"...the quest for transcendence has always been closely linked to the ecstatic release of dancing." (Resensi RollingStone atas sebuah album pop) Mr. Darcy: "So what do you recommend, to encourage affection?"Elizabeth Bennet: "Dancing, even if one's partner is only tolerable." (Pride & Prejudice, 2005)perempuan, 1983, lovesick soul, berjalan kaki, belajar menulis, menonton film, ingin keliling dunia, Billie Holliday, Jane Austen, 'Franny and Zooey', cerita pendek F Scott Fitzgerald, lagu-lagu sedih, kecanduan membeli buku second, deretan buku di lemari, berkeliling dengan bis kota, mengepak koper, menari bebas, Vogue, sepatu, bad boys, kopi, kuliner, foto, semua yang vintage, genggaman tangan, pelukan hangat, detil percakapan antara manusia, kegelisahan, kesepian, ruang pencarian, belajar dewasa, museum dan bangunan tua, hari hujan, sinar matahari hangat di hari berangin, airport, stasiun kereta, dan pertanyaan tanpa akhir YM: isyana_artharini Email: i.artharini@gmail.com
|
|
Monday, July 31, 2006
Membungkus 11 Hari Dalam 30 Menit
Hmmm...terlalu banyak cerita yang mau ditulis. Dari perjalanan ke
Pontianak, sampe teruuuuus ke daerah perbatasan, yang akhirnya memakan
waktu 10 hari buat penugasan investigasi pertama ke luar kota.
Terus...ngebut ngetik selama seminggu ke depannya, gara-gara Sabtu tgl
22-nya udah mau cuti buat nikahan Sandra-David. Pulang di atas jam 12
terus. Sampai, Jumat malem/Sabtu pagi pulangnya bisa jam 4 pagi. Haegh.
Kelarlah 4 tulisan ttg perbatasan.
Sampai rumah jam 5, langsung tidur, berencana bangun jam 9 buat
packing. Eh, kebangun pas ortu abis pulang dari tempat perawatan Eyang,
jam setengah sembilan. Langsung panik abis. Tapi kan masih ada setengah
jam lagi ke 'jam packing', jadi tidur2 dulu sampe jam setengah sepuluh.
Barulah packing jam 10-an, itu pun masih disambi bengong-bengong nonton
Oprah. Akhirnya berangkat ke bandara agak mepet, sampai pun agak mepet, untungnya masih sempet check-in. Sampailah aku di Surabaya. Puter-puter, terus besoknya ke Malang, terus jalan-jalan sampai 4 hari ke depan. Jumatnya, Baliiii...
Sempet nunggu dua jam di bandara sebelum ketemuan sama family on
vacation mode. Sempet makan pecel, ngeliat sunset di Kuta, ngerasain
air pantainya yang ternyata..dingiiin banget. Besoknya udah sempet
belanja di Sukawati, sampai akhirnya dapet telpon berisi berita duka.
Cepet-cepet balik ke Jakarta, yang untungnya bisa beneran cepet dapet.
Dan dari situ, semua berjalan cepet banget, sampai yang keinget
sekarang sih cuman ikut ngemandiin, kissing her cold cheek over and
over again, dan..not quite realising what I will be missing.
Aku nangis, etc, tapi tetep.. pasti ada detil-detil perilaku beliau
yang bakal aku kangenin, yang bakal aku kehilangan, tapi yang sekarang
belum keinget. Ada satu pelajaran sih yang aku dapet, bahwa
pas aku meninggal nanti, aku pengen diurusin secermat dan sebersih
mungkin sesuai tuntunan agama. Karena untuk yang satu itu, kita
bener-bener harus mempercayakan pengurusannya sama yang udah
'profesional' lah. Yang bener-bener ngerti apa yang dikerjakan dan
artinya. Dan dari situ, jadi mikir lebih juga sih tentang..bekal dunia selanjutnya. But huks, I'm going to miss her, greatly.
Posted at 09:56 pm by i_artharini
Permalink
Thursday, July 20, 2006
"I try my best to write of love and pain and explore how we humans treat
each other, and what our souls are trying to get out at the same time.
Performing is my meditation; writing my traveling companion. These
songs are as truthful and in the moment as I could be at this point in
my life. They are observational, touching, but with a sense of
hopefulness that every piece, and each bit of pain had a reason. So
that nothing is wasted. The never can be happenstance."
Posted at 10:11 pm by i_artharini
Permalink
Wednesday, July 19, 2006
Another Singer/Songwriter
(Pasca serangan gempa susulan yang katanya mencapai 6,6 skala Richter,
tapi tak terasa oleh kami yang sedang berada di Tenda Tang. Pun oleh
orang-orang rumah dan ayah yang berada di gedung bertingkat.
