"...the quest for transcendence has always been closely linked to the ecstatic release of dancing." (Resensi RollingStone atas sebuah album pop) Mr. Darcy: "So what do you recommend, to encourage affection?"Elizabeth Bennet: "Dancing, even if one's partner is only tolerable." (Pride & Prejudice, 2005)perempuan, 1983, lovesick soul, berjalan kaki, belajar menulis, menonton film, ingin keliling dunia, Billie Holliday, Jane Austen, 'Franny and Zooey', cerita pendek F Scott Fitzgerald, lagu-lagu sedih, kecanduan membeli buku second, deretan buku di lemari, berkeliling dengan bis kota, mengepak koper, menari bebas, Vogue, sepatu, bad boys, kopi, kuliner, foto, semua yang vintage, genggaman tangan, pelukan hangat, detil percakapan antara manusia, kegelisahan, kesepian, ruang pencarian, belajar dewasa, museum dan bangunan tua, hari hujan, sinar matahari hangat di hari berangin, airport, stasiun kereta, dan pertanyaan tanpa akhir YM: isyana_artharini Email: i.artharini@gmail.com
|
|
Wednesday, May 21, 2008
Katanya (iklan), ada berbagai macam cara memaknai kebangkitan. Ada
reporter metropolitan yang berorasi kebudayaan tapi di akhir acara
malah kaya Ketua RT lagi menutup halal bihalal (kata itu ada nggak sih
sebenarnya dalam khazanah bahasa Indonesia? Kalau ada, gimana
menulisnya?).
Aku, mungkin balik ke gym kali ya. Biar kalau ada kebutuhan mendadak
untuk tampil dengan two-piece bathing suit selalu siap. Hehehe.
Belum serius sih, baru kemarin aja sekali, mumpung acara liputan Kebangkitan yang lain dekat situ.
Pertamanya di alat...apa ya itu namanya, pokoknya gerakannya mirip
mengayuh, tapi sambil berdiri, setengah jam. Dan rasanya bahagia.
Terus pindah ke treadmill, setengah jam juga.
Mau pindah ke cross-trainer, eh ada mbak-mbak kayak Kelinci Energizer yang make lamaaa banget. Akhirnya balik lagi ke treadmill.
Tapi, oh, ada sisa-sisa dari acara kumpul-kumpul RT reporter metropolitan (lengkap dengan potong tumpengnya).
Di sana ketemu mantan atasan yang, masih teteup aja, ingin diakui tapi
dengan upaya seminim mungkin. Nggak lewat tulisan, nggak lewat
kemampuan verbal. Dan nggak bisa lihat orang sekadar main-main tanpa
arah, menganggap serius acara yang sebenarnya...biasa-biasa aja.
Ini aku dengan jubah penilaian ya. Jadinya, pas lihat spanduk
peringatan kebangkitan di acaranya si reporter metropolitan, kok ya
ucapannya nggak jauh beda sama spanduk-spanduk dari instansi pemerintah
atau kepolisian.
Yang jayus, kosong, berusaha terkesan gagah tapi sekadar retorika. Dan
terakhir, si reporter metropolitan bilang: Terima kasih ya atas
dukungannya.
Kita nggak seserius itu kok, cuma butuh variasi tujuan. Biar ada yang
bisa diomongin selain urusan kantor. Karena nggak bisa lagi tidur malam
hari.
Pas acara selesai jam 11.30 pun, aku merasa, lha kok udahan? Kayaknya masih jam 10 aja.
Yang sial sih, karena penuh, jadi duduk di bagian depan. Paling depan.
Lampu juga pas nyorot ke kita. Tapi ketawa kemekelan pas ada
bapak-bapak dari perusahaan sponsor (dua lho sponsornya! Dari bidang
usaha yang sama pula!) dengan postur nggak jauh beda sama orang DPR
membaca, "Namaku bayi dalam gendongan."
Cuma bisa tertegun.
Ketawanya baru meledak waktu dia bilang, "Ibu, ibu, aku butuh susu, ibu."
Sejak dari situ, apa pun yang dia omongin nggak bisa dianggap serius.
Tambah geli karena saling lihat-lihatan. Mana pada sampe berkaca-kaca
semua matanya. Jadi pada kebingungan menyembunyikan geli.
Oke, itu puisi bukan main-main. Tapi gara-gara cara membaca si bapak ini, ketawa jadi seperti nggak kehabisan stok.
Yah, mungkin memang cuma bisa memaknai acara kebangkitan si reporter metropolitan cuma sampai segitu.
