PENARI MUNGIL


(Saya bukan seorang penari. Pun sangat jauh dari mungil. Tapi, tahu kan adegan 'Tiny Dancer' di 'Almost Famous'? Sensasi membahagiakan dari adegan itulah yang saya kejar..)



Hold me closer, tiny dancer

Count the headlights on the highway

Lay me down in sheets of linen

You had a busy day, today


("Tiny Dancer" - Elton John)





"...the quest for transcendence has always been closely linked to the ecstatic release of dancing."
(Resensi RollingStone atas sebuah album pop)

Mr. Darcy: "So what do you recommend, to encourage affection?"
Elizabeth Bennet: "Dancing, even if one's partner is only tolerable."
(Pride & Prejudice, 2005)


perempuan, 1983, lovesick soul, berjalan kaki, belajar menulis, menonton film, ingin keliling dunia, Billie Holliday, Jane Austen, 'Franny and Zooey', cerita pendek F Scott Fitzgerald, lagu-lagu sedih, kecanduan membeli buku second, deretan buku di lemari, berkeliling dengan bis kota, mengepak koper, menari bebas, Vogue, sepatu, bad boys, kopi, kuliner, foto, semua yang vintage, genggaman tangan, pelukan hangat, detil percakapan antara manusia, kegelisahan, kesepian, ruang pencarian, belajar dewasa, museum dan bangunan tua, hari hujan, sinar matahari hangat di hari berangin, airport, stasiun kereta, dan pertanyaan tanpa akhir

YM: isyana_artharini
Email: i.artharini@gmail.com
   

<< August 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Monday, August 14, 2006
Paranoia

Ini nasehat bagus, dan gratis, dari seorang sahabat tersayang yang sempat meng-co-as di bagian psikiatri. Katanya: "jangan memberi makan paranoia-mu".

Ceritanya, dia pernah ngeliat pasien-pasien di RSJ yang berdasarkan cerita-cerita keluarganya, 'kegilaan' mereka berawal dari hal-hal yang kecil, kayak dia ngerasa ada orang yang nggosipin atau ngomongin. Terus dari situ dia jadi mencari-cari bukti dan tetep sticking by their story, keukeuh kalo dirinya diomongin. Sementara orang-orang pada ngomong, enggak, enggak, enggak. Tapi terus, dia membuat dirinya merasa yakin kalau dia diomongin yang jelek-jelek.

Halusinasi yang akhirnya keterusan sampai si subyek kemudian hidup di dunianya sendiri. Dunia di mana orang-orang tidak menerimanya. Seberapa kerasnya dan seberapa meyakinkannya orang bilang kalau mereka tidak ngomongin si subyek, tetep si subyek akan yakin pada ceritanya sendiri.

Asalnya keyakinan itu? Ya, karena paranoia yang diberi makan, dilanjut-lanjutin, ditambahin bukti-bukti yang terpengaruh pada mood kita sendiri. Jadi, si sahabat beresolusi, ketika dia mulai merasa khawatir akan imej dirinya di mata lingkungannya, dia langsung akan berpikir hal yang positif. "Kalo enggak, ngeri lhooo. Kita bisa hidup di dunia kita sendiri gituu, dan akhir-akhirnya jadi bisa end up kayak pasienku di RSJ," katanya.

Belajar dari pengalaman sendiri, ih cerita ini sih tepat banget. Sindrom depresi ringan-ku, kalau mau disebut gagah-gagahannya, ya awalnya sih dari hal-hal yang ringan banget. Prasangka buruk, terus otak jadi penuh dengan teori-teori konspirasi sendiri, yaa..miriplah ama yang diceritain temen.

Dan sekarang, masih sering aja aku kejebak di kegelisahan-kegelisahan sepele karena aku terus memberi makan paranoia-ku. Emang berarti rantainya ya yang harus diputus, emosi itu nggak boleh diturutin maunya kemana.

Aku jadi diingetin lagi ama nasihat satu ini: jangan memberi makan paranoia-mu.

Posted at 10:26 pm by i_artharini
Comment (1)  

I'd Go Hysteric Over This...



