan Hari Anak Nasional di daerah Sunan Giri tadi pagi, aku jadi keingat satu kutipan yang disampaikan oleh seorang ibu pejabat. Yah, dia memang bukan orang yang suka memberi 'kutipan-kutipan seksi'. Biasanya sih normatif-normatif aja sampai berbatasan dengan sillyness, mungkin.

(Contoh, masa pertanyaan pertamanya, "Anak-anak sedang apa di sini?" Aku dan wartawati sebuah stasiun televisi yang produk beritanya diakui unggul itu sampai ketawa-ketawa geli. Si wartawati itu malah menambahkan, "Benar-benar harta karun liputan ke sini." Ya, for me, harta karun buat nge-blog).

Anyway, saat 'bertugas' sebagai pemberi solusi masalah keseharian ibu-ibu, si ibu pejabat ini ditanyai seorang ibu orangtua murid yang mengaku takut kalau harus ketemu sama gurunya anaknya. Bukan karena ada masalah, tapi ya sekedar ngobrol-ngobrol aja deh.

Tidak diduga, si ibu pejabat ini memberi sebuah petuah yang belakangan ini baru-baru aja aku 'figure out'. "Kalau buat anak, rasa takut itu harus kita pendam dalam-dalam," katanya. Pas pulang ke kantor naik P11, eh, denger juga "Stop This Train", yang menurutku agak-agak berhubungan temanya.

Jadi gini, beberapa minggu yang lalu aku mulai terus-terusan memikirkan tentang betapa beraninya orangtua-orangtua di sekitarku. My parents, terutama. Maksudnya dunia itu, menurutku, adalah tempat yang 'ominous' juga melelahkan. Sebagai orang muda, mungkin kita bisa meng-indulge dalam pemikiran untuk, "udah ah, aku mau turun dari kereta ini. Aku nggak tahan sama kecepatannya." Sesuatu yang diinginkan John Mayer lewat "Stop This Train". Maaf kalau lagi-lagi tentang dia, aku masih belum bisa melepaskan album ini dari keseharianku.

Tapi, once you have a child, kayaknya keinginan-keinginan untuk berhenti itu jadi dipaksa untuk hilang. Soalnya kalau enggak, ya kemana lagi si anak mau bergantung kan?

Maksudnya, menghadapi keseharian aja aku masih sering harus dibantu dengan penyemangatan dari ibu atau bapakku. Kalau misalnya mereka nggak cukup berani untuk menghadapi keseharian hidup dan tragedi-tragedi kecilnya, I don't know where would I be.

Aku mengakui bahwa ini hanya sekedar observasi dari orang yang belum punya pengalaman sama sekali, hanya sekedar merasionalisasi apa yang aku lihat sehari-hari. Tapi kesimpulannya, being a parent is about being brave.

Btw, sepertinya aku jadi tambah cinta sama keluargaku deh habis liburan ini. Atau memang karena hati yang jadi tambah ringan dan ceria, jadinya bisa lebih melihat segala sesuatunya dari sudut yang positif pula?

Nggak tau ya, tapi I seem to love my dad more, my mom yaahh...bisa sampai pada tahap yang bisa ditoleransi sih walaupun kadang masih ngerasa kesel, tapi definitely my dad more.

Moral cerita ini?

Jadi, kalau pas ngerasa juteeeek banget, nggak ada tujuan hidup, atau tujuan kerjaan, cranky ama semua orang, tanya sama diri sendiri, kapan terakhir kali pergi liburan. Pelajaran selesai.

Posted at 06:17 pm by i_artharini
Make a comment  

Kennedy-less Monday

I'm so close in having a first Kennedy encounter, Senin kemarin. Ya, secara teknis sih bukan benar-benar seorang Kennedy, seorang Shriver tepatnya. Dan bukan Maria, istri Arnold. Adik laki-lakinya, Timothy.

Ini nih tugas yang waktu itu dibebankan lewat telepon dari hari pertama cuti. Hrrgghh. Tapi, okelah. Namanya juga tugas.

