PENARI MUNGIL


(Saya bukan seorang penari. Pun sangat jauh dari mungil. Tapi, tahu kan adegan 'Tiny Dancer' di 'Almost Famous'? Sensasi membahagiakan dari adegan itulah yang saya kejar..)



Hold me closer, tiny dancer

Count the headlights on the highway

Lay me down in sheets of linen

You had a busy day, today


("Tiny Dancer" - Elton John)





"...the quest for transcendence has always been closely linked to the ecstatic release of dancing."
(Resensi RollingStone atas sebuah album pop)

Mr. Darcy: "So what do you recommend, to encourage affection?"
Elizabeth Bennet: "Dancing, even if one's partner is only tolerable."
(Pride & Prejudice, 2005)


perempuan, 1983, lovesick soul, berjalan kaki, belajar menulis, menonton film, ingin keliling dunia, Billie Holliday, Jane Austen, 'Franny and Zooey', cerita pendek F Scott Fitzgerald, lagu-lagu sedih, kecanduan membeli buku second, deretan buku di lemari, berkeliling dengan bis kota, mengepak koper, menari bebas, Vogue, sepatu, bad boys, kopi, kuliner, foto, semua yang vintage, genggaman tangan, pelukan hangat, detil percakapan antara manusia, kegelisahan, kesepian, ruang pencarian, belajar dewasa, museum dan bangunan tua, hari hujan, sinar matahari hangat di hari berangin, airport, stasiun kereta, dan pertanyaan tanpa akhir

YM: isyana_artharini
Email: i.artharini@gmail.com
   

<< June 2008 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Friday, June 20, 2008
(Rencana) Akhir Pekan

Oke, Jumat sepertinya masih ada liputan. Dan gym.

Tapi Sabtu, sudah merencanakannya sebagai hari eskapisme. Pengen memanjakan diri, merawat diri, terus nonton film-film noir. Kemarin baru menemukan (dan beli) High Sierra, Dark Passage, They Drive by Night sama The Postman Always Rings Twice.

Jadi, besok bakal jadi perkenalanku dengan Lana Turner sama Ida Lupino. Lebih banyak Bogart, dan satu lagi film duetnya dengan Bacall.

Btw, kemarin-kemarin waktu di gym sambil nonton Thank You For Smoking. Di situ ada adegan karakternya Aaron Eckhart--siapa itu si eksekutif perusahaan rokok?--yang menyitir data produksi rokok bisa melonjak, salah satunya karena pengaruh film.

Percintaan besar Hollywood dalam wujud Bogart dan Bacall pertama kali 'disegel' di atas rokok lewat To Have and Have Not. "Anybody got a match?" tanya Bacall.

Bener banget. Gara-gara film itu aku jadi merasa haus rokok.

Btw, Sex and the City: the Movie sudah main lhoo. Iya, itu nggak bakal jadi pencapaian sinematis yang prestisius (kecuali mungkin fakta bahwa Patricia Fields, si penata gaya film dan serialnya, sudah menjadi Edith Head generasi 'kita' itu bisa dibilang sebuah pencapaian), tapi menyenangkan aja lihat tasnyaaa, sepatunyaaa, bajunyaaa, hehehe.

Makanya aku jadi sedih duduk sendiri. Siapa ya yang bisa diajak nonton film itu?

Orang-orang yang aku pengen nonton-bareng-in pada nggak ada di sekitarku. Rani atau teman-teman yang dulu sering nonton bareng serialnya Selasa malam lagi pada jauh-jauh, huks.

Tapi pas aku cerita tentang "katanya nonton bareng Euro di Erasmus kalau Belanda lagi main ada bir gratisnya lhoo."

Si Anak Salman bilang, "Nanti kan Belanda ketemu Rusia. Seru banget. Mau? Yuk, yuk, yuk. Tapi pulangnya gimana?"

Sha2 dan aku: "Gampanglah."

AS: "Kan mulainya jam 1.45. Emm, gimana kalau kita nonton SATC dulu?"

Aku dan Sha2: "Yuk, yuuukkk."

Fingers crossed.

Posted at 06:29 am by i_artharini
Comment (1)  

Thursday, June 12, 2008
Tete a tete

Tepat seminggu yang lalu aku ketemuan sama Ms Know-It-All buat tete-a-tete makan siang. Kita jadi ladies who lunch, ceritanya. Dan karena aku butuh ketemu sama orang lain, tanya-tanya kabar, denger cerita yang tidak aku familiari. Sesuatu yang baru lah intinya.

Memilih ketemuan di Oakwood--biar habis itu bisa mampir ke Ambassador, hehe--terus mau milih tempat pas sudah di sana. Akhirnya ke Loewy lah.

Itu restoran interiornya keren banget. Berasa di New York (halah). Interiornya sih gaya-gaya art deco, temboknya bata dicat putih. Terus mereka punya tempat-tempat duduk yang agak mirip kompartemen itu, kursinya sofa, dan terlindung. Ada pembatas di bagian belakang kepala.

Lain-lainnya, meja kayu segi empat sederhana. Tapi kaki mejanya bekas kaki mesin jahit Singer model kuno. Kursi kayu sederhana juga. Di atas mejanya ada botol Coca cola lama, diisi air sama satu tangkai bunga daisy, asli, yang kelopaknya besar. Warnanya ungu muda lembuuut banget.

