"...the quest for transcendence has always been closely linked to the ecstatic release of dancing." (Resensi RollingStone atas sebuah album pop) Mr. Darcy: "So what do you recommend, to encourage affection?"Elizabeth Bennet: "Dancing, even if one's partner is only tolerable." (Pride & Prejudice, 2005)perempuan, 1983, lovesick soul, berjalan kaki, belajar menulis, menonton film, ingin keliling dunia, Billie Holliday, Jane Austen, 'Franny and Zooey', cerita pendek F Scott Fitzgerald, lagu-lagu sedih, kecanduan membeli buku second, deretan buku di lemari, berkeliling dengan bis kota, mengepak koper, menari bebas, Vogue, sepatu, bad boys, kopi, kuliner, foto, semua yang vintage, genggaman tangan, pelukan hangat, detil percakapan antara manusia, kegelisahan, kesepian, ruang pencarian, belajar dewasa, museum dan bangunan tua, hari hujan, sinar matahari hangat di hari berangin, airport, stasiun kereta, dan pertanyaan tanpa akhir YM: isyana_artharini Email: i.artharini@gmail.com
|
|
Tuesday, June 26, 2007
Are You There God, It's Me Isyana
FUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUCCCCCCCCCCCCCCKKKKKKKKKKKKKKKKKKKK!!!!!!!!!!!!!!
Dammit!
Dammit!
Dammit!
Dammit!
Dammit!
Dammit!
Dammit!
Dammit!
Dammit!
Dammit!
Dammit!
(Yes, I want to write the most amount of obscene words I have in my mind right now to express how I feel).
FUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCKKKKKKKKKKK!!!!!!!!!
FUCK, FUCKETY FUCK FUCK FUCK FUCK FUCK FUCK.
You know what, God, or whoever you are, EVIL MAN. OR WOMAN. OR CREATURE. I had enough!
Bandung cuman tiga hari aja, diundur.
Ambon cuman tiga hari aja, batal.
Ke Eropa, Korea, belahan Asia lainnya, kenapa banyak orang bisa dengan mudah pergi-pergi, but me?
Oke, kalau misalnya pada actively searching, that's fine. Tapi kalau
ini hanya masalah 'rejeki'-nya siapa, then, God, that is just plain
mean. Bener kalau ada yang bilang that God is a big joker but no one
dares to laugh. This is just one big joke and it hurts like....oh,
really, even more than your creation of hell although I've never been
there.
And now I believe that the expression "something better will come
along", it's nothing more than a cheap manipulation, produced, I don't
know by men or the higher being or whoever it is you call yourself.
Yeah, I AM being childish. But you know what, stick your shit waaaaaaaaaaaaaaaaayyyyy back into your own ass.
Yours truly,
a woman scorned,
in which hell hath no fury.
Posted at 08:23 pm by i_artharini
Permalink
Tuesday, June 19, 2007
Yeah, this is what I get for putting my feminism to the test.
Gara-gara sebuah artikel tentang 'dating' di Yahoo, aku jadi
terpengaruh untuk menjadi 'the huntee', si pengejar. 'Psikolog gaul'
yang jadi penulis artikelnya ngomong gini, "women can't just sit around
and expect the men to do all the chasing. Some men I know admit that
it's a turn on for them to be chased. This is a matter of the courage
to bend social rules."
Kalimat terakhirlah yang bener-bener did me in. Soalnya, sebagai
wartawan yang ditugasi menulis soal keadilan gender dan (berani)
mengaku sebagai seorang feminis, what kind of feminist would I be kalau
masih terikat ama dogma tentang perempuan selalu harus dikejar.
Walaupun hal itu dialami oleh perempuan-perempuan di sekitarku, does
not mean aku tidak boleh mengalami sesuatu yang berbeda kan?
Masa aku pengen budaya berubah untuk lebih memperhatikan kebutuhan ibu
hamil, kebutuhan perempuan bersekolah, kebutuhan pemberdayaan ekonomi,
untuk tidak melihat KDRT sebagai sesuatu yang wajar, tapi tidak mampu
merubah budaya di diri sendiri tentang peran perempuan dalam dunia
perkencanan? Kan katanya Direktur Amnesty International untuk Asia
Pacific, "Culture is not a defense. It is merely used as a reason."
