"...the quest for transcendence has always been closely linked to the ecstatic release of dancing." (Resensi RollingStone atas sebuah album pop) Mr. Darcy: "So what do you recommend, to encourage affection?"Elizabeth Bennet: "Dancing, even if one's partner is only tolerable." (Pride & Prejudice, 2005)perempuan, 1983, lovesick soul, berjalan kaki, belajar menulis, menonton film, ingin keliling dunia, Billie Holliday, Jane Austen, 'Franny and Zooey', cerita pendek F Scott Fitzgerald, lagu-lagu sedih, kecanduan membeli buku second, deretan buku di lemari, berkeliling dengan bis kota, mengepak koper, menari bebas, Vogue, sepatu, bad boys, kopi, kuliner, foto, semua yang vintage, genggaman tangan, pelukan hangat, detil percakapan antara manusia, kegelisahan, kesepian, ruang pencarian, belajar dewasa, museum dan bangunan tua, hari hujan, sinar matahari hangat di hari berangin, airport, stasiun kereta, dan pertanyaan tanpa akhir YM: isyana_artharini Email: i.artharini@gmail.com
|
|
Monday, August 28, 2006
Pas kuliah dulu, aku sering banget ke ABC buat mbolak-mbalik majalah
fashionnya secara gratis, atau mempergunakan 10% (atau 20 ya?) student
discountnya beli majalah fashion. Seringnya emang In Style, tapi kadang
kalo lagi mau rada hardcore, ya beli Vogue.
Sejak di sini, atau bulan-bulan terakhir di Amsterdam lah, kayaknya
udah jarang beli majalah-majalah mode. Apalagi pas udah di Jakarta.
Nah, kemarin, pas sebelum berangkat ke Manado, kan naik Garuda lewat
terminal 2, yang bandara internasional. Dan ada Periplus-nya. Eh,
ternyata Vogue yang aku niatin buat beli, edisi September yang covernya
si Kirsten Dunst dalam dandanan Marie Antoinette itu udah terbit
(Bener-bener nggak sabar deh pengen cepet-cepet nonton film ini...).
Langsung kepikiran mau beli. Tapi, be rational, Nar. Ini udah tanggal
berapa, dan perjalanan elu kan udah ditanggung. Beli aja, sooner or
later you'll buy it, anyway. Bolak-balik, bolak-balik, akhirnya...
"Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA 603 tujuan Balikpapan dan
Manado akan segera diberangkatkan. Para penumpang diharap menaiki
pesawat melalui pintu F6." Oke, langsung aku ambil deh.
Ternyata, I hit the jackpot. Iya ya, ini kan edisi autumn, yang tiap
September pasti Vogue tuebel bukan main. Wuhuuu, wuhuuu, wuhuuu. Plus,
harganya yang aku kira sekitar Rp 120ribuan itu ternyata...'cuma' Rp 89
ribu. Setelah perjalanan total 4 jam, aku baru mulai mbaca
di kamar hotel. Waaa, baruu liat halaman iklannya yang bisa jadi satu
majalah sendiri itu aja, udah jadi punya inspirasi-inspirasi baru.
Liat daftar isi dan deskripsi dari tiap artikel juga jadi punya ide-ide
baru lagi. Seminggu lalu benernya sempat beli buku di QB Plaza Senayan,
judulnya "How To Wear High Heels", panduan tentang fashion dan style
gitu. Tapi Vogue, masih tetap ngasih lebih banyak. Fungsi
Vogue sebagai katalis juga pernah aku baca di "Cold Comfort Farm",
novel dengan setting tahun 1930an, di mana salah satu tokohnya
diinspirasi untuk melihat dunia lewat satu edisi majalah ini.
And it is. It shows me the movies that I should see, the music that I
ought to try to hear, the places, the people that I can dub as my
source of inspirations, the quirky artists and designers, and of
course, fashion in all its glory. Tapi kadang gini, aku
baru sampe halaman 244, dan itu baru ada dua artikel yang muncul.
