PENARI MUNGIL


(Saya bukan seorang penari. Pun sangat jauh dari mungil. Tapi, tahu kan adegan 'Tiny Dancer' di 'Almost Famous'? Sensasi membahagiakan dari adegan itulah yang saya kejar..)



Hold me closer, tiny dancer

Count the headlights on the highway

Lay me down in sheets of linen

You had a busy day, today


("Tiny Dancer" - Elton John)





"...the quest for transcendence has always been closely linked to the ecstatic release of dancing."
(Resensi RollingStone atas sebuah album pop)

Mr. Darcy: "So what do you recommend, to encourage affection?"
Elizabeth Bennet: "Dancing, even if one's partner is only tolerable."
(Pride & Prejudice, 2005)


perempuan, 1983, lovesick soul, berjalan kaki, belajar menulis, menonton film, ingin keliling dunia, Billie Holliday, Jane Austen, 'Franny and Zooey', cerita pendek F Scott Fitzgerald, lagu-lagu sedih, kecanduan membeli buku second, deretan buku di lemari, berkeliling dengan bis kota, mengepak koper, menari bebas, Vogue, sepatu, bad boys, kopi, kuliner, foto, semua yang vintage, genggaman tangan, pelukan hangat, detil percakapan antara manusia, kegelisahan, kesepian, ruang pencarian, belajar dewasa, museum dan bangunan tua, hari hujan, sinar matahari hangat di hari berangin, airport, stasiun kereta, dan pertanyaan tanpa akhir

YM: isyana_artharini
Email: i.artharini@gmail.com
   

<< June 2008 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Wednesday, June 11, 2008
The Boss(es)

Mungkin benar ya katanya karakter Elizabeth (Norah Jones) di My Blueberry Nights itu. Tentang orang lain yang kita jadikan cerminan untuk melihat diri sendiri. Kali ini, cermin-cermin itu adalah atasan-atasanku. Yang pergi, dan yang baru-baru datang.

Pertama, yang pergi dulu ya.

Redaktur yang kayaknya batal jadi preman terus jadi wartawan itu akhirnya kembali ke habitat asalnya. Kenal dan bekerja baru tiga bulan terakhir di edisi siang (Apa, tiga bulan? Kenapa berasanya sudah seperti setahun ya?).

Sudah berapa lama ya?

Dua minggu? Kurang lebih selama itu, dia sudah nggak ikut rapat pertama atau terakhir.

Ah, membuat kangen juga. Karena ini orang, yang pada masa-masa pertama kenal cukup membuat aku resisten (atas dasar gosip belaka), bisa jadi pendukung di tengah kecemasan atau terhadap ide-ide baru.  Orang yang memilih menyederhanakan daripada merumitkan. Atau bisa jadi devil's advocate saat otak buntu.

Pada awal-awal proses ini, saat aku masih ingin membuat orang terkesan, ya targetnya dia. Bukan untuk apa-apa, hanya sekadar memberikan penghargaan balasan atas kepercayaan yang dia berikan. Sampai akhirnya merasa capek sendiri, hehe, dan pekerjaan kembali jadi proses 'rutin'.

Dan dia adalah pengingat akan penilaian terhadap seseorang bisa berubah.

Lalu, ada bos baru masuk.

Tidak langsung terhubung ke kepentinganku sih. Pun baru sekali bertemu. Tapi dia bisa jadi pengingat akan sebuah pelajaran. Betapa internet bisa memberikan gambaran yang terlalu ideal akan seseorang.

Berdasarkan kesan pertama setelah ketemu, kok ya charmless. Ini bisa jadi 'the story of a charmless man', nah, nah, nah, nah, nah, nah, nah, nah, nah. Hehe.

Sibuk menirukan bunyi buzzer salah di acara-acara kuis televisi tempatnya lama tinggal untuk menegaskan 'tidak boleh' atau 'tindakan salah'. Dan tidak menawarkan ide-ide baru. Melarang, tapi tidak memberi solusi.

"Tapi jabatan tangannya mantap, tauk," kata seorang mbak.

Aku tidak menjabat tangannya, tapi aku selalu berpikir itu satu hal yang penting. Mendasar. Esensial. Berbicara banyak.

Dan itu sebabnya aku suka kesal dengan orang yang salaman tangan nggak niat. Bukan karena alasan muhrim non muhrim. Sudah nyodorin tangan, tapi nggak ada bedanya sama ngasih ikan mati. Niat nggak sih?

Anyway.

Mungkin aku harus mempertanyakan penilaianku yang overrated tentang jabatan tangan itu. Soalnya ini orang, selain charmless, ternyata juga lebih sibuk jadi polisi 'syariah'. Mengatur tempat nongkrong sampai sibuk bermain detektif.

"Emang dia di pihak siapa sih, kok nuraninya nggak kesentuh? Seharusnya kan pas lihat orang digaji segitu, dia jadi miris. Ini kok malah sibuk nuduh-nuduh," kata mbak Koalala.

This guy is definitely a lesson for so many things. Pesona, kemanusiaan, kepantasan, dan unggah-ungguh mungkin. Tapi aku terlalu jarang berinteraksi dengannya untuk memikirkannya terlalu lama.

Yang terakhir, ini juga tentang pelajaran untuk banyak hal.

Rapat jam 1 (malam) Senin kemarin, koran hari itu sudah selesai dicetak. Membuka-buka, nggak sengaja sampai halaman Euro 2008 dan tertumbuk pada satu nama.