Ada kipas angin juga yang berputar pelan. Sangat New York 1920an deh. Nggak kaget kalau tiba-tiba Dorothy Parker masuk dan pesan martini. (Btw, itu tempat menjual martini dengan berbagai rasa. Selain yang standar with a twist atau olive, ada juga White Chocolate, Raspberry Cheesecake [!], ah pokoknya menu cocktailnya lengkap banget deh. Plus wine, rose, dst, dst)

Makanan yang kita pesan sih rasanya biasa saja. Ada yang lebih istimewa dengan harga yang lebih murah. Tapi suatu hari nanti, mungkin enak kalau buat nyantai sore-sore sambil menyisip martini, hehe.

Sesi tanya-jawab kabar masing-masing pun berjalan.

Ms Know-It-All lagi merasa banyak hal yang lumayan going good dalam hidupnya, nggak seperti tahun lalu. Tapi merasa perlu untuk menambahkan, "Nih Nar. Buat orang-orang kayak kita, yang lahir tahun 83, 2009 is going to be a good year karena celestial..."

Aku lupa terakhirnya apa. Tapi intinya tatanan perbintangan deh yang jadi alasannya.

"So, how's life?"
"Emmm. Good. Polos, lagi nggak ada apa-apa yang terjadi. Dan ternyata aku nggak kenapa-napa dengan hidup yang kosong-kosong itu."

Mungkin karena tempatnya yang nyaman, yang silir semilir, atau karena kenyang juga, aku nggak menyangka bisa jadi seoptimis itu.

Jadi ingat kutipannya Audrey Hepburn di buku foto yang baru dikasih mbak ShaSha itu. Katanya, tentang uang, kebahagiaan itu nggak bersumber atau disebabkan oleh uang. "But money can enhance my sense of security. Therefore it increases my chance to be happy."

Dan aku merasa optimisme dan kebahagiaan itu muncul karena aku lagi berada di tempat yang indah. Yang butuh biaya untuk diakses. Dan tempat itu bisa memberi rasa nyaman dan pada akhirnya memberi kesempatan lebih besar untuk merasa bahagia, seperti katanya Audrey Hepburn itu.

"Are you involved with someone? Verliefd? Getrouwd?"
"Enggak. Sama sekali enggak. Aku pikir aku naksir orang, tapi ternyata enggak."

As much as I like being in love or having a crush, ternyata nggak ada yang lebih melegakan daripada menyadari bahwa 'penaksiranku' nggak berdasar. Cuma keinginan yang besar saja, tapi nggak cukup kuat atau cukup berdasar untuk menjadikannya bertahan.

Mungkin 'perubahan-perubahan' ini akibat nge-gym. Tapi aku belum selama itu kembali ke gym kayaknya sampai bisa memunculkan perbaikan dari segi hormonal atau emosional, dst.

Biasanya makan siang sama Ms Know-It-All jadi membawa bahan pikiran atau pembelajaran dari segi karier atau keuangan. Kemarin sih, nggak ada hal-hal sepert i itu yang kita perbincangkan. Lebih banyak hal pribadi yang ringan atau tentang teman-teman sekitar. Tapi aku keluar dari situ dengan merasa enteng dan bahagia.

"I wish I can be as optimistic as Rhonda Byrne," kata Ms Know-It-All. Sedikit berharap, tapi sepertinya nggak sepengen itu.
"Siapa tuh?" Aku dan keacuhan terhadap hal-hal yang berbau self-help ya.
"Itu lho. Law of attraction. The Secret."
"Oooh yaa. Aku lagi berpikir untuk mulai membacanya."
"You should. It's the pinnacle of self-help books."
"Jadi kalau udah mbaca itu, nggak perlu mbaca yang lain-lainnya ya?"

Oke, ini kejadian sudah seminggu yang lalu. Dan moodku juga tidak selalu seringan itu. Tapi yang tetap adalah keinginan untuk meringankan hati, untuk jadi lebih bahagia, dan riang, dan lebih sering tertawa.

Masih ada momen-momen yang membuat hati terasa sesak. Iri dan sakit hati terutama. Tapi pas lagi di gym, aku berusaha bukan sekadar membakar kalori tapi juga membakar rasa marah.

Atau setidaknya dengan membakar kalori sebanyak-banyaknya dan setahan-tahannya, aku jadi nggak lagi punya energi untuk merasa kesal atau sedih atau sakit hati lagi.

Dan ini yang tadi aku baru kepikiran di gym. Kenapa dulu waktu patah hati itu, nggak kepikiran untuk ngedaftar gym ya? Maksudnya, bakal tetap bisa nangis dan tenggelam dalam pikiran sendiri, tapi setidaknya bisa sambil beraktivitas kan?

Jadi, aku akan menyebutnya nasihat terbaik buat orang yang habis patah hati. Get a gym membership.

(Ugh, aku kangen yoga nih. Tapi nggak pernah bisa ikut kelasnya)

Posted at 10:26 pm by i_artharini
Make a comment  

Peran

"You know you don't have to act with me, Steve. You don't have to say anything, and you don't have to do anything. Not a thing. Oh, maybe just whistle. You know how to whistle, don't you, Steve? You just put your lips together and... blow."

(To Have and Have Not -1944)

Penyadaran yang terlambat sebenarnya. Tapi masing-masing dari kita sebenarnya menjalani sebuah peran kan? Baik disadari atau tidak.

'Politik' pengemasan diri inilah yang menjadikan kita diterima sebagai sosok yang kita proyeksikan. Kadang berhasil, kadang tidak. Yang tidak, mungkin berusaha memproyeksikan citra yang terlalu serius, tapi jatuhnya konyol. Coba tanya Coldplay, haha.

Aku sudah agak lupa sih sama kejadian utama yang mendorong posting ini. Cuma kejadian atau contoh-contoh kecilnya terus bertambah. Seperti waktu itu, aku lagi ngobrol dengan anak Salman.

