PENARI MUNGIL


(Saya bukan seorang penari. Pun sangat jauh dari mungil. Tapi, tahu kan adegan 'Tiny Dancer' di 'Almost Famous'? Sensasi membahagiakan dari adegan itulah yang saya kejar..)



Hold me closer, tiny dancer

Count the headlights on the highway

Lay me down in sheets of linen

You had a busy day, today


("Tiny Dancer" - Elton John)





"...the quest for transcendence has always been closely linked to the ecstatic release of dancing."
(Resensi RollingStone atas sebuah album pop)

Mr. Darcy: "So what do you recommend, to encourage affection?"
Elizabeth Bennet: "Dancing, even if one's partner is only tolerable."
(Pride & Prejudice, 2005)


perempuan, 1983, lovesick soul, berjalan kaki, belajar menulis, menonton film, ingin keliling dunia, Billie Holliday, Jane Austen, 'Franny and Zooey', cerita pendek F Scott Fitzgerald, lagu-lagu sedih, kecanduan membeli buku second, deretan buku di lemari, berkeliling dengan bis kota, mengepak koper, menari bebas, Vogue, sepatu, bad boys, kopi, kuliner, foto, semua yang vintage, genggaman tangan, pelukan hangat, detil percakapan antara manusia, kegelisahan, kesepian, ruang pencarian, belajar dewasa, museum dan bangunan tua, hari hujan, sinar matahari hangat di hari berangin, airport, stasiun kereta, dan pertanyaan tanpa akhir

YM: isyana_artharini
Email: i.artharini@gmail.com
   

<< May 2008 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03
04 05 06 07 08 09 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Wednesday, May 14, 2008
Tentang Lupa dan Nama Panggilan

Hari Senin kemarin aku sempat tanya kanan-kiri, pada berumur berapa sih waktu Mei 1998 terjadi?

Yang membuatku agak terusik gara-garanya, pas pulang menantang sinar matahari di daerah Permata Hijau itu hari Senin, di radio ada mahasiswa Trisakti yang melaporkan bahwa mereka akan turun ke jalan hari itu untuk peringatan satu dekade Reformasi.

Dengan kesadaran yang masih setengah, dengan mata yang tertutup handuk penghalau sinar matahari, aku iseng-iseng menghitung. Kalau mahasiswa itu rata-rata usianya antara 18 sampai 22 atau 23, berarti 10 tahun lalu mereka umurnya 8 sampai 12 atau 13 tahun.

Apa yang bisa mereka ingat ya tentang masa itu?

Getir juga sih waktu sadar, ternyata nggak banyak juga yang bisa aku ingat dari masa itu. Selain masih kelas 1 SMA sih.

Aku nonton TV iya, sadar apa yang terjadi, iya. Tapi ya sudah, cuma sampai situ saja.

Dan jangan-jangan banyak juga yang sudah mulai lupa. Apa ya yang bisa dilakukan untuk melawan lupa?

Eh, ternyata (salah satu) jawabannya datang besoknya.

Ada pemutaran perdana kompilasi film pendek seputar Mei 1998 di Kineforum. Namanya 9808.

Penuh banget pas pemutarannya, sampai ada beberapa yang harus duduk di lantai. Repertoarnya sih lumayan menarik. Ada yang dokumenter, ada yang film feature pendek, tapi buatku yang menarik ada dua, Sugiharti Halim sama Sekolah Kami, Hidup Kami.

Sugiharti Halim, sebuah film feature pendek, berisi narasi seorang Sugiharti Halim yang merasa tidak cocok dengan namanya. Nama yang diberikan orangtuanya karena kewajiban memberi nama Indonesia untuk orang-orang etnis Tionghoa. "Karena pengen curhat massal tentang ke-Cina-an gue," kata Ariani Darmawan, sutradaranya.

Cerdas, tajam, komedik, tapi ada sisa getirnya. Naratornya ngomong langsung ke kamera, ke penonton. Tapi dalam film 'disamarkan' seakan ia sedang berbicara dengan teman-teman kencan yang lebih memilih membenamkan diri dalam makanan daripada mendengarkan ocehannya.

Ujungnya sih, yang aku tangkap, Sugiharti berproses menuju penerimaan tentang namanya itu.

Tapi ada satu bagian yang terasa familiar.

Pernah nggak ketemu orang, terus kenalan, dan kamu menyebut namamu. Terus pertanyaan selanjutnya adalah, "Panggilannya siapa?"

Dalam hati aku selalu menjawab, bukannya tadi aku sudah menyebut namaku?

Tapi yang keluar, "Isyana aja."

"Kok panjang banget sih? Nggak ada pendeknya?"

(Dalam hati: Nggak sepanjang itu kok. Cuma tiga suku kata. Aku nggak menyebut Robert Allen Zimmerman kan? Atau Rumpelstiltskin? Tiga suku kata nggak panjang lah. Oke, iya, ada nama panggilan lain yang lebih pendek. Tapi kita kan baru kenal. Kamu tidak datang dari masa laluku, so please, tetap Isyana.)