Anyway, pas di gym lagi siap-siap berangkat aku jadi membayangkan akan suatu film dokumenter ala MTV Cribs di masa depan yang isinya wartawan-wartawan cerita tentang pengalaman mereka menjalankan tugas kewartawanan. Aku membayangkan ada satu adegan seorang wartawan memamerkan setelan yang dipakainya saat bertemu dengan siapa pun tokoh 'dunia' yang pernah diwawancarainya. Rosiana Silalahi mungkin bisa memamerkan, "Saya memakai setelan ini ketika wawancara George W Bush." Sementara, aku, Nawal el Saadawi lah atau Timothy Shriver inilah, jawaban atas pertanyaan itu akan selalu sama, ya seragam biru kantor dengan lambang kepala elang di atas kantong kiri. Sedih ya?

Tapi, ya daripada milih sendiri terus jatuhnya salah?

Demo buruh Nike ternyata jadi faktor pembatal wawancara itu. So, no Kennedy for me Senin kemarin. Timothy Shriver yang Chairman for Special Olympics nggak bisa masuk karena gedung yang diblokade polisi dan demonstran.

Pas jam sepuluh, mengejar waktu agar tak terlambat, bersamaan dengan datangnya rombongan buruh Nike itu. Dan yang datang benar-benar sampai menyemut. Tapi, batal wawancara, nggak menyesal, kok. Siapa pun yang ngelawan Nike itu harus didukung, hehehe.

Dari situ, iseng-iseng menghubungi teman yang aku tahu kantornya di BEJ. "Aku lagi latihan di Sultan. Kamu sampai kapan di BEJ?" Lha wong sudah mau cabut kok. Maksudnya kan iseng-iseng berhadiah, siapa tau bisa makan siang bareng.

Banting setirlah, menghubungi satu-satunya pria yang bakal muncul terus dalam kehidupanku, no matter what. Walaupun, hari ini kepentingannya cuma minta makan siang gratis. Yes. My dad.

Selesai lunch, ikut balik ke kantor ayahku, menitipkan barang-barang gym (kenapa sih tas-tas Bali ini udah langsung pada robek? Padahal isinya sudah dijaga seminim mungkin lho), dan ternyata....lagi ada sale menggunakan kartu kredit sebuah bank BUMN. Jam tangan, cincin berlian, TV plasma, hape, kamera digital. Tapi yang stannya paling ramai memang jam tangan, cowok dan cewek tumplek di situ.

Stan cincin sebenarnya juga cukup rame. Isinya cewek-cewek semua. Dan yang pada ke sana pada sok-sok, "Bentar ya, bouw. Aku lihat cincin dulu," sambil ngasih senyum sok malu-malu padahal sebenarnya smug. To which, her friends replied, "Deeuuuuu. Iya deeeehhhh." Ih, lihat cincin mah lihat cincin aja ya. Nggak usah sok-sok udah dilamar gitu deh. (Hahaha)

Karena ada Fossil yang aku rasa aku 'butuhkan', jadi ikut deh bergesek-gesekan bahu, siku, lengan, sampai pinggul sama banyak orang. Jam tangan, karena diskonnya yang sampai 50 persen, otomatis jadi stan paling rame.

Dan saat aku sibuk bumping and grinding itu, aku jadi tersadar, wow, ternyata ayahku bekerja dengan banyak banget, dan maksudnya emang buaaanyak, cowok-cowok seusiaku yang keren-keren. Katanya Ccr, "Iya ya. Mungkin kita kerjanya jadi cuma ketemu ama orang-orang tua, narasumber-narasumber yang lebih tua. Kurang sama orang-orang seumuran." Hhmm, bener juga. This is definitely the job that ages you.

Acara belanja sempat tertunda sebentar dengan telepon dari kantor yang menanyakan, "Nanti ke kantor nggak? Minta tolong dibuatin Cakrawala." Okelah. Balik kantor, ketemu gadis-gadis dan ngrujak bareng yang aku rindukan pas cuti, nggosip, makan siomay, nulis cakrawala, terus ke tengah kota lagi buat nonton. Yes, Nari, you are going to achieve greatness someday, hehehe.

