"...the quest for transcendence has always been closely linked to the ecstatic release of dancing." (Resensi RollingStone atas sebuah album pop) Mr. Darcy: "So what do you recommend, to encourage affection?"Elizabeth Bennet: "Dancing, even if one's partner is only tolerable." (Pride & Prejudice, 2005)perempuan, 1983, lovesick soul, berjalan kaki, belajar menulis, menonton film, ingin keliling dunia, Billie Holliday, Jane Austen, 'Franny and Zooey', cerita pendek F Scott Fitzgerald, lagu-lagu sedih, kecanduan membeli buku second, deretan buku di lemari, berkeliling dengan bis kota, mengepak koper, menari bebas, Vogue, sepatu, bad boys, kopi, kuliner, foto, semua yang vintage, genggaman tangan, pelukan hangat, detil percakapan antara manusia, kegelisahan, kesepian, ruang pencarian, belajar dewasa, museum dan bangunan tua, hari hujan, sinar matahari hangat di hari berangin, airport, stasiun kereta, dan pertanyaan tanpa akhir YM: isyana_artharini Email: i.artharini@gmail.com
|
|
Tuesday, July 31, 2007
Sumpah deh. Kayaknya hari ini sebenarnya punya makna tersendiri yang belum bisa aku baca. Tanda-tandanya ada di mana-mana.
Mulai dari pengamen yang menyanyi dengan suara serak tapi dipekikkan
(serik?), "Gara-gara korupseeeee. Indonesia bangkruuuut." Setelah
sebelumnya agak nge-rap dikit, "Kami tidak sebusuk yang anda
bayangkan." Tapi kata 'busuk'-nya diucapkan dengan begitu vindictive
sampai aku udah males sendiri ngedengerin gerutuannya dia.
Tapi pas dia ngomong, "Yang ada cuma lumpur Lapindo, keringat orang
miskin diperas habis," kayaknya ada sesuatu di otak yang ketendang. Pas
itu, aku lagi ngeliat ke bis Kampung Rambutan-Tanah Abang di sebelah,
bis Jepang itu, yang penuh. Melihat orang bergelantungan, jadi merasa
melihat sebuah pemandangan yang khas Jakarta.
Katanya Jakarta merubah orang. Kalau iya, bagaimana aku telah berubah?
Hati yang makin keras, iya. Walaupun tak berarti lebih tangguh.
Jangan-jangan malah lebih cengeng. Ebenezer Scrooge. Mungkin aku sudah
berubah jadi dia. Aku kayaknya nggak punya lagi kesabaran menghadapi
orang-orang yang aku temui di jalan. Prasangka baik sudah hilang semua.
Setelah penyanyi serik itu, ada seorang kakek-kakek yang sebenarnya
cuma mau minta uang. Tapi dibanding pemuda-pemuda lain yang ngomongnya
singkat, padat, ringkas, kakek ini adalah paduan dari lelaki tua yang
cenderung cerita berlama-lama dan yang diceritakan adalah riwayat
kesehatan. Hasilnya, super lama. Sampai kata penutupnya aja lamaaaaa
banget. Maksudnya, yang mau ngasih duit aja sampai nggak sabar nunggu
kapan dia nyodorin amplop.
Abis itu, ganti lagi bapak-bapak yang ngamen, nyanyinya nggak pake
nada, teriak-teriak nggak keruan. Yang paling buat mantap, sampai enam
lagu lagi. Terakhir ini beneran buat kepala nyut-nyutan.
Pengamennya kok pada jenis-jenis baru semua ya? Jarang pada liat atau
ketemu di bis-bis lain gitu. Dan akhirnya tersadar, oh iya, ini naik
bis yang rutenya jarang aku naikin.
Sampai di tempat liputan, melihat majalah 'Jalan-Jalan' edisi terbaru
yang judulnya 'An Insider's Guide to Amsterdam' yang ditulis oleh
Prasma. Yes, our Prasma, girls. I always have a sense that she's a good
writer but I never read her writings until now.
Selesai liputan satu, ke Kino PS mau nyari majalah itu karena tadinya belum membaca lengkap sambil nunggu liputan kedua di PS.
Membaca tentang Amsterdam dan tentang kata-katanya Prasma bahwa ia
sudah tinggal di sana selama tujuh tahun dan siap mengajukan pembelaan
bagi para Amsterdam resent-er, aku jadi termangu. Gila, tujuh tahun ya?
Itu hampir sepertiga hidupnya.
Aku sempat dapat empat tahun sih. Fase hidup yang bakal aku bilang ke
my future children saat aku berada dalam mood Mrs Dalloway, itulah masa
when I am at my most happiness and I have your grandparents to thank
for that.
Tapi membaca lagi tentang Amsterdam, duh, jadi mbrebes mili. Pengen pulang ke sana lagi. Homesick.
Iseng-iseng ngecek jam dan nggak sengaja tersadar sama tanggal.
Sekarang tanggal 31. Hari terakhir di bulan Juli. Bulan kepulanganku ke
Jakarta tiga tahun lalu. Tiga tahun di Jakarta, apa artinya ya?
Aku sedang mencoba mencari jawabannya.
Kalau mau di-pas-pas-in, kok ya rasanya sekarang lagi kembali ke titik
awal ya? Atau mungkin tepatnya sebuah lingkaran telah tergambar
sempurna karena awal dan ujungnya sudah ketemu lagi. Di kerjaan pun,
aku sepertinya kembali lagi ke titik awal dan belajar nulis lagi.
Ini semua ada artinya atau cuma kebetulan-kebetulan? Tapi apakah aku percaya pada kebetulan?
Posted at 02:06 pm by i_artharini
Permalink
Wednesday, July 25, 2007
Yang susah bukan cuma mimpi dengan patah hati. Bangun dan langsung
merasa patah hati juga nggak menyenangkan. Kali ini--karena sudah
beberapa kali mengalaminya--gara-gara mimpi seorang crush yang mau
menikah.
Oke, patah hatinya sebenarnya nggak segitunya. Toh, aku tahu cowok ini
sudah punya long-term girlfriend dan hari menikahnya mereka tinggal
menunggu waktu. Tapi yang heartbreaking itu sebenarnya isi mimpinya.
