PENARI MUNGIL


(Saya bukan seorang penari. Pun sangat jauh dari mungil. Tapi, tahu kan adegan 'Tiny Dancer' di 'Almost Famous'? Sensasi membahagiakan dari adegan itulah yang saya kejar..)



Hold me closer, tiny dancer

Count the headlights on the highway

Lay me down in sheets of linen

You had a busy day, today


("Tiny Dancer" - Elton John)





"...the quest for transcendence has always been closely linked to the ecstatic release of dancing."
(Resensi RollingStone atas sebuah album pop)

Mr. Darcy: "So what do you recommend, to encourage affection?"
Elizabeth Bennet: "Dancing, even if one's partner is only tolerable."
(Pride & Prejudice, 2005)


perempuan, 1983, lovesick soul, berjalan kaki, belajar menulis, menonton film, ingin keliling dunia, Billie Holliday, Jane Austen, 'Franny and Zooey', cerita pendek F Scott Fitzgerald, lagu-lagu sedih, kecanduan membeli buku second, deretan buku di lemari, berkeliling dengan bis kota, mengepak koper, menari bebas, Vogue, sepatu, bad boys, kopi, kuliner, foto, semua yang vintage, genggaman tangan, pelukan hangat, detil percakapan antara manusia, kegelisahan, kesepian, ruang pencarian, belajar dewasa, museum dan bangunan tua, hari hujan, sinar matahari hangat di hari berangin, airport, stasiun kereta, dan pertanyaan tanpa akhir

YM: isyana_artharini
Email: i.artharini@gmail.com
   

<< June 2007 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02
03 04 05 06 07 08 09
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Wednesday, June 13, 2007
Kostum

AAAAAARRRRGGHHHH.

Besok pakai baju apaaaaa???
Pesannya cuma satu, "Jangan warna hijau ya."
Tapi kayaknya juga aku nggak punya sesuatu yang 'decent.'
Dan bukan sekedar 'decent'. Tapi, 'national-TV-decent'.

Posted at 10:57 pm by i_artharini
Make a comment  

Friday, June 08, 2007
Happy SMS

(Wow, I didn't have any coffee today, I ate less sugar--I hope--and I am hungry for my dinner, right about now, but I'm still posting my third story for the day. Man, I'm productive! Hurray!)

Dengan minimnya kehidupan sosialku sekarang, nggak heran kalau aku nggak tahu kapan terakhir kali aku punya seductive sms di inbox-ku. Tau kan tipe-tipe sms yang kalau diinget lagi isinya bisa membuat senyum-senyum sendiri, ke-gr-an, terus...eh bentar-bentar deh, kayaknya agak lupa isinya, dia ngomongnya "kalo" atau "kalau" ya? Dia pakai "elu" atau "kamu" ya?

Terus, hp dikeluarin, dicari lagi sms-nya, dibaca lagi, lagi, lagi, lagi, senyum-senyum lagi, bahagia lagi, geli-geli di perut lagi, dan merasa....betapa bahagianya aku...

Ah, masa muda yang indah.

Tapi, ternyata that kind of action is not over yet for someone  my age, hurrah! Hari Senin malam lalu, sekitar jam 10 malam, tiba-tiba di boudoir-ku aku mendengar bunyi "ck, ck", tanda ada pesan masuknya hp Nokia.

Dari permukaan kasur yang hampir ketutupan buku, I fish out my ever reliable mobile phone, dan benar...ada "1 message received". Ternyata isinya sebuah komentar positif dari sudut yang nggak disangka-sangka. Tidak ditujukan secara langsung ke aku, tapi diforward oleh orang yang menerimanya. Efeknya, ternyata dashyat, bouw.

Hihihihi, jadi blushing deh. Sambil sedikit-sedikit ber-"wow, reaalllyyy??"

Tapi terus ya udah, nggak disentuh-sentuh lagi, sampai besok siangnya, pas mau berangkat liputan, naik M19, pas keluar terowongan Cawang, tiba-tiba jadi keinget lagi sms itu. Sebentar, kemarin tepatnya orangnya ngomong apa sih?

Hp dikeluarin, pesan dicari, pesan dibaca lagi, dan...senyum-senyum sendiri lagi deh. Hihihihi.