Bangkit? Apa ya. Mengecek ulang daftar tahun ini sepertinya.
Posted at 07:47 am by i_artharini
Permalink
Membaca-baca CLEO-nya Rani dan menemukan artikel berjudul: "Are You a Sleep-Deprived Bitch?"
Menurut artikelnya, 'inti' dari bitch yang kekurangan tidur adalah
seseorang yang berperilaku di luar 'garis' kepribadiannya. Atau, diri
kita yang ngantuk itu berperilaku berbeda dari diri kita yang normal.
Dan untuk lari dari realita yang kekurangan tidur, kepribadian kita
yang ngantuk itu mengadopsi kepribadian kedua yang lebih kuat, keras,
berani, lebih baik..dan lebih bitchy. "Usually, this person
has habits and manners that we thoroughly dislike--if you met your
second, sleepy personality, you'd be disgusted with her."
Hmm, enggak juga sih. Ada hal-hal yang aku sukai kok dari karakter
keduaku itu. Lebih berani, kayaknya iya. Lebih bisa ketawa, iya (aku
nggak ingat kapan terakhir kali bisa banyak hari berturut-turut
tersedak minuman karena ketawa. Parah sih kelihatannya). Tapi aku
merasa jadi terlalu judgmental gitu. Dan bahan omongannya jadi super
terbatas. Yang dulunya ngomong masalah astrologi itu cuma jadi sekadar bumbu, kenapa sekarang jadi menu utama?
Tapi salah satu karakter pelariannya adalah orang-orang setia yang jadi
lebih suka 'bermain' atau orang yang suka 'bermain' jadi monogamis
(halah, masa?), atau orang royal jadi pelit, atau introvert jadi
ekstrovert, orang cerewet jadi pendiam, dan "normally nice women become
utter bitches". Ada orang yang memasuki kondisi depresif
dan menginternalisasi energi negatif mereka, mencari pelarian dari
halusinasi yang disebabkan oleh kelelahan dengan cara alkohol dan seks
(salah satunya). Hmm, pantas aja aku sudah tiga minggu terakhir sangat, sangat, sangat menginginkan mengulum sesuatu yang alkoholik. Seks, nggak sejauh itu sih. Punya kissing buddy saja sepertinya sudah cukup. Ya, ya.
Ada yang mencari asupan oksitosin yang biasanya tersedia dalam dosis
teratur, terus tiba-tiba drop, dan sekarang jadi kelimpungan. Ada juga
yang mencoba menurunkan grafik kadar ke-stress-an. Aku, cuma merasa itu
bagian dari menjadi muda. Dan, oh, ya, itu bakal jadi distraksi yang
(sangat) menyenangkan. Jadi, Tuhan (d'oh, kalau sudah gini
aja, baru bawa-bawa nama Tuhan), oke, iya, aku mengerti, relationship
itu susah dan rumit dan melelahkan dan penuh drama dan butuh komitmen.
Dan mungkin mengirim kandidatnya itu lebih susah. Mungkin nggak kalau aku dikasih kissing buddy aja? Yang bisa tersedia setiap waktu gitu, kalau dibutuhkan. Dan nggak perlu orang yang berpikir positif tentang Chekhov atau malah tahu Chekhov sama sekali.
Biar nggak kepikiran kissing random people on the street. (Hmm, kalau
bener dilakuin, kan nggak ada bedanya sama eksibisionis yang suka
'pamer' di jalan ya?) Dan biar nggak sariawan. (Well, ini belum terbukti secara ilmiah sih. Atau sudah tapi aku belum dengar?) Masa cuma bisa dapat fantasi-fantasi sama Channing Tatum? Duuhh.
Si pencari oksitosin bilang sesuatu tentang lelaki gampangan. "Dia tuh
cowok gampangan lagi. Sekarang harus dilihat, cowok juga bisa
gampangan. Jadi kita nggak cuma dianggap korban aja." Ya, ya, ya. ---
Btw, aku baru lihat dua filmnya Wong Kar Wai sih, My Blueberry Nights
sama 2046. Is it just me atau Wong Kar Wai selalu punya cara kreatif
untuk membuat karakter-karakternya berciuman?
Posted at 05:36 am by i_artharini
Permalink
Ah, Nari, you old foolish drama queen.
Kemarin katanya nggak bisa jadi media pelarian, eh tiba-tiba jadi kecanduan. Dan sekarang, setelah ngelihat situs ini, malah jadi lebih tenang.