Sisanya iklan. Boring? No, great even. Tapi, di halaman 244 yang aku
kasih 'pembatas buku' itu, setelah mbaca artikelnya Andre Leon Talley,
editorial dari Anna Wintour, sama tulisan tentang Warren Beatty, kadang
aku nggak bisa nahan ketawa. Wow, orang-orang ini
benar-benar take themselves too seriously. Maksudku, Warren Beatty
ditulis sebagai a thinking woman's sex god? The guy was just plain
narcissistic, he loooooovvvvveeee hearing himself talk. Terus
tulisannya Andre Leon Talley? Pujiannya buat seorang desainer sepatu
baru lebih mirip surat cinta. Dan aku juga jadi ngetawain
diriku sendiri, aku memakai pembatas buku buat nandain halaman majalah?
Oke, oke, itu majalah memang 754 halaman, tapi it's just a magazine,
toch? Bukan...bukan... bukan buku beneran gitu. (just a
note: Rani ngomong, "mbak Nari, kamu nggak mau nge-hardcover-in
Vogue-nya? Nanti halamannya pada rusak-rusak lhoo, copot-copot lhooo..)
Hehe, jangan-jangan aku udah jadi kayak salah satu cewek di episodenya
Sex and the City yang 'Models and Mortals', si cewek model itu bilang:
"I'm really very literary, you know. I read magazine from cover to
cover..."
Posted at 10:22 pm by i_artharini
Permalink
Lelaki Berpakaian Hitam Itu
Dari menonton 'Walk The Line', aku baru bisa membenarkan pesan utama
sebuah film lain, 'Moulin Rouge', bahwa "the greatest thing in the
world, is to love and be loved in return".
***
Aku selalu punya daftar--kadang tertulis, kadang tercatat tapi terserak
di otak-- tentang hal-hal yang 'seharusnya mulai aku lakukan'. Kayak,
aku harus mulai nonton Kurosawa, atau aku harus mulai membaca penulis
besar Rusia, atau penulis besar Amerika Selatan, atau mulai mendengar
satu per satu lagu Bob Dylan (but I hate his ego, though). Sebuah usaha
sadistik untuk memperbaiki diri sendiri sebenarnya. Atau malah sangat
Bridget Jones?
Anyway, salah satu hal di daftar itu adalah mencoba mengenal Johnny
Cash. Awalnya dari sebuah artikel di majalah Time, dengan Cash sebagai
cover. Lalu Rob Gordon di 'High Fidelity' versi buku menyebut buku
otobiografi Cash sebagai buku favoritnya.
Mungkin tulisan itu memang dibentuk seperti tulisan orang yang sudah
berada di senja hidupnya. Tapi tulisan itu berhubungan dengan keluarnya
album Cash yang terbaru saat itu, sekitar tahun 2002/2003, American IV:
The Man Comes Around. Yang membuat album itu spesial, Johhny Cash, si
pak tua berusia 70 tahun dengan rasa sakit di seluruh tubuhnya akibat
ketergantungan masa lalunya pada obat, merekam ulang lagu 'Hurt'-nya
Nine Inch Nails.
Di artikel itu ditulis, Trent Reznor, vokalis NIN, ketika melihat final
cut-nya video klip 'Hurt' versi Cash jadi bergidik ngeri. Cara Cash
menyanyikannya dan video klip yang dibuat oleh Mark Romanek (sutr. One
Hour Photo) buat aku juga kerasa haunting. Tapi liriknya juga, well,
baca aja yang ini:
I hurt myself today
To see if I still feel
I focus on the pain
The only thing that's real
The needle tears a hole
The old familiar sting
Try to kill it all away
But I remember everything
What have I become
My sweetest friend
Everyone I know goes away
In the end
And you could have it all
My empire of dirt
I will let you down
I will make you hurt
Pas tadi
malem nonton 'Walk The Line', ngeliat cara hidupnya Cash dan
kehidupannya dia yang nggak jauh-jauh dari rasa sakit dan kesakitan,
self-inflicted ataupun disebabkan oleh orang lain, lagu ini jadi punya
makna jujur yang baru. Oh, dia tahu apa yang dia nyanyikan. He's been
there, done that, and more than just puking on it.