Since I have mentioned that I have no social life, then it is safe to assume that I am not receiving sms yang seduktif. Aku menerimanya buat urusan kerjaan. Walaupun, efek yang ditimbulkan rada sama siihh. (Oh, malangnya orang yang sudah kelamaan nggak nerima sms seduktif. Tak bisa membedakan pujian dan godaan. Padahal cuman sms lhoooo....)

Efeknya sih tidak berlangsung selama itu, it's pretty much gone by the end of the day. Tapi, menyenangkan gituuu....dapet sms yang membuatku bisa ngerasa, ah, bahagia deh dapet sms apresiatif setelah tidak menerima apresiasi dalam bentuk apa pun setelah waktu yang lama.

So, I pretty much understand bagaimana hubungan per-sms-an bisa adiktif. Tapi, apakah ini sesuatu yang sehat, ketika aku jadi iri ama temen dan pengen juga punya hubungan per-sms-an yang sempurna dengan lelaki beristri? Mwahahaha.

(Btw, why can't I write flexibly like this on my two other blogs?)

Posted at 08:40 pm by i_artharini
Make a comment  

Pada Akhirnya, Ada Sebuah Awal

Aku tidak tahu apa yang memicunya. Tapi, tiba-tiba, satu hari, aku memutuskan, ini sudah cukup. Berat badanku harus dikurangi.

Mungkin yang memicunya adalah capek terus-menerus memikirkannya, atau mengumpatinya, atau perjalanan-perjalanan melelahkan dan mengecewakan ke toko-toko baju, dan, aku mengakuinya, sebuah pemandangan tidak atraktif berwujud 'aku'. I think I just need to feel pretty again. Dan, buat aku, salah satu cara merasa cantik lagi adalah dengan memakai baju-baju yang 'gaya'.

Maksudnya gini, aku punya seorang teman yang bisa menilai dirinya lagi cantik atau lagi jelek. No, she's not that type yang selalu bilang, "aduh, aku lagi jelek nih," tapi kamu nggak pernah ingat kapan dia bilang, "kayaknya aku lagi cantik deh hari ini." I don't think she's ever self-loathing, tapi dia bener-bener bisa meng-assess dengan sehat image-nya akan tubuhnya sendiri. 

Aku, nggak bisa mengingat kapan terakhir kalinya merasa bisa dengan obyektif meng-assess kapan aku cantik dan kapan aku jelek. Selama dua, tiga tahun terakhir, I am always ugly. Selalu tidak bahagia, selalu merasa tidak pas dengan sesuatu.

Tapi mungkin yang paling nendang dan membuatku merasa telah mengambil keputusan yang tepat adalah komentar adikku yang bilang,  "Duuhh. Kalau aku ngeliat foto-fotomu di Belanda dulu tuh kamu gaya gitu lho. Lucu. Sekarang?"

Dan aku membalasnya dengan, "Ya, aku kan tambah tua."

"But you're not supposed to look like this."

Ouch.

Mungkin masalah utamanya bukan berat badan, tapi itu jadi salah satu kontributor, aku rasa. Nggak ada salahnya mengatasi masalah yang ini dulu sambil mencari tahu sebenarnya apa yang 'salah'. Toh, jika masalahnya bukan tentang berat badan, I would still end up with a better-performing heart, toch?

Jadi, Rabu lalu, I am shopping for a gym membership. Untuk pertama kalinya dalam hidup, aku berencana menjadi anggota sebuah gym. Masih menunggu seminggu sih, bukan untuk proses keanggotaan, tapi buat mengawali komitmen sama diri sendiri dulu sebelum nanti berkomitmen dalam bentuk membayar.

Rencananya bakal seminggu dulu, nggak pakai absen, menghabiskan sekitar 30 menitan jalan di treadmill atau keliling kompleks (which I have done for the last 3 days, hehehe. It is that early).

Dan, demi menguruskan badan juga, aku melakukan hal lain yang selama ini belum pernah aku lakukan sebagai seorang dewasa: membeli sepatu olahraga dengan uangku sendiri. Ya, di luar kewajiban mata pelajaran olahraga yang akibatnya mengharuskan aku berolahraga dan/atau membeli sepatu olahraga, aku tidak berolahraga.

Dengan cerdasnya (I applaud myself for this), untuk pengalaman pertama itu, aku memilih ke Sports Warehouse, yang nggak menawarkan model rumit-rumit dengan harga selangit. Pick a model, pick a price (atau dibalik juga nggak pa-pa), coba yang paling nyaman, voila! Parents, I have sport shoes and socks!