A(nak) S(alman): Dia itu sebenarnya orang yang pintar. Wawasannya luas, ngomongnya cerdas. Tapi suka loading lama juga.

Aku: Contohnya?

AS: Emmm..Misalnya kita lagi ngumpul bareng, komentar tentang sesuatu, terus komentar itu sudah dibahas habis sampai kita sudah nggak ketawa lagi. Eh lima menit kemudian, dia bakal ngulangin komentar pertama itu tadi.

Aku: Ah, acting kaliii. Jaga imej.

AS: Ngapain? Waktu itu situasinya lagi pada ngumpul bareng sama temen aja, kayak kita gitu lho. Ngapain harus acting? Emang orangnya beneran lo-la.

Aku: Ooh. (Dalam hati: Aku nggak akan segitu yakin deh)

AS: Emang kamu mengambil peran apa?

Hmm. Ini yang membuat aku terhenyak.

Aku: Nggak ada yang aku pilih secara sengaja sih.

Mungkin ini waktu yang tepat buat memilih peran ya.

Dulunya sih aku mencoba jadi pintar. Tapi jatuhnya malah snob.  Terus ada masanya aku berusaha untuk membuat terkesan, impressive mode on. Tapi ternyata itu cuma berlaku buat orang-orang tertentu saja. Dan jatuhnya juga jadi terlalu overeager. Taking myself too seriously lah.

Mbak Koalala mengusulkan: Kenapa elu enggak jadi cewek budayawati aja?

Ah ya, it could have been a brilliant career.

Cuma aku ingat tuh ada masanya saat telapak tanganku nggak pernah seberkeringat dan sedingin itu daripada ketika disodorin sebendel puisi ketikan dan ditanyai: Gimana menurutmu?

Aku suka banget sama yang nyodorin puisi itu, cuma kok ya aku nggak pernah lebih menginginkan berada di tempat lain daripada harus menerima (dan menjawab) pertanyaan itu.

Besoknya, Ms Koalala mengajukan usul lagi: Gimana kalau cewek bola? Gue pengen tau, sejauh mana kemasan itu bisa menjual.

Hahaha. Bisa aja sih, tapi aku punya kesulitan menghubungkan nama dan angka. Pertandingan kan bukan film yang punya dialog atau plot, walaupun sama-sama bisa mengaduk emosi.

Pilihan lain...hmm, apa ya?

Oh, ini saja. Female Woody Allen.

Bukan, bukan dalam artian jadi Scarlett Johansson ya. Atau kabur dengan anak angkat pasangan hidupmu. Tapi funny women writer gitu. Seperti Tina Fey, atau Julie Delpy di '2 Days in Paris' atau Jennifer Westfeldt di 'Ira and Abby'. Bukan sebagai aktrisnya, tapi sebagai penulis.

Sepertinya cukup mengasyikkan.

Mungkin agak susah dipraktekkan di kehidupan nyata, tapi setidaknya bisa lewat blog kan?

Blog ini juga sebuah peran bukan?

Posted at 06:34 am by i_artharini
Make a comment  

Catatan Perjalanan

Hmm, sebenarnya masih ada hutang dua tulisan lagi. Plus merapikan tulisan-tulisan lain. Tapi sebentar nge-blog dulu.

Kok aku sekarang jadi merasakan kenyamanan tersendiri ya dengan catatan-catatan perjalanan, travel writing et al. Sepertinya sih cuma fase, yang berawal dengan On the Road.

Nyaman saja membacanya. On the Road, maksudnya. Kemampuan otakku lagi terbatas, banget. Jadi merasa senang ketika menemukan bacaan yang nggak perlu mikir dalam-dalam atau lama-lama. Sudah tinggal mengikuti saja cerita perjalanannya Sal Paradise.

Ritmenya, alurnya enak. Kepadatan berceritanya juga membuat pembacanya nggak merasa ribet. Seperti monolog yang mungkin sebenarnya cuma sekadar buat catatan pribadi. Tapi terus diterbitin.

Dan aku jadi merasa nyaman membawa bukunya ke mana-mana. Pokoknya tersedia dalam tas, biar bisa dirogoh kapan saja. Walaupun ada pilihan buku lain. Seperti Sabtu kemarin.

Waktu berangkat dari rumah, rencananya pagi liputan, siang mau nge-gym, terus habis itu mau nongkrong di Cafe Au Lait. Mau meng-abuse koneksi wi-fi gratis plus ngejar tugas resensi. Pengen jadi the girl in the cafe yang sok-sok intimidatif dengan laptop dan tumpukan buku yang harus diresensi. Hahahaha.

Terus waktu ngepak barang-barang. Perlengkapan gym, sudah. Alat mandi, sudah. Laptop dan charger, sudah. Buku, ada Mansfield Park, Death of Ivan Ilyich, Dubliners, Exile and the Kingdom, sama On the Road.

Kok jadi berat banget ya?

Oke, akhirnya On the Road sama Death of Ivan Ilyich dikeluarin.

Lumayan lebih enteng, walaupun tidak signifikan. Tapi kok ada yang kerasa tidak pas di hati.

Setelah melihat dan berpikir ulang, akhirnya Exile and the Kingdom dikeluarin. Karena aku tahu, di saat rajin membaca pun Camus bukanlah pilihan pertama. Apalagi saat mulai membaca lagi dari awal.

He is infuriating. Karena aku nggak tahu harus diapain teksnya dia. Dan On the Road sama Death of Ivan Ilyich kembali masuk.

Beratnya jadi sama saja seperti sebelum dikurangi. Tapi ditimbang dari urusan hati, bebannya jadi lebih ringan. On the Road, nggak tahu kenapa, punya efek meringankan.