Dan jadi nonton Days of Wine and Roses gara-gara posting tentang Lee Remick.
Seharusnya aku kan sudah cukup tua (atau dewasa, nggak tahu pastinya
yang mana) untuk mengenali pola obsesiku. Bahwa semuanya tak lebih dari
sekadar fase.
Posted at 05:24 am by i_artharini
Permalink
Monday, May 19, 2008
She lives for her cigs, and is quite happy to
die for them, she says. "For me smoking is like looking at your soul,"
she says in a rasping hybrid accent. "There is something
extraordinarily poetic about smoking - from the gesture of holding a
cigarette, turning it on, smoking it, the taste of it, the smell of it,
I love every-thing about smoking."
She has no truck with the kill-joys
who want to stop us doing all the things that we enjoy - simply because
it might prolong our life. "Anything that has a relationship with
pleasure we reject it. Eating, they talk about cholesterol; making
love, they talk about Aids; you talk about smoking, they talk about
cancer. It's a very sick society that rejects pleasure." She's working
herself up into a climax of disgust.
"Why should we live like sick
people just to give some fresh meat to the ground? I hope my meat is so
rotten no worm in the whole universe will want to come and eat it. I
want to be rotten to accept the idea of dying. Every day you live you
get one day closer to death. If you are never born you will never die.
Giving birth is also giving death." She smiles, having hit on the
solution to combating death.
(Marjane Satrapi, dari wawancara dengan Simon Hattenstone, The Guardian, " Confessions of Miss Mischief")
Dan, oh, ini satu lagi,
"He is completely unbearable, narcissistic, egocentric but also
lovely and charming. That's actually how I see myself. You have to be
narcissistic to be an artist. You have to think you are the centre of
the whole thing otherwise why do you create? The only thing is to
recognise it, and then you make the best of it."
Cheers.
Posted at 05:47 am by i_artharini
Permalink
Jumat pagi minggu lalu baru tersadar, lho kok Eskapisme fotonya hitam putih semua ya?
Di minggu aku memutuskan untuk menyalahgunakan kekuasaan sebagai pengisi rubrik dengan jadi jurkamnya Katharine Hepburn ( The Philadelphia Story), ternyata ada pemutaran film bisunya Fritz Lang diiringi orkestra ( Destiny). Jadi ya, 'terpaksa' hitam putih semua.
Ah ya sudahlah, minggu depan tinggal nyari apa yang lagi 'hip'. Dan
berwarna fotonya. Pernah nulis tentang film-film Judd Apatow juga kan?
Anyway, otakku kok nggak bisa beranjak dari 'kenapa' ya? Atau, beranjak dari 'apa alasannya'?
Kemarin-kemarin, kenapa menulis. Sekarang, kenapa menonton film.
Maksudnya, aku nggak tahu juga apa gunanya aku nonton film Fritz Lang.
Atau kenapa aku panik karena di programnya Kineforum buat Mei 2008 ini
ada La Battaglia di Algeri. Alasan paniknya pun nggak terlalu legitimate.
Gara-garanya, pas nonton Starting Out in the Evening, ada adegan yang pasangan Ariel-Casey lagi ngantre mau nonton Girls of Rochefort.
Tapi si Caseynya males, karena dia males lihat orang Perancis menyanyi
dan menari, tapi mbela-belain karena giliran, biar minggu depannya
gantian nonton Battle of Algiers itu. Akhirnya sih mereka nonton film
berbeda.
Sudah, cuma gitu aja.
Waktu itu sih aku sebenarnya nggak penasaran-penasaran banget sama
Battle of Algiers. Tapi pas lihat di programnya ada, jadi pengen
nonton. (Ah, Jumat siang ini nonton ah. Kapan lagi kan?)
Kalau katanya mbak Adele, Should I give up// or should I just keep on chasing pavements// even if it leads nowhere//
Yaa, suka aja sih, ngejar nonton ini, tahu detil itu, memikirkan
macam-macam aspeknya. Tapi aku mulai bertanya-tanya, apa sekadar suka
aja itu sudah cukup ya untuk 'hidup bersama'?
Kok jadinya seperti aku menyimpan 'beban' useless knowledge gitu.
(Ngomong-ngomong, ada nggak sih knowledge yang useless?) Eh tapi ya,
kalau lagi duduk di kegelapan bioskop itu, sambil nonton film, aku
lebih merasa seperti 'ditemukan' daripada terbenam.