Detilnya sih agak terlupakan, tapi yang paling jelas, ini, dia beli jam
tangan banyaaaaak banget. Lebih dari lima dengan berbagai tipe terbaru.
Ada beberapa yang modelnya charm bracelet, itu yang aku ingat. Semuanya
ditaruh di amplop cokelat ukuran sedang, ditujukan buatku. Tapi jangan
keburu sorak-sorak dulu.
Selain jam, di dalamnya ada surat pendek yang tulisannya, "Nari, aku
titip ini di kamu ya. Tolong simpenin." Sambil melihat jam-jam itu, aku
bertanya, "Emang si xxx (pacarnya) suka jam tangan?"
Tapi aku dapat jawabannya, entah dari mana, yang ngasih tahu bahwa
jam-jam ini sebagai gantinya cincin tunangan atau mas kawin. Yang aku
nggak habis pikir, kok bisa ya 'cincin-cincin' itu dipercayakan ke aku.
Apa maksudnya pesan dari Sang Entitas Agung (lagi mogok menyebut nama
Tuhan) yang mengingatkan, "Nari, saya percaya kamu cukup dewasa untuk
membiarkan mereka berdua saja. Jadi, please, alihkan rencanamu ke
subyek-subyek lain ya." Sekedar tebakan asal-asalan kalau aku boleh
ge-er sih.
Tapi kenapa tiba-tiba pesan ini yang muncul ya? Toh aku nggak
se-intensif itu 'mengganggu-ganggu'. Aku sudah cukup menerima apa yang
pasti akan terjadi di masa depan, walaupun yaa...masih ada
imajinasi-imajinasi 'what would happen if...' sih. Tapi kemarin-kemarin
kepikiran juga sepertinya enggak. Apa karena lagi tidur di atas kapal
ya? (Saat itu lagi di Sorong, btw).
Paginya sempat mengirimkan pesan pendek yang menanyakan kabar berita
dari mimpi itu (Was I stupid or was I stupid?). Nggak langsung dibalas
deh. Pas ha-pe sudah nggak dapat sinyal lagi, eh tiba-tiba tersadar.
Jangan-jangan si crush itu ngiranya aku yang harusnya 'dinikahin' dan
dia jadi ilfil gara-gara aku ke-geeran sampe segitunya.
Maksudnya gini, mencoba berjalan di sepatunya si crush, kenapa juga dia
harus memikirkan pendapatku tentang pernikahannya dia kan? Memang nggak
ada alasan. Oke, we're old friends. Setidaknya dalam kapasitas itu aku
juga nanti bakal dapat pemberitahuan resmi kan?Jadi kenapa harus repot-repot mikirin sebelumnya?
Akhirnya, karena berkesimpulan bahwa apa yang sudah aku lakukan
sebelumnya tidak pantas, pas sampai di Makassar langsung ngirim sms
lagi. Isinya sih permintaan maaf plus plus. Balasannya, duh, kembali
menegaskan posisinya dia sebagai 'my crush'. Menenangkan dan
menyenangkan sekaligus. Pakai dipanggil 'nduk' lagi. Jadi meleleh deh
hatinya...*blushing*
(Suara hati: Nari, noooooo. He's getting married.)
Posted at 01:11 pm by i_artharini
Permalink
Wednesday, July 18, 2007
Katanya, orang yang paling tersiksa adalah orang yang nggak tau apa maunya. Sepertinya aku sekarang jadi salah satu orang itu.
Aku belum pernah jadi penggemar sepakbola. Dan tidak pernah juga jadi penggemar sepakbola. Seharusnya dengan kesimpulan itu di kepala, nggak susah untuk menjawab tawaran tiket nonton Indonesia lawan Korea Selatan, nanti malam. Apalagi kalau harganya mencapai Rp 75 ribu.
Tapi, aduuuh, kok susah banget menentukan maunya hati ya. Pas udah menolak tawaran tiket, Selasa paginya membaca berita di Kompas yang mewawancara mantan pelatih tim Indonesia. Si mantan pelatih bilang Korea S Selatan sekarang beda sama Korsel yang dilatih Guus Hiddink dan bermain hebat di Piala Dunia...kapan ya itu? 2002? (Seburuk itulah memori sepakbolaku).
Si mantan pelatih ini juga mengajukan beberapa argumen yang membuatnya menyimpulkan, "Indonesia punya kemungkinan bertahan atau malah punya peluang menang." Argumen-argumen yang disusunnya cukup logis sampai, wah, kok ya jadi tergerak untuk nonton.
Selasa siang kemarin, pas sampai kantor juga ditanyain lagi, "Yakin nggak mau nonton? Banyak lho yang mau nonton." Sudah mulai agak goyah sih. Tapi pas sorenya tanya ama Bintang Pelem dan telepon ke Irvan yang lagi nungguin tiket, katanya udah dipesenin sama sekretarisnya siapa gitu dengan jumlah yang sebelumnya, dan udah nggak kekejar lagi kalau mau nyerahin duit, soalnya pasti udah dipesenin dan kantor si sekretaris ini skrg tutup. Singkatnya, aku nggak bakal nonton bareng rombongan media yang katanya sampai 16 orang itu.
Tiba-tiba, kok jadi teringat adegannya "The Perfect Catch" ya? Yang pas karakter Jimmy Fallon memilih datang ke pesta ultah temennya Drew Barrymore dengan tema The Great Gatsby, dan mereka have a great time, yakin bahwa masing-masing adalah "the one" bagi pasangannya, pokoknya semuanya sempurna sampai...Red Sox yang jadi tim favoritnya Fallon menang melawan musuh bebuyutannya. Selama berapa puluh tahun gitu Red Sox nggak pernah menang ngelawan tim lawan. Yankee apa ya?
Pokoknya, itu adalah malam yang bersejarah buat penggemar Red Sox dan Fallon ketinggalan. Di cerita itu sih, karakter Fallon dan Barrymore akhirnya bertengkar karena Barrymore sakit hati Fallon setengah menyalahkannya untuk tidak hadir di pertandingan bersejarah itu. "Itu kan keputusanmu sendiri pergi sama aku," kata Barrymore yang sakit hati.
