PENARI MUNGIL


(Saya bukan seorang penari. Pun sangat jauh dari mungil. Tapi, tahu kan adegan 'Tiny Dancer' di 'Almost Famous'? Sensasi membahagiakan dari adegan itulah yang saya kejar..)



Hold me closer, tiny dancer

Count the headlights on the highway

Lay me down in sheets of linen

You had a busy day, today


("Tiny Dancer" - Elton John)





"...the quest for transcendence has always been closely linked to the ecstatic release of dancing."
(Resensi RollingStone atas sebuah album pop)

Mr. Darcy: "So what do you recommend, to encourage affection?"
Elizabeth Bennet: "Dancing, even if one's partner is only tolerable."
(Pride & Prejudice, 2005)


perempuan, 1983, lovesick soul, berjalan kaki, belajar menulis, menonton film, ingin keliling dunia, Billie Holliday, Jane Austen, 'Franny and Zooey', cerita pendek F Scott Fitzgerald, lagu-lagu sedih, kecanduan membeli buku second, deretan buku di lemari, berkeliling dengan bis kota, mengepak koper, menari bebas, Vogue, sepatu, bad boys, kopi, kuliner, foto, semua yang vintage, genggaman tangan, pelukan hangat, detil percakapan antara manusia, kegelisahan, kesepian, ruang pencarian, belajar dewasa, museum dan bangunan tua, hari hujan, sinar matahari hangat di hari berangin, airport, stasiun kereta, dan pertanyaan tanpa akhir

YM: isyana_artharini
Email: i.artharini@gmail.com
   

<< June 2008 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Tuesday, June 24, 2008
We're Gonna Go Dancing!!

Ini sisa dari liputan pertunjukan We're Gonna Go Dancing!! di Goethe Haus, Rabu (18/6) lalu. Awalnya agak bimbang, mau dibuat liputan atau tidak. Tapi karena keterbatasan stok liputan, ya sudahlah. Toh juga nggak akan diambil sama edisi pagi.

Ceritanya pertunjukan ini adalah bagian dari turnya jaringan tari kontemporer Jepang (Japan Contemporary Dance Network-JCDN) ke empat kota di Indonesia; Jakarta, Bandung, Yogya dan Solo. Tahun lalu, mereka cuma mampir di Jakarta dan Solo. Tahun ini, bertepatan dengan 50 tahun peringatan hubungan Indonesia-Jepang, perhentian tur pun ditambah.

Ada empat komposisi yang ditampilkan. Masing-masing komposisi memungkinkan penontonnya icip-icip rasa tari kontemporer Jepang, seberapa mendebarkannya (atau mungkin membosankannya) scene itu di berbagai kota di Jepang. Tapi salah satu komposisinya ditarikan oleh penari-penari Namarina. Koreografinya karya koreografer Jepang.

Oke, tarian pertama. Yang aku tulis di buku catatan: 'a hip-hop affair?'

Curiganya sih dari loncatan, langkah-langkahnya, dan gerakan mengalir yang khas itu. Akhirnya lampu mati. Dan pas menyala lagi, kecurigaanku benar. Sebuah komposisi hip-hop.

Ada varian gerakan moonwalk diiringi musik-musik electronica model Daft Punk. Dan breakdance dalam kekuatan penuh. Sampai, beberapa saat kemudian, musiknya kembali ke tempo yang lebih santai dan karakter yang ditampilkan Kentaro, si penari solo itu, balik ke 'dirinya' yang pemalu dan tertutup.

Ia mencoba melakukan pengontrasan bunyi lagu latar. Antara yang 'kasar' dan 'buram' dari bunyi piringan hitam ke kerenyahan emosi lagu-lagu R&B tipe-tipe Chris Brown dan Ne-Yo itu. Seperti momen atau ruang gelap yang personal dan kadang menyergap itu dikontraskan dengan ritme kehidupan yang 'pop'.

Gerakan breakdancenya kembali muncul lebih kentara. Musik latarnya juga lebih cepat dan lebih elektronik. Semuanya sangat pop dan muda. Lalu komposisinya lebih menjadi sebuah gaya jalanan yang tidak terlalu tertata. Dan Kentaro terus menari tanpa musik.

Lumayan. Tapi tidak ada saat-saat yang membuatku merinding. Padahal ruangannya dingin banget.

Selanjutnya, sembilan penari perempuan dan seorang penari laki-laki dari Namarina. Komposisinya butuh waktu (agak) lama sebelum aku sampai pada kesimpulan. Inti-inti gerakan baletnya masih ada.

Ada gerakan yang aku sukai. Banget. Badan si penarinya berputar, tapi kaki yang jadi tumpuannya berganti-ganti. Pada saat itulah aku berharap menjadi seorang penari balet. Tapi terus aku teringat dengan kisah Zelda Fitzgerald. Dan memilih untuk langsung mengabaikan keinginan itu.

Komposisinya penuh permainan, energetik. Kadang mereka menjadi marionette, kadang jadi chorus girl dengan gerakannya yang seragam. Ternyata intinya adalah masing-masing dari mereka menari dengan kekuatannya masing-masing. Komposisi yang (seharusnya) menegaskan individualisme. Masing-masing menjadi penari solo dalam ensemble.

Mungkin karena faktor usia atau entah apa. Penampilan mereka dingin dan tanpa emosi. Kosong. Yang bergerak hanya badan, tapi tidak ada getaran yang sampai di hatiku. Baru gerakan-gerakan tanpa jiwa. Dan 'kegagalan' menggetarkan itu terlihat lebih jelas dalam komposisi yang lebih pelan.

Seperti kharisma masing-masing mereka belum cukup kuat atau menonjol untuk menguasai seni menjadi individual di tengah kerumunan.

Dan keyakinanku akan 'vonis' itu jadi makin kuat setelah melihat penampilan selanjutnya. Pasangan laki-laki dan perempuan dari Dance Theatre Ludens (dari homo ludens). Komposisinya paling subtil, sublim, anggun tapi sederhana. Ternyata when it comes to....everything really, I like subtle best.

Menarik sekali. Komposisinya berawal dari rambut. Penari perempuannya hanya memindah-mindahkan rambutnya. Si penari laki-laki, yang memang gundul, menggesturkan tak memiliki apa yang dimiliki 'Sang Hawa'.

Gerakannya berawal sangat sederhana, tapi sarat emosi. Yang terjadi selanjutnya adalah pengejaran si laki-laki akan rambut si perempuan. Dari rambut, ke kaki.

Oh, ini cerita tentang pengejaran tubuh orang lain untuk sekadar menjadi. Pengejaran dan penghindaran yang jadi permainan menggoda. Membuat penasaran. Menyenangkan tapi juga mengesalkan.