Tiba-tiba jadi merasa lega, nafasnya jadi teratur, nyamaaan banget. Dan
aku jadi merasa hidupku itu untuk sesuatu. Ada maknanya gitu.
"Itu kenapa, Dok? Tanda-tanda kecanduan ya?"
Posted at 03:29 am by i_artharini
Permalink
Sunday, May 18, 2008
(Ini usaha kedua. Aku mencoba mengingat-ingat apa yang tadi sudah ditulis. Padahal tinggal dikasih judul lho *menghela nafas*)
(Dan, oh, mungkin, sebelum ada yang membaca, perlu dikasih peringatan: "Whining Alert!" Peringatan: Ini posting tentang keluhan)
Jadi, kemarin Jumat, pas nganterin Rani ke bandara, Ma bilang, "Eh, besok kamu ikut kondangan ya."
Aku, dengan ceria dan lega, banget, bilang, "Oh enggak bisa. Aku ada liputan."
Yang membuatku ceria sih karena format acara liputannya (kalau lihat dari undangan) cukup menarik. Aku sudah membayangkan tulisannya bisa jadi hal yang menarik, bahasannya punya potensi untuk jadi asyik. 'Lucu' lah. Dan aku membayangkan ini bisa jadi variasi akhir mingguku, bisa buat cerita-cerita baru, dst, dst.
Nama acaranya? Temu Blogger Buku.
Pertama tahunya sih dari email yang dikirim teman tentang Festival Mei dan dari sekumpulan acaranya, ini kayaknya yang paling menarik. Jadi, sudah sejak 8 hari lalu aku mengingat-ingat acara ini.
Tapi kemarinnya bapak ini juga menanyakan, "Sudah tau belum, dst, dst.." Dan aku bilang sudah.
Anyway, datanglah Sabtu dan aku siap-siap berangkat.
Kebiasaan burukku memang suka datang mepet, kadang malah terlalu mepet. Tapi merasa tenang karena, ah ya, nanti bisa naik ojek dari Kampung Melayu.
Kesialan pertama, abang ojek memutuskan untuk belok di perempatan Senen. Pas di Tugu Tani ke arah Gambir, eh macet total. Benar-benar tidak bergerak.
Bus, mobil, delman, motor, bajaj, mikrolet, semuanya benar-benar berhenti. Orang-orang pada turun dan jalan di trotoar. Saking nggak bergeraknya, langit sampai pekat warnanya gara-gara kumpulan asap. Aku naik turun ojek biar abangnya bisa pindah-pindah lajur dan lompat separator busway.
Akhirnya, kita lepas dari jebakan dan sampailah di Veteran.
Lho, tapi kok sepi ya?
Dari dua pintu yang bisa langsung dibuka dan langsung menghadap tangga naik (seperti rumah-rumah di Albertcuyp? Albertkuijp? itu lhooo), aku memilih yang kiri.
Pas naik, kok sepi banget ya. Benar-benar sepi.
Dan sampai di atas, kosong banget gitu.
Ada kursi, dan sofa, dan bar, dan lampu yang redup, tapi ya kosong. Dalam situasi-situasi lain, itu tempat benar-benar keren, tapi aku langsung dilanda kecemasan dengan sepinya ruangan itu.
Muncullah seorang mas-mas dari pintu di kanannya mulut tangga.
Dia kelihatan kaget ngelihat aku. Lebih kaget dari aku yang kaget melihat ruangan kosong.
"Mas, ini acaranya..."
"Sudah selesai, mbak."
"Mulai jam berapa sih? Bukannya jam lima?"
"Enggak, tadi pagi, jam 11."
Anjrit. Bodoh, bodoh, bodoh.
"Masa sih? Saya lihat di blognya kok jam lima?"
"Enggak, mbak. Jam 11 kok."
Oke, di titik ini, aku membayangkan suaranya Rani di kepalaku yang bilang: Clumsiness is in our blood. Stupidity, it's all yours. Masa sih aku segitu bodohnya mencatat jam yang salah? Apa karena sudah kelamaan juga. Tapi kemarin aku cek lagi di situsnya juga masih jam lima kok.
Apa mungkin maksudnya tanggal 17 dan aku mencatat jadi jam 17.00 gitu ya?
"Mbak lihat di kompas.com?"
"Bukan. Di blog yang bataviase.wordpress.com itu, terus ke bagian bukunya. Katanya jam lima."
"Enggak, mbak. Udah tadi pagi jam 11. Ada acara lagi sih baru tanggal 31."
