PENARI MUNGIL


(Saya bukan seorang penari. Pun sangat jauh dari mungil. Tapi, tahu kan adegan 'Tiny Dancer' di 'Almost Famous'? Sensasi membahagiakan dari adegan itulah yang saya kejar..)



Hold me closer, tiny dancer

Count the headlights on the highway

Lay me down in sheets of linen

You had a busy day, today


("Tiny Dancer" - Elton John)





"...the quest for transcendence has always been closely linked to the ecstatic release of dancing."
(Resensi RollingStone atas sebuah album pop)

Mr. Darcy: "So what do you recommend, to encourage affection?"
Elizabeth Bennet: "Dancing, even if one's partner is only tolerable."
(Pride & Prejudice, 2005)


perempuan, 1983, lovesick soul, berjalan kaki, belajar menulis, menonton film, ingin keliling dunia, Billie Holliday, Jane Austen, 'Franny and Zooey', cerita pendek F Scott Fitzgerald, lagu-lagu sedih, kecanduan membeli buku second, deretan buku di lemari, berkeliling dengan bis kota, mengepak koper, menari bebas, Vogue, sepatu, bad boys, kopi, kuliner, foto, semua yang vintage, genggaman tangan, pelukan hangat, detil percakapan antara manusia, kegelisahan, kesepian, ruang pencarian, belajar dewasa, museum dan bangunan tua, hari hujan, sinar matahari hangat di hari berangin, airport, stasiun kereta, dan pertanyaan tanpa akhir

YM: isyana_artharini
Email: i.artharini@gmail.com
   

<< May 2007 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Wednesday, May 09, 2007
Oase Tersendiri

Pintu itu ternyata masih ada. Letaknya di Paramadina. Terbukanya enggak lebar-lebar banget sih, tapi setidaknya enggak digembok rapat-rapat. In some way, tempat itu bisa masuk kategori sebuah oase.

Duh, beneran deh. Berapa kali gitu liputan ke Paramadina nggak pernah kecewa. Pasti adaaaaa aja mas-mas yang yah sedikit lebih tua dariku, tampangnya bersih-bersih tapi nggak terlalu metroseksual, kemeja batik katun bertebaran, tapi pada pake sepatu dan celana rapi. Celananya pun potongannya pada perfect-perfect semua. Maskulin tapi nggak sampe terlalu terrifyingly diatur. Penyegar mata banget deh. Dan memberi stimulasi pada otak. Abis keliatannya pada cerdas-cerdas.

Paramadina-nya pun nggak terbatas yang di Gatot Subroto. Udah jauh-jauh ke Pondok Indah pun tetap menemukan para Nurcholis-Nurcholis muda yang mematahkan kredo: orangnya cakep, pasti dangkal.

Pas Kamis minggu lalu, ikutan diskusi publik muda atau intelektual muda gitu di Pondok Indah. Temanya yang relevan sih sebenarnya paling 'Demokrasi dan Media' walaupun yang menyampaikan Ade Armando, tapi dia nggak masuk itungan kan? Orang dari luar Paramadina kok...Tapi pesertanya, yah, tiga sampai lima yang potensial gitu. Melihat mereka langsung bisa membayangkan kehidupanku di masa depan dengan para penggiat pluralisme ini.

Oh, so happy togetheeeerr...

Yeah, I would happily set aside some of my Salingers in my bookshelf to make space for your...emmm....Dawam Rahardjo's? Dia akan mengerti tentang kenapa RUU APP itu bisa berbahaya buat perempuan dan kenapa pemidanaan atas sebuah kepercayaan tidak boleh dilakukan. Kami sama-sama akan percaya pluralisme dan toleransi adalah the answer to the world's problem, kecuali mungkin buat pemanasan global. But please, jangan terlalu dekat-dekat ama mantan aktivis mahasiswa dengan partai kirinya yang sekarang malah masuk ke mainstream party dan mempraktekkan borjuasi politik ya.

Oke, anyway, here's what happen. Pas hari Kamis lalu, lagi dengerin diskusi, eh tiba-tiba aku ngerasa ada seseorang yang melihat aku. Ternyataaaaa, mas-mas, berkemeja batik paduan biru muda dan putih dengan celana biru tua dan sepatu hitam. Mas-masnya, bersih dan cakep. Cakep in its original sense of meaning. Tapi pas aku sadar dia ngeliatin dan aku ngeliat ke dia, eh malah aku yang look away padahal dianya tetep ngeliatin.

