PENARI MUNGIL


(Saya bukan seorang penari. Pun sangat jauh dari mungil. Tapi, tahu kan adegan 'Tiny Dancer' di 'Almost Famous'? Sensasi membahagiakan dari adegan itulah yang saya kejar..)



Hold me closer, tiny dancer

Count the headlights on the highway

Lay me down in sheets of linen

You had a busy day, today


("Tiny Dancer" - Elton John)





"...the quest for transcendence has always been closely linked to the ecstatic release of dancing."
(Resensi RollingStone atas sebuah album pop)

Mr. Darcy: "So what do you recommend, to encourage affection?"
Elizabeth Bennet: "Dancing, even if one's partner is only tolerable."
(Pride & Prejudice, 2005)


perempuan, 1983, lovesick soul, berjalan kaki, belajar menulis, menonton film, ingin keliling dunia, Billie Holliday, Jane Austen, 'Franny and Zooey', cerita pendek F Scott Fitzgerald, lagu-lagu sedih, kecanduan membeli buku second, deretan buku di lemari, berkeliling dengan bis kota, mengepak koper, menari bebas, Vogue, sepatu, bad boys, kopi, kuliner, foto, semua yang vintage, genggaman tangan, pelukan hangat, detil percakapan antara manusia, kegelisahan, kesepian, ruang pencarian, belajar dewasa, museum dan bangunan tua, hari hujan, sinar matahari hangat di hari berangin, airport, stasiun kereta, dan pertanyaan tanpa akhir

YM: isyana_artharini
Email: i.artharini@gmail.com
   

<< May 2007 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Monday, May 14, 2007
Kecewa

Hmm...aku kok merasa sudah mengecewakan ya?
Bahwa aku sudah berbuat salah, pada satu titik, tapi sudah terlambat untuk back-pedalling.

Mungkin ini memang titiknya semua nggak bakalan sama lagi, nggak seringan dulu lagi. Aku merasa telah berbuat salah ketika hal yang sifatnya basa-basi jadi ditanggapi serius. Apa mungkin aku berbasa-basi dengan cara yang salah?

Bisa jadi, aku cuma terlalu sensitif.

Yet, why does it feels so true.

I know what my mom would say. She would say something like, "Ya sudahlah, mbak. Use this as a time to start to be by yourself for a while. Fokus sama diri sendiri dulu."

Yes, it's an all too familiar story. Bisa nggak sih, aku nggak pernah ngecewain orang?

Posted at 08:29 pm by i_artharini
Make a comment  

Catatan Buku Bekas

I love the fact that I have found several great secondhand books, accidentally, in these last few weeks. Come to think of it, I always found great secondhand books accidentally.

Liputan terakhir ke Paramadina, Jumat lalu itu, di depan aula-nya sempat ngeliat ada pedagang buku-buku bekas. Sempat tidak mau mendekati, tapi merasa 'ah...bahayanya apa, lha wong nggak punya duit kok'. Ngeliat ada dua novel Jane Austen yang dijadiin satu, ada berbagai versi cover Anna Karenina, berbagai versi cover Jane Eyre dan ada 'The New Journalism'-nya Tom Wolfe.

Tapi terus akhirnya masuk ke ruangan karena acaranya sudah mulai. Pas bubaran, sempet ngeliat ke situ lagi. CCR ngasih liat 'Memoirs of a Dutiful Daughter' which she recommends since she thinks it would be perfect for me. Hmm, daripada sebuah instruksi tentang how to be a dutiful daughter, aku merasa itu bakalan jadi buku resep untuk memberontak karena yang menulis Simone de Beauvoir.

Pas iseng-iseng mbuka halamannya, kalimat pertamanya, "I was born on the dawn (?) of January 9, 1908..."

*gasp*

Tanggal ulang tahun kita sama? Is this a sign?

Iseng-iseng merogoh kantong buat ngecek sebenarnya aku punya duit berapa, kayaknya cuman tinggal 5 ribuan gitu. Tapi kayaknya ada 20 ribuan dari sisa nuker duit or something. Eh ternyata melihat ada duit hasil jatah pulsa yang tadi emang baru dibagiin.

Oke, akhirnya memilih itu dan The New Journalism-nya Tom Wolfe. Tentang asal mula jurnalisme narasi gitu deh. Pas udah mbayar, mas-masnya nih pinter banget deh menyarankan buku. Dia ngasih ke aku buku, judulnya, "Amazonian, Penguin Book of New Women's Travel Writing". Which I also took. Ah-hem.