Seperti katanya Snoop Dogg juga di artikel itu: "Man, I listen to
Johnny Cash growing up, singing 'I shot a man in Reno, just to watch
him die'.Dan kalian ribut-ribut tentang kita nge-rap tentang senjata dan kekerasan?"
***
Semua tentang June & Johnny, itu inti 'Walk The Line'.
Beberapa bulan setelah membaca artikel Time, ada berita bahwa June
Carter Cash meninggal. Berita yang sempat membuat aku terhenyak.
Sepertinya semua orang sedang menunggu kematian Johnny. Tapi kejutan
itu malah datang dari June.
Dan aku sempat melihat sebentar saja rekaman pemakamannya; Johnny tetap
dengan pakaian hitam-hitamnya, mengenakan kacamata hitam. Walaupun dari
jauh, bibirnya yang miring terlihat jelas, ia berjalan tertatih-tatih
dituntun oleh Roseanne.
Saat itu, selain keterhenyakan tadi, aku tidak bisa memberi arti atas hilangnya perempuan itu.
Tapi semuanya jadi jelas setelah melihat 'Walk The Line'.
Siapa dan apa June terjawab lewat cerita cinta yang panjang; tentang
kesabaran di kedua belah pihak (Johnny menunggu June mengiyakan lamaran
pernikahannya, June menunggu Johnny lepas dari pengaruh obat dan
alkohol, dua-duanya dalam ikatan pernikahan dengan orang lain), proses
berubahnya hubungan mereka; teman, kekasih, rekan kerja, sahabat,
mantan kekasih, kakak-adik, teman duet, creative partner, dan entah apa
lagi.
Kata-kata: the greatest thing in the world is to love and be loved in
return yang buat aku terasa kosong di Moulin Rouge, jadi punya makna
lewat film ini.
***
Satu lagi hal hebat tentang film ini adalah penggambaran adegan 'Folsom
Prison Blues'. Kemeriahan, pengelu-eluan Cash oleh para tahanan,
setting panggung dan antusiasme penonton, semuanya tepat seperti yang
aku bayangkan saat mendengar rekamannya.
Tapi sorakan para tahanan Folsom Prison di rekaman terdengar lebih
mengerikan, lebih membuat bulu kuduk merinding daripada di film. Bahkan
saat aku hanya mengenal sekilas Cash, aku merasa dia benar-benar berada
di rumah saat menyanyi di penjara itu.
***
Mungkin ada sesuatu yang lintas batas dari sosok Cash. Setidaknya aku
merasa seperti itu. Musiknya yang selalu amat terasa khas Americana
(bukan sekedar country, tapi juga blues, rock n' roll, traditional folk
song...aku selalu membayangkannya seperti musikalisasi karya-karya
Steinbeck) di tengah politik internasional dalam lima, enam tahun
terakhir, tidak membuatku melihat imejnya yang quissential American itu
sebagai sosok 'aneh'.
He's just a literary figure, for me.
Suaranya unik; tajam, maskulin, menderu, bergulung-gulung dengan cepat
walaupun berat. Semua karakternya muncul di suara itu. Lagu-lagunya,
walaupun mudah diterima, buatku hanya sekedar instrumen, alat pembawa
suara agung itu.
Posted at 04:47 pm by i_artharini
Permalink
Wednesday, August 23, 2006
Dear God,
Mungkin aku adalah seseorang yang tidak ahli dalam mensyukuri
pemberianMu. Tapi, ketika aku bilang, I WANT OUT; perjalanan ke Manado
untuk meliput persidangan sebuah perusahaan penambangan emas saat
CEO-nya menjadi saksi, bukanlah sesuatu yang aku maksudkan.
N*****t-related-news, harap dimengerti, bukanlah sesuatu yang dapat
dikategorikan 'better that not doing anything at all'.
Yes, I admit, You do have a great sense of humour. Selera humor dengan
kekhasan sentuhan ironi yang lembut, cerdas, dan menyengat, semua di
saat bersamaan. Mungkin, biasanya, orang-orang lain terlalu takut untuk
tertawa, karena lewat selera humor itu, Kau sedang menunjukkan kekuatan
dan kemampuanMu. Show off!