Alhamdulillah. Hmm..a bit frightened, though.)
Everybody's talking how I, can't, can't be your love
But I want, want, want to be your love
Want to be your love for real
Everything will be alright
If you just stay the night
Please, sir, don't you walk away, don't you walk away, don't you walk away
Please, sir, don't you walk away, don't you walk away, don't you walk away
(Be Be Your Love -- Rachael Yamagata, "Happenstance" )
Hmm, kayaknya emang aku yang sering telat ya kalo buat urusan
penyanyi gini. Namanya sih udah beberapa bulan aku dengar, walopun
cuman selentingan aja. Tapi terus waktu itu kalo nggak salah dia nyanyi
jazz standard, jadinya aku meremehkan. Terlalu banyak penyanyi baru
sekarang nyanyi jazz standard sih, tapi belum ada yang punya 'jiwa'.
Baru-baru aja masukin mp3nya se-album "Happenstance" dan tadi ada
lirik2nya yang tertangkap telinga. Akhirnya pas sampe kantor,
searching2 lah tentang penyanyi baru ini. Ternyata malah nggak ada jazz
standard-nya tuh. Pas ndengerin lagu2nya, jadi punya idola baru nih.
Dan nggak heran juga kenapa aku tertarik.
Ini, biografinya dia di Amazon.com:
Happenstance…the never can be…
Main Entry: hap·pen·stance;
Etymology: happen + circumstance: A circumstance especially that is due
to chance. - Merriam Webster Dictionary
I apologize for
insisting on writing my own bio, but I just can not be satisfied with
another’s account of my psyche when even I don’t understand it myself.
Welcome to the world of this indecisive control freak hopeless
romantic…
Happenstance, produced by John Alagia (John Mayer,
Dave Matthews etc.), is a collection of songs inspired by my
obsessions, often love related, but not always. It’s about the battle
between chance circumstances and the belief that everything happens for
a reason. The title and the back cover addition of ‘the never can be’
suggest that I’m not really endorsing chance, but, in fact insisting
that there must be a reason for repeated broken hearts – perhaps a
promise of a better situation, learning experience, the greater love
etc. It’s a circular argument… and it’s merely a matter of
‘happenstance’ that the title is what it is anyway. Without the
hopefulness of reason, how could anyone weather the highs and lows of
relationships and this delightful junk called love.
Look to the second album for a more cynical approach in which it all goes to hell and nothing makes sense and chance is winning…
*Indecisive control freak HOPELESS ROMANTIC? Itu kan akuuu....
*John Alagia, produsernya John Mayer ama Dave Matthews Band? Wah,
dua2nya kan aku seneeeng. Jadi, "produknya" Alagia se-tipe sama mereka
lah yaa...Genre-nya singer/songwriter gitu.
*My obsessions? Love related? Heheh. Sepertinya bener tuh.
*Berkeras ada alasan untuk repeated broken hearts? Nah, ini. Masih aku
pertanyakan. Benarkah? Tapi it's an interesting journey to find out the
answer, anyway.
*Delightful junk called love? So truuuueeeeee.
*Second album dengan pendekatan yang lebih sinis? Hah, I adore this girl, already.
Ini lho, aku pengen, suatu saat, ketika aku menulis buku, caraku
menulis bisa kayak para singer/songwriter ini; Yamagata, Mayer.
Personal, tapi universal. Mereka pada membawa hati mereka
kemana-mana.
Lancar bercerita tentang hubungan personal antar manusia yang hancur
dengan ketajaman akan detil-detil relationship itu sendiri. Aku pengen
tulisanku nanti punya jiwa. Berkubang dalam hangatnya energi patah
hati, tapi tetap jujur, dan tidak beralih ke 'memanjakan diri sendiri'.
Sehingga apa pun produknya, atau temanya, jika ada kejujuran, pesannya
tetap akan universal. Setidaknya, bukan sekedar...ya itu, masturbasi
perasaan.
And I'm afraid, and I can't breathe
And I'm in love with you
But you are not with me
And I have put so much into a life
I made too much about you now to lie
( Letter Read -- Rachael Yamagata "Happenstance")
Jadi agak mellow malam ini. Hmmm....

Posted at 11:08 pm by i_artharini
Permalink
Tuesday, July 18, 2006
"For way too long, the misconception that you have to fit in has been
dictating your behavior. Even if you haven't realized it, you've been
subtly editing yourself and altering your attitude, thinking that will
get you farther. What you may fail to realize is that who you are is
defined in part by how you're different from everyone else. Do things
your own way today -- you'll meet little, if any, resistance. Strike
out and show everyone the real you."