(Btw, aku nggak tau adegan ini ada atau enggak di "Fever Pitch" buku yang jadi dasar film ini. Hornby kayaknya baru membayangkan worst case scenarionya deh. Setidaknya aku baru membaca sampai bagian itu)
Oke, aku jadi berpikir, bagaimana jika inilah malam bersejarah itu? Seharusnya apa pun yang terjadi tidak akan menggangguku, karena, toh aku bukan penggemar sepakbola gitu. Tapi kenapa ya, kejadian ini, Indonesia di Piala Asia maksudnya, jadi terasa seperti sesuatu yang mampu menembus batas. Batas apa pun itu. Ini sudah menjadi sesuatu yang besar. Buueessaarr. Dan aku akan melewatkan berada di lokasi sejarah dibuat, di kandang kita. Hehe.
Ya mungkin masih bisa sih ngantre tiket di Senayan. Tapi tadi pagi aku juga lebih milih nge-gym walaupun dengan instruktur yang menyebalkan, terus..ada liputan sih, sekarang nge-blog dan siang ada liputan lagi. Intinya, aku juga tidak tergerak untuk berupaya lebih keras untuk bisa ada di sana. Bingung kan?
Kalau mungkin sekedar permainannya, bisa diikuti lewat televisi. Sesuatu yang mau aku lakukan dengan langsung pulang habis liputan. (Ini salah satu sebab aku cinta banget sama communicatorku) Tapi mungkin aku juga ingin merasakan suasananya ya.
Tapi lagi, di saat aku sudah bisa meredam keinginan untuk ada di sana, teman sekelas Basic Step yang kerasa kayak kelas Real Stepper itu ngomong ama si instruktur nyebelin, "Iya, Korsel kan kalah ama Bahrain. Kita kemarin menang lawan Bahrain. Jadi pasti seru nih."
Arrgh.
Bener, memang. Tersiksa.
Posted at 01:46 pm by i_artharini
Permalink
Tuesday, July 17, 2007
Gara-gara liputan peringatan Hari Anak Nasional di daerah Sunan Giri
tadi pagi, aku jadi keingat satu kutipan yang disampaikan oleh seorang
ibu pejabat. Yah, dia memang bukan orang yang suka memberi
'kutipan-kutipan seksi'. Biasanya sih normatif-normatif aja sampai
berbatasan dengan sillyness, mungkin.
(Contoh, masa pertanyaan pertamanya, "Anak-anak sedang apa di sini?"
Aku dan wartawati sebuah stasiun televisi yang produk beritanya diakui
unggul itu sampai ketawa-ketawa geli. Si wartawati itu malah
menambahkan, "Benar-benar harta karun liputan ke sini." Ya, for me,
harta karun buat nge-blog).
Anyway, saat 'bertugas' sebagai pemberi solusi masalah keseharian
ibu-ibu, si ibu pejabat ini ditanyai seorang ibu orangtua murid yang
mengaku takut kalau harus ketemu sama gurunya anaknya. Bukan karena ada
masalah, tapi ya sekedar ngobrol-ngobrol aja deh.
Tidak diduga, si ibu pejabat ini memberi sebuah petuah yang belakangan
ini baru-baru aja aku 'figure out'. "Kalau buat anak, rasa takut itu
harus kita pendam dalam-dalam," katanya. Pas pulang ke kantor naik P11,
eh, denger juga "Stop This Train", yang menurutku agak-agak berhubungan
temanya.
Jadi gini, beberapa minggu yang lalu aku mulai terus-terusan memikirkan
tentang betapa beraninya orangtua-orangtua di sekitarku. My parents,
terutama. Maksudnya dunia itu, menurutku, adalah tempat yang 'ominous'
juga melelahkan. Sebagai orang muda, mungkin kita bisa meng-indulge
dalam pemikiran untuk, "udah ah, aku mau turun dari kereta ini. Aku
nggak tahan sama kecepatannya." Sesuatu yang diinginkan John Mayer
lewat "Stop This Train". Maaf kalau lagi-lagi tentang dia, aku masih
belum bisa melepaskan album ini dari keseharianku.
Tapi, once you have a child, kayaknya keinginan-keinginan untuk
berhenti itu jadi dipaksa untuk hilang. Soalnya kalau enggak, ya kemana
lagi si anak mau bergantung kan?
Maksudnya, menghadapi keseharian aja aku masih sering harus dibantu
dengan penyemangatan dari ibu atau bapakku. Kalau misalnya mereka nggak
cukup berani untuk menghadapi keseharian hidup dan tragedi-tragedi
kecilnya, I don't know where would I be.
Aku mengakui bahwa ini hanya sekedar observasi dari orang yang belum
punya pengalaman sama sekali, hanya sekedar merasionalisasi apa yang
aku lihat sehari-hari. Tapi kesimpulannya, being a parent is about
being brave.
Btw, sepertinya aku jadi tambah cinta sama keluargaku deh habis liburan
ini. Atau memang karena hati yang jadi tambah ringan dan ceria, jadinya
bisa lebih melihat segala sesuatunya dari sudut yang positif pula?
Nggak tau ya, tapi I seem to love my dad more, my mom yaahh...bisa
sampai pada tahap yang bisa ditoleransi sih walaupun kadang masih
ngerasa kesel, tapi definitely my dad more.
Moral cerita ini?
Jadi, kalau pas ngerasa juteeeek banget, nggak ada tujuan hidup, atau
tujuan kerjaan, cranky ama semua orang, tanya sama diri sendiri, kapan
terakhir kali pergi liburan. Pelajaran selesai.
Posted at 06:17 pm by i_artharini
Permalink
I'm so close in having a first Kennedy encounter, Senin kemarin. Ya,
secara teknis sih bukan benar-benar seorang Kennedy, seorang Shriver
tepatnya. Dan bukan Maria, istri Arnold. Adik laki-lakinya, Timothy.