Ini, aku yakin, enggak benar. Karena di blog yang sama ada jadwal-jadwal lain sebelum itu walaupun bukan di lokasi yang sama.
"Oh ya udah deh, mas. Makasih ya."
"Iya, mbak. Maaf ya."
Bukan salahnya sih.
Aku jadi berasa kayak Kay Adams waktu pertama kali dengar tentang "offer he can't refuse"-nya Don Vito ke pemimpin bandnya Johnny Fontaine deh.
Well, enggak segitunya sih.
Oke, emosi yang benar-benar berbeda malah. Aku cuma lagi pengen menyebut perbandingan itu saja.
Aku terus langsung ke luar dan ke Ragusa--yang ternyata rasanya cuma biasa aja. Nggak membawa nostalgia es krim dari masa lalu gitu.
Sambil lihat kanan, kiri, depan--ada pasangan yang lagi berbagi es krim Spaghetti. Italian ice cream parlor, berbagi es krim, uggh, too cute. Ini kan bukan Roman Holiday--aku jadi mikir, apa yang terjadi, apa yang terjadi? Kenapa aku bisa sebodoh itu?
Akhirnya telpon lah sama bapak ini, ngecek. "Halo. Sorry, lagi sibuk nggak. Datang nggak tadi. Aku abis melakukan kesalahan bodoh nih. Ternyata ... Aku jadi menghabiskan akhir pekan dengan mikir, besok Senin nulis apa ya. Oh ya udah. Tengkyu ya. Dadaah."
(Formatnya memang sebagian besar monolog sih)
Akhirnya, karena masih nggak habis pikir dan masih kesal, jalanlah aku. Tapi terus memutuskan naik busway ke Harmoni dan mampir di Plaza Indonesia.
Pas muter-muter di Aksara, sudah sempat telpon Ccr. Untung nggak diangkat, karena kayaknya satu orang yang diceritai saja sudah cukup (kalau menulis di sini kan pilihan ya yang mau membaca atau tidak).
Sambil duduk di Secret Recipe, terus aku iseng membuka blog yang memuat jadwal acaranya. Memastikan, apa aku salah catat. Ternyata, ENGGAK.
Ffiuh. Agak lega.
Dari tiga tahun pengalaman jadi wartawan, walaupun tidak militan, tapi setidaknya aku bisa membanggakan fakta bahwa aku pencatat yang lumayan baik. Penanya yang baik mungkin nanti dulu, tapi kalau mencatat, kayaknya aku cukup hati-hati deh.
Tapi dari situ aku jadi merasa seperti ada yang meng-satu-nol-kan aku, tapi aku enggak tahu siapa.
Pas perjalanan pulang pun aku sudah merasa lega dan membanggakan fakta, "Gimana bisa elu meragukan diri sendiri sebagai seorang pencatat, Nari?"
Sampai di rumah, ibuku nanya, "Gimana tadi acaranya?"
Dan aku cerita ulanglah dari awal sampai 'satu-nol' itu. Dia menambahkan, "Iya. Kayak ada orang yang ngomong, 'Kena, lo', tapi nggak tahu siapa."
Aku terus memastikan lagi dengan browsing di komputer rumah. Benar kan ya, tadi yang aku baca tulisannya jam 17.00. Siapa tahu kalau di layar komputer jadi lebih jelas. Mungkin di layar communicator 1 dan 7 nggak jauh beda, tapi di layar komputer kan kelihatan bedanya.
Dan, seperti sudah bisa diduga, masih tetap jam 17.00 tulisannya.
Tapi, pas aku ketik "temu blogger buku" di Google, blog-blog lain pada nyebut jam 11.00-14.00.
Di sini aku kembali kesal.
Kenapa nggak cari sumber lain? Cek dan ricek? Infotainmen aja tahu. Kenapa, kenapa, KENAPA?
Ini bukan sekadar mengeluh tentang 'bonusnya' ya, tapi acara itu kayaknya menyenangkan banget deh. Dan aku sudah merasa kagok. Sudah mengharapkan malam ini bakal kerja, wawancara orang, nyatet-nyatet, dan pulang dengan bahan yang bisa dipikir-pikir ulang, eh...malah berbuah kesal.
Yang belum hilang juga. Walaupun mungkin aku seharusnya sudah bisa menertawakan situasinya ya. Apa pun itu yang terjadi.
*menghela nafas*
Hiks, hiks, hiks.
