PENARI MUNGIL


(Saya bukan seorang penari. Pun sangat jauh dari mungil. Tapi, tahu kan adegan 'Tiny Dancer' di 'Almost Famous'? Sensasi membahagiakan dari adegan itulah yang saya kejar..)



Hold me closer, tiny dancer

Count the headlights on the highway

Lay me down in sheets of linen

You had a busy day, today


("Tiny Dancer" - Elton John)





"...the quest for transcendence has always been closely linked to the ecstatic release of dancing."
(Resensi RollingStone atas sebuah album pop)

Mr. Darcy: "So what do you recommend, to encourage affection?"
Elizabeth Bennet: "Dancing, even if one's partner is only tolerable."
(Pride & Prejudice, 2005)


perempuan, 1983, lovesick soul, berjalan kaki, belajar menulis, menonton film, ingin keliling dunia, Billie Holliday, Jane Austen, 'Franny and Zooey', cerita pendek F Scott Fitzgerald, lagu-lagu sedih, kecanduan membeli buku second, deretan buku di lemari, berkeliling dengan bis kota, mengepak koper, menari bebas, Vogue, sepatu, bad boys, kopi, kuliner, foto, semua yang vintage, genggaman tangan, pelukan hangat, detil percakapan antara manusia, kegelisahan, kesepian, ruang pencarian, belajar dewasa, museum dan bangunan tua, hari hujan, sinar matahari hangat di hari berangin, airport, stasiun kereta, dan pertanyaan tanpa akhir

YM: isyana_artharini
Email: i.artharini@gmail.com
   

<< May 2008 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03
04 05 06 07 08 09 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Sunday, May 18, 2008
Satu-Nol

(Ini usaha kedua. Aku mencoba mengingat-ingat apa yang tadi sudah ditulis. Padahal tinggal dikasih judul lho *menghela nafas*)

(Dan, oh, mungkin, sebelum ada yang membaca, perlu dikasih peringatan: "Whining Alert!" Peringatan: Ini posting tentang keluhan)

Jadi, kemarin Jumat, pas nganterin Rani ke bandara, Ma bilang, "Eh, besok kamu ikut kondangan ya."

Aku, dengan ceria dan lega, banget, bilang, "Oh enggak bisa. Aku ada liputan."

Yang membuatku ceria sih karena format acara liputannya (kalau lihat dari undangan) cukup menarik. Aku sudah membayangkan tulisannya bisa jadi hal yang menarik, bahasannya punya potensi untuk jadi asyik. 'Lucu' lah. Dan aku membayangkan ini bisa jadi variasi akhir mingguku, bisa buat cerita-cerita baru, dst, dst.

Nama acaranya? Temu Blogger Buku.

Pertama tahunya sih dari email yang dikirim teman tentang Festival Mei dan dari sekumpulan acaranya, ini kayaknya yang paling menarik. Jadi, sudah sejak 8 hari lalu aku mengingat-ingat acara ini.

Tapi kemarinnya bapak ini juga menanyakan, "Sudah tau belum, dst, dst.." Dan aku bilang sudah.   

Anyway, datanglah Sabtu dan aku siap-siap berangkat.

Kebiasaan burukku memang suka datang mepet, kadang malah terlalu mepet. Tapi merasa tenang karena, ah ya, nanti bisa naik ojek dari Kampung Melayu.

Kesialan pertama, abang ojek memutuskan untuk belok di perempatan Senen. Pas di Tugu Tani ke arah Gambir, eh macet total. Benar-benar tidak bergerak. 

Bus, mobil, delman, motor, bajaj, mikrolet, semuanya benar-benar berhenti. Orang-orang pada turun dan jalan di trotoar. Saking nggak bergeraknya, langit sampai pekat warnanya gara-gara kumpulan asap. Aku naik turun ojek biar abangnya bisa pindah-pindah lajur dan lompat separator busway.

Akhirnya, kita lepas dari jebakan dan sampailah di Veteran.

Lho, tapi kok sepi ya?

Dari dua pintu yang bisa langsung dibuka dan langsung menghadap tangga naik (seperti rumah-rumah di Albertcuyp? Albertkuijp? itu lhooo), aku memilih yang kiri.

Pas naik, kok sepi banget ya. Benar-benar sepi.

Dan sampai di atas, kosong banget gitu.

Ada kursi, dan sofa, dan bar, dan lampu yang redup, tapi ya kosong. Dalam situasi-situasi lain, itu tempat benar-benar keren, tapi aku langsung dilanda kecemasan dengan sepinya ruangan itu.

Muncullah seorang mas-mas dari pintu di kanannya mulut tangga.

Dia kelihatan kaget ngelihat aku. Lebih kaget dari aku yang kaget melihat ruangan kosong.

"Mas, ini acaranya..."

"Sudah selesai, mbak."

"Mulai jam berapa sih? Bukannya jam lima?"

"Enggak, tadi pagi, jam 11."

Anjrit. Bodoh, bodoh, bodoh.

"Masa sih? Saya lihat di blognya kok jam lima?"

