PENARI MUNGIL


(Saya bukan seorang penari. Pun sangat jauh dari mungil. Tapi, tahu kan adegan 'Tiny Dancer' di 'Almost Famous'? Sensasi membahagiakan dari adegan itulah yang saya kejar..)



Hold me closer, tiny dancer

Count the headlights on the highway

Lay me down in sheets of linen

You had a busy day, today


("Tiny Dancer" - Elton John)





"...the quest for transcendence has always been closely linked to the ecstatic release of dancing."
(Resensi RollingStone atas sebuah album pop)

Mr. Darcy: "So what do you recommend, to encourage affection?"
Elizabeth Bennet: "Dancing, even if one's partner is only tolerable."
(Pride & Prejudice, 2005)


perempuan, 1983, lovesick soul, berjalan kaki, belajar menulis, menonton film, ingin keliling dunia, Billie Holliday, Jane Austen, 'Franny and Zooey', cerita pendek F Scott Fitzgerald, lagu-lagu sedih, kecanduan membeli buku second, deretan buku di lemari, berkeliling dengan bis kota, mengepak koper, menari bebas, Vogue, sepatu, bad boys, kopi, kuliner, foto, semua yang vintage, genggaman tangan, pelukan hangat, detil percakapan antara manusia, kegelisahan, kesepian, ruang pencarian, belajar dewasa, museum dan bangunan tua, hari hujan, sinar matahari hangat di hari berangin, airport, stasiun kereta, dan pertanyaan tanpa akhir

YM: isyana_artharini
Email: i.artharini@gmail.com
   

<< August 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Friday, August 04, 2006
Satu Lagi Pelajaran

Wah, aku bener-bener nggak bisa ngebayangin rasanya jadi Martin Scorsese, 5 kali dapet nominasi Oscar untuk Best Achievement in Directing, tapi nggak pernah sekali pun dapet. Karena, kemarin malam, aku jadi tau, bahwa mereka yang bilang: "it's an honor just to be nominated", is saying ONE BIG FAT LIE.

Semua orang maunya ya pasti menang. Pastilaaah.

Maksudnya gini, kamu udah kerja keras, terus eh..ternyata kerjaan kamu itu ada yang mengapresiasi, and you're up for an award. Pastinya seneng dong, kerja keras itu nggak kelewat gitu aja, ada apresiatornya lhooo ternyata. Nggak kayak ngelempar batu ke dasar sumur trus nggak ngedenger 'cepluk'-nya.

Pasti ada pengharapan kan, dari waktu sejak adanya pengumuman nominasi sampai pengumuman menang atau nggak. Dan, hah. Aku kecewa nggak menang.

And I have a newfound respect untuk Samuel L.Jackson, yang ketangkep kamera mengatakan 'fuck' waktu dia kalah dari...hmm, yang ini aku nggak dapet dari Google, jadi kemungkinan terdekat, kalah dari Martin Landau di 'Ed Wood', sementara dia dapet nominasi Oscar untuk Pulp Fiction.

Setidaknya dia cukup jujur, bahwa tidak menang buat dia adalah sesuatu yang dapat masuk ke kategori: shit happens.

And, just for the record, here's my 'fuck': FFFFFUUUUUUUUCCCCCKKKKKK!

Dan, demi menghibur diri, aku jadi browsing-browsing siapa aja sih, para nominator (baca: loosers) di Academy Award terakhir. (Btw, kenapa harus Academy Award ya? Hmm, mungkin karena aku sukaaaa banget nonton acara ini, dan kemarin malam adalah the closest thing for me to an award show..hehehe).

Daftarnya lumayan oke juga. Maksudnya, Joaquin Phoenix ternyata nggak menang buat Oscar, terus...Paul Giamatti juga nggak menang, kalah sama...George Clooney yang lebih populer. Padahal buat urusan akting...hmmm, Giamatti is a better character actor. Jake Gyllenhaal, trus..William Hurt juga nggak menang. Felicity Huffman juga kalah sama Reese Witherspoon. Catherine Keener ama Frances McDormand coba. Two of my favorite actress. Ang Lee, walopun menang Best Director juga filmnya nggak dapet apresiasi sebagai Best Film.

Teruuuss...Bill Murray juga kalah kan waktu itu dari Sean Penn?

Hmm, entah kenapa, jadi merasa agak nyaman. Although, yes, I'm, still bummed about not winning.

Walaupun akhirnya rasa kecewa itu agak tergantikan setelah ngeliat hadiahnya, TV, flat, 21 inchi, LCD plasma, etc, etc.

