"...the quest for transcendence has always been closely linked to the ecstatic release of dancing." (Resensi RollingStone atas sebuah album pop) Mr. Darcy: "So what do you recommend, to encourage affection?"Elizabeth Bennet: "Dancing, even if one's partner is only tolerable." (Pride & Prejudice, 2005)perempuan, 1983, lovesick soul, berjalan kaki, belajar menulis, menonton film, ingin keliling dunia, Billie Holliday, Jane Austen, 'Franny and Zooey', cerita pendek F Scott Fitzgerald, lagu-lagu sedih, kecanduan membeli buku second, deretan buku di lemari, berkeliling dengan bis kota, mengepak koper, menari bebas, Vogue, sepatu, bad boys, kopi, kuliner, foto, semua yang vintage, genggaman tangan, pelukan hangat, detil percakapan antara manusia, kegelisahan, kesepian, ruang pencarian, belajar dewasa, museum dan bangunan tua, hari hujan, sinar matahari hangat di hari berangin, airport, stasiun kereta, dan pertanyaan tanpa akhir YM: isyana_artharini Email: i.artharini@gmail.com
|
|
Thursday, July 31, 2008
If I'm only allowed one big change in life this year, then let it be the start of my travelling years to come.
Peucang sebenarnya adalah perpisahan kecil kita, bukan 'perjalanan' dalam arti sebenarnya. Atau setidaknya seperti yang dimaksudkan Kerouac. Tapi tempatnya sangat indah and it has all the hassles and stories of a travelling experience.
Aku membawa Fiestanya Hemingway, On the Roadnya Kerouac, sama buku puisinya Chairil (karena aku berpikir kata-katanya akan punya resonansi makna yang berbeda ketika keluar dari kungkungan kota) dan hampir semuanya tidak terbaca. Kecuali lima sampai tujuh halaman Kerouac sih.
Against the overflowing masses of blue water, I turn numb when it come to words.
Yang justru terpakai malah bathing suit. It really was some sort of private beach for us. Practically, there's no one.
Bukan hanya pengalaman pasir putih plus laut biru sih, ada light trekking dan canoeing. Lima bulan di dalam ruangan membuatku jadi agak-agak kehilangan kata-kata ketika melihat luar ruang. Cuma bisa bilang, "bagus bangeeettt."
Hampir semuanya dadakan. Dari sewa kapal, sewa kamar sampai sewa mobil yang membawa balik ke Jakarta. Jatuhnya memang agak mahal, tapi lumayan standar dibandingin perjalanan lain ke tempat itu.
Aku malah jadi merasa kata-kata ini agak-agak tanpa makna. Foto-foto, seperti biasa, ada di Multiplyku dan Facebook.
(Ini masih versi yang nggak lengkap dan amatir. Safiermac, our portable James Nachtwey (hehe), was kind enough to take our picture canoeing, trekking, candidly yet with high technical difficulties. As soon as he burned those photos to a CD (or a DVD ROM), I'll provide the link.)
(And, here's the link. Not photo of us, but of the island for his photo essay. Really dude, 'bergumul di birunya laut', 'jari telunjuk semakin intim dengan shutter kamera', your picture needs no introduction.)
Ok, I'm gearing up for Vietnam and Cambodia.
Posted at 09:32 am by i_artharini
Permalink
Saturday, July 26, 2008
Lima bulan. That's it.
Akhirnya, kami kembali pada siklus hidup normal. Atau setidaknya menuju ke situ, karena sekarang lagi dikasih waktu satu minggu untuk normalisasi jam hidup.
Media Indonesia Edisi Siang is no more.
Jumat (25/7) kemarin adalah edisi terakhirnya. Ditutup dengan makan-makan besar di Coca Suki dan hilangnya dua (atau mungkin tiga, kalau menghitung Mas-Mas Litbang) personel yang pindah ke tempat-tempat baru.
Photographer of the Year akan mencoba get his James Nachtwey on di sebuah terbitan baru yang berkantor di Plaza Semanggi (huks, ngiri..), Anak Salman bakal kembali jadi insinyur dan bekerja di lokasi-lokasi offshore (huks, will be missing movie talking and gossiping buddy..) dan mysterious man with coiffed hair from Litbang akan melanjutkan studinya (yang ini juga, ngiri).
Ya, ya, buat sebagian orang akhirnya MI Edisi Siang adalah awal buat sesuatu yang lebih baik. I wish, I hope, I pray it will be something of the same for me too.
--- nb: foto-foto gila malam terakhir ada di sini. Dan di sini yang versi lebih lengkap punya mas Bas.
Posted at 02:47 am by i_artharini
Permalink
Pertanyaan, berapa lama waktu yang dibutuhkan seorang wartawan untuk membuat paspor?
Jawabannya, satu jam.
(Dan satu hari untuk mengambilnya sih)
Jadi, Kamis kemarin aku, akhirnya, memaksakan diri untuk meluangkan waktu membuat paspor. Sehari sebelumnya sudah minta surat keterangan dari kantor biar lebih mantap urusannya. Plus minta nomor telepon orang Imigrasi yang biasa membantu proses pembuatan paspor orang-orang kantor, hehe.