*mencoba menghilangkan kesedihan dengan Julie Andrews berpura-pura menjadi lelaki yang berpura-pura menjadi perempuan. Bingung nggak?*
Posted at 12:45 am by i_artharini
Permalink
Jadi pengen nangis campur ketawa.
Sudah menulis panjang tentang kesialan malam Minggu ini, eh ternyata postingnya hilaaaang.
Dua-nol, sepertinya.
Posted at 12:43 am by i_artharini
Permalink
Friday, May 16, 2008
"Orang bilang sih kita anti sosial. Padahal emang iya."
(kata seorang vokalis band yang kita tonton Rabu kemarin)
Mungkin karena sudah terbiasa kerja malam dengan orang itu-itu saja,
yang semakin lama jadi memaklumi satu sama lain, aku jadi lupa
berbasa-basi, ikut unggah-ungguh, tata krama, dst.
Basa-basi atau mempertimbangkan orang lain atau apa pun implikasinya
berbagi ruang kerja jadi luput dari perhatian. Ya, gimana enggak,
datang kantor sudah sepi.
Ngobrol, makan, bercanda, berinteraksi ya sama orang itu-itu saja yang
lama-kelamaan jadi ketebak cerita atau 'trik-triknya'. Pagi, siang,
pretty much habis untuk istirahat gitu. Dari yang dulunya bisa memilih
jadi anti sosial, sekarang terpaksa jadi anti sosial.
Kemarin-kemarin, lupa tepatnya, sempat datang ke kantor agak 'pagi'.
Setiap kubik redaktur masih terisi. Kantor masih lumayan ramai lah.
Terus duduk dan nyalain komputer. Di sebelahnya mejaku ada 'gang' yang
memintas jalan dari kamar mandi ke ruang perpustakaan, online, dst,
dst.
Sore itu ada seorang ibu, yang sudah sejak lama aku curigai sebagai ibu
yang overzealous, lewat di samping mejaku. Di sekitar kakiku ada tas
ransel, tas Aksara Goes Green yang isinya baju ganti dan alat mandi
ditaruh agak berantakan. Hasilnya sih agak melintangi jalan deket
mejaku yang memang sudah sempit itu.
Si ibu ini, waktu lewat, bilang gini, "Maaf ya lewat sini. Jatuh nih (maksudnya ke tas) atau emang sengaja?"
Terus berlalu begitu saja itu ibu. Seperti badai. Nargis mungkin ya?
Perlu beberapa detik setelah Badai Nargis berlalu sampai aku agak
tersadar sama apa yang dikatakan. Mungkin ada sinisme sih di situ.
Sedikitlah. Tapi aku juga jadi sadar, oh iya ya, orang kan jalan-jalan
di sekitar sini. Dan aku naruh barang berantakan.
Biasanya memang pas malam hari, waktu nggak ada orang, menaruh tas
sembarangan bukan masalah. Mau ngetik sambil tiduran juga enggak
apa-apa. Tapi di sore hari, ini kan masih ruang publik.
Dan jadi teringat juga sama komentar bapak-bapak fotografer yang
sebelumnya sudah titip komentar. "Anak-anak siang tuh sudah menjadikan
kantor kayak rumah. Bawa bantallah," (etc-nya aku lupa tepatnya).
Katanya sih dari segi attitude juga, walaupun aku mempertanyakan bukti
dasarnya apa. But well, iya sih, kemarin-kemarin aku sudah memikirkan
kemungkinan (yang sangat jauh sebenarnya) untuk mengetik pake celana
piyama juga.
Gawat.
Iya ya, ini kan kantor. Bukan rumah. Jadi mungkin harus membuat batasan antara membuat nyaman dan membangun sarang.
Dan aku jadi berpikir, apa ya yang bisa dilakukan akhir pekan ini, yang
membuatku ketemu orang-orang baru gitu, dan kenalan, ngobrolin sesuatu
yang beda selain tentang joke atau cerita atau kebiasaan yang sudah
pernah aku ketahui sebelumnya.
Yang memaksaku berbasa-basi dan terlibat percakapan-percakapan segar.
Mungkin bukan topiknya yang segar, tapi reaksi yang aku terima dari
orang-orangnya. Bisa menyebalkan, bisa menyenangkan, tapi yang penting
baru gitu.
Aku nggak mau jadi anti sosial.
Posted at 05:59 am by i_artharini
Permalink
Wednesday, May 14, 2008
Tentang Lupa dan Nama Panggilan
Hari Senin kemarin aku sempat tanya kanan-kiri, pada berumur berapa sih waktu Mei 1998 terjadi?