(Tapi ya kalau terlanjur tahu, ya sudahlah.)

Kadang yang masih keukeuh mencoba-coba, "Is? Yana? Nana?"

"Enggak, Isyana aja."

Karena, antara Is atau Yana atau Nana, walaupun penggalan dari nama 'panjangku' bukanlah aku.

Dan ini lumayan sering kejadian waktu jaman-jamannya aku masih sering ketemu orang-orang baru waktu liputan.

Nah, di Sugiharti Halim, momen itu ada juga. Ditanya panggilannya siapa. Harti?

Ada yang juga sering mengalami hal sama?

Terus ada kutipan bagus sih dari Sugiharti, tentang betapa tidak masuk akalnya mencoba memenggal nama gitu, tapi aku lupa tepatnya apa kutipan itu.

Film kedua yang aku favoritin sih diputar di bagian akhir.

Sekolah Kami, Hidup Kami itu bercerita tentang anak-anak SMA 3 Surakarta yang berusaha membongkar penyelewengan penggunaan dana di sekolahnya. Pelakunya? Kepala Sekolah dan guru-guru lainnya.

Tapi mereka itu beneran deh. Hebat banget. Anak-anak yang di tim Save Our School itu, maksudnya (Beneran deh nama tim investigasinya itu). Mereka kerja dibagi dalam tim informan, bukti, publikasi, dan media massa (Gila, sadar pengaruh media juga mereka).

Mengharukan dan membuat semangat di saat bersamaan.

Agak absurd tapi juga salut melihat cara mereka meminta klarifikasi dan berdebat dengan guru-guru mereka. Di satu sisi mereka 'mengadili'. Di sisi lain, mereka tidak lupa dengan tata krama. Para guru yang asalnya berdiri kikuk di panggung, lalu disediakan kursi.

Di tengah gugatan dan semangat mereka pun, mereka tetap remaja. Yang punya handphone berkamera dan sibuk mengabadikan momen itu.

Antusiasme mereka sih, sejauh yang tertangkap kamera ya, tulus. Nggak tahu lagi waktu kameranya mati.

Tapi ini tentang semangat aktivisme yang semakin memuda, yang membuat optimis, yang memberi harapan.

Oh ya, salah satu cacatku adalah tak bisa memisahkan emosi ketika menulis. Jadi, don't take it from me, ini hanya sebuah opini.

Posted at 04:24 am by i_artharini
Comment (1)  

Tuesday, May 13, 2008
Kangen

"Ah, gara-gara... nggak tau deh. Gue lagi jadi cewek-cewek yang..."
"Elu nelpon ya?"
"Iya. Dan nggak diangkat."

Ah ya, it takes one to know one. Kekangenan melanda akhir pekan ternyata.

Gara-gara kangen, akhir pekan kemarin aku juga sudah bolak-balik mengeluarkan hape.

Namanya sudah dicari. Sudah ditemukan pula. Tinggal dipencet tombol hijaunya. Eh, tiba-tiba si Rani muncul.

Tapi pas lagi lihat-lihat Forever 21, dia ngabur ke kamar mandi.

Artinya ada kesempatan lagi dong untuk nelpon. Hape pun keluar lagi. Lagi-lagi tinggal dipencet tombol hijaunya.

Batal karena pertanyaan: Nanti mau ngomong apa ya?
Speed Racer?
Halah, basi banget.

Belum sampai memutuskan, Rani lagi-lagi sudah muncul. Terus ke supermarket deh.
Eh, ternyata di situ ada obral DVD. Iseng-iseng nyari, jangan-jangan ada 'Waking Life' (duh, ternyata masih belum lepas dari kekangenan juga).

Ternyata malah nemu To Have and Have Not, Victor Victoria, Gaslight, sama Mutiny on the Bounty yang versi Clark Gable. Dari 134 ribu jadi 40 ribu. Plus satu film Perancis, A Man and a Woman.

Tiba-tiba, semua jadi kembali baik-baik saja. Pengalihannya adalah Bogart dan Bacall.

(Timingnya pas banget nggak sih? Baru aja pas Jumat paginya ngomongin tentang Bogart, eh udah nemu film yang mempertemukan mereka. Dengan harga diskon pula. Mungkin ini yang dibilang Photographer of the Year: Tenang aja, Tuhan tidak pernah tidur. Hehehe)

(Hidup yang kosong nggak sih sebenarnya? Mensubstitusi emosi dengan sebuah produk gitu.)

-----
Aku membaca di suatu tempat, tapi lupa di mana. Tentang kangen yang lebih baik diendapkan saja.

Terus pemandu spiritual yang lebih baik tak disebutkan namanya itu juga menyatakan persetujuannya banget-banget. "Kekangenan itu harus diatasi sendiri. Ketika elu berhasil mengatasinya, itu juga sebuah bentuk pencapaian emosional. Jadi nggak harus ditumpahkan setiap waktu."

Dashyat juga.  

Sekadar tambahan, gara-gara To Have and Have Not yang penuh dengan adegan menyalakan rokok, minta korek, minta dinyalakan rokoknya, dst, kredit rokokku tahun ini menipis dengan cepat.