"Enggak, mbak. Jam 11 kok."

Oke, di titik ini, aku membayangkan suaranya Rani di kepalaku yang bilang: Clumsiness is in our blood. Stupidity, it's all yours. Masa sih aku segitu bodohnya mencatat jam yang salah? Apa karena sudah kelamaan juga. Tapi kemarin aku cek lagi di situsnya juga masih jam lima kok.

Apa mungkin maksudnya tanggal 17 dan aku mencatat jadi jam 17.00 gitu ya?

"Mbak lihat di kompas.com?"

"Bukan. Di blog yang bataviase.wordpress.com itu, terus ke bagian bukunya. Katanya jam lima."

"Enggak, mbak. Udah tadi pagi jam 11. Ada acara lagi sih baru tanggal 31."

Ini, aku yakin, enggak benar. Karena di blog yang sama ada jadwal-jadwal lain sebelum itu walaupun bukan di lokasi yang sama.

"Oh ya udah deh, mas. Makasih ya."

"Iya, mbak. Maaf ya."

Bukan salahnya sih.

Aku jadi berasa kayak Kay Adams waktu pertama kali dengar tentang "offer he can't refuse"-nya Don Vito ke pemimpin bandnya Johnny Fontaine deh.

Well, enggak segitunya sih.

Oke, emosi yang benar-benar berbeda malah. Aku cuma lagi pengen menyebut perbandingan itu saja.

Aku terus langsung ke luar dan ke Ragusa--yang ternyata rasanya cuma biasa aja. Nggak membawa nostalgia es krim dari masa lalu gitu.

Sambil lihat kanan, kiri, depan--ada pasangan yang lagi berbagi es krim Spaghetti. Italian ice cream parlor, berbagi es krim, uggh, too cute. Ini kan bukan Roman Holiday--aku jadi mikir, apa yang terjadi, apa yang terjadi? Kenapa aku bisa sebodoh itu?

Akhirnya telpon lah sama bapak ini, ngecek. "Halo. Sorry, lagi sibuk nggak. Datang nggak tadi. Aku abis melakukan kesalahan bodoh nih. Ternyata ... Aku jadi menghabiskan akhir pekan dengan mikir, besok Senin nulis apa ya. Oh ya udah. Tengkyu ya. Dadaah."

(Formatnya memang sebagian besar monolog sih)

Akhirnya, karena masih nggak habis pikir dan masih kesal, jalanlah aku. Tapi terus memutuskan naik busway ke Harmoni dan mampir di Plaza Indonesia.

Pas muter-muter di Aksara, sudah sempat telpon Ccr. Untung nggak diangkat, karena kayaknya satu orang yang diceritai saja sudah cukup (kalau menulis di sini kan pilihan ya yang mau membaca atau tidak).

Sambil duduk di Secret Recipe, terus aku iseng membuka blog yang memuat jadwal acaranya. Memastikan, apa aku salah catat. Ternyata, ENGGAK.

Ffiuh. Agak lega.

Dari tiga tahun pengalaman jadi wartawan, walaupun tidak militan, tapi setidaknya aku bisa membanggakan fakta bahwa aku pencatat yang lumayan baik. Penanya yang baik mungkin nanti dulu, tapi kalau mencatat, kayaknya aku cukup hati-hati deh.

Tapi dari situ aku jadi merasa seperti ada yang meng-satu-nol-kan aku, tapi aku enggak tahu siapa.

Pas perjalanan pulang pun aku sudah merasa lega dan membanggakan fakta, "Gimana bisa elu meragukan diri sendiri sebagai seorang pencatat, Nari?"

Sampai di rumah, ibuku nanya, "Gimana tadi acaranya?"

Dan aku cerita ulanglah dari awal sampai 'satu-nol' itu. Dia menambahkan, "Iya. Kayak ada orang yang ngomong, 'Kena, lo', tapi nggak tahu siapa."

Aku terus memastikan lagi dengan browsing di komputer rumah. Benar kan ya, tadi yang aku baca tulisannya jam 17.00. Siapa tahu kalau di layar komputer jadi lebih jelas. Mungkin di layar communicator 1 dan 7 nggak jauh beda, tapi di layar komputer kan kelihatan bedanya.

Dan, seperti sudah bisa diduga, masih tetap jam 17.00 tulisannya.

Tapi, pas aku ketik "temu blogger buku" di Google, blog-blog lain pada nyebut jam 11.00-14.00.

Di sini aku kembali kesal.

Kenapa nggak cari sumber lain?
Cek dan ricek?
Infotainmen aja tahu.  
Kenapa, kenapa, KENAPA?

Ini bukan sekadar mengeluh tentang 'bonusnya' ya, tapi acara itu kayaknya menyenangkan banget deh. Dan aku sudah merasa kagok. Sudah mengharapkan malam ini bakal kerja, wawancara orang, nyatet-nyatet, dan pulang dengan bahan yang bisa dipikir-pikir ulang, eh...malah berbuah kesal.