(ramalan horoskop-ku dari sebuah situs)
The real me? Mungkinkah itu, a maneater? Heheh.
Posted at 08:29 pm by i_artharini
Permalink
Gara-gara perjalanan kemarin, aku jadi termotivasi untuk 'move my body around like a nympho' dan jadi seorang ' maneater'. Heheh.
(Me love you, love you long time!)
Currently listening to: LooseBy Nelly Furtado
Posted at 06:01 pm by i_artharini
Permalink
Wednesday, July 05, 2006
Vanity is My Favorite Sin
Santo Agustinus (menurut seorang redaktur budaya, and I'm sooooo
calling him that!), tadi malam, mendatangiku. Sebelumnya, dia bersiul
lirih, "Nari, Nari." Terus masuk ke kamar mandi. Waduh. Agak jarang nih
dia bersiul-siul, manggil-manggil lagi. Pasti urusan tulisan.
Keluar dari kamar mandi, aku sempet ngeliat siluetnya di sekitar
dispenser Aqua. Siluet itu lalu membesar dan tiba-tiba menjadi semakin
nyata di samping pembatas mejaku. Waduh. Apa yang menjadi penyebab
kunjungan kehormatan ini ya? (erm..yang ini baru kepikiran sekarang) Pasti urusan tulisan. And I don't think the verdict is going to be good.
"Pusing. Pusing gue mbaca tulisan elu," ujarnya dramatis; kata-katanya
dieret-eret pelan, kepala geleng-geleng, sambil senyum-senyum. Aku cuman haha-hehe aja, dalam hati; emang gue enggak pusing mbaca tulisan elu? Dan yang aku bilang: "Aku juga pusing mbaca tulisanmu. Nggak 'dong'." Dia kembali mengulang vonisnya. "Benar-benar. Pusing. Pusing gue mbaca tulisan elu." Masih bernada dramatis.
Tidak dengan semangat retaliasi sebenarnya, tapi entah bagaimana terasa
seperti itu, aku lagi-lagi bilang, "Gue juga pusing mbaca tulisan lu."
Melihat percakapan ini nggak jalan kemana-mana, dia akhirnya berbalik
ke mejanya. Tapi, pembelaanku (dalam hati, tentunya), "ermm..ada yang
bilang bagus kok." Ketika berbicara tentang masalah
apresiasi, aku kok masih ngerasa it's all worth it walopun yang memberi
apresiasi positif cuman satu orang ya? Karena, dari situ bisa ketauan
kalo 1)tulisan itu dibaca orang, 2)ada yang suka. Tapi itu mungkin juga
masalah review positif atau negatif yang lebih dulu diterima.
Negatif duluan, pasti bakalan sedih. Cuman karena kejadiannya yang
diterima positif duluan, jadi yang selanjutnya...nggak masalah. Tapi (yang ini kayaknya dengan semangat retaliasi beneran), aku juga pusing mbaca tulisanmu kok. (Harus diakui, dan dengan penuh keirian pula ngakuinnya, tapi tetep tulus, tulisan-tulisanmu yang lain memang waaahhhh kok.)
Posted at 09:10 pm by i_artharini
Permalink
Tuesday, July 04, 2006
I wish you bluebirds in the spring To give your heart a song to sing, And then a kiss, but more than this, I wish you love.
And in July a lemonade To cool you in some leafy glade; I wish you health, and more than wealth I wish you love.
My breaking heart and I agree That you and I could never be, So with my best —my very best— I set you free.
I wish you shelter from the storm, A cozy fire to keep you warm, But most of all, when snowflakes fall, I wish you love
("I Wish You Love" - Words and Music by Charles Trenet)
Tadi malem nonton 'Prime' di VCD dan denger lagu ini. Pertanyaan yang muncul adalah: if New Yorkers are the most cynical species on the planet, gimana bisa, saat patah hati, mereka mengharapkan cinta untuk pihak berseberangan?
(Versinya Blossom Dearie dari lagu ini kayaknya sering diputer ya buat film-film komedi romantis bersetting New York? "Kissing Jessica Stein"?)
(Setelah nge-check, ternyata di "Prime" yang dipasang itu versinya Rachael Yamagata)
Yah, mungkin ini bedanya putus hubungan di dunia nyata dan film. Kerasanya jadi indah, damai, mellow dengan kadar yang tepat, dan punya soundtrack sendiri, which is...I Wish You Love. Sementara di dunia nyata..haduh. I Wish You Pain and Suffocation in Hell, more like it. Love (kalau bisa dateng) mungkin datengnya baru pas berapa tahun berselang kali.