Nah, nah, masak gitu masih takut?
Oke, iseng-isenglah mengawali kontak per sms, bales-balesan, sampai
berujung ke ajakan nonton. Yang ditanggapi dengan antusias (fake?) tapi
terus mendingin (this part, I never get. Kenapa pada nggak bisa berlaku
mature sih?). Then, he asks, which I said yes, bahkan sampai pada
menentukan hari dan tempat, tapi belum jam.
Kemarin-kemarin sih masih seneng karena bakal ada variasi dari malam
mingguku dan ada bahan buat nge-blog, hehehe. Tapi, sekarang yang lebih
menegangkan itu hal yang biasanya aku anggap kecil, tapi bagi sebuah
pertemuan dengan someone that I like, I need to look 'normal'. Bukan
sebagai neurotik, garing, terlalu intens, person that I am.
Dari mulai, aku mau pake baju apa. Teruuuss..nanti ngobrolin apa,
gimana kalau omongannya mati. Ke, niatannya apa. Sampai (dan aku rasa
ini pertanyaan sebenarnya) aku sebenarnya mau nggak sih membuat effort
untuk sesuatu yang belum jelas tujuannya?
(Kenapa aku bersandar ke jawaban 'tidak'?)
And, not to mention, the possibility that this guy is going to break my heart over no specific reason at all. Will I be ready?
This is supposed to be a fun thing for me in a careless, ha ha, kind of
way which I am sure will turn out great. Kenapa sekarang jadi berat
banget gini ya? (Lucunya, bukankah ini yang dari kemarin-kemarin
selaluuuuu aku ributin?)
Posted at 06:30 pm by i_artharini
Permalink
Wednesday, June 13, 2007
AAAAAARRRRGGHHHH.
Besok pakai baju apaaaaa???
Pesannya cuma satu, "Jangan warna hijau ya."
Tapi kayaknya juga aku nggak punya sesuatu yang 'decent.'
Dan bukan sekedar 'decent'. Tapi, 'national-TV-decent'.
Posted at 10:57 pm by i_artharini
Permalink
Friday, June 08, 2007
(Wow, I didn't have any coffee today, I ate less sugar--I hope--and I
am hungry for my dinner, right about now, but I'm still posting my
third story for the day. Man, I'm productive! Hurray!)
Dengan minimnya kehidupan sosialku sekarang, nggak heran kalau aku
nggak tahu kapan terakhir kali aku punya seductive sms di inbox-ku. Tau
kan tipe-tipe sms yang kalau diinget lagi isinya bisa membuat
senyum-senyum sendiri, ke-gr-an, terus...eh bentar-bentar deh, kayaknya
agak lupa isinya, dia ngomongnya "kalo" atau "kalau" ya? Dia pakai
"elu" atau "kamu" ya? Terus, hp dikeluarin, dicari lagi
sms-nya, dibaca lagi, lagi, lagi, lagi, senyum-senyum lagi, bahagia
lagi, geli-geli di perut lagi, dan merasa....betapa bahagianya aku... Ah, masa muda yang indah.
Tapi, ternyata that kind of action is not over yet for someone my
age, hurrah! Hari Senin malam lalu, sekitar jam 10 malam, tiba-tiba di
boudoir-ku aku mendengar bunyi "ck, ck", tanda ada pesan masuknya hp
Nokia. Dari permukaan kasur yang hampir ketutupan buku, I
fish out my ever reliable mobile phone, dan benar...ada "1 message
received". Ternyata isinya sebuah komentar positif dari sudut yang
nggak disangka-sangka. Tidak ditujukan secara langsung ke aku, tapi
diforward oleh orang yang menerimanya. Efeknya, ternyata dashyat, bouw.
Hihihihi, jadi blushing deh. Sambil sedikit-sedikit ber-"wow, reaalllyyy??"
Tapi terus ya udah, nggak disentuh-sentuh lagi, sampai besok siangnya,
pas mau berangkat liputan, naik M19, pas keluar terowongan Cawang,
tiba-tiba jadi keinget lagi sms itu. Sebentar, kemarin tepatnya orangnya ngomong apa sih? Hp dikeluarin, pesan dicari, pesan dibaca lagi, dan...senyum-senyum sendiri lagi deh. Hihihihi.