Yang belum hilang juga. Walaupun mungkin aku seharusnya sudah bisa menertawakan situasinya ya. Apa pun itu yang terjadi.

*menghela nafas*

Hiks, hiks, hiks.

*mencoba menghilangkan kesedihan dengan Julie Andrews berpura-pura menjadi lelaki yang berpura-pura menjadi perempuan. Bingung nggak?*    


Posted at 12:45 am by i_artharini
Make a comment  

Dua-Nol

Jadi pengen nangis campur ketawa.

Sudah menulis panjang tentang kesialan malam Minggu ini, eh ternyata postingnya hilaaaang.

Dua-nol, sepertinya.


Posted at 12:43 am by i_artharini
Make a comment  

Friday, May 16, 2008
Anti Sosial

"Orang bilang sih kita anti sosial. Padahal emang iya."

(kata seorang vokalis band yang kita tonton Rabu kemarin)

Mungkin karena sudah terbiasa kerja malam dengan orang itu-itu saja, yang semakin lama jadi memaklumi satu sama lain, aku jadi lupa berbasa-basi, ikut unggah-ungguh, tata krama, dst.

Basa-basi atau mempertimbangkan orang lain atau apa pun implikasinya berbagi ruang kerja jadi luput dari perhatian.  Ya, gimana enggak, datang kantor sudah sepi.

Ngobrol, makan, bercanda, berinteraksi ya sama orang itu-itu saja yang lama-kelamaan jadi ketebak cerita atau 'trik-triknya'. Pagi, siang, pretty much habis untuk istirahat gitu. Dari yang dulunya bisa memilih jadi anti sosial, sekarang terpaksa jadi anti sosial.

Kemarin-kemarin, lupa tepatnya, sempat datang ke kantor agak 'pagi'. Setiap kubik redaktur masih terisi. Kantor masih lumayan ramai lah.

Terus duduk dan nyalain komputer. Di sebelahnya mejaku ada 'gang' yang memintas jalan dari kamar mandi ke ruang perpustakaan, online, dst, dst.

Sore itu ada seorang ibu, yang sudah sejak lama aku curigai sebagai ibu yang overzealous, lewat di samping mejaku. Di sekitar kakiku ada tas ransel, tas Aksara Goes Green yang isinya baju ganti dan alat mandi ditaruh agak berantakan. Hasilnya sih agak melintangi jalan deket mejaku yang memang sudah sempit itu.

Si ibu ini, waktu lewat, bilang gini, "Maaf ya lewat sini. Jatuh nih (maksudnya ke tas) atau emang sengaja?"

Terus berlalu begitu saja itu ibu. Seperti badai. Nargis mungkin ya?

Perlu beberapa detik setelah Badai Nargis berlalu sampai aku agak tersadar sama apa yang dikatakan. Mungkin ada sinisme sih di situ. Sedikitlah. Tapi aku juga jadi sadar, oh iya ya, orang kan jalan-jalan di sekitar sini. Dan aku naruh barang berantakan.

Biasanya memang pas malam hari, waktu nggak ada orang, menaruh tas sembarangan bukan masalah. Mau ngetik sambil tiduran juga enggak apa-apa. Tapi di sore hari, ini kan masih ruang publik.

Dan jadi teringat juga sama komentar bapak-bapak fotografer yang sebelumnya sudah titip komentar. "Anak-anak siang tuh sudah menjadikan kantor kayak rumah. Bawa bantallah," (etc-nya aku lupa tepatnya). Katanya sih dari segi attitude juga, walaupun aku mempertanyakan bukti dasarnya apa. But well, iya sih, kemarin-kemarin aku sudah memikirkan kemungkinan (yang sangat jauh sebenarnya) untuk mengetik pake celana piyama juga.

Gawat.

Iya ya, ini kan kantor. Bukan rumah. Jadi mungkin harus membuat batasan antara membuat nyaman dan membangun sarang.

Dan aku jadi berpikir, apa ya yang bisa dilakukan akhir pekan ini, yang membuatku ketemu orang-orang baru gitu, dan kenalan, ngobrolin sesuatu yang beda selain tentang joke atau cerita atau kebiasaan yang sudah pernah aku ketahui sebelumnya.

Yang memaksaku berbasa-basi dan terlibat percakapan-percakapan segar. Mungkin bukan topiknya yang segar, tapi reaksi yang aku terima dari orang-orangnya. Bisa menyebalkan, bisa menyenangkan, tapi yang penting baru gitu. 

Aku nggak mau jadi anti sosial.

Posted at 05:59 am by i_artharini
Comment (1)  

Wednesday, May 14, 2008
Tentang Lupa dan Nama Panggilan

Hari Senin kemarin aku sempat tanya kanan-kiri, pada berumur berapa sih waktu Mei 1998 terjadi?

Yang membuatku agak terusik gara-garanya, pas pulang menantang sinar matahari di daerah Permata Hijau itu hari Senin, di radio ada mahasiswa Trisakti yang melaporkan bahwa mereka akan turun ke jalan hari itu untuk peringatan satu dekade Reformasi.