Terlalu cepat malah.

Dari yang cuma 10 per tahun, kok kayaknya sekarang sudah nggak bersisa ya jatahnya?

Anyway.

Aku berusaha untuk tidak tertegun dengan usia Bacall di film itu (19, btw), tapi tetap nggak bisa.

Dia terlihat begitu...tenang dan mantap untuk usia semuda itu. Benar-benar kaya orang yang sudah melihat semuanya dan nggak takut apa-apa lagi.  But yet, she's so young.

Ah, well.

Posted at 05:18 am by i_artharini
Make a comment  

Turun

Ma: "Ada berita apa ya hari ini?"
Me: "Peringatan 10 tahun reformasi kali."
Ma: "Oh iya. Kamu tadi ada sms masuk, bukan tentang disuruh ngeliput kan?"
Me: "Ya enggaklah. Kan ada koran pagi. Koranku kan koran santai."
Ma: "Koran santai kok mbuatnya sampai nggak tidur."
Me: "..."

Seperti orang naik rollercoaster kali ya. Terlalu sering atau terlalu lama, sudah nggak asyik lagi. Tapi malah mual.

Jadi, kita pada sudah boleh turun belum nih?

Posted at 05:05 am by i_artharini
Make a comment  

The Other Miss Hepburn*

(*) aku pernah nulis judul itu nggak sih?

Lagi membuka-buka imdb.com, ingin mencari tahu tentang Riding Alone for Thousand of Miles yang baru ditonton tadi pagi (dan membuat nggak bisa tidur), ternyata di bagian birthday ada fotonya Katharine Hepburn.

12 Mei ini dia berulang tahun ke-101.

Inilah dia, yang kanan ya, dalam salah satu adegan "The Philadelphia Story" (salah satu film favoritku) bersama Cary Grant (lihat belahan dagunya. Penasaran nggak, gimana dia bercukur di bagian itu? Hehehe)

Hmm, bisa buat tulisan dua Eskapisme nih.


(kredit foto: dari sini)

Thanks to Miss Hepburn yang mengajarkan untuk keukeuh dengan apa yang diinginkannya. Termasuk ketika menjalankan hubungan.

Spencer Tracy mungkin memang aktor terhebat di generasinya, tapi dia juga pria Katolik yang tidak bisa menceraikan istrinya. Maka, katanya, "My wife and Kate likes things the way they are."

Funny ha ha.

(You do know I'm being ironic right?)

Posted at 01:43 am by i_artharini
Make a comment  

Revisit

Gara-gara blog entry ini tentang menjadi renta (dan beberapa referensi karakter renta lewat film dan buku), aku jadi ingin menonton ulang beberapa film yang disebut si penulisnya.

Karena kesimpulan yang aku dapat setelah menonton film-film itu (dan tentang si karakter) kok jatuhnya jadi konyol ya?

Pertama, Walter Kurtz di Apocalypse Now.

Apa karena waktu itu aku nonton yang versi Redux ya, versi Director's Cut. Jadinya ada sekitar 30 sampai 40 menitan ekstra dari versi studio yang beredar luas.

Pas karakter Walter Kurtz itu akhirnya muncul, semua yang dibangun oleh Coppola untuk jadi sebuah grand finale, hasilnya aku malah nggak ingat apa-apa. Pengungkapan besar yang mungkin diniatkan bisa membuat penonton merinding pun (lengkap dengan soundtrack-soundtrack The Doors), aku juga lupa.

I'm still too stupid to know anything about Brando, anyway.

Tapi aku juga nggak ingat akhir ceritanya itu jadi seperti apa. Yang aku ingat dari bagian terakhirnya itu...apa ya? Pokoknya kita udah pada resah gitu deh. Guling-guling, tiduran, duduk, pindah tempat berapa kali, bolak-balik ke kamar mandi, garuk-garuk, eh filmnya belum selesai juga.

Dari yang helaan nafas tidak sabar sampai akhirnya keluhan vokal, "Kok nggak selesai-selesai seeehhh?"

Director's Cut? Kadang memang bukan keputusan yang bijak.

(Note: Ini nonton di tempat teman. Pada sebuah masa yang membuat kita memilih bermalas-malasan dan berlindung dari sinar matahari dengan menonton film di ruangan gelap karena gordennya ditutup semua)

Terus Godfather.

Ingetnya sih nonton ini di Filmmuseum. Apa di masa yang sama, musim yang sama, atau tahun yang sama, aku agak lupa. Pastinya itu musim panas.

Cuacanya lagi cerah banget. Taman lagi penuh sama orang-orang berjemur. Dan aku memilih berdingin-dingin di ruangan untuk nonton Godfather.

Zaalnya bagus banget. Kayak ruang opera mini gitu. Ada piano juga di  pojok ruangan. Tempat duduknya tapi agak keras. Bentuknya kursi lipat, pelapisnya merah beludru atau sekedar kursi kayu ya? Aku nggak ingat lagi tepatnya.

