PENARI MUNGIL


(Saya bukan seorang penari. Pun sangat jauh dari mungil. Tapi, tahu kan adegan 'Tiny Dancer' di 'Almost Famous'? Sensasi membahagiakan dari adegan itulah yang saya kejar..)



Hold me closer, tiny dancer

Count the headlights on the highway

Lay me down in sheets of linen

You had a busy day, today


("Tiny Dancer" - Elton John)





"...the quest for transcendence has always been closely linked to the ecstatic release of dancing."
(Resensi RollingStone atas sebuah album pop)

Mr. Darcy: "So what do you recommend, to encourage affection?"
Elizabeth Bennet: "Dancing, even if one's partner is only tolerable."
(Pride & Prejudice, 2005)


perempuan, 1983, lovesick soul, berjalan kaki, belajar menulis, menonton film, ingin keliling dunia, Billie Holliday, Jane Austen, 'Franny and Zooey', cerita pendek F Scott Fitzgerald, lagu-lagu sedih, kecanduan membeli buku second, deretan buku di lemari, berkeliling dengan bis kota, mengepak koper, menari bebas, Vogue, sepatu, bad boys, kopi, kuliner, foto, semua yang vintage, genggaman tangan, pelukan hangat, detil percakapan antara manusia, kegelisahan, kesepian, ruang pencarian, belajar dewasa, museum dan bangunan tua, hari hujan, sinar matahari hangat di hari berangin, airport, stasiun kereta, dan pertanyaan tanpa akhir

YM: isyana_artharini
Email: i.artharini@gmail.com
   

<< July 2008 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Tuesday, July 01, 2008
Bersalah

Ingat nggak, sale-sale penutupannya QB itu masih menyisakan trauma yang membekas sampai sekarang?

Trauma karena beberapa alasan. Pertama, that I spend a ridiculous amount of money for those sales. Dan, sampai sekarang, muncul rasa bersalah melihat buku-buku yang halamannya masih terlihat renyah karena belum sempat dibuka.

Oke, sale itu mengenalkan aku buku hariannya Virginia Woolf, Joyce, sebagian Eudora Welty, lebih banyak Fitzgerald, sekelumit George Eliot, Balzac, Tolstoy, dst, dst. Tapi aku juga jadi ingat sama Welty-Welty yang belum sempat terbuka, biografinya Edna St Vincent Millay, antologi wawancaranya Allen Ginsberg, setumpuk Alice Munro dan (karena ingin membaca seseorang bernama belakang Rusia) Virgin Soil-nya Ivan Turgenev. Itu cuma menyebut beberapa alasan aku merasa bersalah.

Dan aku punya banyak alasan untuk merasa bersalah. Karena saat memilihnya, aku selalu siap dengan berbagai justifikasi dan alasan.

Tapi QB ternyata belum melepaskan cengkeramannya padaku. Well, mungkin karena I'm a no good addict yang nggak punya disiplin diri ya.

Pas Sabtu kemarin liputan di Pesta Buku Jakarta, aku menemukan satu kios yang masih menjual buku-bukunya sisa QB. Ada 'This Side of Paradise' yang dijual 20 ribu sahaja.

Kumpulan cerpennya Raymond Carver, dijual dengan harga sama. Plus antologi tulisan musik terbaik tahun 2000, salah satu penulisnya adalah Susan Orlean ('Pencuri Anggrek').

Tangan ini sudah otomatis mengambil dua buku lagi (masih dengan harga 20 ribu) sebelum akhirnya menyadarkan diri akan jumlah uang di dompet. Yang ternyata cuma Rp 40 ribu plus plus (lembar ribuan).

Raymond Carver is a definite yes. Antologi tulisan musik terbaik itu dipilih karena harganya cuma Rp10 ribu (!) dan hasrat terpendamku untuk jadi Caroline Fortis. (Di High Fidelity versi film, menjelang akhir, karakter Rob Gordon-nya John Cusack dihadapkan pada perempuan muda usia 26 yang bekerja jadi peresensi musik di sebuah zine dan mewawancarai karakternya Cusack. Gordon yang snob dengan pengetahuan musiknya, pada Caroline, bilang, "You're that Caroline Fortis? I read your column. You really know what you're talking about." Iya. Gue cuma pengen jadi orang yang benar-benar tahu akan apa yang gue tulis. Jadi aku pengen melihat cara orang lain menulis musik, dari metode sampai sudut pandang, sampai cara menggali  topiknya. Dan bagaimana mereka bisa percaya diri sama sudut pandangnya itu, atau pilihan topiknya. So there.)

Sebenarnya ada antologi lengkapnya Allen Ginsberg. Yang harganya cuma Rp 30 ribu. Dan 'Howl' ada di dalamnya. Tapi sudahlah. Let's be a better (wo)man. 

Posted at 05:52 am by i_artharini
Make a comment  

Friday, June 27, 2008
Sabun

Aku baru melihat bagaimana konstruksi kecantikan tengah bekerja beberapa waktu lalu. Saat Watson's Citraland lagi mengadakan sale.

Watson's, buat yang butuh terjemahan, itu sejenis Kruidvat atau Etos. Kalau dibandingkan sama Guardian atau sejenisnya, kok aku belum pernah melihat yang ukurannya selega ini ya? Gang-gangnya lebih lebar, leluasa, terus penataan barangnya juga menggoda. Ada gang khusus kosmetikanya juga.

Selesai nge-gym, tapi masih 'kepagian' datang ke kantor. Akhirnya mampir dulu di situ. Habis penasaran sih, kenapa kok ramai banget. Ternyata itu lagi hari terakhir sale.

Yang dipotong harganya sebenarnya cuma beberapa produk. Dan setelah pengurangan pun masih terasa tidak jauh beda. Paling cuma berkurang Rp6 ribu sampai Rp8 ribuan, tapi tetap saja, ramai.