Damn.

Oke, oke, kita harus ngeliatiiiin terus. Katanya CCR, (duh, why do I take my advice from her since she's not better off than me toch?) seperti di Winnetou, ketika kita lagi mengamati seseorang atau sesuatu, itu ada kilatan di mata kita dan subyek yang lagi diamati bakal menangkap kilatan itu.

Mata, ayo mengilatlah! *sambil terus-terusan ngeliatin*

It works! Dia ngeliat balik. Mencoba menahan pandangan sampai akhirnya dia nunduk dan berdiri keluar. (CCR: Nariiii, dia tuh ngajakin ketemuan di luar.)

Ternyata, pas dia jalan ke luar, tangan kirinya kan megang bagian depan kursi (kursinya yang kursi kuliah ada mejanya itu lhooo), dan terlihatlah, cincin emas di jari manis kiri. DAMN!

Oke, liputan Paramadina berikutnya terjadi hari Jumatnya. Ulang tahun ke 65 Dawam Rahardjo. Isinya plus minus orang-orang yang sama, tapi spesimennya lebih banyak. 

Beneran deh, pas masuk ke ruangan itu, aku sejenak melihat ke atas dan ngomong, "Ini lho Tuhan (sambil tangannya membuat gerakan melingkar ke seluruh ruangan) yang saya minta di doa-doa saya."

"Oke, kecuali mungkin Dawam Rahardjo. Atau Nono Anwar Makarim. Atau Daniel Dhakidae. Atau Saiful Mujani. Or anyone above 40 and/or married. Tapi Anies Baswedan nggak pa-pa. Asal bukan Budiman Sudjatmiko."

(Walaupun mungkin kalau aku nggak tau gimana dia sebenarnya, he will pretty much still be obyek ngejo-ku. Ngejo being ngelamun jorok) 

Akhirnya, pulang liputan dengan tiga buku baru (ada mas-mas jualan buku di depan aula-nya. Dapet Tom Wolfe 'The New Journalism') dan perasaan agak optimis, agak ter-recharge battery-nya dan senyum-senyum sendiri. Redakturku, kapan ada lagi liputan ke Paramadina ya?


Posted at 10:04 pm by i_artharini
Comments (3)  

Tuesday, May 08, 2007
Malam Mingguan

Sabtu malam kemarin, punya orang yang menjemput untuk pergi ke suatu tempat. 'Unfortunately', itu adalah Miss CCR. Dengan tidak mengurangi rasa terima kasih ya, La, tapi elu juga rather be picked and be with someone else than me, toch?

Kita pergi ke sebuah kondangan teman sekantor. Wah, udah dandan full deh dan merasa udah cukup elegan. Tapi, yang ditunggu kok belum dateng-dateng juga, padahal aku lebih punya reputasi untuk terlambat dan dia bisa siap lebih cepat dan katanya nggak mau terlambat ngeceng. Tapi kok belum datang?

Ditelpon, terus nanya, "kita ketemuan di mana sih?"
"Tenang, Nari. Your date is coming. Masih di tol."

Sial. Emang cuman orang dengan pengalaman ditinggal temen kencan atau berbagai pengalaman penolakan lainnya kayaknya yang punya paranoia ditinggal atau ditolak lagi. Hey, not that I'm familiar with something like that lho. (Ok, trik lama yang diulang lagi)

Anyway, pas di jalan, ndengerin radio yang penuh dengan lagu-lagu yang mbuat miris untuk malam mingguan seorang yang relatif tanpa significant other (Kenapa? Kenapa? KENAPAAA?), tiba-tiba penyiarnya bilang, "ya, buat boys and girls out there yang lagi waiting for love..."

Aku udah harap-harap cemas mendengar pesan yang mau disampaikan, tapi si CCR langsung mencet tombol pindah. "Dasar sakit semua orang-orang."

"Lho, kok dipindah sih? Kan siapa tau aku bisa belajar sesuatu gitu dari pesan yang akan disampaikan."

Akhirnya dipindah lagi balik ke channel awal. Tapi udah ketinggalan bagian nasihatnya, si penyiarnya lagi ngomong, "...pintu terbuka.." or something like that aku belum benar-benar nangkep, tapi si CCR udah misuh-misuh, "Tuh kan! Tuh kan! Dasar sakit!"