Penontonnya, selain aku, ada tiga lelaki sekitar usia akhir 20an gitu. Yang mereka sibuk banget mengomentari betapa kerennya setiap pergantian adegan yang terjadi. Dari pembicaraan, intonasi nada dan seruan penuh kekaguman mereka, Coppola jadi seperti nggak ada bedanya sama tuhan gitu.

Anyway, filmnya, cuma sekedar oke buatku.

Bagus sih, tapi tidak menggetarkan.

Sekali lagi, buatku.

Greatest film ever made, bisa saja. Jika penilaian itu statis pada satu masa, aku rasa.

Oke, tapi waktu itu aku merasa sedikit berdosa juga waktu menyadari pikiranku yang bisa sampai pada kesimpulan bahwa Godfather tidak seistimewa itu.

Tapi terus aku langsung menyalahkan jaman. Waktu itu, pikiranku, menjadi orang yang besar di abad 21 itu orang yang terlalu rumit. Yang terlalu cerewet dengan keinginannya. Tak bisa lagi dibuat kaget dengan suatu karya seperti 'Godfather'.

Atau mungkin itu cuma aku?

Dan, nggak ada salahnya juga kan ya kalau aku nggak kaget?

Anyway. Salah satu faktor yang membuatku merasa terganggu saat menonton Godfather adalah cara bicara Marlon Brando sebagai Don Vito Corleone.

Setiap kali dia muncul di layar, aku jadi geli banget.

Mungkin karena aku lebih dulu tahu Dr Evil dan segala bentuk parodi konyol akan akting Marlon Brando itu daripada versi aslinya. Dan ketika melihat versi aslinya, yang keingat cuma versi-versi konyolnya saja.

Di sini juga aku kembali menyalahkan jaman. Jaman yang membuat parodi jadi sebuah bentuk orisinalitas.

(Tapi, btw, memang parodi bukan sebuah bentuk orisinalitas ya?)

Jaman yang membuatku lebih dulu mengenal versi plesetan kontemporernya daripada karya 'asli' pendahulunya.
 
Mungkin juga, lagi-lagi, karena aku masih terlalu bodoh untuk mengetahui sesuatu tentang Brando kala itu.

Menziarahi itu mungkin memang perlu ya.

Btw, aku malah lebih kaget dengan Diane Keaton di situ. Ternyata dia bisa main drama. Ini pra atau pasca Annie Hall ya, btw? Karena ternyata dia bisa jadi karakter selain Annie Hall gitu.

(I think she owes her entire career to Annie Hall deh. Bahkan setelah Keaton tua pun, dia masih jadi versi tuanya Annie Hall. Aku nggak melihat perbedaan signifikan dari karakternya di Something's Gotta Give dan Because I Said So sama Annie Hall, kecuali perbedaan usia atau profesi atau situasi dalam hidup ya. Esensinya, dia tetap Annie Hall, menurutku).

Scent of a Woman, ah ya, adegan tango di restoran itu bisa membuatku lupa bernafas.

Tunggu. Ini kan seharusnya cuma jadi entry pendek aja. Ugh.

Posted at 12:35 am by i_artharini
Make a comment  

Friday, May 09, 2008
Irshad Manji

Ini kejadian sudah hampir seminggu lalu.

Minggu malam kemarin, pas aku menyerahkan tulisan ke redaktur bertahi lalat di bibir, dia nyeletuk, "Kok kita nggak dapat undangan yang Irshad Manji ini sih?"

Di pangkuannya ada lipatan Kompas edisi Minggu (4/5), tepat di halaman yang memuat tulisan tentang nama yang ditanyakannya tadi itu.

Ah, ya. Aku juga sudah membaca tulisan itu, aku bilang.

Minggu pagi aku pikir sudah sangat indah pas membaca "Yogya dari Atas Sadel Sepeda" itu (linknya nggak nemu nih). Eh tahunya, tulisan dashyat Mini Tolstoy itu masih bisa kena gerhana dari tulisan Kanjeng Ratu Palmerah (KRP).

Bukan tulisannya KRP sih ya, tapi tepatnya sosok yang ditulisnya.

Aku sebenarnya juga agak kaget pas mbaca artikel itu. Hah, Irshad Manji ke Jakarta? Kapan?

Terus aku merasionalisasi kekagetan itu dengan membayangkan suara Ccr dengan kebijakan 'tanpa-idola'-nya di kepalaku yang bilang, "Emang siapa sih dia? Biasa aja kan?"

Tapi tetap saja. Bohong banget kalau naluriku tidak tersodok-sodok dengan kecolongan sebesar ini.

Aku nggak 'mengenal' dia sebaik itu sih. Cuma aku baru kepikiran namanya beberapa minggu sebelumnya. Terus bertanya-tanya, apa yang terjadi padanya ya? Eh ternyata dia sempat mampir ke Jakarta.

Pas kuliah, aku ingat pernah membaca artikel di Newsweek tentang dia. Waktu itu sih diceritain tentang pesan ijtihad yang dia angkat. Masih tetap sama sampai sekarang.