But hey, guess what. I'm laughing at Your joke now. Yah, walopun pake
nangis-nangis dikit, sebel-sebel dikit, karena...ini kali kedua aku ke
Manado, karena minim tugas dari kompartemen, dan atas undangan
perusahaan penambangan emas yang sama.
Nggak butuh aku buat dateng. Cukup koresponden di sana juga ada kok. Jadi, kenapaaaaa?
Hmm. Tuhan, Anda selalu memberi jawaban dengan cara yang aneh. So, I guess I better wait for the answer?
Yours Sincerely,
The Seasonal Believer
ps: Oh iya, Ramadhan kan sebentar lagi. Apa saya sudah harus mulai jadi 'the good girl' dari sekarang?
Posted at 08:43 pm by i_artharini
Permalink
Tuesday, August 22, 2006
Proses nge-hardcover-in buku-buku lama di fotokopian deket rumah
akhirnya berhasil sukses. Pas hari Senin, sebenernya datang cuman mau
nanya2 aja, udah selesai belum. Nggak berharap udah langsung selesai.
Tapi ternyata udah langsung ngeliat tumpukan 8 buku, lengkap dengan
pita pembatas warna merahnya (yang sebenernya nggak aku minta, jadi aku
seneng banget ngeliat ke-sensitifan si mas-mas fotokopian akan
kebutuhan pembaca buku).
Dan, hasilnya, kemarin malam selesai mbaca 'Auntie Mame'. Buku ringan
tentang seorang tante eksentrik yang harus mengasuh anak laki-laki
kakaknya, dari si anak kecil sampai dewasa. Ya situasi-situasi konyol
akibat pertemuan seorang anak kecil yang dewasa dan orang dewasa dengan
jiwa anak-anak di hatinya sering muncul, tapi nggak klise.
Adegan-adegan dan dialognya hidup banget, sampai aku bisa membayangkan
tipe film adaptasi buku ini pasti jadi screwball comedy.
Legaaaa banget rasanya bisa melihat halaman akhir sebuah buku. That's
the thing I rarely do in the last month. Seringnya stuck di tengah,
karena ngerasa sok tau udah bisa mbaca polanya, terus jadi bosen
sendiri, sebelum akhirnya memulai sesuatu yang baru lagi.
Nah, sebenernya aku mau ngelanjutin dengan 'Brideshead Revisited',
karena di belakangnya ditulis tentang buku ini yang juga nyebutin
tentang keberadaan keluarga eksentrik. Maksudnya agak nyambung gitu,
satu anggota keluarga eksentrik (Mame) ke keluarga eksentrik lain. Tapi
ternyata kok topiknya jadi agak berat. Eh, jadi membuka-buka buku lain.
Dan malah keterusan mbaca beberapa halaman 'Catch-22' yang lebih
mengalir.
Okelah, let's settle for this one first.
Walopun agak khawatir, karena kondisi bukunya yang udah agak-agak tua
juga. Tapi lagi keabisan duit buat nge-hardcover-in lagi euy.
Posted at 09:29 pm by i_artharini
Permalink
GET ME OUT OF HEREEEEEE!!!!
Aku udah nggak tahan lagi ada di investigasi. It's much, much better
that I suck at doing something than not doing anything at all.
Duh, aku pengen punya hidup, kerjaan, tugas yang normal kayak yang
lain. Kelelahan abis kerja, sama kayak yang lain-lain. Kenapa sih,
harus aku yang kayak gini? Temen-temen seangkatanku atau yang di
bawah-bawahku aja nggak pernah kayak gini. I'm tired of taking a
positive spin of the situation, all the fucking time.
Udah deh, udah jalan sembilan bulan, nggak ada yang positif dari kayak gini nih. Yang ada malah munduuur terus.