At the end, yah, ini sebenarnya hari yang cukup menyenangkan. Tapi buatku puncaknya adalah pagi-pagi, pas ikut kelas Step Combo, aku jadi menyadari betapa aku kangen sama gym-ku. Kangen berkeringat dan merasakan detak jantung yang semakin kencang. Step Combo yang aku ikutin pun bisa dilakukan dengan relatif menyenangkan. Masih ada kerasa capek-capeknya, tapi tetap bisa mengikuti dengan baik. Hmm, kayaknya nggak lama lagi aku bakal jatuh cinta deh ama working out.

Habis gitu, sempet treadmill bentar. Tapi I have my whipcream and cherry on top early in the morning, pas si instruktur bilang, "Lama nggak keliatan, kamu kayaknya kurusan ya?" Hahaha.

Yes, I do love working out.

Oh iya, ada tambahan chocolate sprinkle atau hot fudge kali ya hari itu, karena 'Milkshake' main pas aku lagi 'panas-panasnya' jalan di treadmill. Ah, perfecto!

Posted at 05:30 pm by i_artharini
Make a comment  

Sunday, July 15, 2007
Pasca Bali

Dammit, dammit, dammit. Sebuah nomor telepon tidak dikenal beberapa jam sebelum sebuah acara nonton bareng is never good news.

Okeee, aku nggak sesering itu sih mengalami kejadian seperti itu. Baru sekali sore ini, tapi cukup untuk membuatku menjadikan ini sebagai kredo untuk pertemuan-pertemuan kasual ke depan. See, now, I learn fast. Heheh.

Penundaan itu actually not a big deal for me. Yang aku sayang-sayangin sih cuma, besok Senin, aku belum bisa menjual ide ke One-Eyed Jack (hehe) menulis tentang 'The Photograph' (sok-sok-an) membalas esai di Kompas tentang film satu ini. Premisnya pun sudah ada. (See, ini salah satu pengaruh 'Continuum' yang masih mengendap. In order to achieve greatness, sok-sok-an berani membalas esai di Kompas. Padahal, siapalah aku ini?).

Ortu yang sebelumnya sudah meng-absen aku dan Rani mau pergi ke mana sore menjelang malam ini pun jadi ikut curiga. "Lho kok nggak jadi pergi?" Dan sisanya semalaman ini, kok mereka berdua jadi extra super nice ya? Ayah yang menanyakan, 'jadi kita ke mana malam ini?' Terus mengelus-elus rambutku pas kebetulan lewat di depan komputer. Making small nice talk tentang aku makan salak, "Katanya nggak suka?" (Beneran lho, this is my dad). Belum lagi minta sama adikku untuk mengajak aku ke acara kondangannya. I'm okaaaaayyy. But, huks, I love you, dad.

Terus, belum lagi ibuku. Sebelumnya yang sempat sedikit marah-marah, 'Lain kali suruh jemput ke rumah dong. Jadi kamu jangan digampangkan'. (Duh, aku bisa menawarkan banyak pembenaran deh kayaknya buat alasan yang satu itu. This is hardly a date, hanya sekedar pertemuan kedua, dan toch, he takes me home the first time, kan? Btw, apakah pembenaran ini tanda-tanda aku harus beli buku "Why Men Marry Bitches" yang pernah dibahas sedikit oleh Ccr dan tadi siang lihat di Periplus Ngurah Rai?). Oke, telepon itu, yang hp-nya sempat diambilin oleh ibuku--'Kayaknya dari kantor deh'--datang pas aku keluar dari kamar mandi lagi mau mulai dandan. Masih berbalut handuk, akhirnya bergerak ke ruang tamu biar ada sinyal.  

Dari situ, langsung pake piyama dan siap-siap tidur sore. Ibuku, yang masuk ke kamar tempat aku tidur--my sister's--bilang, "mbak, kamu kalau mau (...).(menggunakan istilah bahasa Jawa yang belum pernah aku dengar sebelumnya) jangan di sini dong. Ajeng kan mau dateng."