"Hah, emang dia ngomong apa?"

"Nggak ada lagi pintu yang kebuka. Pintunya udah ketutup semua. Digembok rapat. Jendela juga udah nggak ada."

Ooohhh, baru ngerti maksudnya si penyiar.

"Nari, nanti kita lama-lama kayak Tuhan Yesus deh."

"Wait, what? Perbandingannya yang mana?"

"Iya, dia kan ngetuk semua pintu sekota, tapi nggak ada yang mau mbukain. Pintunya udah ditutup semua rapat-rapat. Dapatnya kandang domba deh. Nanti kita juga dapatnya kandang domba," masih kata CCR.

Dan, pas cerita ini diceritain ke ibuku, beliau bilang, "Ih, amit-amit. Jangan sampai deh. Emang temenmu kenapa sih? Menurut mama kan dia cukup atraktif. Atau dia terlalu selektif?"

So, menurut ibuku, hanya ada dua alasan kenapa perempuan nggak berada dalam sebuah relationship. Tidak atraktif, atau...kalau dia atraktif, berarti terlalu selektif.

Sementara faktor-faktor lain kayak: nggak tau di mana ketemu cowok-cowok yang masih single nowadays atau memikirkan gimana caranya memperkenalkan diri dengan sopan tapi memberi sinyal tapi menindaklanjuti tanpa tampil terlalu desperate dan tidak mendengar suara kecil di kepala yang bilang 'slut, slut, slut, murahan, murahan, murahan' akibat didikannya 'jadi anak perempuan baik-baik yang frigid ya nak' (perempuan-perempuan Jakarta kejam tau, ma. Semuanya pada maneater, dan aku baru menyadari, sama kayak makan steak yang harus merhatiin kolesterol, aku masih ragu-ragu atau makan dengan perasaan bersalah) tidak masuk dalam pertimbangan ibuku.   

Dan, the next morning, to add insult to the injury, ibuku nanyain siapa yang married tadi malam. "Temen sekantor, DP, cewek."

"Angkatan berapa sih?"
"Masuk kantor, angkatannya BI. Kuliah, angkatan 98."
"98? Berarti kamu dua tahun lagi dong nikah?"

(Why, God. WHYYYYY????)

Posted at 08:22 pm by i_artharini
Comments (3)  

Awal Sebuah Langkah

Ternyata, interior kantor yang super mewah tapi ala OKB dan tidak mencerminkan intelektualitas yang harusnya diberikan sebuah produk media (therefore, I used to hate it) sekarang sudah mulai jadi sebuah kebiasaan. Mungkin malah sebuah standar.

Jadi pas ngeliat tempat kerja lain yang menyimpan kemungkinan untuk jadi tempat kerja baru, aku jadi kaget juga. Waks, kecil juga ya. Atau kantor selama ini yang memang terlalu ekstravagan?

Tapi ya, aku kaget ngeliat interior kantor lain yang produknya justru lebih mewah, tapi kantornya lebih sederhana. Dan aku kaget karena merasa kaget telah meributkan hal itu. Dari situ ngerasa, wah kantorku yang sekarang, dengan segala baik buruknya, influential juga ya. Bukan hanya dari segi interior kantor atau gimana, tapi entitas dia sebagai sebuah media, peran (ideal)nya, akses-akses yang diberikannya, dia seharusnya jadi siapa, dan seterusnya. Dan aku masih merasa peduli dengan jawaban pertanyaan-pertanyaan itu. At some point. Kalau aku jujur dan tidak memasukkan pikiran tentang gaji.

Anyway.

Itu persiapan yang cukup menarik, menurutku. Dari yang udah lama nggak njahit gara-gara sekarang banyak penjahit murah kalau cuman mau mendekkin celana sementara dulu pas kuliah harus mendekkin sendiri, nyetrika kemeja putih pagi-pagi, pokoknya put on all these efforts untuk membuat diriku terlihat agreeable dan representatif di depan orang lain.

Kenapa coba aku nggak berpikir tentang hal ini dari dulu?

Semua orang harus punya pengalaman wawancara pertama untuk pekerjaan kedua. It was a pretty informal interview, jadi aku juga nggak ngerasa tegang. Dan itu juga situasi nothing to lose, ya jadinya aku ngerasa santai. Tapi, gimana coba ya nanti kalau ada taruhan yang lebih besar. Tugas-tugas yang lebih menarik, institusi yang lebih kredibel, dan gaji yang minimal tiga kali dari yang sekarang, apakah aku akan tetap merasa tenang?