Dan pas minggu-minggu aku lagi gandrung buku itu, eh menemukan fakta bahwa Francis Ford Coppola mau jadi produser versi filmnya. Sutradaranya adalah Walter Salles yang membuat The Motorcycle Diaries. Reaksi pertama? Oh, tidak.

Tapi ya lihat nanti deh.

Yang kedua. Tiba-tiba tadi teringat sama W Somerset Maugham. Sepertinya dia juga membuat catatan perjalanan, yang aku punya di rumah tapi belum dibaca. Itu tentang apa ya? Kamboja atau Myanmar ya?

Kalau tentang Myanmar, sepertinya George Orwell yang membuat. Maugham, apa?

Cari-cari sebentar di Wikipedia dan menemukan, oh iya, judulnya The Gentleman in the Parlour. Catatan perjalanan dari Rangoon ke Haiphong. Dan membaca resensi ini, aku jadi pengen cepat-cepat pulang dan membaca bukunya.

Seperti aku lagi punya kekosongan yang bakal terisi dengan rasa bahagia ketika membacanya. 

Nah, yang ketiga nih.

Aku juga jadi penasaran sama Eat, Pray, Love yang lagi hype banget itu. Padahal kan I don't do hype (mengakunya). Apalagi hype yang berhubungan sama self-help. Habis bau-baunya itu buku self-help banget sih. Tapi aku sampai meniatkan lihat-lihat ke Gramedia dan nyari versi bahasa Indonesianya.

Eh, sudah out of stock, kata mas-masnya. Di catatan arsipnya saja sampai tidak ada. Ugh.

Aku lebih penasaran sama hal-hal teknis perjalanannya sih.  Dan oke, juga tentang pencerahan spiritualnya, apa pun itu namanya.

Akhirnya, waktu muter-muter, dan menginginkan sesuatu yang berbau-bau empowerment, pemberdayaan. Eh ketemunya Why Men Marry Bitches, bwahahaha. Beli deh.

Sebuah studi antropologi hubungan manusia, aku berdalih. Tapi ini buku ternyata lumayan membuat ketawa, dalam cara yang positif, sampai-sampai dalih sebenarnya tidak dibutuhkan.

Lho, tadi kan ngomongin catatan perjalanan?

Ya sedikit menyimpanglah. Ini kan juga catatan perjalanan yang membuatku bisa berakhir di Why Men Marry Bitches, hahahahahaha.

Beneran deh, itu buku yang menghibur.

Posted at 03:16 am by i_artharini
Comment (1)  

Wednesday, June 11, 2008
The Boss(es)

Mungkin benar ya katanya karakter Elizabeth (Norah Jones) di My Blueberry Nights itu. Tentang orang lain yang kita jadikan cerminan untuk melihat diri sendiri. Kali ini, cermin-cermin itu adalah atasan-atasanku. Yang pergi, dan yang baru-baru datang.

Pertama, yang pergi dulu ya.

Redaktur yang kayaknya batal jadi preman terus jadi wartawan itu akhirnya kembali ke habitat asalnya. Kenal dan bekerja baru tiga bulan terakhir di edisi siang (Apa, tiga bulan? Kenapa berasanya sudah seperti setahun ya?).

Sudah berapa lama ya?

Dua minggu? Kurang lebih selama itu, dia sudah nggak ikut rapat pertama atau terakhir.

Ah, membuat kangen juga. Karena ini orang, yang pada masa-masa pertama kenal cukup membuat aku resisten (atas dasar gosip belaka), bisa jadi pendukung di tengah kecemasan atau terhadap ide-ide baru.  Orang yang memilih menyederhanakan daripada merumitkan. Atau bisa jadi devil's advocate saat otak buntu.

Pada awal-awal proses ini, saat aku masih ingin membuat orang terkesan, ya targetnya dia. Bukan untuk apa-apa, hanya sekadar memberikan penghargaan balasan atas kepercayaan yang dia berikan. Sampai akhirnya merasa capek sendiri, hehe, dan pekerjaan kembali jadi proses 'rutin'.

Dan dia adalah pengingat akan penilaian terhadap seseorang bisa berubah.

Lalu, ada bos baru masuk.

Tidak langsung terhubung ke kepentinganku sih. Pun baru sekali bertemu. Tapi dia bisa jadi pengingat akan sebuah pelajaran. Betapa internet bisa memberikan gambaran yang terlalu ideal akan seseorang.

Berdasarkan kesan pertama setelah ketemu, kok ya charmless. Ini bisa jadi 'the story of a charmless man', nah, nah, nah, nah, nah, nah, nah, nah, nah. Hehe.

Sibuk menirukan bunyi buzzer salah di acara-acara kuis televisi tempatnya lama tinggal untuk menegaskan 'tidak boleh' atau 'tindakan salah'. Dan tidak menawarkan ide-ide baru. Melarang, tapi tidak memberi solusi.

"Tapi jabatan tangannya mantap, tauk," kata seorang mbak.

Aku tidak menjabat tangannya, tapi aku selalu berpikir itu satu hal yang penting. Mendasar. Esensial. Berbicara banyak.

Dan itu sebabnya aku suka kesal dengan orang yang salaman tangan nggak niat. Bukan karena alasan muhrim non muhrim. Sudah nyodorin tangan, tapi nggak ada bedanya sama ngasih ikan mati. Niat nggak sih?

Anyway.

Mungkin aku harus mempertanyakan penilaianku yang overrated tentang jabatan tangan itu. Soalnya ini orang, selain charmless, ternyata juga lebih sibuk jadi polisi 'syariah'. Mengatur tempat nongkrong sampai sibuk bermain detektif.