"Apa sih itu artinya?"

"Ya, kalau bayi mau tumbuh gigi atau mau bisa jalan. Jadi gelisah, ngambekan, itu lho namanya (...)". Kayaknya sih aku nggak segitunya ya.

Tapi pas aku ngetik-ngetik di komputer dan beliau mengontang-anting handuk, terus bilang, "Mandi, mbak."

"Lho, kan udah."

"Kapan?"

"Tadi sore."

"Lho..kapan? Eh, oh, iya ya. Yang itu...," sambil suaranya agak menghilang dan dari nadanya terasa seperti sore yang naas banget. Terus mengelus-elus lenganku dengan lembut.  

Oke, I am not that bad. Tapi harus diakui sih, it's one of the things that I look forward to in doing pas pulang dari Bali.

Hmm, aku pengen nge-posting sebenarnya tentang the first time around, karena face it, walaupun dibaca orang lain, tapi this is the only diary I have. Sudah kelewatan agak lama sih ceritanya. Tapi, karena ada perkembangan terbaru, ya sudah, aku ceritain di sini deh.

***

Sepertinya, aku menghabiskan terlalu banyak waktu memikirkan dan mempertanyakan instead of actually doing it. Agak menakutkan sih sebenarnya buat sebuah pengalaman yang sebenarnya yah, bisa dibilang cukup sepele. Awaaaal banget. Nggak ada rumit-rumitnya deh. Tapi faktor itu tidak membuatku tidak merasa ada ikatan imajiner di perut yang rasanya kencang sekali.

Sebuah kesimpulan: I need to date more. Whatever the term 'date' actually implies. Nonton barenglah, ngopi barenglah, jalan bareng, hang out bareng, makan bareng, whatever it is aktivitas yang mencakup beberapa jam bersama seorang lawan jenis (buatku, my interest is still boys) mencoba menikmati waktu yang dihabiskan bersama. Diharapkan ada ngobrol-ngobrol yang involved di sana, mencoba get to know other people. Nggak menutup kemungkinan untuk berpikir penuh harap (kayak lagunya Project Pop itu 'Teman Tapi Ngarep', haha), berimajinasi walaupun nggak tinggi-tinggi, karena keingat liriknya 'I Don't Trust Myself in Loving You'; "Who do you love? Me or the thought of me?" Touche, John. Touche.

Ada beberapa alasan sebenarnya kenapa aku sampai pada kesimpulan itu. Pertama, karena aku sudah berkarat. I worry too much about things that I should not be worrying dan seharusnya kerut di atas hidung, di antara dua alis itu nggak ada. Atau ikatan ketat di perut. Atau sms-sms panik ke Ccr buat nemenin nonton, hahahah.  

Alasan lainnya, karena pada akhir 'episode', aku nggak tahu, apakah ini bisa dikategorikan sebagai good, bad atau so and so 'date'. Masalahnya, minim perbandingan.

Jadi, plan of action di tingkat terapan, bukan sekedar wacana, adalah: "Screw 50 Books a Year. I want to have a life. I want to have 50 dates a year!"

Tapi, sesaat kemudian teringat, ini kan udah Juli. 50 dates a year berarti harus non stop tiap akhir pekan dari awal tahun sampai akhir tahun, cuman libur dua minggu. Buru-buru mengoreksi diri. Okelah, 20 dates a year kayaknya oke juga. Dan nggak harus sama orang yang sama. Intinya kan sebenarnya kayak ngelakuin banyak wawancara kerja atau sesuatu yang sifatnya seperti audisi, ngerasain yang mana yang 'good audition' atau yang 'bad audition' atau yang letaknya di tengah-tengah.