Entah kenapa, pemandangan yang dominan kok pasangan suami-istri muda tanpa anak. Suami-suami dengan wajah kegelian nggak habis pikir melihat istrinya sibuk memilih krim creambath toples besar yang harganya jadi Rp 30 ribuan dari yang asalnya Rp 40 ribuan (seingatku). Pokoknya itu produk yang paling laris.

Ada juga suami berwajah tidak sabaran, tapi si istrinya masih ragu-ragu, beli nggak ya, beli nggak ya. Akhirnya, "Ya udah. Kalau jadi, ayo," terlontar juga. Sementara aku, selain meragukan keefektifan produk bermerek sama seperti nama tokonya, juga nggak menangkap apa asyiknya creambath di rumah sendiri? Bukankah esensinya creambath itu kepala dipijat-pijat dan kamu (membayar untuk) 'dirawat' orang lain?

Tapi aku juga skeptis pada keefektifan banyak produk kecantikan, sepertinya. Setiap sabun, sampo, lotion, masker, bedak, parfum, perona pipi, lipstik, lipgloss, menurutku adalah sebuah alat bantu subyek pemakainya untuk menjadi sosok baru, setiap kali. Ini bukan pandangan nyinyir, karena aku pernah, sedang dan masih mengalaminya, maka aku bisa berpendapat seperti itu.

Yang asalnya aku kebal, tapi jadi luluh ketika melihat sabun cair Lux berdesain botol baru. Ada yang baunya enak, namanya Magic Spell. Katanya, "For Soft and Fragranced Skin." Tapi ada wangi lain yang namanya Sweet Kisses. Tertarik karena katanya ada aroma peachnya. Khasiatnya, "For Soft and Kissable Skin."

Nah ini. Yang mana yang aku pilih ya? Soft and fragranced atau soft and kissable?

Terpaksalah membayangkan skenario-skenario imajinasi yang melibatkan....(enaknya siapa ya?) Channing Tatum? Clive Owen? (waktu ini belum teringat sama Eric Bana). Pokoknya obyek afeksi lah.

Padahal ini kan cuma sabun. Kenapa pula aku harus mengasosiasikannya dengan skenario romantis atau fantasi atau, bahkan, siapa aku sebagai seorang manusia? Toh, seperti sudah dialami berkali-kali sebelumnya, wanginya paling lama tahan sampai lima menit saja. Tidak akan cukup kuat sampai membuat si obyek afeksi berpaling seperti di iklan-iklan itu bukan?

Sementara, salah satu eyangku suka membeli sabun Pears yang oranye bening itu buat mukanya. Selain faktor kebiasaan dari dulu, beliau suka sabun itu karena tidak ada baunya. Yang penting buat dia adalah fungsi.

Baru dari sinilah aku sadar. Oh iya, ini to maksudnya konstruksi kecantikan, ketika sabun tidak berarti jadi sekadar sabun. Tapi jadi 'alat' untuk memperbarui, merubah dan memperbaiki diri.

Akhirnya aku memilih Magic Kisses atas pertimbangan, kulit berbau harum dulu baru bisa kissable, haha.

Setelah itu pun masih ditambah lotionnya Dewi Sri Spa yang, walaupun didiskon, masih lumayan membuat kantong langsung kosong. Tapi aku sudah jatuh cinta sama baunya yang campuran teh dan mawar itu. Dan sekarang, baru seminggu dipakai kok ya sudah tidak sampai setengah botol ya?

Ya, ya, ini bukan cerita tentang aku yang menyadari kekuatan rekayasa nilai kecantikan lalu berpaling, tapi menyadari bahwa sistem itu ternyata sudah inheren dalam otak.

Antara itu atau aku jatuh cinta pada wangi.

Oalah, fantasi, fantasi.

Posted at 06:39 am by i_artharini
Make a comment  

Pustakawan Fantasi

Suatu siang yang terik dan saya berada di boncengan sebuah ojek. Tujuannya, sebuah kantor pengawas lingkungan daerah di mulut terowongan Casablanca.

Dari semua topik yang bisa saya pikirkan ketika berada di boncengan ojek, dari mulai pemanasan global sampai lipstik, Rosemary dan John Cassavettes, gym dan pekerjaan, otak saya memilih berhenti pada...Eric Bana. Entah mengapa.

Baru dari situ pikiran saya mengembangkan cabang-cabangnya dan sampai ke adaptasi film Time Traveller's Wife. Beberapa waktu sebelumnya, saya sempat lihat-lihat di imdb tentang adaptasi film itu dan mengetahui bahwa Bana-lah yang akan berperan jadi si pustakawan bad boy, Henry DeTamble itu.

Cabang yang lain sampai pada beragam imajinasi yang tak akan saya biarkan diketahui oleh ibu saya.

Waktu di gym sesudah liputan dan saya mengejutkan diri sendiri dengan berlari (!) (aktivitas yang tidak saya sukai selama sepuluh, dua belas tahun terakhir) (mungkin lebih tepatnya jogging dengan kecepatan 6 km per jam)(dan cuma selama tiga menit, terus jalan dulu, lanjut tiga menit lagi, tapi, hey, saya lari!), E! lagi memutar acara Victoria's Secret Sexiest.

Untuk kategori Sexiest Actor 2008 ya, ternyata yang mendapat adalah Eric Bana. Dan diputarlah kumpulan klip yang menunjukkan Bana, salah satunya dengan lengan bervolume mengagumkan itu dari sebuah adegan di film Troy. Kaki tetap berlari, tapi darah saya berhenti berlari.

Beneran deh, kalau pustakawan saya seperti itu...uggh.