"Emang dia di pihak siapa sih, kok nuraninya nggak kesentuh? Seharusnya kan pas lihat orang digaji segitu, dia jadi miris. Ini kok malah sibuk nuduh-nuduh," kata mbak Koalala.

This guy is definitely a lesson for so many things. Pesona, kemanusiaan, kepantasan, dan unggah-ungguh mungkin. Tapi aku terlalu jarang berinteraksi dengannya untuk memikirkannya terlalu lama.

Yang terakhir, ini juga tentang pelajaran untuk banyak hal.

Rapat jam 1 (malam) Senin kemarin, koran hari itu sudah selesai dicetak. Membuka-buka, nggak sengaja sampai halaman Euro 2008 dan tertumbuk pada satu nama.

Akuisisi terbaru perusahaan, hasil lepehan saingan nomor satu. Gosipnya sudah santer dan ada saksi-saksi yang sudah bertemu dengannya. Tapi belum melihat sosoknya. Sampai namanya ada di sudut pandang.

Yang aneh, kok ya namanya jadi nggak ada gema-gema kehebatannya ketika ditempelkan dengan status plus institusi tempatku bekerja. Jadi terdengar biasa banget.

Tulisannya juga...biasa banget. Dan aku nggak membaca sebanyak itu untuk tahu bahwa orang dengan kapabilitas dan pengalaman (dan seharusnya wawasan) sekaliber dia seharusnya bisa menghasilkan karya yang lebih menggugah.

Kolomnya 'sudut pandang', tapi kok isinya cuma rangkuman dari berbagai kejadian cedera yang tidak diisi sudut pandang.

"Apa mungkin karena dia terbiasa nulis dengan gaya tempat sebelumnya. Jadi puanjaaang. Esensinya ada di sepertiga bawah. Tapi sudah keburu dipotong karena space kita yang lebih sempit."

"Ini kan sama saja kaya kita mbaca editorial ambigu tempatnya bekerja sebelumnya."

Beneran deh, kalau itu yang namanya jurnalisme anggun, aku bakal berhenti, berbalik, dan lari cepat-cepat ke arah berlawanan. Padahal aku big fan of Audrey Hepburn. Dalam artian, selalu mencoba jadi anggun gitu.

"Apa mungkin karena kertas kita lebih jelek ya?" kata seorang mbak lagi.

Hahaha.

Mbak Koalala bilang, "Eh, kalau dibaca kedua kalinya, lebih baik kok."

Aku: "Hah, yang bener. Kok bisa?"

Koalala: "Soalnya selama mbaca, gue berkompromi dengan mengulang-ulang: mantan pemred Harian Kini, mantan pemred Harian Kini."

Hmm, ini orang ternyata tidak percaya dengan konsep 'going out with a bang'. Sesekali itu perlu dilakukan kok. Apalagi di saat elu memulai berkarya di tempat baru, bukan? Dengan pengakhiran masa kerja yang tidak menyenangkan pula dari tempat sebelumnya.

Bukannya ini saat yang tepat untuk menunjukkan bahwa you still have that fight in you? Mungkin belum pernah dengar lagunya Ben Harper itu ya?

Really, man, kalau cuma itu yang bisa kamu lakukan, ada banyak orang di sini, setengah dari usia elu yang bisa melakukannya lebih baik. Termasuk aku yang bukan wartawan atau penulis militan.

Tapi, seperti katanya Ben Harper ya, there's always someone younger//someone with more hunger//don't let them take the fight outta you.

Ini juga tentang sebuah pelajaran. Kita mungkin cuma dianggap nomor dua atau sebelah mata, tapi bukan berarti elu tidak harus membuktikan diri. Dan buat 'kita', mungkin harus mulai berhenti terkesima pada nama atau institusi. Mulailah jadi The Bitch (referensi dari Why Men Marry Bitches. Don't ask, I'll write later on this) yang mempertanyakan, apa untungnya kita dapat orang ini?

Kemarin(nya orang Jawa) ada An Inconvenient Truth di HBO. Al Gore menyebut sesuatu tentang intellectual firmament atau lingkungan intelektual yang menyentuhnya saat kuliah. Seorang peneliti yang pertama kali mengenalkan dia pada pemanasan global, dan pada ide-ide yang tidak pernah terpikir sebelumnya oleh Gore.

Dan aku jadi terhenyak. Aku teringat pada orang-orang yang aku kenal yang membuat dirinya terkelilingi oleh intellectual firmament. Mengenalkan dirinya pada ide-ide yang belum pernah mereka pikirkan sebelumnya.

Aku jadi berkesimpulan, jangan-jangan membuat diri terkelilingi oleh intellectual firmament itu adalah bagian dari menjadi orang muda yang mendewasa. Bagian dari rites of passage. Coming of age, apa pun itu, ritual pendewasaan. Dan jika iya, aku jadi bertanya, apakah aku sudah memilih intellectual firmament yang tepat? Yang bisa mengenalkan aku pada banyak ide-ide baru?

Kalau pun iya sudah memilih, apakah firmament itu tempat aku bekerja sekarang? Siapa ya yang (masih bisa) mengenalkan aku pada ide-ide itu? Dan masih cukupkah tempat ini memberi asupan gizi yang aku butuhkan?

Kalau tidak, mungkin sudah waktunya untuk berkemas kali ya?

Posted at 05:57 am by i_artharini
Make a comment  

Wednesday, June 04, 2008
Dari Astrologi dan Kosmopolitan

Pencerahan sering datang beruntun. Cukup untuk membuatku bertanya-tanya, ada maksud tertentu atau sekadar koinsiden ya (Tsaaahh, koinsideenn..). Yang terbaru datang akhir pekan, dua minggu lalu.