Pengejaran-pengejaran itu yang, pada satu saat dalam komposisi, membuatku tergelitik. Tak sampai tergelak saking subtilnya koreografinya. Tapi cukup untuk membuat tersentuh.

Pas aku bilang ke Photographer of the Year yang ikut datang memotret tentang komposisi ini, dia bilang, "Aku nggak suka. Aku nggak suka kepala diinjak-injak walaupun atas nama seni." Ya sudahlah, ini orang memang sudah punya kode moral yang tegas. Biarkan saja dia dengan pikirannya.

Setelah si penari laki-laki pergi, si penari perempuan menari solo yang mengesankan ia sedang mengecek 'kelengkapan' tubuhnya. Paha, pantat, perut, punggung, pinggang, dada. Semuanya ternyata masih pada tempatnya.

Semuanya, benarkah?

Lalu berlanjut ke lengah, wajah, hidung, sampai kerutan di mukanya.

Saat si penari laki-laki muncul lagi, gerakannya berfokus pada usaha 'menangkap' si perempuan. Yang awalnya nuansa penolakan kuat, sekarang jadi pemaksaan. Tapi kenapa lebih banyak senyuman?

Memaksa, dilepas, terus seperti itu berulang. Sampai si perempuan akhirnya menggantungkan lengannya ke leher si laki-laki dan berputar bersama beberapa kali.

Pada akhirnya, ini posisi yang benar-benar indah. Masing-masing menempelkan bahu dan lengannya pada pasangannya, kakinya diletakkan saling menjauh, tapi mereka menemukan keseimbangan untuk berjalan bersama dengan saling bersandar.

Komposisi terakhirnya dari Kikikikikiki. Judulnya Beehive 007. Kelompok tari dari Kansai ini terdiri dari empat perempuan dengan berbagai bentuk tubuh. Usia mereka di kisaran 23 sampai 25 tahun.

Yang ini benar-benar butuh waktu lama banget sampai akhirnya berani membuat kesimpulan. Itu terjadi ketika kostum mereka berganti dari pakaian tidur ke gaun-gaun satin yang desainnya sesuai bentuk tubuh mereka. Gaun-gaun pendek yang biasanya digunakan untuk acara-acara formal. Masing-masing dengan warna berbeda. Gaun warna merah, sepatunya merah. Hijau dengan hijau, ungu dengan ungu.Seperti siap untuk have a girl night out.

Mereka melakukan segalanya di atas panggung. Saling menendang, memaksa, berteriak, bergetar, berganti baju (ya, berganti baju), berebut tas dan sepatu dan baju.

Tapi pas mereka menggunakan gaun-gaun malam itu, aku jadi mengidentikkannya dengan SATC, hehe. Dan jangan-jangan Beehive yang dimaksud adalah pengibaratan tempat kost atau apartemen tempat empat perempuan pekerja berbagi ruang hidup yang sudah sempit. Dan ini adalah gambaran kekerasan terhadap satu perempuan di kelompok itu.

Koreografernya, Kitamari yang terlihat sangat muda itu, menyatakan sangat tertarik pada perasaan dan sosok manusia yang bisa berbalik 180 derajat. "Semua manusia bisa mengalaminya. Dan kenapa saat melihat adegan kekerasan, kita jadi tertawa?"

Koreografer Masako Yasumoto yang bekerjasama dengan penari Namarina sebenarnya punya filosofi bagus. Konsep tariannya adalah membuat si penari bisa menikmati menari dengan dirinya sendiri. Lalu ia menambahkannya dengan gerakan yang belum pernah dicoba si penari. Sehingga pada akhirnya, mereka menemukan dirinya yang baru. Tapi ia juga melihat gerakan apa yang paling baik dibawakan oleh masing-masing penari.

"Bagaimana caranya mereka bisa lebih menikmati menari. Itu yang harus dicari terus, itu tidak ada batasnya. Kenikmatan menari tidak ada batasnya, itu yang saya harap mereka mencari terus. Tapi menari itu sendiri sudah cukup nikmat," kata Masako lewat penerjemah.

Dari koreografer Ludens, Takiko Iwabuchi, cuma ada ini. Bahwa ia tidak punya teori khusus tentang ekspresi perasaan. "(Tapi) saya selalu memikirkan hubungan antara tokoh dan kosakata tubuh."

*mematikan mode 'kritikus tari amatir'*

Posted at 06:12 am by i_artharini
Make a comment  

Monday, June 23, 2008
Antara Label atau Cinta di Manhattan

Bahkan dengan standar khususnya SATC ya, aku kok agak kecewa dengan hasilnya di film. Aku membayangkan ada permainan kata yang jenaka, banyak, seperti di serialnya. Tapi kemarin nggak ada yang istimewa.

Aku berharap pada sinismenya Miranda yang ternyata sudah nggak ada. Dia 'cuma' digambarkan sebagai perempuan menikah dengan kesulitannya membagi waktu. Setidaknya, dari seorang Miranda, aku berharap pada sinismenya itu yang membuat dia jadi seimbang.

Ceritanya Charlotte juga cuma bahagia terus. Ada yang (agak) lucu sih. Tapi tidak istimewa.

Carrie, terlepas dari 'kesialannya' dengan Big ya, masih jadi sosok egosentris yang semuanya harus berputar di sekitar dia. Contoh nomor 1, di adegan Carrie, Charlotte, Miranda baru ketemu sebelum lelang perhiasan Christie's, yang Carrie bilang tentang Miranda 'seharusnya' iri sama dia gara-gara dapat surga real estat Manhattan itu sementara Miranda tinggal di Brooklyn?

Terus, lagi, pas Carrie-Miranda lagi milih kostum Halloween dan ada anak kecil lari-lari pakai masker monster. Aku seharusnya berada di pihaknya Carrie, tapi ada yang terkesan smug dan tidak simpatik saat Carrie bilang, "It takes more than that for me to be scared after what Big put me through."

Mungkin karena adegan si anak lari-lari pakai masker itu memang nggak nakutin, jadi ketika si Carrie ngomong gitu, aduh drama queen banget sih.

Aku selalu (paling) suka jatah cerita yang dikasih ke Samantha. Karena, di antara mereka semua, Samantha-lah yang paling 'diizinkan' oleh penulisnya untuk tetap menjadi dirinya sendiri. Her outrageous, extreme self.

Kompromi bukanlah bahasa yang ia mengerti. Mungkin kalau Samantha Jones punya aforisma, maka itu ialah, "I love you, but I love me more."

Ada sih di sini momen saat Samantha diberi dialog yang lucu. Tapi perempuan ini kan, di televisi, benar-benar bisa membuat tergelak berkali-kali. Kok sekarang, dari momen lucu yang sudah terbatas itu, salah satunya adalah salah ucap tak kreatif antara 'deck' dan 'dick'.