Ini nih tugas yang waktu itu dibebankan lewat telepon dari hari pertama cuti. Hrrgghh. Tapi, okelah. Namanya juga tugas.
Anyway, pas di gym lagi siap-siap berangkat aku jadi membayangkan akan
suatu film dokumenter ala MTV Cribs di masa depan yang isinya
wartawan-wartawan cerita tentang pengalaman mereka menjalankan tugas
kewartawanan. Aku membayangkan ada satu adegan seorang wartawan
memamerkan setelan yang dipakainya saat bertemu dengan siapa pun tokoh
'dunia' yang pernah diwawancarainya. Rosiana Silalahi mungkin bisa
memamerkan, "Saya memakai setelan ini ketika wawancara George W Bush."
Sementara, aku, Nawal el Saadawi lah atau Timothy Shriver inilah,
jawaban atas pertanyaan itu akan selalu sama, ya seragam biru kantor
dengan lambang kepala elang di atas kantong kiri. Sedih ya?
Tapi, ya daripada milih sendiri terus jatuhnya salah?
Demo buruh Nike ternyata jadi faktor pembatal wawancara itu. So, no
Kennedy for me Senin kemarin. Timothy Shriver yang Chairman for Special
Olympics nggak bisa masuk karena gedung yang diblokade polisi dan
demonstran.
Pas jam sepuluh, mengejar waktu agar tak terlambat, bersamaan dengan
datangnya rombongan buruh Nike itu. Dan yang datang benar-benar sampai
menyemut. Tapi, batal wawancara, nggak menyesal, kok. Siapa pun yang
ngelawan Nike itu harus didukung, hehehe.
Dari situ, iseng-iseng menghubungi teman yang aku tahu kantornya di
BEJ. "Aku lagi latihan di Sultan. Kamu sampai kapan di BEJ?" Lha wong
sudah mau cabut kok. Maksudnya kan iseng-iseng berhadiah, siapa tau
bisa makan siang bareng.
Banting setirlah, menghubungi satu-satunya pria yang bakal muncul terus
dalam kehidupanku, no matter what. Walaupun, hari ini kepentingannya
cuma minta makan siang gratis. Yes. My dad.
Selesai lunch, ikut balik ke kantor ayahku, menitipkan barang-barang
gym (kenapa sih tas-tas Bali ini udah langsung pada robek? Padahal
isinya sudah dijaga seminim mungkin lho), dan ternyata....lagi ada sale
menggunakan kartu kredit sebuah bank BUMN. Jam tangan, cincin berlian,
TV plasma, hape, kamera digital. Tapi yang stannya paling ramai memang
jam tangan, cowok dan cewek tumplek di situ.
Stan cincin sebenarnya juga cukup rame. Isinya cewek-cewek semua. Dan
yang pada ke sana pada sok-sok, "Bentar ya, bouw. Aku lihat cincin
dulu," sambil ngasih senyum sok malu-malu padahal sebenarnya smug. To
which, her friends replied, "Deeuuuuu. Iya deeeehhhh." Ih, lihat cincin
mah lihat cincin aja ya. Nggak usah sok-sok udah dilamar gitu deh.
(Hahaha)
Karena ada Fossil yang aku rasa aku 'butuhkan', jadi ikut deh
bergesek-gesekan bahu, siku, lengan, sampai pinggul sama banyak orang.
Jam tangan, karena diskonnya yang sampai 50 persen, otomatis jadi stan
paling rame.
Dan saat aku sibuk bumping and grinding itu, aku jadi tersadar, wow,
ternyata ayahku bekerja dengan banyak banget, dan maksudnya emang
buaaanyak, cowok-cowok seusiaku yang keren-keren. Katanya Ccr, "Iya ya.
Mungkin kita kerjanya jadi cuma ketemu ama orang-orang tua,
narasumber-narasumber yang lebih tua. Kurang sama orang-orang
seumuran." Hhmm, bener juga. This is definitely the job that ages you.
Acara belanja sempat tertunda sebentar dengan telepon dari kantor yang
menanyakan, "Nanti ke kantor nggak? Minta tolong dibuatin Cakrawala."
Okelah. Balik kantor, ketemu gadis-gadis dan ngrujak bareng yang aku
rindukan pas cuti, nggosip, makan siomay, nulis cakrawala, terus ke
tengah kota lagi buat nonton. Yes, Nari, you are going to achieve
greatness someday, hehehe.
At the end, yah, ini sebenarnya hari yang cukup menyenangkan. Tapi
buatku puncaknya adalah pagi-pagi, pas ikut kelas Step Combo, aku jadi
menyadari betapa aku kangen sama gym-ku. Kangen berkeringat dan
merasakan detak jantung yang semakin kencang. Step Combo yang aku
ikutin pun bisa dilakukan dengan relatif menyenangkan. Masih ada kerasa
capek-capeknya, tapi tetap bisa mengikuti dengan baik. Hmm, kayaknya
nggak lama lagi aku bakal jatuh cinta deh ama working out.
Habis gitu, sempet treadmill bentar. Tapi I have my whipcream and
cherry on top early in the morning, pas si instruktur bilang, "Lama
nggak keliatan, kamu kayaknya kurusan ya?" Hahaha.
Yes, I do love working out.
Oh iya, ada tambahan chocolate sprinkle atau hot fudge kali ya hari
itu, karena 'Milkshake' main pas aku lagi 'panas-panasnya' jalan di
treadmill. Ah, perfecto!
Posted at 05:30 pm by i_artharini
Permalink
Sunday, July 15, 2007
Dammit, dammit, dammit. Sebuah nomor telepon tidak dikenal beberapa jam sebelum sebuah acara nonton bareng is never good news.
Okeee, aku nggak sesering itu sih mengalami kejadian seperti itu. Baru sekali sore ini, tapi cukup untuk membuatku menjadikan ini sebagai kredo untuk pertemuan-pertemuan kasual ke depan. See, now, I learn fast. Heheh.