Sabtu kemarin, pas abis liputan peluncuran buku Quraish Shihab di GrandKemang (I love that place. Begitu New York deh nuansanya), jalan ke Aksara. Eh, ternyata di sana lagi ada diskusi dan peluncuran buku tentang asap, salah satu pembicaranya Sarwono Kusumaatmadja. Sempat berpikir, ngeliput nggak ya? (karena nggak ngeliat ada anak MI di sana). Di sinilah aku merasa identitas wartawan itu harusnya nggak kenal waktu dan tempat. Kalau ngeliat situasi kayak gitu kan harusnya ngeliput-ngeliput aja ya? Ada temen yang waktu Pasar Blok M setahun lalu atau dua tahun lalu kebakaran gitu, dia pas lewat situ, dan belum ada yang ngeliput, ya jadinya ngeliput.

Sama kayak polisi kan ya? Yang walaupun udah bebas tugas dari jam kerjanya, harusnya tetap ngebantuin ngatur lalu lintas yang macet pas kebetulan lewat or something. Tapi in this case, mengingat beritanya CCR yang baru turun hari Jumatnya kalau nggak salah tentang asap dan lebih aktual, akhirnya memutuskan tidak meliput.

Udah lama ngga ke Aksara, eh ngeliat sekarang mereka punya lemari-lemari khusus untuk buku-buku second. Nemu bukunya Anne Tyler, penulis favoritnya Nick Hornby, terus dua buku memoar. (Nggak tau kenapa, sejak mbaca Reading Lolita in Tehran, aku jadi jatuh cinta sama membaca memoar)

Yang pertama, seorang travel writer, namanya Eric Newby. Bukunya, "A Traveller's Life". Satunya lagi, seorang literary editor asal Inggris, perempuan, sering nulis review buku-buku juga, namanya Claire Tomalin. Dia pernah nulis buku tentang biografinya Jane Austen dan di buku itu, dia juga meresensi buku-bukunya Dorothy Parker. Judul bukunya, "Several Strangers: Writing from Three Decades".

I put down my 'Pere Goriot' for this book which I read enthusiastically. Perempuan ini, Claire Tomalin, meresensi buku untuk pekerjaannya. Dan caranya dia meresensi itu lho, begitu cerdas. Memberikan sesuatu yang baru buat pembacanya. Bukan sekedar menilai ini bagus, ini jelek or just being bitchy or nasty. Benar-benar sebuah tinjauan sastra. Jadi manggut-manggut dan bilang, "oh, harusnya gini to, literary review itu."

Claire Tomalin jadi memberikan sebuah contoh ke aku apa-apa saja yang perlu dilakukan untuk jadi a great (literary) journalist. Atau setidaknya mencontohkan, unsur-unsur apa yang harusnya ada dalam sebuah tinjauan susastra. I think I found inspiration all over again.

Posted at 07:46 pm by i_artharini
Make a comment  

Friday, May 11, 2007
Kepala Perempuan

"I no longer make a mistake in assuming that all women are feminist."

Director Asia Pacific Programme Amnesty International, Purna Sen, dalam diskusi terbatas tentang 'Violence Against Women: The UK Experience' di British Council, Jakarta.
-------

Itu jawabannya ketika ada peserta yang menanyakan gimana Margaret Thatcher, sebagai kepala pemerintahan, membantu isu kekerasan terhadap perempuan semakin disoroti masyarakat.

Purna juga bilang, it doesn't matter that much, dengan semakin banyak head of state yang perempuan. Karena, untuk bisa survive di politik dan mencapai posisi puncak, pasti bakal ada kompleksitas-kompleksitas atau keradikalan yang disederhanakan. Tapi lebih penting untuk melihat semakin banyaknya anggota legislatif perempuan, karena di situ lebih banyak aktivitas yang terjadi, "law-making, debate on policies," beberapa di antaranya.

Just a note.

Posted at 07:16 pm by i_artharini
Make a comment  

Hidup 'Normal'?