Baru sampai rumah jam 6.30 pagi dan berencana bangun jam 7.30an. Tapi akhirnya bangun jam 11, itu pun dipaksa-paksa. Telpon orangnya, dan baru sampai di Mampang jam duaan. Tambah dua puluh menitan buat fotokopi-fotokopi, terus ketemu deh. "Haduh, mbak. Kok datangnya sore banget sih?"
Lha saya baru kerja kayak satpam, Pak. (Ini cuma dalam hati)
Akhirnya cepat-cepat beli formulir, isi, melengkapi dokumen, dan diserahkan ke bapak yang membantu itu. Langsung dibawa ke balik pintu permohonan berkas. Eh sebelumnya sempat suruh fotokopi kartu pers dulu, terus dicepret deh di bagian depan penahan dokumen.
Lima sampai sepuluh menit duduk, bahuku dicolek-colek. Ternyata si bapak yang membantu itu. Singkatnya mungkin kita panggil Pak Kumis saja.
"Mbak, dipanggil Pak *** tuh. Dia nggak percaya mbaknya wartawan."
Ternyata si bapak yang pengen memastikan statusku itu cuma mau bilang, "Mbak, maklum ya kalau selesainya nggak bisa cepat. Dan harus berlanjut sampai minggu depan. Soalnya kita mau ada pembaruan sistem. Tapi mbaknya butuh cepat?"
Aku yang tadi cuma ngangguk-ngangguk terus menjawab, "Emm, iya sih. Butuhnya agak cepat."
"Ya ini saya cuma ngasih tau aja. Jadi kalau nanti nggak cepat selesai biar mbaknya nggak marah-marah, 'Gimana sih, kok nggak selesai hari ini'."
Dalam hati aku agak berseri-seri, 'Hah, masa sih mau selesai hari ini? Yang bener aja?' Di sisi lain, aku jadi berpikir, hmm, padahal aku sudah menggunakan nama institusi dan status pekerjaan untuk mendapat kemudahan, tapi si bapak ini sampai harus mengingatkan biar aku nggak marah-marah kalau dia nggak bisa memberikan kemudahan. Kemudahan yang sebenarnya...seharusnya tidak ada, mungkin.
Akhirnya nunggu di luar lagi sekitar 10 sampai 15 menitan. Pak Kumis ternyata sudah keluar dengan formulir-formulirku sudah ditandatangani dan disuruh membayar ke atas. Waktu lagi ngantre di kassa, ada petugas dari belakangku yang bilang, "Mau mbayar, mbak?" "Iya." "Sini, sini."
Mapku terus diambil dan dia masukkan ke loket. "Tunggu dipanggil namanya ya."
Lima sampai sepuluh menit dan namaku dipanggil. "Media Indonesia."
Hahaha.
Sudah deh, dari situ langsung foto dan pencatatan sidik jari. Selesai, wawancara, yang ternyata cuma ketemu Pak Kumis dan dia melengkapi bagian formulir yang belum lengkap. Katanya, "Besok ya ngambilnya. Siangan. Lepas jam 2."
Dan aku keluar dari gedung itu jam 3.30.
Ck, ck, ck.
Posted at 02:18 am by i_artharini
Permalink
Friday, July 25, 2008
Rani nanya, "Jadi, gimana aku bisa tahu kabarmu?"
Ya, hopefully sih, lewat medium-medium yang lebih personal dari ini. E-mail atau sms.
Terus si Sal Paradise, yang ternyata juga baru menutup blognya, bilang alasannya, "Bosan." Lalu dilanjutkan dengan asosiasi tentara bersenapan mesin otomatis, sementara dia lebih pengen jadi sniper dengan kata-katanya. Asosiasi yang bagus.
Bosan, iya sih. Itu bagian besarnya.
Sebenarnya aku baru selesai memasang sebuah 'kemajuan' di blog, fitur arsip bulan per bulan itu, yang nggak disediain otomatis sama Blogdrive. Waktu aku mengecek link dengan membuka secara acak, aku seperti mengalami momen pencerahan.
Sayangnya bukan dalam artian yang positif.
Ada pengulangan pola emosi, pola keinginan, pola kecemasan, dan pertanyaan yang (terlalu) sering muncul yang sampai sekarang, hampir semuanya, masih aku rasakan.
It was as if my life has been going nowhere. Dan semuanya terekam di sini. Jadi, seperti layaknya orang ketakutan dengan reaksi panik, aku menonaktifkan blog ini. Walaupun sebenarnya inti masalahnya adalah hidup yang aku pilih untuk jalani.
Di sisi lain, blog jadi medium yang terlalu mudah bagiku untuk 'mengeluh' atau mengekspresikan kecemasan. Dan aku ingin menghilangkan zona nyaman itu. That it was time to toughen up and do something.
Lalu ada Fanintjuh.
"you can always slip into your alter ego char without being held against it.i think its another purpose of a blog,isnt it?"
Yeah, yeah, true.
Tapi aku masih merasa ini bukan tentang alter ego character yang mau aku 'tampilin'. It was just, my life. Yang di mataku sendiri jadi terlalu simpel dan terlalu penuh kata-kata, tapi tak cukup banyak tindakan.