So, bear with me, readers, or no readers, as I work my way (not crawl my way, or dart my way, but work my way), to a size....0? Is that reasonable? Hehehe.

Posted at 06:04 pm by i_artharini
Comment (1)  

Setelah Satu Bulan

Is there anyone out there still reading this blog?

Hampir sebulan blog ini ditinggalin. Penyebabnya: sakit, perjalanan ke luar kota yang menyenangkan (Lombok, yippee!), kewajiban posting di pet project orang lain, dabbling a bit in job interviews,  dan mulai memikirkan tentang the importance of weight loss.

Oke, ini pertengahan tahun, waktu yang tepat untuk me-recap apa-apa yang sudah terjadi. Serangan flu ketiga atau keempat kalinya tahun ini terasa tambah parah. Makin susah sembuh. Jangan-jangan karena pemanasan global, virusnya jadi makin ganas? Atau virus flu sudah bermutasi dan tinggal menunggu serangan pandemi flu global? Tapi untuk sementara, penyelesaiannya adalah berusaha jangan sampai jatuh sakit.

Lombok, cuma sekitar tiga hari di akhir minggu. Sebuah weekend getaway yang sempurna, walaupun dalam rangka tugas kantor. Dapet foto-foto bagus, ketemu orang-orang baru, melihat lokasi-lokasi yang bakal jarang didatengin kalau nggak bareng rombongan sebuah departemen. Lega akhirnya bisa keluar dari kantor, walaupun cuma untuk akhir pekan.

Awalnya sih masih batuk-batuk dan sentrap-sentrup, sampai pulang pun masih dalam kondisi itu. Tapi, di sela-sela saat batuk bisa dikontrol, rasanya benar-benar kaya liburan. Pas di Gili Trawangan sempat nyewa sepeda untuk muterin pulau. I haven't ride a bike in ages, but it felt great, having control over something, driving something, although it is 'only' a bike.

Lalu, ada komitmen baru, mengisi blog tentang cerpen dan teenlit di Asia Blogging Network yang harus rutin di-update tiap dua hari sekali. Masih sering ketinggalan deadline sih, but I'm trying to be committed. I'm still very new at those things, blogging 'professionally', menulis sesuatu yang yaaa..sebenarnya masih bisa sekena hati, tapi nggak bisa blabbing so much dengan bebas seperti di sini. Di situ aku bertanggungjawab terhadap halaman, di sini, ini halamanku. Dan, di sana, selalu ada pertanyaan dalam hati, is this a good enough posting?

Hmm, job interview. Not exactly an interview, lebih ke arah ngobrol yang informaaaal banget. Hasilnya sih kayaknya oke, cuman the big question is, do I want to move, karena ini sebuah tipe publikasi yang benar-benar berbeda. Yeah, I have never been chased before, so this is a new sensation. Dan sekarang aku tahu artinya 'jual mahal'.

And on the importance of weight loss, I would start another posting. This one's too long already. 

 

Posted at 05:23 pm by i_artharini
Make a comment  

Monday, May 14, 2007
Kecewa

Hmm...aku kok merasa sudah mengecewakan ya?
Bahwa aku sudah berbuat salah, pada satu titik, tapi sudah terlambat untuk back-pedalling.

Mungkin ini memang titiknya semua nggak bakalan sama lagi, nggak seringan dulu lagi. Aku merasa telah berbuat salah ketika hal yang sifatnya basa-basi jadi ditanggapi serius. Apa mungkin aku berbasa-basi dengan cara yang salah?

Bisa jadi, aku cuma terlalu sensitif.

Yet, why does it feels so true.

I know what my mom would say. She would say something like, "Ya sudahlah, mbak. Use this as a time to start to be by yourself for a while. Fokus sama diri sendiri dulu."

Yes, it's an all too familiar story. Bisa nggak sih, aku nggak pernah ngecewain orang?

Posted at 08:29 pm by i_artharini
Make a comment  

Catatan Buku Bekas

I love the fact that I have found several great secondhand books, accidentally, in these last few weeks. Come to think of it, I always found great secondhand books accidentally.