Alasan lainnya, dan mungkin ini yang paling berpengaruh buatku to want to do more dates with a lot of different people, adalah ini sebuah aktivitas yang sangat adiktif. Adiktif buatku memilih-milih bajunya, dandannya, punya ekspektasi yang terus menumpuk sampai akhirnya ketemu obyeknya, entah ekspektasi itu terpenuhi atau tidak, mengamati kebiasaan-kebiasaan orang lain, sampai getting the conversation going. Dan pada akhirnya, punya cerita untuk dibagi.

Jadi, please, kalau pembaca blog ini punya kandidat yang memungkinkan dan mau diajak nge-date, atau 'date', if you prefer, terserahlah istilahnya apa, please drop me a line. Nggak ada salahnya kan mencoba, nggak rugi apa-apa juga. Ya duit sih paling, tapi buat orang-orang seusia kita, duit kan bisa dicari.

Promise, I'm not a dissapointing company, kok. I'm always passionate to get to know other people, I'm always interested in what other people are doing in their life, I'm quite smart, pop culture savvy, I'll dress my casual best, and I have a great smile, hahaha. (Terlalu menawarkan diri nggak? Ah, ini kan bukan waktunya untuk jadi paranoid lagiii).


Posted at 11:26 pm by i_artharini
Make a comment  

Mix Tape di Gym

Tahu kan kalau gym-gym itu selalu punya musik yang berdentam-dentam, nggak kalah sama di club-club. Fungsinya sih, menurutku sama aja, to get people go down and work/dance their assess off.

Nah, karena ini mix-tape atau mix-mp3-nya didengarkan komunal, jadi kan nggak bisa repeat atau mencari track yang kita pengenin. Jadi, ada beberapa kesempatan yang mungkin nggak ada artinya apa-apa, tapi buatku bisa jadi bahan bakar imajinasi sendiri. Kayak misalnya...'Sexy Back' yang muncul pas baru aku mulai jalan di treadmill, jadi masih pemanasan gitu, belum panas-panas banget buat langsung lari atau berjalan cepat sesuai ritmenya lagu itu. Atau, 'Promiscuous'-nya Nelly Furtado yang muncul pas udah selesai sesi pembakaran dan lagi main-main alat pembentukan. Dan, ini yang paling annoying, 'Like a Virgin' udah tiga kali main di saat-saat yang tidak tepat, maksudnya seharusnya main pas sesi lagi workout. Walaupun, pas pertama kali main bukan sesuatu yang tidak menyenangkan juga sih occassionnya.

Ah-hem, ceritanya lagi di shower, terus ada deh, "I made it through the wilderneeessss...somehow I made it throuuuugghhh..." dan langsung loncat-loncat sambil nyanyi-nyanyi. Yah, tiba-tiba kok ya langsung jadi nge(lamun)-jo(rok). Shower komunal, terus membayangkan tiba-tiba ada cowok dengan abdomen dan lengan yang sempurna kayak dipahat tiba-tiba mengetuk pintu kaca dan bertanya padaku: "Can I shampoo your hair?"

To which, I cheekily replied, "Which hair?" Mwahahaha. Gara-gara "Like a Virgin" terus merasa jadi bintang of my own wet dream deh.

Oh ya, for the record, aku nggak pernah sekolah yang ada shower komunalnya. Jaid imajinasi-imajinasi puber kaya gitu pasti muncul akibat pengaruh dari film-film teen Hollywood.  

Dan, terakhir, baru-baru ini, 'Umbrella'-nya Rihanna itu muncul pasti pas aku udah selesai dandan dan mau berangkat. Ugh.


Posted at 11:14 pm by i_artharini
Make a comment  

Surat Cinta untuk John Mayer dan Kehidupan yang Diusungnya

Akhir pekan ini, duduk di kursi paling belakang mobil-mobil berjenis multi-purpose vehicle, melewati segerombolan orang asing, melewati lahan-lahan sawah, jalan-jalan kecil yang penuh dengan bis-bis turis, pura-pura dan anjing-anjing di pinggir jalan, selalu ada 'Continuum' yang mengiringi di telinga.