"...besides you hv already broadened your circle of 'friends' that way.isnt that something you always want?" katanya lagi.
Benar sih.
Walaupun dalam jumlah yang terbatas, aku menemukan kenalan dan pekerjaan. Salah satu kenalan itu, mbak Octopus juga menanyakan apa yang terjadi. Aku memberikan versi pendek dari semua cernaan otak itu. "It's ok, take yr time."
Lalu, Fanintjuh lagi.
Dalam sebuah percakapan maya, "Is there any chance you'll revive your blog? Because it's the only mean you have to communicate with us."
Dan saat dia menanyakan itu, aku sudah setengah memutuskan sebuah tindakan.
Aku sudah punya cukup masalah dengan berkomunikasi sama orang lain. Dan jika cara terbaikku untuk berkomunikasi adalah di sini, kenapa tidak mempertahankannya?
Setelah aku 'menyalakan' kembali blog ini, lewat blog ini, aku menemukan artikel tentang alasan-alasan agar orang tidak mulai menulis blog. Salah satunya, dengan ketikan tebal dan dimiringkan, "You should never blog if you are not interested in communicating."
Cutting myself out from the world, or its people, or just some people that I care about, is not something that I want to be doing. So I think I'm making a quite right decision here.
Posted at 11:37 pm by i_artharini
Permalink
Tuesday, July 01, 2008
Ingat nggak, sale-sale penutupannya QB itu masih menyisakan trauma yang membekas sampai sekarang?
Trauma karena beberapa alasan. Pertama, that I spend a ridiculous
amount of money for those sales. Dan, sampai sekarang, muncul rasa
bersalah melihat buku-buku yang halamannya masih terlihat renyah karena
belum sempat dibuka.
Oke, sale itu mengenalkan aku buku hariannya Virginia Woolf, Joyce,
sebagian Eudora Welty, lebih banyak Fitzgerald, sekelumit George Eliot,
Balzac, Tolstoy, dst, dst. Tapi aku juga jadi ingat sama Welty-Welty
yang belum sempat terbuka, biografinya Edna St Vincent Millay, antologi
wawancaranya Allen Ginsberg, setumpuk Alice Munro dan (karena ingin
membaca seseorang bernama belakang Rusia) Virgin Soil-nya Ivan
Turgenev. Itu cuma menyebut beberapa alasan aku merasa bersalah.
Dan aku punya banyak alasan untuk merasa bersalah. Karena saat memilihnya, aku selalu siap dengan berbagai justifikasi dan alasan.
Tapi QB ternyata belum melepaskan cengkeramannya padaku. Well, mungkin
karena I'm a no good addict yang nggak punya disiplin diri ya.
Pas Sabtu kemarin liputan di Pesta Buku Jakarta, aku menemukan satu
kios yang masih menjual buku-bukunya sisa QB. Ada 'This Side of
Paradise' yang dijual 20 ribu sahaja.
Kumpulan cerpennya Raymond Carver, dijual dengan harga sama. Plus
antologi tulisan musik terbaik tahun 2000, salah satu penulisnya adalah
Susan Orlean ('Pencuri Anggrek').
Tangan ini sudah otomatis mengambil dua buku lagi (masih dengan harga
20 ribu) sebelum akhirnya menyadarkan diri akan jumlah uang di dompet.
Yang ternyata cuma Rp 40 ribu plus plus (lembar ribuan).
Raymond Carver is a definite yes. Antologi tulisan musik terbaik itu
dipilih karena harganya cuma Rp10 ribu (!) dan hasrat terpendamku untuk
jadi Caroline Fortis.
(Di High Fidelity versi film, menjelang akhir, karakter Rob Gordon-nya
John Cusack dihadapkan pada perempuan muda usia 26 yang bekerja jadi
peresensi musik di sebuah zine dan mewawancarai karakternya Cusack.
Gordon yang snob dengan pengetahuan musiknya, pada Caroline, bilang,
"You're that Caroline Fortis?
I read your column. You really know what you're talking about." Iya.
Gue cuma pengen jadi orang yang benar-benar tahu akan apa yang gue
tulis. Jadi aku pengen melihat cara orang lain menulis musik, dari
metode sampai sudut pandang, sampai cara menggali topiknya. Dan
bagaimana mereka bisa percaya diri sama sudut pandangnya itu, atau
pilihan topiknya. So there.)
Sebenarnya ada antologi lengkapnya Allen Ginsberg. Yang harganya cuma
Rp 30 ribu. Dan 'Howl' ada di dalamnya. Tapi sudahlah. Let's be a
better (wo)man.
Posted at 05:52 am by i_artharini
Permalink
Friday, June 27, 2008
Aku baru melihat bagaimana konstruksi kecantikan tengah bekerja
beberapa waktu lalu. Saat Watson's Citraland lagi mengadakan sale.
Watson's, buat yang butuh terjemahan, itu sejenis Kruidvat atau Etos.