Akuisisi terbaru perusahaan, hasil lepehan saingan nomor satu. Gosipnya sudah santer dan ada saksi-saksi yang sudah bertemu dengannya. Tapi belum melihat sosoknya. Sampai namanya ada di sudut pandang.

Yang aneh, kok ya namanya jadi nggak ada gema-gema kehebatannya ketika ditempelkan dengan status plus institusi tempatku bekerja. Jadi terdengar biasa banget.

Tulisannya juga...biasa banget. Dan aku nggak membaca sebanyak itu untuk tahu bahwa orang dengan kapabilitas dan pengalaman (dan seharusnya wawasan) sekaliber dia seharusnya bisa menghasilkan karya yang lebih menggugah.

Kolomnya 'sudut pandang', tapi kok isinya cuma rangkuman dari berbagai kejadian cedera yang tidak diisi sudut pandang.

"Apa mungkin karena dia terbiasa nulis dengan gaya tempat sebelumnya. Jadi puanjaaang. Esensinya ada di sepertiga bawah. Tapi sudah keburu dipotong karena space kita yang lebih sempit."

"Ini kan sama saja kaya kita mbaca editorial ambigu tempatnya bekerja sebelumnya."

Beneran deh, kalau itu yang namanya jurnalisme anggun, aku bakal berhenti, berbalik, dan lari cepat-cepat ke arah berlawanan. Padahal aku big fan of Audrey Hepburn. Dalam artian, selalu mencoba jadi anggun gitu.

"Apa mungkin karena kertas kita lebih jelek ya?" kata seorang mbak lagi.

Hahaha.

Mbak Koalala bilang, "Eh, kalau dibaca kedua kalinya, lebih baik kok."

Aku: "Hah, yang bener. Kok bisa?"

Koalala: "Soalnya selama mbaca, gue berkompromi dengan mengulang-ulang: mantan pemred Harian Kini, mantan pemred Harian Kini."

Hmm, ini orang ternyata tidak percaya dengan konsep 'going out with a bang'. Sesekali itu perlu dilakukan kok. Apalagi di saat elu memulai berkarya di tempat baru, bukan? Dengan pengakhiran masa kerja yang tidak menyenangkan pula dari tempat sebelumnya.

Bukannya ini saat yang tepat untuk menunjukkan bahwa you still have that fight in you? Mungkin belum pernah dengar lagunya Ben Harper itu ya?

Really, man, kalau cuma itu yang bisa kamu lakukan, ada banyak orang di sini, setengah dari usia elu yang bisa melakukannya lebih baik. Termasuk aku yang bukan wartawan atau penulis militan.

Tapi, seperti katanya Ben Harper ya, there's always someone younger//someone with more hunger//don't let them take the fight outta you.

Ini juga tentang sebuah pelajaran. Kita mungkin cuma dianggap nomor dua atau sebelah mata, tapi bukan berarti elu tidak harus membuktikan diri. Dan buat 'kita', mungkin harus mulai berhenti terkesima pada nama atau institusi. Mulailah jadi The Bitch (referensi dari Why Men Marry Bitches. Don't ask, I'll write later on this) yang mempertanyakan, apa untungnya kita dapat orang ini?

Kemarin(nya orang Jawa) ada An Inconvenient Truth di HBO. Al Gore menyebut sesuatu tentang intellectual firmament atau lingkungan intelektual yang menyentuhnya saat kuliah. Seorang peneliti yang pertama kali mengenalkan dia pada pemanasan global, dan pada ide-ide yang tidak pernah terpikir sebelumnya oleh Gore.

Dan aku jadi terhenyak. Aku teringat pada orang-orang yang aku kenal yang membuat dirinya terkelilingi oleh intellectual firmament. Mengenalkan dirinya pada ide-ide yang belum pernah mereka pikirkan sebelumnya.

Aku jadi berkesimpulan, jangan-jangan membuat diri terkelilingi oleh intellectual firmament itu adalah bagian dari menjadi orang muda yang mendewasa. Bagian dari rites of passage. Coming of age, apa pun itu, ritual pendewasaan. Dan jika iya, aku jadi bertanya, apakah aku sudah memilih intellectual firmament yang tepat? Yang bisa mengenalkan aku pada banyak ide-ide baru?

Kalau pun iya sudah memilih, apakah firmament itu tempat aku bekerja sekarang? Siapa ya yang (masih bisa) mengenalkan aku pada ide-ide itu? Dan masih cukupkah tempat ini memberi asupan gizi yang aku butuhkan?

Kalau tidak, mungkin sudah waktunya untuk berkemas kali ya?

Posted at 05:57 am by i_artharini
Make a comment  

Wednesday, June 04, 2008
Dari Astrologi dan Kosmopolitan

Pencerahan sering datang beruntun. Cukup untuk membuatku bertanya-tanya, ada maksud tertentu atau sekadar koinsiden ya (Tsaaahh, koinsideenn..). Yang terbaru datang akhir pekan, dua minggu lalu.

Bangun dari Sabtu Hibernasi (Jumat sudah keluar rumah dan bersosialisasi kok, jadi sudah seimbang aku rasa) tiba-tiba ada satu sms dari pemain lama. Isi pesannya...sebenarnya nggak ada intinya. Jika inti itu berarti sesuatu yang esensial, mendasar. Lha wong pertanyaannya cuma tentang laporan pandangan mata akan sebuah film di bioskop.