Since I have mentioned that I have no social life, then it is safe to
assume that I am not receiving sms yang seduktif. Aku menerimanya buat
urusan kerjaan. Walaupun, efek yang ditimbulkan rada sama siihh. (Oh,
malangnya orang yang sudah kelamaan nggak nerima sms seduktif. Tak bisa
membedakan pujian dan godaan. Padahal cuman sms lhoooo....)
Efeknya sih tidak berlangsung selama itu, it's pretty much gone by the
end of the day. Tapi, menyenangkan gituuu....dapet sms yang membuatku
bisa ngerasa, ah, bahagia deh dapet sms apresiatif setelah tidak
menerima apresiasi dalam bentuk apa pun setelah waktu yang lama.
So, I pretty much understand bagaimana hubungan per-sms-an bisa
adiktif. Tapi, apakah ini sesuatu yang sehat, ketika aku jadi iri ama
temen dan pengen juga punya hubungan per-sms-an yang sempurna dengan
lelaki beristri? Mwahahaha.
(Btw, why can't I write flexibly like this on my two other blogs?)
Posted at 08:40 pm by i_artharini
Permalink
Pada Akhirnya, Ada Sebuah Awal
Aku tidak tahu apa yang memicunya. Tapi, tiba-tiba, satu hari, aku memutuskan, ini sudah cukup. Berat badanku harus dikurangi.
Mungkin yang memicunya adalah capek terus-menerus memikirkannya, atau
mengumpatinya, atau perjalanan-perjalanan melelahkan dan mengecewakan
ke toko-toko baju, dan, aku mengakuinya, sebuah pemandangan tidak
atraktif berwujud 'aku'. I think I just need to feel pretty again. Dan,
buat aku, salah satu cara merasa cantik lagi adalah dengan memakai
baju-baju yang 'gaya'.
Maksudnya gini, aku punya seorang teman yang bisa menilai dirinya lagi
cantik atau lagi jelek. No, she's not that type yang selalu bilang,
"aduh, aku lagi jelek nih," tapi kamu nggak pernah ingat kapan dia
bilang, "kayaknya aku lagi cantik deh hari ini." I don't think she's
ever self-loathing, tapi dia bener-bener bisa meng-assess dengan sehat
image-nya akan tubuhnya sendiri.
Aku, nggak bisa mengingat kapan terakhir kalinya merasa bisa dengan
obyektif meng-assess kapan aku cantik dan kapan aku jelek. Selama dua,
tiga tahun terakhir, I am always ugly. Selalu tidak bahagia, selalu merasa tidak pas dengan sesuatu.
Tapi mungkin yang paling nendang dan membuatku merasa telah mengambil
keputusan yang tepat adalah komentar adikku yang bilang, "Duuhh.
Kalau aku ngeliat foto-fotomu di Belanda dulu tuh kamu gaya gitu lho.
Lucu. Sekarang?"
Dan aku membalasnya dengan, "Ya, aku kan tambah tua."
"But you're not supposed to look like this."
Ouch.
Mungkin masalah utamanya bukan berat badan, tapi itu jadi salah satu
kontributor, aku rasa. Nggak ada salahnya mengatasi masalah yang ini
dulu sambil mencari tahu sebenarnya apa yang 'salah'. Toh, jika
masalahnya bukan tentang berat badan, I would still end up with a
better-performing heart, toch?
Jadi, Rabu lalu, I am shopping for a gym membership. Untuk pertama
kalinya dalam hidup, aku berencana menjadi anggota sebuah gym. Masih
menunggu seminggu sih, bukan untuk proses keanggotaan, tapi buat
mengawali komitmen sama diri sendiri dulu sebelum nanti berkomitmen
dalam bentuk membayar.
Rencananya bakal seminggu dulu, nggak pakai absen, menghabiskan sekitar
30 menitan jalan di treadmill atau keliling kompleks (which I have done
for the last 3 days, hehehe. It is that early).
Dan, demi menguruskan badan juga, aku melakukan hal lain yang selama
ini belum pernah aku lakukan sebagai seorang dewasa: membeli sepatu
olahraga dengan uangku sendiri. Ya, di luar kewajiban mata pelajaran
olahraga yang akibatnya mengharuskan aku berolahraga dan/atau membeli
sepatu olahraga, aku tidak berolahraga.