Ya pastinya enggak lah. Tapi setidaknya harus ada langkah pertama kan?

Posted at 07:06 pm by i_artharini
Comment (1)  

Friday, May 04, 2007
Kocok Ulang

'Menteri-menteri yang ditelponnya itu adalah menteri-menteri yang akan diganti atau digeser ke posisi lain. "Saya juga telah berkomunikasi dengan menteri-menteri tertentu, baik yang dengan hormat akan saya berhentikan, belum tentu karena yang bersangkutan tidak cakap, atau yang bersangkutan melakukan kesalahan," kata SBY usai salat Jumat di Masjid Al Istiqomah, Kompleks Puri Cikeas, Gunung Putri, Bogor, Jawa Barat, Jumat (4/5)'

(kutipan dari berita "SBY Sudah Kabari Menteri yang Akan Di-Reshuffle" di Detik.com, edisi Jumat, 4 Mei 2007, 13:06 WIB)

Ada nggak ya menteri yang, pas ngeliat nomor penelponnya terus langsung pura-pura nggak denger telpon atau sengaja di-silent terus atau sengaja dimatiin hape-nya? Not that I know anything about doing those kinds of things lhooo.

Really.

Posted at 03:05 pm by i_artharini
Comment (1)  

"I Don't Have Anything to Wear" Part 2

Aku meralat my call for fashion people.

Baru aja nonton, dan masih nonton Oprah tentang the search for the perfect jeans. Di situ disebutin Michael Kors wide leg pants. That kind of thing would be perfect for me. Kenapa nggak ada knock-offnya sih di manaaaa gitu di Jakarta.

Come on, aku bisa dapet CD atau DVD bajakan dua minggu setelah diedarkan kok. Masa nggak ada yang mau nge-bajak desain-desain celana atau baju yang flattering buat fat people sih? Atau is there not enough fat people in Jakarta untuk membentuk sebuah market yang menguntungkan bagi para produsen atau pembajaknya?

Sambil ngeliat Oprah dan berpikir, aku pengen dapet make over kayak gituuu. Atau, enggak juga nggak pa-pa sih. Maksudku, I know how to dress myself. Masalahnya cuma, aku bisa nyari di mana sih baju-baju yang potongannya flattering buat bentuk tubuhku?

I want my Oompa-Loompa buat ngejahitin baju-baju atau celana-celana yang potongannya bagus dan menyembunyikan ketidaksempurnaan tapi menonjolkan what I have. I want my golden ticket to Willy Wonka's clothes factory! (well, maksudnya bukan pabrik yang membuat baju-bajunya Willy Wonka dan membuatku stuck dengan setelan berwarna burgundy atau hijau, tergantung versi mana. Tapi that magical factory yang juga membuat baju-baju yang magical buat bentuk tubuhku)

Posted at 01:11 pm by i_artharini
Make a comment  

"I Don't Have Anything to Wear"

It's the eternal catch-phrase for women of any age, in any time.

Memilih pakai baju apa udah susah, apalagi kalau harus pergi ke kondangan setelah pulang dari Bogor dan dandan nggak di rumah sendiri. Hmm, apa yang aku punya yang gampang dipakai buat dandan di luar rumah tapi tetap bergaya. Tetap resmi, tetap rapi, tetap muda dan tetap...cantik.

Kadang, resmi udah, rapi udah, tapi nggak muda gitu kesannya. Terlalu frumpy, terlalu ribet, terlalu ibu-ibu. Huks, huks, huks.

Konyol sebenarnya, untuk ngeribetin cuman sekedar masalah mau pakai apa. Tapi, the thought of having to choose something out of nothing hanya buat tampil tidak seperti yang aku bayangkan (dan yang aku bayangin juga nggak jadi Cinderella kok. Simpel, rapi dan muda tuh nggak susah kan harusnya?) itu membuat frustrasi. Cukup untuk membuatku ngerasa malaaaaaaasss banget pergi atau marah-marah dengan penuh kekesalan ngeliat lemari baju yang nggak ada baju resminya.