Ada jawabannya sih pertanyaan itu. Tapi kenapa nanya ke aku? Aku kan bukan penjual tiket di bioskop. Atau pengumpul data animo orang lagi suka nonton film apa. Bukan Badan Pusat Statistik. Walaupun mungkin jawabannya bisa ditemukan kalau aku mencari tahu ke sumber yang tepat, tapi...penting nggak sih pertanyaan itu?

Oke, penting atau tidak penting itu ukuran subyektif, dan berdasarkan ukuranku, idih, enggak banget. Dengan niatan-niatan romantis yang dulu pernah terbit, aku sudah harus berjuang untuk memunculkan kepedulian. Apalagi pas niatan-niatan itu, seperti sekarang, sudah mulai pudar dan kamu sudah di ambang jadi sosok asing.

Let's see, aku sudah cukup pusing dengan pekerjaan yang membuat jam terbangku turun dan mengungkung di kantor. Terus, aku masih harus menurunkan setidaknya 20 kg sampai akhir tahun ini. Aku masih harus mengumpulkan keberanian (dan uang) buat jalan sendiri. Dan kamu menanyakan tentang antusiasme massa kolektif yang tanpa nama dan tanpa 'wajah' itu? Really, you want to go to that direction?


Kalau mau tanya kabar--kalau kan? Aku cukup tahu diri kok--kenapa nggak langsung saja sih? Akan sangat memudahkan. Apalagi, aku baru sadar, meet cute kedua kita, yang membuat kita berada dalam 'speaking terms' itu sudah terjadi setahun lalu. Dan pola komunikasinya, sampai sekarang, nggak bisa 'biasa-biasa saja'?(Ini membuatku bertanya-tanya, yang sakit sebenarnya siapa ya? Aku, sepertinya)

Kalau beneran pengen tahu jawaban dari pertanyaan yang sudah diajukan, yaa, maaf saja, aku sedang tidak punya waktu mengurusinya. Atau mungkin karena kamu sudah mulai jadi asing ya, maka pertanyaanmu jadi tidak penting. 


Tapi semua ocehan ini ya cuma tersimpan dalam kepala dan hati dan blog ini. Yang keluar dan tersampaikan (aku usahakan) terdengar manis, ramah dan peduli khas perempuan Jawa yang bakal membuat ibuku bangga.

Sesuatu tentang Kosmopolitan?

Ah ya, majalah itu memberi pencerahan. Lagi duduk sendiri di Bakoel Koffie, mencoba wi-fi yang putus-putus, sambil membolak-balik Kosmopolitan yang sampul depannya Diane Krueger. Artikel yang aku baca judulnya cukup membuatku malu. Cara Mengerti Pria, atau sesuatu semacamnya.

Membacanya sekilas-sekilas, cuma ngecek, apa yang aku nggak tahu dan mereka tahu, haha. Salah satu poinnya cukup membuatku merasa ditonjok, dan mungkin membuatku mengeluarkan posting ini. "Jika dalam kencan seorang pria mengatakan 'saya tidak tahu apa yang saya mau'. Percayalah, mereka tahu apa yang diinginkan. Hanya saja itu bukan anda. Jangan sedih, ada banyak pria lain di luar sana."

Oh, God.

Tapi dia kan mengatakannya dalam konteks pekerjaaaannn? Masa itu termasuk sih?

Terus pas sore sampai kantor, ada mantan anak Salman yang tak mau mengakui ke-Salman-annya tiba-tiba datang ke meja dan bilang, "Eh, ini ati atau daging sih?" sambil menunjuk-nunjuk olahan bagian tubuh hewan di wadah styrofoam.

"Kalau ngeliat teksturnya sih daging."

"Aku curiga. Kok rasanya kayak ati."

Ada yang ingat
Jessica Simpson dan Chicken of the Sea? Kayaknya ini nggak jauh beda sih skenarionya. Cuma karena yang ngomong anak ITB ya, aku nggak langsung merasa ada kesamaan. Sampai sekarang.

Terus dia menambahkan, "Sudah baca Tarot hari ini?"

"Belum. Aku tadi pergi pagi banget. Sampai jam segini belum megang koran."

"Baca deh bintangmu. Bagian Cinta-nya."

Cari, cari, cari. Ketemu koran Minggu di meja redaktur ekonomi. "Cinta akan memasuki kehidupan Capricorn, namun hubungan itu tak pernah membumi dan tidak akan berlangsung lama. Harap disadari hubungan tersebut tidak benar, karena cuma akan membuat kalian berdua sama-sama akan menderita dan berkorban sia-sia."

"Haahhhh?"

Si (mantan) anak Salman menyahut dari kubikelnya, "Sudah, Naarr. Lupakan saja ituuu."

Ya waktu itu sih aku merasa, iya ya, dari beberapa probabilitas romansa yang ada, kok ya nggak ada yang membumi. Semuanya platonis.