Yang membuatku agak terusik gara-garanya, pas pulang menantang sinar
matahari di daerah Permata Hijau itu hari Senin, di radio ada mahasiswa
Trisakti yang melaporkan bahwa mereka akan turun ke jalan hari itu
untuk peringatan satu dekade Reformasi. Dengan kesadaran
yang masih setengah, dengan mata yang tertutup handuk penghalau sinar
matahari, aku iseng-iseng menghitung. Kalau mahasiswa itu rata-rata
usianya antara 18 sampai 22 atau 23, berarti 10 tahun lalu mereka
umurnya 8 sampai 12 atau 13 tahun. Apa yang bisa mereka ingat ya tentang masa itu? Getir juga sih waktu sadar, ternyata nggak banyak juga yang bisa aku ingat dari masa itu. Selain masih kelas 1 SMA sih. Aku nonton TV iya, sadar apa yang terjadi, iya. Tapi ya sudah, cuma sampai situ saja. Dan jangan-jangan banyak juga yang sudah mulai lupa. Apa ya yang bisa dilakukan untuk melawan lupa? Eh, ternyata (salah satu) jawabannya datang besoknya. Ada pemutaran perdana kompilasi film pendek seputar Mei 1998 di Kineforum. Namanya 9808.
Penuh banget pas pemutarannya, sampai ada beberapa yang harus duduk di
lantai. Repertoarnya sih lumayan menarik. Ada yang dokumenter, ada yang
film feature pendek, tapi buatku yang menarik ada dua, Sugiharti Halim
sama Sekolah Kami, Hidup Kami. Sugiharti Halim, sebuah film
feature pendek, berisi narasi seorang Sugiharti Halim yang merasa tidak
cocok dengan namanya. Nama yang diberikan orangtuanya karena kewajiban
memberi nama Indonesia untuk orang-orang etnis Tionghoa. "Karena pengen
curhat massal tentang ke-Cina-an gue," kata Ariani Darmawan,
sutradaranya. Cerdas, tajam, komedik, tapi ada sisa
getirnya. Naratornya ngomong langsung ke kamera, ke penonton. Tapi
dalam film 'disamarkan' seakan ia sedang berbicara dengan teman-teman
kencan yang lebih memilih membenamkan diri dalam makanan daripada
mendengarkan ocehannya. Ujungnya sih, yang aku tangkap, Sugiharti berproses menuju penerimaan tentang namanya itu. Tapi ada satu bagian yang terasa familiar.
Pernah nggak ketemu orang, terus kenalan, dan kamu menyebut namamu.
Terus pertanyaan selanjutnya adalah, "Panggilannya siapa?" Dalam hati aku selalu menjawab, bukannya tadi aku sudah menyebut namaku? Tapi yang keluar, "Isyana aja." "Kok panjang banget sih? Nggak ada pendeknya?"
(Dalam hati: Nggak sepanjang itu kok. Cuma tiga suku kata. Aku nggak
menyebut Robert Allen Zimmerman kan? Atau Rumpelstiltskin? Tiga suku
kata nggak panjang lah. Oke, iya, ada nama panggilan lain yang lebih
pendek. Tapi kita kan baru kenal. Kamu tidak datang dari masa laluku,
so please, tetap Isyana.)
(Tapi ya kalau terlanjur tahu, ya sudahlah.) Kadang yang masih keukeuh mencoba-coba, "Is? Yana? Nana?" "Enggak, Isyana aja." Karena, antara Is atau Yana atau Nana, walaupun penggalan dari nama 'panjangku' bukanlah aku. Dan ini lumayan sering kejadian waktu jaman-jamannya aku masih sering ketemu orang-orang baru waktu liputan. Nah, di Sugiharti Halim, momen itu ada juga. Ditanya panggilannya siapa. Harti? Ada yang juga sering mengalami hal sama?
Terus ada kutipan bagus sih dari Sugiharti, tentang betapa tidak masuk
akalnya mencoba memenggal nama gitu, tapi aku lupa tepatnya apa kutipan
itu. Film kedua yang aku favoritin sih diputar di bagian akhir.
Sekolah Kami, Hidup Kami itu bercerita tentang anak-anak SMA 3
Surakarta yang berusaha membongkar penyelewengan penggunaan dana di
sekolahnya. Pelakunya? Kepala Sekolah dan guru-guru lainnya.
Tapi mereka itu beneran deh. Hebat banget. Anak-anak yang di tim Save
Our School itu, maksudnya (Beneran deh nama tim investigasinya itu).