Yang membuat karakter Barbara Covett di 'Notes on a Scandal' itu mengerikan buatku bukan karena dia seorang perawan tua. Oke, mungkin aku sudah harus mempersiapkan diri berbagi hidup dengan seekor kucing pada satu waktu di masa depan nanti. Taaaapiiii, yang membuat Barbara mengerikan, lebih karena dia menjalani hidupnya lewat kehidupan orang lain, yet dia tetep berlaku itu hidupnya dia. Atau itu emang bagian jadi seorang perawan tua?

Mungkin karena nggak banyak yang terjadi di hidupnya sendiri ya, jadi dia begitu intens-nya mengamati dan mengikuti dan ikut menjalani kehidupan orang lain yang diceritain ke dia.  Ini yang aku rasain sedang kejadian sama aku.

I mean, sekarang, aku punya cerita-cerita yang terekam di otak tentang gimana kisah-kisah cinta orang-orang di sekitarku berawal, flirtation yang developing, the complicated issues of relationship atau mungkin malah the complicated issues of ketergantungan? Dan lalu melihat di mana subyek-subyeknya berakhir; daughter, marriage, affair, commitment-less relationship, or just plain 'healthy' relationship. Maksudnya, ini tuh drama-drama hidup dengan segala puncak dan jurang emosionalnya.

Kenapa ya, kok being subjected to those feelings of pain and happiness malah membuatku merasa...gundah? Haus? Tidak kecukupan? Seharusnya, orang yang 'baik' kan ikut merasa bahagia ketika ada cerita bahagia yang dibagi dan turut berempati ketika ada yang curhat cerita sedih. Apakah aku terlalu egois? Atau, apakah aku terlalu intens dan jadi ikut-ikutan terbawa menjalani hidup yang seharusnya bukan milikku?

Entah ya. Kok aku merasa dibandingkan dengan cerita-cerita itu, my life has been pretty empty. Yes, I had my share of emotional low and high, tapi sekarang kok ya rasanya nggak ada apa-apa. Aku harusnya bersyukur kan dengan hidup yang aman-aman saja itu?

Tapi jadinya enggak. Malah cenderung jadi ikut menjalani hidup orang lain. Seharusnya hidup bukan sekedar ketika ada drama kan? Tapi juga ketika arusnya tenaaaaaang banget. Cuma aku jadi bingung harus ngapain ketika arus hidup lagi kayak gini.

Posted at 05:44 pm by i_artharini
Make a comment  

Wednesday, May 09, 2007
Oase Tersendiri

Pintu itu ternyata masih ada. Letaknya di Paramadina. Terbukanya enggak lebar-lebar banget sih, tapi setidaknya enggak digembok rapat-rapat. In some way, tempat itu bisa masuk kategori sebuah oase.

Duh, beneran deh. Berapa kali gitu liputan ke Paramadina nggak pernah kecewa. Pasti adaaaaa aja mas-mas yang yah sedikit lebih tua dariku, tampangnya bersih-bersih tapi nggak terlalu metroseksual, kemeja batik katun bertebaran, tapi pada pake sepatu dan celana rapi. Celananya pun potongannya pada perfect-perfect semua. Maskulin tapi nggak sampe terlalu terrifyingly diatur. Penyegar mata banget deh. Dan memberi stimulasi pada otak. Abis keliatannya pada cerdas-cerdas.

Paramadina-nya pun nggak terbatas yang di Gatot Subroto. Udah jauh-jauh ke Pondok Indah pun tetap menemukan para Nurcholis-Nurcholis muda yang mematahkan kredo: orangnya cakep, pasti dangkal.

Pas Kamis minggu lalu, ikutan diskusi publik muda atau intelektual muda gitu di Pondok Indah. Temanya yang relevan sih sebenarnya paling 'Demokrasi dan Media' walaupun yang menyampaikan Ade Armando, tapi dia nggak masuk itungan kan? Orang dari luar Paramadina kok...Tapi pesertanya, yah, tiga sampai lima yang potensial gitu. Melihat mereka langsung bisa membayangkan kehidupanku di masa depan dengan para penggiat pluralisme ini.

Oh, so happy togetheeeerr...

Yeah, I would happily set aside some of my Salingers in my bookshelf to make space for your...emmm....Dawam Rahardjo's? Dia akan mengerti tentang kenapa RUU APP itu bisa berbahaya buat perempuan dan kenapa pemidanaan atas sebuah kepercayaan tidak boleh dilakukan. Kami sama-sama akan percaya pluralisme dan toleransi adalah the answer to the world's problem, kecuali mungkin buat pemanasan global. But please, jangan terlalu dekat-dekat ama mantan aktivis mahasiswa dengan partai kirinya yang sekarang malah masuk ke mainstream party dan mempraktekkan borjuasi politik ya.