Dengan kesadaran yang masih setengah, dengan mata yang tertutup handuk penghalau sinar matahari, aku iseng-iseng menghitung. Kalau mahasiswa itu rata-rata usianya antara 18 sampai 22 atau 23, berarti 10 tahun lalu mereka umurnya 8 sampai 12 atau 13 tahun.

Apa yang bisa mereka ingat ya tentang masa itu?

Getir juga sih waktu sadar, ternyata nggak banyak juga yang bisa aku ingat dari masa itu. Selain masih kelas 1 SMA sih.

Aku nonton TV iya, sadar apa yang terjadi, iya. Tapi ya sudah, cuma sampai situ saja.

Dan jangan-jangan banyak juga yang sudah mulai lupa. Apa ya yang bisa dilakukan untuk melawan lupa?

Eh, ternyata (salah satu) jawabannya datang besoknya.

Ada pemutaran perdana kompilasi film pendek seputar Mei 1998 di Kineforum. Namanya 9808.

Penuh banget pas pemutarannya, sampai ada beberapa yang harus duduk di lantai. Repertoarnya sih lumayan menarik. Ada yang dokumenter, ada yang film feature pendek, tapi buatku yang menarik ada dua, Sugiharti Halim sama Sekolah Kami, Hidup Kami.

Sugiharti Halim, sebuah film feature pendek, berisi narasi seorang Sugiharti Halim yang merasa tidak cocok dengan namanya. Nama yang diberikan orangtuanya karena kewajiban memberi nama Indonesia untuk orang-orang etnis Tionghoa. "Karena pengen curhat massal tentang ke-Cina-an gue," kata Ariani Darmawan, sutradaranya.

Cerdas, tajam, komedik, tapi ada sisa getirnya. Naratornya ngomong langsung ke kamera, ke penonton. Tapi dalam film 'disamarkan' seakan ia sedang berbicara dengan teman-teman kencan yang lebih memilih membenamkan diri dalam makanan daripada mendengarkan ocehannya.

Ujungnya sih, yang aku tangkap, Sugiharti berproses menuju penerimaan tentang namanya itu.

Tapi ada satu bagian yang terasa familiar.

Pernah nggak ketemu orang, terus kenalan, dan kamu menyebut namamu. Terus pertanyaan selanjutnya adalah, "Panggilannya siapa?"

Dalam hati aku selalu menjawab, bukannya tadi aku sudah menyebut namaku?

Tapi yang keluar, "Isyana aja."

"Kok panjang banget sih? Nggak ada pendeknya?"

(Dalam hati: Nggak sepanjang itu kok. Cuma tiga suku kata. Aku nggak menyebut Robert Allen Zimmerman kan? Atau Rumpelstiltskin? Tiga suku kata nggak panjang lah. Oke, iya, ada nama panggilan lain yang lebih pendek. Tapi kita kan baru kenal. Kamu tidak datang dari masa laluku, so please, tetap Isyana.)

(Tapi ya kalau terlanjur tahu, ya sudahlah.)

Kadang yang masih keukeuh mencoba-coba, "Is? Yana? Nana?"

"Enggak, Isyana aja."

Karena, antara Is atau Yana atau Nana, walaupun penggalan dari nama 'panjangku' bukanlah aku.

Dan ini lumayan sering kejadian waktu jaman-jamannya aku masih sering ketemu orang-orang baru waktu liputan.

Nah, di Sugiharti Halim, momen itu ada juga. Ditanya panggilannya siapa. Harti?

Ada yang juga sering mengalami hal sama?

Terus ada kutipan bagus sih dari Sugiharti, tentang betapa tidak masuk akalnya mencoba memenggal nama gitu, tapi aku lupa tepatnya apa kutipan itu.

Film kedua yang aku favoritin sih diputar di bagian akhir.

Sekolah Kami, Hidup Kami itu bercerita tentang anak-anak SMA 3 Surakarta yang berusaha membongkar penyelewengan penggunaan dana di sekolahnya. Pelakunya? Kepala Sekolah dan guru-guru lainnya.

Tapi mereka itu beneran deh. Hebat banget. Anak-anak yang di tim Save Our School itu, maksudnya (Beneran deh nama tim investigasinya itu). Mereka kerja dibagi dalam tim informan, bukti, publikasi, dan media massa (Gila, sadar pengaruh media juga mereka).

Mengharukan dan membuat semangat di saat bersamaan.

Agak absurd tapi juga salut melihat cara mereka meminta klarifikasi dan berdebat dengan guru-guru mereka. Di satu sisi mereka 'mengadili'. Di sisi lain, mereka tidak lupa dengan tata krama. Para guru yang asalnya berdiri kikuk di panggung, lalu disediakan kursi.

Di tengah gugatan dan semangat mereka pun, mereka tetap remaja. Yang punya handphone berkamera dan sibuk mengabadikan momen itu.

Antusiasme mereka sih, sejauh yang tertangkap kamera ya, tulus. Nggak tahu lagi waktu kameranya mati.

Tapi ini tentang semangat aktivisme yang semakin memuda, yang membuat optimis, yang memberi harapan.