I WANT OUT
I WANT OUT
I WANT OUT
I WANT OUT
Posted at 05:46 pm by i_artharini
Permalink
The trouble with my ever-expanding butt is that I can't find a pair of
jeans that's fit for me anymore. Ok, ok, berat badan dan ukuran tubuhku
memang sudah dalam batas toleransi terakhir, few more kilos and it'll
explode. Walaupun pesimis, tapi aku tetep rajin nyoba-nyobain jins
berukuran besar.
Contoh, pas di Surabaya, sempet nyoba Lea, merk yang nggak pernah aku
pake sebelumnya. I'm addicted to Lee Cooper, dan dulu pas kuliah sempet
sebeeel banget di Belanda nggak ada. Tapi, anehnya Lea, paha dan
pinggul masuk, tapi pas di perut, ukuran pinggangnya ternyata keciiiiil
banget. It's not even close, sisi satu dan lainnya. Atau mungkin
badanku yang udah mulai aneh? Soalnya dulu2 masalahnya pasti daerah
pinggang yang kegedean karena mencari celana jins yang pas di *ahem*
rear-area. Lee Cooper udah nggak cukup lagi. Sementara aku
tinggal punya sepasang celana jins, merk Old Navy, yang aku beli 70
ribu (!) di Millenia SCBD. Nah, sebelum yang ini rusak dan robek di
tempat biasa, segera cepet-cepet nyari gantinya. Btw, kemarin2 ke
Millenia SCBD lagi, masak nemu jins merek Seven For All Mankind yang
terkenal muahalnya itu, dijual seratusan. Padahal kalo udah di Amerika
kayaknya sampe ribuan dollar gitu deh; merk jins seleb2 deh. Tapi
sayangnya nggak ada ukuranku; jangankan ukuranku, ukuran paling gedenya
aja no 5. Padahal nuansa washed-nya bagus banget. Aku yakin
banget, kalo nyari di Marks&Spencer atau Next, pasti ada ukuranku.
Cuman masalahnya harganya itu lhooo. Beyond my ceiling price. Mungkin
memang waktunya aku berinvestasi di celana jins. Dan, weekend kemarin,
ngeliat kalo Next lagi end of season sale sampe 50 persen!
Emang harga jinsnya jadi dua kali dari yang aku biasa beli, tapi it's a
bit above my ceiling price. Lagian modelnya bener-bener ideal, dan yang
penting, sizenya ada lhoo. Tapi, aku lagi nggak berani nyoba. Karena
kalo cukup, pasti langsung beli. Sementara ini udah tanggal berapa
niihh...Wait next month lah.
Posted at 05:44 pm by i_artharini
Permalink
Tuesday, August 15, 2006
Lirik lagu yang aku Google setelah mbaca postingannya fanintjuh. Belum pernah denger lagunya sebelumnya, tapi liriknya...aduh ngena banget deh.
Dari The Feeling, judulnya 'Fill My Little World'. Here goes:
I had a dream we went away, left this city for a day, You took me southwards on a plane, and showed me spain or somewhere.
But in reality you're, not so keen to show me anything, and I thought you liked me.
Hey show some love, you aint so tough, come fill my little world, right up, right up.
Someday you're going to realise. (i want you to) To fill my little world, right up, right up, right up.
So what you gonna to do with all this stuff, pilling up, filling up, taking up. (my little ....) you misunderstand me, all i wanted was some evidence, that you really like me. (you really liked me)
Hey show some love, you aint so tough, come fill my little world, right up, right up.
Someday you're going to realise. (i want you) To fill my little world, right up, right up, right up.
Maybe it's all too much, how come we're so messed up. Maybe im not enough, maybe i'm just too much.
Hey show some love, you aint so tough, come fill my little world, right up... yeeahh.
Hey show some love, you aint so tough, come fill my little world, right up, right up.
Someday your going to realise. (i want you) To fill my little world, right up, right up,
Hey show some love, you aint so tough, come fill my little world, right up, right up.
Someday you're going to realise that im passing you by, so fill your little world, right up, right up, right up,
come on and show, come on and show, come on and show
Posted at 10:55 pm by i_artharini
Permalink
Musim yang paling berbahaya buatku ternyata musim kelengkeng. Waaaaa,
addicted banget ama buah yang satu ini. Bisa ngupas lagi, lagi, lagi,
lagi, lagi, lagi....baru sadar pas di tempat sampah kulit dan bijinya
udah numpuk.