Oke, anyway, here's what happen. Pas hari Kamis lalu, lagi dengerin diskusi, eh tiba-tiba aku ngerasa ada seseorang yang melihat aku. Ternyataaaaa, mas-mas, berkemeja batik paduan biru muda dan putih dengan celana biru tua dan sepatu hitam. Mas-masnya, bersih dan cakep. Cakep in its original sense of meaning. Tapi pas aku sadar dia ngeliatin dan aku ngeliat ke dia, eh malah aku yang look away padahal dianya tetep ngeliatin.

Damn.

Oke, oke, kita harus ngeliatiiiin terus. Katanya CCR, (duh, why do I take my advice from her since she's not better off than me toch?) seperti di Winnetou, ketika kita lagi mengamati seseorang atau sesuatu, itu ada kilatan di mata kita dan subyek yang lagi diamati bakal menangkap kilatan itu.

Mata, ayo mengilatlah! *sambil terus-terusan ngeliatin*

It works! Dia ngeliat balik. Mencoba menahan pandangan sampai akhirnya dia nunduk dan berdiri keluar. (CCR: Nariiii, dia tuh ngajakin ketemuan di luar.)

Ternyata, pas dia jalan ke luar, tangan kirinya kan megang bagian depan kursi (kursinya yang kursi kuliah ada mejanya itu lhooo), dan terlihatlah, cincin emas di jari manis kiri. DAMN!

Oke, liputan Paramadina berikutnya terjadi hari Jumatnya. Ulang tahun ke 65 Dawam Rahardjo. Isinya plus minus orang-orang yang sama, tapi spesimennya lebih banyak. 

Beneran deh, pas masuk ke ruangan itu, aku sejenak melihat ke atas dan ngomong, "Ini lho Tuhan (sambil tangannya membuat gerakan melingkar ke seluruh ruangan) yang saya minta di doa-doa saya."

"Oke, kecuali mungkin Dawam Rahardjo. Atau Nono Anwar Makarim. Atau Daniel Dhakidae. Atau Saiful Mujani. Or anyone above 40 and/or married. Tapi Anies Baswedan nggak pa-pa. Asal bukan Budiman Sudjatmiko."

(Walaupun mungkin kalau aku nggak tau gimana dia sebenarnya, he will pretty much still be obyek ngejo-ku. Ngejo being ngelamun jorok) 

Akhirnya, pulang liputan dengan tiga buku baru (ada mas-mas jualan buku di depan aula-nya. Dapet Tom Wolfe 'The New Journalism') dan perasaan agak optimis, agak ter-recharge battery-nya dan senyum-senyum sendiri. Redakturku, kapan ada lagi liputan ke Paramadina ya?


Posted at 10:04 pm by i_artharini
Comments (3)  

Tuesday, May 08, 2007
Malam Mingguan

Sabtu malam kemarin, punya orang yang menjemput untuk pergi ke suatu tempat. 'Unfortunately', itu adalah Miss CCR. Dengan tidak mengurangi rasa terima kasih ya, La, tapi elu juga rather be picked and be with someone else than me, toch?

Kita pergi ke sebuah kondangan teman sekantor. Wah, udah dandan full deh dan merasa udah cukup elegan. Tapi, yang ditunggu kok belum dateng-dateng juga, padahal aku lebih punya reputasi untuk terlambat dan dia bisa siap lebih cepat dan katanya nggak mau terlambat ngeceng. Tapi kok belum datang?

Ditelpon, terus nanya, "kita ketemuan di mana sih?"
"Tenang, Nari. Your date is coming. Masih di tol."

Sial. Emang cuman orang dengan pengalaman ditinggal temen kencan atau berbagai pengalaman penolakan lainnya kayaknya yang punya paranoia ditinggal atau ditolak lagi. Hey, not that I'm familiar with something like that lho. (Ok, trik lama yang diulang lagi)

Anyway, pas di jalan, ndengerin radio yang penuh dengan lagu-lagu yang mbuat miris untuk malam mingguan seorang yang relatif tanpa significant other (Kenapa? Kenapa? KENAPAAA?), tiba-tiba penyiarnya bilang, "ya, buat boys and girls out there yang lagi waiting for love..."