Oh ya, salah satu cacatku adalah tak bisa memisahkan emosi ketika menulis. Jadi, don't take it from me, ini hanya sebuah opini.

Posted at 04:24 am by i_artharini
Comment (1)  

Tuesday, May 13, 2008
Kangen

"Ah, gara-gara... nggak tau deh. Gue lagi jadi cewek-cewek yang..."
"Elu nelpon ya?"
"Iya. Dan nggak diangkat."

Ah ya, it takes one to know one. Kekangenan melanda akhir pekan ternyata.

Gara-gara kangen, akhir pekan kemarin aku juga sudah bolak-balik mengeluarkan hape.

Namanya sudah dicari. Sudah ditemukan pula. Tinggal dipencet tombol hijaunya. Eh, tiba-tiba si Rani muncul.

Tapi pas lagi lihat-lihat Forever 21, dia ngabur ke kamar mandi.

Artinya ada kesempatan lagi dong untuk nelpon. Hape pun keluar lagi. Lagi-lagi tinggal dipencet tombol hijaunya.

Batal karena pertanyaan: Nanti mau ngomong apa ya?
Speed Racer?
Halah, basi banget.

Belum sampai memutuskan, Rani lagi-lagi sudah muncul. Terus ke supermarket deh.
Eh, ternyata di situ ada obral DVD. Iseng-iseng nyari, jangan-jangan ada 'Waking Life' (duh, ternyata masih belum lepas dari kekangenan juga).

Ternyata malah nemu To Have and Have Not, Victor Victoria, Gaslight, sama Mutiny on the Bounty yang versi Clark Gable. Dari 134 ribu jadi 40 ribu. Plus satu film Perancis, A Man and a Woman.

Tiba-tiba, semua jadi kembali baik-baik saja. Pengalihannya adalah Bogart dan Bacall.

(Timingnya pas banget nggak sih? Baru aja pas Jumat paginya ngomongin tentang Bogart, eh udah nemu film yang mempertemukan mereka. Dengan harga diskon pula. Mungkin ini yang dibilang Photographer of the Year: Tenang aja, Tuhan tidak pernah tidur. Hehehe)

(Hidup yang kosong nggak sih sebenarnya? Mensubstitusi emosi dengan sebuah produk gitu.)

-----
Aku membaca di suatu tempat, tapi lupa di mana. Tentang kangen yang lebih baik diendapkan saja.

Terus pemandu spiritual yang lebih baik tak disebutkan namanya itu juga menyatakan persetujuannya banget-banget. "Kekangenan itu harus diatasi sendiri. Ketika elu berhasil mengatasinya, itu juga sebuah bentuk pencapaian emosional. Jadi nggak harus ditumpahkan setiap waktu."

Dashyat juga.  

Sekadar tambahan, gara-gara To Have and Have Not yang penuh dengan adegan menyalakan rokok, minta korek, minta dinyalakan rokoknya, dst, kredit rokokku tahun ini menipis dengan cepat.

Terlalu cepat malah.

Dari yang cuma 10 per tahun, kok kayaknya sekarang sudah nggak bersisa ya jatahnya?

Anyway.

Aku berusaha untuk tidak tertegun dengan usia Bacall di film itu (19, btw), tapi tetap nggak bisa.

Dia terlihat begitu...tenang dan mantap untuk usia semuda itu. Benar-benar kaya orang yang sudah melihat semuanya dan nggak takut apa-apa lagi.  But yet, she's so young.

Ah, well.

Posted at 05:18 am by i_artharini
Make a comment  

Turun

Ma: "Ada berita apa ya hari ini?"
Me: "Peringatan 10 tahun reformasi kali."
Ma: "Oh iya. Kamu tadi ada sms masuk, bukan tentang disuruh ngeliput kan?"
Me: "Ya enggaklah. Kan ada koran pagi. Koranku kan koran santai."
Ma: "Koran santai kok mbuatnya sampai nggak tidur."
Me: "..."

Seperti orang naik rollercoaster kali ya. Terlalu sering atau terlalu lama, sudah nggak asyik lagi. Tapi malah mual.

Jadi, kita pada sudah boleh turun belum nih?

Posted at 05:05 am by i_artharini
Make a comment  

The Other Miss Hepburn*

(*) aku pernah nulis judul itu nggak sih?

Lagi membuka-buka imdb.com, ingin mencari tahu tentang Riding Alone for Thousand of Miles yang baru ditonton tadi pagi (dan membuat nggak bisa tidur), ternyata di bagian birthday ada fotonya Katharine Hepburn.

12 Mei ini dia berulang tahun ke-101.

Inilah dia, yang kanan ya, dalam salah satu adegan "The Philadelphia Story" (salah satu film favoritku) bersama Cary Grant (lihat belahan dagunya. Penasaran nggak, gimana dia bercukur di bagian itu? Hehehe)

Hmm, bisa buat tulisan dua Eskapisme nih.