Kalau dibandingkan sama Guardian atau sejenisnya, kok aku belum pernah
melihat yang ukurannya selega ini ya? Gang-gangnya lebih lebar,
leluasa, terus penataan barangnya juga menggoda. Ada gang khusus
kosmetikanya juga. Selesai nge-gym, tapi masih 'kepagian'
datang ke kantor. Akhirnya mampir dulu di situ. Habis penasaran sih,
kenapa kok ramai banget. Ternyata itu lagi hari terakhir sale.
Yang dipotong harganya sebenarnya cuma beberapa produk. Dan setelah
pengurangan pun masih terasa tidak jauh beda. Paling cuma berkurang Rp6
ribu sampai Rp8 ribuan, tapi tetap saja, ramai. Entah
kenapa, pemandangan yang dominan kok pasangan suami-istri muda tanpa
anak. Suami-suami dengan wajah kegelian nggak habis pikir melihat
istrinya sibuk memilih krim creambath toples besar yang harganya jadi
Rp 30 ribuan dari yang asalnya Rp 40 ribuan (seingatku). Pokoknya itu
produk yang paling laris. Ada juga suami berwajah tidak
sabaran, tapi si istrinya masih ragu-ragu, beli nggak ya, beli nggak
ya. Akhirnya, "Ya udah. Kalau jadi, ayo," terlontar juga. Sementara
aku, selain meragukan keefektifan produk bermerek sama seperti nama
tokonya, juga nggak menangkap apa asyiknya creambath di rumah sendiri?
Bukankah esensinya creambath itu kepala dipijat-pijat dan kamu
(membayar untuk) 'dirawat' orang lain? Tapi aku juga skeptis
pada keefektifan banyak produk kecantikan, sepertinya. Setiap sabun,
sampo, lotion, masker, bedak, parfum, perona pipi, lipstik, lipgloss,
menurutku adalah sebuah alat bantu subyek pemakainya untuk menjadi
sosok baru, setiap kali. Ini bukan pandangan nyinyir, karena aku
pernah, sedang dan masih mengalaminya, maka aku bisa berpendapat
seperti itu. Yang asalnya aku kebal, tapi jadi luluh ketika
melihat sabun cair Lux berdesain botol baru. Ada yang baunya enak,
namanya Magic Spell. Katanya, "For Soft and Fragranced Skin." Tapi ada
wangi lain yang namanya Sweet Kisses. Tertarik karena katanya ada aroma
peachnya. Khasiatnya, "For Soft and Kissable Skin." Nah ini. Yang mana yang aku pilih ya? Soft and fragranced atau soft and kissable?
Terpaksalah membayangkan skenario-skenario imajinasi yang
melibatkan....(enaknya siapa ya?) Channing Tatum? Clive Owen? (waktu
ini belum teringat sama Eric Bana). Pokoknya obyek afeksi lah.
Padahal ini kan cuma sabun. Kenapa pula aku harus mengasosiasikannya
dengan skenario romantis atau fantasi atau, bahkan, siapa aku sebagai
seorang manusia? Toh, seperti sudah dialami berkali-kali sebelumnya,
wanginya paling lama tahan sampai lima menit saja. Tidak akan cukup
kuat sampai membuat si obyek afeksi berpaling seperti di iklan-iklan
itu bukan? Sementara, salah satu eyangku suka membeli sabun
Pears yang oranye bening itu buat mukanya. Selain faktor kebiasaan dari
dulu, beliau suka sabun itu karena tidak ada baunya. Yang penting buat
dia adalah fungsi. Baru dari sinilah aku sadar. Oh iya, ini
to maksudnya konstruksi kecantikan, ketika sabun tidak berarti jadi
sekadar sabun. Tapi jadi 'alat' untuk memperbarui, merubah dan
memperbaiki diri. Akhirnya aku memilih Magic Kisses atas pertimbangan, kulit berbau harum dulu baru bisa kissable, haha.
Setelah itu pun masih ditambah lotionnya Dewi Sri Spa yang, walaupun
didiskon, masih lumayan membuat kantong langsung kosong. Tapi aku sudah
jatuh cinta sama baunya yang campuran teh dan mawar itu. Dan sekarang,
baru seminggu dipakai kok ya sudah tidak sampai setengah botol ya?
Ya, ya, ini bukan cerita tentang aku yang menyadari kekuatan rekayasa
nilai kecantikan lalu berpaling, tapi menyadari bahwa sistem itu
ternyata sudah inheren dalam otak.
Antara itu atau aku jatuh cinta pada wangi.
Oalah, fantasi, fantasi.
Posted at 06:39 am by i_artharini
Permalink
Suatu siang yang terik dan saya berada di boncengan sebuah ojek.
Tujuannya, sebuah kantor pengawas lingkungan daerah di mulut terowongan
Casablanca.
Dari semua topik yang bisa saya pikirkan ketika berada di boncengan
ojek, dari mulai pemanasan global sampai lipstik, Rosemary dan John
Cassavettes, gym dan pekerjaan, otak saya memilih berhenti pada...Eric
Bana. Entah mengapa.
Baru dari situ pikiran saya mengembangkan cabang-cabangnya dan sampai
ke adaptasi film Time Traveller's Wife. Beberapa waktu sebelumnya, saya
sempat lihat-lihat di imdb tentang adaptasi film itu dan mengetahui
bahwa Bana-lah yang akan berperan jadi si pustakawan bad boy, Henry
DeTamble itu.