"Waaaaa...hadiahnya iniii? Kalo gini sih nggak pa-pa laaahhh..."

Walaupun akhirnya, malam itu berakhir jelek juga. Endingnya, nggak usah cerita di sinilah. Kalo kata Rani: 'udah, nggak usah ditulis di blog-mu. Nanti kamu dipecat lagi. Aku aja yang nulis di blog-ku.'

(hehehe, tengkyuuuuu)

Ah, kemarin malam itu bener-bener campur aduk deh emosinya. Dari mulai biasa aja, trus mulai deg-degan dan mules, terus annoyed karena pengumuman kategoriku ternyata kepotong iklan organ tunggal sementara yang lainnya udah pada dibacain semua, teruuss...deg-degaaaaaaaan banget, trus jadi kecewa, terus jadi seneng lagi pas liat hadiahnya, sampe akhirnya....kecapekan eyel-eyelan.

At the end, rasa kecewa nggak menang itu malah tertutupi sama kejadian yang lebih besar sih. Tapi, just for the record: 'frankly my dear, I DO GIVE A DAMN!'

Posted at 07:41 pm by i_artharini
Make a comment  

Monday, July 31, 2006
Membungkus 11 Hari Dalam 30 Menit

Hmmm...terlalu banyak cerita yang mau ditulis. Dari perjalanan ke Pontianak, sampe teruuuuus ke daerah perbatasan, yang akhirnya memakan waktu 10 hari buat penugasan investigasi pertama ke luar kota. Terus...ngebut ngetik selama seminggu ke depannya, gara-gara Sabtu tgl 22-nya udah mau cuti buat nikahan Sandra-David. Pulang di atas jam 12 terus. Sampai, Jumat malem/Sabtu pagi pulangnya bisa jam 4 pagi. Haegh. Kelarlah 4 tulisan ttg perbatasan.

Sampai rumah jam 5, langsung tidur, berencana bangun jam 9 buat packing. Eh, kebangun pas ortu abis pulang dari tempat perawatan Eyang, jam setengah sembilan. Langsung panik abis. Tapi kan masih ada setengah jam lagi ke 'jam packing', jadi tidur2 dulu sampe jam setengah sepuluh. Barulah packing jam 10-an, itu pun masih disambi bengong-bengong nonton Oprah.

Akhirnya berangkat ke bandara agak mepet, sampai pun agak mepet, untungnya masih sempet check-in. Sampailah aku di Surabaya.

Puter-puter, terus besoknya ke Malang, terus jalan-jalan sampai 4 hari ke depan. Jumatnya, Baliiii...

Sempet nunggu dua jam di bandara sebelum ketemuan sama family on vacation mode. Sempet makan pecel, ngeliat sunset di Kuta, ngerasain air pantainya yang ternyata..dingiiin banget. Besoknya udah sempet belanja di Sukawati, sampai akhirnya dapet telpon berisi berita duka.

Cepet-cepet balik ke Jakarta, yang untungnya bisa beneran cepet dapet. Dan dari situ, semua berjalan cepet banget, sampai yang keinget sekarang sih cuman ikut ngemandiin, kissing her cold cheek over and over again, dan..not quite realising what I will be missing.

Aku nangis, etc, tapi tetep.. pasti ada detil-detil perilaku beliau yang bakal aku kangenin, yang bakal aku kehilangan, tapi yang sekarang belum keinget.

Ada satu pelajaran sih yang aku dapet, bahwa pas aku meninggal nanti, aku pengen diurusin secermat dan sebersih mungkin sesuai tuntunan agama. Karena untuk yang satu itu, kita bener-bener harus mempercayakan pengurusannya sama yang udah 'profesional' lah. Yang bener-bener ngerti apa yang dikerjakan dan artinya.

Dan dari situ, jadi mikir lebih juga sih tentang..bekal dunia selanjutnya.

But huks, I'm going to miss her, greatly.

Posted at 09:56 pm by i_artharini
Comments (3)  

Thursday, July 20, 2006
Ms Yamagata, Sekali Lagi

"I try my best to write of love and pain and explore how we humans treat each other, and what our souls are trying to get out at the same time. Performing is my meditation; writing my traveling companion. These songs are as truthful and in the moment as I could be at this point in my life. They are observational, touching, but with a sense of hopefulness that every piece, and each bit of pain had a reason. So that nothing is wasted. The never can be happenstance."