Bangun dari Sabtu Hibernasi (Jumat sudah keluar rumah dan bersosialisasi kok, jadi sudah seimbang aku rasa) tiba-tiba ada satu sms dari pemain lama. Isi pesannya...sebenarnya nggak ada intinya. Jika inti itu berarti sesuatu yang esensial, mendasar. Lha wong pertanyaannya cuma tentang laporan pandangan mata akan sebuah film di bioskop.

Ada jawabannya sih pertanyaan itu. Tapi kenapa nanya ke aku? Aku kan bukan penjual tiket di bioskop. Atau pengumpul data animo orang lagi suka nonton film apa. Bukan Badan Pusat Statistik. Walaupun mungkin jawabannya bisa ditemukan kalau aku mencari tahu ke sumber yang tepat, tapi...penting nggak sih pertanyaan itu?

Oke, penting atau tidak penting itu ukuran subyektif, dan berdasarkan ukuranku, idih, enggak banget. Dengan niatan-niatan romantis yang dulu pernah terbit, aku sudah harus berjuang untuk memunculkan kepedulian. Apalagi pas niatan-niatan itu, seperti sekarang, sudah mulai pudar dan kamu sudah di ambang jadi sosok asing.

Let's see, aku sudah cukup pusing dengan pekerjaan yang membuat jam terbangku turun dan mengungkung di kantor. Terus, aku masih harus menurunkan setidaknya 20 kg sampai akhir tahun ini. Aku masih harus mengumpulkan keberanian (dan uang) buat jalan sendiri. Dan kamu menanyakan tentang antusiasme massa kolektif yang tanpa nama dan tanpa 'wajah' itu? Really, you want to go to that direction?


Kalau mau tanya kabar--kalau kan? Aku cukup tahu diri kok--kenapa nggak langsung saja sih? Akan sangat memudahkan. Apalagi, aku baru sadar, meet cute kedua kita, yang membuat kita berada dalam 'speaking terms' itu sudah terjadi setahun lalu. Dan pola komunikasinya, sampai sekarang, nggak bisa 'biasa-biasa saja'?(Ini membuatku bertanya-tanya, yang sakit sebenarnya siapa ya? Aku, sepertinya)

Kalau beneran pengen tahu jawaban dari pertanyaan yang sudah diajukan, yaa, maaf saja, aku sedang tidak punya waktu mengurusinya. Atau mungkin karena kamu sudah mulai jadi asing ya, maka pertanyaanmu jadi tidak penting. 


Tapi semua ocehan ini ya cuma tersimpan dalam kepala dan hati dan blog ini. Yang keluar dan tersampaikan (aku usahakan) terdengar manis, ramah dan peduli khas perempuan Jawa yang bakal membuat ibuku bangga.

Sesuatu tentang Kosmopolitan?

Ah ya, majalah itu memberi pencerahan. Lagi duduk sendiri di Bakoel Koffie, mencoba wi-fi yang putus-putus, sambil membolak-balik Kosmopolitan yang sampul depannya Diane Krueger. Artikel yang aku baca judulnya cukup membuatku malu. Cara Mengerti Pria, atau sesuatu semacamnya.

Membacanya sekilas-sekilas, cuma ngecek, apa yang aku nggak tahu dan mereka tahu, haha. Salah satu poinnya cukup membuatku merasa ditonjok, dan mungkin membuatku mengeluarkan posting ini. "Jika dalam kencan seorang pria mengatakan 'saya tidak tahu apa yang saya mau'. Percayalah, mereka tahu apa yang diinginkan. Hanya saja itu bukan anda. Jangan sedih, ada banyak pria lain di luar sana."

Oh, God.

Tapi dia kan mengatakannya dalam konteks pekerjaaaannn? Masa itu termasuk sih?

Terus pas sore sampai kantor, ada mantan anak Salman yang tak mau mengakui ke-Salman-annya tiba-tiba datang ke meja dan bilang, "Eh, ini ati atau daging sih?" sambil menunjuk-nunjuk olahan bagian tubuh hewan di wadah styrofoam.

"Kalau ngeliat teksturnya sih daging."

"Aku curiga. Kok rasanya kayak ati."

Ada yang ingat
Jessica Simpson dan Chicken of the Sea? Kayaknya ini nggak jauh beda sih skenarionya. Cuma karena yang ngomong anak ITB ya, aku nggak langsung merasa ada kesamaan. Sampai sekarang.

Terus dia menambahkan, "Sudah baca Tarot hari ini?"

"Belum. Aku tadi pergi pagi banget. Sampai jam segini belum megang koran."

"Baca deh bintangmu. Bagian Cinta-nya."

Cari, cari, cari. Ketemu koran Minggu di meja redaktur ekonomi. "Cinta akan memasuki kehidupan Capricorn, namun hubungan itu tak pernah membumi dan tidak akan berlangsung lama. Harap disadari hubungan tersebut tidak benar, karena cuma akan membuat kalian berdua sama-sama akan menderita dan berkorban sia-sia."

"Haahhhh?"

Si (mantan) anak Salman menyahut dari kubikelnya, "Sudah, Naarr. Lupakan saja ituuu."

Ya waktu itu sih aku merasa, iya ya, dari beberapa probabilitas romansa yang ada, kok ya nggak ada yang membumi. Semuanya platonis.