Dan teringat pertanyaan si Anak Salman akhir pekan lalu, "Jadi, Nar. Elu gadis perpustakaan atau gadis museum?"

Fufufufu, pustakawannya Eric Bana ya...

Kapan siihh Time Traveller's Wife rilis?

Posted at 02:34 am by i_artharini
Make a comment  

Thursday, June 26, 2008
Starstruck(?)

Seharusnya, pada saat ini, saya mulai mengetik tentang liputan tadi siang, tentang Chairil dan Kota. Karena merasa kepala lagi terlalu penuh, ya sudah, mampir curhat sebentar di sini.

Entah kebetulan atau tidak, kok sepertinya  'doa-doa' saya itu terwujud lewat membaca berulang-ulang ya? Padahal saya tidak menyadarinya, atau memaksudkannya, sebagai sebuah 'doa'.

Contohnya ini, karena otak menulis yang tidak kunjung cair, maka untuk melumerkan, saya membaca ulang teks tertentu yang saya anggap sempurna. Eh, keesokannya, ternyata saya dapat pesan pendek dari si penulis teks.

Kemarin-kemarin, baru Selasa lalu, sambil menunggu tersambungnya panggilan telepon ke seorang narasumber, saya membolak-balik majalah Tempo edisi 27 April 2008. Hanya karena kebiasaan, saya membuka mulai dari halaman belakang.

Sudah lama sekali saya tidak membaca Caping untuk alasan yang bermacam-macam. Tapi yang ini kalimat pertamanya langsung sebuah kutipan, "...Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam."

Ya, ya, karena jam kerja sekarang, saya jadi sensitif mendengar kata malam. Kutipan itu ternyata dari puisinya Chairil. Judulnya "Perjurit Jaga Malam." Ada sesuatu yang bangkit dalam hati saya ketika pada kalimat-kalimat selanjutnya tertulis, "Bagian penting dari 27 tahun dalam hidupnya intens, bergairah, gemuruh, dan khaotis."

Pada bagian selanjutnya, juga ada catatan dari Chairil: ...wijsheid + inzicht tidak cukup, musti stimulerende kracht + enthousiasme. (kebijaksanaan dan insight tidak cukup, musti (punya) kekuatan yang menstimulir + antusiasme)

Mungkin karena itu, atau karena subyeknya, atau karena saya ingin mengetahui sebuah cara menjalani hidup, maka saya membaca "Hoppla!"--judul esai itu--sampai selesai.

Lalu ulang lagi dari atas. Selesai.
Ulang lagi dari atas. Selesai.
Sampai tiga atau empat kali, saya lupa tepatnya, saya ulangi membaca esai itu. Dari yang memahami sepenuhnya, jadi malah tidak memahami sama sekali, lalu seperempat memahami, dan terakhir, lupa apa yang saya pahami.

Dan doa yang terwujud?

Karena hari ini, untuk pertama kalinya, saya bertemu dengan--atau tepatnya, menonton--si penulis esai. Dan dia berbicara tentang Chairil.

Apa yang dia lakukan adalah murni penampilan. Caranya menjawab pertanyaan, terutama. Apalagi saat jawabannya menjelang berakhir, ada kesan finalitas yang khas sebuah pertunjukan. Bahkan sering pertunjukan yang benar-benar diniatkan sebagai pertunjukan dalam artian 'konvensional' pun tak menunjukkan finale setegas (dan sedramatis) itu. Dia membuatnya sebagai sesuatu yang alamiah ketika kita, penontonnya, bertepuk tangan di bagian akhir.

Baru akhir pekan yang lalu saya menonton Elegy dengan Ben Kingsley dan Penelope Cruz. Film yang menarik karena beberapa unsurnya. Pertama, diangkat dari novelnya Philip Roth.

Roth--dan saya rentan salah di sini--sering mendapat reputasi sebagai penulis egosentris yang misoginis. Tapi seperti katanya karakter Philip di Puccini for Beginners, "I dare you to say something not cliche about Philip Roth."

Selain itu, sutradaranya Elegy adalah Isabel Coixet yang juga membuat My Life Without Me, salah satu film favorit saya. Lalu ada juga faktor pengembangan cerita dan kesimpulan yang bisa membuat saya menulis satu posting lagi.

Tapi, waktu itu saya mau mempertanyakan, ada apa sih dengan perempuan-perempuan muda yang tertarik sama profesor-profesor kritikus budaya/penulis seperti di Starting Out in the Evening atau Elegy?

Di Elegy, karakter David Kepesh, si profesor itu--yang saya curigai adalah alter egonya Roth--diperankan oleh Ben Kingsley dengan bungkusan elegan untuk muslihatnya yang berstrategi.

Selama si eseis berbicara dan menjawab pertanyaan, yang saya bayangkan cuma David Kepesh-nya Ben Kingsley. Jangan-jangan Kingsley berguru pada si eseis untuk menampilkan profesor Kepesh. Atau ada 'tongkrongan' standar untuk kritikus budaya ketika mereka mencapai usia tertentu?

Setelah diskusinya bubar pun, orang-orang pada mengerumuninya. Dari mulai mengajaknya bicara tentang FPI sampai sekadar menjabat tangan seolah si penjabat berterimakasih atas hidup yang diberikan sosok ini padanya.

Sang Junjungan--sebutannya dalam diskusi itu--sedang memegang rokok di antara telunjuk dan jari tengah tangan kanannya ketika seseorang datang dan memanggil namanya. Tangannya diulurkan, seolah akan memberi sesuatu. Tangan Sang Junjungan sudah terbuka, seakan siap menerima sesuatu, entah uang receh atau kunci mobil. Tapi si pengulur tangan itu cuma menjabat saja dan bilang, "Terima kasih."

Untuk?