Dengan cerdasnya (I applaud myself for this), untuk pengalaman pertama
itu, aku memilih ke Sports Warehouse, yang nggak menawarkan model
rumit-rumit dengan harga selangit. Pick a model, pick a price (atau
dibalik juga nggak pa-pa), coba yang paling nyaman, voila! Parents, I
have sport shoes and socks!
So, bear with me, readers, or no readers, as I work my way (not crawl
my way, or dart my way, but work my way), to a size....0? Is that
reasonable? Hehehe.
Posted at 06:04 pm by i_artharini
Permalink
Is there anyone out there still reading this blog?
Hampir sebulan blog ini ditinggalin. Penyebabnya: sakit, perjalanan ke
luar kota yang menyenangkan (Lombok, yippee!), kewajiban posting di pet project orang lain, dabbling a bit in job interviews, dan mulai memikirkan tentang the importance of weight loss.
Oke, ini pertengahan tahun, waktu yang tepat untuk me-recap apa-apa
yang sudah terjadi. Serangan flu ketiga atau keempat kalinya tahun ini
terasa tambah parah. Makin susah sembuh. Jangan-jangan karena pemanasan
global, virusnya jadi makin ganas? Atau virus flu sudah bermutasi dan
tinggal menunggu serangan pandemi flu global? Tapi untuk sementara,
penyelesaiannya adalah berusaha jangan sampai jatuh sakit.
Lombok, cuma sekitar tiga hari di akhir minggu. Sebuah weekend getaway
yang sempurna, walaupun dalam rangka tugas kantor. Dapet foto-foto
bagus, ketemu orang-orang baru, melihat lokasi-lokasi yang bakal jarang
didatengin kalau nggak bareng rombongan sebuah departemen. Lega
akhirnya bisa keluar dari kantor, walaupun cuma untuk akhir pekan.
Awalnya sih masih batuk-batuk dan sentrap-sentrup, sampai pulang pun
masih dalam kondisi itu. Tapi, di sela-sela saat batuk bisa dikontrol,
rasanya benar-benar kaya liburan. Pas di Gili Trawangan sempat nyewa
sepeda untuk muterin pulau. I haven't ride a bike in ages, but it felt
great, having control over something, driving something, although it is
'only' a bike.
Lalu, ada komitmen baru, mengisi blog tentang cerpen dan teenlit di Asia Blogging Network
yang harus rutin di-update tiap dua hari sekali. Masih sering
ketinggalan deadline sih, but I'm trying to be committed. I'm still
very new at those things, blogging 'professionally', menulis sesuatu
yang yaaa..sebenarnya masih bisa sekena hati, tapi nggak bisa blabbing
so much dengan bebas seperti di sini. Di situ aku bertanggungjawab
terhadap halaman, di sini, ini halaman ku. Dan, di sana, selalu ada pertanyaan dalam hati, is this a good enough posting?
Hmm, job interview. Not exactly an interview, lebih ke arah ngobrol
yang informaaaal banget. Hasilnya sih kayaknya oke, cuman the big
question is, do I want to move, karena ini sebuah tipe publikasi yang
benar-benar berbeda. Yeah, I have never been chased before, so this is
a new sensation. Dan sekarang aku tahu artinya 'jual mahal'.
And on the importance of weight loss, I would start another posting. This one's too long already.
Posted at 05:23 pm by i_artharini
Permalink
Monday, May 14, 2007
Hmm...aku kok merasa sudah mengecewakan ya?
Bahwa aku sudah berbuat salah, pada satu titik, tapi sudah terlambat untuk back-pedalling.
Mungkin ini memang titiknya semua nggak bakalan sama lagi, nggak
seringan dulu lagi. Aku merasa telah berbuat salah ketika hal yang
sifatnya basa-basi jadi ditanggapi serius. Apa mungkin aku berbasa-basi
dengan cara yang salah?
Bisa jadi, aku cuma terlalu sensitif.
Yet, why does it feels so true.
I know what my mom would say. She would say something like, "Ya
sudahlah, mbak. Use this as a time to start to be by yourself for a
while. Fokus sama diri sendiri dulu."
Yes, it's an all too familiar story. Bisa nggak sih, aku nggak pernah ngecewain orang?