Dalam skema dunia Umar Kayam, mungkin ini yang disebut Ngalmus itu. Jadi, secara resmi, nama julukannya adalah Mr Ngalmus, hehe. (Walaupun setelah diingat-ingat, cerita-cerita
meet cute itu jadi terbuang percuma dong. Aku nggak pernah mengalami meet cute terus-terusan kecuali sama Mr Ngalmus. Aku malah nggak pernah punya satu pun cerita meet cute sama orang lain. Tapi bisa juga kan meet cute buatku dan meet bad luck buat dia...Ah, well. Bisa buat basis skenario komedi romantis kayaknya, haha) 

Mungkin memang sudah saatnya (banget, banget) berfokus ke hal-hal yang aku sebut di atas. Pas membuka astrologinya Friendster pun dibilang: If you think you need to start making some lifestyle changes, you're right. Start. When you feel the urge to mix things up, you cannot continue with your normal routine and have any sense of growth or progress. But you can relax--these changes you make don't have to huge adjustments. They just have to be significant enough to make a difference. Cutting back on fried foods or setting aside five more dollars every week in savings are examples of little things that can mean a lot.

Hihi, kok persis ya sama hal-hal yang harusnya aku fokusin. Makan lebih sehat (dan ngegym dan ngurangin berat badan) dan nabung (buat tujuan tertentu). Sekadar kebetulan atau pencerahan?


-----
btw, bahkan Jane Austen pun ikut memberi pencerahan kemarin. Satu bagian di Mansfield Park tertulis,

"...when there was no return, no letter, no message--no symptom of a softened heart--no hope of advantage from separation--her mind become cool enough to seek all the comfort that pride and self-revenge could give."

Posted at 05:05 am by i_artharini
Make a comment  

Wednesday, May 21, 2008
Bangkit

Katanya (iklan), ada berbagai macam cara memaknai kebangkitan. Ada reporter metropolitan yang berorasi kebudayaan tapi di akhir acara malah kaya Ketua RT lagi menutup halal bihalal (kata itu ada nggak sih sebenarnya dalam khazanah bahasa Indonesia? Kalau ada, gimana menulisnya?).

Aku, mungkin balik ke gym kali ya. Biar kalau ada kebutuhan mendadak untuk tampil dengan two-piece bathing suit selalu siap. Hehehe.

Belum serius sih, baru kemarin aja sekali, mumpung acara liputan Kebangkitan yang lain dekat situ.

Pertamanya di alat...apa ya itu namanya, pokoknya gerakannya mirip mengayuh, tapi sambil berdiri, setengah jam. Dan rasanya bahagia.

Terus pindah ke treadmill, setengah jam juga.

Mau pindah ke cross-trainer, eh ada mbak-mbak kayak Kelinci Energizer yang make lamaaa banget. Akhirnya balik lagi ke treadmill.

Tapi, oh, ada sisa-sisa dari acara kumpul-kumpul RT reporter metropolitan (lengkap dengan potong tumpengnya).

Di sana ketemu mantan atasan yang, masih teteup aja, ingin diakui tapi dengan upaya seminim mungkin. Nggak lewat tulisan, nggak lewat kemampuan verbal. Dan nggak bisa lihat orang sekadar main-main tanpa arah, menganggap serius acara yang sebenarnya...biasa-biasa aja.

Ini aku dengan jubah penilaian ya. Jadinya, pas lihat spanduk peringatan kebangkitan di acaranya si reporter metropolitan, kok ya ucapannya nggak jauh beda sama spanduk-spanduk dari instansi pemerintah atau kepolisian.

Yang jayus, kosong, berusaha terkesan gagah tapi sekadar retorika. Dan terakhir, si reporter metropolitan bilang: Terima kasih ya atas dukungannya.

Kita nggak seserius itu kok, cuma butuh variasi tujuan. Biar ada yang bisa diomongin selain urusan kantor. Karena nggak bisa lagi tidur malam hari.

Pas acara selesai jam 11.30 pun, aku merasa, lha kok udahan? Kayaknya masih jam 10 aja.

Yang sial sih, karena penuh, jadi duduk di bagian depan. Paling depan. Lampu juga pas nyorot ke kita. Tapi ketawa kemekelan pas ada bapak-bapak dari perusahaan sponsor (dua lho sponsornya! Dari bidang usaha yang sama pula!) dengan postur nggak jauh beda sama orang DPR membaca, "Namaku bayi dalam gendongan."

Cuma bisa tertegun.

Ketawanya baru meledak waktu dia bilang, "Ibu, ibu, aku butuh susu, ibu."

Sejak dari situ, apa pun yang dia omongin nggak bisa dianggap serius. Tambah geli karena saling lihat-lihatan. Mana pada sampe berkaca-kaca semua matanya. Jadi pada kebingungan menyembunyikan geli.

Oke, itu puisi bukan main-main. Tapi gara-gara cara membaca si bapak ini, ketawa jadi seperti nggak kehabisan stok.

Yah, mungkin memang cuma bisa memaknai acara kebangkitan si reporter metropolitan cuma sampai segitu.

Bangkit? Apa ya. Mengecek ulang daftar tahun ini sepertinya.

Posted at 07:47 am by i_artharini
Comments (2)  

Dicari: Oksitosin

Membaca-baca CLEO-nya Rani dan menemukan artikel berjudul: "Are You a Sleep-Deprived Bitch?"

Menurut artikelnya, 'inti' dari bitch yang kekurangan tidur adalah seseorang yang berperilaku di luar 'garis' kepribadiannya. Atau, diri kita yang ngantuk itu berperilaku berbeda dari diri kita yang normal. Dan untuk lari dari realita yang kekurangan tidur, kepribadian kita yang ngantuk itu mengadopsi kepribadian kedua yang lebih kuat, keras, berani, lebih baik..dan lebih bitchy.