Posted at 10:11 pm by i_artharini
Make a comment  

Wednesday, July 19, 2006
Another Singer/Songwriter

(Pasca serangan gempa susulan yang katanya mencapai 6,6 skala Richter, tapi tak terasa oleh kami yang sedang berada di Tenda Tang. Pun oleh orang-orang rumah dan ayah yang berada di gedung bertingkat. Alhamdulillah. Hmm..a bit frightened, though.)

Everybody's talking how I, can't, can't be your love
But I want, want, want to be your love
Want to be your love for real

Everything will be alright
If you just stay the night
Please, sir, don't you walk away, don't you walk away, don't you walk away
Please, sir, don't you walk away, don't you walk away, don't you walk away

(Be Be Your Love --
Rachael Yamagata, "Happenstance")

Hmm, kayaknya emang aku yang sering telat ya kalo buat urusan penyanyi gini. Namanya sih udah beberapa bulan aku dengar, walopun cuman selentingan aja. Tapi terus waktu itu kalo nggak salah dia nyanyi jazz standard, jadinya aku meremehkan. Terlalu banyak penyanyi baru sekarang nyanyi jazz standard sih, tapi belum ada yang punya 'jiwa'.

Baru-baru aja masukin mp3nya se-album "Happenstance" dan tadi ada lirik2nya yang tertangkap telinga. Akhirnya pas sampe kantor, searching2 lah tentang penyanyi baru ini. Ternyata malah nggak ada jazz standard-nya tuh. Pas ndengerin lagu2nya, jadi punya idola baru nih. Dan nggak heran juga kenapa aku tertarik.

Ini, biografinya dia di Amazon.com:

Happenstance…the never can be…

Main Entry: hap·pen·stance; Etymology: happen + circumstance: A circumstance especially that is due to chance. - Merriam Webster Dictionary

I apologize for insisting on writing my own bio, but I just can not be satisfied with another’s account of my psyche when even I don’t understand it myself. Welcome to the world of this indecisive control freak hopeless romantic…

Happenstance, produced by John Alagia (John Mayer, Dave Matthews etc.), is a collection of songs inspired by my obsessions, often love related, but not always. It’s about the battle between chance circumstances and the belief that everything happens for a reason. The title and the back cover addition of ‘the never can be’ suggest that I’m not really endorsing chance, but, in fact insisting that there must be a reason for repeated broken hearts – perhaps a promise of a better situation, learning experience, the greater love etc. It’s a circular argument… and it’s merely a matter of ‘happenstance’ that the title is what it is anyway. Without the hopefulness of reason, how could anyone weather the highs and lows of relationships and this delightful junk called love.

Look to the second album for a more cynical approach in which it all goes to hell and nothing makes sense and chance is winning…

*Indecisive control freak HOPELESS ROMANTIC? Itu kan akuuu....

*John Alagia, produsernya John Mayer ama Dave Matthews Band? Wah, dua2nya kan aku seneeeng. Jadi, "produknya" Alagia se-tipe sama mereka lah yaa...Genre-nya singer/songwriter gitu.

*My obsessions? Love related? Heheh. Sepertinya bener tuh.

*Berkeras ada alasan untuk repeated broken hearts? Nah, ini. Masih aku pertanyakan. Benarkah? Tapi it's an interesting journey to find out the answer, anyway.

*Delightful junk called love? So truuuueeeeee.

*Second album dengan pendekatan yang lebih sinis? Hah, I adore this girl, already.

Ini lho, aku pengen, suatu saat, ketika aku menulis buku, caraku menulis bisa kayak para singer/songwriter ini; Yamagata, Mayer. Personal, tapi universal. Mereka pada membawa hati mereka kemana-mana. 

Lancar bercerita tentang hubungan personal antar manusia yang hancur dengan ketajaman akan detil-detil relationship itu sendiri. Aku pengen tulisanku nanti punya jiwa. Berkubang dalam hangatnya energi patah hati, tapi tetap jujur, dan tidak beralih ke 'memanjakan diri sendiri'. Sehingga apa pun produknya, atau temanya, jika ada kejujuran, pesannya tetap akan universal. Setidaknya, bukan sekedar...ya itu, masturbasi perasaan.

And I'm afraid, and I can't breathe
And I'm in love with you
But you are not with me
And I have put so much into a life
I made too much about you now to lie

(Letter Read -- Rachael Yamagata "Happenstance")

Jadi agak mellow malam ini. Hmmm....


Currently listening to:
Happenstance
By Rachael Yamagata



Posted at 11:08 pm by i_artharini
Comment (1)  

Tuesday, July 18, 2006
Petunjuk?