Dari nadanya sih seperti "terima kasih untuk datang dan berbicara hari ini dan memberikan pencerahan bermakna pencarian ribuan tahun pada saya".Tapi ini interpretasi (dramatis) saya.

Mungkin itu ya rasanya berada di posisi dia. Ketika seseorang yang datang dan mengucapkan terima kasih hanya untuk dia eksis itu bukan hanya satu, dua.

Posted at 11:40 pm by i_artharini
Make a comment  

Tuesday, June 24, 2008
We're Gonna Go Dancing!!

Ini sisa dari liputan pertunjukan We're Gonna Go Dancing!! di Goethe Haus, Rabu (18/6) lalu. Awalnya agak bimbang, mau dibuat liputan atau tidak. Tapi karena keterbatasan stok liputan, ya sudahlah. Toh juga nggak akan diambil sama edisi pagi.

Ceritanya pertunjukan ini adalah bagian dari turnya jaringan tari kontemporer Jepang (Japan Contemporary Dance Network-JCDN) ke empat kota di Indonesia; Jakarta, Bandung, Yogya dan Solo. Tahun lalu, mereka cuma mampir di Jakarta dan Solo. Tahun ini, bertepatan dengan 50 tahun peringatan hubungan Indonesia-Jepang, perhentian tur pun ditambah.

Ada empat komposisi yang ditampilkan. Masing-masing komposisi memungkinkan penontonnya icip-icip rasa tari kontemporer Jepang, seberapa mendebarkannya (atau mungkin membosankannya) scene itu di berbagai kota di Jepang. Tapi salah satu komposisinya ditarikan oleh penari-penari Namarina. Koreografinya karya koreografer Jepang.

Oke, tarian pertama. Yang aku tulis di buku catatan: 'a hip-hop affair?'

Curiganya sih dari loncatan, langkah-langkahnya, dan gerakan mengalir yang khas itu. Akhirnya lampu mati. Dan pas menyala lagi, kecurigaanku benar. Sebuah komposisi hip-hop.

Ada varian gerakan moonwalk diiringi musik-musik electronica model Daft Punk. Dan breakdance dalam kekuatan penuh. Sampai, beberapa saat kemudian, musiknya kembali ke tempo yang lebih santai dan karakter yang ditampilkan Kentaro, si penari solo itu, balik ke 'dirinya' yang pemalu dan tertutup.

Ia mencoba melakukan pengontrasan bunyi lagu latar. Antara yang 'kasar' dan 'buram' dari bunyi piringan hitam ke kerenyahan emosi lagu-lagu R&B tipe-tipe Chris Brown dan Ne-Yo itu. Seperti momen atau ruang gelap yang personal dan kadang menyergap itu dikontraskan dengan ritme kehidupan yang 'pop'.

Gerakan breakdancenya kembali muncul lebih kentara. Musik latarnya juga lebih cepat dan lebih elektronik. Semuanya sangat pop dan muda. Lalu komposisinya lebih menjadi sebuah gaya jalanan yang tidak terlalu tertata. Dan Kentaro terus menari tanpa musik.

Lumayan. Tapi tidak ada saat-saat yang membuatku merinding. Padahal ruangannya dingin banget.

Selanjutnya, sembilan penari perempuan dan seorang penari laki-laki dari Namarina. Komposisinya butuh waktu (agak) lama sebelum aku sampai pada kesimpulan. Inti-inti gerakan baletnya masih ada.

Ada gerakan yang aku sukai. Banget. Badan si penarinya berputar, tapi kaki yang jadi tumpuannya berganti-ganti. Pada saat itulah aku berharap menjadi seorang penari balet. Tapi terus aku teringat dengan kisah Zelda Fitzgerald. Dan memilih untuk langsung mengabaikan keinginan itu.

Komposisinya penuh permainan, energetik. Kadang mereka menjadi marionette, kadang jadi chorus girl dengan gerakannya yang seragam. Ternyata intinya adalah masing-masing dari mereka menari dengan kekuatannya masing-masing. Komposisi yang (seharusnya) menegaskan individualisme. Masing-masing menjadi penari solo dalam ensemble.

Mungkin karena faktor usia atau entah apa. Penampilan mereka dingin dan tanpa emosi. Kosong. Yang bergerak hanya badan, tapi tidak ada getaran yang sampai di hatiku. Baru gerakan-gerakan tanpa jiwa. Dan 'kegagalan' menggetarkan itu terlihat lebih jelas dalam komposisi yang lebih pelan.

Seperti kharisma masing-masing mereka belum cukup kuat atau menonjol untuk menguasai seni menjadi individual di tengah kerumunan.

Dan keyakinanku akan 'vonis' itu jadi makin kuat setelah melihat penampilan selanjutnya. Pasangan laki-laki dan perempuan dari Dance Theatre Ludens (dari homo ludens). Komposisinya paling subtil, sublim, anggun tapi sederhana. Ternyata when it comes to....everything really, I like subtle best.

Menarik sekali. Komposisinya berawal dari rambut. Penari perempuannya hanya memindah-mindahkan rambutnya. Si penari laki-laki, yang memang gundul, menggesturkan tak memiliki apa yang dimiliki 'Sang Hawa'.

Gerakannya berawal sangat sederhana, tapi sarat emosi. Yang terjadi selanjutnya adalah pengejaran si laki-laki akan rambut si perempuan. Dari rambut, ke kaki.

Oh, ini cerita tentang pengejaran tubuh orang lain untuk sekadar menjadi. Pengejaran dan penghindaran yang jadi permainan menggoda. Membuat penasaran. Menyenangkan tapi juga mengesalkan.

Pengejaran-pengejaran itu yang, pada satu saat dalam komposisi, membuatku tergelitik. Tak sampai tergelak saking subtilnya koreografinya. Tapi cukup untuk membuat tersentuh.