Tapi kalau misalnya aku beneran nggak pergi cuman karena nggak punya baju, konyol juga. Maksudnya, aku nggak pengen ketika aku ngundang seseorang, dia nggak dateng cuma karena alasan itu. Well, aku juga nggak yakin sih seberapa perlunya keberadaanku. Tapi ya, in a wedding, yang esensial kan emang cuma pengantinnya. Tamu-tamunya cuma pay their respect. Itu harusnya niatnya buat datang kan.

Tapi, aku udah terlalu sering jadi underdressed beberapa tahun terakhir sampai ngerasa capek dan untuk sekali aja. Atau mungkin beberapa kali lagi. Aku pengen nggak underdressed.

And oh yeah, I've tried shopping. Aku udah tau dan denger solusi itu. Cuma, bedanya antara tampil stylish dan enggak itu sekedar sebuah nomor sederhana: 16.  Aku lagi merangkak menuju nomor itu. Eh, tepatnya berjalan cepat dengan langkah berdebam sih menuju nomor itu. Setidaknya setengah ke bawah.

Aku nggak pernah bisa menemukan sesuatu dengan nomor itu. Apalagi menemukan yang stylish. Sesuatu yang aku suka. I know, I have good taste. Cuma ketika pergi berbelanja, kayak ngeliat harapan-harapan dan mimpi-mimpi itu hancur. Karena yang aku suka dan aku anggap lucu comes in anorexic sizes atau harganya super mahal atau yang tersedia dalam ukuran itu modelnya udah nggak ada yang stylish sama sekali. People of fashion industry, please, just because we're fat, does not mean we like being stuck in kaos longgar atau celana training. Hanya karena kami gendut, jangan lebih dimarjinalkan lagi dong dengan memberikan pakaian yang lebih tidak menyokong kehidupan sosial.

Oke, we get your message, stylish is thin. Tapi it takes time to be thin. Dan, in the meantime, apa yang harus kita lakukan? Stay out of style? Dan aku juga nggak minta ada skinny jeans berukuran raksasa gitu lho. But, arrgghh, tau kan, rapi dan muda dan stylish dan modern gitulah.

Dan, buat argumen kehidupan sosial nggak ada hubungannya sama apa yang kita pakai? Helloooo, tinggal di mana aja selama beberapa dekade terakhir?

I don't need to be a high-flyer. Cuma, at least, rapi tapi tetep muda. Gosh, kenapa jadi susah banget sih. Kayaknya nggak ada deh temen-temen di sekitarku yang ngalamin masalah seperti ini *sambil melirik diam-diam ke foto dua temen cewek yang diam-diam diambil di nikahannya WE*. Yeah, easy to be stylish when you're a size 0. Sementara, I'm nowhere in the picture dan saat aku ingat-ingat lagi, man, I look so old that day. Arrrgghhh, ingatan akan hari itu aja udah cukup untuk membuatku malas datang kondangan-kondangan lagi.

Tapi, oke, pas Rabu ke Debenhams, ngeliat ada jeans Jasper Conran yang warna dye-nya pas gelapnya, modelnya juga pas flare-nya, tapi harganya di range 450 ribu (setelah diskon) harus dibela-belain beli demi terlihat muda dan rapi dan stylish?

Ini yang aku nggak ngerti. Kalau, misalnya, urusan 'pakai apa' itu sekedar remeh-temeh dan merasa konyol ketika meributkan masalah itu untuk jadi alasan nggak mau datang ke sebuah gathering sosial, terus kenapa, kok aku bisa ngerasa segini frustrasinya for being underdressed?

Posted at 09:37 am by i_artharini
Make a comment  

Arsip

Pagi-pagi jam 8 udah sampai di kantor gara-gara piket pagi dan merasa sudah having quite a morning. Masih ngantuk, masih ngerasa belum cukup tidur, tapi tiba-tiba sudah mendapat cerita yang juicy banget (sirloin steak terbaik yang pernah dirasain atau dibayangin? That kind of juicy. Dan mungkin sinful juga ya to indulge in it?). Terus ketemu PD (atau Phd kodenya sekarang?) sebelum memulai shift 2-nya di stasiun TV sebelah. Ah, a familiar face in the morning.

Anyway,  kok kayaknya aku mengalami sebuah dilema teknis ya dengan blog ini.  Gimana cara nge-archive-nya?  Kalo Blogger kayaknya langsung  nge-tick sesuatu  terus langsung ke-archive. Mungkin harus dengan kode-kode tertentu?

