"...the quest for transcendence has always been closely linked to the ecstatic release of dancing." (Resensi RollingStone atas sebuah album pop) Mr. Darcy: "So what do you recommend, to encourage affection?"Elizabeth Bennet: "Dancing, even if one's partner is only tolerable." (Pride & Prejudice, 2005)perempuan, 1983, lovesick soul, berjalan kaki, belajar menulis, menonton film, ingin keliling dunia, Billie Holliday, Jane Austen, 'Franny and Zooey', cerita pendek F Scott Fitzgerald, lagu-lagu sedih, kecanduan membeli buku second, deretan buku di lemari, berkeliling dengan bis kota, mengepak koper, menari bebas, Vogue, sepatu, bad boys, kopi, kuliner, foto, semua yang vintage, genggaman tangan, pelukan hangat, detil percakapan antara manusia, kegelisahan, kesepian, ruang pencarian, belajar dewasa, museum dan bangunan tua, hari hujan, sinar matahari hangat di hari berangin, airport, stasiun kereta, dan pertanyaan tanpa akhir YM: isyana_artharini Email: i.artharini@gmail.com
|
|
Sunday, June 25, 2006
Aduh, akhir-akhir ini jadi sering ngerasa deg-degan, gelisah. Kayak ada
sesuatu yang akan terjadi. Pengharapannya kerasa udah tinggi banget.
Tapi ternyata hidup cuma berisi rutinitas.
But I swear. Kayak bakalan ada rasa baru, warna baru yang segera
datang. Atau mungkin maksudnya orang baru, cinta baru? Hmm... Apa pun
itu, rasanya ada optimisme yang muncul di pinggir-pinggir. Optimisme
yang bisa membuat aku gelisah dan menunggu-nunggu.
Ah, udahlah. Dinikmati aja. Udah capek kan jadi gloomy?
Posted at 06:36 pm by i_artharini
Permalink
Temen sekantor yang ngeliput pembukaannya Senayan City bilang, ada
Krispy Kreme di tempat itu. Krispy Kreme? Serius, Krispy Kreme?
Wuaaa....
Krispy Kreme, chain doughnut asal Amerika yang sering dihebohin di Sex
and the City sama Will & Grace, terus..sempet juga diberitain di
CNN waktu ada pembukaan cabang di London, yang isinya para ekspat
Amerika pada ngantri dan histeris. Padahal yang dihebohin cuman donat
dengan glaze gula aja. Pas J.Co muncul, rasa penasaran ama Krispy Kreme
pun mereda. "Ah, paling rasanya gini2 aja."
Tapi, teteup aja. Pas tau Krispy Kreme ada di Jakarta (apa sih yang
nggak ada di kota ini sekarang? Ck ck ck), langsung melaporkan berita
itu ke Rani. Dan, seperti sudah diduga, dia juga heboh.
"Beneran? Nggak boong kan? Krispy Kreme beneran?"
Akhirnya, siang ini mbela2in ke Senayan City, muter2 nyari Krispy
Kreme, yang ternyata...masih tutup. Melempem deh rasanya. Padahal
lidahnya tuh udah pengen banget ngerasain adonan tepung bercampur gula
atau glaze-glaze lainnya.
Pas di depan tempat yang akan jadi Krispy Kreme ternyata sudah ada
stand J.Co, lengkap dengan antriannya yang masih panjang (Perang donat
dan karbohidrat secara terbuka akan terjadi sebentar lagi...).
Taste bud-nya masih minta donat, tapi males ngantrinya. Ya
weislah...beli blueberry something-something di...BreadTalk.
Posted at 05:52 pm by i_artharini
Permalink
Thursday, June 22, 2006
This Side of Paradise, This Side of Hell
Aduh, "This Side of Paradise" tuh melelahkan banget. Bentuknya bisa
beda-beda di tiap episodenya. Dari yang pertamanya prosa biasa, terus
jadi berpuisi panjang-panjang, terus jadi berbentuk naskah drama.