Walaupun pada akhirnya, Samantha masih diizinkan kembali pada dirinya sendiri. Yang malah jadi pelajaran terbaik dari film ini.

Geli sih waktu mendengar dialog-dialog yang menegaskan, bagi perempuan-perempuan ini, bahwa Manhattan adalah batas peradaban (Brooklyn sudah tidak beradab buat mereka). Tapi, hey, snob-isme Manhattan adalah salah satu alasan kenapa serial ini berpengaruh kan?

Antara itu dan label desainernya.    

Oh ya, anak ceritanya Jennifer Hudson juga datar-datar saja. Maksudnya, kalau tujuannya untuk diparalelkan dengan ceritanya Carrie, kurang kuat.

Tapi ya sudahlah. Masih tetap seru. Apalagi kalau aku jadi bagian dari rombongan yang paling ramai seruangan, haha. Itu belum pernah terjadi sebelumnya.

Posted at 06:30 am by i_artharini
Make a comment  

Pasca SATC

Gara-gara SATC jadi membuat daftar keinginan imajiner di kepala (daftarnya yang imajiner, bukan keinginannya). Satu, sandal gladiator. Dua...ermm, Manolo?

Enggak sih, kayaknya yang ada harga 'murahnya' cuma sandal gladiator aja. Eh tahunya pas kemarin ke Plangi langsung nemu berbagai model sandal gladiator itu.

Apa mungkin sudah terlalu lama tidak ke pusat perbelanjaan dan melihat sepatu-sepatu ya? Jadi pengen beli semua. Ada sandal gladiator, ada ankle boots (yang desain, material, dan warnanya lumayan oke buat harga yang miring. Haknya juga super kitten heels gituuuu), sama sepatu ballerina warna emas lembut dengan tali di bagian depannya.

Jadi seperti harus memutuskan antara my old ballerina flats-lover self (halah) dan my new Chloe Sevigny inspired ankle boots lover self. Atau ya peniru Carrie Bradshaw self.

Secara 'teori' dan logika, kayaknya sih aku nggak bakal suka ankle boots. Tapi pada prakteknya, ketika melibatkan emosi, setelah melihat versi nyatanya, kok keren banget ya?

Terpaksa kecewa gara-gara, setelah dicoba, aku baru sadar. Ankle boots atau sandal gladiator itu nggak bakal kelihatan efeknya kalau pakai celana panjang. Cocoknya dipakai sama orang-orang yang nunjukin betis ke bawah. Ah.

Tapi sandal gladiatornya itu benar-benar menggoda. Warnanya coklat tua. Ada deretan kulit coklat melintang di bagian punggung kaki. Padat banget. Terus ada dua buckle emas di bagian pergelangan. Datar sih. Kalau ada haknya, nggak butuh waktu lama sebelum dikunyah dan dilepeh sama trotoar Jakarta.

Aku sudah agak cemas dengan buckle ganda dan desain yang 'padat' itu, takut kesannya mencekik kaki. Setelah dipakai, ih, kok jadi keren banget ya?

Cuma pas ujung celananya diturunin ke panjang aslinya, lah bucklenya nggak kelihatan. Padahal kan itu yang membuatnya jadi gladiator.Dan keren.

Sempat nyoba tiga kali sebelum akhirnya ditinggal. Balik lagi ke tempat itu karena mau lihat-lihat tas. Tapi akhirnya berhenti lagi di depan si gladiator itu. Coba lagi.
Masih tetap keren, hehehe.

Akhirnya, "Iya deh, mbak. Diambil."

So, meniru katanya Koalala: "Elu kok jadi ikut tren itu juga?"

Iya, I get Carrie-d away ceritanya.

Posted at 05:59 am by i_artharini
Make a comment  

Friday, June 20, 2008
(Rencana) Akhir Pekan

Oke, Jumat sepertinya masih ada liputan. Dan gym.

Tapi Sabtu, sudah merencanakannya sebagai hari eskapisme. Pengen memanjakan diri, merawat diri, terus nonton film-film noir. Kemarin baru menemukan (dan beli) High Sierra, Dark Passage, They Drive by Night sama The Postman Always Rings Twice.

Jadi, besok bakal jadi perkenalanku dengan Lana Turner sama Ida Lupino. Lebih banyak Bogart, dan satu lagi film duetnya dengan Bacall.

Btw, kemarin-kemarin waktu di gym sambil nonton Thank You For Smoking. Di situ ada adegan karakternya Aaron Eckhart--siapa itu si eksekutif perusahaan rokok?--yang menyitir data produksi rokok bisa melonjak, salah satunya karena pengaruh film.

Percintaan besar Hollywood dalam wujud Bogart dan Bacall pertama kali 'disegel' di atas rokok lewat To Have and Have Not. "Anybody got a match?" tanya Bacall.

Bener banget. Gara-gara film itu aku jadi merasa haus rokok.

Btw, Sex and the City: the Movie sudah main lhoo. Iya, itu nggak bakal jadi pencapaian sinematis yang prestisius (kecuali mungkin fakta bahwa Patricia Fields, si penata gaya film dan serialnya, sudah menjadi Edith Head generasi 'kita' itu bisa dibilang sebuah pencapaian), tapi menyenangkan aja lihat tasnyaaa, sepatunyaaa, bajunyaaa, hehehe.

Makanya aku jadi sedih duduk sendiri. Siapa ya yang bisa diajak nonton film itu?

Orang-orang yang aku pengen nonton-bareng-in pada nggak ada di sekitarku. Rani atau teman-teman yang dulu sering nonton bareng serialnya Selasa malam lagi pada jauh-jauh, huks.

Tapi pas aku cerita tentang "katanya nonton bareng Euro di Erasmus kalau Belanda lagi main ada bir gratisnya lhoo."

Si Anak Salman bilang, "Nanti kan Belanda ketemu Rusia. Seru banget. Mau? Yuk, yuk, yuk. Tapi pulangnya gimana?"

Sha2 dan aku: "Gampanglah."

AS: "Kan mulainya jam 1.45. Emm, gimana kalau kita nonton SATC dulu?"

Aku dan Sha2: "Yuk, yuuukkk."

Fingers crossed.

Posted at 06:29 am by i_artharini
Comment (1)  

Thursday, June 12, 2008
Tete a tete

Tepat seminggu yang lalu aku ketemuan sama Ms Know-It-All buat tete-a-tete makan siang. Kita jadi ladies who lunch, ceritanya. Dan karena aku butuh ketemu sama orang lain, tanya-tanya kabar, denger cerita yang tidak aku familiari. Sesuatu yang baru lah intinya.

Memilih ketemuan di Oakwood--biar habis itu bisa mampir ke Ambassador, hehe--terus mau milih tempat pas sudah di sana. Akhirnya ke Loewy lah.