Gagagagagagagagagagagagaga.

Kirsten Dunst, sebagai Marie Antoinette, di 'Marie Antoinette', film Sofia Coppola yang terbaru. Keluarnya baru 20 Oktober. Hmmppphhh.

Wait, satu lagi, yang ini setting-nya lebih lucu. Plus, ada Sofia-nya.



Adduuhhh...20 Oktober yaa???
Too damn long.

Posted at 08:11 pm by i_artharini
Make a comment  

Friday, August 11, 2006
Dramatis

Kalau Rob Gordon mempertanyakan asal muasal rasa sengsara dan ketidakbahagiaannya, aku lagi mempertanyakan asal muasal ke-dramatis-anku. "Did I listen to pop music because I was miserable? Or was I miserable because I listened to pop music?" menjadi "Did I listened or read dramatic female singers or writers because I was already a drama queen myself? Or did I became dramatic because I listened and read all those dramatic and passionate female singers and writers?"

*Jangan-jangan mempertanyakan ini adalah satu lagi hal dramatis..*

But anyway, aku rasa itu sebuah 'kutukan'. 'Kutukan' dalam arti yang sama dengan kata-kata Oscar Wilde: every woman turn into their mothers, it is their tragedy. But every man does not, it is their tragedy.

Dan yang aku maksud kutukan itu adalah menjadi dramatis itu adalah salah satu atribut yang nempel ke sosok perempuan. Menurut riset terakhir, otak perempuan  berkembangnya berbeda sama otak laki-laki, dengan cara yang sama seperti organ-organ tubuh perempuan berbeda saat perkembangannya dengan organ-organ tubuh laki-laki. (Perlukah aku tekankan, tidak dalam artian yang satu lebih superior dibanding yang lain, tapi karena keduanya...berbeda?) Jadi, mungkinkah, dalam perkembangan otak ke arah yang berbeda itu, otak perempuan kemasukan elemen-elemen yang menghasilkan reaksi 'dramatis'?

All girls are dramatic, in their own way. Tapi kata kuncinya teteup. All girls are dramatic.

Tadi lagi ngeliat daftar Top 10 List-nya 'The Guardian' yang topiknya tentang Top 10 Passionate Women Writers, dan aku memuja 5 orang di antaranya. Dan masih berharap untuk jadi lebih kayak mereka. Meaning, lebih dramatis dari sekarang. Hah? Yang bener aja.

Tapi, contohnya, dari daftar itu tentang Sylvia Plath:
"In place of rumour and gossip, one finds the clear voice of a young woman wrestling with the sexual double standard, greedy for love and success and the powerful male who would be her equal."

Faktor "greedy for love and success and the powerful male who would be my equal" lah yang membuat pengidolaanku akan Plath menguat.  Karakter itulah yang masih aku tuju. Dan mungkin kalau aku sudah ada di tempat tujuan itu, nggak malu-malu ngakuinnya.

Atau, ini tentang Edna St.Vincent Millay:
"When she did fall in love, Millay committed herself with a vengeance, but her poet-self was always present, a canny watcher, pen in hand."

Dan it's also ok, that when I fall in love, I commit myself with a vengeance, walaupun kedengarannya agak menakutkan. Well, mungkin keberanian untuk commit with a vengeance itulah yang bisa diartikan sebagai 'lebih dramatis'.

Terus tentang Charlotte Bronte:
"In creating this dark, ruthless, impassioned hero and the feisty Jane, Charlotte Bronte revealed her own secret longing for intensity of feeling and the thrill of recognition. As obscure and daring as her heroine, she claimed women's ability to feel passion and their right to voice desire."

Dan tentang penulis yang akan terus jadi favorit, Jane Austen:
"Although she never married, Jane Austen's letters to her niece, Fanny, reveal her deep and sympathetic knowledge of the female heart.....Whether it's Marianne's extravagant passion for Willoughby or Elinor's secret tears over Edward Ferrars, Jane Austen understands the feelings of a woman in love."