Liputan terakhir ke Paramadina, Jumat lalu itu, di depan aula-nya sempat ngeliat ada pedagang buku-buku bekas. Sempat tidak mau mendekati, tapi merasa 'ah...bahayanya apa, lha wong nggak punya duit kok'. Ngeliat ada dua novel Jane Austen yang dijadiin satu, ada berbagai versi cover Anna Karenina, berbagai versi cover Jane Eyre dan ada 'The New Journalism'-nya Tom Wolfe.

Tapi terus akhirnya masuk ke ruangan karena acaranya sudah mulai. Pas bubaran, sempet ngeliat ke situ lagi. CCR ngasih liat 'Memoirs of a Dutiful Daughter' which she recommends since she thinks it would be perfect for me. Hmm, daripada sebuah instruksi tentang how to be a dutiful daughter, aku merasa itu bakalan jadi buku resep untuk memberontak karena yang menulis Simone de Beauvoir.

Pas iseng-iseng mbuka halamannya, kalimat pertamanya, "I was born on the dawn (?) of January 9, 1908..."

*gasp*

Tanggal ulang tahun kita sama? Is this a sign?

Iseng-iseng merogoh kantong buat ngecek sebenarnya aku punya duit berapa, kayaknya cuman tinggal 5 ribuan gitu. Tapi kayaknya ada 20 ribuan dari sisa nuker duit or something. Eh ternyata melihat ada duit hasil jatah pulsa yang tadi emang baru dibagiin.

Oke, akhirnya memilih itu dan The New Journalism-nya Tom Wolfe. Tentang asal mula jurnalisme narasi gitu deh. Pas udah mbayar, mas-masnya nih pinter banget deh menyarankan buku. Dia ngasih ke aku buku, judulnya, "Amazonian, Penguin Book of New Women's Travel Writing". Which I also took. Ah-hem.

Sabtu kemarin, pas abis liputan peluncuran buku Quraish Shihab di GrandKemang (I love that place. Begitu New York deh nuansanya), jalan ke Aksara. Eh, ternyata di sana lagi ada diskusi dan peluncuran buku tentang asap, salah satu pembicaranya Sarwono Kusumaatmadja. Sempat berpikir, ngeliput nggak ya? (karena nggak ngeliat ada anak MI di sana). Di sinilah aku merasa identitas wartawan itu harusnya nggak kenal waktu dan tempat. Kalau ngeliat situasi kayak gitu kan harusnya ngeliput-ngeliput aja ya? Ada temen yang waktu Pasar Blok M setahun lalu atau dua tahun lalu kebakaran gitu, dia pas lewat situ, dan belum ada yang ngeliput, ya jadinya ngeliput.

Sama kayak polisi kan ya? Yang walaupun udah bebas tugas dari jam kerjanya, harusnya tetap ngebantuin ngatur lalu lintas yang macet pas kebetulan lewat or something. Tapi in this case, mengingat beritanya CCR yang baru turun hari Jumatnya kalau nggak salah tentang asap dan lebih aktual, akhirnya memutuskan tidak meliput.

Udah lama ngga ke Aksara, eh ngeliat sekarang mereka punya lemari-lemari khusus untuk buku-buku second. Nemu bukunya Anne Tyler, penulis favoritnya Nick Hornby, terus dua buku memoar. (Nggak tau kenapa, sejak mbaca Reading Lolita in Tehran, aku jadi jatuh cinta sama membaca memoar)

Yang pertama, seorang travel writer, namanya Eric Newby. Bukunya, "A Traveller's Life". Satunya lagi, seorang literary editor asal Inggris, perempuan, sering nulis review buku-buku juga, namanya Claire Tomalin. Dia pernah nulis buku tentang biografinya Jane Austen dan di buku itu, dia juga meresensi buku-bukunya Dorothy Parker. Judul bukunya, "Several Strangers: Writing from Three Decades".

I put down my 'Pere Goriot' for this book which I read enthusiastically. Perempuan ini, Claire Tomalin, meresensi buku untuk pekerjaannya. Dan caranya dia meresensi itu lho, begitu cerdas. Memberikan sesuatu yang baru buat pembacanya. Bukan sekedar menilai ini bagus, ini jelek or just being bitchy or nasty. Benar-benar sebuah tinjauan sastra. Jadi manggut-manggut dan bilang, "oh, harusnya gini to, literary review itu."

Claire Tomalin jadi memberikan sebuah contoh ke aku apa-apa saja yang perlu dilakukan untuk jadi a great (literary) journalist. Atau setidaknya mencontohkan, unsur-unsur apa yang harusnya ada dalam sebuah tinjauan susastra. I think I found inspiration all over again.