Aku udah harap-harap cemas mendengar pesan yang mau disampaikan, tapi si CCR langsung mencet tombol pindah. "Dasar sakit semua orang-orang."

"Lho, kok dipindah sih? Kan siapa tau aku bisa belajar sesuatu gitu dari pesan yang akan disampaikan."

Akhirnya dipindah lagi balik ke channel awal. Tapi udah ketinggalan bagian nasihatnya, si penyiarnya lagi ngomong, "...pintu terbuka.." or something like that aku belum benar-benar nangkep, tapi si CCR udah misuh-misuh, "Tuh kan! Tuh kan! Dasar sakit!"

"Hah, emang dia ngomong apa?"

"Nggak ada lagi pintu yang kebuka. Pintunya udah ketutup semua. Digembok rapat. Jendela juga udah nggak ada."

Ooohhh, baru ngerti maksudnya si penyiar.

"Nari, nanti kita lama-lama kayak Tuhan Yesus deh."

"Wait, what? Perbandingannya yang mana?"

"Iya, dia kan ngetuk semua pintu sekota, tapi nggak ada yang mau mbukain. Pintunya udah ditutup semua rapat-rapat. Dapatnya kandang domba deh. Nanti kita juga dapatnya kandang domba," masih kata CCR.

Dan, pas cerita ini diceritain ke ibuku, beliau bilang, "Ih, amit-amit. Jangan sampai deh. Emang temenmu kenapa sih? Menurut mama kan dia cukup atraktif. Atau dia terlalu selektif?"

So, menurut ibuku, hanya ada dua alasan kenapa perempuan nggak berada dalam sebuah relationship. Tidak atraktif, atau...kalau dia atraktif, berarti terlalu selektif.

Sementara faktor-faktor lain kayak: nggak tau di mana ketemu cowok-cowok yang masih single nowadays atau memikirkan gimana caranya memperkenalkan diri dengan sopan tapi memberi sinyal tapi menindaklanjuti tanpa tampil terlalu desperate dan tidak mendengar suara kecil di kepala yang bilang 'slut, slut, slut, murahan, murahan, murahan' akibat didikannya 'jadi anak perempuan baik-baik yang frigid ya nak' (perempuan-perempuan Jakarta kejam tau, ma. Semuanya pada maneater, dan aku baru menyadari, sama kayak makan steak yang harus merhatiin kolesterol, aku masih ragu-ragu atau makan dengan perasaan bersalah) tidak masuk dalam pertimbangan ibuku.   

Dan, the next morning, to add insult to the injury, ibuku nanyain siapa yang married tadi malam. "Temen sekantor, DP, cewek."

"Angkatan berapa sih?"
"Masuk kantor, angkatannya BI. Kuliah, angkatan 98."
"98? Berarti kamu dua tahun lagi dong nikah?"

(Why, God. WHYYYYY????)

Posted at 08:22 pm by i_artharini
Comments (3)  

Awal Sebuah Langkah

Ternyata, interior kantor yang super mewah tapi ala OKB dan tidak mencerminkan intelektualitas yang harusnya diberikan sebuah produk media (therefore, I used to hate it) sekarang sudah mulai jadi sebuah kebiasaan. Mungkin malah sebuah standar.

Jadi pas ngeliat tempat kerja lain yang menyimpan kemungkinan untuk jadi tempat kerja baru, aku jadi kaget juga. Waks, kecil juga ya. Atau kantor selama ini yang memang terlalu ekstravagan?

Tapi ya, aku kaget ngeliat interior kantor lain yang produknya justru lebih mewah, tapi kantornya lebih sederhana. Dan aku kaget karena merasa kaget telah meributkan hal itu. Dari situ ngerasa, wah kantorku yang sekarang, dengan segala baik buruknya, influential juga ya. Bukan hanya dari segi interior kantor atau gimana, tapi entitas dia sebagai sebuah media, peran (ideal)nya, akses-akses yang diberikannya, dia seharusnya jadi siapa, dan seterusnya. Dan aku masih merasa peduli dengan jawaban pertanyaan-pertanyaan itu. At some point. Kalau aku jujur dan tidak memasukkan pikiran tentang gaji.