Itu restoran interiornya keren banget. Berasa di New York (halah). Interiornya sih gaya-gaya art deco, temboknya bata dicat putih. Terus mereka punya tempat-tempat duduk yang agak mirip kompartemen itu, kursinya sofa, dan terlindung. Ada pembatas di bagian belakang kepala.

Lain-lainnya, meja kayu segi empat sederhana. Tapi kaki mejanya bekas kaki mesin jahit Singer model kuno. Kursi kayu sederhana juga. Di atas mejanya ada botol Coca cola lama, diisi air sama satu tangkai bunga daisy, asli, yang kelopaknya besar. Warnanya ungu muda lembuuut banget.

Ada kipas angin juga yang berputar pelan. Sangat New York 1920an deh. Nggak kaget kalau tiba-tiba Dorothy Parker masuk dan pesan martini. (Btw, itu tempat menjual martini dengan berbagai rasa. Selain yang standar with a twist atau olive, ada juga White Chocolate, Raspberry Cheesecake [!], ah pokoknya menu cocktailnya lengkap banget deh. Plus wine, rose, dst, dst)

Makanan yang kita pesan sih rasanya biasa saja. Ada yang lebih istimewa dengan harga yang lebih murah. Tapi suatu hari nanti, mungkin enak kalau buat nyantai sore-sore sambil menyisip martini, hehe.

Sesi tanya-jawab kabar masing-masing pun berjalan.

Ms Know-It-All lagi merasa banyak hal yang lumayan going good dalam hidupnya, nggak seperti tahun lalu. Tapi merasa perlu untuk menambahkan, "Nih Nar. Buat orang-orang kayak kita, yang lahir tahun 83, 2009 is going to be a good year karena celestial..."

Aku lupa terakhirnya apa. Tapi intinya tatanan perbintangan deh yang jadi alasannya.

"So, how's life?"
"Emmm. Good. Polos, lagi nggak ada apa-apa yang terjadi. Dan ternyata aku nggak kenapa-napa dengan hidup yang kosong-kosong itu."

Mungkin karena tempatnya yang nyaman, yang silir semilir, atau karena kenyang juga, aku nggak menyangka bisa jadi seoptimis itu.

Jadi ingat kutipannya Audrey Hepburn di buku foto yang baru dikasih mbak ShaSha itu. Katanya, tentang uang, kebahagiaan itu nggak bersumber atau disebabkan oleh uang. "But money can enhance my sense of security. Therefore it increases my chance to be happy."

Dan aku merasa optimisme dan kebahagiaan itu muncul karena aku lagi berada di tempat yang indah. Yang butuh biaya untuk diakses. Dan tempat itu bisa memberi rasa nyaman dan pada akhirnya memberi kesempatan lebih besar untuk merasa bahagia, seperti katanya Audrey Hepburn itu.

"Are you involved with someone? Verliefd? Getrouwd?"
"Enggak. Sama sekali enggak. Aku pikir aku naksir orang, tapi ternyata enggak."

As much as I like being in love or having a crush, ternyata nggak ada yang lebih melegakan daripada menyadari bahwa 'penaksiranku' nggak berdasar. Cuma keinginan yang besar saja, tapi nggak cukup kuat atau cukup berdasar untuk menjadikannya bertahan.

Mungkin 'perubahan-perubahan' ini akibat nge-gym. Tapi aku belum selama itu kembali ke gym kayaknya sampai bisa memunculkan perbaikan dari segi hormonal atau emosional, dst.

Biasanya makan siang sama Ms Know-It-All jadi membawa bahan pikiran atau pembelajaran dari segi karier atau keuangan. Kemarin sih, nggak ada hal-hal sepert i itu yang kita perbincangkan. Lebih banyak hal pribadi yang ringan atau tentang teman-teman sekitar. Tapi aku keluar dari situ dengan merasa enteng dan bahagia.

"I wish I can be as optimistic as Rhonda Byrne," kata Ms Know-It-All. Sedikit berharap, tapi sepertinya nggak sepengen itu.
"Siapa tuh?" Aku dan keacuhan terhadap hal-hal yang berbau self-help ya.
"Itu lho. Law of attraction. The Secret."
"Oooh yaa. Aku lagi berpikir untuk mulai membacanya."
"You should. It's the pinnacle of self-help books."
"Jadi kalau udah mbaca itu, nggak perlu mbaca yang lain-lainnya ya?"

Oke, ini kejadian sudah seminggu yang lalu. Dan moodku juga tidak selalu seringan itu. Tapi yang tetap adalah keinginan untuk meringankan hati, untuk jadi lebih bahagia, dan riang, dan lebih sering tertawa.

Masih ada momen-momen yang membuat hati terasa sesak. Iri dan sakit hati terutama. Tapi pas lagi di gym, aku berusaha bukan sekadar membakar kalori tapi juga membakar rasa marah.

Atau setidaknya dengan membakar kalori sebanyak-banyaknya dan setahan-tahannya, aku jadi nggak lagi punya energi untuk merasa kesal atau sedih atau sakit hati lagi.

Dan ini yang tadi aku baru kepikiran di gym. Kenapa dulu waktu patah hati itu, nggak kepikiran untuk ngedaftar gym ya? Maksudnya, bakal tetap bisa nangis dan tenggelam dalam pikiran sendiri, tapi setidaknya bisa sambil beraktivitas kan?

Jadi, aku akan menyebutnya nasihat terbaik buat orang yang habis patah hati. Get a gym membership.

(Ugh, aku kangen yoga nih. Tapi nggak pernah bisa ikut kelasnya)

Posted at 10:26 pm by i_artharini
Make a comment  

Peran

"You know you don't have to act with me, Steve. You don't have to say anything, and you don't have to do anything. Not a thing. Oh, maybe just whistle. You know how to whistle, don't you, Steve? You just put your lips together and... blow."

(To Have and Have Not -1944)

Penyadaran yang terlambat sebenarnya. Tapi masing-masing dari kita sebenarnya menjalani sebuah peran kan? Baik disadari atau tidak.

'Politik' pengemasan diri inilah yang menjadikan kita diterima sebagai sosok yang kita proyeksikan. Kadang berhasil, kadang tidak. Yang tidak, mungkin berusaha memproyeksikan citra yang terlalu serius, tapi jatuhnya konyol. Coba tanya Coldplay, haha.

Aku sudah agak lupa sih sama kejadian utama yang mendorong posting ini. Cuma kejadian atau contoh-contoh kecilnya terus bertambah. Seperti waktu itu, aku lagi ngobrol dengan anak Salman.

A(nak) S(alman): Dia itu sebenarnya orang yang pintar. Wawasannya luas, ngomongnya cerdas. Tapi suka loading lama juga.

Aku: Contohnya?