Posted at 07:46 pm by i_artharini
Make a comment  

Friday, May 11, 2007
Kepala Perempuan

"I no longer make a mistake in assuming that all women are feminist."

Director Asia Pacific Programme Amnesty International, Purna Sen, dalam diskusi terbatas tentang 'Violence Against Women: The UK Experience' di British Council, Jakarta.
-------

Itu jawabannya ketika ada peserta yang menanyakan gimana Margaret Thatcher, sebagai kepala pemerintahan, membantu isu kekerasan terhadap perempuan semakin disoroti masyarakat.

Purna juga bilang, it doesn't matter that much, dengan semakin banyak head of state yang perempuan. Karena, untuk bisa survive di politik dan mencapai posisi puncak, pasti bakal ada kompleksitas-kompleksitas atau keradikalan yang disederhanakan. Tapi lebih penting untuk melihat semakin banyaknya anggota legislatif perempuan, karena di situ lebih banyak aktivitas yang terjadi, "law-making, debate on policies," beberapa di antaranya.

Just a note.

Posted at 07:16 pm by i_artharini
Make a comment  

Hidup 'Normal'?

Yang membuat karakter Barbara Covett di 'Notes on a Scandal' itu mengerikan buatku bukan karena dia seorang perawan tua. Oke, mungkin aku sudah harus mempersiapkan diri berbagi hidup dengan seekor kucing pada satu waktu di masa depan nanti. Taaaapiiii, yang membuat Barbara mengerikan, lebih karena dia menjalani hidupnya lewat kehidupan orang lain, yet dia tetep berlaku itu hidupnya dia. Atau itu emang bagian jadi seorang perawan tua?

Mungkin karena nggak banyak yang terjadi di hidupnya sendiri ya, jadi dia begitu intens-nya mengamati dan mengikuti dan ikut menjalani kehidupan orang lain yang diceritain ke dia.  Ini yang aku rasain sedang kejadian sama aku.

I mean, sekarang, aku punya cerita-cerita yang terekam di otak tentang gimana kisah-kisah cinta orang-orang di sekitarku berawal, flirtation yang developing, the complicated issues of relationship atau mungkin malah the complicated issues of ketergantungan? Dan lalu melihat di mana subyek-subyeknya berakhir; daughter, marriage, affair, commitment-less relationship, or just plain 'healthy' relationship. Maksudnya, ini tuh drama-drama hidup dengan segala puncak dan jurang emosionalnya.

Kenapa ya, kok being subjected to those feelings of pain and happiness malah membuatku merasa...gundah? Haus? Tidak kecukupan? Seharusnya, orang yang 'baik' kan ikut merasa bahagia ketika ada cerita bahagia yang dibagi dan turut berempati ketika ada yang curhat cerita sedih. Apakah aku terlalu egois? Atau, apakah aku terlalu intens dan jadi ikut-ikutan terbawa menjalani hidup yang seharusnya bukan milikku?

Entah ya. Kok aku merasa dibandingkan dengan cerita-cerita itu, my life has been pretty empty. Yes, I had my share of emotional low and high, tapi sekarang kok ya rasanya nggak ada apa-apa. Aku harusnya bersyukur kan dengan hidup yang aman-aman saja itu?

Tapi jadinya enggak. Malah cenderung jadi ikut menjalani hidup orang lain. Seharusnya hidup bukan sekedar ketika ada drama kan? Tapi juga ketika arusnya tenaaaaaang banget. Cuma aku jadi bingung harus ngapain ketika arus hidup lagi kayak gini.

Posted at 05:44 pm by i_artharini
Make a comment  

Wednesday, May 09, 2007
Oase Tersendiri

Pintu itu ternyata masih ada. Letaknya di Paramadina. Terbukanya enggak lebar-lebar banget sih, tapi setidaknya enggak digembok rapat-rapat. In some way, tempat itu bisa masuk kategori sebuah oase.

Duh, beneran deh. Berapa kali gitu liputan ke Paramadina nggak pernah kecewa. Pasti adaaaaa aja mas-mas yang yah sedikit lebih tua dariku, tampangnya bersih-bersih tapi nggak terlalu metroseksual, kemeja batik katun bertebaran, tapi pada pake sepatu dan celana rapi. Celananya pun potongannya pada perfect-perfect semua. Maskulin tapi nggak sampe terlalu terrifyingly diatur. Penyegar mata banget deh. Dan memberi stimulasi pada otak. Abis keliatannya pada cerdas-cerdas.