(kredit foto: dari sini)

Thanks to Miss Hepburn yang mengajarkan untuk keukeuh dengan apa yang diinginkannya. Termasuk ketika menjalankan hubungan.

Spencer Tracy mungkin memang aktor terhebat di generasinya, tapi dia juga pria Katolik yang tidak bisa menceraikan istrinya. Maka, katanya, "My wife and Kate likes things the way they are."

Funny ha ha.

(You do know I'm being ironic right?)

Posted at 01:43 am by i_artharini
Make a comment  

Revisit

Gara-gara blog entry ini tentang menjadi renta (dan beberapa referensi karakter renta lewat film dan buku), aku jadi ingin menonton ulang beberapa film yang disebut si penulisnya.

Karena kesimpulan yang aku dapat setelah menonton film-film itu (dan tentang si karakter) kok jatuhnya jadi konyol ya?

Pertama, Walter Kurtz di Apocalypse Now.

Apa karena waktu itu aku nonton yang versi Redux ya, versi Director's Cut. Jadinya ada sekitar 30 sampai 40 menitan ekstra dari versi studio yang beredar luas.

Pas karakter Walter Kurtz itu akhirnya muncul, semua yang dibangun oleh Coppola untuk jadi sebuah grand finale, hasilnya aku malah nggak ingat apa-apa. Pengungkapan besar yang mungkin diniatkan bisa membuat penonton merinding pun (lengkap dengan soundtrack-soundtrack The Doors), aku juga lupa.

I'm still too stupid to know anything about Brando, anyway.

Tapi aku juga nggak ingat akhir ceritanya itu jadi seperti apa. Yang aku ingat dari bagian terakhirnya itu...apa ya? Pokoknya kita udah pada resah gitu deh. Guling-guling, tiduran, duduk, pindah tempat berapa kali, bolak-balik ke kamar mandi, garuk-garuk, eh filmnya belum selesai juga.

Dari yang helaan nafas tidak sabar sampai akhirnya keluhan vokal, "Kok nggak selesai-selesai seeehhh?"

Director's Cut? Kadang memang bukan keputusan yang bijak.

(Note: Ini nonton di tempat teman. Pada sebuah masa yang membuat kita memilih bermalas-malasan dan berlindung dari sinar matahari dengan menonton film di ruangan gelap karena gordennya ditutup semua)

Terus Godfather.

Ingetnya sih nonton ini di Filmmuseum. Apa di masa yang sama, musim yang sama, atau tahun yang sama, aku agak lupa. Pastinya itu musim panas.

Cuacanya lagi cerah banget. Taman lagi penuh sama orang-orang berjemur. Dan aku memilih berdingin-dingin di ruangan untuk nonton Godfather.

Zaalnya bagus banget. Kayak ruang opera mini gitu. Ada piano juga di  pojok ruangan. Tempat duduknya tapi agak keras. Bentuknya kursi lipat, pelapisnya merah beludru atau sekedar kursi kayu ya? Aku nggak ingat lagi tepatnya.

Penontonnya, selain aku, ada tiga lelaki sekitar usia akhir 20an gitu. Yang mereka sibuk banget mengomentari betapa kerennya setiap pergantian adegan yang terjadi. Dari pembicaraan, intonasi nada dan seruan penuh kekaguman mereka, Coppola jadi seperti nggak ada bedanya sama tuhan gitu.

Anyway, filmnya, cuma sekedar oke buatku.

Bagus sih, tapi tidak menggetarkan.

Sekali lagi, buatku.

Greatest film ever made, bisa saja. Jika penilaian itu statis pada satu masa, aku rasa.

Oke, tapi waktu itu aku merasa sedikit berdosa juga waktu menyadari pikiranku yang bisa sampai pada kesimpulan bahwa Godfather tidak seistimewa itu.

Tapi terus aku langsung menyalahkan jaman. Waktu itu, pikiranku, menjadi orang yang besar di abad 21 itu orang yang terlalu rumit. Yang terlalu cerewet dengan keinginannya. Tak bisa lagi dibuat kaget dengan suatu karya seperti 'Godfather'.

Atau mungkin itu cuma aku?

Dan, nggak ada salahnya juga kan ya kalau aku nggak kaget?

Anyway. Salah satu faktor yang membuatku merasa terganggu saat menonton Godfather adalah cara bicara Marlon Brando sebagai Don Vito Corleone.

Setiap kali dia muncul di layar, aku jadi geli banget.

Mungkin karena aku lebih dulu tahu Dr Evil dan segala bentuk parodi konyol akan akting Marlon Brando itu daripada versi aslinya. Dan ketika melihat versi aslinya, yang keingat cuma versi-versi konyolnya saja.

Di sini juga aku kembali menyalahkan jaman. Jaman yang membuat parodi jadi sebuah bentuk orisinalitas.

(Tapi, btw, memang parodi bukan sebuah bentuk orisinalitas ya?)

Jaman yang membuatku lebih dulu mengenal versi plesetan kontemporernya daripada karya 'asli' pendahulunya.
 
Mungkin juga, lagi-lagi, karena aku masih terlalu bodoh untuk mengetahui sesuatu tentang Brando kala itu.