Mungkin 'pesan' yang paling aku ingat dari sosoknya adalah dia menunjukkan bahwa orientasi seksual itu nggak menghambat berkeyakinan gitu?

Kayaknya dia termasuk bagian dari rangkaian proses 'penyadaran' tentang betapa keyakinan itu kompleks. Nggak hitam dan putih. Bahwa yang aku terima selama ini hanya satu versi.

Dogmatis.

Tapi yang sekarang membuatku tertegun pas membaca itu waktu dia memaklumi guru agamanya.

"Tetapi, saya ingin adil, mungkin guru agama saya bukan guru yang baik, lalu mengapa keyakinan saya harus dihukum untuk kesalahan guru saya,” kata dia.

Yang aku suka dari situ adalah betapa dia melihat keyakinannya sebagai sebuah prioritas. Sesuatu yang patut dibela.

Membaca ulang artikelnya, dia memang pantas jadi inspirasi. Tapi bagian 'mengapa keyakinan saya harus dihukum..' itulah yang paling nyantol.

Posted at 07:11 am by i_artharini
Comment (1)  

The Elegant Miss H

Kalau Audrey Hepburn masih hidup, pada 4 Mei lalu ia akan berusia 79 tahun. Posting ini sebenarnya residu dari tulisan di Eskapisme, Kamis kemarin.

Akhirnya aku cukup yakin dan cukup tahu aku mau menulis tentang (si)apa, dalam bentuk apa, dan teks yang ingin aku tulis itu seperti apa. Tulisan secara profesional maksudnya.

Tepat nggak ya ngomong kayak gitu?

Maksudnya, ini benar-benar nulis tentang hal yang aku cukup tahu untuk memberi rekomendasi yang berdasar. Terus hasil teksnya juga agak lumayan.

Setidaknya saat membaca ulang, aku nggak pengen muntah.

Tampilan halamannya, ada lima poster-poster filmnya Audrey Hepburn.  Itu juga sudah cukup indah kan?

Pokoknya, pas mbaca ulang, ada semacam rasa yang, kalau boleh didefinisikan, kok agak mirip dengan 'kepuasan' ya?

Tadi mau menulis apa sih?

Ah ya, ini.

Di tulisan itu, aku menulis bahwa sepanjang karir aktingnya, (Audrey) Hepburn selalu dipasangkan dengan aktor legendaris.

Well, mungkin bukan selalu. Tapi cukup sering.

Di Roman Holiday dengan Gregory Peck. Di Sabrina dengan Humphrey Bogart dan William Holden. Di Funny Face dengan Fred Astaire dan Charade dengan Cary Grant. Oh, ada juga Love in the Afternoon dengan Gary Cooper dan My Fair Lady dengan Rex Harrison.

(Ah ya, aku membayangkan ada yang ngomong, "You know those are just names for me, right?" Ya, ya, tapi sabar sebentar)

Ada yang melihat kecenderungan nggak, betapa aktor-aktor Hollywood itu bisa berusia lebih lama dari female counterpart-nya?

Bogart berusia 55 saat Sabrina dirilis, tiga tahun sebelum kematiannya.

Dia lahir 1899 (Eww, Lauren Bacall, you married a guy born in the previous century!). Casablanca, peran ikoniknya itu dirilis pada 1942. The Maltese Falcon? 1941. To Have and Have Not, 1944. The Big Sleep, 1946. Treasure of Sierra Madre, 1948. Dan The African Queen, yang perannya memang sudah dijatahkan sebagai bujang lapuk, dirilis 1951.

Jadi 55 itu kan sebenarnya sudah mepet usia bintang film. Tapi toh, karakternya tetap mendapat Audrey Hepburn (25 tahun saat itu) sebagai 'hadiah'.

Funny Face lagi. Itu film dirilis 1957. Fred Astaire yang jadi lawan mainnya Hepburn adalah bintang besar (berpasangan dengan Ginger Rogers) di akhir 1930an.

Dan....oh. My. God.

Ternyata dia juga lahir di 1899.

Jadi saat ia magically dancing dengan Audrey Hepburn di taman belakang gereja itu, yang Hepburnnya pakai gaun pengantin gila indah banget itu, usianya sudah 58!

Dua tahun kurang dari 60.

Hepburn? Sekitar 28 tahunan.

Nah, Charade. Lawan main Hepburn di sini adalah Cary Grant. Dia lahir 1904. Jadi, usianya sudah 59 tahun saat Charade (1953) dirilis.

Katanya, Grant sempat ragu dengan perannya sebagai lawan main Hepburn di sini. Karena dia 25 tahun lebih tua dari Hepburn. Dan dia sudah merasa tidak pantas berperan sebagai lajang flamboyan yang jadi stereotip perannya selama ini.

Jadi, dialog-dialog bernada 'predatorial' yang awalnya dibebankan pada karakter Grant, dipindahkan seluruhnya ke karakter Hepburn. Hepburnlah yang diposisikan sebagai pengejar.

Lucky for us. Atau for me, bisa melihat Grant dalam posisi 'digoda' (karena itu dilakukan dengan cara yang oh so elegant walaupun tetap usil) terus-terusan oleh Hepburn. Dan aku jadi melihat Hepburn, yang biasanya terlalu 'polos', itu jadi bisa menggoda.