"For way too long, the misconception that you have to fit in has been dictating your behavior. Even if you haven't realized it, you've been subtly editing yourself and altering your attitude, thinking that will get you farther. What you may fail to realize is that who you are is defined in part by how you're different from everyone else. Do things your own way today -- you'll meet little, if any, resistance. Strike out and show everyone the real you."

(ramalan horoskop-ku dari sebuah situs)

The real me? Mungkinkah itu, a maneater? Heheh.

Posted at 08:29 pm by i_artharini
Make a comment  

Lesson Learned

Gara-gara perjalanan kemarin, aku jadi termotivasi untuk 'move my body around like a nympho' dan jadi seorang 'maneater'. Heheh.

(Me love you, love you long time!)




Currently listening to:
Loose
By Nelly Furtado



Posted at 06:01 pm by i_artharini
Make a comment  

Wednesday, July 05, 2006
Vanity is My Favorite Sin

Santo Agustinus (menurut seorang redaktur budaya, and I'm sooooo calling him that!), tadi malam, mendatangiku. Sebelumnya, dia bersiul lirih, "Nari, Nari." Terus masuk ke kamar mandi. Waduh. Agak jarang nih dia bersiul-siul, manggil-manggil lagi. Pasti urusan tulisan.

Keluar dari kamar mandi, aku sempet ngeliat siluetnya di sekitar dispenser Aqua. Siluet itu lalu membesar dan tiba-tiba menjadi semakin nyata di samping pembatas mejaku. Waduh. Apa yang menjadi penyebab kunjungan kehormatan ini ya? (erm..yang ini baru kepikiran sekarang)

Pasti urusan tulisan. And I don't think the verdict is going to be good.

"Pusing. Pusing gue mbaca tulisan elu," ujarnya dramatis; kata-katanya dieret-eret pelan, kepala geleng-geleng, sambil senyum-senyum.

Aku cuman haha-hehe aja, dalam hati; emang gue enggak pusing mbaca tulisan elu?

Dan yang aku bilang: "Aku juga pusing mbaca tulisanmu. Nggak 'dong'."

Dia kembali mengulang vonisnya. "Benar-benar. Pusing. Pusing gue mbaca tulisan elu." Masih bernada dramatis.

Tidak dengan semangat retaliasi sebenarnya, tapi entah bagaimana terasa seperti itu, aku lagi-lagi bilang, "Gue juga pusing mbaca tulisan lu."

Melihat percakapan ini nggak jalan kemana-mana, dia akhirnya berbalik ke mejanya. Tapi, pembelaanku (dalam hati, tentunya), "ermm..ada yang bilang bagus kok."

Ketika berbicara tentang masalah apresiasi, aku kok masih ngerasa it's all worth it walopun yang memberi apresiasi positif cuman satu orang ya? Karena, dari situ bisa ketauan kalo 1)tulisan itu dibaca orang, 2)ada yang suka. Tapi itu mungkin juga masalah review positif atau negatif yang lebih dulu diterima.

Negatif duluan, pasti bakalan sedih. Cuman karena kejadiannya yang diterima positif duluan, jadi yang selanjutnya...nggak masalah.

Tapi (yang ini kayaknya dengan semangat retaliasi beneran), aku juga pusing mbaca tulisanmu kok.

(Harus diakui, dan dengan penuh keirian pula ngakuinnya, tapi tetep tulus, tulisan-tulisanmu yang lain memang waaahhhh kok.)

Posted at 09:10 pm by i_artharini
Comment (1)  

Tuesday, July 04, 2006
I Wish You Love(?)

I wish you bluebirds in the spring
To give your heart a song to sing,
And then a kiss, but more than this,
I wish you love.

And in July a lemonade
To cool you in some leafy glade;
I wish you health, and more than wealth
I wish you love.

My breaking heart and I agree
That you and I could never be,
So with my best —my very best— I set you free.

I wish you shelter from the storm,
A cozy fire to keep you warm,
But most of all, when snowflakes fall,
I wish you love

("I Wish You Love" - Words and Music by Charles Trenet)


Tadi malem nonton 'Prime' di VCD dan denger lagu ini. Pertanyaan yang muncul adalah:
if New Yorkers are the most cynical species on
the planet, gimana bisa, saat patah hati,
mereka mengharapkan cinta
untuk pihak berseberangan?

(Versinya Blossom Dearie dari lagu ini kayaknya sering diputer ya buat film-film komedi
romantis bersetting New York? "Kissing Jessica
Stein"?)