Cabang yang lain sampai pada beragam imajinasi yang tak akan saya biarkan diketahui oleh ibu saya.
Waktu di gym sesudah liputan dan saya mengejutkan diri sendiri dengan
berlari (!) (aktivitas yang tidak saya sukai selama sepuluh, dua belas
tahun terakhir) (mungkin lebih tepatnya jogging dengan kecepatan 6 km
per jam)(dan cuma selama tiga menit, terus jalan dulu, lanjut tiga
menit lagi, tapi, hey, saya lari!), E! lagi memutar acara Victoria's
Secret Sexiest.
Untuk kategori Sexiest Actor 2008 ya, ternyata yang mendapat adalah
Eric Bana. Dan diputarlah kumpulan klip yang menunjukkan Bana, salah
satunya dengan lengan bervolume mengagumkan itu dari sebuah adegan di
film Troy. Kaki tetap berlari, tapi darah saya berhenti berlari.
Beneran deh, kalau pustakawan saya seperti itu...uggh.
Dan teringat pertanyaan si Anak Salman akhir pekan lalu, "Jadi, Nar. Elu gadis perpustakaan atau gadis museum?"
Fufufufu, pustakawannya Eric Bana ya...
Kapan siihh Time Traveller's Wife rilis?
Posted at 02:34 am by i_artharini
Permalink
Thursday, June 26, 2008
Seharusnya, pada saat ini, saya mulai mengetik tentang liputan tadi
siang, tentang Chairil dan Kota. Karena merasa kepala lagi terlalu
penuh, ya sudah, mampir curhat sebentar di sini.
Entah kebetulan atau tidak, kok sepertinya 'doa-doa' saya itu
terwujud lewat membaca berulang-ulang ya? Padahal saya tidak
menyadarinya, atau memaksudkannya, sebagai sebuah 'doa'.
Contohnya ini, karena otak menulis yang tidak kunjung cair, maka untuk
melumerkan, saya membaca ulang teks tertentu yang saya anggap sempurna.
Eh, keesokannya, ternyata saya dapat pesan pendek dari si penulis teks.
Kemarin-kemarin, baru Selasa lalu, sambil menunggu tersambungnya
panggilan telepon ke seorang narasumber, saya membolak-balik majalah
Tempo edisi 27 April 2008. Hanya karena kebiasaan, saya membuka mulai
dari halaman belakang.
Sudah lama sekali saya tidak membaca Caping untuk alasan yang
bermacam-macam. Tapi yang ini kalimat pertamanya langsung sebuah
kutipan, "...Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam."
Ya, ya, karena jam kerja sekarang, saya jadi sensitif mendengar kata
malam. Kutipan itu ternyata dari puisinya Chairil. Judulnya "Perjurit
Jaga Malam." Ada sesuatu yang bangkit dalam hati saya ketika pada
kalimat-kalimat selanjutnya tertulis, "Bagian penting dari 27 tahun
dalam hidupnya intens, bergairah, gemuruh, dan khaotis."
Pada bagian selanjutnya, juga ada catatan dari Chairil: ...wijsheid +
inzicht tidak cukup, musti stimulerende kracht + enthousiasme.
(kebijaksanaan dan insight tidak cukup, musti (punya) kekuatan yang
menstimulir + antusiasme)
Mungkin karena itu, atau karena subyeknya, atau karena saya ingin mengetahui sebuah cara menjalani hidup, maka saya membaca " Hoppla!"--judul esai itu--sampai selesai.
Lalu ulang lagi dari atas. Selesai.
Ulang lagi dari atas. Selesai.
Sampai tiga atau empat kali, saya lupa tepatnya, saya ulangi membaca
esai itu. Dari yang memahami sepenuhnya, jadi malah tidak memahami sama
sekali, lalu seperempat memahami, dan terakhir, lupa apa yang saya
pahami.
Dan doa yang terwujud?
Karena hari ini, untuk pertama kalinya, saya bertemu dengan--atau tepatnya, menonton--si penulis esai. Dan dia berbicara tentang Chairil.
Apa yang dia lakukan adalah murni penampilan. Caranya menjawab
pertanyaan, terutama. Apalagi saat jawabannya menjelang berakhir, ada
kesan finalitas yang khas sebuah pertunjukan. Bahkan sering pertunjukan
yang benar-benar diniatkan sebagai pertunjukan dalam artian
'konvensional' pun tak menunjukkan finale setegas (dan sedramatis) itu. Dia membuatnya sebagai sesuatu yang alamiah ketika kita, penontonnya, bertepuk tangan di bagian akhir.
Baru akhir pekan yang lalu saya menonton Elegy dengan Ben Kingsley dan
Penelope Cruz. Film yang menarik karena beberapa unsurnya. Pertama,
diangkat dari novelnya Philip Roth.
Roth--dan saya rentan salah di sini--sering mendapat reputasi sebagai
penulis egosentris yang misoginis. Tapi seperti katanya karakter Philip
di Puccini for Beginners, "I dare you to say something not cliche about
Philip Roth."