Paramadina-nya pun nggak terbatas yang di Gatot Subroto. Udah jauh-jauh ke Pondok Indah pun tetap menemukan para Nurcholis-Nurcholis muda yang mematahkan kredo: orangnya cakep, pasti dangkal.

Pas Kamis minggu lalu, ikutan diskusi publik muda atau intelektual muda gitu di Pondok Indah. Temanya yang relevan sih sebenarnya paling 'Demokrasi dan Media' walaupun yang menyampaikan Ade Armando, tapi dia nggak masuk itungan kan? Orang dari luar Paramadina kok...Tapi pesertanya, yah, tiga sampai lima yang potensial gitu. Melihat mereka langsung bisa membayangkan kehidupanku di masa depan dengan para penggiat pluralisme ini.

Oh, so happy togetheeeerr...

Yeah, I would happily set aside some of my Salingers in my bookshelf to make space for your...emmm....Dawam Rahardjo's? Dia akan mengerti tentang kenapa RUU APP itu bisa berbahaya buat perempuan dan kenapa pemidanaan atas sebuah kepercayaan tidak boleh dilakukan. Kami sama-sama akan percaya pluralisme dan toleransi adalah the answer to the world's problem, kecuali mungkin buat pemanasan global. But please, jangan terlalu dekat-dekat ama mantan aktivis mahasiswa dengan partai kirinya yang sekarang malah masuk ke mainstream party dan mempraktekkan borjuasi politik ya.

Oke, anyway, here's what happen. Pas hari Kamis lalu, lagi dengerin diskusi, eh tiba-tiba aku ngerasa ada seseorang yang melihat aku. Ternyataaaaa, mas-mas, berkemeja batik paduan biru muda dan putih dengan celana biru tua dan sepatu hitam. Mas-masnya, bersih dan cakep. Cakep in its original sense of meaning. Tapi pas aku sadar dia ngeliatin dan aku ngeliat ke dia, eh malah aku yang look away padahal dianya tetep ngeliatin.

Damn.

Oke, oke, kita harus ngeliatiiiin terus. Katanya CCR, (duh, why do I take my advice from her since she's not better off than me toch?) seperti di Winnetou, ketika kita lagi mengamati seseorang atau sesuatu, itu ada kilatan di mata kita dan subyek yang lagi diamati bakal menangkap kilatan itu.

Mata, ayo mengilatlah! *sambil terus-terusan ngeliatin*

It works! Dia ngeliat balik. Mencoba menahan pandangan sampai akhirnya dia nunduk dan berdiri keluar. (CCR: Nariiii, dia tuh ngajakin ketemuan di luar.)

Ternyata, pas dia jalan ke luar, tangan kirinya kan megang bagian depan kursi (kursinya yang kursi kuliah ada mejanya itu lhooo), dan terlihatlah, cincin emas di jari manis kiri. DAMN!

Oke, liputan Paramadina berikutnya terjadi hari Jumatnya. Ulang tahun ke 65 Dawam Rahardjo. Isinya plus minus orang-orang yang sama, tapi spesimennya lebih banyak. 

Beneran deh, pas masuk ke ruangan itu, aku sejenak melihat ke atas dan ngomong, "Ini lho Tuhan (sambil tangannya membuat gerakan melingkar ke seluruh ruangan) yang saya minta di doa-doa saya."

"Oke, kecuali mungkin Dawam Rahardjo. Atau Nono Anwar Makarim. Atau Daniel Dhakidae. Atau Saiful Mujani. Or anyone above 40 and/or married. Tapi Anies Baswedan nggak pa-pa. Asal bukan Budiman Sudjatmiko."

(Walaupun mungkin kalau aku nggak tau gimana dia sebenarnya, he will pretty much still be obyek ngejo-ku. Ngejo being ngelamun jorok) 

Akhirnya, pulang liputan dengan tiga buku baru (ada mas-mas jualan buku di depan aula-nya. Dapet Tom Wolfe 'The New Journalism') dan perasaan agak optimis, agak ter-recharge battery-nya dan senyum-senyum sendiri. Redakturku, kapan ada lagi liputan ke Paramadina ya?