Menziarahi itu mungkin memang perlu ya.

Btw, aku malah lebih kaget dengan Diane Keaton di situ. Ternyata dia bisa main drama. Ini pra atau pasca Annie Hall ya, btw? Karena ternyata dia bisa jadi karakter selain Annie Hall gitu.

(I think she owes her entire career to Annie Hall deh. Bahkan setelah Keaton tua pun, dia masih jadi versi tuanya Annie Hall. Aku nggak melihat perbedaan signifikan dari karakternya di Something's Gotta Give dan Because I Said So sama Annie Hall, kecuali perbedaan usia atau profesi atau situasi dalam hidup ya. Esensinya, dia tetap Annie Hall, menurutku).

Scent of a Woman, ah ya, adegan tango di restoran itu bisa membuatku lupa bernafas.

Tunggu. Ini kan seharusnya cuma jadi entry pendek aja. Ugh.

Posted at 12:35 am by i_artharini
Make a comment  

Friday, May 09, 2008
Irshad Manji

Ini kejadian sudah hampir seminggu lalu.

Minggu malam kemarin, pas aku menyerahkan tulisan ke redaktur bertahi lalat di bibir, dia nyeletuk, "Kok kita nggak dapat undangan yang Irshad Manji ini sih?"

Di pangkuannya ada lipatan Kompas edisi Minggu (4/5), tepat di halaman yang memuat tulisan tentang nama yang ditanyakannya tadi itu.

Ah, ya. Aku juga sudah membaca tulisan itu, aku bilang.

Minggu pagi aku pikir sudah sangat indah pas membaca "Yogya dari Atas Sadel Sepeda" itu (linknya nggak nemu nih). Eh tahunya, tulisan dashyat Mini Tolstoy itu masih bisa kena gerhana dari tulisan Kanjeng Ratu Palmerah (KRP).

Bukan tulisannya KRP sih ya, tapi tepatnya sosok yang ditulisnya.

Aku sebenarnya juga agak kaget pas mbaca artikel itu. Hah, Irshad Manji ke Jakarta? Kapan?

Terus aku merasionalisasi kekagetan itu dengan membayangkan suara Ccr dengan kebijakan 'tanpa-idola'-nya di kepalaku yang bilang, "Emang siapa sih dia? Biasa aja kan?"

Tapi tetap saja. Bohong banget kalau naluriku tidak tersodok-sodok dengan kecolongan sebesar ini.

Aku nggak 'mengenal' dia sebaik itu sih. Cuma aku baru kepikiran namanya beberapa minggu sebelumnya. Terus bertanya-tanya, apa yang terjadi padanya ya? Eh ternyata dia sempat mampir ke Jakarta.

Pas kuliah, aku ingat pernah membaca artikel di Newsweek tentang dia. Waktu itu sih diceritain tentang pesan ijtihad yang dia angkat. Masih tetap sama sampai sekarang.

Mungkin 'pesan' yang paling aku ingat dari sosoknya adalah dia menunjukkan bahwa orientasi seksual itu nggak menghambat berkeyakinan gitu?

Kayaknya dia termasuk bagian dari rangkaian proses 'penyadaran' tentang betapa keyakinan itu kompleks. Nggak hitam dan putih. Bahwa yang aku terima selama ini hanya satu versi.

Dogmatis.

Tapi yang sekarang membuatku tertegun pas membaca itu waktu dia memaklumi guru agamanya.

"Tetapi, saya ingin adil, mungkin guru agama saya bukan guru yang baik, lalu mengapa keyakinan saya harus dihukum untuk kesalahan guru saya, kata dia.

Yang aku suka dari situ adalah betapa dia melihat keyakinannya sebagai sebuah prioritas. Sesuatu yang patut dibela.

Membaca ulang artikelnya, dia memang pantas jadi inspirasi. Tapi bagian 'mengapa keyakinan saya harus dihukum..' itulah yang paling nyantol.

Posted at 07:11 am by i_artharini
Comment (1)  

The Elegant Miss H

Kalau Audrey Hepburn masih hidup, pada 4 Mei lalu ia akan berusia 79 tahun. Posting ini sebenarnya residu dari tulisan di Eskapisme, Kamis kemarin.

Akhirnya aku cukup yakin dan cukup tahu aku mau menulis tentang (si)apa, dalam bentuk apa, dan teks yang ingin aku tulis itu seperti apa. Tulisan secara profesional maksudnya.

Tepat nggak ya ngomong kayak gitu?

Maksudnya, ini benar-benar nulis tentang hal yang aku cukup tahu untuk memberi rekomendasi yang berdasar. Terus hasil teksnya juga agak lumayan.

Setidaknya saat membaca ulang, aku nggak pengen muntah.

Tampilan halamannya, ada lima poster-poster filmnya Audrey Hepburn.  Itu juga sudah cukup indah kan?

Pokoknya, pas mbaca ulang, ada semacam rasa yang, kalau boleh didefinisikan, kok agak mirip dengan 'kepuasan' ya?