"Usually, this person has habits and manners that we thoroughly dislike--if you met your second, sleepy personality, you'd be disgusted with her."

Hmm, enggak juga sih. Ada hal-hal yang aku sukai kok dari karakter keduaku itu. Lebih berani, kayaknya iya. Lebih bisa ketawa, iya (aku nggak ingat kapan terakhir kali bisa banyak hari berturut-turut tersedak minuman karena ketawa. Parah sih kelihatannya). Tapi aku merasa jadi terlalu judgmental gitu. Dan bahan omongannya jadi super terbatas.

Yang dulunya ngomong masalah astrologi itu cuma jadi sekadar bumbu, kenapa sekarang jadi menu utama?

Tapi salah satu karakter pelariannya adalah orang-orang setia yang jadi lebih suka 'bermain' atau orang yang suka 'bermain' jadi monogamis (halah, masa?), atau orang royal jadi pelit, atau introvert jadi ekstrovert, orang cerewet jadi pendiam, dan "normally nice women become utter bitches".

Ada orang yang memasuki kondisi depresif dan menginternalisasi energi negatif mereka, mencari pelarian dari halusinasi yang disebabkan oleh kelelahan dengan cara alkohol dan seks (salah satunya).

Hmm, pantas aja aku sudah tiga minggu terakhir sangat, sangat, sangat menginginkan mengulum sesuatu yang alkoholik.

Seks, nggak sejauh itu sih. Punya kissing buddy saja sepertinya sudah cukup.

Ya, ya.

Ada yang mencari asupan oksitosin yang biasanya tersedia dalam dosis teratur, terus tiba-tiba drop, dan sekarang jadi kelimpungan. Ada juga yang mencoba menurunkan grafik kadar ke-stress-an. Aku, cuma merasa itu bagian dari menjadi muda. Dan, oh, ya, itu bakal jadi distraksi yang (sangat) menyenangkan.

Jadi, Tuhan (d'oh, kalau sudah gini aja, baru bawa-bawa nama Tuhan), oke, iya, aku mengerti, relationship itu susah dan rumit dan melelahkan dan penuh drama dan butuh komitmen. Dan mungkin mengirim kandidatnya itu lebih susah.

Mungkin nggak kalau aku dikasih kissing buddy aja?

Yang bisa tersedia setiap waktu gitu, kalau dibutuhkan.
Dan nggak perlu orang yang berpikir positif tentang Chekhov atau malah tahu Chekhov sama sekali.
Biar nggak kepikiran kissing random people on the street. (Hmm, kalau bener dilakuin, kan nggak ada bedanya sama eksibisionis yang suka 'pamer' di jalan ya?)
Dan biar nggak sariawan. (Well, ini belum terbukti secara ilmiah sih. Atau sudah tapi aku belum dengar?)
Masa cuma bisa dapat fantasi-fantasi sama Channing Tatum?
Duuhh.

Si pencari oksitosin bilang sesuatu tentang lelaki gampangan. "Dia tuh cowok gampangan lagi. Sekarang harus dilihat, cowok juga bisa gampangan. Jadi kita nggak cuma dianggap korban aja."

Ya, ya, ya.

---

Btw, aku baru lihat dua filmnya Wong Kar Wai sih, My Blueberry Nights sama 2046. Is it just me atau Wong Kar Wai selalu punya cara kreatif untuk membuat karakter-karakternya berciuman?

Posted at 05:36 am by i_artharini
Make a comment  

Konyol

Ah, Nari, you old foolish drama queen.

Kemarin katanya nggak bisa jadi media pelarian, eh tiba-tiba jadi kecanduan. Dan sekarang, setelah ngelihat situs ini, malah jadi lebih tenang.

Dan jadi nonton Days of Wine and Roses gara-gara posting tentang Lee Remick.

Seharusnya aku kan sudah cukup tua (atau dewasa, nggak tahu pastinya yang mana) untuk mengenali pola obsesiku. Bahwa semuanya tak lebih dari sekadar fase.

Posted at 05:24 am by i_artharini
Make a comment  

Monday, May 19, 2008
(Mencari) Pembenaran

She lives for her cigs, and is quite happy to die for them, she says. "For me smoking is like looking at your soul," she says in a rasping hybrid accent. "There is something extraordinarily poetic about smoking - from the gesture of holding a cigarette, turning it on, smoking it, the taste of it, the smell of it, I love every-thing about smoking."

She has no truck with the kill-joys who want to stop us doing all the things that we enjoy - simply because it might prolong our life. "Anything that has a relationship with pleasure we reject it. Eating, they talk about cholesterol; making love, they talk about Aids; you talk about smoking, they talk about cancer. It's a very sick society that rejects pleasure." She's working herself up into a climax of disgust.

"Why should we live like sick people just to give some fresh meat to the ground? I hope my meat is so rotten no worm in the whole universe will want to come and eat it. I want to be rotten to accept the idea of dying. Every day you live you get one day closer to death. If you are never born you will never die. Giving birth is also giving death." She smiles, having hit on the solution to combating death.