Penundaan itu actually not a big deal for me. Yang aku sayang-sayangin sih cuma, besok Senin, aku belum bisa menjual ide ke One-Eyed Jack (hehe) menulis tentang 'The Photograph' (sok-sok-an) membalas esai di Kompas tentang film satu ini. Premisnya pun sudah ada. (See, ini salah satu pengaruh 'Continuum' yang masih mengendap. In order to achieve greatness, sok-sok-an berani membalas esai di Kompas. Padahal, siapalah aku ini?).
Ortu yang sebelumnya sudah meng-absen aku dan Rani mau pergi ke mana sore menjelang malam ini pun jadi ikut curiga. "Lho kok nggak jadi pergi?" Dan sisanya semalaman ini, kok mereka berdua jadi extra super nice ya? Ayah yang menanyakan, 'jadi kita ke mana malam ini?' Terus mengelus-elus rambutku pas kebetulan lewat di depan komputer. Making small nice talk tentang aku makan salak, "Katanya nggak suka?" (Beneran lho, this is my dad). Belum lagi minta sama adikku untuk mengajak aku ke acara kondangannya. I'm okaaaaayyy. But, huks, I love you, dad.
Terus, belum lagi ibuku. Sebelumnya yang sempat sedikit marah-marah, 'Lain kali suruh jemput ke rumah dong. Jadi kamu jangan digampangkan'. (Duh, aku bisa menawarkan banyak pembenaran deh kayaknya buat alasan yang satu itu. This is hardly a date, hanya sekedar pertemuan kedua, dan toch, he takes me home the first time, kan? Btw, apakah pembenaran ini tanda-tanda aku harus beli buku "Why Men Marry Bitches" yang pernah dibahas sedikit oleh Ccr dan tadi siang lihat di Periplus Ngurah Rai?). Oke, telepon itu, yang hp-nya sempat diambilin oleh ibuku--'Kayaknya dari kantor deh'--datang pas aku keluar dari kamar mandi lagi mau mulai dandan. Masih berbalut handuk, akhirnya bergerak ke ruang tamu biar ada sinyal.
Dari situ, langsung pake piyama dan siap-siap tidur sore. Ibuku, yang masuk ke kamar tempat aku tidur--my sister's--bilang, "mbak, kamu kalau mau (...).(menggunakan istilah bahasa Jawa yang belum pernah aku dengar sebelumnya) jangan di sini dong. Ajeng kan mau dateng."
"Apa sih itu artinya?"
"Ya, kalau bayi mau tumbuh gigi atau mau bisa jalan. Jadi gelisah, ngambekan, itu lho namanya (...)". Kayaknya sih aku nggak segitunya ya.
Tapi pas aku ngetik-ngetik di komputer dan beliau mengontang-anting handuk, terus bilang, "Mandi, mbak."
"Lho, kan udah."
"Kapan?"
"Tadi sore."
"Lho..kapan? Eh, oh, iya ya. Yang itu...," sambil suaranya agak menghilang dan dari nadanya terasa seperti sore yang naas banget. Terus mengelus-elus lenganku dengan lembut.
Oke, I am not that bad. Tapi harus diakui sih, it's one of the things that I look forward to in doing pas pulang dari Bali.
Hmm, aku pengen nge-posting sebenarnya tentang the first time around, karena face it, walaupun dibaca orang lain, tapi this is the only diary I have. Sudah kelewatan agak lama sih ceritanya. Tapi, karena ada perkembangan terbaru, ya sudah, aku ceritain di sini deh.
***
Sepertinya, aku menghabiskan terlalu banyak waktu memikirkan dan mempertanyakan instead of actually doing it. Agak menakutkan sih sebenarnya buat sebuah pengalaman yang sebenarnya yah, bisa dibilang cukup sepele. Awaaaal banget. Nggak ada rumit-rumitnya deh. Tapi faktor itu tidak membuatku tidak merasa ada ikatan imajiner di perut yang rasanya kencang sekali.
Sebuah kesimpulan: I need to date more. Whatever the term 'date' actually implies. Nonton barenglah, ngopi barenglah, jalan bareng, hang out bareng, makan bareng, whatever it is aktivitas yang mencakup beberapa jam bersama seorang lawan jenis (buatku, my interest is still boys) mencoba menikmati waktu yang dihabiskan bersama. Diharapkan ada ngobrol-ngobrol yang involved di sana, mencoba get to know other people. Nggak menutup kemungkinan untuk berpikir penuh harap (kayak lagunya Project Pop itu 'Teman Tapi Ngarep', haha), berimajinasi walaupun nggak tinggi-tinggi, karena keingat liriknya 'I Don't Trust Myself in Loving You'; "Who do you love? Me or the thought of me?" Touche, John. Touche.
Ada beberapa alasan sebenarnya kenapa aku sampai pada kesimpulan itu. Pertama, karena aku sudah berkarat. I worry too much about things that I should not be worrying dan seharusnya kerut di atas hidung, di antara dua alis itu nggak ada. Atau ikatan ketat di perut. Atau sms-sms panik ke Ccr buat nemenin nonton, hahahah.
Alasan lainnya, karena pada akhir 'episode', aku nggak tahu, apakah ini bisa dikategorikan sebagai good, bad atau so and so 'date'. Masalahnya, minim perbandingan.
Jadi, plan of action di tingkat terapan, bukan sekedar wacana, adalah: "Screw 50 Books a Year. I want to have a life. I want to have 50 dates a year!"
Tapi, sesaat kemudian teringat, ini kan udah Juli. 50 dates a year berarti harus non stop tiap akhir pekan dari awal tahun sampai akhir tahun, cuman libur dua minggu. Buru-buru mengoreksi diri. Okelah, 20 dates a year kayaknya oke juga. Dan nggak harus sama orang yang sama. Intinya kan sebenarnya kayak ngelakuin banyak wawancara kerja atau sesuatu yang sifatnya seperti audisi, ngerasain yang mana yang 'good audition' atau yang 'bad audition' atau yang letaknya di tengah-tengah.