AS: Emmm..Misalnya kita lagi ngumpul bareng, komentar tentang sesuatu, terus komentar itu sudah dibahas habis sampai kita sudah nggak ketawa lagi. Eh lima menit kemudian, dia bakal ngulangin komentar pertama itu tadi.

Aku: Ah, acting kaliii. Jaga imej.

AS: Ngapain? Waktu itu situasinya lagi pada ngumpul bareng sama temen aja, kayak kita gitu lho. Ngapain harus acting? Emang orangnya beneran lo-la.

Aku: Ooh. (Dalam hati: Aku nggak akan segitu yakin deh)

AS: Emang kamu mengambil peran apa?

Hmm. Ini yang membuat aku terhenyak.

Aku: Nggak ada yang aku pilih secara sengaja sih.

Mungkin ini waktu yang tepat buat memilih peran ya.

Dulunya sih aku mencoba jadi pintar. Tapi jatuhnya malah snob.  Terus ada masanya aku berusaha untuk membuat terkesan, impressive mode on. Tapi ternyata itu cuma berlaku buat orang-orang tertentu saja. Dan jatuhnya juga jadi terlalu overeager. Taking myself too seriously lah.

Mbak Koalala mengusulkan: Kenapa elu enggak jadi cewek budayawati aja?

Ah ya, it could have been a brilliant career.

Cuma aku ingat tuh ada masanya saat telapak tanganku nggak pernah seberkeringat dan sedingin itu daripada ketika disodorin sebendel puisi ketikan dan ditanyai: Gimana menurutmu?

Aku suka banget sama yang nyodorin puisi itu, cuma kok ya aku nggak pernah lebih menginginkan berada di tempat lain daripada harus menerima (dan menjawab) pertanyaan itu.

Besoknya, Ms Koalala mengajukan usul lagi: Gimana kalau cewek bola? Gue pengen tau, sejauh mana kemasan itu bisa menjual.

Hahaha. Bisa aja sih, tapi aku punya kesulitan menghubungkan nama dan angka. Pertandingan kan bukan film yang punya dialog atau plot, walaupun sama-sama bisa mengaduk emosi.

Pilihan lain...hmm, apa ya?

Oh, ini saja. Female Woody Allen.

Bukan, bukan dalam artian jadi Scarlett Johansson ya. Atau kabur dengan anak angkat pasangan hidupmu. Tapi funny women writer gitu. Seperti Tina Fey, atau Julie Delpy di '2 Days in Paris' atau Jennifer Westfeldt di 'Ira and Abby'. Bukan sebagai aktrisnya, tapi sebagai penulis.

Sepertinya cukup mengasyikkan.

Mungkin agak susah dipraktekkan di kehidupan nyata, tapi setidaknya bisa lewat blog kan?

Blog ini juga sebuah peran bukan?

Posted at 06:34 am by i_artharini
Make a comment  

Catatan Perjalanan

Hmm, sebenarnya masih ada hutang dua tulisan lagi. Plus merapikan tulisan-tulisan lain. Tapi sebentar nge-blog dulu.

Kok aku sekarang jadi merasakan kenyamanan tersendiri ya dengan catatan-catatan perjalanan, travel writing et al. Sepertinya sih cuma fase, yang berawal dengan On the Road.

Nyaman saja membacanya. On the Road, maksudnya. Kemampuan otakku lagi terbatas, banget. Jadi merasa senang ketika menemukan bacaan yang nggak perlu mikir dalam-dalam atau lama-lama. Sudah tinggal mengikuti saja cerita perjalanannya Sal Paradise.

Ritmenya, alurnya enak. Kepadatan berceritanya juga membuat pembacanya nggak merasa ribet. Seperti monolog yang mungkin sebenarnya cuma sekadar buat catatan pribadi. Tapi terus diterbitin.

Dan aku jadi merasa nyaman membawa bukunya ke mana-mana. Pokoknya tersedia dalam tas, biar bisa dirogoh kapan saja. Walaupun ada pilihan buku lain. Seperti Sabtu kemarin.

Waktu berangkat dari rumah, rencananya pagi liputan, siang mau nge-gym, terus habis itu mau nongkrong di Cafe Au Lait. Mau meng-abuse koneksi wi-fi gratis plus ngejar tugas resensi. Pengen jadi the girl in the cafe yang sok-sok intimidatif dengan laptop dan tumpukan buku yang harus diresensi. Hahahaha.

Terus waktu ngepak barang-barang. Perlengkapan gym, sudah. Alat mandi, sudah. Laptop dan charger, sudah. Buku, ada Mansfield Park, Death of Ivan Ilyich, Dubliners, Exile and the Kingdom, sama On the Road.

Kok jadi berat banget ya?

Oke, akhirnya On the Road sama Death of Ivan Ilyich dikeluarin.

Lumayan lebih enteng, walaupun tidak signifikan. Tapi kok ada yang kerasa tidak pas di hati.

Setelah melihat dan berpikir ulang, akhirnya Exile and the Kingdom dikeluarin. Karena aku tahu, di saat rajin membaca pun Camus bukanlah pilihan pertama. Apalagi saat mulai membaca lagi dari awal.

He is infuriating. Karena aku nggak tahu harus diapain teksnya dia. Dan On the Road sama Death of Ivan Ilyich kembali masuk.

Beratnya jadi sama saja seperti sebelum dikurangi. Tapi ditimbang dari urusan hati, bebannya jadi lebih ringan. On the Road, nggak tahu kenapa, punya efek meringankan.

Dan pas minggu-minggu aku lagi gandrung buku itu, eh menemukan fakta bahwa Francis Ford Coppola mau jadi produser versi filmnya. Sutradaranya adalah Walter Salles yang membuat The Motorcycle Diaries. Reaksi pertama? Oh, tidak.

Tapi ya lihat nanti deh.

Yang kedua. Tiba-tiba tadi teringat sama W Somerset Maugham. Sepertinya dia juga membuat catatan perjalanan, yang aku punya di rumah tapi belum dibaca. Itu tentang apa ya? Kamboja atau Myanmar ya?

Kalau tentang Myanmar, sepertinya George Orwell yang membuat. Maugham, apa?

Cari-cari sebentar di Wikipedia dan menemukan, oh iya, judulnya The Gentleman in the Parlour. Catatan perjalanan dari Rangoon ke Haiphong. Dan membaca resensi ini, aku jadi pengen cepat-cepat pulang dan membaca bukunya.

Seperti aku lagi punya kekosongan yang bakal terisi dengan rasa bahagia ketika membacanya. 

Nah, yang ketiga nih.

Aku juga jadi penasaran sama Eat, Pray, Love yang lagi hype banget itu. Padahal kan I don't do hype (mengakunya). Apalagi hype yang berhubungan sama self-help. Habis bau-baunya itu buku self-help banget sih. Tapi aku sampai meniatkan lihat-lihat ke Gramedia dan nyari versi bahasa Indonesianya.