Posted at 08:29 pm by i_artharini
Permalink
I love the fact that I have found several great secondhand books,
accidentally, in these last few weeks. Come to think of it, I always
found great secondhand books accidentally.
Liputan terakhir ke Paramadina, Jumat lalu itu, di depan aula-nya
sempat ngeliat ada pedagang buku-buku bekas. Sempat tidak mau
mendekati, tapi merasa 'ah...bahayanya apa, lha wong nggak punya duit
kok'. Ngeliat ada dua novel Jane Austen yang dijadiin satu, ada
berbagai versi cover Anna Karenina, berbagai versi cover Jane Eyre dan
ada 'The New Journalism'-nya Tom Wolfe.
Tapi terus akhirnya masuk ke ruangan karena acaranya sudah mulai. Pas
bubaran, sempet ngeliat ke situ lagi. CCR ngasih liat 'Memoirs of a
Dutiful Daughter' which she recommends since she thinks it would be
perfect for me. Hmm, daripada sebuah instruksi tentang how to be a
dutiful daughter, aku merasa itu bakalan jadi buku resep untuk
memberontak karena yang menulis Simone de Beauvoir.
Pas iseng-iseng mbuka halamannya, kalimat pertamanya, "I was born on the dawn (?) of January 9, 1908..."
*gasp*
Tanggal ulang tahun kita sama? Is this a sign?
Iseng-iseng merogoh kantong buat ngecek sebenarnya aku punya duit
berapa, kayaknya cuman tinggal 5 ribuan gitu. Tapi kayaknya ada 20
ribuan dari sisa nuker duit or something. Eh ternyata melihat ada duit
hasil jatah pulsa yang tadi emang baru dibagiin.
Oke, akhirnya memilih itu dan The New Journalism-nya Tom Wolfe. Tentang
asal mula jurnalisme narasi gitu deh. Pas udah mbayar, mas-masnya nih
pinter banget deh menyarankan buku. Dia ngasih ke aku buku, judulnya, " Amazonian, Penguin Book of New Women's Travel Writing". Which I also took. Ah-hem.
Sabtu kemarin, pas abis liputan peluncuran buku Quraish Shihab di
GrandKemang (I love that place. Begitu New York deh nuansanya), jalan
ke Aksara. Eh, ternyata di sana lagi ada diskusi dan peluncuran buku
tentang asap, salah satu pembicaranya Sarwono Kusumaatmadja. Sempat
berpikir, ngeliput nggak ya? (karena nggak ngeliat ada anak MI di
sana). Di sinilah aku merasa identitas wartawan itu harusnya nggak
kenal waktu dan tempat. Kalau ngeliat situasi kayak gitu kan harusnya
ngeliput-ngeliput aja ya? Ada temen yang waktu Pasar Blok M setahun
lalu atau dua tahun lalu kebakaran gitu, dia pas lewat situ, dan belum
ada yang ngeliput, ya jadinya ngeliput.
Sama kayak polisi kan ya? Yang walaupun udah bebas tugas dari jam
kerjanya, harusnya tetap ngebantuin ngatur lalu lintas yang macet pas
kebetulan lewat or something. Tapi in this case, mengingat beritanya
CCR yang baru turun hari Jumatnya kalau nggak salah tentang asap dan
lebih aktual, akhirnya memutuskan tidak meliput.
Udah lama ngga ke Aksara, eh ngeliat sekarang mereka punya
lemari-lemari khusus untuk buku-buku second. Nemu bukunya Anne Tyler,
penulis favoritnya Nick Hornby, terus dua buku memoar. (Nggak tau
kenapa, sejak mbaca Reading Lolita in Tehran, aku jadi jatuh cinta sama
membaca memoar)
Yang pertama, seorang travel writer, namanya Eric Newby. Bukunya, " A Traveller's Life".
Satunya lagi, seorang literary editor asal Inggris, perempuan, sering
nulis review buku-buku juga, namanya Claire Tomalin. Dia pernah nulis
buku tentang biografinya Jane Austen dan di buku itu, dia juga
meresensi buku-bukunya Dorothy Parker. Judul bukunya, " Several Strangers: Writing from Three Decades".
I put down my 'Pere Goriot' for this book which I read
enthusiastically. Perempuan ini, Claire Tomalin, meresensi buku untuk
pekerjaannya. Dan caranya dia meresensi itu lho, begitu cerdas.