Dalam skema dunia Umar Kayam, mungkin ini yang disebut Ngalmus itu. Jadi, secara resmi, nama julukannya adalah Mr Ngalmus, hehe. (Walaupun setelah diingat-ingat, cerita-cerita
meet cute itu jadi terbuang percuma dong. Aku nggak pernah mengalami meet cute terus-terusan kecuali sama Mr Ngalmus. Aku malah nggak pernah punya satu pun cerita meet cute sama orang lain. Tapi bisa juga kan meet cute buatku dan meet bad luck buat dia...Ah, well. Bisa buat basis skenario komedi romantis kayaknya, haha) 

Mungkin memang sudah saatnya (banget, banget) berfokus ke hal-hal yang aku sebut di atas. Pas membuka astrologinya Friendster pun dibilang: If you think you need to start making some lifestyle changes, you're right. Start. When you feel the urge to mix things up, you cannot continue with your normal routine and have any sense of growth or progress. But you can relax--these changes you make don't have to huge adjustments. They just have to be significant enough to make a difference. Cutting back on fried foods or setting aside five more dollars every week in savings are examples of little things that can mean a lot.

Hihi, kok persis ya sama hal-hal yang harusnya aku fokusin. Makan lebih sehat (dan ngegym dan ngurangin berat badan) dan nabung (buat tujuan tertentu). Sekadar kebetulan atau pencerahan?


-----
btw, bahkan Jane Austen pun ikut memberi pencerahan kemarin. Satu bagian di Mansfield Park tertulis,

"...when there was no return, no letter, no message--no symptom of a softened heart--no hope of advantage from separation--her mind become cool enough to seek all the comfort that pride and self-revenge could give."

Posted at 05:05 am by i_artharini
Make a comment  

Wednesday, May 21, 2008
Bangkit

Katanya (iklan), ada berbagai macam cara memaknai kebangkitan. Ada reporter metropolitan yang berorasi kebudayaan tapi di akhir acara malah kaya Ketua RT lagi menutup halal bihalal (kata itu ada nggak sih sebenarnya dalam khazanah bahasa Indonesia? Kalau ada, gimana menulisnya?).

Aku, mungkin balik ke gym kali ya. Biar kalau ada kebutuhan mendadak untuk tampil dengan two-piece bathing suit selalu siap. Hehehe.

Belum serius sih, baru kemarin aja sekali, mumpung acara liputan Kebangkitan yang lain dekat situ.

Pertamanya di alat...apa ya itu namanya, pokoknya gerakannya mirip mengayuh, tapi sambil berdiri, setengah jam. Dan rasanya bahagia.

Terus pindah ke treadmill, setengah jam juga.

Mau pindah ke cross-trainer, eh ada mbak-mbak kayak Kelinci Energizer yang make lamaaa banget. Akhirnya balik lagi ke treadmill.

Tapi, oh, ada sisa-sisa dari acara kumpul-kumpul RT reporter metropolitan (lengkap dengan potong tumpengnya).

Di sana ketemu mantan atasan yang, masih teteup aja, ingin diakui tapi dengan upaya seminim mungkin. Nggak lewat tulisan, nggak lewat kemampuan verbal. Dan nggak bisa lihat orang sekadar main-main tanpa arah, menganggap serius acara yang sebenarnya...biasa-biasa aja.

Ini aku dengan jubah penilaian ya. Jadinya, pas lihat spanduk peringatan kebangkitan di acaranya si reporter metropolitan, kok ya ucapannya nggak jauh beda sama spanduk-spanduk dari instansi pemerintah atau kepolisian.

Yang jayus, kosong, berusaha terkesan gagah tapi sekadar retorika. Dan terakhir, si reporter metropolitan bilang: Terima kasih ya atas dukungannya.

Kita nggak seserius itu kok, cuma butuh variasi tujuan. Biar ada yang bisa diomongin selain urusan kantor. Karena nggak bisa lagi tidur malam hari.

Pas acara selesai jam 11.30 pun, aku merasa, lha kok udahan? Kayaknya masih jam 10 aja.

Yang sial sih, karena penuh, jadi duduk di bagian depan. Paling depan. Lampu juga pas nyorot ke kita. Tapi ketawa kemekelan pas ada bapak-bapak dari perusahaan sponsor (dua lho sponsornya! Dari bidang usaha yang sama pula!) dengan postur nggak jauh beda sama orang DPR membaca, "Namaku bayi dalam gendongan."

Cuma bisa tertegun.

Ketawanya baru meledak waktu dia bilang, "Ibu, ibu, aku butuh susu, ibu."

Sejak dari situ, apa pun yang dia omongin nggak bisa dianggap serius. Tambah geli karena saling lihat-lihatan. Mana pada sampe berkaca-kaca semua matanya. Jadi pada kebingungan menyembunyikan geli.

Oke, itu puisi bukan main-main. Tapi gara-gara cara membaca si bapak ini, ketawa jadi seperti nggak kehabisan stok.

Yah, mungkin memang cuma bisa memaknai acara kebangkitan si reporter metropolitan cuma sampai segitu.

Bangkit? Apa ya. Mengecek ulang daftar tahun ini sepertinya.

Posted at 07:47 am by i_artharini
Comments (2)  

Dicari: Oksitosin

Membaca-baca CLEO-nya Rani dan menemukan artikel berjudul: "Are You a Sleep-Deprived Bitch?"

Menurut artikelnya, 'inti' dari bitch yang kekurangan tidur adalah seseorang yang berperilaku di luar 'garis' kepribadiannya. Atau, diri kita yang ngantuk itu berperilaku berbeda dari diri kita yang normal. Dan untuk lari dari realita yang kekurangan tidur, kepribadian kita yang ngantuk itu mengadopsi kepribadian kedua yang lebih kuat, keras, berani, lebih baik..dan lebih bitchy.