Alasan lainnya, dan mungkin ini yang paling berpengaruh buatku to want to do more dates with a lot of different people, adalah ini sebuah aktivitas yang sangat adiktif. Adiktif buatku memilih-milih bajunya, dandannya, punya ekspektasi yang terus menumpuk sampai akhirnya ketemu obyeknya, entah ekspektasi itu terpenuhi atau tidak, mengamati kebiasaan-kebiasaan orang lain, sampai getting the conversation going. Dan pada akhirnya, punya cerita untuk dibagi.
Jadi, please, kalau pembaca blog ini punya kandidat yang memungkinkan dan mau diajak nge-date, atau 'date', if you prefer, terserahlah istilahnya apa, please drop me a line. Nggak ada salahnya kan mencoba, nggak rugi apa-apa juga. Ya duit sih paling, tapi buat orang-orang seusia kita, duit kan bisa dicari.
Promise, I'm not a dissapointing company, kok. I'm always passionate to get to know other people, I'm always interested in what other people are doing in their life, I'm quite smart, pop culture savvy, I'll dress my casual best, and I have a great smile, hahaha. (Terlalu menawarkan diri nggak? Ah, ini kan bukan waktunya untuk jadi paranoid lagiii).
Posted at 11:26 pm by i_artharini
Permalink
Tahu kan kalau gym-gym itu selalu punya musik yang berdentam-dentam, nggak kalah sama di club-club. Fungsinya sih, menurutku sama aja, to get people go down and work/dance their assess off.
Nah, karena ini mix-tape atau mix-mp3-nya didengarkan komunal, jadi kan nggak bisa repeat atau mencari track yang kita pengenin. Jadi, ada beberapa kesempatan yang mungkin nggak ada artinya apa-apa, tapi buatku bisa jadi bahan bakar imajinasi sendiri. Kayak misalnya...'Sexy Back' yang muncul pas baru aku mulai jalan di treadmill, jadi masih pemanasan gitu, belum panas-panas banget buat langsung lari atau berjalan cepat sesuai ritmenya lagu itu. Atau, 'Promiscuous'-nya Nelly Furtado yang muncul pas udah selesai sesi pembakaran dan lagi main-main alat pembentukan. Dan, ini yang paling annoying, 'Like a Virgin' udah tiga kali main di saat-saat yang tidak tepat, maksudnya seharusnya main pas sesi lagi workout. Walaupun, pas pertama kali main bukan sesuatu yang tidak menyenangkan juga sih occassionnya.
Ah-hem, ceritanya lagi di shower, terus ada deh, "I made it through the wilderneeessss...somehow I made it throuuuugghhh..." dan langsung loncat-loncat sambil nyanyi-nyanyi. Yah, tiba-tiba kok ya langsung jadi nge(lamun)-jo(rok). Shower komunal, terus membayangkan tiba-tiba ada cowok dengan abdomen dan lengan yang sempurna kayak dipahat tiba-tiba mengetuk pintu kaca dan bertanya padaku: "Can I shampoo your hair?"
To which, I cheekily replied, "Which hair?" Mwahahaha. Gara-gara "Like a Virgin" terus merasa jadi bintang of my own wet dream deh.
Oh ya, for the record, aku nggak pernah sekolah yang ada shower komunalnya. Jaid imajinasi-imajinasi puber kaya gitu pasti muncul akibat pengaruh dari film-film teen Hollywood.
Dan, terakhir, baru-baru ini, 'Umbrella'-nya Rihanna itu muncul pasti pas aku udah selesai dandan dan mau berangkat. Ugh.
Posted at 11:14 pm by i_artharini
Permalink
Surat Cinta untuk John Mayer dan Kehidupan yang Diusungnya
Akhir pekan ini, duduk di kursi paling belakang mobil-mobil berjenis multi-purpose vehicle, melewati segerombolan orang asing, melewati lahan-lahan sawah, jalan-jalan kecil yang penuh dengan bis-bis turis, pura-pura dan anjing-anjing di pinggir jalan, selalu ada 'Continuum' yang mengiringi di telinga.
Album solo ketiga John Mayer itu jadi sesuatu yang tak bisa aku lepaskan dan tak rela aku lepaskan untuk terus-terusan didengar akhir minggu ini. Pasti nantinya ada 'titik saturasi' (dari kolom di the Jakarta Post, edisi 15/7) atau titik jenuh dari album ini. Tapi, entah setelah berapa bulan karena MP3 player yang rusak, terlalu lama aku tidak mendengar lagu-lagu John Mayer.
Mungkin karena suasana liburannya yang membuatku merasa santai, mengosongkan pikiran lalu menyerap sebanyak-banyaknya. Dan 'Continuum' jadi makanan padat pertama yang pas untuk mengisi lagi hati dengan semangat, inspirasi, renungan, optimisme dan patah hati di saat bersamaan. Ada harapan-harapan besar untuk masa depan dan cerita-cerita dari masa lalu yang berkelibatan di kepalaku ketika mendengar 'Continuum'.
'Vultures' menjadi sebuah pengingat buatku untuk tak jatuh dalam obskuritas. New kids will always come and go, a lot of them will be great writers and/or journalist, tapi pembuktian diri, itu harusnya tak pernah dilupakan. Pertanyaan-pertanyaan seperti ini, "How do I stop myself from being just a number/ How will I hold my head to keep from going under", harusnya tak pernah lekang dari kepala. Ya, sama sepertimu, Johnny, aku juga akan berjalan melewati api kok kalau ini yang dibutuhkan untuk membawaku lebih tinggi. Semuanya hanya sekedar fase yang harus diperjuangkan, terima kasih untuk mengingatkan.
Lalu, 'The Heart of Life'. Aku tak ingat kapan terakhir kalinya menjadi seorang optimis. Tapi mendengarmu menyanyikan lagu itu, mengatakan, "I know the heart of life is good", kemungkinanku kembali menjadi seorang optimis, bahkan setelah membaca 'Candide', sepertinya sedang menunggu di tikungan depan. Jauh di dalam hati, walaupun benar-benar malu mengakuinya. sebenarnya aku masih meyakini hal itu.