Eh, sudah out of stock, kata mas-masnya. Di catatan arsipnya saja sampai tidak ada. Ugh.

Aku lebih penasaran sama hal-hal teknis perjalanannya sih.  Dan oke, juga tentang pencerahan spiritualnya, apa pun itu namanya.

Akhirnya, waktu muter-muter, dan menginginkan sesuatu yang berbau-bau empowerment, pemberdayaan. Eh ketemunya Why Men Marry Bitches, bwahahaha. Beli deh.

Sebuah studi antropologi hubungan manusia, aku berdalih. Tapi ini buku ternyata lumayan membuat ketawa, dalam cara yang positif, sampai-sampai dalih sebenarnya tidak dibutuhkan.

Lho, tadi kan ngomongin catatan perjalanan?

Ya sedikit menyimpanglah. Ini kan juga catatan perjalanan yang membuatku bisa berakhir di Why Men Marry Bitches, hahahahahaha.

Beneran deh, itu buku yang menghibur.

Posted at 03:16 am by i_artharini
Comment (1)  

Wednesday, June 11, 2008
The Boss(es)

Mungkin benar ya katanya karakter Elizabeth (Norah Jones) di My Blueberry Nights itu. Tentang orang lain yang kita jadikan cerminan untuk melihat diri sendiri. Kali ini, cermin-cermin itu adalah atasan-atasanku. Yang pergi, dan yang baru-baru datang.

Pertama, yang pergi dulu ya.

Redaktur yang kayaknya batal jadi preman terus jadi wartawan itu akhirnya kembali ke habitat asalnya. Kenal dan bekerja baru tiga bulan terakhir di edisi siang (Apa, tiga bulan? Kenapa berasanya sudah seperti setahun ya?).

Sudah berapa lama ya?

Dua minggu? Kurang lebih selama itu, dia sudah nggak ikut rapat pertama atau terakhir.

Ah, membuat kangen juga. Karena ini orang, yang pada masa-masa pertama kenal cukup membuat aku resisten (atas dasar gosip belaka), bisa jadi pendukung di tengah kecemasan atau terhadap ide-ide baru.  Orang yang memilih menyederhanakan daripada merumitkan. Atau bisa jadi devil's advocate saat otak buntu.

Pada awal-awal proses ini, saat aku masih ingin membuat orang terkesan, ya targetnya dia. Bukan untuk apa-apa, hanya sekadar memberikan penghargaan balasan atas kepercayaan yang dia berikan. Sampai akhirnya merasa capek sendiri, hehe, dan pekerjaan kembali jadi proses 'rutin'.

Dan dia adalah pengingat akan penilaian terhadap seseorang bisa berubah.

Lalu, ada bos baru masuk.

Tidak langsung terhubung ke kepentinganku sih. Pun baru sekali bertemu. Tapi dia bisa jadi pengingat akan sebuah pelajaran. Betapa internet bisa memberikan gambaran yang terlalu ideal akan seseorang.

Berdasarkan kesan pertama setelah ketemu, kok ya charmless. Ini bisa jadi 'the story of a charmless man', nah, nah, nah, nah, nah, nah, nah, nah, nah. Hehe.

Sibuk menirukan bunyi buzzer salah di acara-acara kuis televisi tempatnya lama tinggal untuk menegaskan 'tidak boleh' atau 'tindakan salah'. Dan tidak menawarkan ide-ide baru. Melarang, tapi tidak memberi solusi.

"Tapi jabatan tangannya mantap, tauk," kata seorang mbak.

Aku tidak menjabat tangannya, tapi aku selalu berpikir itu satu hal yang penting. Mendasar. Esensial. Berbicara banyak.

Dan itu sebabnya aku suka kesal dengan orang yang salaman tangan nggak niat. Bukan karena alasan muhrim non muhrim. Sudah nyodorin tangan, tapi nggak ada bedanya sama ngasih ikan mati. Niat nggak sih?

Anyway.

Mungkin aku harus mempertanyakan penilaianku yang overrated tentang jabatan tangan itu. Soalnya ini orang, selain charmless, ternyata juga lebih sibuk jadi polisi 'syariah'. Mengatur tempat nongkrong sampai sibuk bermain detektif.

"Emang dia di pihak siapa sih, kok nuraninya nggak kesentuh? Seharusnya kan pas lihat orang digaji segitu, dia jadi miris. Ini kok malah sibuk nuduh-nuduh," kata mbak Koalala.

This guy is definitely a lesson for so many things. Pesona, kemanusiaan, kepantasan, dan unggah-ungguh mungkin. Tapi aku terlalu jarang berinteraksi dengannya untuk memikirkannya terlalu lama.

Yang terakhir, ini juga tentang pelajaran untuk banyak hal.

Rapat jam 1 (malam) Senin kemarin, koran hari itu sudah selesai dicetak. Membuka-buka, nggak sengaja sampai halaman Euro 2008 dan tertumbuk pada satu nama.

Akuisisi terbaru perusahaan, hasil lepehan saingan nomor satu. Gosipnya sudah santer dan ada saksi-saksi yang sudah bertemu dengannya. Tapi belum melihat sosoknya. Sampai namanya ada di sudut pandang.

Yang aneh, kok ya namanya jadi nggak ada gema-gema kehebatannya ketika ditempelkan dengan status plus institusi tempatku bekerja. Jadi terdengar biasa banget.

Tulisannya juga...biasa banget. Dan aku nggak membaca sebanyak itu untuk tahu bahwa orang dengan kapabilitas dan pengalaman (dan seharusnya wawasan) sekaliber dia seharusnya bisa menghasilkan karya yang lebih menggugah.

Kolomnya 'sudut pandang', tapi kok isinya cuma rangkuman dari berbagai kejadian cedera yang tidak diisi sudut pandang.

"Apa mungkin karena dia terbiasa nulis dengan gaya tempat sebelumnya. Jadi puanjaaang. Esensinya ada di sepertiga bawah. Tapi sudah keburu dipotong karena space kita yang lebih sempit."

"Ini kan sama saja kaya kita mbaca editorial ambigu tempatnya bekerja sebelumnya."

Beneran deh, kalau itu yang namanya jurnalisme anggun, aku bakal berhenti, berbalik, dan lari cepat-cepat ke arah berlawanan. Padahal aku big fan of Audrey Hepburn. Dalam artian, selalu mencoba jadi anggun gitu.

"Apa mungkin karena kertas kita lebih jelek ya?" kata seorang mbak lagi.

Hahaha.

Mbak Koalala bilang, "Eh, kalau dibaca kedua kalinya, lebih baik kok."

Aku: "Hah, yang bener. Kok bisa?"

Koalala: "Soalnya selama mbaca, gue berkompromi dengan mengulang-ulang: mantan pemred Harian Kini, mantan pemred Harian Kini."