Pas aku bilang ke Photographer of the Year yang ikut datang memotret tentang komposisi ini, dia bilang, "Aku nggak suka. Aku nggak suka kepala diinjak-injak walaupun atas nama seni." Ya sudahlah, ini orang memang sudah punya kode moral yang tegas. Biarkan saja dia dengan pikirannya.

Setelah si penari laki-laki pergi, si penari perempuan menari solo yang mengesankan ia sedang mengecek 'kelengkapan' tubuhnya. Paha, pantat, perut, punggung, pinggang, dada. Semuanya ternyata masih pada tempatnya.

Semuanya, benarkah?

Lalu berlanjut ke lengah, wajah, hidung, sampai kerutan di mukanya.

Saat si penari laki-laki muncul lagi, gerakannya berfokus pada usaha 'menangkap' si perempuan. Yang awalnya nuansa penolakan kuat, sekarang jadi pemaksaan. Tapi kenapa lebih banyak senyuman?

Memaksa, dilepas, terus seperti itu berulang. Sampai si perempuan akhirnya menggantungkan lengannya ke leher si laki-laki dan berputar bersama beberapa kali.

Pada akhirnya, ini posisi yang benar-benar indah. Masing-masing menempelkan bahu dan lengannya pada pasangannya, kakinya diletakkan saling menjauh, tapi mereka menemukan keseimbangan untuk berjalan bersama dengan saling bersandar.

Komposisi terakhirnya dari Kikikikikiki. Judulnya Beehive 007. Kelompok tari dari Kansai ini terdiri dari empat perempuan dengan berbagai bentuk tubuh. Usia mereka di kisaran 23 sampai 25 tahun.

Yang ini benar-benar butuh waktu lama banget sampai akhirnya berani membuat kesimpulan. Itu terjadi ketika kostum mereka berganti dari pakaian tidur ke gaun-gaun satin yang desainnya sesuai bentuk tubuh mereka. Gaun-gaun pendek yang biasanya digunakan untuk acara-acara formal. Masing-masing dengan warna berbeda. Gaun warna merah, sepatunya merah. Hijau dengan hijau, ungu dengan ungu.Seperti siap untuk have a girl night out.

Mereka melakukan segalanya di atas panggung. Saling menendang, memaksa, berteriak, bergetar, berganti baju (ya, berganti baju), berebut tas dan sepatu dan baju.

Tapi pas mereka menggunakan gaun-gaun malam itu, aku jadi mengidentikkannya dengan SATC, hehe. Dan jangan-jangan Beehive yang dimaksud adalah pengibaratan tempat kost atau apartemen tempat empat perempuan pekerja berbagi ruang hidup yang sudah sempit. Dan ini adalah gambaran kekerasan terhadap satu perempuan di kelompok itu.

Koreografernya, Kitamari yang terlihat sangat muda itu, menyatakan sangat tertarik pada perasaan dan sosok manusia yang bisa berbalik 180 derajat. "Semua manusia bisa mengalaminya. Dan kenapa saat melihat adegan kekerasan, kita jadi tertawa?"

Koreografer Masako Yasumoto yang bekerjasama dengan penari Namarina sebenarnya punya filosofi bagus. Konsep tariannya adalah membuat si penari bisa menikmati menari dengan dirinya sendiri. Lalu ia menambahkannya dengan gerakan yang belum pernah dicoba si penari. Sehingga pada akhirnya, mereka menemukan dirinya yang baru. Tapi ia juga melihat gerakan apa yang paling baik dibawakan oleh masing-masing penari.

"Bagaimana caranya mereka bisa lebih menikmati menari. Itu yang harus dicari terus, itu tidak ada batasnya. Kenikmatan menari tidak ada batasnya, itu yang saya harap mereka mencari terus. Tapi menari itu sendiri sudah cukup nikmat," kata Masako lewat penerjemah.

Dari koreografer Ludens, Takiko Iwabuchi, cuma ada ini. Bahwa ia tidak punya teori khusus tentang ekspresi perasaan. "(Tapi) saya selalu memikirkan hubungan antara tokoh dan kosakata tubuh."

*mematikan mode 'kritikus tari amatir'*

Posted at 06:12 am by i_artharini
Make a comment  

Monday, June 23, 2008
Antara Label atau Cinta di Manhattan

Bahkan dengan standar khususnya SATC ya, aku kok agak kecewa dengan hasilnya di film. Aku membayangkan ada permainan kata yang jenaka, banyak, seperti di serialnya. Tapi kemarin nggak ada yang istimewa.

Aku berharap pada sinismenya Miranda yang ternyata sudah nggak ada. Dia 'cuma' digambarkan sebagai perempuan menikah dengan kesulitannya membagi waktu. Setidaknya, dari seorang Miranda, aku berharap pada sinismenya itu yang membuat dia jadi seimbang.

Ceritanya Charlotte juga cuma bahagia terus. Ada yang (agak) lucu sih. Tapi tidak istimewa.

Carrie, terlepas dari 'kesialannya' dengan Big ya, masih jadi sosok egosentris yang semuanya harus berputar di sekitar dia. Contoh nomor 1, di adegan Carrie, Charlotte, Miranda baru ketemu sebelum lelang perhiasan Christie's, yang Carrie bilang tentang Miranda 'seharusnya' iri sama dia gara-gara dapat surga real estat Manhattan itu sementara Miranda tinggal di Brooklyn?

Terus, lagi, pas Carrie-Miranda lagi milih kostum Halloween dan ada anak kecil lari-lari pakai masker monster. Aku seharusnya berada di pihaknya Carrie, tapi ada yang terkesan smug dan tidak simpatik saat Carrie bilang, "It takes more than that for me to be scared after what Big put me through."