Selain itu, sutradaranya Elegy adalah Isabel Coixet yang juga membuat
My Life Without Me, salah satu film favorit saya. Lalu ada juga faktor
pengembangan cerita dan kesimpulan yang bisa membuat saya menulis satu
posting lagi.
Tapi, waktu itu saya mau mempertanyakan, ada apa sih dengan
perempuan-perempuan muda yang tertarik sama profesor-profesor kritikus
budaya/penulis seperti di Starting Out in the Evening atau Elegy?
Di Elegy, karakter David Kepesh, si profesor itu--yang saya curigai
adalah alter egonya Roth--diperankan oleh Ben Kingsley dengan bungkusan
elegan untuk muslihatnya yang berstrategi.
Selama si eseis berbicara dan menjawab pertanyaan, yang saya bayangkan
cuma David Kepesh-nya Ben Kingsley. Jangan-jangan Kingsley berguru pada
si eseis untuk menampilkan profesor Kepesh. Atau ada 'tongkrongan'
standar untuk kritikus budaya ketika mereka mencapai usia tertentu?
Setelah diskusinya bubar pun, orang-orang pada mengerumuninya. Dari
mulai mengajaknya bicara tentang FPI sampai sekadar menjabat tangan
seolah si penjabat berterimakasih atas hidup yang diberikan sosok ini
padanya.
Sang Junjungan--sebutannya dalam diskusi itu--sedang memegang rokok di
antara telunjuk dan jari tengah tangan kanannya ketika seseorang datang
dan memanggil namanya. Tangannya diulurkan, seolah akan memberi
sesuatu. Tangan Sang Junjungan sudah terbuka, seakan siap menerima
sesuatu, entah uang receh atau kunci mobil. Tapi si pengulur tangan itu
cuma menjabat saja dan bilang, "Terima kasih."
Untuk?
Dari nadanya sih seperti "terima kasih untuk datang dan berbicara hari
ini dan memberikan pencerahan bermakna pencarian ribuan tahun pada
saya".Tapi ini interpretasi (dramatis) saya.
Mungkin itu ya rasanya berada di posisi dia. Ketika seseorang yang
datang dan mengucapkan terima kasih hanya untuk dia eksis itu bukan
hanya satu, dua.
Posted at 11:40 pm by i_artharini
Permalink
Tuesday, June 24, 2008
Ini sisa dari liputan pertunjukan We're Gonna Go Dancing!! di Goethe
Haus, Rabu (18/6) lalu. Awalnya agak bimbang, mau dibuat liputan atau
tidak. Tapi karena keterbatasan stok liputan, ya sudahlah. Toh juga
nggak akan diambil sama edisi pagi.
Ceritanya pertunjukan ini adalah bagian dari turnya jaringan tari
kontemporer Jepang (Japan Contemporary Dance Network-JCDN) ke empat
kota di Indonesia; Jakarta, Bandung, Yogya dan Solo. Tahun lalu, mereka
cuma mampir di Jakarta dan Solo. Tahun ini, bertepatan dengan 50 tahun
peringatan hubungan Indonesia-Jepang, perhentian tur pun ditambah.
Ada empat komposisi yang ditampilkan. Masing-masing komposisi
memungkinkan penontonnya icip-icip rasa tari kontemporer Jepang,
seberapa mendebarkannya (atau mungkin membosankannya) scene itu di
berbagai kota di Jepang. Tapi salah satu komposisinya ditarikan oleh
penari-penari Namarina. Koreografinya karya koreografer Jepang.
Oke, tarian pertama. Yang aku tulis di buku catatan: 'a hip-hop affair?'
Curiganya sih dari loncatan, langkah-langkahnya, dan gerakan mengalir
yang khas itu. Akhirnya lampu mati. Dan pas menyala lagi, kecurigaanku
benar. Sebuah komposisi hip-hop.
Ada varian gerakan moonwalk diiringi musik-musik electronica model Daft
Punk. Dan breakdance dalam kekuatan penuh. Sampai, beberapa saat
kemudian, musiknya kembali ke tempo yang lebih santai dan karakter yang
ditampilkan Kentaro, si penari solo itu, balik ke 'dirinya' yang pemalu
dan tertutup.
Ia mencoba melakukan pengontrasan bunyi lagu latar. Antara yang 'kasar'
dan 'buram' dari bunyi piringan hitam ke kerenyahan emosi lagu-lagu
R&B tipe-tipe Chris Brown dan Ne-Yo itu. Seperti momen atau ruang
gelap yang personal dan kadang menyergap itu dikontraskan dengan ritme
kehidupan yang 'pop'.
Gerakan breakdancenya kembali muncul lebih kentara. Musik latarnya juga
lebih cepat dan lebih elektronik. Semuanya sangat pop dan muda. Lalu
komposisinya lebih menjadi sebuah gaya jalanan yang tidak terlalu
tertata. Dan Kentaro terus menari tanpa musik.
Lumayan. Tapi tidak ada saat-saat yang membuatku merinding. Padahal ruangannya dingin banget.
Selanjutnya, sembilan penari perempuan dan seorang penari laki-laki
dari Namarina. Komposisinya butuh waktu (agak) lama sebelum aku sampai
pada kesimpulan. Inti-inti gerakan baletnya masih ada.