'Waiting on the World to Change' adalah upayamu untuk menulis tentang dunia yang kita tinggali. Terkesan bercerita tentang sebuah kepasifan. Tapi sebenarnya ini adalah tentang ketidakberdayaan; menghadapi informasi yang ditekuk-tekuk sedemikian rupa, menghadapi kesalahan-kesalahan para pemimpin kita, menghadapi sistem yang tak terkalahkan--tak peduli apakah kamu berada di dalam atau di luar. Berada di dalam pun tak membuatmu bisa melakukan apa-apa. Kalau tidak percaya, nanti aku kenalkan pada salah satu narasumberku. "One day our generation/ is gonna rule the population/ so we keep on waiting/ waiting on the world to change".
'I Don't Trust Myself with Loving You' membuatku berpikir tentang masa depan. Tentang tidak malu atau merasa bersalah ketika mengejar seseorang yang punya potensi, hehe. Selesai membaca 'Istri Sang Penjelajah Waktu' dan kemudian mendengar bagian ini di lirik lagumu, Johnny, "No I'm not the man I used to be lately/ See, you met me at an interesting time/ And If my past is any sign of your future/ You should be warned before I let you inside", aku sampai pada kesimpulan ini: semua masa hidup seseorang adalah 'an interesting time'. Oke, mungkin more so pada usia 27-28an.
Aku membayangkan lagu ini sebagai seorang obyek yang muncul dari masa depan dan mengingatkan, 'hang in there, be tough, di masa depan, aku bakalan jadi orang yang lebih ramah kok'. Agak mirip seperti Henry yang muncul dari masa depan di konser Violent Femmes, mengingatkan Clare bahwa ia tengah menghadapi dirinya yang berada di persimpangan. Aku tidak mengharapkan masa depanku seperti Henry dan Claire dengan obyek yang sudah 'fixed' di kepala, tapi lagu ini mengingatkanku untuk tidak takut ketika menjadi persistent.
'Belief' adalah usaha lainmu untuk menulis tentang hal-hal besar yang tampak abstrak. Kamu menulis dengan sangat hati-hati, Johnny, dan sangat cantik. "Belief is a beautiful armor/ but makes for the heaviest sword/ like punching underwater/ you never can hit who you're trying for." Ini salah satu hal yang membuatku merasa kagum pada kemampuanmu untuk menyeimbangkan tema-tema yang bersifat pribadi tapi juga tentang dunia tempat kita tinggal.
'Stop This Train' sepertinya sebuah keinginan untuk kembali pulang, bukan sekedar pada bangunan rumah, tapi bagian dari kenangan-kenangan masa kecil yang membentuk sebuah imaji akan 'rumah'. Kembali pada kenangan akan dunia yang lebih tidak rumit. Dunia orang muda, aku rasa. Benarkah, John? Buatku, persaingan dan tanggung jawab dunia orang dewasalah yang membuatku ingin berhenti sebentar dari kereta yang terus melaju. Dan, oh, ide yang bagus memasukkan 'percakapan' dengan ayahmu.
Lagu itu, 'Vultures' dan 'In Repair', yang kau bilang tentang 'the entire spread of existence' dan akan terus kau datangi untuk mendengar sebuah nasihat untuk waktu yang cukup lama, adalah yang membuatmu khas sebagai seorang singer/songwriter. Bahwa kau adalah seorang seniman yang terus-menerus mencari jawaban akan tempatmu di dunia ini, terus mencari siapa dirimu dan di mana kau sekarang berada.
Too many shadows in my room/ Too many hours in this midnight/ Too many corners in my mind/ So much to do to set my heart right
Oh, it’s taken so long/ I could be wrong, I could be ready/ Oh, but if I take my heart’s advice/ I should assume it’s still unsteady/ I am in repair/ I am in repair
Oh yeah, I’m never really ready, yeah/ I’m in repair/ I’m not together but I’m getting there
Kalau kami yang berada di usia 20an membutuhkan seorang juru bicara yang berusaha menjelaskan tentang artinya berada di usia itu, kau adalah salah satu juru bicara terbaik yang kami miliki, Johnny. Dammit, you're Holden for the 20something!
'I'm Gonna Find Another You', 'Dreaming with a Broken Heart' dan 'Slow Dancing in a Burning Room' adalah lagu-lagu khasmu dari tema yang lain. Tentang hubungan-hubungan antar manusia, mengusahakan kebahagiaan dan kepahitan-kepahitan yang (harus) terselip di antaranya. Aku tidak tahu bagaimana kau bisa mencatat dengan begitu rajinnya tentang semua pengalaman, bukan sekedar yang umum, tapi sampai detil-detil terkecil. Mungkin inilah yang membuatmu menjadi seorang penulis lirik yang hebat.
Dan ketika kau mencoba menggapai Hendrix lewat 'Bold as Love', for me, that's when you really hit home, Johnny boy. Mengharukan, breaks my heart tapi inspiratif di saat bersamaan. Mengharukan melihat keberanianmu mencoba naik ke awan tempat Hendrix berada. Breaks my heart karena, buat semua orang yang mencoba sampai di tempat yang sama dengan idolanya, ada kesempatan yang amat besar bahwa kita akan gagal. Tapi inspiratif, karena kau tiba di satu titik yang tak akan dicapai Hendrix sekalipun, atau orang-orang lain, titik pencapaianmu tersendiri. Frankly my dear, itulah titik yang ingin kita semua capai. By God, you're there already.
Sekarang, aku kembali jatuh cinta pada kehidupan yang kau usung. Kita semua memang memiliki 'kehidupan' yang sama, tapi kau menceritakan ulang hal-hal yang membuat hidup ini menarik. Tentang orangtua, tentang mencapai mimpi dan menjadi besar, achieving greatness, tentang masa lalu, masa depan, dan kisah-kisah cinta yang akan mewarnai sela-sela di antara hidup.
Pada akhirnya, aku hanya bisa menghela nafas.
Ah, hidup.
Posted at 09:06 pm by i_artharini
Permalink
Jangan-jangan, kekesalan-kekesalan dan kebuntuan-kebuntuan yang menumpuk kemarin hanya karena butuh liburan.