Mereka kerja dibagi dalam tim informan, bukti, publikasi, dan media
massa (Gila, sadar pengaruh media juga mereka). Mengharukan dan membuat semangat di saat bersamaan.
Agak absurd tapi juga salut melihat cara mereka meminta klarifikasi dan
berdebat dengan guru-guru mereka. Di satu sisi mereka 'mengadili'. Di
sisi lain, mereka tidak lupa dengan tata krama. Para guru yang asalnya
berdiri kikuk di panggung, lalu disediakan kursi. Di tengah
gugatan dan semangat mereka pun, mereka tetap remaja. Yang punya
handphone berkamera dan sibuk mengabadikan momen itu. Antusiasme mereka sih, sejauh yang tertangkap kamera ya, tulus. Nggak tahu lagi waktu kameranya mati. Tapi ini tentang semangat aktivisme yang semakin memuda, yang membuat optimis, yang memberi harapan.
Oh ya, salah satu cacatku adalah tak bisa memisahkan emosi ketika
menulis. Jadi, don't take it from me, ini hanya sebuah opini.
Posted at 04:24 am by i_artharini
Permalink
Tuesday, May 13, 2008
"Ah, gara-gara... nggak tau deh. Gue lagi jadi cewek-cewek yang..."
"Elu nelpon ya?"
"Iya. Dan nggak diangkat."
Ah ya, it takes one to know one. Kekangenan melanda akhir pekan ternyata.
Gara-gara kangen, akhir pekan kemarin aku juga sudah bolak-balik mengeluarkan hape.
Namanya sudah dicari. Sudah ditemukan pula. Tinggal dipencet tombol hijaunya. Eh, tiba-tiba si Rani muncul.
Tapi pas lagi lihat-lihat Forever 21, dia ngabur ke kamar mandi.
Artinya ada kesempatan lagi dong untuk nelpon. Hape pun keluar lagi. Lagi-lagi tinggal dipencet tombol hijaunya.
Batal karena pertanyaan: Nanti mau ngomong apa ya?
Speed Racer?
Halah, basi banget.
Belum sampai memutuskan, Rani lagi-lagi sudah muncul. Terus ke supermarket deh.
Eh, ternyata di situ ada obral DVD. Iseng-iseng nyari, jangan-jangan
ada 'Waking Life' (duh, ternyata masih belum lepas dari kekangenan
juga).
Ternyata malah nemu To Have and Have Not, Victor Victoria, Gaslight,
sama Mutiny on the Bounty yang versi Clark Gable. Dari 134 ribu jadi 40
ribu. Plus satu film Perancis, A Man and a Woman.
Tiba-tiba, semua jadi kembali baik-baik saja. Pengalihannya adalah Bogart dan Bacall.
(Timingnya pas banget nggak sih? Baru aja pas Jumat paginya ngomongin
tentang Bogart, eh udah nemu film yang mempertemukan mereka. Dengan
harga diskon pula. Mungkin ini yang dibilang Photographer of the Year:
Tenang aja, Tuhan tidak pernah tidur. Hehehe)
(Hidup yang kosong nggak sih sebenarnya? Mensubstitusi emosi dengan sebuah produk gitu.)
-----
Aku membaca di suatu tempat, tapi lupa di mana. Tentang kangen yang lebih baik diendapkan saja.
Terus pemandu spiritual yang lebih baik tak disebutkan namanya itu juga
menyatakan persetujuannya banget-banget. "Kekangenan itu harus diatasi
sendiri. Ketika elu berhasil mengatasinya, itu juga sebuah bentuk
pencapaian emosional. Jadi nggak harus ditumpahkan setiap waktu."
Dashyat juga.
Sekadar tambahan, gara-gara To Have and Have Not yang penuh dengan
adegan menyalakan rokok, minta korek, minta dinyalakan rokoknya, dst,
kredit rokokku tahun ini menipis dengan cepat.
Terlalu cepat malah.
Dari yang cuma 10 per tahun, kok kayaknya sekarang sudah nggak bersisa ya jatahnya?
Anyway.
Aku berusaha untuk tidak tertegun dengan usia Bacall di film itu (19, btw), tapi tetap nggak bisa.
Dia terlihat begitu...tenang dan mantap untuk usia semuda itu.
Benar-benar kaya orang yang sudah melihat semuanya dan nggak takut
apa-apa lagi. But yet, she's so young.
Ah, well.
Posted at 05:18 am by i_artharini
Permalink
|
|
|