Huaaa...
Tapi ya, keliatan banget sih kenapa banyak yang terkesima pas pertama
muncul. Mungkin karena si Fitzgerald-nya emang bertujuan
menabrak-nabrak berbagai 'konvensi' tentang novel. Setidaknya, walaupun
memusingkan, energinya si penulis tuh ada. Energi seorang penulis muda
yang pengen jadi dirinya sendiri.
Dan lama-kelamaan menyenangkan juga kok mbacanya. Buku keduanya, yang
dia ketemu Rosalind, yang bentuknya seperti naskah drama juga kerasa
pas. Soalnya, percakapan antara Amory dan Rosalind, cara mereka saling
membuat satu sama lain terkesan dengan line-linenya, kerasa stage-y
banget. Nggak realistis. Makanya bentuk drama-nya jadi kerasa pas.
Dengan tidak bermaksud membuka perdebatan tentang realistis atau tidak
sebuah play, Amory dan Rosalind seperti sepasang aktor dan aktris yang udah punya sederetan line untuk dilontarkan.
Tapi, kesan melelahkan itu tetap belum hilang. Pas kemarin sempet mbaca
kutipan dari buku lain aja yang agak pop bisa langsung ngerasa kayak
liburan, hehehe.
Ah udahlah.
Btw, aduuhhh....I'm a week away from the crumbling of my reputation.
Nulis apa buat sudut pandaaanggg?? Haegh. Mana Paus Biru belum nulis
lagi. Huks. Bisa jadi bahan ketawaan nanti tulisanku....
Posted at 09:52 pm by i_artharini
Permalink
Monday, June 19, 2006
(Bahkan setelah tiga hari di Manado yang membuatku melupakan Jakarta)
I wish I knew how to quit you.
(My soul hasn't heal yet, it turns out. I'm still falling, now even
faster, to a bottomless pit. As Mr Darcy would say to Elizabeth Bennet,
"You have bewitched me, body and soul." Only now, I am the one who's
uttering those very words in my heart, in a situation that is most
unlikely.)
(Aduh, kalau aku beneran nikah awal tahun depan, kayaknya itu bakalan karena sebuah usaha untuk melarikan diri deh...)
Posted at 08:11 pm by i_artharini
Permalink
Thursday, June 08, 2006
Sedikit Blues Untuk Hidup
Some of us, we're hardly ever here The rest of us, we're born to disappear How do I stop myself from Being just a number How will I hold my head To keep from going under Down to the wire I wanted water but I'll walk through the fire If this is what it takes To take me even higher Then I'll come through Like I do When the world keeps Testing me, testing me, testing me ("Vultures" - John Mayer Trio) Aku sudah tahu apa yang akan terjadi. Tapi apa yang akan aku lakukan agar tidak...menghilang?
Posted at 10:07 pm by i_artharini
Permalink
Tuesday, June 06, 2006
Orang-orang Muda Fitzgerald
Di tengah semua bencana yang sedang terjadi, aku memilih untuk tidak
menulis tentangnya. Bukan karena aku tidak melihatnya sebagai sebuah
pertanda, tapi...lebih karena pertanda sudah terlalu sering diberikan,
sebelum kemudian dilupakan, dan hidup berjalan seperti biasa.
Ah, ngomong apa sih?
Intinya kan cuma aku males mikirin hal itu terlalu dalam.
Anyways, tentang menjalani hidup seperti biasa...mau tidak mau, kembali
pada bacaan. Sekarang, lagi memutuskan untuk mendalami Amerika dan
dekadensi Jazz Age lewat F Scott Fitzgerald.