Album solo ketiga John Mayer itu jadi sesuatu yang tak bisa aku lepaskan dan tak rela aku lepaskan untuk terus-terusan didengar akhir minggu ini. Pasti nantinya ada 'titik saturasi' (dari kolom di the Jakarta Post, edisi 15/7) atau titik jenuh dari album ini. Tapi, entah setelah berapa bulan karena MP3 player yang rusak, terlalu lama aku tidak mendengar lagu-lagu John Mayer.

Mungkin karena suasana liburannya yang membuatku merasa santai, mengosongkan pikiran lalu menyerap sebanyak-banyaknya. Dan 'Continuum' jadi makanan padat pertama yang pas untuk mengisi lagi hati dengan semangat, inspirasi, renungan, optimisme dan patah hati di saat bersamaan. Ada harapan-harapan besar untuk masa depan dan cerita-cerita dari masa lalu yang berkelibatan di kepalaku ketika mendengar 'Continuum'.

'Vultures' menjadi sebuah pengingat buatku untuk tak jatuh dalam obskuritas. New kids will always come and go, a lot of them will be great writers and/or journalist, tapi pembuktian diri, itu harusnya tak pernah dilupakan. Pertanyaan-pertanyaan seperti ini, "How do I stop myself from being just a number/ How will I hold my head to keep from going under", harusnya tak pernah lekang dari kepala. Ya, sama sepertimu, Johnny, aku juga akan berjalan melewati api kok kalau ini yang dibutuhkan untuk membawaku lebih tinggi. Semuanya hanya sekedar fase yang harus diperjuangkan, terima kasih untuk mengingatkan.

Lalu, 'The Heart of Life'. Aku tak ingat kapan terakhir kalinya menjadi seorang optimis. Tapi mendengarmu menyanyikan lagu itu, mengatakan, "I know the heart of life is good", kemungkinanku kembali menjadi seorang optimis, bahkan setelah membaca 'Candide', sepertinya sedang menunggu di tikungan depan. Jauh di dalam hati, walaupun benar-benar malu mengakuinya. sebenarnya aku masih meyakini hal itu.

'Waiting on the World to Change' adalah upayamu untuk menulis tentang dunia yang kita tinggali. Terkesan bercerita tentang sebuah kepasifan. Tapi sebenarnya ini adalah tentang ketidakberdayaan; menghadapi informasi yang ditekuk-tekuk sedemikian rupa, menghadapi kesalahan-kesalahan para pemimpin kita, menghadapi sistem yang tak terkalahkan--tak peduli apakah kamu berada di dalam atau di luar. Berada di dalam pun tak membuatmu bisa melakukan apa-apa. Kalau tidak percaya, nanti aku kenalkan pada salah satu narasumberku. "One day our generation/ is gonna rule the population/ so we keep on waiting/ waiting on the world to change".

'I Don't Trust Myself with Loving You' membuatku berpikir tentang masa depan. Tentang tidak malu atau merasa bersalah ketika mengejar seseorang yang punya potensi, hehe. Selesai membaca 'Istri Sang Penjelajah Waktu' dan kemudian mendengar bagian ini di lirik lagumu, Johnny, "No I'm not the man I used to be lately/ See, you met me at an interesting time/ And If my past is any sign of your future/ You should be warned before I let you inside", aku sampai pada kesimpulan ini: semua masa hidup seseorang adalah 'an interesting time'. Oke, mungkin more so pada usia 27-28an.

Aku membayangkan lagu ini sebagai seorang obyek yang muncul dari masa depan dan mengingatkan, 'hang in there, be tough, di masa depan, aku bakalan jadi orang yang lebih ramah kok'. Agak mirip seperti Henry yang muncul dari masa depan di konser Violent Femmes, mengingatkan Clare bahwa ia tengah menghadapi dirinya yang berada di persimpangan. Aku tidak mengharapkan masa depanku seperti Henry dan Claire dengan obyek yang sudah 'fixed' di kepala, tapi lagu ini mengingatkanku untuk tidak takut ketika menjadi persistent.