Tahu kan adegan dia menyentuh belahan dagunya Grant dan bertanya, "Bagaimana caramu bercukur di bagian ini?" yang membuat Grant jadi agak kikuk.

Plus, pada 1957, Hepburn membintangi Love in the Afternoon dengan lawan main Gary Cooper. Cooper, lahir 1901, berperan sebagai playboy paruh baya.

Melihat polanya nggak? Betapa aktor-aktor itu bisa lebih lama berperan sebagai pria lajang non-committed di layar tapi dengan lawan yang semakin muda. Sementara lawan main perempuan mereka....oke, diperiksa dulu.

Pada 1962, Katharine Hepburn, lawan main 'utama' Grant membintangi Long Day's Journey Into Night, berperan sebagai ibu di keluarga disfungsional dengan dua anak dewasa.

Pada 1957, Ginger Rogers, pasangan 'abadi' Astaire di layar, membintangi film Oh Men! Oh, Women! dengan peran sebagai ibu rumah tangga yang kebosanan.

Ingrid Bergman, lawan main Bogart di Casablanca (aku tahu Bogart punya karir yang panjang, tapi satu-satunya lawan main Bogart yang aku ingat di luar kepala dan film mereka yang sudah aku tonton itu Casablanca, jadi aku memilih Ingrid Bergman) cukup lumayan. Dapat peran sebagai Joan of Arc di 1954.

Tapi itu film yang disutradarai Roberto Rossellini yang notabene adalah suaminya dari 1950 sampai 1957. Jadi mungkin dia agak bisa terlepas dari Hollywood dan cara dunia itu, secara gradual, mengkelaskan peran aktrisnya berdasarkan usia. Iya nggak?

Just my two cents.

Dan, oh, selamat ulang tahun, Miss Hepburn!

Posted at 05:24 am by i_artharini
Make a comment  

Pertanyaanku Tentang Proust

"Voulez vous signez?"

Aku sebenarnya tidak terlalu gila tanda tangan. Apalagi kalau untuk mendapatkannya aku harus berdesak-desakan atau mengantre. Kesannya, yang aku inginkan jadi terlalu awam, generik, klise. Dan aku juga nggak yakin itu ucapan yang tepat untuk minta tanda tangan.

Tapi, saat pembukaan sebuah pameran foto tentang arsitektur di Bentara Budaya, Rabu lalu, tidak ada antrean di depan Stephane Heuet. Baru dua hari sebelumnya aku bertemu dia di acara peluncuran edisi Indonesia komiknya, sebuah saduran A la recherché du temps-nya Proust. Dan aku sudah membaca setengah komiknya.

"Alors," katanya.

Lalu dia mengambil pulpen yang aku sodorkan, dan duduk.

Dia mulai mencorat-coret sesuatu, bentuk mata, bentuk hidung, garis rambut, lalu kumis, mulut, dan lengkap sebuah wajah dengan ekspresinya. Lalu ada bahu, kerah yang tegak berdiri, siluet badan yang terbalut jas.

Di bawahnya ia tuliskan, Charles Swann. Ada balon kata di atas kepala Swann dengan tulisan: Pour Isyana, 9 Avril 2008 a Jakarta. Sebelumnya dia memang menanyakan namaku.

"C'est magnifique! Merci beaucoup," kataku karena tidak tahu lagi kata yang bisa mengekspresikan 'bagus' dalam bahasa Perancis. 'Magnifique' mungkin kata yang terlalu kuat, sementara maksudku cuma: Cool, ada Charles Swann yang balon katanya menyebut namaku. Terakhir, ia berikan tanda tangannya.

Hey, bukan tempatku untuk menilai apakah upayanya 'mendemokratiskan' Proust adalah hal yang tepat. Tapi aku lumayan menghormati pemikirannya yang, dengan optimis, ingin sebanyak mungkin orang tercerahkan seperti yang didapatkannya lewat Proust. Dan dia sadar, 'karyanya', jika bisa dinilai sebagai sesuatu, hanya sebuah solusi antara. Dia cuma ingin orang membaca Proust. "Karena, sebenarnya, membaca Proust bisa membuatmu bahagia," ini waktu peluncuran bukunya.

Selesai, aku bertanya padanya, "Siapa sih sebenarnya Odette? Kenapa dia bisa begitu ekspresif dengan perasaannya, dengan dirinya, pada orang lain?"

"Odette de Crecy? Itu juga yang membuat Swann penasaran. Tapi tak banyak yang diketahui tentang masa lalu Odette. Yang bisa ditebak, dia punya masa kecil yang sangat keras, dia sangat miskin di masa kecilnya. Tapi dia menjadi seorang butterfly, yang berpakaian bagus dan cantik."

"Apakah dia sebenarnya orang yang smart? Karena Swann berusaha mengajarkannya tentang banyak hal…"

"Tidak, dia bukan orang yang smart. Dia adalah bagian dari kelompok nouveau-riche. Swann itu yang disebut naturally smart, intelek, berpengetahuan luas, dia bagian dari orang-orang kaya lama yang smart."