Memberikan sesuatu yang baru buat pembacanya. Bukan sekedar menilai ini
bagus, ini jelek or just being bitchy or nasty. Benar-benar sebuah
tinjauan sastra. Jadi manggut-manggut dan bilang, "oh, harusnya gini
to, literary review itu."
Claire Tomalin jadi memberikan sebuah contoh ke aku apa-apa saja yang
perlu dilakukan untuk jadi a great (literary) journalist. Atau
setidaknya mencontohkan, unsur-unsur apa yang harusnya ada dalam sebuah
tinjauan susastra. I think I found inspiration all over again.
Posted at 07:46 pm by i_artharini
Permalink
Friday, May 11, 2007
"I no longer make a mistake in assuming that all women are feminist."
Director Asia Pacific Programme Amnesty International, Purna Sen, dalam
diskusi terbatas tentang 'Violence Against Women: The UK Experience' di
British Council, Jakarta.
-------
Itu jawabannya ketika ada peserta yang menanyakan gimana Margaret
Thatcher, sebagai kepala pemerintahan, membantu isu kekerasan terhadap
perempuan semakin disoroti masyarakat.
Purna juga bilang, it doesn't matter that much, dengan semakin banyak
head of state yang perempuan. Karena, untuk bisa survive di politik dan
mencapai posisi puncak, pasti bakal ada kompleksitas-kompleksitas atau
keradikalan yang disederhanakan. Tapi lebih penting untuk melihat
semakin banyaknya anggota legislatif perempuan, karena di situ lebih
banyak aktivitas yang terjadi, "law-making, debate on policies,"
beberapa di antaranya.
Just a note.
Posted at 07:16 pm by i_artharini
Permalink
Yang membuat karakter Barbara Covett di 'Notes on a Scandal' itu
mengerikan buatku bukan karena dia seorang perawan tua. Oke, mungkin
aku sudah harus mempersiapkan diri berbagi hidup dengan seekor kucing
pada satu waktu di masa depan nanti. Taaaapiiii, yang membuat Barbara
mengerikan, lebih karena dia menjalani hidupnya lewat kehidupan orang
lain, yet dia tetep berlaku itu hidupnya dia. Atau itu emang bagian
jadi seorang perawan tua?
Mungkin karena nggak banyak yang terjadi di hidupnya sendiri ya, jadi
dia begitu intens-nya mengamati dan mengikuti dan ikut menjalani
kehidupan orang lain yang diceritain ke dia. Ini yang aku rasain
sedang kejadian sama aku.
I mean, sekarang, aku punya cerita-cerita yang terekam di otak tentang
gimana kisah-kisah cinta orang-orang di sekitarku berawal, flirtation
yang developing, the complicated issues of relationship atau mungkin
malah the complicated issues of ketergantungan? Dan lalu melihat di
mana subyek-subyeknya berakhir; daughter, marriage, affair,
commitment-less relationship, or just plain 'healthy' relationship.
Maksudnya, ini tuh drama-drama hidup dengan segala puncak dan jurang
emosionalnya.
Kenapa ya, kok being subjected to those feelings of pain and happiness
malah membuatku merasa...gundah? Haus? Tidak kecukupan? Seharusnya,
orang yang 'baik' kan ikut merasa bahagia ketika ada cerita bahagia
yang dibagi dan turut berempati ketika ada yang curhat cerita sedih.
Apakah aku terlalu egois? Atau, apakah aku terlalu intens dan jadi
ikut-ikutan terbawa menjalani hidup yang seharusnya bukan milikku?
Entah ya. Kok aku merasa dibandingkan dengan cerita-cerita itu, my life
has been pretty empty. Yes, I had my share of emotional low and high,
tapi sekarang kok ya rasanya nggak ada apa-apa. Aku harusnya bersyukur
kan dengan hidup yang aman-aman saja itu?
Tapi jadinya enggak. Malah cenderung jadi ikut menjalani hidup orang
lain. Seharusnya hidup bukan sekedar ketika ada drama kan? Tapi juga
ketika arusnya tenaaaaaang banget. Cuma aku jadi bingung harus ngapain
ketika arus hidup lagi kayak gini.
Posted at 05:44 pm by i_artharini
Permalink
|
|
|