Masa harus pindahan lagi demi kemudahan meng-archive sih? Jangan sampe lah. Itu artinya cuma menambah password dan login yang harus aku inget.





Posted at 09:25 am by i_artharini
Make a comment  

Wednesday, May 02, 2007
Curriculum Vitae

Sebuah tip untuk yang merasa butuh penyemangat: menyusun atau mengatur ulang CV deh. Mencatat emang dashyat; ia mampu mengumpulkan lagi apa-apa yang sebenarnya sudah terlupa. Bisa jadi sebuah refleksi, sebuah rangkuman pencapaian atau sekedar membantu mengingat. Yang penting apa-apa yang sudah lewat kejadian jadi punya bukti itu pernah terjadi (tentang seberapa obyektif pencatatan yang dilakukan, bisa dibicarakan di lain kesempatan).

Tadi malam, ada kebutuhan yang 'mengharuskan' aku meng-update CV, sesuatu yang tidak pernah aku lakukan dalam dua tahun terakhir, tepatnya setelah dapat pekerjaan. Mengerikan ya?

Saat sedang mendaftar kualifikasi dan kompetensi yang aku punya, minat-minatku, hal-hal yang sudah aku pelajari dan ingin aku pelajari di masa depan, dan hal-hal yang aku yakin banget bisa aku lakukan dengan amat baik, kok semuanya jadi terasa enteng ya?

Maksudnya, aku punya skor TOEFL yang cukup oke, aku pernah melakukan berbagai jenis pekerjaan yang ngasih banyak pengalaman, GPA-ku juga not so bad. (Duh, seberapa parah coba sampai aku lupa GPA-ku sendiri. Well, yeah, mine is not 3,7 yang dengan mudah dihapal di luar kepala dan dijual ke mana-mana).

Ketika membaca CV itu, aku ngerasa, dammit, I'm qualified for just about any job I want, termasuk buat jadi penjinak singa. Jadi, apa yang aku takutkan?

Anehnya, kok tiba-tiba ada telpon pagi ini minta CV juga dari orang yang berbeda. Seperti kata Yohanes Surya, (se)mesta (mendu)kung. Masih percaya kebetulan itu ada atau semua, bahkan sampai hal terkecil pun, memang sudah ada implikasinya?

Posted at 01:48 pm by i_artharini
Comment (1)  

Monday, April 30, 2007
Daftar Hidup

Apa yang terjadi dengan 'life list'-ku? Kok udah lama banget ya aku nggak nyatet daftar yang isinya hal-hal yang pengen aku capai dalam hidup. Oke, kegalauan ini dimulai tadi malam, pas nonton 'High Fidelity'.

Yes, yes, aku terlalu sering menonton film itu. Tapi semakin aku tua, aku jadi semakin ngerti, yang dibahas jadi semakin relevan. Sebenarnya nonton itu juga nggak sengaja. Awalnya mau nonton film-film bertema young girls as heroine di dunia fantasi. Pertamanya mau nonton 'Pan's Labyrinth' yang baru dibeli. Eh, ternyata itu film nggak jalan di laptop. Terus ganti 'Spirited Away' dulu. Pas balik lagi mau nonton 'Pan's...', ternyata tetap aja nggak jalan.

Kadung udah berada di mood nonton, ya udahlah, nonton 'High Fidelity'. Anyway, aku jadi bertanya-tanya, di mana daftar hidupku? Gara-gara mbaca artikel keren di New York Times ini, aku juga jadi bertanya-tanya, apa yang seharusnya ada di daftar hidupku. Salah satu karakter di laporan itu diceritain menulis:

---
“life list,” with 35 goals and dreams, in pink ink.

She wants: To write a novel. Own a (red) Jeep Wrangler. Get into college. Name her firstborn daughter Carmen. Go to carnival in Rio de Janeiro. Learn to surf. Live in a Spanish-speaking country. Learn to play the doppio movimiento of Chopin’s Sonata in B Flat. Own a dog. Be a bridesmaid. Vote for president. Write a really good poem. Never get divorced.
---



Sama kaya Rob Gordon di High Fidelity, mungkin aku nggak pernah benar-benar berkomitmen ama sesuatu. Mimpiku, pekerjaanku, keluargaku, diriku sendiri, hal-hal yang aku kerjakan, dst. Aku selalu punya satu kaki yang udah siap-siap jalan ke luar. Dan itu, mencegahku untuk berkomitmen. Sebuah evaluasi, kayaknya aku belum pernah benar-benar menseriusi sesuatu. Seperti katanya Rob Gordon, "that equals suicide. By tiny, tiny increments".