Oke, mungkin ada perbedaan definisi tentang 'smart' di sini. Aku bertanya tentang Odette sebagai seorang yang 'smart' karena ada beberapa kesempatan dalam komik yang memperlihatkan Swann sedang menilai kepintaran Odette. Kepintaran dalam arti selera. Seperti dia mencoba mengajari Odette tentang puisi, tentang lukisan, tentang seni. Tapi Odette seperti sudah memiliki sebuah standar nilai tersendiri.

Sementara Heuet menghubungkan 'smart' dengan kelas sosial. Kesannya opini 'yang benar' tentang benda dan karya seni adalah hal natural yang datang bersamaan dengan kelas sosial seseorang. Yaitu para orang kaya lama. Tapi Heuet juga bilang bahwa ada masanya, di 'seri' selanjutnya, ketika Swann benar-benar sudah menjadi seorang 'snob'.

Ya, ya, mungkin ide membuka Proust 'yang sebenarnya' bisa terdengar menarik hanya untuk menemukan 'akhir' dari argumen ini.

"Tapi saya jadi tahu tentang apa yang anda maksud, ketika anda bilang Proust adalah semua orang. Bahwa membaca Proust itu membahagiakan. Saya merasa senang ketika menemukan hal yang familiar, saat Swann mengidentikkan perasaannya pada Odette dengan sonata tertentu…"

"Iya. Swann adalah seorang pencinta seni. Dia juga menganggap Odette mirip dengan Zephora di fresco, dan mengidentikkan perasaannya pada Odette seperti pada fresco itu. Padahal Odette adalah Odette, dia bukan Zephora dalam lukisan. Swann juga tentang jatuh cinta atas dasar alasan-alasan yang tidak tepat."

Mungkin bagian inilah yang paling membuat aku tertegun saat membaca komik saduran Heuet. Selalu ada bagian partikuler tentang sebuah lagu atau film atau buku yang aku asosiasikan dengan seseorang. Jarang sekali tentang orangnya sendiri, lebih sering karena 'nilai-nilai' yang mereka wakili.

Aku pikir hal seperti itu hanya terjadi di dunia yang padat budaya pop seperti yang aku tinggali, ternyata di era Swann 'kesalahan' itu pun sudah terjadi. Bahwa kita menyematkan sebuah citra pada orang-orang yang kita temui berdasarkan…alasan yang tidak tepat. Yang bukan tentang siapa mereka sebenarnya, tapi apa yang kita identikkan dengan mereka.

Aku mengasosiasikan 12:51-nya The Strokes dengan seseorang. Aku membayangkan seorang karakter imajiner saat mendengar Bucket-nya Kings of Leon. Karakter imajiner yang aku fantasikan ini, suatu saat pasti aku 'tempelkan' ke seseorang yang aku temui. Orang yang, aku pikir, paling mendekati dengan sosok si fantasi. Kita meromantisir ide tentang seseorang. Kita jatuh cinta pada bayangan.

Hmm, aku, mungkin lebih tepatnya, yang kerap jatuh cinta pada bayangan.

"I don't know you/But I want you/All the more for that," bisa jadi adalah sebuah contoh ke-Swann-an, karena kita sudah keburu menempelkan 'karakter' pada si objek. Ide tentang memulai kembali, ide tentang si orang ini tidak terhubung pada masa lalu kita.  

Mungkin memang benar, "people can invent the best and worst things for you."

(Dan gimana dengan pria yang mengatakan: "Did I listen to pop music because I was miserable? Or was I miserable because I listened to pop music?". Dia tahu bedanya gitu antara 'realita' yang realita dan yang terpengaruh oleh produk budaya?)

Tapi sekarang ini. Jika aku punya banyak stok—atau mungkin terlalu banyak—potongan-potongan 'produk budaya' yang bakal mempengaruhi aku untuk menilai seseorang, jadi apa ya yang 'milikku sendiri'? Yang tidak terpengaruh oleh potongan-potongan itu? Jangan-jangan cuma pertanyaan ini?

Posted at 01:35 am by i_artharini
Comment (1)  

Monday, May 05, 2008
Dua Puluh Limaan

Gerutuanku tentang film tidak bisa jadi media eskapisme di posting sebelum ini? Lebih mungkin disebabkan aku belum menemukan (lagi) film-film yang membuatku merasa 'tenang'.

'Tenang' karena, bukankah esensi seni itu sepatutnya membuat kita terus bertanya?

Gimana ya aku bisa mendefinisikan 'tenang' itu? Maksudnya, aku masih terus mengulik sih. Tapi aku juga merasa ada sesuatu di karya itu yang membuat lingkarannya tersambung, tertutup.

'Starting Out in the Evening', baru-baru ini, jadi film yang membuatku merasa 'tenang'.

Pikirannya memang dibawa lari ke sana dan ke sini. Tapi pada akhirnya aku dikasih kesimpulan yang membuatku berkomentar, "Oh ya, sudah sepantasnya. Aku suka kesimpulannya."