(Setelah nge-check, ternyata di "Prime" yang dipasang itu versinya Rachael Yamagata)


Yah, mungkin ini bedanya putus hubungan di dunia nyata dan film. Kerasanya jadi indah,
damai, mellow dengan kadar yang tepat, dan punya soundtrack sendiri, which is...I Wish
You Love. Sementara di dunia nyata..haduh. I Wish You Pain and Suffocation in Hell,
more like it. Love (kalau bisa dateng) mungkin datengnya baru pas berapa tahun berselang
kali.

Tapi aku pengen udah sampe di tahap itu. Tahap yang...buat ego-ku sendiri menandakan
apalagi kalo bukan kedewasaan dan tanda kalau kita udah move on. Kayaknya indah gitu
ada di tahap itu.

(But, why you still have the capability to make me smitten?)

Hmm.

Ah, ya sudahlah, Pak.
I wish you love.

Posted at 08:31 pm by i_artharini
Make a comment  

Nggak Penting Kok

Kesalahan terbesar adalah mencoba membuat orang-orang terkesan dengan karya kita, ketika ternyata kita sama sekali belum punya style dan kelas.

(Sub question: jadi, kita membuat orang terkesan dengan style dan kelas?)

Posted at 07:39 pm by i_artharini
Make a comment  

Threesome; Review Setengah Hati

Hmm..hari apa ya itu? Jumat kayaknya ya? Yang pas aku udah ngerasa agak lemes dan semi-semi ngambang dari badan pas berangkat ke kantor? Kayaknya sih Jumat. Saking ngambangnya, aku memutuskan untuk meneruskan untuk membaca 'Threesome'-nya NoRiYu yang udah berkali-kali (menurut istilahnya Dorothy Parker), "thrown with a great force."

Thrown with a great force? Ermm..iya, karena menurutku tulisannya tuh superfisial banget. Penuh dengan bahasa Inggris yang nggak jelas maksudnya buat apa. Neurosis karakternya yang cuma di permukaan aja. Sering tidak mengejawantahkan apa yang dimaksud, tapi cuma meminjam dari teori kanan-kiri (sebuah kesalahan yang masih sering juga aku lakuin). Dan karakternya juga tidak mendaging; erm..maksudnya nggak realistis. I know, karakter bisa tidak realistis, cuman yang ini...dalam ketidakrealistisannya pun tetep dangkal. Intinya, buat capek tapi nggak dapetin apa-apa.

DAN yang lebih ngeselin lagi...ini penulis minjem nama orangnya keterlaluan banget. Karakter utamanya namanya...Gathawati Dewangkaton. Who? Yang nggak lain, nama semi lengkapnya temen sma-ku, sekelas 2 tahun. Idih. Penggambaran apa pun yang dikasihin si penulis akan karakter ini (yang, which is, cukup minim) udah mental aja gitu dari otak. Lho, kalo penggambaran karakternya cukup minim, what am I complaining? Well, mungkin karena kejadian-kejadian yang dialami si tokoh juga, dan caranya si tokoh bertindak yang menurutku..."ih, nggak temenku banget."

Inget, pas pertama kali mbaca ini (btw, aku heran. Gimana bisa aku beli buku ini ya? Mungkin di saat-saat nge-high belanja buku, terus lagi pengen kenalan ama penulis ini kali ya?) terus menyadari nama karakternya, aku langsung nge-sms si temen.

"Yah, namaku jadi umum dong," kata temenku.

(Kayaknya si penulis emang kenal ama temenku itu deh. Temenku pernah cerita dia mau ngenalin si cewek ini ke penulis lain.)

Terus, mungkin karena aku lagi agak sakit, jadi perlawanan hati lagi agak lemah, ya sudahlah. Di samping kejutan-kejutan kekagetan tiap kali mbaca nama si temen (aduh, jadi kerasa mbaca her untold story atau gimana gitu...), ada poin-poin yang yaaa...bolehlah. Cukup makes sense. Walaupun tetep harus menahan dengusan tiap kali mulai berbahasa Inggris atau keluar istilah-istilah medisnya.

Jadi kesimpulannya?

Berarti ada bacaan yang baru bisa dibaca pas badan lagi sakit dan nggak bisa ngelawan. (Btw, aku masih terkesima sama dua tulisan si penulis di opini-nya Koran Tempo. Tapi apakah ketersimaan itu mengarah ke positif atau negatif, nah itu...aku belum tahu)

Posted at 07:06 pm by i_artharini
Comments (2)  

Next Page