Atau mungkin karena aku takut gagal. Jadi dengan tidak menentukan target, maka aku nggak bakal kecewa-kecewa banget. Oke, mungkin ketiadaan daftar hidup itu bisa diasosiasikan dengan kecenderunganku untuk tidak teratur. (Menurut sebuah tes psikologis, aku punya nilai 'orderly' yang rendah banget)

Tapi, di tengah-tengah sikap penuh kekacauan itu, pas mau lulus SMA dulu aku sempet punya daftar deh, mentargetkan nilai-nilai yang harus aku capai. Dan pas mau lulus kuliah, di blog lama, kayaknya sempet nulis my top five dream job.

Sekarang, kenapa saat aku benar-benar punya kendali atas 'aku mau jadi siapa' sebenarnya, kok malah nggak punya daftar sama sekali ya. Ini bukan sekedar sama dengan bunuh diri, ini udah bunuh diri itu sendiri.

Oke, mungkin punya program 50 buku setahun. Tapi, please. You can't just read books for the rest of your lives, right? Or, can I? Arghhh, Nari, Nari, ayo, please, be serious.

Seharusnya ini menyenangkan kan? Mendaftar apa-apa yang kamu inginkan. Tapi kok aku malah ngerasa takut ya, ketika itu nggak tercapai. My heart, please be brave. Start writing that list.


Posted at 08:10 pm by i_artharini
Make a comment  

Hati-hati

Seorang penulis yang pernah aku wawancarai bilang, dalam fiksi, kita bisa melihat sejauh apa we can go. 'Go' dalam artian karakter, tingkah laku, efek dari tingkah laku kita, pokoknya seberapa ekstrim kita bisa berlaku dan konsekuensi seberat apa yang bisa kita terima.

Nah, Minggu malam kemarin nonton 'Notes on a Scandal' yang kualitas bajakannya udah okeeee banget. Singkatnya, seorang guru, lebih tua, closeted lesbian (allegedly), secara nggak sengaja mengetahui rahasia perselingkuhan temen deketnya, seorang guru, lebih muda dengan muridnya yang masih di bawah umur.

Yang membuat aku takut dan berdoa sepanjang film, 'Tuhan, tolong jangan jadikan saya Barbara Covett (tokohnya Judi Dench yang lebih tua, dst, dst).' Aku mungkin belum berada di kelas yang sama seperti Barbara, tapi aku jadi takut dengan kecenderungan yang aku miliki untuk 'grab a popcorn and enjoy the story' ketika ada kisah-kisah romantika kehidupan nyata yang tersebar di sekitarku, along with its ups and downs.

Ada positifnya sih berada di posisi yang diceritain; bisa belajar banyak, mengetes kemampuan diri, etc. Tapi, ini kan yang jadi 'sasana latihan' kehidupannya orang lain. Takutnya, aku nggak bisa lagi ngeliat batasan ini kehidupan punya siapa. Dan ketika aku nggak ngedapetin cerita-cerita itu lagi, kemungkinannya bisa banyak. Mulai dari posesif, menuntut, menghabiskan waktu dengan memikirkan cerita itu, mempertimbangkan segala kemungkinan, dan, yang paling bahaya, jadi bermain-main dengan tanggungan orang lain.

Oke, mungkin aku jadi terlalu dramatis. Tapi, hal yang remeh nggak akan selamanya remeh. Suatu saat, bisa jadi serius. Baca 'Emma' kalau nggak percaya. (Arrgghhh, aku berharap bisa berhenti mengutip buku sebagai referensi dan bersandar pada pengalaman sendiri. Tapi, seperti katanya Deborah Ellis, emang di fiksi kok kita bisa ngeliat sejauh apa kita bisa go.)

Aku cuma ingin berhati-hati. Aku punya kerapuhan-kerapuhan sendiri dengan kondisi pribadi sekarang. Jangan sampai cerita-cerita yang masuk itu jadi malah membuat kecanduan dan justru tambah rapuh.

Posted at 05:35 pm by i_artharini
Make a comment  

Next Page