Ceritanya sih agak mengingatkan dengan 'Finding Forrester', tentang penulis tua dari aliran yang mungkin sudah hampir punah (kata resensinya Salon.com) (Dan buat yang masih ingin teryakinkan, ini dari Roger Ebert).

Yang membedakan, banyak sih.

Salah satunya dari cara penokohannya dikembangkan, lebih subtil tapi daya jelajahnya luas. Kompleksitas emosinya dan lapisannya lebih terasa. Dan bagian akhirnya nggak terlalu 'hero saves the day' seperti 'Finding Forrester'.

Dialognya, adegannya juga terasa lebih lembut, mungkin. Nggak ada yang terkesan pamer lah di sepanjang film ini.

Tapi yang paling nendang sebenarnya penggambaran sosok perempuan umur 25 di film ini yang...sangat tipikal 25. Atau tipikal aku?

Hehe, harap dimaklumi saja cacat bawaanku. Apa pun yang aku tonton, baca atau dengarkan, akan sangat mungkin diinternalisasi dan dibayangkan terus, terus, terus. Diidentifikasi, dicerna, dimasukkan ke otak, ke hati, dst.

Ya, ya, drama queen.

Oke, Heather, si perempuan 25 itu, memang pada akhirnya digambarkan dengan tidak simpatik dan mendapatkan 'hukumannya'. Tapi aku memaklumi penggambaran itu. Dan merasa apa yang dia alami sudah sepantasnya dan sejujurnya.

Dari mulai sok tahu dan sok beraninya. Dan berpikir dia berhak untuk merasa seperti itu.

Jangan salah berpikir, aku juga merasa berhak kok untuk sok tahu dan sok berani.

"I wanna be bold. I wanna be Joan Didion, Joni Mitchell, Joan of Arc," katanya.

Kapan sih kalimat itu nggak aku banget? Walaupun mungkin 'wanna be'-ku adalah sosok-sosok berbeda.

(Plus, memang ada kesoktahuan tertentu yang cuma bisa 'dikenakan' oleh usia 20an. And I'm wearing mine until it's broken. Dua kalimat sebelumnya contohnya.)

Lalu dari caranya dia mencari ketersambungan di tempat paling asing sekali pun, di diri Leonard Schiller. Orang atau sosok yang enggak dikenal sebenarnya, tapi serasa dikenal luar dalam, hanya karena membaca buku-bukunya.

Atau mungkin hanya karena dia bisa membandingkan R K Narayan dan Chekhov jam tujuh pagi, Heather merasa 'berhak' akan kedekatan itu.

Leonard Schiller bisa saja hanya sebuah simbol. Tapi mungkin usia 20an itu adalah tentang upaya-upaya acak mencari ketersambungan di tempat-tempat dan sosok asing, yang terlalu jauh dan tak mungkin. Yang terlalu dramatis. Yang butuh grand gesture.

Dua puluh (lima) an mungkin tentang keberanian dan kenekatan mencari ketersambungan itu. Dengan jungkir balik melakukan sesuatu yang tidak biasa agar tersambung.

Dan mungkin kita akan menemukannya. Atau, aku akan menemukannya. Keterhubungan itu.

Tapi bukan tidak mungkin juga, ketika sudah tergapai, yang ada malah keheranan akan aksi kegilaan sesaat itu. Bertanya-tanya, apa yang aku pikirkan ya waktu itu?

Dan segala upaya yang sudah dilakukan jadi terasa konyol. Dan objek yang sudah susah-susah dikejar itu jadi terasa fana, standar, tidak istimewa, ungodlike.

Aku merasa Heather beruntung mendapat apa yang diberikan oleh Leonard di bagian akhir, walaupun dia berkeras, "I didn't deserve that."

Heather benar bahwa dia tidak layak mendapatkan ganjarannya, tapi Leonard juga harus melakukan apa yang dianggapnya benar.

Rude awakening yang 'mengembalikan'-ku ke kenyataan, atau mengantarkanku ke kematangan pasti akan datang. Tapi untuk sementara, ya aku masih terus hidup dengan romantika 25 di kepala sepertinya.

Tetap sok tahu, sok berani, dan (dengan resiko) jadi konyol.

---------
ps: 'Starting Out in the Evening' ternyata bisa memberi salah satu versi jawaban pertanyaan kenapa terus menulis itu.

Heather bertanya, kenapa, dengan empat novel yang sudah tidak dicetak lagi, dengan prospek diterbitkan yang sangat kecil, di ambang obsoletnya, Leonard tetap memutuskan terus menulis.

Jawabannya, 'Madness of the art, probably'.

Posted at 05:03 am by i_artharini
Make a comment  

Friday, May 02, 2008
Eskapisme

Film ternyata sudah tidak bisa lagi jadi media eskapis. Ia malah jadi menguatkan atau menonjolkan apa yang absen di hidupku.

Solusi, akhir, atau jawaban, menyebut beberapa di antaranya.  

Posted at 01:28 am by i_artharini
Make a comment  

Next Page