Tapi aku pengen udah sampe di tahap itu. Tahap yang...buat ego-ku sendiri menandakan apalagi kalo bukan kedewasaan dan tanda kalau kita udah move on. Kayaknya indah gitu ada di tahap itu.
(But, why you still have the capability to make me smitten?)
Hmm.
Ah, ya sudahlah, Pak. I wish you love.
Posted at 08:31 pm by i_artharini
Permalink
Kesalahan terbesar adalah mencoba membuat orang-orang terkesan dengan
karya kita, ketika ternyata kita sama sekali belum punya style dan
kelas.
(Sub question: jadi, kita membuat orang terkesan dengan style dan kelas?)
Posted at 07:39 pm by i_artharini
Permalink
Threesome; Review Setengah Hati
Hmm..hari apa ya itu? Jumat kayaknya ya? Yang pas aku udah ngerasa agak
lemes dan semi-semi ngambang dari badan pas berangkat ke kantor?
Kayaknya sih Jumat. Saking ngambangnya, aku memutuskan untuk meneruskan
untuk membaca 'Threesome'-nya NoRiYu yang udah berkali-kali (menurut
istilahnya Dorothy Parker), "thrown with a great force."
Thrown with a great force? Ermm..iya, karena menurutku tulisannya tuh
superfisial banget. Penuh dengan bahasa Inggris yang nggak jelas
maksudnya buat apa. Neurosis karakternya yang cuma di permukaan aja.
Sering tidak mengejawantahkan apa yang dimaksud, tapi cuma meminjam
dari teori kanan-kiri (sebuah kesalahan yang masih sering juga aku
lakuin). Dan karakternya juga tidak mendaging; erm..maksudnya nggak
realistis. I know, karakter bisa tidak realistis, cuman yang
ini...dalam ketidakrealistisannya pun tetep dangkal. Intinya, buat
capek tapi nggak dapetin apa-apa. DAN yang lebih ngeselin
lagi...ini penulis minjem nama orangnya keterlaluan banget. Karakter
utamanya namanya...Gathawati Dewangkaton. Who? Yang nggak lain, nama
semi lengkapnya temen sma-ku, sekelas 2 tahun. Idih. Penggambaran apa
pun yang dikasihin si penulis akan karakter ini (yang, which is, cukup
minim) udah mental aja gitu dari otak. Lho, kalo penggambaran
karakternya cukup minim, what am I complaining? Well, mungkin karena
kejadian-kejadian yang dialami si tokoh juga, dan caranya si tokoh
bertindak yang menurutku..."ih, nggak temenku banget." Inget,
pas pertama kali mbaca ini (btw, aku heran. Gimana bisa aku beli buku
ini ya? Mungkin di saat-saat nge-high belanja buku, terus lagi pengen
kenalan ama penulis ini kali ya?) terus menyadari nama karakternya, aku
langsung nge-sms si temen. "Yah, namaku jadi umum dong," kata temenku. (Kayaknya si penulis emang kenal ama temenku itu deh. Temenku pernah cerita dia mau ngenalin si cewek ini ke penulis lain.)
Terus, mungkin karena aku lagi agak sakit, jadi perlawanan hati lagi
agak lemah, ya sudahlah. Di samping kejutan-kejutan kekagetan tiap kali
mbaca nama si temen (aduh, jadi kerasa mbaca her untold story atau
gimana gitu...), ada poin-poin yang yaaa...bolehlah. Cukup makes sense.
Walaupun tetep harus menahan dengusan tiap kali mulai berbahasa Inggris
atau keluar istilah-istilah medisnya. Jadi kesimpulannya?
Berarti ada bacaan yang baru bisa dibaca pas badan lagi sakit dan nggak
bisa ngelawan. (Btw, aku masih terkesima sama dua tulisan si penulis di
opini-nya Koran Tempo. Tapi apakah ketersimaan itu mengarah ke positif
atau negatif, nah itu...aku belum tahu)
Posted at 07:06 pm by i_artharini
Permalink
Sunday, June 25, 2006
Aduh, akhir-akhir ini jadi sering ngerasa deg-degan, gelisah. Kayak ada
sesuatu yang akan terjadi. Pengharapannya kerasa udah tinggi banget.
Tapi ternyata hidup cuma berisi rutinitas.
But I swear. Kayak bakalan ada rasa baru, warna baru yang segera
datang. Atau mungkin maksudnya orang baru, cinta baru? Hmm... Apa pun
itu, rasanya ada optimisme yang muncul di pinggir-pinggir. Optimisme
yang bisa membuat aku gelisah dan menunggu-nunggu.
Ah, udahlah. Dinikmati aja. Udah capek kan jadi gloomy?
Posted at 06:36 pm by i_artharini
Permalink
|
|
|