Oke, oke sebentar...jangan-jangan dari tadi salah nih. Kayaknya di kepalaku, konsep dramatis dan passionate jadi kecampur aduk deh. Aku masih nggak bisa mbedain keduanya sih, karena dramatis, intens, passionate, semuanya seperti sinonim.

Ah, well.

Kalau bisa diartikan, lebih dramatis yang aku pengenin sih..ya itu, lebih passionate ke hidup, ke kesuksesan, ke cinta, ke kerjaan, ke tulisan. Dan hopefully, semuanya itu menuju ke sesuatu...

Posted at 08:59 pm by i_artharini
Make a comment  

Thursday, August 10, 2006
Nonton '9 Songs'

Jadi inget waktu mau beli DVD-nya '9 Songs' di Ambassador, mbak-nya yang jaga langsung bilang: "wah mbak, yang ini nggak boleh dicoba. Soalnya langsung 'gituan' pertamanya. Tapi DVD-nya udah bagus kok. Kalo jelek, nanti boleh dituker."

Akunya sih iya-iya aja, nggak sadar akan betapa 'riuhnya' film ini. Sampai dua malam lalu.

Hehehe, jadi malu sendiri. But, cool soundtracks, though.

Btw lagi, dasar, emotionally unavailable people! Huh.

Posted at 10:47 pm by i_artharini
Make a comment  

Bookicure

Beli buku bekas yang 5 ribuan atau 10 ribuan ternyata jatuh-jatuhnya jadi sama juga kayak beli buku baru. Well, enggak juga sih ya, kan yang buku bekasnya buku2 bahasa Inggris, yang judulnya juga udah agak susah dicari, yang kalo di QB bisa 10 kalinya harganya...

But anyway. Baru tadi masukin 8 buku buat di-hardcover-in di fotokopian deket rumah. Buku-buku yang kertasnya paling ringkih tapi paling pengen dibaca. Dan sampe sekarang belum dibaca gara-gara sekali mbaca, halamannya mrotol semua. Sempat pernah mbawa-mbawa "The Heart is a Lonely Hunter" di tas yang penuh. Baru setelah semingguan sadar, cover pinggirannya yang emang udah asalnya lapuk itu jadi tambah terkikis. Akhirnya ditangguhkan dulu, dan sampe sekarang nggak kebaca lagi.

Terus yang lebih mrotoli itu malah bukunya Vita Sackville-West yang judulnya 'All Passion Spent'. Sampai aku nemu buku itu di pojokan TIM, aku cuma tau Sackville-West sebagai kekasih Virginia Woolf. Dia memang 'anggota' komunitas Bloomsbury, tapi dia punya karya?

Yang buru-buru aku hard-coverin juga adalah satu buku temuan baru, pocket book isinya kumpulan tulisan-tulisannya W.Somerset Maugham. Yang ini nemu di Surabaya, di Jl.Semarang, pas cuti kemarin. Berangkatnya nebeng bapaknya Atas,  dibonceng naik motor, terus muter-muterlah aku di situ. Kondisi bagian dalamnya sih bagus, kertasnya masih kuat dan putih. Tapi binding-nya benar-benar udah lepas. Udah nggak ada bagian sampingnya lagi.

Oh, three of my precious babiiieeess...

Menyusul tiga itu, ada 'Auntie Mame', 'Breakfast of Champions', 'A Tree Grows in Brooklyn', 'Brideshead Revisited', sama...hmm, aku lupa euy satunya lagi. Oh inget, inget, inget. 'Vertigo' yang jadi dasar karya filmnya Hitchcock. Bukunya tipis, tapi ya itu...mrotoli.

Dan harganya, si Rantje ngomongnya mungkin sekitar Rp 12.500an, tapi itu buat ukuran skripsi, jadi mungkin lebih murah. Eh, taunya Rp 20 ribu per buku. HAEEGGHHH..

Setelah aku survey2, eh ternyata harga segitu tuh standar, murah malah. Atau sampling-ku kurang?

Tapi, argghh, deg2an nunggu hari Senin, baru pada jadi hari Senin nantiii...

Moga-moga lemnya kuat2.