Perginya sih sebenarnya cuma ke sebuah tempat 'standar', Bali. Pun tidak pergi ke tempat-tempat yang belum pernah dikunjungi. Arahnya lebih wisata belanja daripada wisata alam. Tapi nggak ada rasa menyesal ketika harus pulang.
Malah rasanya nggak sabar mau pulang.
Ada gym yang menunggu dikunjungi, tempatku bisa berkeringat, merasakan jantung berdetak semakin cepat tapi kemudian merasa lega setelah bisa mengatur nafas. Bisa ikut Body Balance dan melipat-lipat tubuh sampai ke posisi-posisi yang sebelum-sebelumnya terasa tidak mungkin dilakukan. Dan merasa badannya jadi kencang di semua bagian.
Lalu ada pekerjaan.
Masih pekerjaan yang sama sebenarnya, tapi sebentar lagi akan pindah kompartemen. Rasanya seperti kembali ke titik nol. Kembali ke awal, saat aku pertama kali belajar menulis dan menjadi wartawan. Kembali di Minggu. Dan bakal bekerja sama dengan orang yang dulunya pernah timbul tenggelam di masa laluku. Nggak ada rasa takut atau canggung yang sekarang muncul. Tapi kok kesannya seperti sebuah pertanda aku sedang pulang ke titik awal.
Mungkin itu cara Tuhan, atau Supreme Being, apa pun namanya, menjawab kebutuhanku. Kesannya ada tombol re-start dalam seluruh pengalamanku menjadi wartawan di kantor yang sekarang dan aku diberi kesempatan untuk memulai semuanya dari awal.
Ya, hampir semuanya sih. Ada satu bagian dari pekerjaan ini yang tidak mau aku ulang. Jangan sampai kata-katanya Ccr jadi beneran, "Yah, Nar. Nyari kemana-mana, nanti taunya kembali ke situ-situ juga."
Saking kosongnya tempat penyerapan hal-hal yang berhubungan dengan pekerjaan, pas di Mandiri Executive Lounge membaca cerita perjalanan ke Paris pun (yang aku iri-iri'in banget itu) nggak ada apa-apa yang muncul selain sebuah penilaian atas tulisan. Yah, selalu ada kemungkinan penilaianku agak tertutupi dengan rasa iri, tapi...hatiku terus-terusan terasa ringan.
Begitu pun pas pesawat mau mendarat. Melihat dari atas kawasan perumahan dan sawah-sawah dan pabrik-pabrik di kawasan Cengkareng, tidak terasa ada hitam yang menutupi hati. Malahan, ia berkata: Monday, bring it on!
Aku nggak peduli dengan janji-janji seorang redaktur mau diperjuangkan buat jalan ke mana pun. Apa sih itu selain sebuah janji? Paling-paling itu hanya sekedar menimbulkan harapan sekalian 'meminta maaf' karena sudah menelepon buat tugas hari Senin paaaasss hari pertama cuti. Biar sekedar minta dimaklumi atas 'ketidaksopanan'. (Bukan kamu kok, Sic. Sehari sebelumnya udah diobralin janji yang...agak out of this world, menurutku)
Ya, sekarang aku sudah skeptis dengan urusan-urusan seperti itu untuk kantor. Tapi, Monday, buatku tetap bring it on. Yang penting sekarang adalah have fun at work. Nggak usah mikir yang memang bukan jatahnya.
Duh, nggak sabar rasanya untuk memulai lagi dari awal. Saat menulis masih belum ada beban dan masa itu rasanya seperti bermain-main tapi juga terus belajar. Oh iya, aku sepertinya akan belajar semuanya lagi dari awal. Tak masalah. Setidaknya aku akan menyerap sesuatu dibandingkan merasa bosan dan tidak berkembang.
Terima kasih, Bali.
Posted at 08:33 pm by i_artharini
Permalink
Friday, July 06, 2007
Hmm, aku merasa pisuhanku dijawab deh sama Tuhan. Oke, mungkin aku
sombong memikirkan kemungkinan itu. Tapi gini, pas lagi jalan-jalan ke
Goedang Boekoe di Pasar Festival, menemukan buku karyanya Voltaire
judulnya "Candide". Harganya Rp 10 ribu. Bekas, pastinya. Sempat
berpikir-pikir, beli atau tidak, sebelum akhirnya memutuskan beli.
Salah satu faktor pendorongnya, ah-hem, agak malu mengakuinya, tapi
mantan pacar menambahkan judul buku ini dalam "Favorite Books" profil
Friendsternya. Nambah ke profilnya sih udah lama. Hampir setahun ada
kali. Tapi entah kenapa, ketika sekarang udah nggak ada perasaan
apa-apa lagi, baru tergoda untuk beli. Pas mbaca pun sama sekali nggak
keingat sama si mantan.
Ternyata, buku itu, which I come to love, adalah sebuah jawaban
sepanjang 150 halaman akan pertanyaan: benarkah bahwa "all is for the
best" dan benarkah dunia ini adalah "the best of all possible worlds"?
Tahu kan, di posting sebelumnya aku menulis tentang aku nggak bakal
percaya lagi sama "all is for the best".
Pada akhir buku, aku memang menemukan jawabannya dan, in a way, memang
membenarkan apa yang aku pikir sebelumnya. Bahwa "all is for the best"
itu nggak berlaku lagi. Tapi Candide juga memberi penyadaran bahwa
'tugas' kita itu lebih besar dari sekedar kenaifan buta akan sisi baik
dari semuanya. Dan nasib buruk itu ternyata milik banyak orang. Kayak
karakter Old Woman di novella itu, kalau ditanyain ceritanya semua
orang di kapal yang ditumpangi Candide, pasti semua orang punya their
own share of misuh-misuhin dunia tempat mereka dilahirkan dan nasib
mereka.
Ritme bukunya dan alur ceritanya mengingatkanku akan film-film Monty
Python; getir tapi konyol, filosofis tapi ringan, kejam tapi cartoon-y.
Hhmmm. I think I just did it again accidentally, menulis lebih fleksibel daripada di Kerlip Teenlit. Aarrgggh.
Posted at 10:29 pm by i_artharini
Permalink
|
|
|