Mungkin karena adegan si anak lari-lari pakai masker itu memang nggak nakutin, jadi ketika si Carrie ngomong gitu, aduh drama queen banget sih.

Aku selalu (paling) suka jatah cerita yang dikasih ke Samantha. Karena, di antara mereka semua, Samantha-lah yang paling 'diizinkan' oleh penulisnya untuk tetap menjadi dirinya sendiri. Her outrageous, extreme self.

Kompromi bukanlah bahasa yang ia mengerti. Mungkin kalau Samantha Jones punya aforisma, maka itu ialah, "I love you, but I love me more."

Ada sih di sini momen saat Samantha diberi dialog yang lucu. Tapi perempuan ini kan, di televisi, benar-benar bisa membuat tergelak berkali-kali. Kok sekarang, dari momen lucu yang sudah terbatas itu, salah satunya adalah salah ucap tak kreatif antara 'deck' dan 'dick'.

Walaupun pada akhirnya, Samantha masih diizinkan kembali pada dirinya sendiri. Yang malah jadi pelajaran terbaik dari film ini.

Geli sih waktu mendengar dialog-dialog yang menegaskan, bagi perempuan-perempuan ini, bahwa Manhattan adalah batas peradaban (Brooklyn sudah tidak beradab buat mereka). Tapi, hey, snob-isme Manhattan adalah salah satu alasan kenapa serial ini berpengaruh kan?

Antara itu dan label desainernya.    

Oh ya, anak ceritanya Jennifer Hudson juga datar-datar saja. Maksudnya, kalau tujuannya untuk diparalelkan dengan ceritanya Carrie, kurang kuat.

Tapi ya sudahlah. Masih tetap seru. Apalagi kalau aku jadi bagian dari rombongan yang paling ramai seruangan, haha. Itu belum pernah terjadi sebelumnya.

Posted at 06:30 am by i_artharini
Make a comment  

Pasca SATC

Gara-gara SATC jadi membuat daftar keinginan imajiner di kepala (daftarnya yang imajiner, bukan keinginannya). Satu, sandal gladiator. Dua...ermm, Manolo?

Enggak sih, kayaknya yang ada harga 'murahnya' cuma sandal gladiator aja. Eh tahunya pas kemarin ke Plangi langsung nemu berbagai model sandal gladiator itu.

Apa mungkin sudah terlalu lama tidak ke pusat perbelanjaan dan melihat sepatu-sepatu ya? Jadi pengen beli semua. Ada sandal gladiator, ada ankle boots (yang desain, material, dan warnanya lumayan oke buat harga yang miring. Haknya juga super kitten heels gituuuu), sama sepatu ballerina warna emas lembut dengan tali di bagian depannya.

Jadi seperti harus memutuskan antara my old ballerina flats-lover self (halah) dan my new Chloe Sevigny inspired ankle boots lover self. Atau ya peniru Carrie Bradshaw self.

Secara 'teori' dan logika, kayaknya sih aku nggak bakal suka ankle boots. Tapi pada prakteknya, ketika melibatkan emosi, setelah melihat versi nyatanya, kok keren banget ya?

Terpaksa kecewa gara-gara, setelah dicoba, aku baru sadar. Ankle boots atau sandal gladiator itu nggak bakal kelihatan efeknya kalau pakai celana panjang. Cocoknya dipakai sama orang-orang yang nunjukin betis ke bawah. Ah.

Tapi sandal gladiatornya itu benar-benar menggoda. Warnanya coklat tua. Ada deretan kulit coklat melintang di bagian punggung kaki. Padat banget. Terus ada dua buckle emas di bagian pergelangan. Datar sih. Kalau ada haknya, nggak butuh waktu lama sebelum dikunyah dan dilepeh sama trotoar Jakarta.

Aku sudah agak cemas dengan buckle ganda dan desain yang 'padat' itu, takut kesannya mencekik kaki. Setelah dipakai, ih, kok jadi keren banget ya?

Cuma pas ujung celananya diturunin ke panjang aslinya, lah bucklenya nggak kelihatan. Padahal kan itu yang membuatnya jadi gladiator.Dan keren.

Sempat nyoba tiga kali sebelum akhirnya ditinggal. Balik lagi ke tempat itu karena mau lihat-lihat tas. Tapi akhirnya berhenti lagi di depan si gladiator itu. Coba lagi.
Masih tetap keren, hehehe.

Akhirnya, "Iya deh, mbak. Diambil."

So, meniru katanya Koalala: "Elu kok jadi ikut tren itu juga?"

Iya, I get Carrie-d away ceritanya.

Posted at 05:59 am by i_artharini
Make a comment  

Friday, June 20, 2008
(Rencana) Akhir Pekan

Oke, Jumat sepertinya masih ada liputan. Dan gym.

Tapi Sabtu, sudah merencanakannya sebagai hari eskapisme. Pengen memanjakan diri, merawat diri, terus nonton film-film noir. Kemarin baru menemukan (dan beli) High Sierra, Dark Passage, They Drive by Night sama The Postman Always Rings Twice.

Jadi, besok bakal jadi perkenalanku dengan Lana Turner sama Ida Lupino. Lebih banyak Bogart, dan satu lagi film duetnya dengan Bacall.

Btw, kemarin-kemarin waktu di gym sambil nonton Thank You For Smoking. Di situ ada adegan karakternya Aaron Eckhart--siapa itu si eksekutif perusahaan rokok?--yang menyitir data produksi rokok bisa melonjak, salah satunya karena pengaruh film.

Percintaan besar Hollywood dalam wujud Bogart dan Bacall pertama kali 'disegel' di atas rokok lewat To Have and Have Not. "Anybody got a match?" tanya Bacall.

Bener banget. Gara-gara film itu aku jadi merasa haus rokok.