Posted at 10:04 pm by i_artharini
Comments (3)  

Tuesday, May 08, 2007
Malam Mingguan

Sabtu malam kemarin, punya orang yang menjemput untuk pergi ke suatu tempat. 'Unfortunately', itu adalah Miss CCR. Dengan tidak mengurangi rasa terima kasih ya, La, tapi elu juga rather be picked and be with someone else than me, toch?

Kita pergi ke sebuah kondangan teman sekantor. Wah, udah dandan full deh dan merasa udah cukup elegan. Tapi, yang ditunggu kok belum dateng-dateng juga, padahal aku lebih punya reputasi untuk terlambat dan dia bisa siap lebih cepat dan katanya nggak mau terlambat ngeceng. Tapi kok belum datang?

Ditelpon, terus nanya, "kita ketemuan di mana sih?"
"Tenang, Nari. Your date is coming. Masih di tol."

Sial. Emang cuman orang dengan pengalaman ditinggal temen kencan atau berbagai pengalaman penolakan lainnya kayaknya yang punya paranoia ditinggal atau ditolak lagi. Hey, not that I'm familiar with something like that lho. (Ok, trik lama yang diulang lagi)

Anyway, pas di jalan, ndengerin radio yang penuh dengan lagu-lagu yang mbuat miris untuk malam mingguan seorang yang relatif tanpa significant other (Kenapa? Kenapa? KENAPAAA?), tiba-tiba penyiarnya bilang, "ya, buat boys and girls out there yang lagi waiting for love..."

Aku udah harap-harap cemas mendengar pesan yang mau disampaikan, tapi si CCR langsung mencet tombol pindah. "Dasar sakit semua orang-orang."

"Lho, kok dipindah sih? Kan siapa tau aku bisa belajar sesuatu gitu dari pesan yang akan disampaikan."

Akhirnya dipindah lagi balik ke channel awal. Tapi udah ketinggalan bagian nasihatnya, si penyiarnya lagi ngomong, "...pintu terbuka.." or something like that aku belum benar-benar nangkep, tapi si CCR udah misuh-misuh, "Tuh kan! Tuh kan! Dasar sakit!"

"Hah, emang dia ngomong apa?"

"Nggak ada lagi pintu yang kebuka. Pintunya udah ketutup semua. Digembok rapat. Jendela juga udah nggak ada."

Ooohhh, baru ngerti maksudnya si penyiar.

"Nari, nanti kita lama-lama kayak Tuhan Yesus deh."

"Wait, what? Perbandingannya yang mana?"

"Iya, dia kan ngetuk semua pintu sekota, tapi nggak ada yang mau mbukain. Pintunya udah ditutup semua rapat-rapat. Dapatnya kandang domba deh. Nanti kita juga dapatnya kandang domba," masih kata CCR.

Dan, pas cerita ini diceritain ke ibuku, beliau bilang, "Ih, amit-amit. Jangan sampai deh. Emang temenmu kenapa sih? Menurut mama kan dia cukup atraktif. Atau dia terlalu selektif?"

So, menurut ibuku, hanya ada dua alasan kenapa perempuan nggak berada dalam sebuah relationship. Tidak atraktif, atau...kalau dia atraktif, berarti terlalu selektif.

Sementara faktor-faktor lain kayak: nggak tau di mana ketemu cowok-cowok yang masih single nowadays atau memikirkan gimana caranya memperkenalkan diri dengan sopan tapi memberi sinyal tapi menindaklanjuti tanpa tampil terlalu desperate dan tidak mendengar suara kecil di kepala yang bilang 'slut, slut, slut, murahan, murahan, murahan' akibat didikannya 'jadi anak perempuan baik-baik yang frigid ya nak' (perempuan-perempuan Jakarta kejam tau, ma. Semuanya pada maneater, dan aku baru menyadari, sama kayak makan steak yang harus merhatiin kolesterol, aku masih ragu-ragu atau makan dengan perasaan bersalah) tidak masuk dalam pertimbangan ibuku.   

Dan, the next morning, to add insult to the injury, ibuku nanyain siapa yang married tadi malam. "Temen sekantor, DP, cewek."

"Angkatan berapa sih?"
"Masuk kantor, angkatannya BI. Kuliah, angkatan 98."
"98? Berarti kamu dua tahun lagi dong nikah?"

(Why, God. WHYYYYY????)

Posted at 08:22 pm by i_artharini
Comments (3)  

Next Page