Ada gerakan yang aku sukai. Banget. Badan si penarinya berputar, tapi
kaki yang jadi tumpuannya berganti-ganti. Pada saat itulah aku berharap
menjadi seorang penari balet. Tapi terus aku teringat dengan kisah Zelda Fitzgerald. Dan memilih untuk langsung mengabaikan keinginan itu.
Komposisinya penuh permainan, energetik. Kadang mereka menjadi
marionette, kadang jadi chorus girl dengan gerakannya yang seragam.
Ternyata intinya adalah masing-masing dari mereka menari dengan
kekuatannya masing-masing. Komposisi yang (seharusnya) menegaskan
individualisme. Masing-masing menjadi penari solo dalam ensemble.
Mungkin karena faktor usia atau entah apa. Penampilan mereka dingin dan
tanpa emosi. Kosong. Yang bergerak hanya badan, tapi tidak ada getaran
yang sampai di hatiku. Baru gerakan-gerakan tanpa jiwa. Dan 'kegagalan'
menggetarkan itu terlihat lebih jelas dalam komposisi yang lebih pelan.
Seperti kharisma masing-masing mereka belum cukup kuat atau menonjol
untuk menguasai seni menjadi individual di tengah kerumunan.
Dan keyakinanku akan 'vonis' itu jadi makin kuat setelah melihat
penampilan selanjutnya. Pasangan laki-laki dan perempuan dari Dance
Theatre Ludens (dari homo ludens). Komposisinya paling subtil, sublim,
anggun tapi sederhana. Ternyata when it comes to....everything really,
I like subtle best.
Menarik sekali. Komposisinya berawal dari rambut. Penari perempuannya
hanya memindah-mindahkan rambutnya. Si penari laki-laki, yang memang
gundul, menggesturkan tak memiliki apa yang dimiliki 'Sang Hawa'.
Gerakannya berawal sangat sederhana, tapi sarat emosi. Yang terjadi
selanjutnya adalah pengejaran si laki-laki akan rambut si perempuan.
Dari rambut, ke kaki.
Oh, ini cerita tentang pengejaran tubuh orang lain untuk sekadar
menjadi. Pengejaran dan penghindaran yang jadi permainan menggoda.
Membuat penasaran. Menyenangkan tapi juga mengesalkan.
Pengejaran-pengejaran itu yang, pada satu saat dalam komposisi,
membuatku tergelitik. Tak sampai tergelak saking subtilnya
koreografinya. Tapi cukup untuk membuat tersentuh.
Pas aku bilang ke Photographer of the Year yang ikut datang memotret
tentang komposisi ini, dia bilang, "Aku nggak suka. Aku nggak suka
kepala diinjak-injak walaupun atas nama seni." Ya sudahlah, ini orang
memang sudah punya kode moral yang tegas. Biarkan saja dia dengan
pikirannya.
Setelah si penari laki-laki pergi, si penari perempuan menari solo yang
mengesankan ia sedang mengecek 'kelengkapan' tubuhnya. Paha, pantat,
perut, punggung, pinggang, dada. Semuanya ternyata masih pada
tempatnya.
Semuanya, benarkah?
Lalu berlanjut ke lengah, wajah, hidung, sampai kerutan di mukanya.
Saat si penari laki-laki muncul lagi, gerakannya berfokus pada usaha
'menangkap' si perempuan. Yang awalnya nuansa penolakan kuat, sekarang
jadi pemaksaan. Tapi kenapa lebih banyak senyuman?
Memaksa, dilepas, terus seperti itu berulang. Sampai si perempuan
akhirnya menggantungkan lengannya ke leher si laki-laki dan berputar
bersama beberapa kali.
Pada akhirnya, ini posisi yang benar-benar indah. Masing-masing
menempelkan bahu dan lengannya pada pasangannya, kakinya diletakkan
saling menjauh, tapi mereka menemukan keseimbangan untuk berjalan
bersama dengan saling bersandar.
Komposisi terakhirnya dari Kikikikikiki. Judulnya Beehive 007. Kelompok
tari dari Kansai ini terdiri dari empat perempuan dengan berbagai
bentuk tubuh. Usia mereka di kisaran 23 sampai 25 tahun.
Yang ini benar-benar butuh waktu lama banget sampai akhirnya berani
membuat kesimpulan. Itu terjadi ketika kostum mereka berganti dari
pakaian tidur ke gaun-gaun satin yang desainnya sesuai bentuk tubuh
mereka. Gaun-gaun pendek yang biasanya digunakan untuk acara-acara
formal. Masing-masing dengan warna berbeda. Gaun warna merah, sepatunya
merah. Hijau dengan hijau, ungu dengan ungu.Seperti siap untuk have a girl night out.
Mereka melakukan segalanya di atas panggung. Saling menendang, memaksa,
berteriak, bergetar, berganti baju (ya, berganti baju), berebut tas dan
sepatu dan baju.
Tapi pas mereka menggunakan gaun-gaun malam itu, aku jadi
mengidentikkannya dengan SATC, hehe. Dan jangan-jangan Beehive yang
dimaksud adalah pengibaratan tempat kost atau apartemen tempat empat
perempuan pekerja berbagi ruang hidup yang sudah sempit. Dan ini adalah
gambaran kekerasan terhadap satu perempuan di kelompok itu.