Awalnya, pengen mulai membaca 'This Side of Paradise', novel pertama
Fitzgerald yang semi otobiografis. Yang membuat aku tertarik sebenarnya
kata pengantar dari Susan Orlean (penulis buku 'The Orchid Thief', asal
mula film 'Adaptation); katanya buku ini adalah suatu terobosan, salah
satunya, karena tema 'youth' yang diangkatnya. Dunia remaja yang
penuh dengan segala bentuk kegelisahannya adalah suatu hal yang baru
untuk era 1920an. Jadi penasaran, gimana Fitzgerald menggambarkannya.
Dan mungkin bisa ditarik perbandingan juga sama satu lagi American
literary golden boy dan opus magnum kisah kegelisahan remajanya,
Salinger dan The Catcher in the Rye-nya.
Tapi, keinginan mbaca 'This Side..' itu harus direm dulu, karena...aku
sempet mulai mbaca lagi 'The Great Gatsby', yang berhenti di
tengah-tengah, dan idem ditto 'The Diamond As Big As The Ritz',
kumpulan cerpennya.
'The Diamond..' sekarang sudah selesai, dan sekarang lagi tenggelam dan ikut mabuk di pesta-pestanya Jay Gatsby.
Tentang 'The Diamond...', ini yang sempat aku tulis di (oh no!) A Reader's Diary-ku:
"Ritz, yang menonjol bukan dunia imajinasi yang diciptakan, tapi
permainan kata-katanya ketika menggambarkan kemewahan ('an iced dessert
that was pink as a dream...) dan juga pacing penggambaran-penggambaran
itu. Tidak terburu-buru, kita bisa menarik dan menahan nafas di saat
yang tepat untuk mengagumi dunia yang mampu dibangun Fitzgerald tepat
di depan kita."
Hmm..cukup embarassing sebenarnya menuliskan ini.
Tapi, cerita itu dashyat banget. Ada sebuah finalitas dari ending yang
menggantung. Mungkin seperti finalitas ending 'The Graduate'.
Kata-kata dan dialognya pun semakin lama semakin indah, point in case:
'Everybody's youth is a dream, a form of chemical madness.'
'How pleasant then to be insane.'
'...Let us love for a while, for a year or so you and me. That's a form of divine drunkenness that we can all try.'
(Aduh. Hatinya jadi tersayat-sayat)
Cerita yang sampai sekarang nggak bisa lepas dari kepala sebenarnya
yang judulnya 'Bernice Bobbed Her Hair'. Yang namanya isu menjadi
populer, terus demi jadi populer ngelupain siapa sebenarnya kita, dan
terus berakhir tragis...itu bukan cuma isi film-film remaja yang
akhirnya diplesetin di 'Not Another Teen Movie', tapi udah ada way way
way way back then.
Tragisnya pengalaman si tokoh utama cerita itu masih bisa kerasa, masih
bisa nampar sampai sekarang. Tapi twist-nya yang membuat si karakter
berada di atas angin (setidaknya dalam pikiranku, mungkin oleh tokoh
yang lain dia bisa dianggap gila..) juga mbuat aku teriak-teriak
senang.
Sejauh ini, dengan cara yang sederhana, ini yang bisa aku bilangin
untuk Fitzgerald: ini adalah seorang pria yang dapat menunjukkan pada
pembacanya, dengan cara yang elaborate, arti dari konsep bittersweet.
Posted at 09:15 pm by i_artharini
Permalink
Thursday, June 01, 2006
The Not So Good Affirmation
I'll be fine, I'll be fine, I'll be fine, I'll be fine
I'll be fine, I'll be fine, I'll be fine, I'll be fine
I miss you I miss you I miss you
I miss you I miss you I miss you so much
Posted at 09:51 pm by i_artharini
Permalink
Wednesday, May 24, 2006
Ffiuh...
Gila. Udah lama banget blog ini nggak diisi. Padahal ada banyak
cerita sebenarnya yang bisa dibongkar dari otak. Kayak, dua weekend
berturut-turut yang dihabiskan di luar kota. Pertama, secara mendadak
dapat limpahan undangan untuk ke Kuala Lumpur. Limpahan, karena awalnya
yang diundang temen. Tapi dia merasa it's too much hassle untuk
persiapan pergi yang cuma semalem, sementara dia masih ribet dengan
persiapan nikahnya.