Anyway.

Itu persiapan yang cukup menarik, menurutku. Dari yang udah lama nggak njahit gara-gara sekarang banyak penjahit murah kalau cuman mau mendekkin celana sementara dulu pas kuliah harus mendekkin sendiri, nyetrika kemeja putih pagi-pagi, pokoknya put on all these efforts untuk membuat diriku terlihat agreeable dan representatif di depan orang lain.

Kenapa coba aku nggak berpikir tentang hal ini dari dulu?

Semua orang harus punya pengalaman wawancara pertama untuk pekerjaan kedua. It was a pretty informal interview, jadi aku juga nggak ngerasa tegang. Dan itu juga situasi nothing to lose, ya jadinya aku ngerasa santai. Tapi, gimana coba ya nanti kalau ada taruhan yang lebih besar. Tugas-tugas yang lebih menarik, institusi yang lebih kredibel, dan gaji yang minimal tiga kali dari yang sekarang, apakah aku akan tetap merasa tenang?

Ya pastinya enggak lah. Tapi setidaknya harus ada langkah pertama kan?

Posted at 07:06 pm by i_artharini
Comment (1)  

Friday, May 04, 2007
Kocok Ulang

'Menteri-menteri yang ditelponnya itu adalah menteri-menteri yang akan diganti atau digeser ke posisi lain. "Saya juga telah berkomunikasi dengan menteri-menteri tertentu, baik yang dengan hormat akan saya berhentikan, belum tentu karena yang bersangkutan tidak cakap, atau yang bersangkutan melakukan kesalahan," kata SBY usai salat Jumat di Masjid Al Istiqomah, Kompleks Puri Cikeas, Gunung Putri, Bogor, Jawa Barat, Jumat (4/5)'

(kutipan dari berita "SBY Sudah Kabari Menteri yang Akan Di-Reshuffle" di Detik.com, edisi Jumat, 4 Mei 2007, 13:06 WIB)

Ada nggak ya menteri yang, pas ngeliat nomor penelponnya terus langsung pura-pura nggak denger telpon atau sengaja di-silent terus atau sengaja dimatiin hape-nya? Not that I know anything about doing those kinds of things lhooo.

Really.

Posted at 03:05 pm by i_artharini
Comment (1)  

"I Don't Have Anything to Wear" Part 2

Aku meralat my call for fashion people.

Baru aja nonton, dan masih nonton Oprah tentang the search for the perfect jeans. Di situ disebutin Michael Kors wide leg pants. That kind of thing would be perfect for me. Kenapa nggak ada knock-offnya sih di manaaaa gitu di Jakarta.

Come on, aku bisa dapet CD atau DVD bajakan dua minggu setelah diedarkan kok. Masa nggak ada yang mau nge-bajak desain-desain celana atau baju yang flattering buat fat people sih? Atau is there not enough fat people in Jakarta untuk membentuk sebuah market yang menguntungkan bagi para produsen atau pembajaknya?

Sambil ngeliat Oprah dan berpikir, aku pengen dapet make over kayak gituuu. Atau, enggak juga nggak pa-pa sih. Maksudku, I know how to dress myself. Masalahnya cuma, aku bisa nyari di mana sih baju-baju yang potongannya flattering buat bentuk tubuhku?

I want my Oompa-Loompa buat ngejahitin baju-baju atau celana-celana yang potongannya bagus dan menyembunyikan ketidaksempurnaan tapi menonjolkan what I have. I want my golden ticket to Willy Wonka's clothes factory! (well, maksudnya bukan pabrik yang membuat baju-bajunya Willy Wonka dan membuatku stuck dengan setelan berwarna burgundy atau hijau, tergantung versi mana. Tapi that magical factory yang juga membuat baju-baju yang magical buat bentuk tubuhku)

Posted at 01:11 pm by i_artharini
Make a comment  

"I Don't Have Anything to Wear"

It's the eternal catch-phrase for women of any age, in any time.

Memilih pakai baju apa udah susah, apalagi kalau harus pergi ke kondangan setelah pulang dari Bogor dan dandan nggak di rumah sendiri. Hmm, apa yang aku punya yang gampang dipakai buat dandan di luar rumah tapi tetap bergaya. Tetap resmi, tetap rapi, tetap muda dan tetap...cantik.