(Marjane Satrapi, dari wawancara dengan Simon Hattenstone, The Guardian, "Confessions of Miss Mischief")

Dan, oh, ini satu lagi,

"He is completely unbearable, narcissistic, egocentric but also lovely and charming. That's actually how I see myself. You have to be narcissistic to be an artist. You have to think you are the centre of the whole thing otherwise why do you create? The only thing is to recognise it, and then you make the best of it."

Cheers.

Posted at 05:47 am by i_artharini
Make a comment  

Film Anonymous

Jumat pagi minggu lalu baru tersadar, lho kok Eskapisme fotonya hitam putih semua ya?

Di minggu aku memutuskan untuk menyalahgunakan kekuasaan sebagai pengisi rubrik dengan jadi jurkamnya Katharine Hepburn (The Philadelphia Story), ternyata ada pemutaran film bisunya Fritz Lang diiringi orkestra (Destiny). Jadi ya, 'terpaksa' hitam putih semua.

Ah ya sudahlah, minggu depan tinggal nyari apa yang lagi 'hip'. Dan berwarna fotonya. Pernah nulis tentang film-film Judd Apatow juga kan?

Anyway, otakku kok nggak bisa beranjak dari 'kenapa' ya? Atau, beranjak dari 'apa alasannya'?

Kemarin-kemarin, kenapa menulis. Sekarang, kenapa menonton film.

Maksudnya, aku nggak tahu juga apa gunanya aku nonton film Fritz Lang. Atau kenapa aku panik karena di programnya Kineforum buat Mei 2008 ini ada La Battaglia di Algeri. Alasan paniknya pun nggak terlalu legitimate.

Gara-garanya, pas nonton Starting Out in the Evening, ada adegan yang pasangan Ariel-Casey lagi ngantre mau nonton Girls of Rochefort. Tapi si Caseynya males, karena dia males lihat orang Perancis menyanyi dan menari, tapi mbela-belain karena giliran, biar minggu depannya gantian nonton Battle of Algiers itu. Akhirnya sih mereka nonton film berbeda.

Sudah, cuma gitu aja.

Waktu itu sih aku sebenarnya nggak penasaran-penasaran banget sama Battle of Algiers. Tapi pas lihat di programnya ada, jadi pengen nonton. (Ah, Jumat siang ini nonton ah. Kapan lagi kan?)

Kalau katanya mbak Adele, Should I give up// or should I just keep on chasing pavements// even if it leads nowhere//

Yaa, suka aja sih, ngejar nonton ini, tahu detil itu, memikirkan macam-macam aspeknya. Tapi aku mulai bertanya-tanya, apa sekadar suka aja itu sudah cukup ya untuk 'hidup bersama'?

Kok jadinya seperti aku menyimpan 'beban' useless knowledge gitu. (Ngomong-ngomong, ada nggak sih knowledge yang useless?) Eh tapi ya, kalau lagi duduk di kegelapan bioskop itu, sambil nonton film, aku lebih merasa seperti 'ditemukan' daripada terbenam.

Tiba-tiba jadi merasa lega, nafasnya jadi teratur, nyamaaan banget. Dan aku jadi merasa hidupku itu untuk sesuatu. Ada maknanya gitu.

"Itu kenapa, Dok? Tanda-tanda kecanduan ya?"

Posted at 03:29 am by i_artharini
Make a comment  

Sunday, May 18, 2008
Satu-Nol

(Ini usaha kedua. Aku mencoba mengingat-ingat apa yang tadi sudah ditulis. Padahal tinggal dikasih judul lho *menghela nafas*)

(Dan, oh, mungkin, sebelum ada yang membaca, perlu dikasih peringatan: "Whining Alert!" Peringatan: Ini posting tentang keluhan)

Jadi, kemarin Jumat, pas nganterin Rani ke bandara, Ma bilang, "Eh, besok kamu ikut kondangan ya."

Aku, dengan ceria dan lega, banget, bilang, "Oh enggak bisa. Aku ada liputan."

Yang membuatku ceria sih karena format acara liputannya (kalau lihat dari undangan) cukup menarik. Aku sudah membayangkan tulisannya bisa jadi hal yang menarik, bahasannya punya potensi untuk jadi asyik. 'Lucu' lah. Dan aku membayangkan ini bisa jadi variasi akhir mingguku, bisa buat cerita-cerita baru, dst, dst.

Nama acaranya? Temu Blogger Buku.

Pertama tahunya sih dari email yang dikirim teman tentang Festival Mei dan dari sekumpulan acaranya, ini kayaknya yang paling menarik. Jadi, sudah sejak 8 hari lalu aku mengingat-ingat acara ini.

Tapi kemarinnya bapak ini juga menanyakan, "Sudah tau belum, dst, dst.." Dan aku bilang sudah.   

Anyway, datanglah Sabtu dan aku siap-siap berangkat.

Kebiasaan burukku memang suka datang mepet, kadang malah terlalu mepet. Tapi merasa tenang karena, ah ya, nanti bisa naik ojek dari Kampung Melayu.

Kesialan pertama, abang ojek memutuskan untuk belok di perempatan Senen. Pas di Tugu Tani ke arah Gambir, eh macet total. Benar-benar tidak bergerak. 

Bus, mobil, delman, motor, bajaj, mikrolet, semuanya benar-benar berhenti. Orang-orang pada turun dan jalan di trotoar. Saking nggak bergeraknya, langit sampai pekat warnanya gara-gara kumpulan asap. Aku naik turun ojek biar abangnya bisa pindah-pindah lajur dan lompat separator busway.