Posted at 09:20 pm by i_artharini
Make a comment  

Volver

'Volver', dari bahasa Spanyol, yang artinya 'to go back', 'to return', kembali, pulang. Judulnya film terbaru Pedro Almodovar yang lagi pengeeeen banget aku tonton. Terutama dengan kehadiran Penelope Cruz. I'm a total sucker for her, but only when Almodovar is directing.

Dan, aku lagi pulang juga nih. Lagi kembali ke blog lama. Bukan pindahan rumah kok. Cuma merenovasi rumah lama, mengisinya dengan barang-barang baru, mengontrakkannya secara gratis ke penulis-penulis lain. Menjadikannya sebuah buku catatan online, tempat meng-copy-paste tulisan-tulisan yang membakar otak. Or, just something stupid someone says.

Maksudnya sih, biar artikel-artikel dari The New Republic versi online misalnya, yang hanya bisa dibuka dari email untuk kurun waktu tertentu bisa ditaruh di situ dulu kalau belum sempet dibaca. Kalau link-nya yang di inbox email kelamaan dibuka, suka disuruh ngedaftar lagi dan lagi. Dan buat ngarsip aja, biar kalo butuh sebagai bahan kutipan atau contoh tulisan keren, bisa dengan gampang dicari.

So, judul blog lama yang asalnya 'Helpless Attempt to be a Writer' berubah jadi 'CopyPaste: My Online Scrapbook'. Alamatnya tetep di sini.

Ya, sayang juga sih sebenernya sama blog lama itu. Takut tulisan-tulisan lamanya jadi ilang. Jadi diberdayakan lagi lah. Dan memang butuh tempat untuk menaruh tulisan-tulisan yang aku anggap keren. What better place to put the things you love, than home? Pulang juga akhirnya.

Posted at 07:44 pm by i_artharini
Make a comment  

Tuesday, August 08, 2006
Menua

Mungkin ini pengaruh dikelilingi perempuan-perempuan hamil (apakah tiga orang terlalu banyak?), tapi apa pun itu, aku lagi merasa agak maternal akhir-akhir ini. Atau mungkin faktor usia juga ya? Dan, kemarin-kemarin baru ketemu dua temen kuliah yang udah married juga...

Efeknya sih..konsep-konsep yang dulunya mengerikan, kayak pernikahan, punya anak, being married, atau pengeluaran untuk biaya pernikahan, jadi agak tidak mengerikan.

Hmm..

Eh, tapi enggak juga sih. Masih ketakutan juga, heheh. Tapi kadarnya sih kerasanya udah ke ketakutan yang 'normal', nggak di level yang konyol sampe nggak bisa diatasi dengan akal sehat gituu..

Oh, terus ada satu lagi nih. Pernah nggak sih ngerasa lucu pas ngeliat kemiripan anak sama orangtuanya? Kayak aku ngeliat oom-oom dan tante-tanteku, dan aku inget mukanya orangtua-orangtua mereka, dan mereka udah berubah jadi fotokopi fisik dari orangtua masing-masing. Terus aku ngeliat aku dan ibuku, ibuku dan foto-foto eyangku waktu seusianya, dan...WOW.

Dan mungkin itu perasaan yang ajaib juga buat mereka yang ngeliat si anak sekarang dan kenal baik ama orangtuanya. Contoh, ada seorang eyang yang bilang: "iki sopo tho, kok dari kemarin ngeliat ada yang mirip banget sama Mas To, mondar-mandir, mondar-mandir."

Pernah nggak sih, ngerasa ketemu orang yang miriiiip banget sama orang yang kita kenal, tapi ternyata dia orang yang beda, jadi kemiripannya cuman muka aja gituu. Aku pernah ngerasain beberapa kali, dan selalu aja, setiap kali ngalamin, masih ngerasa...'aneh'. Pengalaman yang 'out of body' gitu. Terhenyak yang bener-bener terhenyak lah.

But anyway, dengan semangat perlawanan khas anak SMA yang akhir-akhir ini sering aku temuin, work sucks.

Posted at 06:21 pm by i_artharini
Make a comment  

Monday, August 07, 2006
Resah, Gelisah, Gamang? Nothing New There...