"Usually, this person has habits and manners that we thoroughly dislike--if you met your second, sleepy personality, you'd be disgusted with her."

Hmm, enggak juga sih. Ada hal-hal yang aku sukai kok dari karakter keduaku itu. Lebih berani, kayaknya iya. Lebih bisa ketawa, iya (aku nggak ingat kapan terakhir kali bisa banyak hari berturut-turut tersedak minuman karena ketawa. Parah sih kelihatannya). Tapi aku merasa jadi terlalu judgmental gitu. Dan bahan omongannya jadi super terbatas.

Yang dulunya ngomong masalah astrologi itu cuma jadi sekadar bumbu, kenapa sekarang jadi menu utama?

Tapi salah satu karakter pelariannya adalah orang-orang setia yang jadi lebih suka 'bermain' atau orang yang suka 'bermain' jadi monogamis (halah, masa?), atau orang royal jadi pelit, atau introvert jadi ekstrovert, orang cerewet jadi pendiam, dan "normally nice women become utter bitches".

Ada orang yang memasuki kondisi depresif dan menginternalisasi energi negatif mereka, mencari pelarian dari halusinasi yang disebabkan oleh kelelahan dengan cara alkohol dan seks (salah satunya).

Hmm, pantas aja aku sudah tiga minggu terakhir sangat, sangat, sangat menginginkan mengulum sesuatu yang alkoholik.

Seks, nggak sejauh itu sih. Punya kissing buddy saja sepertinya sudah cukup.

Ya, ya.

Ada yang mencari asupan oksitosin yang biasanya tersedia dalam dosis teratur, terus tiba-tiba drop, dan sekarang jadi kelimpungan. Ada juga yang mencoba menurunkan grafik kadar ke-stress-an. Aku, cuma merasa itu bagian dari menjadi muda. Dan, oh, ya, itu bakal jadi distraksi yang (sangat) menyenangkan.

Jadi, Tuhan (d'oh, kalau sudah gini aja, baru bawa-bawa nama Tuhan), oke, iya, aku mengerti, relationship itu susah dan rumit dan melelahkan dan penuh drama dan butuh komitmen. Dan mungkin mengirim kandidatnya itu lebih susah.

Mungkin nggak kalau aku dikasih kissing buddy aja?

Yang bisa tersedia setiap waktu gitu, kalau dibutuhkan.
Dan nggak perlu orang yang berpikir positif tentang Chekhov atau malah tahu Chekhov sama sekali.
Biar nggak kepikiran kissing random people on the street. (Hmm, kalau bener dilakuin, kan nggak ada bedanya sama eksibisionis yang suka 'pamer' di jalan ya?)
Dan biar nggak sariawan. (Well, ini belum terbukti secara ilmiah sih. Atau sudah tapi aku belum dengar?)
Masa cuma bisa dapat fantasi-fantasi sama Channing Tatum?
Duuhh.

Si pencari oksitosin bilang sesuatu tentang lelaki gampangan. "Dia tuh cowok gampangan lagi. Sekarang harus dilihat, cowok juga bisa gampangan. Jadi kita nggak cuma dianggap korban aja."

Ya, ya, ya.

---

Btw, aku baru lihat dua filmnya Wong Kar Wai sih, My Blueberry Nights sama 2046. Is it just me atau Wong Kar Wai selalu punya cara kreatif untuk membuat karakter-karakternya berciuman?

Posted at 05:36 am by i_artharini
Make a comment  

Konyol

Ah, Nari, you old foolish drama queen.

Kemarin katanya nggak bisa jadi media pelarian, eh tiba-tiba jadi kecanduan. Dan sekarang, setelah ngelihat situs ini, malah jadi lebih tenang.

Dan jadi nonton Days of Wine and Roses gara-gara posting tentang Lee Remick.

Seharusnya aku kan sudah cukup tua (atau dewasa, nggak tahu pastinya yang mana) untuk mengenali pola obsesiku. Bahwa semuanya tak lebih dari sekadar fase.

Posted at 05:24 am by i_artharini
Make a comment  

Monday, May 19, 2008
(Mencari) Pembenaran

She lives for her cigs, and is quite happy to die for them, she says. "For me smoking is like looking at your soul," she says in a rasping hybrid accent. "There is something extraordinarily poetic about smoking - from the gesture of holding a cigarette, turning it on, smoking it, the taste of it, the smell of it, I love every-thing about smoking."

She has no truck with the kill-joys who want to stop us doing all the things that we enjoy - simply because it might prolong our life. "Anything that has a relationship with pleasure we reject it. Eating, they talk about cholesterol; making love, they talk about Aids; you talk about smoking, they talk about cancer. It's a very sick society that rejects pleasure." She's working herself up into a climax of disgust.

"Why should we live like sick people just to give some fresh meat to the ground? I hope my meat is so rotten no worm in the whole universe will want to come and eat it. I want to be rotten to accept the idea of dying. Every day you live you get one day closer to death. If you are never born you will never die. Giving birth is also giving death." She smiles, having hit on the solution to combating death.

(Marjane Satrapi, dari wawancara dengan Simon Hattenstone, The Guardian, "Confessions of Miss Mischief")

Dan, oh, ini satu lagi,

"He is completely unbearable, narcissistic, egocentric but also lovely and charming. That's actually how I see myself. You have to be narcissistic to be an artist. You have to think you are the centre of the whole thing otherwise why do you create? The only thing is to recognise it, and then you make the best of it."

Cheers.

Posted at 05:47 am by i_artharini
Make a comment  

Next Page