'Belief' adalah usaha lainmu untuk menulis tentang hal-hal besar yang tampak abstrak. Kamu menulis dengan sangat hati-hati, Johnny, dan sangat cantik. "Belief is a beautiful armor/ but makes for the heaviest sword/ like punching underwater/
you never can hit who you're trying for." Ini salah satu hal yang membuatku merasa kagum pada kemampuanmu untuk menyeimbangkan tema-tema yang bersifat pribadi tapi juga tentang dunia tempat kita tinggal.

'Stop This Train' sepertinya sebuah keinginan untuk kembali pulang, bukan sekedar pada bangunan rumah, tapi bagian dari kenangan-kenangan masa kecil yang membentuk sebuah imaji akan 'rumah'. Kembali pada kenangan akan dunia yang lebih tidak rumit. Dunia orang muda, aku rasa. Benarkah, John? Buatku, persaingan dan tanggung jawab dunia orang dewasalah yang membuatku ingin berhenti sebentar dari kereta yang terus melaju. Dan, oh, ide yang bagus memasukkan 'percakapan' dengan ayahmu.

Lagu itu, 'Vultures' dan 'In Repair', yang kau bilang tentang 'the entire spread of existence' dan akan terus kau datangi untuk mendengar sebuah nasihat untuk waktu yang cukup lama, adalah yang membuatmu khas sebagai seorang singer/songwriter. Bahwa kau adalah seorang seniman yang terus-menerus mencari jawaban akan tempatmu di dunia ini, terus mencari siapa dirimu dan di mana kau sekarang berada.

Too many shadows in my room/ Too many hours in this midnight/ Too many corners in my mind/ So much to do to set my heart right

Oh, itís taken so long/ I could be wrong, I could be ready/ Oh, but if I take my heartís advice/ I should assume itís still unsteady/ I am in repair/ I am in repair

Oh yeah, Iím never really ready, yeah/ Iím in repair/ Iím not together but Iím getting there 

Kalau kami yang berada di usia 20an membutuhkan seorang juru bicara yang berusaha menjelaskan tentang artinya berada di usia itu, kau adalah salah satu juru bicara terbaik yang kami miliki, Johnny. Dammit, you're Holden for the 20something!

'I'm Gonna Find Another You', 'Dreaming with a Broken Heart' dan 'Slow Dancing in a Burning Room' adalah lagu-lagu khasmu dari tema yang lain. Tentang hubungan-hubungan antar manusia, mengusahakan kebahagiaan dan kepahitan-kepahitan yang (harus) terselip di antaranya. Aku tidak tahu bagaimana kau bisa mencatat dengan begitu rajinnya tentang semua pengalaman, bukan sekedar yang umum, tapi sampai detil-detil terkecil. Mungkin inilah yang membuatmu menjadi seorang penulis lirik yang hebat.

Dan ketika kau mencoba menggapai Hendrix lewat 'Bold as Love', for me, that's when you really hit home, Johnny boy. Mengharukan, breaks my heart tapi inspiratif di saat bersamaan. Mengharukan melihat keberanianmu mencoba naik ke awan tempat Hendrix berada. Breaks my heart karena, buat semua orang yang mencoba sampai di tempat yang sama dengan idolanya, ada kesempatan yang amat besar bahwa kita akan gagal. Tapi inspiratif, karena kau tiba di satu titik yang tak akan dicapai Hendrix sekalipun, atau orang-orang lain, titik pencapaianmu tersendiri. Frankly my dear, itulah titik yang ingin kita semua capai. By God, you're there already.   

Sekarang, aku kembali jatuh cinta pada kehidupan yang kau usung. Kita semua memang memiliki 'kehidupan' yang sama, tapi kau menceritakan ulang hal-hal yang membuat hidup ini menarik. Tentang orangtua, tentang mencapai mimpi dan menjadi besar, achieving greatness, tentang masa lalu, masa depan, dan kisah-kisah cinta yang akan mewarnai sela-sela di antara hidup.

Pada akhirnya, aku hanya bisa menghela nafas. 

Ah, hidup.   