Btw, Sex and the City: the Movie sudah main lhoo. Iya, itu nggak bakal jadi pencapaian sinematis yang prestisius (kecuali mungkin fakta bahwa Patricia Fields, si penata gaya film dan serialnya, sudah menjadi Edith Head generasi 'kita' itu bisa dibilang sebuah pencapaian), tapi menyenangkan aja lihat tasnyaaa, sepatunyaaa, bajunyaaa, hehehe.

Makanya aku jadi sedih duduk sendiri. Siapa ya yang bisa diajak nonton film itu?

Orang-orang yang aku pengen nonton-bareng-in pada nggak ada di sekitarku. Rani atau teman-teman yang dulu sering nonton bareng serialnya Selasa malam lagi pada jauh-jauh, huks.

Tapi pas aku cerita tentang "katanya nonton bareng Euro di Erasmus kalau Belanda lagi main ada bir gratisnya lhoo."

Si Anak Salman bilang, "Nanti kan Belanda ketemu Rusia. Seru banget. Mau? Yuk, yuk, yuk. Tapi pulangnya gimana?"

Sha2 dan aku: "Gampanglah."

AS: "Kan mulainya jam 1.45. Emm, gimana kalau kita nonton SATC dulu?"

Aku dan Sha2: "Yuk, yuuukkk."

Fingers crossed.

Posted at 06:29 am by i_artharini
Comment (1)  

Thursday, June 12, 2008
Tete a tete

Tepat seminggu yang lalu aku ketemuan sama Ms Know-It-All buat tete-a-tete makan siang. Kita jadi ladies who lunch, ceritanya. Dan karena aku butuh ketemu sama orang lain, tanya-tanya kabar, denger cerita yang tidak aku familiari. Sesuatu yang baru lah intinya.

Memilih ketemuan di Oakwood--biar habis itu bisa mampir ke Ambassador, hehe--terus mau milih tempat pas sudah di sana. Akhirnya ke Loewy lah.

Itu restoran interiornya keren banget. Berasa di New York (halah). Interiornya sih gaya-gaya art deco, temboknya bata dicat putih. Terus mereka punya tempat-tempat duduk yang agak mirip kompartemen itu, kursinya sofa, dan terlindung. Ada pembatas di bagian belakang kepala.

Lain-lainnya, meja kayu segi empat sederhana. Tapi kaki mejanya bekas kaki mesin jahit Singer model kuno. Kursi kayu sederhana juga. Di atas mejanya ada botol Coca cola lama, diisi air sama satu tangkai bunga daisy, asli, yang kelopaknya besar. Warnanya ungu muda lembuuut banget.

Ada kipas angin juga yang berputar pelan. Sangat New York 1920an deh. Nggak kaget kalau tiba-tiba Dorothy Parker masuk dan pesan martini. (Btw, itu tempat menjual martini dengan berbagai rasa. Selain yang standar with a twist atau olive, ada juga White Chocolate, Raspberry Cheesecake [!], ah pokoknya menu cocktailnya lengkap banget deh. Plus wine, rose, dst, dst)

Makanan yang kita pesan sih rasanya biasa saja. Ada yang lebih istimewa dengan harga yang lebih murah. Tapi suatu hari nanti, mungkin enak kalau buat nyantai sore-sore sambil menyisip martini, hehe.

Sesi tanya-jawab kabar masing-masing pun berjalan.

Ms Know-It-All lagi merasa banyak hal yang lumayan going good dalam hidupnya, nggak seperti tahun lalu. Tapi merasa perlu untuk menambahkan, "Nih Nar. Buat orang-orang kayak kita, yang lahir tahun 83, 2009 is going to be a good year karena celestial..."

Aku lupa terakhirnya apa. Tapi intinya tatanan perbintangan deh yang jadi alasannya.

"So, how's life?"
"Emmm. Good. Polos, lagi nggak ada apa-apa yang terjadi. Dan ternyata aku nggak kenapa-napa dengan hidup yang kosong-kosong itu."

Mungkin karena tempatnya yang nyaman, yang silir semilir, atau karena kenyang juga, aku nggak menyangka bisa jadi seoptimis itu.

Jadi ingat kutipannya Audrey Hepburn di buku foto yang baru dikasih mbak ShaSha itu. Katanya, tentang uang, kebahagiaan itu nggak bersumber atau disebabkan oleh uang. "But money can enhance my sense of security. Therefore it increases my chance to be happy."

Dan aku merasa optimisme dan kebahagiaan itu muncul karena aku lagi berada di tempat yang indah. Yang butuh biaya untuk diakses. Dan tempat itu bisa memberi rasa nyaman dan pada akhirnya memberi kesempatan lebih besar untuk merasa bahagia, seperti katanya Audrey Hepburn itu.

"Are you involved with someone? Verliefd? Getrouwd?"
"Enggak. Sama sekali enggak. Aku pikir aku naksir orang, tapi ternyata enggak."

As much as I like being in love or having a crush, ternyata nggak ada yang lebih melegakan daripada menyadari bahwa 'penaksiranku' nggak berdasar. Cuma keinginan yang besar saja, tapi nggak cukup kuat atau cukup berdasar untuk menjadikannya bertahan.

Mungkin 'perubahan-perubahan' ini akibat nge-gym. Tapi aku belum selama itu kembali ke gym kayaknya sampai bisa memunculkan perbaikan dari segi hormonal atau emosional, dst.

Biasanya makan siang sama Ms Know-It-All jadi membawa bahan pikiran atau pembelajaran dari segi karier atau keuangan. Kemarin sih, nggak ada hal-hal sepert i itu yang kita perbincangkan. Lebih banyak hal pribadi yang ringan atau tentang teman-teman sekitar. Tapi aku keluar dari situ dengan merasa enteng dan bahagia.