Apakah dikhianati oleh seorang idola dapat masuk ke kategori 'something happened'? Well, nggak tepatnya dikhianati oleh si tokoh panutan sih, tapi lebih ke arah aku ngerasa kecewa aja ketika tahu...ooo, si tokoh panutan itu ternyata cuma manusia biasa aja tho. Jadi siapa yang mengkhianati dong? Imajinasi kita kali ya, mengingkari kenyataan jadinya.

Keresahan-keresahan dan pertanyaan-pertanyaan tentang diri sendiri jadi muncul lagi nih. Pemicunya...salah satunya yang disebut di atas tadi. Terus, tulisan liputan ke Pontianak yang nggak turun-turun, terus efek cuti yang ternyata nggak bener-bener nge-recharge, bahkan peristiwa besar di keluarga yang terjadi seminggu lalu itu pun...ah, nggak taulah. Cuman pikiranku kerasa udah normal lagi ke semula. Normal tidak dalam artian sehat, tapi normal-ku yang terlalu banyak berputar di hal-hal tidak efektif yang tidak produktif. Kayak nggak ada yang nge-occupy otak, yang mengalihkan perhatian dari kekosongan-kekosongan itu.

Dan sekarang, diperparah lagi dengan, ding dong, the witch is...MOVING NEXT TO ME! Seorang Santo mungkin lebih tepat, bukan penyihir.

Begitu, jreng jreng, masuk kantor, hah, kenapa orang ini udah ada di sebelahku? Oh iya, dia kan pindah desk. Terus pake basa-basi lagi, dengan nada agak nge-nyek: "aduh, nulis paskibraka enak banget euy."

Atau, "apa ini, Nar, esensi kegiatan kepramukaan di sekolah-sekolah."

Atau, "Arundhati Roy," katanya tiba-tiba. "Ini ada di majalah Guardian nih. Tulisannya dia ama Noam Chomsky tentang serangan Israel di Lebanon."

"Eits, bentar, aku juga lagi mbaca Guardian. Yang mana, yang mana?" kataku.

Btw, FYI, Guardian itu koran yaaa, bukan majalah. Erm, yang itu cuman di hati tapinya.

Dan aduh, seliweran dan ucapan selamat dari reporter berbagai desk ke sang Santo pun membanjir.

"Wah, kembali ke habitat yaa?"
"Elu pindah sini sekarang?"
"Wah, udah di sini sekarang elu ya."

Dan pokoknya, intonasinya tuh semua penuh kagum deh. Sumpe de, kalo buat si Santo satu itu, aku ngakuin banget, kalo aku tuh...IRI. Ama kemampuannya, pengakuan untuk dia, wawasannya, attitude dan rasa pe-denya.

Jadi kayak perbandingan secara gamblang gitu, dengan dia pindah ke sebelahku. Sebelumnya, dia jadi anak emas, bolehlah. Tapi kan I didn't need to see the affections, etc, tiap hari, karena posisi duduk yang jauh. Lha sekarang?

Hmm, sepertinya aku sudah kembali ke kebiasaan lama yang jelek, mengecilkan diri sendiri.

Posted at 08:33 pm by i_artharini
Make a comment  

Gosip (Full Mode On)

(Tulis..Nggak..Tulis..Nggak...Tul..Ah, what the hell!)

Sumber Media, seorang wartawati gosip, mengatakan bahwa Diva peraih 'Academy Award', ketika diberi ucapan selamat atas kemenangannya mengatakan, "****** gitu lhoo. Kalo bukan anak ****** yang menang kan, lombanya dianggap kurang bergengsi."

Terus ditambah, "Lha mana hadiahnya nge-nyek banget gitu lho. Motor, iyaa, soalnya wartawannya nggak mampu beli. Alat fitness, iyaa, soalnya wartawannya sakit-sakit terus, nggak fit."

Sementara aku, dengan penuh kesadaran bahwa aku sedang judgmental, berkata dalam hati: 'Sumpe de, gue nggak ngerti, nih anak masalahnya apa sih?'

She doesn't want to be in my position, toch?