Koreografernya, Kitamari yang terlihat sangat muda itu, menyatakan
sangat tertarik pada perasaan dan sosok manusia yang bisa berbalik 180
derajat. "Semua manusia bisa mengalaminya. Dan kenapa saat melihat
adegan kekerasan, kita jadi tertawa?"
Koreografer Masako Yasumoto yang bekerjasama dengan penari Namarina
sebenarnya punya filosofi bagus. Konsep tariannya adalah membuat si
penari bisa menikmati menari dengan dirinya sendiri. Lalu ia
menambahkannya dengan gerakan yang belum pernah dicoba si penari.
Sehingga pada akhirnya, mereka menemukan dirinya yang baru. Tapi ia
juga melihat gerakan apa yang paling baik dibawakan oleh masing-masing
penari.
"Bagaimana caranya mereka bisa lebih menikmati menari. Itu yang harus
dicari terus, itu tidak ada batasnya. Kenikmatan menari tidak ada
batasnya, itu yang saya harap mereka mencari terus. Tapi menari itu
sendiri sudah cukup nikmat," kata Masako lewat penerjemah.
Dari koreografer Ludens, Takiko Iwabuchi, cuma ada ini. Bahwa ia tidak
punya teori khusus tentang ekspresi perasaan. "(Tapi) saya selalu
memikirkan hubungan antara tokoh dan kosakata tubuh."
*mematikan mode 'kritikus tari amatir'*
Posted at 06:12 am by i_artharini
Permalink
Monday, June 23, 2008
Antara Label atau Cinta di Manhattan
Bahkan dengan standar khususnya SATC ya, aku kok agak kecewa dengan
hasilnya di film. Aku membayangkan ada permainan kata yang jenaka,
banyak, seperti di serialnya. Tapi kemarin nggak ada yang istimewa.
Aku berharap pada sinismenya Miranda yang ternyata sudah nggak ada. Dia
'cuma' digambarkan sebagai perempuan menikah dengan kesulitannya
membagi waktu. Setidaknya, dari seorang Miranda, aku berharap pada
sinismenya itu yang membuat dia jadi seimbang.
Ceritanya Charlotte juga cuma bahagia terus. Ada yang (agak) lucu sih. Tapi tidak istimewa.
Carrie, terlepas dari 'kesialannya' dengan Big ya, masih jadi sosok
egosentris yang semuanya harus berputar di sekitar dia. Contoh nomor 1,
di adegan Carrie, Charlotte, Miranda baru ketemu sebelum lelang
perhiasan Christie's, yang Carrie bilang tentang Miranda 'seharusnya'
iri sama dia gara-gara dapat surga real estat Manhattan itu sementara
Miranda tinggal di Brooklyn?
Terus, lagi, pas Carrie-Miranda lagi milih kostum Halloween dan ada
anak kecil lari-lari pakai masker monster. Aku seharusnya berada di
pihaknya Carrie, tapi ada yang terkesan smug dan tidak simpatik saat
Carrie bilang, "It takes more than that for me to be scared after what
Big put me through."
Mungkin karena adegan si anak lari-lari pakai masker itu memang nggak
nakutin, jadi ketika si Carrie ngomong gitu, aduh drama queen banget
sih.
Aku selalu (paling) suka jatah cerita yang dikasih ke Samantha. Karena,
di antara mereka semua, Samantha-lah yang paling 'diizinkan' oleh
penulisnya untuk tetap menjadi dirinya sendiri. Her outrageous, extreme
self.
Kompromi bukanlah bahasa yang ia mengerti. Mungkin kalau Samantha Jones
punya aforisma, maka itu ialah, "I love you, but I love me more."
Ada sih di sini momen saat Samantha diberi dialog yang lucu. Tapi
perempuan ini kan, di televisi, benar-benar bisa membuat tergelak
berkali-kali. Kok sekarang, dari momen lucu yang sudah terbatas itu,
salah satunya adalah salah ucap tak kreatif antara 'deck' dan 'dick'.
Walaupun pada akhirnya, Samantha masih diizinkan kembali pada dirinya sendiri. Yang malah jadi pelajaran terbaik dari film ini.
Geli sih waktu mendengar dialog-dialog yang menegaskan, bagi
perempuan-perempuan ini, bahwa Manhattan adalah batas peradaban
(Brooklyn sudah tidak beradab buat mereka). Tapi, hey, snob-isme
Manhattan adalah salah satu alasan kenapa serial ini berpengaruh kan?
Antara itu dan label desainernya.
Oh ya, anak ceritanya Jennifer Hudson juga datar-datar saja. Maksudnya,
kalau tujuannya untuk diparalelkan dengan ceritanya Carrie, kurang
kuat.
Tapi ya sudahlah. Masih tetap seru. Apalagi kalau aku jadi bagian dari
rombongan yang paling ramai seruangan, haha. Itu belum pernah terjadi
sebelumnya.
Posted at 06:30 am by i_artharini
Permalink
|
|
|