"I wish I can be as optimistic as Rhonda Byrne," kata Ms Know-It-All. Sedikit berharap, tapi sepertinya nggak sepengen itu.
"Siapa tuh?" Aku dan keacuhan terhadap hal-hal yang berbau self-help ya.
"Itu lho. Law of attraction. The Secret."
"Oooh yaa. Aku lagi berpikir untuk mulai membacanya."
"You should. It's the pinnacle of self-help books."
"Jadi kalau udah mbaca itu, nggak perlu mbaca yang lain-lainnya ya?"

Oke, ini kejadian sudah seminggu yang lalu. Dan moodku juga tidak selalu seringan itu. Tapi yang tetap adalah keinginan untuk meringankan hati, untuk jadi lebih bahagia, dan riang, dan lebih sering tertawa.

Masih ada momen-momen yang membuat hati terasa sesak. Iri dan sakit hati terutama. Tapi pas lagi di gym, aku berusaha bukan sekadar membakar kalori tapi juga membakar rasa marah.

Atau setidaknya dengan membakar kalori sebanyak-banyaknya dan setahan-tahannya, aku jadi nggak lagi punya energi untuk merasa kesal atau sedih atau sakit hati lagi.

Dan ini yang tadi aku baru kepikiran di gym. Kenapa dulu waktu patah hati itu, nggak kepikiran untuk ngedaftar gym ya? Maksudnya, bakal tetap bisa nangis dan tenggelam dalam pikiran sendiri, tapi setidaknya bisa sambil beraktivitas kan?

Jadi, aku akan menyebutnya nasihat terbaik buat orang yang habis patah hati. Get a gym membership.

(Ugh, aku kangen yoga nih. Tapi nggak pernah bisa ikut kelasnya)

Posted at 10:26 pm by i_artharini
Make a comment  

Peran

"You know you don't have to act with me, Steve. You don't have to say anything, and you don't have to do anything. Not a thing. Oh, maybe just whistle. You know how to whistle, don't you, Steve? You just put your lips together and... blow."

(To Have and Have Not -1944)

Penyadaran yang terlambat sebenarnya. Tapi masing-masing dari kita sebenarnya menjalani sebuah peran kan? Baik disadari atau tidak.

'Politik' pengemasan diri inilah yang menjadikan kita diterima sebagai sosok yang kita proyeksikan. Kadang berhasil, kadang tidak. Yang tidak, mungkin berusaha memproyeksikan citra yang terlalu serius, tapi jatuhnya konyol. Coba tanya Coldplay, haha.

Aku sudah agak lupa sih sama kejadian utama yang mendorong posting ini. Cuma kejadian atau contoh-contoh kecilnya terus bertambah. Seperti waktu itu, aku lagi ngobrol dengan anak Salman.

A(nak) S(alman): Dia itu sebenarnya orang yang pintar. Wawasannya luas, ngomongnya cerdas. Tapi suka loading lama juga.

Aku: Contohnya?

AS: Emmm..Misalnya kita lagi ngumpul bareng, komentar tentang sesuatu, terus komentar itu sudah dibahas habis sampai kita sudah nggak ketawa lagi. Eh lima menit kemudian, dia bakal ngulangin komentar pertama itu tadi.

Aku: Ah, acting kaliii. Jaga imej.

AS: Ngapain? Waktu itu situasinya lagi pada ngumpul bareng sama temen aja, kayak kita gitu lho. Ngapain harus acting? Emang orangnya beneran lo-la.

Aku: Ooh. (Dalam hati: Aku nggak akan segitu yakin deh)

AS: Emang kamu mengambil peran apa?

Hmm. Ini yang membuat aku terhenyak.

Aku: Nggak ada yang aku pilih secara sengaja sih.

Mungkin ini waktu yang tepat buat memilih peran ya.

Dulunya sih aku mencoba jadi pintar. Tapi jatuhnya malah snob.  Terus ada masanya aku berusaha untuk membuat terkesan, impressive mode on. Tapi ternyata itu cuma berlaku buat orang-orang tertentu saja. Dan jatuhnya juga jadi terlalu overeager. Taking myself too seriously lah.

Mbak Koalala mengusulkan: Kenapa elu enggak jadi cewek budayawati aja?

Ah ya, it could have been a brilliant career.

Cuma aku ingat tuh ada masanya saat telapak tanganku nggak pernah seberkeringat dan sedingin itu daripada ketika disodorin sebendel puisi ketikan dan ditanyai: Gimana menurutmu?

Aku suka banget sama yang nyodorin puisi itu, cuma kok ya aku nggak pernah lebih menginginkan berada di tempat lain daripada harus menerima (dan menjawab) pertanyaan itu.

Besoknya, Ms Koalala mengajukan usul lagi: Gimana kalau cewek bola? Gue pengen tau, sejauh mana kemasan itu bisa menjual.

Hahaha. Bisa aja sih, tapi aku punya kesulitan menghubungkan nama dan angka. Pertandingan kan bukan film yang punya dialog atau plot, walaupun sama-sama bisa mengaduk emosi.

Pilihan lain...hmm, apa ya?

Oh, ini saja. Female Woody Allen.

Bukan, bukan dalam artian jadi Scarlett Johansson ya. Atau kabur dengan anak angkat pasangan hidupmu. Tapi funny women writer gitu. Seperti Tina Fey, atau Julie Delpy di '2 Days in Paris' atau Jennifer Westfeldt di 'Ira and Abby'. Bukan sebagai aktrisnya, tapi sebagai penulis.

Sepertinya cukup mengasyikkan.

Mungkin agak susah dipraktekkan di kehidupan nyata, tapi setidaknya bisa lewat blog kan?

Blog ini juga sebuah peran bukan?

Posted at 06:34 am by i_artharini
Make a comment  

Next Page