Hmm, ini orang ternyata tidak percaya dengan konsep 'going out with a bang'. Sesekali itu perlu dilakukan kok. Apalagi di saat elu memulai berkarya di tempat baru, bukan? Dengan pengakhiran masa kerja yang tidak menyenangkan pula dari tempat sebelumnya.

Bukannya ini saat yang tepat untuk menunjukkan bahwa you still have that fight in you? Mungkin belum pernah dengar lagunya Ben Harper itu ya?

Really, man, kalau cuma itu yang bisa kamu lakukan, ada banyak orang di sini, setengah dari usia elu yang bisa melakukannya lebih baik. Termasuk aku yang bukan wartawan atau penulis militan.

Tapi, seperti katanya Ben Harper ya, there's always someone younger//someone with more hunger//don't let them take the fight outta you.

Ini juga tentang sebuah pelajaran. Kita mungkin cuma dianggap nomor dua atau sebelah mata, tapi bukan berarti elu tidak harus membuktikan diri. Dan buat 'kita', mungkin harus mulai berhenti terkesima pada nama atau institusi. Mulailah jadi The Bitch (referensi dari Why Men Marry Bitches. Don't ask, I'll write later on this) yang mempertanyakan, apa untungnya kita dapat orang ini?

Kemarin(nya orang Jawa) ada An Inconvenient Truth di HBO. Al Gore menyebut sesuatu tentang intellectual firmament atau lingkungan intelektual yang menyentuhnya saat kuliah. Seorang peneliti yang pertama kali mengenalkan dia pada pemanasan global, dan pada ide-ide yang tidak pernah terpikir sebelumnya oleh Gore.

Dan aku jadi terhenyak. Aku teringat pada orang-orang yang aku kenal yang membuat dirinya terkelilingi oleh intellectual firmament. Mengenalkan dirinya pada ide-ide yang belum pernah mereka pikirkan sebelumnya.

Aku jadi berkesimpulan, jangan-jangan membuat diri terkelilingi oleh intellectual firmament itu adalah bagian dari menjadi orang muda yang mendewasa. Bagian dari rites of passage. Coming of age, apa pun itu, ritual pendewasaan. Dan jika iya, aku jadi bertanya, apakah aku sudah memilih intellectual firmament yang tepat? Yang bisa mengenalkan aku pada banyak ide-ide baru?

Kalau pun iya sudah memilih, apakah firmament itu tempat aku bekerja sekarang? Siapa ya yang (masih bisa) mengenalkan aku pada ide-ide itu? Dan masih cukupkah tempat ini memberi asupan gizi yang aku butuhkan?

Kalau tidak, mungkin sudah waktunya untuk berkemas kali ya?

Posted at 05:57 am by i_artharini
Make a comment  

Wednesday, June 04, 2008
Dari Astrologi dan Kosmopolitan

Pencerahan sering datang beruntun. Cukup untuk membuatku bertanya-tanya, ada maksud tertentu atau sekadar koinsiden ya (Tsaaahh, koinsideenn..). Yang terbaru datang akhir pekan, dua minggu lalu.

Bangun dari Sabtu Hibernasi (Jumat sudah keluar rumah dan bersosialisasi kok, jadi sudah seimbang aku rasa) tiba-tiba ada satu sms dari pemain lama. Isi pesannya...sebenarnya nggak ada intinya. Jika inti itu berarti sesuatu yang esensial, mendasar. Lha wong pertanyaannya cuma tentang laporan pandangan mata akan sebuah film di bioskop.

Ada jawabannya sih pertanyaan itu. Tapi kenapa nanya ke aku? Aku kan bukan penjual tiket di bioskop. Atau pengumpul data animo orang lagi suka nonton film apa. Bukan Badan Pusat Statistik. Walaupun mungkin jawabannya bisa ditemukan kalau aku mencari tahu ke sumber yang tepat, tapi...penting nggak sih pertanyaan itu?

Oke, penting atau tidak penting itu ukuran subyektif, dan berdasarkan ukuranku, idih, enggak banget. Dengan niatan-niatan romantis yang dulu pernah terbit, aku sudah harus berjuang untuk memunculkan kepedulian. Apalagi pas niatan-niatan itu, seperti sekarang, sudah mulai pudar dan kamu sudah di ambang jadi sosok asing.

Let's see, aku sudah cukup pusing dengan pekerjaan yang membuat jam terbangku turun dan mengungkung di kantor. Terus, aku masih harus menurunkan setidaknya 20 kg sampai akhir tahun ini. Aku masih harus mengumpulkan keberanian (dan uang) buat jalan sendiri. Dan kamu menanyakan tentang antusiasme massa kolektif yang tanpa nama dan tanpa 'wajah' itu? Really, you want to go to that direction?


Kalau mau tanya kabar--kalau kan? Aku cukup tahu diri kok--kenapa nggak langsung saja sih? Akan sangat memudahkan. Apalagi, aku baru sadar, meet cute kedua kita, yang membuat kita berada dalam 'speaking terms' itu sudah terjadi setahun lalu. Dan pola komunikasinya, sampai sekarang, nggak bisa 'biasa-biasa saja'?(Ini membuatku bertanya-tanya, yang sakit sebenarnya siapa ya? Aku, sepertinya)

Kalau beneran pengen tahu jawaban dari pertanyaan yang sudah diajukan, yaa, maaf saja, aku sedang tidak punya waktu mengurusinya. Atau mungkin karena kamu sudah mulai jadi asing ya, maka pertanyaanmu jadi tidak penting. 


Tapi semua ocehan ini ya cuma tersimpan dalam kepala dan hati dan blog ini. Yang keluar dan tersampaikan (aku usahakan) terdengar manis, ramah dan peduli khas perempuan Jawa yang bakal membuat ibuku bangga.

Sesuatu tentang Kosmopolitan?

Ah ya, majalah itu memberi pencerahan. Lagi duduk sendiri di Bakoel Koffie, mencoba wi-fi yang putus-putus, sambil membolak-balik Kosmopolitan yang sampul depannya Diane Krueger. Artikel yang aku baca judulnya cukup membuatku malu. Cara Mengerti Pria, atau sesuatu semacamnya.

Membacanya sekilas-sekilas, cuma ngecek, apa yang aku nggak tahu dan mereka tahu, haha. Salah satu poinnya cukup membuatku merasa ditonjok, dan mungkin membuatku mengeluarkan posting ini. "Jika dalam kencan seorang pria mengatakan 'saya tidak tahu apa yang saya mau'. Percayalah, mereka tahu apa yang diinginkan. Hanya saja itu bukan anda. Jangan sedih, ada banyak pria lain di luar sana."

Oh, God.

Tapi dia kan mengatakannya dalam konteks pekerjaaaannn? Masa itu termasuk sih?