Akhirnya, kita lepas dari jebakan dan sampailah di Veteran.

Lho, tapi kok sepi ya?

Dari dua pintu yang bisa langsung dibuka dan langsung menghadap tangga naik (seperti rumah-rumah di Albertcuyp? Albertkuijp? itu lhooo), aku memilih yang kiri.

Pas naik, kok sepi banget ya. Benar-benar sepi.

Dan sampai di atas, kosong banget gitu.

Ada kursi, dan sofa, dan bar, dan lampu yang redup, tapi ya kosong. Dalam situasi-situasi lain, itu tempat benar-benar keren, tapi aku langsung dilanda kecemasan dengan sepinya ruangan itu.

Muncullah seorang mas-mas dari pintu di kanannya mulut tangga.

Dia kelihatan kaget ngelihat aku. Lebih kaget dari aku yang kaget melihat ruangan kosong.

"Mas, ini acaranya..."

"Sudah selesai, mbak."

"Mulai jam berapa sih? Bukannya jam lima?"

"Enggak, tadi pagi, jam 11."

Anjrit. Bodoh, bodoh, bodoh.

"Masa sih? Saya lihat di blognya kok jam lima?"

"Enggak, mbak. Jam 11 kok."

Oke, di titik ini, aku membayangkan suaranya Rani di kepalaku yang bilang: Clumsiness is in our blood. Stupidity, it's all yours. Masa sih aku segitu bodohnya mencatat jam yang salah? Apa karena sudah kelamaan juga. Tapi kemarin aku cek lagi di situsnya juga masih jam lima kok.

Apa mungkin maksudnya tanggal 17 dan aku mencatat jadi jam 17.00 gitu ya?

"Mbak lihat di kompas.com?"

"Bukan. Di blog yang bataviase.wordpress.com itu, terus ke bagian bukunya. Katanya jam lima."

"Enggak, mbak. Udah tadi pagi jam 11. Ada acara lagi sih baru tanggal 31."

Ini, aku yakin, enggak benar. Karena di blog yang sama ada jadwal-jadwal lain sebelum itu walaupun bukan di lokasi yang sama.

"Oh ya udah deh, mas. Makasih ya."

"Iya, mbak. Maaf ya."

Bukan salahnya sih.

Aku jadi berasa kayak Kay Adams waktu pertama kali dengar tentang "offer he can't refuse"-nya Don Vito ke pemimpin bandnya Johnny Fontaine deh.

Well, enggak segitunya sih.

Oke, emosi yang benar-benar berbeda malah. Aku cuma lagi pengen menyebut perbandingan itu saja.

Aku terus langsung ke luar dan ke Ragusa--yang ternyata rasanya cuma biasa aja. Nggak membawa nostalgia es krim dari masa lalu gitu.

Sambil lihat kanan, kiri, depan--ada pasangan yang lagi berbagi es krim Spaghetti. Italian ice cream parlor, berbagi es krim, uggh, too cute. Ini kan bukan Roman Holiday--aku jadi mikir, apa yang terjadi, apa yang terjadi? Kenapa aku bisa sebodoh itu?

Akhirnya telpon lah sama bapak ini, ngecek. "Halo. Sorry, lagi sibuk nggak. Datang nggak tadi. Aku abis melakukan kesalahan bodoh nih. Ternyata ... Aku jadi menghabiskan akhir pekan dengan mikir, besok Senin nulis apa ya. Oh ya udah. Tengkyu ya. Dadaah."

(Formatnya memang sebagian besar monolog sih)

Akhirnya, karena masih nggak habis pikir dan masih kesal, jalanlah aku. Tapi terus memutuskan naik busway ke Harmoni dan mampir di Plaza Indonesia.

Pas muter-muter di Aksara, sudah sempat telpon Ccr. Untung nggak diangkat, karena kayaknya satu orang yang diceritai saja sudah cukup (kalau menulis di sini kan pilihan ya yang mau membaca atau tidak).

Sambil duduk di Secret Recipe, terus aku iseng membuka blog yang memuat jadwal acaranya. Memastikan, apa aku salah catat. Ternyata, ENGGAK.

Ffiuh. Agak lega.

Dari tiga tahun pengalaman jadi wartawan, walaupun tidak militan, tapi setidaknya aku bisa membanggakan fakta bahwa aku pencatat yang lumayan baik. Penanya yang baik mungkin nanti dulu, tapi kalau mencatat, kayaknya aku cukup hati-hati deh.

Tapi dari situ aku jadi merasa seperti ada yang meng-satu-nol-kan aku, tapi aku enggak tahu siapa.

Pas perjalanan pulang pun aku sudah merasa lega dan membanggakan fakta, "Gimana bisa elu meragukan diri sendiri sebagai seorang pencatat, Nari?"

Sampai di rumah, ibuku nanya, "Gimana tadi acaranya?"

Dan aku cerita ulanglah dari awal sampai 'satu-nol' itu. Dia menambahkan, "Iya. Kayak ada orang yang ngomong, 'Kena, lo', tapi nggak tahu siapa."

Aku terus memastikan lagi dengan browsing di komputer rumah. Benar kan ya, tadi yang aku baca tulisannya jam 17.00. Siapa tahu kalau di layar komputer jadi lebih jelas. Mungkin di layar communicator 1 dan 7 nggak jauh beda, tapi di layar komputer kan kelihatan bedanya.