Kadang, resmi udah, rapi udah, tapi nggak muda gitu kesannya. Terlalu frumpy, terlalu ribet, terlalu ibu-ibu. Huks, huks, huks.

Konyol sebenarnya, untuk ngeribetin cuman sekedar masalah mau pakai apa. Tapi, the thought of having to choose something out of nothing hanya buat tampil tidak seperti yang aku bayangkan (dan yang aku bayangin juga nggak jadi Cinderella kok. Simpel, rapi dan muda tuh nggak susah kan harusnya?) itu membuat frustrasi. Cukup untuk membuatku ngerasa malaaaaaaasss banget pergi atau marah-marah dengan penuh kekesalan ngeliat lemari baju yang nggak ada baju resminya.

Tapi kalau misalnya aku beneran nggak pergi cuman karena nggak punya baju, konyol juga. Maksudnya, aku nggak pengen ketika aku ngundang seseorang, dia nggak dateng cuma karena alasan itu. Well, aku juga nggak yakin sih seberapa perlunya keberadaanku. Tapi ya, in a wedding, yang esensial kan emang cuma pengantinnya. Tamu-tamunya cuma pay their respect. Itu harusnya niatnya buat datang kan.

Tapi, aku udah terlalu sering jadi underdressed beberapa tahun terakhir sampai ngerasa capek dan untuk sekali aja. Atau mungkin beberapa kali lagi. Aku pengen nggak underdressed.

And oh yeah, I've tried shopping. Aku udah tau dan denger solusi itu. Cuma, bedanya antara tampil stylish dan enggak itu sekedar sebuah nomor sederhana: 16.  Aku lagi merangkak menuju nomor itu. Eh, tepatnya berjalan cepat dengan langkah berdebam sih menuju nomor itu. Setidaknya setengah ke bawah.

Aku nggak pernah bisa menemukan sesuatu dengan nomor itu. Apalagi menemukan yang stylish. Sesuatu yang aku suka. I know, I have good taste. Cuma ketika pergi berbelanja, kayak ngeliat harapan-harapan dan mimpi-mimpi itu hancur. Karena yang aku suka dan aku anggap lucu comes in anorexic sizes atau harganya super mahal atau yang tersedia dalam ukuran itu modelnya udah nggak ada yang stylish sama sekali. People of fashion industry, please, just because we're fat, does not mean we like being stuck in kaos longgar atau celana training. Hanya karena kami gendut, jangan lebih dimarjinalkan lagi dong dengan memberikan pakaian yang lebih tidak menyokong kehidupan sosial.

Oke, we get your message, stylish is thin. Tapi it takes time to be thin. Dan, in the meantime, apa yang harus kita lakukan? Stay out of style? Dan aku juga nggak minta ada skinny jeans berukuran raksasa gitu lho. But, arrgghh, tau kan, rapi dan muda dan stylish dan modern gitulah.

Dan, buat argumen kehidupan sosial nggak ada hubungannya sama apa yang kita pakai? Helloooo, tinggal di mana aja selama beberapa dekade terakhir?

I don't need to be a high-flyer. Cuma, at least, rapi tapi tetep muda. Gosh, kenapa jadi susah banget sih. Kayaknya nggak ada deh temen-temen di sekitarku yang ngalamin masalah seperti ini *sambil melirik diam-diam ke foto dua temen cewek yang diam-diam diambil di nikahannya WE*. Yeah, easy to be stylish when you're a size 0. Sementara, I'm nowhere in the picture dan saat aku ingat-ingat lagi, man, I look so old that day. Arrrgghhh, ingatan akan hari itu aja udah cukup untuk membuatku malas datang kondangan-kondangan lagi.

Tapi, oke, pas Rabu ke Debenhams, ngeliat ada jeans Jasper Conran yang warna dye-nya pas gelapnya, modelnya juga pas flare-nya, tapi harganya di range 450 ribu (setelah diskon) harus dibela-belain beli demi terlihat muda dan rapi dan stylish?

Ini yang aku nggak ngerti. Kalau, misalnya, urusan 'pakai apa' itu sekedar remeh-temeh dan merasa konyol ketika meributkan masalah itu untuk jadi alasan nggak mau datang ke sebuah gathering sosial, terus kenapa, kok aku bisa ngerasa segini frustrasinya for being underdressed?

Posted at 09:37 am by i_artharini
Make a comment  

Next Page