Terus pas sore sampai kantor, ada mantan anak Salman yang tak mau mengakui ke-Salman-annya tiba-tiba datang ke meja dan bilang, "Eh, ini ati atau daging sih?" sambil menunjuk-nunjuk olahan bagian tubuh hewan di wadah styrofoam.

"Kalau ngeliat teksturnya sih daging."

"Aku curiga. Kok rasanya kayak ati."

Ada yang ingat
Jessica Simpson dan Chicken of the Sea? Kayaknya ini nggak jauh beda sih skenarionya. Cuma karena yang ngomong anak ITB ya, aku nggak langsung merasa ada kesamaan. Sampai sekarang.

Terus dia menambahkan, "Sudah baca Tarot hari ini?"

"Belum. Aku tadi pergi pagi banget. Sampai jam segini belum megang koran."

"Baca deh bintangmu. Bagian Cinta-nya."

Cari, cari, cari. Ketemu koran Minggu di meja redaktur ekonomi. "Cinta akan memasuki kehidupan Capricorn, namun hubungan itu tak pernah membumi dan tidak akan berlangsung lama. Harap disadari hubungan tersebut tidak benar, karena cuma akan membuat kalian berdua sama-sama akan menderita dan berkorban sia-sia."

"Haahhhh?"

Si (mantan) anak Salman menyahut dari kubikelnya, "Sudah, Naarr. Lupakan saja ituuu."

Ya waktu itu sih aku merasa, iya ya, dari beberapa probabilitas romansa yang ada, kok ya nggak ada yang membumi. Semuanya platonis.

Dalam skema dunia Umar Kayam, mungkin ini yang disebut Ngalmus itu. Jadi, secara resmi, nama julukannya adalah Mr Ngalmus, hehe. (Walaupun setelah diingat-ingat, cerita-cerita
meet cute itu jadi terbuang percuma dong. Aku nggak pernah mengalami meet cute terus-terusan kecuali sama Mr Ngalmus. Aku malah nggak pernah punya satu pun cerita meet cute sama orang lain. Tapi bisa juga kan meet cute buatku dan meet bad luck buat dia...Ah, well. Bisa buat basis skenario komedi romantis kayaknya, haha) 

Mungkin memang sudah saatnya (banget, banget) berfokus ke hal-hal yang aku sebut di atas. Pas membuka astrologinya Friendster pun dibilang: If you think you need to start making some lifestyle changes, you're right. Start. When you feel the urge to mix things up, you cannot continue with your normal routine and have any sense of growth or progress. But you can relax--these changes you make don't have to huge adjustments. They just have to be significant enough to make a difference. Cutting back on fried foods or setting aside five more dollars every week in savings are examples of little things that can mean a lot.

Hihi, kok persis ya sama hal-hal yang harusnya aku fokusin. Makan lebih sehat (dan ngegym dan ngurangin berat badan) dan nabung (buat tujuan tertentu). Sekadar kebetulan atau pencerahan?


-----
btw, bahkan Jane Austen pun ikut memberi pencerahan kemarin. Satu bagian di Mansfield Park tertulis,

"...when there was no return, no letter, no message--no symptom of a softened heart--no hope of advantage from separation--her mind become cool enough to seek all the comfort that pride and self-revenge could give."

Posted at 05:05 am by i_artharini
Make a comment  

Wednesday, May 21, 2008
Bangkit

Katanya (iklan), ada berbagai macam cara memaknai kebangkitan. Ada reporter metropolitan yang berorasi kebudayaan tapi di akhir acara malah kaya Ketua RT lagi menutup halal bihalal (kata itu ada nggak sih sebenarnya dalam khazanah bahasa Indonesia? Kalau ada, gimana menulisnya?).

Aku, mungkin balik ke gym kali ya. Biar kalau ada kebutuhan mendadak untuk tampil dengan two-piece bathing suit selalu siap. Hehehe.

Belum serius sih, baru kemarin aja sekali, mumpung acara liputan Kebangkitan yang lain dekat situ.

Pertamanya di alat...apa ya itu namanya, pokoknya gerakannya mirip mengayuh, tapi sambil berdiri, setengah jam. Dan rasanya bahagia.

Terus pindah ke treadmill, setengah jam juga.

Mau pindah ke cross-trainer, eh ada mbak-mbak kayak Kelinci Energizer yang make lamaaa banget. Akhirnya balik lagi ke treadmill.

Tapi, oh, ada sisa-sisa dari acara kumpul-kumpul RT reporter metropolitan (lengkap dengan potong tumpengnya).

Di sana ketemu mantan atasan yang, masih teteup aja, ingin diakui tapi dengan upaya seminim mungkin. Nggak lewat tulisan, nggak lewat kemampuan verbal. Dan nggak bisa lihat orang sekadar main-main tanpa arah, menganggap serius acara yang sebenarnya...biasa-biasa aja.

Ini aku dengan jubah penilaian ya. Jadinya, pas lihat spanduk peringatan kebangkitan di acaranya si reporter metropolitan, kok ya ucapannya nggak jauh beda sama spanduk-spanduk dari instansi pemerintah atau kepolisian.

Yang jayus, kosong, berusaha terkesan gagah tapi sekadar retorika. Dan terakhir, si reporter metropolitan bilang: Terima kasih ya atas dukungannya.

Kita nggak seserius itu kok, cuma butuh variasi tujuan. Biar ada yang bisa diomongin selain urusan kantor. Karena nggak bisa lagi tidur malam hari.

Pas acara selesai jam 11.30 pun, aku merasa, lha kok udahan? Kayaknya masih jam 10 aja.

Yang sial sih, karena penuh, jadi duduk di bagian depan. Paling depan. Lampu juga pas nyorot ke kita. Tapi ketawa kemekelan pas ada bapak-bapak dari perusahaan sponsor (dua lho sponsornya! Dari bidang usaha yang sama pula!) dengan postur nggak jauh beda sama orang DPR membaca, "Namaku bayi dalam gendongan."

Cuma bisa tertegun.

Ketawanya baru meledak waktu dia bilang, "Ibu, ibu, aku butuh susu, ibu."

Sejak dari situ, apa pun yang dia omongin nggak bisa dianggap serius. Tambah geli karena saling lihat-lihatan. Mana pada sampe berkaca-kaca semua matanya. Jadi pada kebingungan menyembunyikan geli.

Oke, itu puisi bukan main-main. Tapi gara-gara cara membaca si bapak ini, ketawa jadi seperti nggak kehabisan stok.

Yah, mungkin memang cuma bisa memaknai acara kebangkitan si reporter metropolitan cuma sampai segitu.

Bangkit? Apa ya. Mengecek ulang daftar tahun ini sepertinya.

Posted at 07:47 am by i_artharini
Comments (2)  

Next Page