Dikasih tau Sabtu pagi, berangkat Minggu sore, pulang lagi Senin sore.
Kerjaannya? Muter-muter ngikutin pejabat Gubernur Aceh silaturahmi sama
masyarakat Aceh di sana, terus ketemu ama Menteri-menteri di sana. Yang
jatuh-jatuhnya cuma...kunjungan basa-basi. Terkungkung dalam mobil,
nggak sempet jalan-jalan. Tapi, ah ya sudahlah, namanya juga gratisan.
Terus akhir minggu berikutnya, ya itu..ke Bandung, buat nikahan si
temen. Rame, seru, kayak 'out-of-town slumber party', berbagi kamar
dengan tiga temen lain. Besok paginya dandan heboh. Foto-foto. Liat FO.
Ah...fun times, lah.
Di antara itu, ada pergantian kepala suku desk tempatku sekarang
berada. Suatu perubahan yang aku yakin, akan mengarah ke sesuatu yang
negatif. Oops. Hmm, mungkin cara pandang ini yang membuatku jadi kesal
ngadepin semuanya. Perubahan yang awalnya mau aku jadikan kesempatan
untuk minta pindah. Dan ternyata gagal.
Walaupun kepala suku sebelumnya memberikan rasa tenang dan alasan yang
sangat masuk akal untuk tetap semangat. Tapi, harapan untuk terus
berjuang itu jadi kandas gara-gara attitude kepala suku yang baru. Ah,
itu mungkin karena aku manja aja. Harusnya semua-semua itu tidak
mempengaruhi perang yang terjadi di dalam kan?
Dan argh, sekarang diperparah pula dengan harus mundur lagi, ngerjain
sesuatu yang harusnya udah selesai. Jadi males banget berusaha.
Perang dingin dengan seorang sahabat juga terjadi. Sesuatu yang,
sungguh, belum aku lihat ujungnya. Juga pengenangan akan sosok dari
fase kehidupan yang sudah lalu. Sampai akhirnya berakhir dengan
pembicaraan yang membuatku menahan air mata dengan seorang teman dekat,
yang sudah lama tidak berbincang.
Banyak perubahan yang terjadi dengan orang-orang di sekitarku, tapi
kayaknya aku masih orang yang sama. Entah kenapa, itu malah terasa
tragis.
"But we went on, reminding me of that epitaph in the Greek anthology: when I sank, the other ships sailed on."
(Virginia Woolf; A Writer's Diary; Monday, January 26th, 1931)
Ah, selamat tinggal cerita yang manis.
Posted at 05:51 pm by i_artharini
Permalink
Tuesday, May 02, 2006
Kembali sebentar menjadi nyinyir:
"...Di tengah kritik Sutardji terhadap kecenderungan
pemuda yang menjadi seniman, cerpenis Hudan Hidayat melihat,
sesungguhnya Chairil tidaklah 'merdeka' benar. Ia tetap terikat, atau
mengikatkan diri, melalui persambungan ide dan cita-cita yang menjadi
'ide dunia'. Mungkin hidup Chairil yang pendek, belum memungkinkan dia
memiliki, atau mencari peralatan puisinya sendiri. 'Pandangan dunia'
Chairil, belum mencapai tingkatan antitesis.
"Barulah pada Sutardji, semangat untuk melakukan
antitesis dan menuliskannya dalam puisi, mewujud. Kalau 'generasi
teks' kini setengah pongah sambil resah sendiri tak kunjung menemukan
keautentikan eksistensi dan ekspresi, mengunyah dekonstruksi dalam
wacana dan bukan dalam karya kreatif, maka Sutardji melalui kredo
puisinya, telah melakukan pembalikan kata-kata, bukan untuk mengantar
pengertian," tutur penulis antologi cerpen Keluarga Gila.