Posted at 09:06 pm by i_artharini
Make a comment  

Catatan Akhir Pekan

Jangan-jangan, kekesalan-kekesalan dan kebuntuan-kebuntuan yang menumpuk kemarin hanya karena butuh liburan.

Perginya sih sebenarnya cuma ke sebuah tempat 'standar', Bali. Pun tidak pergi ke tempat-tempat yang belum pernah dikunjungi. Arahnya lebih wisata belanja daripada wisata alam. Tapi nggak ada rasa menyesal ketika harus pulang.

Malah rasanya nggak sabar mau pulang.

Ada gym yang menunggu dikunjungi, tempatku bisa berkeringat, merasakan jantung berdetak semakin cepat tapi kemudian merasa lega setelah bisa mengatur nafas. Bisa ikut Body Balance dan melipat-lipat tubuh sampai ke posisi-posisi yang sebelum-sebelumnya terasa tidak mungkin dilakukan. Dan merasa badannya jadi kencang di semua bagian.

Lalu ada pekerjaan.

Masih pekerjaan yang sama sebenarnya, tapi sebentar lagi akan pindah kompartemen. Rasanya seperti kembali ke titik nol. Kembali ke awal, saat aku pertama kali belajar menulis dan menjadi wartawan. Kembali di Minggu. Dan bakal bekerja sama dengan orang yang dulunya pernah timbul tenggelam di masa laluku. Nggak ada rasa takut atau canggung yang sekarang muncul. Tapi kok kesannya seperti sebuah pertanda aku sedang pulang ke titik awal. 

Mungkin itu cara Tuhan, atau Supreme Being, apa pun namanya, menjawab kebutuhanku. Kesannya ada tombol re-start dalam seluruh pengalamanku menjadi wartawan di kantor yang sekarang dan aku diberi kesempatan untuk memulai semuanya dari awal. 

Ya, hampir semuanya sih. Ada satu bagian dari pekerjaan ini yang tidak mau aku ulang. Jangan sampai kata-katanya Ccr jadi beneran, "Yah, Nar. Nyari kemana-mana, nanti taunya kembali ke situ-situ juga." 

Saking kosongnya tempat penyerapan hal-hal yang berhubungan dengan pekerjaan, pas di Mandiri Executive Lounge membaca cerita perjalanan ke Paris pun (yang aku iri-iri'in banget itu) nggak ada apa-apa yang muncul selain sebuah penilaian atas tulisan. Yah, selalu ada kemungkinan penilaianku agak tertutupi dengan rasa iri, tapi...hatiku terus-terusan terasa ringan.

Begitu pun pas pesawat mau mendarat. Melihat dari atas kawasan perumahan dan sawah-sawah dan pabrik-pabrik di kawasan Cengkareng, tidak terasa ada hitam yang menutupi hati. Malahan, ia berkata: Monday, bring it on! 

Aku nggak peduli dengan janji-janji seorang redaktur mau diperjuangkan buat jalan ke mana pun. Apa sih itu selain sebuah janji? Paling-paling itu hanya sekedar menimbulkan harapan sekalian 'meminta maaf' karena sudah menelepon buat tugas hari Senin paaaasss hari pertama cuti. Biar sekedar minta dimaklumi atas 'ketidaksopanan'. (Bukan kamu kok, Sic. Sehari sebelumnya udah diobralin janji yang...agak out of this world, menurutku) 

Ya, sekarang aku sudah skeptis dengan urusan-urusan seperti itu untuk kantor. Tapi, Monday, buatku tetap bring it on. Yang penting sekarang adalah have fun at work. Nggak usah mikir yang memang bukan jatahnya.

Duh, nggak sabar rasanya untuk memulai lagi dari awal. Saat menulis masih belum ada beban dan masa itu rasanya seperti bermain-main tapi juga terus belajar. Oh iya, aku sepertinya akan belajar semuanya lagi dari awal. Tak masalah. Setidaknya aku akan menyerap sesuatu dibandingkan merasa bosan dan tidak berkembang.

Terima kasih, Bali.  


Posted at 08:33 pm by i_artharini
Make a comment  

Next Page