Dan, seperti sudah bisa diduga, masih tetap jam 17.00 tulisannya.

Tapi, pas aku ketik "temu blogger buku" di Google, blog-blog lain pada nyebut jam 11.00-14.00.

Di sini aku kembali kesal.

Kenapa nggak cari sumber lain?
Cek dan ricek?
Infotainmen aja tahu.  
Kenapa, kenapa, KENAPA?

Ini bukan sekadar mengeluh tentang 'bonusnya' ya, tapi acara itu kayaknya menyenangkan banget deh. Dan aku sudah merasa kagok. Sudah mengharapkan malam ini bakal kerja, wawancara orang, nyatet-nyatet, dan pulang dengan bahan yang bisa dipikir-pikir ulang, eh...malah berbuah kesal.

Yang belum hilang juga. Walaupun mungkin aku seharusnya sudah bisa menertawakan situasinya ya. Apa pun itu yang terjadi.

*menghela nafas*

Hiks, hiks, hiks.

*mencoba menghilangkan kesedihan dengan Julie Andrews berpura-pura menjadi lelaki yang berpura-pura menjadi perempuan. Bingung nggak?*    


Posted at 12:45 am by i_artharini
Make a comment  

Dua-Nol

Jadi pengen nangis campur ketawa.

Sudah menulis panjang tentang kesialan malam Minggu ini, eh ternyata postingnya hilaaaang.

Dua-nol, sepertinya.


Posted at 12:43 am by i_artharini
Make a comment  

Friday, May 16, 2008
Anti Sosial

"Orang bilang sih kita anti sosial. Padahal emang iya."

(kata seorang vokalis band yang kita tonton Rabu kemarin)

Mungkin karena sudah terbiasa kerja malam dengan orang itu-itu saja, yang semakin lama jadi memaklumi satu sama lain, aku jadi lupa berbasa-basi, ikut unggah-ungguh, tata krama, dst.

Basa-basi atau mempertimbangkan orang lain atau apa pun implikasinya berbagi ruang kerja jadi luput dari perhatian.  Ya, gimana enggak, datang kantor sudah sepi.

Ngobrol, makan, bercanda, berinteraksi ya sama orang itu-itu saja yang lama-kelamaan jadi ketebak cerita atau 'trik-triknya'. Pagi, siang, pretty much habis untuk istirahat gitu. Dari yang dulunya bisa memilih jadi anti sosial, sekarang terpaksa jadi anti sosial.

Kemarin-kemarin, lupa tepatnya, sempat datang ke kantor agak 'pagi'. Setiap kubik redaktur masih terisi. Kantor masih lumayan ramai lah.

Terus duduk dan nyalain komputer. Di sebelahnya mejaku ada 'gang' yang memintas jalan dari kamar mandi ke ruang perpustakaan, online, dst, dst.

Sore itu ada seorang ibu, yang sudah sejak lama aku curigai sebagai ibu yang overzealous, lewat di samping mejaku. Di sekitar kakiku ada tas ransel, tas Aksara Goes Green yang isinya baju ganti dan alat mandi ditaruh agak berantakan. Hasilnya sih agak melintangi jalan deket mejaku yang memang sudah sempit itu.

Si ibu ini, waktu lewat, bilang gini, "Maaf ya lewat sini. Jatuh nih (maksudnya ke tas) atau emang sengaja?"

Terus berlalu begitu saja itu ibu. Seperti badai. Nargis mungkin ya?

Perlu beberapa detik setelah Badai Nargis berlalu sampai aku agak tersadar sama apa yang dikatakan. Mungkin ada sinisme sih di situ. Sedikitlah. Tapi aku juga jadi sadar, oh iya ya, orang kan jalan-jalan di sekitar sini. Dan aku naruh barang berantakan.

Biasanya memang pas malam hari, waktu nggak ada orang, menaruh tas sembarangan bukan masalah. Mau ngetik sambil tiduran juga enggak apa-apa. Tapi di sore hari, ini kan masih ruang publik.

Dan jadi teringat juga sama komentar bapak-bapak fotografer yang sebelumnya sudah titip komentar. "Anak-anak siang tuh sudah menjadikan kantor kayak rumah. Bawa bantallah," (etc-nya aku lupa tepatnya). Katanya sih dari segi attitude juga, walaupun aku mempertanyakan bukti dasarnya apa. But well, iya sih, kemarin-kemarin aku sudah memikirkan kemungkinan (yang sangat jauh sebenarnya) untuk mengetik pake celana piyama juga.

Gawat.

Iya ya, ini kan kantor. Bukan rumah. Jadi mungkin harus membuat batasan antara membuat nyaman dan membangun sarang.

Dan aku jadi berpikir, apa ya yang bisa dilakukan akhir pekan ini, yang membuatku ketemu orang-orang baru gitu, dan kenalan, ngobrolin sesuatu yang beda selain tentang joke atau cerita atau kebiasaan yang sudah pernah aku ketahui sebelumnya.

Yang memaksaku berbasa-basi dan terlibat percakapan-percakapan segar. Mungkin bukan topiknya yang segar, tapi reaksi yang aku terima dari orang-orangnya. Bisa menyebalkan, bisa menyenangkan, tapi yang penting baru gitu. 

Aku nggak mau jadi anti sosial.

Posted at 05:59 am by i_artharini
Comment (1)  

Next Page