Maka dalam perspektif Hudan, mengenang Chairil,
adalah upaya untuk mencari keautentikan dan ekspresi diri. Bila
Chairil menjawab masa kemerdekaan dengan individualitas dan semangat
untuk lepas dari kumpulan, adalah tugas generasi sekarang, menjawab
zamannya sendiri dengan keautentikan eksistensi dan ekspresi diri kita
sendiri.
"Bukan membebek pada tonggak orang luar maupun orang
dalam. Tapi mencari sebuah orientasi baru. Pandangan dunia baru.
Keberbahasaan baru. Seperti yang ditunjukkan oleh sebuah novel yang
menolak segala macam ukuran ke dalam dirinya," ungkap Hudan, yang
bersama Mariana Aminuddin, menulis novel Tuan dan Nona Kosong.
(Media Indonesia, Minggu, 30/4/06)
Tanggapanku: Hah! Jadi itu to arahnya?
P.S.: Ini sebenarnya artikel yang lumayan oke. Terutama pada bagian
awal, tentang Sutardji dan menjadi Chairil di masa sekarang. (Agak)
Lengkapnya:
"....Untuk hidup seribu tahun, ujar Sutardji, bukanlah
sekadar membuat novel seribu halaman, atau membuat puisi atau membuat
artikel, atau membuat esai seribu biji. Tetapi, tegas Sutardji,
tentulah dengan semangat membuat karya bernilai seribu tahun.
"Beratnya tantangan masa kini, bukanlah terletak
pada lembaga trik, semacam pasar, kemewahan hidup masa kini. Tetapi
terutama pada godaan-godaan terhadap pandangan budaya hidup,
filosofi-filosofi, visi misi kesenian yang sering menggoda para pemuda
yang tidak kreatif untuk hidup secara serampangan," tutur Presiden
Penyair Indonesia itu, kemarin.
Sutardji juga melihat fakta-fakta inilah, yang kini
merambah dalam diri pemuda yang menjadi seniman. Fakta-fakta itu,
antara lain, munculnya filsafat postmodernisme, urai Sutardji, yang
menolak grand narative pada kata dan menolak
nilai-nilai besar yang bertahan seribu tahun, nilai-nilai relatif yang
ditonjolkan dan diberi justifikasinya, pandangan yang menganggap seni
atau sastra adalah sebuah permainan, magic realisme yang menghasilkan karya-karya besar di Amerika Latin, paham-paham kebebasan bentuk dalam puisi.
"Sehingga puisi bisa dalam bentuk prosa, semuanya
itu banyak memberikan inspirasi bagi para pemuda seniman yang serius
dan kreatif. Tapi pada kenyataannya yang kita lihat di kalangan
para pemuda yang menjadi seniman hanya melihat sisi gampangan dari
aliran-aliran itu," tegas penyair yang pada tahun 1974, pernah
mengikuti International Poetry Reading di Rotterdam, International
Writing Program di Iowa, Amerika Serikat dan Pertemuan Penyair Dunia
di Kolombia tahun 1979.
Penyair yang lahir pada 24 Juni 1941 di Rengat, Riau
itu, melihat kecenderungan pemuda yang menjadi seniman, maka banyak
yang menulis puisi secara asal-asalan, gampangan, yang akhirnya
menjadikan dirinya sendiri sebagai seniman gampangan.
"Semangat cari gampang ini, akhirnya melahirkan para
sastrawan medioker. Para medioker tidak punya semangat hidup seribu
tahun lagi, tapi sekadar ingin survive sesaat. Atau ingin dianggap berarti dan cukup puas menghadiri komunitasnya.
Penulis antologi puisi O, Amuk dan Kapak
ini, melihat asyik masyuk dalam komunitas sendiri, menjadi jago
kandang, melahirkan sastrawan silaturahmi. Dalam bentuk lain,
komunitas ini jika maju dan berkembang akan memperkenalkan satu bentuk
sastra Gilda.