Kalo menurutku, bakalan lebih cool kalo reaksinya dia kayak Gabrielle Union di 'Bring It On'. Pas dia dibilangin Torrance "you guys were better, though" di akhir film, karena timnya dia cuman juara 2, si Gabrielle Union-nya njawab: "yes, we are, aren't we?" dengan nada dan senyum yang agak smug.

Maksudnya, aduh, please girl, if you do win something, own it. Be proud and be a bit of a snob about it. Jangan mengurangi arti kompetisi yang udah kamu ikutin dong. Atau emang standarnya udah ketinggian?

Lha, lha, lha, kok jadi ngrasani wong...

Posted at 08:11 pm by i_artharini
Make a comment  

Rent?

Pada suatu Jumat malam yang sepi, aku main-mainlah ke 'rumah' pasangan muda. Tepatnya memang bukan sebuah rumah, tapi cukup untuk menampung kulkas, mesin cuci, kamar mandi, queen-size bed dengan sejuta bantalnya, tivi, dvd, speaker, bahan-bahan makanan, lemari pakaian dengan beragam alat dandannya, etc. Sebuah rumah mini.

Perginya ke sana sih karena mau ngambil bubuk kopi oleh-oleh dari Bandung, cuman ya sekalian ngobrol2 lah. Sampai akhirnya percakapan tiba pada topik iklan Bonia di koran kita. "Aduh, jadi pengen jam tangan Bonia deh," kata si perempuan.

"Emm..1,5 juta kayaknya dapet deh," kataku.

"Aduh, udah nggak mikir deh, Nar. Baju baru, sepatu baru, udaah deh nggak kepikiran. Sekarang cuman buat anak aja kepikirannya," tanggapan dari si perempuan lagi. Well, kadang-kadang ada dari yang cowok sih.

Aduh, mak glek deh dengernya.

For the record, kandungan si perempuan 'baru' mencapai usia dua bulan.

Kalau dua bulan aja udah langsung mikirnya biaya melahirkan, biaya sekolah anak, semua-semua buat anak, waks...apalagi kalau anaknya udah lahir. Non stop expenses deh kayaknya buat anak. Ya iyalah, pasti non stop expenses, cuman maksudnya...masih kepikiran buat bercita-cita beli sepatu Nine West gitu nggak ya? Setidaknya Nine West pas lagi 50% diskon lah... Masih terlintas nggak ya?

Karena, aku sih masih bercita-cita pengen satuuu kali aja (setidaknya laahh) beli sepatu Nine West. Dan ngeliat daftar prioritas, keinginan, etc, etc, hmm kerasa egois banget lah. Ya jelas-jelas aja beda ama yang udah nikah. Tapi pergulatan ama keinginan-keinginan diri sendiri tuh masih jauuuuuh banget dari selesai.  Atau setidaknya menemukan titik dimana aku merasa selesai.

Maksudnya, itu kan yang terjadi waktu orang memutuskan untuk married, bahwa di titik itu, momen itu, mereka ngerasa kalau hidup nggak cuman untuk dirinya sendiri kan? Udah 'agak' selesai dengan dirinya sendiri. Atau, aku salah?

Oh, weekend kemarin sempet nonton 'Rent'. Dan, ada lirik yang nyangkut banget dari salah satu lagu di soundtracknya:

Five hundred twenty-five thousand six hundred minutes,
Five hundred twenty-five thousand
Moments so dear.
Five hundred twenty-five thousand six hundred minutes
How do you measure, measure a year?

In daylights, in sunsets, in midnights
In cups of coffee
In inches, in miles, in laughter, in strife.

In five hundred twenty-five thousand six hundred minutes
How do you measure
A year in the life?

How about love?
Measure in love

Five hundred twenty-five thousand six hundred minutes
How do you measure, measure a year?
In diapers, report cards, in spoke wheels, in speeding tickets
In contracts, dollars, in funerals, in births.
In five hundred twenty-five thousand six hundred minutes -
how do you figure a last year on earth?

Figure in love
Figure in love
Figure in love. Measure love.

Posted at 07:41 pm by i_artharini
Make a comment  

Next Page