Tadi mau menulis apa sih?

Ah ya, ini.

Di tulisan itu, aku menulis bahwa sepanjang karir aktingnya, (Audrey) Hepburn selalu dipasangkan dengan aktor legendaris.

Well, mungkin bukan selalu. Tapi cukup sering.

Di Roman Holiday dengan Gregory Peck. Di Sabrina dengan Humphrey Bogart dan William Holden. Di Funny Face dengan Fred Astaire dan Charade dengan Cary Grant. Oh, ada juga Love in the Afternoon dengan Gary Cooper dan My Fair Lady dengan Rex Harrison.

(Ah ya, aku membayangkan ada yang ngomong, "You know those are just names for me, right?" Ya, ya, tapi sabar sebentar)

Ada yang melihat kecenderungan nggak, betapa aktor-aktor Hollywood itu bisa berusia lebih lama dari female counterpart-nya?

Bogart berusia 55 saat Sabrina dirilis, tiga tahun sebelum kematiannya.

Dia lahir 1899 (Eww, Lauren Bacall, you married a guy born in the previous century!). Casablanca, peran ikoniknya itu dirilis pada 1942. The Maltese Falcon? 1941. To Have and Have Not, 1944. The Big Sleep, 1946. Treasure of Sierra Madre, 1948. Dan The African Queen, yang perannya memang sudah dijatahkan sebagai bujang lapuk, dirilis 1951.

Jadi 55 itu kan sebenarnya sudah mepet usia bintang film. Tapi toh, karakternya tetap mendapat Audrey Hepburn (25 tahun saat itu) sebagai 'hadiah'.

Funny Face lagi. Itu film dirilis 1957. Fred Astaire yang jadi lawan mainnya Hepburn adalah bintang besar (berpasangan dengan Ginger Rogers) di akhir 1930an.

Dan....oh. My. God.

Ternyata dia juga lahir di 1899.

Jadi saat ia magically dancing dengan Audrey Hepburn di taman belakang gereja itu, yang Hepburnnya pakai gaun pengantin gila indah banget itu, usianya sudah 58!

Dua tahun kurang dari 60.

Hepburn? Sekitar 28 tahunan.

Nah, Charade. Lawan main Hepburn di sini adalah Cary Grant. Dia lahir 1904. Jadi, usianya sudah 59 tahun saat Charade (1953) dirilis.

Katanya, Grant sempat ragu dengan perannya sebagai lawan main Hepburn di sini. Karena dia 25 tahun lebih tua dari Hepburn. Dan dia sudah merasa tidak pantas berperan sebagai lajang flamboyan yang jadi stereotip perannya selama ini.

Jadi, dialog-dialog bernada 'predatorial' yang awalnya dibebankan pada karakter Grant, dipindahkan seluruhnya ke karakter Hepburn. Hepburnlah yang diposisikan sebagai pengejar.

Lucky for us. Atau for me, bisa melihat Grant dalam posisi 'digoda' (karena itu dilakukan dengan cara yang oh so elegant walaupun tetap usil) terus-terusan oleh Hepburn. Dan aku jadi melihat Hepburn, yang biasanya terlalu 'polos', itu jadi bisa menggoda.

Tahu kan adegan dia menyentuh belahan dagunya Grant dan bertanya, "Bagaimana caramu bercukur di bagian ini?" yang membuat Grant jadi agak kikuk.

Plus, pada 1957, Hepburn membintangi Love in the Afternoon dengan lawan main Gary Cooper. Cooper, lahir 1901, berperan sebagai playboy paruh baya.

Melihat polanya nggak? Betapa aktor-aktor itu bisa lebih lama berperan sebagai pria lajang non-committed di layar tapi dengan lawan yang semakin muda. Sementara lawan main perempuan mereka....oke, diperiksa dulu.

Pada 1962, Katharine Hepburn, lawan main 'utama' Grant membintangi Long Day's Journey Into Night, berperan sebagai ibu di keluarga disfungsional dengan dua anak dewasa.

Pada 1957, Ginger Rogers, pasangan 'abadi' Astaire di layar, membintangi film Oh Men! Oh, Women! dengan peran sebagai ibu rumah tangga yang kebosanan.

Ingrid Bergman, lawan main Bogart di Casablanca (aku tahu Bogart punya karir yang panjang, tapi satu-satunya lawan main Bogart yang aku ingat di luar kepala dan film mereka yang sudah aku tonton itu Casablanca, jadi aku memilih Ingrid Bergman) cukup lumayan. Dapat peran sebagai Joan of Arc di 1954.

Tapi itu film yang disutradarai Roberto Rossellini yang notabene adalah suaminya dari 1950 sampai 1957. Jadi mungkin dia agak bisa terlepas dari Hollywood dan cara dunia itu, secara gradual, mengkelaskan peran aktrisnya berdasarkan usia. Iya nggak?

Just my two cents.

Dan, oh, selamat ulang tahun, Miss Hepburn!

Posted at 05:24 am by i_artharini
Make a comment  

Next Page