"Sastrawan yang para sastrawannya self-supporting dalam puji memuji," tegas Sutardji.
P.P.S: Aku jadi deg-degan nih gara-gara overspending di QB Plangi; 70%
coba diskonnya. Duh, Gusti. Kan masih mau ke Bandung, mbayar cicilan,
huks.
Posted at 07:37 pm by i_artharini
Permalink
Monday, May 01, 2006
Sekedar Mencoba Mengingat Pram
"Di manakah kamu saat [kejadian X] terjadi?"
'Kejadian X' aku anggap sebagai sebuah momen yang akan tercatat dalam
sejarah, bagian dari memori kolektif sekelompok besar manusia. Asumsi
itu berdasar pada pernyataan yang pernah aku dengar dari sebuah film
dokumenter atau program dokumenter televisi yang aku tak ingat judul
atau stasiun yang menayangkannya. Salah seorang pembicara pada program
itu mengatakan, "semua orang Amerika yang hidup di kurun waktu 1960-an,
akan ingat dan dapat menjawab pertanyaan: 'di manakah kamu saat JFK
ditembak mati?'"
Mungkin, buat orang Indonesia, salah satu peristiwa yang dapat
membentuk memori kolektif akan sejarah, terjadi kemarin. Jadi aku ingin
menanyakan, di manakah kamu saat pertama kali mendengar sastrawan
Pramoedya Ananta Toer meninggal dunia?
Jawabanku: di rumah, di sofa panjang ruang tamu yang berwarna hijau,
duduk sempurna, sambil kembali membolak-balik tiga koran minggu secara
simultan untuk kesekian kalinya, ketika Kania Sutisnawinata lewat
Headline News memberitakan secara singkat akan kepergian raksasa itu.
Saat itu sekitar pukul 13.00. Aku baru beberapa belas menit terbangun
dari tidur tengah pagi dari sebelumnya membaca 'Persuasion'. Kania
membacakan sesuatu dari seorang raksasa lain, Sitor Situmorang, yang
bahkan sekarang aku lupa apa kata-kata tepatnya untuk mendiang Pram.
Aku berlari ke depan tivi, melihat jenazahnya terbaring kaku,
beralaskan seprai Winnie the Pooh dan Piglet berwarna hijau dan biru.
Ada seorang pria yang sedang berjongkok di sampingnya, dan aku melihat
punggung seorang pria yang aku curigai sebagai punggung Sitor.
Tidak ada emosi apa pun yang terlintas saat menyadari sesuatu yang baru
terjadi. Kata-kata terakhir yang bisa aku tangkap, ia akan dimakamkan
di TPU Karet Bivak pukul 15.00 nanti.
Should I come there?
Iya, iya, aku harus datang.
Untuk apa?
Memberikan penghormatan terakhir, tentu.
Tapi untuk apa? Toh, kau tak pernah bisa turut berkabung dengan cara yang pantas.
Tapi ini Pram. Bukankah dulu kau pernah menyesal karena tak bisa datang pada pemakaman Umar Kayam?
Ah. Sekarang kau lebih tertarik dengan prospek bertemu Sitor di situ.
Tapi aku harus datang.
Lihat, bahkan sampai sekarang pun kau tak benar-benar merasa kehilangan kan? Jadi untuk apa kau datang?
Memang ada kekecewaan, tapi hanya butuh waktu satu jam untuk menyadari bahwa aku terlalu palsu untuk datang.
SELAMAT JALAN, PRAM
Selamat jalan, buku
Selamat sampai di ibukata, ibunya rindu
Selamat terbang mengarungi ziarah waktu
Maafkan kami yang belum usai membacamu
(Joko Pinurbo, 30-4-2006)
Posted at 10:23 pm by i_artharini
Permalink
|
|
|