Predator kelengkeng, kalo katanya bapakku.
Dan sekarang lagi musimnya, walopun besoknya tenggorokan sampe rasanya agak sakit karena rasa manisnya, tetep nggak kapok.
Abis semua2nya kerasa pas sih, rasa manisnya unik, terus tekstur daging
buahnya juga juicy, kenyalnya pas. Nggak kayak rambutan yang kulit
bijinya suka nempel di daging buah trus jadi kerasa ada kasar-kasarnya,
ini enggak. Walopun teksturnya kurang lebih sama. Trus ukurannya juga
bite-size, pas sesuapan.
Sama kayak makan kuaci lah, bisa tangannya nggak berenti ngambil. Hmmm, sampe kapan ya season of kelengkeng?
Posted at 08:12 pm by i_artharini
Permalink
Monday, August 14, 2006
Ini nasehat bagus, dan gratis, dari seorang sahabat tersayang yang
sempat meng-co-as di bagian psikiatri. Katanya: "jangan memberi makan
paranoia-mu".
Ceritanya, dia pernah ngeliat pasien-pasien di RSJ yang berdasarkan
cerita-cerita keluarganya, 'kegilaan' mereka berawal dari hal-hal yang
kecil, kayak dia ngerasa ada orang yang nggosipin atau ngomongin. Terus
dari situ dia jadi mencari-cari bukti dan tetep sticking by their
story, keukeuh kalo dirinya diomongin. Sementara orang-orang pada
ngomong, enggak, enggak, enggak. Tapi terus, dia membuat dirinya merasa
yakin kalau dia diomongin yang jelek-jelek.
Halusinasi yang akhirnya keterusan sampai si subyek kemudian hidup di
dunianya sendiri. Dunia di mana orang-orang tidak menerimanya. Seberapa
kerasnya dan seberapa meyakinkannya orang bilang kalau mereka tidak
ngomongin si subyek, tetep si subyek akan yakin pada ceritanya sendiri.
Asalnya keyakinan itu? Ya, karena paranoia yang diberi makan,
dilanjut-lanjutin, ditambahin bukti-bukti yang terpengaruh pada mood
kita sendiri. Jadi, si sahabat beresolusi, ketika dia mulai merasa
khawatir akan imej dirinya di mata lingkungannya, dia langsung akan
berpikir hal yang positif. "Kalo enggak, ngeri lhooo. Kita bisa hidup
di dunia kita sendiri gituu, dan akhir-akhirnya jadi bisa end up kayak
pasienku di RSJ," katanya.
Belajar dari pengalaman sendiri, ih cerita ini sih tepat banget.
Sindrom depresi ringan-ku, kalau mau disebut gagah-gagahannya, ya
awalnya sih dari hal-hal yang ringan banget. Prasangka buruk, terus
otak jadi penuh dengan teori-teori konspirasi sendiri, yaa..miriplah
ama yang diceritain temen.
Dan sekarang, masih sering aja aku kejebak di kegelisahan-kegelisahan
sepele karena aku terus memberi makan paranoia-ku. Emang berarti
rantainya ya yang harus diputus, emosi itu nggak boleh diturutin maunya
kemana.
Aku jadi diingetin lagi ama nasihat satu ini: jangan memberi makan paranoia-mu.
Posted at 10:26 pm by i_artharini
Permalink
I'd Go Hysteric Over This...
Gagagagagagagagagagagagaga.
Kirsten Dunst, sebagai Marie Antoinette, di 'Marie Antoinette', film
Sofia Coppola yang terbaru. Keluarnya baru 20 Oktober. Hmmppphhh.
Wait, satu lagi, yang ini setting-nya lebih lucu. Plus, ada Sofia-nya.
Adduuhhh...20 Oktober yaa???
Too damn long.
Posted at 08:11 pm by i_artharini
Permalink
|
|
|